Harry Potter © Joanna Kathleen Rowling
Honest? Slytherin Sabrina
Ucapan terimakasih saya ucapkan kepada :
Guest, Briesies, silentreader, Padadam padadam, Lhyn Hatake, lianaalg (Spesial 3 kali :)), pixie, sinta malfoy, x-mionez, Ovhan malfoy :*, caca cullen, princess Ravenclaw, moku-chan, Merrya narcissa bellatrix, R, Jack skelenton, rey619, shizyldrew, Dramione Malfoy, Ceciliaaa, zean's malfoy. Thanks a lot guys :*
Note : Maafkan saya atas keterlambatan publish yang sangat... Ada beberapa kegiatan yang mesti diikuti di sekolah, dan saya harus bertanggung jawab atas hal itu *okay, ga penting banget yah* Allright, tanpa banyak kata, RnR yaa :)
NO FLAME !
Happy reading !
Senja telah menampakkan sinarnya. Langit didominasi dengan temaram warna-warna jingga dan oranye yang menyilaukan mata. Mentari masih menampilkan dirinya malu-malu diantara awan, meskipun sudah akan tenggelam. Tampaknya enggan untuk sekedar meninggalkan orang-orang yang masih ingin menikmati sinarnya yang hangat.
Di tengah semilir angin sore yang sejuk dan dingin, seorang pemuda tegap berambut cokelat tengah berjalan-jalan menikmati pemandangan yang ada. Dia menyususri setiap inci jalanan yang sedikit lembab dan daun-daun yang berguguran. Rupanya, musim dingin akan segera tiba.
Samar-samar terdengar suara instruksi-instruksi perpindahan tempat, penyusunan strategi, dan teriakan-teriakan yang menggema di udara. Dia mendongak ketika kedua kakinya menapaki tanah baru. Yang masih ditumbuhi oleh rumput-rumput pendek yang terawat, namun warnanya sudah menguning.
Lapangan Quidditch.
Tidak salah lagi. Dia tersenyum tipis dan menghirup aroma khas Musim Gugur yang menyenangkan. Sambil menutup matanya. Sejenak, Jaden tampak sangat menikmati apa saja yang dapat ditangkap oleh indera penglihatannya disana.
Dia melihat tim yang sedang sibuk berlatih Quidditch disana. Dalam sekali lihat, dia dapat dengan mudah menebak mana yang berperan sebagai Seeker, Chaseer, ataupun sang kapten tim itu sendiri. Jaden kembali tersenyum. Ah, betapa dia merindukan saat-saat seperti ini.
Dia memutuskan untuk naik dan duduk di tribun penonton yang berada di ketinggian. Ingin melihat latihan tim tersebut lebih dekat. Warna biru mendominasi angkasa yang berarti murid-murid Ravenclaw lah yang sedang berlatih saat itu. Asrama dengan lambang burung gagak hitam perkasa yang terkenal dengan murid-murid pintarnya tersebut, ternyata cukup payah dalam bermain Quidditch.
Dia dapat melihatnya dari betapa kakunya sang seeker dalam mencari Snitch dan chaser-chaseer nya yang berulang kali gagal memasukkan Quaffle ke gawang lawan. Ini membosankan. Dia tidak habis pikir, seharusnya pertandingan dengan Ravenclaw merupakan hal yang menarik. Mengingat murid-murid yang berada disana pasti memiliki otak yang lebih baik dibandingkan rata-rata, mereka harusnya lebih pintar dalam memilih strategi tim dan pemain-pemain. Atau memang orang yang pintar cenderung tidak terlalu menyukai hal-hal yang bersifat memacu adrenalin ?
Ah, mana mungkin. Buktinya, dia pintar dan dia tidak sebodoh atau sepayah mereka dalam bermain Quidditch. Jaden terlarut dalam lamunannya saat sesosok bayangan menghalangi cahaya matahari ke arahnya. Dia menoleh dan mendapati seorang pemuda yang tidak asing tengah memandang datar ke arahnya. Tanpa ekspresi tambahan apapun.
"Bukankah hari ini bukan jadwal Slytherin untuk berlatih."kata pemuda berambut pirang tersebut sambil mengambil duduk disampingnya. Jaden hanya memandanginya. Jaden bahkan tidak yakin kalau pemuda itu mengenalnya. Dia mungkin tahu kalau Jaden adalah murid Slyhterin dari corak warna hijau yang menghiasi jubahnya.
"Kau menyukai cara mereka berlatih ?"kata pemuda itu lagi.
