You Belong To Me
Disclaimer :Inuyasha belongs to Rumiko Takahashi. But Sesshy is Mine ekkeke~
Note : AU, Wrong grammar, Typo, EYD tidakdiperhatikan, bad storiesetc
Musim dingin memiliki perannya tersendiri bagi semua makhluk hidup. Ia memberi efek gugurnya bunga dan dedaunan yang selama ini memberi keindahan. Memberikan sejenak jeda bagi tumbuhan untuk beristirahat dan menghilangkan beban mereka. Di musim semi selanjutnya mereka dapat kembali bertunas dan menghasilkan bunga-bunga yang indah. Begitulah seterusnya, pergantian alam yang penuh dengan keseimbangan. Memberikan berbagai macam makna dan kebahagiaan bagi setiap manusia. Kali ini alam yang terlihat menguning di hempas cahaya senja dan semaraknya daun-daun yang berguguran, angin yang berhembus dingin mengiringi datangnya musim di awal bulan September. Musim gugur, keindahan musim ini tidak pernah bisa dinikmati oleh pemilik obsidian emas yang begitu memukau. Lebih tepatnya semua musim tidak ada yang bermakna baginya. Hatinya terlalu keras untuk mengartikan semua makna yang tersirat di balik keindahan empat musim di negaranya. Baginya, hidupnya tetap sama. Tidak ada yang dapat membuatnya merasakan kebahagiaan. Tidak setelah apa yang menjadi sumber kebahagiaannya tertidur dan tidak pernah membuka matanya sampai sekarang. Seorang gadis mungil yang sekarang terbaring dan nampak begitu tenang dalam tidurnya. Begitu damai, seakan ketiadaannya tidak menghancurkan hati seseorang. Sudah lebih dari enam bulan gadis pemilik manik kebiruan itu terus tidur seperti itu. Tertidur tanpa mempedulikan seseorang yang selalu setia menemani dalam lelapnya. Tertidur tanpa tahu bagaimana matinya hati seseorang kala obsidian emas itu terus memandang lekat sosok sang gadis tercinta.
Begitu besarkah kesalahan dirinya yang egois ini sehingga gadis yang sangat dicintainya tidak sudi untuk bangun lagi hanya sekedar untuk memandangnya acuh seperti dulu. Ia rela melakukan apapun asal gadisnya kembali bangun. Ia rela walaupun seumur hidupnya terkurung dalam sepi yang menyiksa.
"Kagome, bangunlah. Aku berjanji akan melepaskanmu asal kau membuka matamu. Aku berjanji akan menghilang dari hidupmu selamanya." Tangan kekarnya menggenggam jemari kecil istrinya yang begitu pucat. Mata emasnya nampak menyiratkan luka yang mendalam walaupun ia tidak bisa menangis. Seandainya hatinya bisa terlihat, maka hatinya kini sudah hancur tidak berbentuk. Ia rela melepas gadis itu dari genggaman tangannya.
"Sesshomaru, makanlah. Ibu sudah membawa makanan kesukaanmu." Ujar ibu Kagome yang datang menjenguk putrinya. Tidak ada kata yang keluar dari bibir menantunya.
"Kau terlalu sering melamun, Sesshomaru. Pulanglah untuk mandi dan berganti pakaian, biar ibu yang akan menjaga Kagome." Ujar ibu Kagome dengan lembut. Hatinya perih melihat suami Kagome yang di rundung duka mendalam akibat kehilangan sosok istri yang sangat dicintainya. Ibunya tahu dibalik sikap datar dan dingin Sesshomaru tersimpan cinta yang sangat besar untuk Kagome.
Sampai Kagome terbangun dan ia akan mengajukan surat cerainya. Dengan kerelaan hati Sesshomaru akan mengabulkannya dan melepaskan Kagome untuk selamanya. Membiarkannya kembali hidup bebas seperti dulu. Ya, Sesshomaru telah memutuskan bahwa ia benar-benar akan melepas Kagome saat gadis itu terbangun nanti. Ia hanya akan pulang kerumah untuk berganti pakaian dan berangkat ke kantor lagi. Sesshomaru selalu menemani istrinya sampai pagi menjelang. Itu adalah rutinitas yang ia lakukan setiap hari, seakan hidupnya sudah tidak ada arti lagi.
