"Ini ruanganmu, cepatlah berganti pakaian dan tidur. Oyasumi."
Kalimat itu lebih terkesan sebagai perintah daripada sebuah saran. Terlebih intonasinya sangat dingin—dengan tatapan yang tak kalah membuat bulu kuduk berdiri. Aku tahu karakternya memang begitu, namun tidak bisakah ia sedikit melunak?
Bahkan tanpa menunggu respon dariku, Akashi-kun telah menutup pintu ruangan.
Meski ia mengucapkan 'oyasumi', nada tajamnya membuatku tak habis pikir. Apakah ia tulus memberikan selamat malam tersebut? Memang kutahu ia sesungguhnya orang baik, tapi tak ada salahnya kan sedikit ramah kala berada di dekatku?
Ah, sudahlah. Aku menghela napas—menggelengkan kepala seraya menepuk kedua pipi. Aku harus semangat!
Kini aku berada dalam sebuah kamar yang sangat lebar. Uh oh, bahkan kurasa tiga kali lebih luas dari loteng yang biasa kudiami. Tak lupa dengan berbagai interior megah nan menyejukkan pandangan.
Satu kandelir mencakup hampir dua puluh lampu di tengah langit ruangan, sebuah ranjang berukuran king size dengan seprei merah bermotif mawar—berbahan sutra lengkap dengan bantal, guling, dan selimut senada.
Selain itu, terdapat sebuah meja rias kosong beserta lemari pakaian bermaterial utama kayu jati (dicat putih) di sampingnya.
Yah—mengingat ini kamar tidur tamu, diberikan ruangan semewah ini untuk tinggal sudah lebih dari cukup. Bahkan lantai terbuat dari kayu yang terpasang rapi—karpet beludru merah lembut digerai di atasnya.
Memang tidak mencakup semua permukaan kayu, namun cukup lebar hingga hanya menyisakkan tiga senti dengan tembok. Ah! Mengenai dinding ruangan, kamar ini ditempelkan kertas dinding merah marun bermotif mawar putih.
Akashi-kun tadi menjelaskan sedikit mengenai ruangan ini, katanya aku dapat menggunakkan pakaian yang berada dalam lemari serta terdapat sebuah pintu di sudut yang menghubung menuju kamar mandi.
Aku sudah mengecek kamar mandinya. Tempat itu bersih dan seluas lotengku di rumah. Hebat ya? Kamar mandi saja sudah sebegitu besar. Apalagi, terdapat satu bath tub lebar dengan shower, dan tentu—kloset.
Aku melepaskan kedua sepatu kacaku agar tidak mengotori tikar—membawanya dengan tangan kanan, sementara kaki melangkah menuju lemari pakaian.
Membukanya dengan tangan kiri yang bebas—mendapati satu pakaian di dalamnya. Sebuah dress putih panjang, atau lebih tepatnya nightgown.
Sisanya hanyalah tempat kosong.
Melihatnya, aku pun meletakkan sepatu kacaku di sudut lemari seraya berganti pakaian—toh nightgown jauh lebih nyaman dipakai tidur daripada baju pesta semacam ini.
Tak memerlukan waktu lama bagiku untuk berganti pakaian.
Hanya tiga menit, lalu selesai!
Sepertinya sedikit longgar, namun aku tidak memedulikannya—karena itulah yang membuatnya nyaman.
Kuraih gaun pesta putihku yang kini tergeletak di lantai, seraya meneliti sekeliling—mencari tempat meletakkan pakaian kotor ini.
Dan, gotcha! Kudapati sebuah keranjang kosong di sebelah pintu kamar mandi. Cepat, aku memasukkan gaun putihku di sana seraya kembali menutup lemari.
Nah. Aku menepuk-nepuk kedua tanganku dengan senyuman ceria—meski sedikit pudar karena efek mengantuk yang luar biasa.
"Sekarang sebaiknya aku segera tidur."
Cinderella Catastrophe
[—daily life—]
Story © alice dreamland
Cinderella © to the right owner
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Warning: Typo(s), all in 1st PoV, GoMxReader/OC (possible Kagami/Himuro/Nijimura), HighSchool!AU, don't like? Click 'back', OC (kakak dan ibu tiri), 3k+
Are? Aku di mana?