"Mereka payah."sahut Jaden singkat. Tidak peduli jika nantinya ada anak Ravenclaw yang mendengarnya.
"Darimana kau tahu ?"Tanya pemuda yang ternyata beriris biru-kelabu itu, yang merasa tertarik dengan komentar Jaden.
"Penguasaan lapangan mereka sangat buruk untuk ukuran murid yang terkenal dengan kepintarannya, dan aku serius ketika mengatakan bahwa pemain-pemain yang mereka gunakan terlalu amatir yang bahkan tidak dapat memegang Quaffle dengan baik."
Pemuda yang berada disampingnya terperangah. Cukup terkejut mendengar pernyataan Jaden yang tidak disangka-sangka tersebut. Darimana dia bisa begitu mengerti tentang Quidditch ?
Yang bahkan—dia tahu sendiri kalau anak itu baru saja duduk disana dan memperhatikan mereka bermain dalam waktu kurang dari 5 menit. Siapapun pemuda itu, dan apapun latar belakangnya, dia pastilah seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman dalam bidang Quidditch.
"Kau menyukai Qudditch ?"Tanya pemuda tersebut.
"Hidup dan matiku."
"Kau tidak berniat mengikutinya, murid baru ?"
"Darimana kau tahu aku murid baru, kau bahkan tidak mengenalku ?"
"Aku tidak pernah melihat murid Slytherin sepertimu sebelumnya. Siapa namamu ?"
Jaden berdecak pelan. "Aku lupa kalau sedang berbicara dengan Prince of Slyhterin yang sangat terkenal kekayaan dan ketampanannya di seantero Dunia Sihir."
"Bagaimana kau bisa tahu akan diriku ?"
"Banyak gadis di sekolah asalku yang mengidolakanmu. Daily Prophet edisi Prince of Slyhterin—atau oh, harus kupanggil Prince of Hogwarts sekarang—selalu terjual habis." Jaden berkata datar.
"Untuk apa kau repot-repot memikirkannya ?"
"Karena bahkan beberapa teman lelaki ku dari Bulgaria mengirim banyak surat padaku dan memintaku untuk menanyakan beberapa hal-hal yang menjijikkan padamu atau sekedar meminta tanda tanganmu saat tahu aku akan masuk Hogwarts. Apalagi saat mereka tahu aku masuk Slytherin."kata Jaden dalam satu tarikan nafas. Draco mengerutkan alis melihatnya.
"Kau terbiasa berbicara seperti itu ?"
"Maksudmu ?"
"Dalam satu tarikan nafas ?"
"Aku tidak tahu. Tapi anggota keluargaku juga seperti itu." Draco menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan saja. Dia hanya merasa familiar dengan kebiasaan berbicara-dalam-satu-tarikan-nafas seperti itu.
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku."
"Aku seorang muggle-born, dan aku juga bukan kalangan bangsawan, aku bukan anak yang punya kemampuan khusus seperti anggota Dumbledore's Army ataupun Marauders dan aku juga bukan salah satu dari pahlawan dunia sihir. Tidak ada yang spesial dariku. Jadi, masihkah kau ingin mengenalku, Tuan Muda Malfoy ?"
"Sekarang sudah tidak ada lagi istilah muggle-born, pureblood, halfblood ataupun…ehm, mudblood."kata Draco sedikit ragu-ragu. Jaden memandangnya dengan simpati. Dia tahu, Draco pasti merasa tidak enak akan keberadaannya setelah Perang Hogwarts berlangsung.
Bagaimanapun juga, dia memiliki masa lalu yang kelam dengan menjadi seorang Pelahap Maut— yang seorangpun tidak akan tahu bagaimana rasanya. Dipaksa melakukan suatu hal yang tidak bisa dia lakukan dan tidak pernah dia inginkan. Draco pasti melakukannya demi kedua orangtuanya yang merupakan salah satu pengikut setia Voldemort, apalagi ayahnya. Lucius Malfoy, Si Pureblood berdarah dingin dari Slytherin.
Dia tahu dari cerita Harry Potter— Sang Pahlawan Dunia Sihir, yang notabene adalah sahabat saudaranya. Mereka pernah bertemu beberapa kali—Hermione pernah mnegajaknya ke The Burrow saat dia masih remaja dan dia juga bertemu lagi saat Harry dan salah satu anggota keluarga Weasley mengunjungi rumah mereka pada pertengahan Natal tahun lalu.
"Baiklah. Panggil saja aku Jaden."