"Nee-chan, hari ini aku senang sekali karena aku telah menyatakan perasaan cintaku kepada seorang wanita dan ia menerimanya." Souta mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya terlalu pilu setiap menatap kakak perempuannya yang masih saja tertidur.
"Nee-chan, kau harus bangun. Kalau nee-chan bangun, aku janji akan mengenalkan pacar pertamaku." Souta meraih tangan kakaknya yang begitu pucat. Souta tahu kakaknya bisa mendengarnya dan telah menyeka air matanya yang telah jatuh berderai di pipinya.
"Souta…" Suara baritone seorang pria menghentikan ucapannya. Ia melihat adik Kagome pergi meninggalkannya berdua di ruangan itu.
Sesshomaru masih memandang wajah tertidur istrinya yang begitu damai. Ia terus memandangnya sampai obsidian emas itu menangkap sesuatu yang mengalir dari kedua pelupuk mata yang masih tertutup rapat. Kagome menangis. Sesshomaru terperanjat menyaksikan hal itu dan hatinya kembali berdenyut nyeri. Apakah dalam mimpi istrinya masih saja bersedih karenanya dan masih saja terluka karenanya. Ia melihat jari jemarinya mulai bergerak. Sengatan listrik beribu volt pun menghantam hatinya sampai ia tidak sanggup berkata-kata ataupun menggerakan kakinya. Perlahan Sesshomaru melihat pancaran sinar kebiruan yang tetap menawan seperti terakhir kali ia melihatnya. Hatinya bahagia ketika sepasang mata itu mulai bergerak, namun di sisi lain ketakutan juga merayapi hatinya. Sesshomaru ingat akan ikrarnya bahwa ia akan melepaskan gadis itu apabila Kagome telah membuka matanya. Tidak ada kata terucap, seakan interaksi mereka cukup terwakilkan pada mata mereka.
"Kagome." Suaranya begitu dalam sarat akan kerinduan.
"Sesshomaru…" Suara lembut itu memanggil namanya. Ia bisa merasakan jemari tangan suaminya menyentuh pipinya dan menghapus air mata yang sudah mengalir deras.
"Kau sudah bangun…" Ucapnya pelan. Sesshomaru seketika merasa lemas dan ia tahu waktunya sudah tiba. Waktu di mana ia harus pergi dari gadis yang sangat ia cintai. Sesshomaru tidak pernah melanggar janji yang telah dibuatnya. Seberapa beratnya dan walaupun setelahnya ia akan mati karena ia tidak bisa hidup tanpa Kagome di sisinya. Sesshomaru tidak mengerti kenapa istrinya terus menangis. Begitu bencinya kah Kagome melihat dirinya. Apakah Kagome sudah sudah tidak sudi lagi melihat wajahnya. Hatinya seakan teriris saat mempercayai pikirannya sendiri.
"Aku akan menghubungi orang tuamu." Suara Sesshomaru datar. Ia mencoba bangkit berdiri, namun tangannya merasakan sentuhan lembut yang memaksanya untuk tetap tinggal.
"Jangan pergi." Tangan Kagome menyentuh tangan suaminya. Hanya sentuhan ringan yang tidak bertenaga mampu membuat Sesshomaru tidak berkutik.
"Terima kasih." Suaranya tersendat karena Kagome menahan tangisnya. Ia melihat ibu dan adiknya masuk ke ruangan dan Sesshomaru pergi meninggalkannya bersama ibu dan adiknya untuk melepas rindu. Sebenarnya Kagome ingin menahan Sesshomaru untuk tidak pergi, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kagome sudah sehat dan senyumnya sudah kembali seperti sedia kala. Masih ada rasa pahit yang membuat senyuman tulusnya tidak sampai pada hatinya. Sesshomaru tidak pernah mengunjunginya di rumah sakit setelah ia sadar. Sudah tiga minggu hatinya terasa kosong dan diliputi berbagai macam rasa yang tidak dapat ia mengerti. Ia pun mengetahui dari Kouga bahwa suaminya itu sedang berada di Paris untuk kunjungan luar negerinya.
Satu minggu kemudian Sesshomaru sudah duduk di samping istrinya dan sudah lebih dari lima menit dan tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Kagome terus mengamati wajah suaminya dengan pipinya yang bersemu merah.
"Kapan Sesshomaru-sama kembali dari Paris?" Akhirnya suara Kagome terdengar lebih dahulu meskipun terlihat canggung.