Manikku mengerling mengamati sekitar—menemukan diri dalam sebuah tempat tanpa cahaya, alias gelap gulita. Manikku mengerjap heran.
Semuanya gelap, gelap, dan gelap.
Aku tidak dapat melihat apa pun.
Kedua tanganku menggapai kesana kemari, sementara kaki melangkah menelusuri. Namun tidak—aku tidak mendapati apa pun pada sekeliling.
Satu pun tidak. Seakan sekitar ini hanyalah ruang hampa—dengan tanah kosong datar tanpa keramik membatasi. Terlebih udara yang cukup dingin menggesek permukaan kulit; menguatkan nuansa angker pada sekeliling.
Rasa gelisah dan takut pun mulai menggelitik hati.
Aku mulai panik. Mengapa aku berada di sini? Tempat apa ini?
Dan entah sejak kapan kakiku mulai berlari secepat mungkin. Aku tidak peduli menabrak apa pun dalam gelap, jika bisa—itu justru akan membuktikan bahwa lokasi ini memiliki benda, atau setidaknya interior berharga.
Beberapa meter aku telah kulewati kala berlari, hingga tubuhku terasa lelah. Namun aku tetap mendapati kegelapan yang sama—tidak ada perubahan.
Seakan diriku bahkan tak beranjak dari posisi dan hanya berputar dalam satu titik.
Aku pun berjongkok—menimbun wajahku dalam nightgown yang kukenakan seraya memejamkan kedua mata erat.
Sungguh, aku takut. Ini lokasi apa? Aku tidak ingat masuk kemari sebelumnya. Ruangan apa ini? Mengapa hanya aku sendiri? Bukankah tadi aku berada dalam kamar di kediaman Akashi? Apakah ini semua hanya mimpi?
Aku pun mengadah dan menggelengkan kepala. Ya, ini semua pasti hanya mimpi! Aku harus optimis!
Tapi—hei, jika ini memang hanyalah mimpi, maka aku harus memastikan!
Aku pun berdiri dan hendak mencubit pipi kananku dengan jemari.
Namun aksi tersebut tak terlaksana kala sebuah suara melantun lembut menyapa indra pendengaranku.
"Jadi kau akan kembali ke Jepang?" [1]
Menoleh pada asal suara, dan seketika manikku melebar—di hadapanku berdiri tiga anak secara magis; meski sekeliling gelap gulita tanpa penerangan, entah bagaimana aku dapat melihat wujud mereka bertiga.
Seakan lampu spotlight menyinari mereka dan aku hanyalah salah seorang penonton dari ribuan yang tak tampak.
Jadi—kudapati terdapat dua lelaki dengan seorang gadis. Tapi perempuan itu... mengapa mirip sekali denganku?
Jadi—hei! Apa mungkin ini benar-benar mimpi? Mimpi di mana aku melihat diriku sendiri di masa lalu? Atau... melihat diriku dalam dunia imajinasi ciptaanku?
"Um! Lagipula aku kesini hanya untuk liburan. Tapi tenang saja, aku pasti akan kembali dan segera menemui kalian!"
Suara ini... iya! Gadis itu memang aku!
"Kau tidak akan melanggar janjimu, kan?"
Kali ini kudapati salah seorang dari kedua lelaki cilik itu—lelaki berambut red crimson bertanya. Namun aneh, aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Alias... buram.
Sebenarnya tidak hanya lelaki itu, semuanya—buram. Bahkan wajah dari gadis yang kuperkirakan diriku. Namun tak apa, aku sudah mengerti. Gadis itu memang aku di masa lalu. Dari gerak gerik sekaligus suara dan penampilan, ia memang aku.
Selain itu yang jelas—maksudku dapat dideteksi dan disimpulkan—hanyalah sebuah bola oranye khas basket diapit pada lengan sang anak berambut merah tua tersebut.
"Tentu tidak!"
Kemudian aku mendapati gadis mungil itu—aku—mengulurkan jari kelingking.