Draco mengangguk singkat tanda mengerti. "Aku rasa kau sudah tahu siapa diriku."sahutnya kemudian. Jaden tersenyum kecil.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu yang tadi."kata Jaden setelah beberapa saat mereka terdiam karena tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan. Draco hanya menggendikkan dagunya tanda bertanya apa jawabannya.
"Jangan kau pikir aku sedang menjilat dihadapanmu. Sejujurnya, aku memang tertarik. Kurasa tidak ada lagi yang dapat kuharapkan disini selain Quidditch."
"Kau tidak menyukai Hogwarts ?"Tanya Draco sambil menaikkan alisnya.
"Aku rasa, aku hanya belum menyukainya."jawabnya singkat sambil menerawang. Jaden merasa sangat merindukan Quidditch.
"Bagaimana dengan Durmstrang ?"Tanya Draco lagi.
"Yah, disana memang lebih keras. Jika kita melakukan kesalahan, dapat dipastikan detensi yang diberikan akan membuatmu benar-benar tidak mau mengulanginya lagi—" Draco tertawa. Jaden hanya melengos karena pernah mendapatkan detensi.
"Jadi, apa yang membuatmu mendapatkan detensi ?"
"Aku hanya—yah, ada seorang gadis—," Jaden ragu-ragu untuk meneruskan. Draco menaikkan alisnya menyuruhnya untuk melanjutkan.
"Seorang gadis yang amat sangat sangat mengerikan yang menuduhku telah berusaha menciumnya dengan paksa. Dan aku bersumpah Demi Merlin ketika mengatakan bahwa gadis itu benar-benar memuakkan—,"
"Siapa dia ?"potong Draco.
"Salah satu murid pertukaran pelajar. Dia dan beberapa temannya dikirim ke Durmstrang selama sebulan untuk itu. Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa mereka mengirim murid perempuan ke Durmstrang. Dan arrghh, untuk apa kita membahas ini..."rutuk Jaden kesal. Draco terkekeh pelan.
"Jadi, bagaimana bisa kau tekena detensi karena—gadis itu ?"
"Well, dia memintaku untuk mengantarkannya keluar gerbang sekolah—saat dia akan kembali, dan tiba-tiba dia mendorongku dan— itu menjijikkan untuk diceritakan, kemudian saat aku akan meninggalkannya, dia berteriak dan WUSHH… penjaga sekolah langsung muncul !"Jaden berbicara sambil mengeluarkan ekspresi jijik. Draco menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.
"Kau punya banyak fans, eh ? Aku tidak percaya kau bisa di detensi hanya karena seorang gadis."
Draco berusaha menahan tawanya dengan berusaha berbicara sesantai mungkin. Jaden yang melihat ekspresi Draco hanya bisa mengerang pelan melihatnya.
-oOo-
Jaden menolehkan kepalanya ke belakang sat dia merasakan ada yang menepuk pundaknya. Seorang pemuda dengan corak jubah yang sama dengannya. Dan wajah yang sudah terlampau sering ditemuinya itu.
"Jaden !'sapa pemuda itu ramah.
Dia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Oh, Hai Darren."katanya singkat.
"Kau juga ikut seleksi ?"Tanya pemuda yang ternyata adalah Darren tersebut.
Jaden mengangguk kecil. Pemuda itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Tapi Darren tetap mengerutkan kening.
"Darimana kau tahu Slyhterin akan mengadakan seleksi ? Setahuku, hal ini tidak ditujukan kepada umum."Tanya Darren dengan penuh minat. Darren terlihat memandang ke sekelilingnya. Memang hanya ada beberapa anak yang berkumpul disana. Tidak mencapai 20 anak. Karena memang Draco sengaja menyuruh teman-temannya untuk memilij hanya anak-anak yang memiliki kelebihan atau yang menonjol yang ditawari untuk ikut seleksi. Jaden hanya menaikkan alisnya.
"Seseorang telah menawariku."jawabnya.
"Dan kau menerimanya ?"sahut Darren sambil menepuk pundaknya pelan.
"Seperti yang kau lihat."katanya singkat. Dan pembicaraan mereka pun berakhir ketika terlihat tiga orang memasuki lapangan.
Dari raut wajah mereka yang terlihat terlampau serius, mereka pasti adalah tim yang ditugaskan untuk menyeleksi. Setelah pidato singkat dari Theodore Nott dan Blaise Zabini, mereka akhirnya ditugaskan untuk menunjukkan kemampuan satu-persatu. Penguji mereka kali ini adalah Blaise Zabini.