"Dari mana kau tahu aku pergi ke Paris?" Sesshomaru mendongak untuk melihat wajah istrinya.
"Um, Kouga yang memberitahuku." Ujar Kagome lirih.
"Apa kau sudah merasa baikan?" Sesshomaru mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa ia tidak mau membicarakan tentang perjalanannya ke Paris yang begitu menyiksa dirinya. Selama ini ia jauh di negeri orang dan sosok istrinya selalu mengganggu pikirannya. Ia begitu merindukan Kagome, tapi tidak mempunyai daya untuk menemuinya. Akhirnya hari ini datang juga, hari di mana ia akan menghadapi Kagome dan akan melepaskannya.
"Sudah, aku ingin pulang Sesshomaru-sama." Ucap Kagome dengan malu-malu.
"Ya, aku akan mengurus semuanya agar kau bisa pulang hari ini… setelah kau menandatangani surat ini." Ujar Sesshomaru sambil memberikan sebuah map ke pangkuan istrinya.
"Surat cerai. Sesshomaru ingin menceraikanku?" Kagome membuka map dan mulai membaca selembar kerta di dalamnya. Ia berbicara seakan hatinya perih dan air mata sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Ya, sekarang kau bebas." Sesshomaru berucap pelan dan tenang. Di dalam hatinya bergemuruh dan melihat Kagome yang masih terdiam dengan berurai air mata.
"Maaf dan terima kasih." Ucap Kagome pelan. Maafkan aku karena selama ini yang kulakukan hanya membencimu. Terima kasih karena telah mencintaiku dan berbuat baik pada keluargaku. Kagome hanya bisa berkata dalam hati dan sungguh bibirnya terasa kaku. Kagome memang tidak bisa mencintainya.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menandatangani surat ini." Tiba-tiba suara Kagome memekik histeris. Persetan dengan harga diri dan rasa malu. Persetan seandainya Sesshomaru sudah tidak menginginkannya lagi. Ia tidak peduli, ia rela menghabiskan sisa hidupnya menjadi pelayan Sesshomaru untuk membayar kesalahannya dulu. Ia juga tidak peduli kalau suaminya tidak menganggapnya sebagai istrinya lagi.
"Aku tidak bisa…" Kagome langsung merobek surat itu dengan brutal.
"Aku rela kalau Sesshomaru-sama menikah dengan wanita lain, asalkan kau tidak menceraikanku." Kagome seperti tidak sadar dengan kata yang ia ucapkan. Rasa bersalah dalam hatinya yang sudah menggunung dan rasa cinta yang tidak pernah disadarinya telah menumpuk dalam hati hanya untuk suaminya.
"Kenapa?" Sesshomaru tidak menyangka Kagome akan menolak pereraiannya. Tanpa disadari, wajah tampannya sudah begitu dekat dengan wajah istirnya dan kedua telapak tangannya telah merangkum wajahnya yang basah karena air mata. Ada sedikit kebahagiaan di hati Sesshomaru saat ia mendengar penuturan istrinya.
"Karena aku ingin menebus kesalahanku pada Sesshomaru-sama." Ucapnya lirih.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku…" Sesshomaru kecewa mendengar perkataan yang keluar dari bibir Kagome. Kagome tidak ingin bercerai dengannya bukan karena gadis itu sudah mencintainya, tetapi hanya karena rasa kasihan.
"Tidak! Aku tidak mengasihanimu. Aku… Aku…" Entah kenapa pipinya bersemu merah.
"Kau mencintaiku?" Sesshomaru menyeringai melihat reaksi Kagome yang sungguh menggemaskan.
"Apakah sudah terlambat?" Kagome bertanya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia kaget saat Sesshomaru meraih tangannya yang telah menutupi wajahnya.
"Tidak ada kata terlambat untukmu." Ungkap Sesshomaru yang seketika merasakan kebahagiaan merasuki relung hatinya yang selama ini dingin tidak tersentuh. Ia melihat Kagome tersenyum. Senyum tulus yang baru pertama kali di tujukan untuk dirinya.
"Aku mencintaimu." Bisiknya lembut tepat di telinga Kagome.
"Aku tahu. Aku juga mencintaimu Sesshomaru." Balas Kagome malu-malu dalam dekapan hangat suaminya.