"Yakusoku!" [2]
Yang langsung dikaitkan oleh kedua lelaki lainnya. Aku tidak dapat melihat wajah mereka—meski kutahu; satu berambut hitam, sedangkan satunya berambut merah gelap. Hanya saja, siapa? Mengapa aku tidak mengingat mereka?
"Kami akan menunggu."
Kedua lelaki itu berujar kompak. Nadanya sangat tenang dan teduh—sepertinya mereka senang akan janjiku.
"Okey!"
Aku menjawab dengan polosnya. Dan aku yang melihat scene itu dari samping hanya diam—tak mengintrupsi mau pun menyela.
Kemudian benakku mulai memunculkan beragam pertanyaan.
Mereka berdua siapa?
Apa mungkin—seseorang di Amerika?
Aku ingat sebelum ayah menikah lagi, kami sempat berlibur di Amerika selama dua bulan. Namun aku merasa tidak dekat dengan orang-orang di sana, mengetahui bahasa inggrisku yang terkesan kacau balau.
Lantas—siapa kedua lelaki itu? Teman? Sahabat? Kenalan?
Aku menghela napas panjang . Kemudian mendapati bayangan tiga anak itu telah menghilang (secara magis)—menyisakan kegelapan total. Aku mulai panik.
Lagi-lagi sendirian.
Cepat, kakiku berlari tanpa arah tujuan. Terus dalam keheningan hitam pekat—bahkan kurasa, lima ratus meter pun telah kulalui dengan kelajuan sekarang.
Di mana ini? Di mana? Apakah semua ini tak ada ujungnya?
Aku... sendiri?
Tidak.
Aku menggelengkan kepalaku.
Ini pasti tidak nyata.
Dan setelah kupastikan ini bukanlah fakta, kudapati setitik cahaya terang di ujung jalan.
Manikku melebar sementara bibir menyinggung senyum lega. Akhirnya, setelah cukup lama berada di tengah kegelapan—muncul jalan keluar.
Cepat, kupacu langkah menuju harapan—dengan nightgown yang melambai seiring langkah yang semakin melebar diiringi lompatan ria.
Kedua mata fokus pada cahaya yang semakin terang, terang, dan terang.
Hingga...
"Ugghhh...?"
Eh—?
Kini pandanganku menjadi buram. Aneh sekali, dan mengapa... aku merasa begitu mengantuk?
Kedua manikku mengerjap—berusaha membuka mata, mendapati langit putih sebuah ruangan. Disusul suara kicauan burung pipit plus gesekan kain gorden terbuka.
"Ah, gomenasai. Apa saya membuat Anda terbangun?"
Sebuah suara asing menyapa telingaku. Cepat, aku menggerakan tubuhku—dan menyadari bahwa aku kini berada dalam sebuah kasur yang empuk.
Tidak berlari meraih cahaya. Tidak dalam dimensi penuh kegelapan.
Di sini. Di kediaman Akashi—tempatku mulai berdiam sejak kemarin.
Manikku mendapati seorang maid—kira-kira tiga puluh tahun, membuka gorden kamar. Membiarkan sinar matahari pagi menyusup masuk dari celah-celah jendela yang bermotif abstrak nan rumit.
"Ah, tidak apa-apa." Aku mengeratkan selimut yang kukenakan, menyadari bahwa segala pengelihatan yang kulihat tadi hanyalah mimpi semata. Meski aneh, kurasa itu adalah potongan memori diriku bersama seseorang di masa lalu.
Hanya saja—siapa?
Mengapa aku tidak dapat mengingatnya?
Apa mungkin, karena telah terlalu lama tidak berjumpa?
Aku menghela napas.
Kurasa itulah alasannya.
Ya—alasan terlogis untuk saat ini.
Maid itu tampak heran akan jawabanku, namun memutuskan mengabaikan—beranjak membuka lemari dan mengambil sesuatu.
Sebuah gaun berenda khas sweet lolita fashion, lengkap dengan pakaian dalam—yang tentu saja bukan milikku. Aku bahkan tidak ingat terdapat barang tersebut di sana.
Ia berjalan ke arahku—yang kini merubah posisi menjadi duduk di pinggir ranjang. Menyerahkan satu set pakaian tersebut padaku, membuatku menerimanya dengan rasa heran (serta sebelah alis terangkat kala menatap wajahnya—menuntut penjelasan).