Meskipun kelihatan mudah, tapi nyatanya Zabini adalah Chaser yang tidak mudah dilumpuhkan. Ketika lawannya lengah sedikit saja, dia selalu memanfaatkan peluang itu untuk menyerang balik lawannya.
Sudah hampir setengah jam. Hanya tinggal beberapa murid yang belum diseleksi. Bahkan Darren sudah terlebih dahulu diseleksi dan dia juga diterima masuk tim. Darren sempat memberikan isyarat menyemangatinya sebelum akhirnya pergi tadi.
Jaden mendongak ke atas. Memperhatikan pertandingan singkat yang berlangsung antara Blaise Zabini dan salah satu murid Slytherin tingkat enam. Murid itu terlihat mampu menghindar dan memasukkan bludger ke gawang lawan. Terdengar siulan-siulan kecil dari beberapa gerombolan anak di suatu sudut. Murid itu kemudian berbalik dan menepuk dadanya menyombongkan diri.
Namun Jaden meringis ketika akhirnya melihat murid itu terkena lemparan Bludger tepat di perutnya ketika Blaise berbalik dan menyerangnya saat dia lengah. Dan anak itu langsung mendarat dengan keras di atas tanah. Terlihat sangat tak berdaya.
Beberapa murid segera membantu mengangkat pemuda malang itu keluar dari lapangan dan membawanya ke Hospital Wings.
"Kalian lihat. Kami tidak butuh pemain semacam itu !"lanjut Blaise sambil mengibaskan jubah Quidditchnya sehingga membuatnya berkibar di udara. Jelas sekali terlihat kekesalan pada raut wajahnya. Semua anak terdiam memandanginya.
"Terakhir, Jaden Granger."
Sebuah suara memanggil namanya. Jaden menoleh dan mendapati sekarang adalah gilirannya untuk maju. Dia segera menaiki sapu nya yang sedari tadi digenggamnya dengan erat. Sekilas dia melihat Blaise Zabini yang masih siaga berada di atas sapunya pada ketinggian beberapa meter di atas tanah yang berada di tengah Lapangan Quidditch. Sejujurnya, dia sedikit merasa gugup—setelah melihat drama kemarahan Blaise barusan.
Dia terbang dengan santai dan mencoba untuk menenangkan diri. 'Terus bernapas, Terus bernapas. Dan kosongkan pikiran. Rileks.'dia bergumam sendiri dalam hati. Mencoba untuk santai.
Blaise mengerutkan keningnya. "Sepertinya aku tidak pernah menawarimu untuk ikut seleksi, murid baru."katanya kemudian.
"Memang."sahut Jaden singkat dengan ekspresi datar.
"Lalu kenapa kau datang kemari ?"Tanya Blaise sambil bersedekap di depan dada.
"Kapten tim-mu yang menyuruhku datang."
Blaise semakin mengerutkan keningnya. "Draco ?"
Jaden mengangguk sambil mengangkat bahunya. Blaise tampak memandanginya sambil berpikir. "Ini tidak biasa. Aku tidak tahu bagaimana bisa Draco memilihmu, namun kuharap kau memang tidak mengecewakan, kid."katanya beberapa saat kemudian sambil menyeringai.
"Murid Slytherin tidak pernah memalukan."sambung Blaise sambil mulai mencondongkan tubuhnya dan berpegangan pada sapunya. Jaden mengikutinya dan hanya membalasnya dengan seringaian kecil.
"Kau ingat, kau juga Slytherin."jawabnya santai. Blaise menaikkan alisnya.
"Baiklah, karena Draco yang memilihmu, maka ini akan sedikit istimewa. Mari kita lihat sejauh mana kemampuanmu."
Blaise mengangkat jarinya dan menjentikkan jarinya ke udara. Seseorang tampak melambaikan tongkat dari bawah lapangan. Beberapa saat kemudian, tampaklah segerombolan bola dalam jumlah besar beterbangan ke arah Jaden. Blaise langsung mneyingkir.
Jaden melotot kemudian segera mengambil ancang-ancang untuk menghindar. Dia melenggak-lenggokkan sapunya di udara. Sesuai dengan penglihatannya yang tajam. Dia berusaha berkonsentrasi penuh terhadap bola-bola yang ramai menghujaninya. Jaden mengarahkan sapunya dengan sekuat tenaga dan kecepatan penuh.