Sesshomaru tidak pernah percaya keajaiban dan kali ini keajaiban telah mengatakan bahwa Kagome mencintainya. Akhinya dalam kegelapan penantiannya ada keindahan yang selama ini ia inginkan. Ini adalah keajaiban yang sangat luar biasa di hidupnya. Kecupan bertubi-tubi ia berikan untuk sang istri tercinta, kecupan yang sarat akan kerinduan dan begitu menggebu.
Mereka kembali pulang ke rumah dan Sesshomaru berada di samping istrinya sambil merangkul pinggangnya. Kagome merasa jantungnya seakan mau loncat keluar saat langkah kakinya semakin mendekati pintu kamar mereka. Tanpa disadari jari jemarinya meremas jemari suaminya.
"Kenapa?" Bisikan suara yang berhembus di telinganya sontak membuat Kagome terkejut. Lengan besar yang berada di pinggangnya membuat Kagome tidak bisa berkutik.
"Apa kau ingin malam pertama kita yang tertunda…" Sesshomaru mengecup basah di bagian bawah telinga istrinya yang membuat Kagome merinding seketika dan jantungnya berdetak semakin menggila.
"Sesshomaru…" Desis Kagome. Sungguh Kagome merasa belum baikan dan tubuhnya yang masih sangat lemas. Namun ia kembali mengingat bahwa kewajiban yang seharusnya sudah ia lakukan sejak dua tahun lalu belum sekalipun ia lakukan.
"Sesshomaru, ini belum malam." Kagome merasakan pelukan suaminya yang semakin erat pada pinggangnya dan juga kecupan yang mulai merambah ke bagian leher serta tengkuknya membuat Kagome tidak berdaya.
"Aku tidak bisa menunggu sampai malam tiba, my love." Sesshomaru menjawab pelan dan ia melihat Kagome pasrah saat ia mulai menyentuhnya.
Pagi belum menampakan cahayanya dan Kagome membuka matanya perlahan melihat kegelapan di sekelilingnya. Ia berusahan menggerakan tubuhnya yang terasa sakit dan kaku serta bunyi suara perutnya yang begitu lapar karena ia belum sepenuhnya mengingat apa yang telah membuat tubuhnya serasa remuk. Ia pun langsung menyadari ada sebuah tangan besar yang memeluknya erat. Kagome mengingat semuanya dan seketika dadanya bergetar.
"Kau mau ke mana?" Sesshomaru merasakan tubuh istrinya bergerak bangun dari tempat tidurnya.
"Aku lapar…" Jawab Kagome malu-malu.
"Hn, aku akan menyuruh pelayan mengantarkannya ke sini. Kau tunggu saja di sini." Tegas Sesshomaru yang membuat Kagome mengangguk.
Setelah Sesshomaru melakukan percakapan dengan pelayannya menggunakan telepon, ia langsung menyandarkan tubuhnya dan menatap Kagome lekat dalam kegelapan kamar. Sesshomaru sukses membuat Kagome malu dan ia langsung menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.
"Kau malu?" Bisik Sesshomaru tepat di samping istrinya. Bagaimana pun ini adalah yang pertama kali baginya sejak pernikahan mereka dua tahun silam.
"Kenapa harus malu? Bukankah aku sudah melihat semuanya? Bahkan aku sudah merasakan…" Sesshomaru berbicara dengan tenang sebelum dihentikan oleh istrinya.
"Jangan teruskan!" Perintah Kagome kepada suaminya yang menimbulkan seringaian kecil di bibir Sesshomaru.
Hanya berselang sebulan setelah ia kembali dari rumah sakit, dalam rahim Kagome telah tumbuh kehidupan baru. Kagome tidak menyangka bahwa Kami-sama telah memberikan hadiah terindah untuknya. Sebentar lagi aka nada suara keras tangisan bayi yang akan menemani Kagome saat suami tercinta pergi bekerja. Kagome tersenyum bahagia dengan kedua tangan mengelus pelan perut yang memulai membesar. Ada janin berusia tiga bulan yang sekarang ada di dalam rahimnya.
"Sesshomaru, kenapa kau sudah pulang?" Pelukan hangat sang suami mampu menyadarkannya kembali dan sedikit terkejut ia mengeluarkan suara lembutnya yang menenangkan.
"Hn." Hanya terdengar gumaman seperti biasa yang keluar dari bibir suaminya karena ia tengah sibuk menghirup wangi yang keluar dari tubuh istrinya.
"Kau sudah makan siang?" Tanya Kagome lagi sambil mengelus pelan lengan besar suaminya.