"Bocchan menyampaikan pada saya bahwa Anda dapat menggunakkan pakaian ini setelah mandi." Ia berujar pelan—kemudian membungkuk. "Saya permisi." [3]
Sang maid melangkah menuju pintu—sementara batinku memproses ucapannya.
Jadi Akashi-kun menyampaikan padanya bahwa aku dapat mengenakan dress ini setelah mandi pagi?
Tapi hei—ini aneh! Bagaimana Akashi-kun bisa memiliki pakaian untuk gadis? Bahkan pakaian dalamnya? Terlebih dress yang ia berikan sedikit berunsur cosplay!
Apa diam-diam ia seorang otaku?!
Nah. Kurasa itu tidak mungkin.
Aku menggelengkan kepalaku—mengusir pikiran yang terlalu imajinatif tersebut; dan menyadari maid tadi telah membuka pintu, hendak keluar. Cepat, aku menghentikkannya.
"Matte!" [4]
Berdiri, berjalan ke arahnya yang kini terdiam di tempat—memandangku heran.
"Ada apa, Nona?" tanyanya.
"Bagaimana Akashi-kun dapat mempunyai dress semacam ini? Terlebih pakaian dalam wanita?" tanyaku heran. Maid itu tersentak—namun kemudian tersenyum kecil.
"Bocchan memerintahku untuk membeli pakaianmu sebelum kau bangun. Ia terlihat sangat perhatian dengan Anda." Aku mengerjap mendengar penuturannya.
Oh, rupanya begitu.
Jadi maid itu yang membelinya? Pantas saja.
Aku mengangguk tanda mengerti—kembali bertanya, "Lalu sekarang di mana Akashi-kun?"
"Bocchan sudah berangkat sekolah dua jam yang lalu." Maid itu membalas sopan. Aku menaikkan sebelah alis heran. Sekolah? Ah ya, hari ini hari senin, kan?
Tapi... berangkat dua jam yang lalu? Alisku bertaut.
Cepat, manikku menelik sekeliling—mencari jam dinding dalam ruangan.
Dan, gotcha!
Cepat, manikku membaca waktu yang tertera.
[10:15]
Aku melebarkan kedua mata tidak percaya. Heck, aku baru bangun jam sepuluh pagi?! Padahal di rumah—lama—aku selalu bangun kurang dari jam enam!
Mungkin karena terbiasa tidur jam sepuluh malam? Bukan satu pagi seperti kemarin (hari ini)? Atau sebab utama adalah kasur yang terlampau empuk hingga membuatku terus terlelap?
"O-Oh, begitu kah?" Aku tersenyum ragu sebagai balasan. "Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku."
Maid itu membungkuk sedikit—keluar kamar, diiringi suara cklek pintu tertutup.
Meninggalkanku berdiri di depan pintu; sendirian.
Aku menghela napas, berjalan—mendudukan diri kembali pada pinggir kasur. Manikku mengamati pakaian yang terlipat rapi pada genggaman tangan. Kainnya halus, namun terlalu berumbai.
Dress selutut dengan aksen renda kentara berwarna pink putih—pita di mana-mana, berlengan panjang. Selain itu, pakaian dalam berwarna senada.
Juga—eh?
Aku tidak menyadari terdapat benda ini sebelumnya. Jemariku menarik sebuah kain yang terselip pada kain dress.
Kain itu—eh? Maksudku bando; memiliki warna senada dengan pakaian yang diserahkan padaku. Dengan pita di sana-sini serta motif silang menyilang.
Aku menghela napas.
Ini sesungguhnya memang selera Akashi-kun, atau maid tadi?
Aku mulai meragukannya—mengingat sang maid membeli pakaian; kemungkinan besar ialah sang pemilih model busana yang kelak kukenakan.
Ah, sudahlah.
Untuk saat ini, lebih baik aku segera mandi—meski tentu, aku pun kebingungan.
Kira-kira apa yang harus kulakukan setelah ini, ya?
.
.
.
Aku tidak tahu berapa lama terlewat kala diriku memanjakan diri pada air hangat dalam bath tub. Yang pasti, lebih dari sepuluh menit.