Ke kanan. Ke kiri. Maju. Mundur. Berputar. Berbalik. Semua dilakukannya. Dia tampak sangat menikmati permainannya. Di tengah-tengah perjuangannya bertanding dengan bludger-bludger penghantam itu, Jaden malah tersenyum sumringah. Dia terlihat bahagia sekali.
Adrenalinnya memuncak dan memompa jantungnya untuk berdetak lebih cepat. Nafasnya juga semakin memburu. Peluh mulai membasahi pelipisnya. Dan jubahnya berkibar-kibar diterpa angin. Angin dingin Musim Gugur menampar mukanya. Namun, dia tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang adalah dia terasa seperti hidup kembali. Dia terasa seperti terisi penuh. Oh, betapa dia sangat merindukan hal seperti ini.
Sedangkan di tepi lapangan, tampak Blaise Zabini yang masih setia bertengger di atas sapunya, memeperhatikan Jaden dengan seksama. Sedikit heran melihat Jaden yang tidak terlihat panik ataupun gentar dengan ulahnya yang sengaja memasukkan bola-bola itu untuk membuatnya menyerah. Blaise tampak sedikit terkejut.
Mana ada murid yang akan bahagia ketika harga dirinya dipertaruhkan di atas sapu yang hanya bisa membawanya sesuai kehendak otaknya sedangkan ada berpuluh-puluh bola yang senantiasa mengejarnya kemanapun dia beranjak pergi, dan dia malah tersenyum bahagia. Dan itulah yang dilakukan oleh Jaden. Ini sudah merupakan pengecualian.
Jaden kemudian teringat sesuatu. Berinisiatif untuk mencoba taktik istimewanya yang selama ini dia pelajari selama berada di Durmstrang. Blaise Zabini pasti tidak akan bisa menandinginya ataupun sekedar meremehkannya.
Jaden memutar balik sapunya. Dia terlihat diam dan menanti bola-bola yang berkejaran di belakangnya tengah bersiap akan menghantamnya. Bola itu semakin dekat, namun ia tidak juga melakukan apapun. Setelah beberapa saat bola mulai dekat dengannya, Jaden menyiapkan tongkat pemukul yang diselipkan ke pinggangnya sedari tadi dan mulai memukul balik bola-bola tersebut.
Meskipun agak kewalahan, namun dia dapat menyelesaikannya dengan baik. Dia memukulnya dengan sekuat tenaga sehingga bola-bola itu berbalik arah. Ada yang mneghantam tribun penontonn hingga retak, ada yang terlempar dan mendarat ke tanah, bahkan beberapa melayang kea rah gerombolan murid yang berada di tepi lapangan.
Beberapa saat kemudian, dia berhenti saat tidak ada lagi bola yang melayang ke arahnya. Jaden menyeringai ke arah Blaise Zabini yang tampak melotot di tepi lapangan. Kemudian dia berbalik. Saat Jaden berbalik, Blaise dengan liciknya melemparkan bludger yang ada digenggamannya dengan sekuat tenaga ke arah Jaden.
Dia pikir, Jaden sama dengan yang lainnya. Mudah terpengaruh dan lengah. Namun, ternyata dia salah. Jaden malah berbalik, memukul bola tersebut hingga melayang kembali ke arah Blaise.
BRAKK !
Bola tersebut menghantam salah satu tempat duduk di tribun sehingga mengakibatkan bangku kayunya pecah.
"Shit !"umpat Blaise.
Hampir saja dia terkena serangan bludger nya jika saja tidak dapat menghindar dengan baik. Sedikir saja kecerobohan pasti akan mengakibatkan kefatalan. Dia melotot ke arah Jaden yang semakin memperlebar seringaiannya.
"Refleks yang bagus, Zabini. Kau beruntung."sahut Jaden sebelum dia benar-benar beranjak kembali ke tepi lapangan. Blaise melongo. Bahkan beberapa anak menyambut Jaden dengan tepukan tangan dan sorakan kagum. Bahkan Darren yang tadi pergi sebentar, kembali ke lapangan untuk sekedar bergabung dengan mereka.
Theodore Nott tampak menunjukkan kekagumannya dengan mendatangi Jaden secara langsung.
"Hei, murid baru. Pertunjukan yang bagus."katanya sambil menjabat tangan Jaden. Jaden mengerutkan alisnya.
"Kau diterima."sahut Theo sambil tersenyum.
Jaden terperangah. Dia langsung dinyatakan diterima. Darren tampak bertepuk tangan kecil dan tampak Blaise merangsek maju ke arah mereka juga.