"Aku hanya ingin makan siang denganmu." Suara baritone itu terdengar begitu dekat dengan telinganya. Perlahan tangannya mengelus perut istrinya. Hatinya sangat bahagia saat mengetahui dalam rahim Kagome terdapat darah dagingnya. Dalam keheningan yang mendamaikan, Kagome tersenyum. Ia menggenggam telapak tangan hangat yang masih bertengger di atas perutnya.
"Aku sudah makan Sesshomaru." Balas Kagome pelan.
"Berapa kali?" Tanya Sesshomaru melihat wajah istrinya serius.
"Umm, tiga kali." Kagome menjawab sedikit ragu dan melihat suaminya tersenyum kecil. Sesshomaru mengetahui kebiasaan baru istrinya sejak hamil yaitu nafsu makannya yang naik beberapa kali lipat.
"Apa kau mau menemaniku?" Sesshomaru bertanya datar namun menyiratkan kasih sayang yang mendalam. Ia bersyukur istrinya tidak mengalami mual yang berlebihan atau pun fisiknya yang lemah seperti yang dialami ibu hamil muda pada umumnya.
"Tentu." Kagome merasakan kecupan manis di pipinya dan tangan sang suami yang langsung mengajaknya menuju ruang makan. Sesshomaru selalu menyempatkan diri untuk makan siang di rumah. Ia selalu merasa rindu dengan istri dan calon buah hatinya yang tidak bisa ia bendung lagi. Suaminya memang ingin meghabiskan banyak waktu di rumah dengannya.
Waktu cepat berlalu dan tidak terasa kandungan Kagome sudah memasuki usia tujuh bulan. Melihat kandungan istrinya yang sudah membesar, Sesshomaru berusaha sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama istrinya. Ia selalu ingin berada di samping sang istri untuk memeluknya dan memanjakannya. Melihat tubuh mungil istrinya yang membesar, melihatnya tertidur, atau pun melihat selera makannya yang begitu besar mampu membuat Sesshomaru bahagia. Sesshomaru tidak pernah merasa kerepotan meski sedang hamil Kagome begitu banyak keinginan. Ia sangat senang kala istirnya bersikap manja padanya. Ia tidak menyangka bahwa kesabarannya selama dua tahun membuahkan hasil yang luar biasa. Kagome sangat mencintainya.
"Sesshomaru, apakah kau besok bisa menemaniku ke dokter?" Tanya Kagome saat mereka sedang duduk bersantai di taman rumah mereka.
"Hn, besok aku sibuk." Jawab Sesshomaru singkat.
"Tidak bisa. Kau harus menemaniku." Gumam Kagome tegas. Sememenjak mengandung ia memang selalu manja pada sang suami dan sedikit arogan. Ia tidak suka jika keinginannya ditolak.
"Tentu saja aku akan menemanimu." Sesshomaru tersenyum melihat Kagome dengan wajah yang sedikit cemberut.
"Aku pikir kau sudah tidak mempedulikan aku dan bayi kita." Ucap Kagome pelan dan menundukan wajahnya.
"Selamanya aku akan tetap mencintaimu. Jadi, jangan pernah berpikir seperti itu." Sesshomaru tersenyum mengeluarkan kata-kata bagikan mantra yang sanggup mendamaikan hati dan melunturkan kesedihan istirnya.
"Aku tahu." Balas Kagome dengan pipi yang bersemu merah. Kecupan singkat di dahi dan bibir yang ia rasakan menjadikannya istri paling beruntung di dunia.
Sekarang Kagome tahu, bagaimana sebuah rasa yang begitu mengganggunya ketika dirinya diabaikan atau pun takut kehilangan. Sebuah rasa yang sangat menyiksa dan sungguh menakutnya. Ia tidak mau kehilangan kebahagiaan yang baru saja dirasakannya. Ia bersyukur karena Kami-sama tidak menghukumnya dengan penyesalan, melainkan diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
"Aku mencintaimu, Sesshomaru."
~ The End ~
Yeiy finally this fic complete. Sorry took me so long for finished this. Hope you like it. Merasakan cinta Sesshomaru yang begitu besar pada Kagome membuatku merinding dan ingin memilikinya xD SesshKag forever lah pokoknya~ I Love you guys and thank you so much. Happy Eid Mubarak. Happy Holiday. Still with me and see yaa ^^,