Meski jujur, aku terbiasa menggunakan air dingin di rumah lama—karena air hangat hanya dapat digunakkan kedua kakak dan ibu tiriku.
Aku sendiri tidak mempermasalahkannya, toh bagiku suhu bukanlah masalah yang patut diperbesar-besar kan. Namun tentu—itu sudah membuatku merasakan suatu diskriminasi yang luar biasa.
Dan kini, aku telah mengenakkan pakaian ganti yang diberikan sang maid padaku. Meski aneh—sangat aneh. Bagaimana Akashi-kun dapat mengetahui ukuranku?! Dress ini sangat pas dengan tubuhku!
Ah, sebenarnya itu juga merupakan misteri mengingat dress yang mereka kirimkan padaku sebelum ini pas dikenakan olehku.
Aku menghela napas—memfokuskan padangan pada kaca yang mencerminkan gambar diriku.
Ya, diriku.
Seorang gadis berubuh pen—maksudku kurang tinggi—dengan rambut coklat kehitaman berujung ikal, serta manik senada. Menurut pendapatku, mengenakan pakaian semacam ini dalam ukuran tubuh yang tergolong mungil—membuatku terlihat seperti boneka.
Aku tersenyum—seraya melangkahkan kaki menuju keluar ruangan.
Sudahlah, sebaiknya sekarang aku segera keluar—menelusuri rumah baruku yang berpotensi membuat tersesat. Oh, dan mungkin mencari sarapan.
Dengan pita panjang bandana berkibar serta dress melambai seiring diri melangkah konstan, aku pun beranjak keluar kamar—tak lupa menutup pintu.
Dan kini aku mendapati diri berada dalam sebuah koridor lebar berdinding krem—dihiasi beberapa figura foto memukau serta meja indah bertahta guci antik.
Manikku menelik sekitar yang tertutup akan cahaya luar—hanya disinari oleh kandelir setiap lima meter (dengan puluhan lilin menyala). Sedikit pun tak ada celah yang membiarkan sinar matahari menyusup.
Kakiku bermain pada halusnya karpet beludru merah terbentang hingga akhir koridor. Kemudian kusadari sepasang slippers di sebelah pintu kamarku yang baru saja tertutup. Aku mengerjap.
Kurasa, kemarin ini tidak ada di sini.
Ah, sudahlah.
Aku pun memutuskan mengenakkannya sembari berjalan cepat menelusuri koridor. Uh, bahkan kini perutku mulai berbunyi. Aku lapar—mengingat kembali sekarang merupakan jam sepuluh lebih, dengan lambung belum terisi.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan tiga anak kecil terbesit dalam benakku.
Ah—mimpi tadi.
Aku tidak begitu mengingatnya, namun aku pun tak berniat melupakannya—karena siapa tahu itu adalah kepingan yang penting dalam kehidupan?
Lagipula, aku tidak mengerti. Dan aku ingin mengerti.
Apakah itu hanya halusinasi, imajinasi, atau fakta adanya?
Nyata—sepertinya. Namun aku pun tak berani menjamin.
Meski kupetik satu hal penting dalam mimpi tadi. Jika benar itu mimpi dan memori lamaku, maka aku telah mengingkari sebuah janji.
Karena nyatanya—aku tidak kembali.
Lebih tepatnya, aku tidak mungkin kembali.
Kakiku tetap berjalan tenang (meski pikiran kalut akan beribu pertanyaan)—sesekali berpapasan dengan maid atau butler yang lewat. Kedua alisku bertaut heran. Oh astaga, berapa banyak pelayan yang dimiliki keluarga Akashi sebenarnya?
Untuk sekarang—aku dapat menghitungnya dengan jari. Tiga. Ya, dua maid berpapasan denganku dalam koridor yang kini kulalui. Serta satu butler.
Huff, dalam koridor ini saja aku telah berpapasan dengan tiga pelayan keluarga Akashi. Bagaimana jika aku melakukan tour keliling mansion? Pasti akan lebih banyak dan membuatku kesulitan menghitung.