"Hei, dia hampir saja membunuhku, Theo."protes Blaise sambil menunjuk ke arah Jaden.
"Hampir, mate. Dan kenyataannya tidak."sahut Theo sambil tampak mencoret-coret selembar perkamen lusuh yang berada di tangannya. Dia tampak mengatur nama-nama pemain yang baru saja diterima. Blaise mendengus.
"Kau—,"tunjuk Blaise pada Jaden. "Siapa namamu ?"tanyanya.
Jaden memasang ekspresi datar. "Jaden Granger."sahutnya singkat.
Sontak murid-murid yang berkumpul disitu—termasuk Blaise, Darren dan Theo membelalakkan matanya.
"Granger ?"mereka berkata hampir bersamaan. Blaise dan Theo bertukar pandangan masih dengan mulut ternganga.
"Kau—saudaranya Granger ? Ah, maksudku, Hermione Granger dari Gryffindor ?"Tanya Theo masih tidak percaya. Jaden hanya menganggukkan kepalanya. Blaise mengatupkan rahangnya dengan dramatis.
"Pantas saja aku terasa familiar dengan wajah dan kelakuanmu. Sadis dan menyeramkan."sahut Blaise yang langsung mendapatkan pelototan tidak terima dari Jaden. Dia meringis kecil.
"Bagaimana bisa—kau benar-benar saudara Hermione ? Kenapa selama ini aku tidak tahu ?"protes Darren yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Jaden hanya meringis kecil.
"Aku masih tidak percaya kalau kau ternyata adalah saudara Granger. Bagaimana bisa kau masuk Slytherin ?"Tanya Blaise. Jaden mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu. Namun memang kepribadian kami bertolak belakang."sahutnya acuh tak acuh.
"Baiklah, Jaden Granger. Aku harap dengan kau memiliki kemampuan otak yang sama dengan Hermione sehingga bisa membuat taktik-taktik baru untuk tim Quidditch kita supaya semakin kuat."kata Theo beberapa saat kemudian setelah tersadar dari keterkejutannya.
Jaden mengangguk singkat. "Baiklah. Oh ya, kemana Kapten tim kalian ?"tanyanya sambil melihat sekeliling.
"Draco maksudmu ? Ah, disaat kita latihan dengan keras seperti ini, kurasa dia sedang menikmati detensinya bersama saudaramu, Jaden."sahut Blaise sambil tertawa.
"Hermione ?"Tanya Darren. Blaise dan Theo mengangguk.
"Hermione mendapatkan detensi ?"tawa Jaden meledak beberapa saat kemudian. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Hermione mendapatkan detensi, padahal dia sangat patuh terhadap berbagai peraturan. Itu sangat lucu buatnya.
"Bagaimana bisa dengan Draco Malfoy ?"Tanya Jaden masih dengan tawa yang berusaha ditahannya.
"Mereka berdua memang aneh. Aku tidak tahu bagimana persisnya hubungan mereka. Mereka terlampau sering bertengkar, tidak pernah akur, dan saling mengejek satu sama lain. Tapi aku juga sering memergoki Draco mencuri pandang ke arah Hermione ataupun sebaliknya. Mereka benar-benar aneh."
Sedangkan mereka bertiga larut dalam tawa mereka, seorang diantara mereka tengah terdiam dan mengepalkan tangannya erat. Pemuda yang memiliki warna rambut dan marga yang sama dengan Draco Malfoy. Entah apa yang dirasakannya sekarang. Dia hanya merasa tidak suka saat Hermione dikatakan memiliki ikatan spesial dengan Draco. Padahal Draco adalah sepupunya sendiri.
-oOo-
"Kalian mau kemana ?"tanya seorang gadis bersurai cokelat pada ketiga sahabatnya yang sedang terburu-buru menyelesaikan makan malamnya. Ginny Weasley, Ron Weasley dan Harry Potter—yang lagi-lagi hampir tersedak untuk kesekian kalinya. Ginny mendongak dan menatap Hermione.
Sedangkan Ron dan Harry, dapat ditebak bahwa mereka sama sekali tidak peduli dan terus sibuk dengan makan malamnya.
Hermione mengernyit heran. "Kami akan segera berlatih Quidditch lagi." sahut Ginny sambil masih memakan sup nya.
"Apa harus dengan terburu-buru seperti ini ? Oh, Ayolah, guys. Kalian bukan anak kecil lagi. Meskipun kalian akan latihan, tidak perlu terlalu over seperti itu." Hermione menggerutu.