Dah hei—terlebih jalan mereka rerata sangatlah tergesa, seperti dikejar waktu! Bukannya aku menyindir, namun seorang dari maid itu membawa benda terbuat dari beling, tidak bisakah ia sedikit memperlambat langkah?
Bagaimana jika barang itu pecah dan sang maid dituntut mengganti? Akan sangat merepotkan nantinya. Karena itulah aku sesungguhnya lebih mengharapkan maid tersebut memperlambat langkah.
(Meski kutahu aku pun salah karena tidak mengingatkan maid tersebut dan memutuskan berjalan terus. Dan kini rasa bersalah sedikit menyelusup dada.)
Aku menggeleng pelan, merasa tidak sepantasnya aku merasa bersalah. Sebab sejak awal, itu bukanlah sesuatu yang berkaitan denganku mau pun menjadi tanggung jawabku. Manikku terpenjam sejenak sementara kaki terus melangkah.
Hufff. Sebenarnya berapa panjangnya koridor ini? Terdapat beberapa tikungan yang oh—membuatku harus menelusuri koridor lain, dan pengulangan tersebut membuatku belum berhasil melihat ujung koridor bagai labirin ini.
Eh—tunggu.
Jika aku belum menemukannya, bukankah itu berarti ada kemungkinan aku mengambil arah yang salah?
Kedua kaki mulai mempercepat langkah ke depan—sedikit tergasa. Aku mulai panik juga, merasa bahwa pertanyaan tadi bukanlah sesuatu yang mustahil.
Apa jangan-jangan aku salah arah? Aku tersesat? Bagaimana ini, masih belum terlambat untuk kembali! Tapi, hei! Atau mungkin lebih baik memilih terus maju?
Aku menggigit bagian bawah bibir, kembali pun aku tidak begitu hafal arah. Tak menutup kemungkinan tersesat juga di saat kembali. Dan bagaimana jika tak ada yang berhasil menemukanku kala tersesat?
Mansion ini sangat besar, bahkan kuragu semua anggota yang telah tinggal beberapa tahun pun hafal setiap sudut serta lika liku arah.
Eh—tunggu. Tapi bukankah ada CCTV?
Sehingga jika aku tersesat pun, seseorang pasti tahu keberadaanku?
Aku sedikit memperlambat langkah meski masih berlari—merasa bahwa ide itu cukup menenangkan diri.
Benar juga, di mansion sebesar dan semegah ini, pasti terdapat puluhan CCTV.
Selagi kaki berjalan cepat, aku mengarahkan pandanganku ke segala sudut—dan gotcha! Kutemukan satu CCTV di sudut kanan koridor—tepat sebelum tikungan menuju koridor lain. Aku menghela napas lega.
Dengan begini setidaknya seseorang dapat mengetahui keberadaanku melalui CCTV.
Tapi—benda elektronik tersebut tidak rusak, kan? Maksudku, biasanya CCTV akan mengeluarkan sedikit kerlip merah pada bagian bawah kamera saat beroperasi. Namun ini... mengapa tidak ada?
Apa jangan-jangan benda elektronik ini tidak dijalankan? Atau lebih parahnya lagi—mengalami kerusakan pada mesinnya sehingga tak dapat digunakkan?
Mendengar pemikiran abstrak serta imajinatifku—aku mengerjap.
Aku tahu hal tersebut sepertinya mustahil, namun hanya sepertinya.
Tidak pasti.
Dan kembali, hatiku mulai panik.
Jika CCTV tidak beroperasi, siapa yang akan menemukanku? Apakah aku harus terus berjalan mengikuti koridor ini? Tapi, hei! Aku juga lapar! Aku ingin segera makan pagi! Aku belum sarapan!
Namun... jika terus maju, mungkin akan kutemukan sesuatu yang tidak terduga? Seperti—lihat! mulai tampak cahaya terang di ujung jalan! Akhirnya!
Aku pun sedikit mempercepat langkahku, mendapati diriku berada di hadapan sebuah pintu lebar berukir melingkar material kayu mahoni—memiliki sedikit celah memancarkan cahaya terang; berbeda dengan sinar redup lilin pada koridor.
Tanpa aba-aba, tangan kananku mendorong pintu tersebut.