Ron melotot mendengar kata-kata Hermione. "Hermu...Hermi—,"
Berusaha beicara dengan mulut yang masih penuh makanan, Ron mendapat pandangan tajam dari Hermione yang kemudian memandangnya jijik. Hermione menghela napas kecil. Entah sudah keberapa kalinya dia menegur Ron untuk tidak berbicara ketika mulut penuh dengan makanan. Akhirnya, Ron menelan makanannya dengan susah payah.
"Mione, kami memang harus segera berlatih." Tapi Harry Potter, telah mendahuluinya sebelum Ron sempat bicara. Ron melayangkan tatapan protes kepada pemuda yang memiliki luka berbentuk petir di dahinya itu.
"Apa ? Kalian tidak seperti murid yang akan berlatih Quidditch, kalian lebih mirip seseorang yang akan berangkat perang."
"Apa ? Bloody Hell, Mione. Kami memang akan segera berangkat perang. Yeah, perang Quidditch. Apalagi kami harus melawan murid-murid Slytherin yang licik itu !" sahut Ron masih dengan tatapannya yang heran.
Hermione mengerutkan kening. "Apa ada yang terjadi dengan Tim Quidditch Slytherin ?" tanyanya.
"Jawabannya adalah ya. Kami baru saja mendengar bahwa Draco Malfoy baru saja memecat anggota-anggota tim nya dan menggantinya dengan yang baru. Sepertinya dia punya rencana lain dibalik semua ini. Aku mendengar bisik-bisik murid Ravenclaw yang melihat latihan mereka, dan hampir dari semua yang melihat bilang kalau mereka sangat menakjubkan. Aku rasa Slytherin akan semakin sulit dikalahkan." Jelas Ginny panjang lebar.
Hermione terdiam kemudian mengangguk-angguk mengerti. Dia cukup maklum dengan keadaan kawan-kawannya sekarang ini. Tentu saja, Tim Quidditch Slytherin adalah tim yang berada dalam Daftar-Hitam-Tim-Quidditch-Yang-Harus-Dikalahkan milik Ron. Dan tentunya, Kapten Tim mereka—Draco Malfoy, yang notabene adalah musuh besar Ron. Mereka berdua memang tidak pernah bisa akur, meski hanya sekali.
Hermione termenung. Memikirkan Tim Quidditch Slytherin membuatnya ingat dengan Draco. Sang partner yang tangannya masih sakit karena hampir melepuh itu, akibat kejadian kemarin lusa. Apakah keadaan Draco semakin membaik ? Atau malah semakin memburuk karena tangannya tidak bisa digunakan untuk berlatih ? Mungkin saja itu terjadi kan. Bahkan kemarin saja, dia tidak bisa memakai pakaiannya sendiri dan harus dibantu oleh Hermione. Betapa Hermione masih ingat akan bayang-bayang tubuh atletis Draco yang tidak mengenakan apapun dan dapat disentuhnya secara langsung. Wajah Hermione memerah seketika.
Ah, apa yang baru saja dipikirkannya ? Memikirkan tubuh Ferret-Pirang itu ? Yang benar saja, dia pasti sudah gila. Memangnya Hermione perempuan macam apa, yang akan tergila-gila pada seorang laki-laki hanya karena melihat tubuhnya yang...Ah, tapi Draco memang seksi sih—,
"Mione, Mione, HERMIONEEEEEE !" Ronald Weasley, berteriak dengan keras tepat di hadapan Hermione. Sontak Hermione terlonjak kaget.
"What-the-hell, Ron. Apa yang kau pikir kau lakukan ?"
"Mione, justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu. Apa yang sedang kau pikirkan ? Kau melamun, tidak mendengarkan perkataanku, dan hey, wajahmu memerah. Apa kau terkena demam ?" Tanya Ron heran sambil meletakkan tangannya ke kening Hermione dan langsung mendapat tatapan tajam dari Nona-Tahu-Segala.
"Ron, please. Aku baik-baik saja. Okay ?"
"Tapi, Mione—,"
"Ron !" Akhirnya Ron diam. Ginny dan Harry hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.
"Okay, Mione. Kami pergi latihan dulu. Sampai jumpa besok !" pamit Harry sambil beranjak pergi. Hermione hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga pun segera menghilang dari pandangan.
-oOo-
"—dan kau tahu Harry, akhirnya Dean dan Seamus mendapat detensi bersama-sama karena perbuatan konyol mereka. Hahaha...," Ron mengakhiri ceritanya dengan tertawa terbahak-bahak bersama Harry.
Sedangkan Ginny yang berada di depan mereka hanya dapat terkekeh pelan mendengarkan cerita Ron—tentang Dean dan Seamus, teman Gryffindor mereka yang baru saja mengerjai Professor Flitwick hingga mengakibatkan kumis nya memanjang hingga bermeter-meter sampai-sampai membuat Professor bertubuh mini itu sulit berjalan.
Namun, Ginny terhenti tiba-tiba setelah berada di tepi Lapangan Quidditch. "Harry, siapa giliran pemakai lapangan ini sebelum kita ?"
"Slytherin. Ada apa, Gin ?" tanya Harry sambil beranjak mendekati Ginny yang mematung di tepi lapangan sambil melihat ke atas. Ginny menunjuk ke atas. Harry dan Ron sama-sama mendongak dan mendapati murid-murid Slytherin sedang berkumpul melingkar di udara, sambil duduk di sapunya masing-masing—mereka tampak sedang membicarakn sesuatu.
Ron mengerutkan kening. "Gin, tidak ada yang aneh dengan mereka. Mereka hanya kelihatan berbeda karena—yah, personil-personil yang baru." sahut Ron dengan nada mengejek. Harry ikut-ikut menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Ron.
Ginny menghela napas melihat kelakukuan saudara dan kekasihnya. "Tidak cukup dengan kemampuan otak yang lumayan buruk, sekarang penglihatan kalian pun juga bermasalah. Lihat kesana ! Ke arah yang kutuju...Itu !" perintah Ginny sambil menunjuk ke arah seseorang yang tampak juga tengah berkumpul di atas sana.
"Har...Harry, tampar aku dan katakan bahwa itu bukan—,"
"Bukankah itu Jaden ?"
Dengan segera, ketiga sahabat itu bertukar pandang dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan lagi. Mulut ternganga, mata meloto dan masih tidak bisa mempercayai penglihatan mereka sendiri.
Murid-murid Slytherin yang tengah berkumpul serentak bubar. Mereka sama-sama menukik dan hendak mendarat ke tanah kembali. Sepertinya mereka berlatih dengan sangat keras. Terlihat sekali dari peluh yang masih membasahi seluruh tubuh mereka, rambut yang lepek terkena keringat serta jubah Quidditch yang dipenuhi kotoran lumpur dan debu disana-sini. Mereka menepi dan mendarat tepat di hadapan Ginny, Harry dan Ron.
Draco Malfoy yang pertama menyapa mereka.
"Hai, Weasel dan Pothead." katanya sambil menunjukkan seringai andalannya yang sudah sangat terkenal itu. Ron mendengus melihatnya.
"Kenapa memasang tampang seperti itu ? Takjub melihat permainan kami, eh ?" tanya Draco dengan suara yang dibuat-buat.
"Jangan harap, Malfoy. Kami hanya tidak percaya bahwa permainan tim baru mu sungguh sangat buruk !" seru Ron dengan wajah memerah, menahan amarah. Seringai Draco semakin lebar.
"Oh, kau membuat kami takut." Dan detik berikutnya, tawa murid-murid Slytherin pun meledak karena ejekan Draco. Ron sudah hendak maju, kalau saja Harry tidak menahannya.
"Biarkan, Ron. Mereka hanya ingin kita terpancing." sahut Harry kemudian. Ron tampak sedikit bisa menahan emosinya.
"Baiklah, kawan-kawan. Kita harus segera pergi. Pahlawan Dunia Sihir dan pengikut-pengikut Gryffindor nya akan segera datang untuk latihan." Dan dengan kata-kata terakhirnya itupun, Draco melenggang pergi dengan santai. Diikuti Blaise Zabini dan Theodore Nott yang berada di belakangnya.
Sedangkan Darren dan Jaden adalah yang paling terakhir meninggalkan lapangan. Sebelum pergi, Jaden sempat berkata.
"Aku harap kalian mampu mengalahkan tim ku, Uncle Harry, Uncle Ron." katanya santai kemudian pergi.
Ron hanya dapat membelalakkan matanya mendengar perkataan Jaden barusan.
"Apa dia baru saja memanggil kita 'Uncle', Harry ?"
TBC
Note : Aku tahu Romance Dramione nya kurang, aku tahu, aku tahu. Tapi maafkan saya yang belum mendapat ide romance mereka ama sekali...Maaf :( Salahkan saya jg gapapa kok. Tapi, keterlaluankah saya jika minta sedikit review dari anda ? :)