Dan seketika disambut dengan puluhan tangga melingkar menuju... atap? Entahlah, aku tidak dapat melihat ujungnya dari tempatku berpijak.
Namun kurasa atap. Meski aku tidak yakin. Lagipula, ini seperti bagian terujung dari mansion Akashi. Tangga dibalut dengan (sekali lagi) tikar beludru merah, ditambah pegangan tangga berukir abstrak.
Lagi-lagi, mengapa di bagian semacam ini saja—mansion Akashi-kun tetap saja tampak menawan? Fuhh, dasar orang kaya. Rasanya aku semakin gugup saja tinggal di sini.
Tapi, tidak! Aku tidak boleh! Aku harus membiasakan diri!
Aku pun perlahan menaikki tangga—jarak antar anak tangga tidaklah banyak, memudahkanku menaikinya, meski tak dipungkiri aku cukup lelah karena jumlahnya merupakan ratusan.
Ya—ratusan anak tangga.
Tapi, apa mungkin di ujungnya terdapat sesuatu yang mengejutkan? Seperti—hmm, ruang penuh lukisan abstrak? Atau foto keluarga Akashi dari generasi ke generasi? Juga, mungkinkah ruang penyimpanan harta?
...
Dan pemikiran tersebut membuatku semakin tertarik—memotivasi diri tuk terus melangkah menaikki tangga menuju langit.
Meski lapar terus menyapa diri, rasa penasaranku telah melebihi keinginan untuk kembali—mencari maid, memintanya menuntunku menuju ruang makan untuk sarapan.
Segala hal itu terpendam, hanya karena satu pertanyaan sarat akan kecurigaan penuh menaungi benak:
"Apa ya yang menantiku di ujung sana?"
.
[POLLING MENGENAI ENDING MASIH DIBUKA DI PROFIL SAYA]
[1]: Ini Himuro yang berbicara, okeii?
[2]: "Janji!"
[3]: "Tuan muda menyampaikan pada saya bahwa Anda dapat menggunakkan pakaian ini setelah mandi."
[4]: "Tunggu!"
Votingmasih dibuka. Gomen bagi yang ngevote melalui review, saya tidak dapat menghitungnya seperti apa yang saya lakukan untuk vote nama OC. Karena itulah saya membuat polling ini di profil.
Btw, ini 1st PoV all, tanpa nama. Tapi sekali lagi kalau memang bakalan pake nama, saya ambil 'Akizuki Airi.' Jadi intinya—polling OC sudah saya tutup.
Okeeey, saya udah lama sekali ngak update cerita ini huehehe. Maaf atas GoM yang ngak muncul dalam chapter ini.
Iya, GoMnya muncul—sebenernya Akashi *uhuk*—untuk chap depan. Sama, papanya Akashi (mungkin?) dan err... kalo ngak kepanjangen chapternya ya Nijimura masuk juga :''3 OHOHOHOHO #digamvar
Ini balasan review anon:
-Shirosaki00
Siapppp, saya usahain emang ngak ada. Niat saya gtu xD Makasih ya sudah mereview~
-Nikio Suzaku
Saya tidak merencanakan keluarnya Momoi, jadi sepertinya tidak ada. Tapi Aida Riko ada kemungkinan muncul. Endingnya em... saya tentuin pakai voting di profil saya :''3 coba cek ya~
Harusnya itu semua muncul, karena rencana saya Reader mau disekolahin ke Seirin (tapi entah jadi atau ga /ditavok) Makasih banyak ya sudah mereview :3
Dan ini hasil votingending sementara. Silahkan vote lagi di profil saya, saya tidak terima voting lewat review.
Oh, dan yang vote saya untuk membuat semua endingnya, sayang sekali saya tidak bisa melakukannya. Jadi saya hanya membuat endingthree top jika itu yang mendapatkan vote terbanyak.
Akashi: 4
Nijimura: 3
Midorima: 2
Kise: 2
Kuroko: 1
Aomine: 0
Himuro: 0
Kagami: 0
Murasakibara: 0
Maaf banget jika banyak kesalahan kata, semoga saja ini dapat memuaskan readers sekalian. Terima kasih banyak bagi yang sudah review, fave, fol dan baca~!
Sekian!
~alice dreamland
