Warning : beberapa adegan/? Atau dialog terinspirasi dari komik Jepang, jadi jika Readers-nim pernah menjumpai beberapa adegan/? Atau dialog seperti yang aku tulis di Chap ini, itu memang suatu kesengajaan :'v
"haaaahh~~ " Ten menghela nafas panjang beberapa kali, ia berharap tidak pernah berurusan ataupun bertemu dengan Lee Taeyong
"Kenapa dulu aku mempercayai Mark?"
"Kenapa dulu aku bertanya pada Mark?"
"Kenapa Mark menyebutkan nama orang yang salah?"
Bermonolog dengan dirinya sendiri di sepanjang jalan pulang menuju apartement nya yang sederhana, pertanyaan seperti itu terus berulang setiap harinya, ia sungguh menyesal telah percaya pada Mark, Ten menghela nafas lagi, ia menendang kerikil kecil di depannya dan tidak sengaja mengenai orang yang ada di depannya
"Hei, anak muda..kau tidak sopan sekali" Tegur orang itu
Ten membungkuk beberapa kali dan ucapan maaf beruntun keluar dari bibirnya. Setelah orang itu pergi, barulah Ten menegakkan tubuhnya lagi.
"Sial, ini semua gara-gara Mark. Semua ini adalah salahnya" Ten mencibir dan meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi adalah salah Mark.
"eh? Sejak kapan aku sampai rumah?" Ten terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia tidak menyadari bahwa kaki mungilnya telah membawanya sampai didepan pintu apartement.
Sebelum ia membuka pintu, Ten melihat sebuah kotak berwarna merah dengan pita putih diatasnya -di depan pintu.
"Hah? Siapa yang meletakkan ini?" Ten menoleh kiri dan kanan, mungkin saja ada orang yang mencurigakan disekitar situ, namun nihil, disekitar apartementnya kosong dan sepi, ia mengendikkan bahu dan membawa kotak itu masuk.
Ten merebahkan dirinya ditempat tidur, melepas lelah, namun ia segera terduduk setelah mengingat kotak berwarna merah yang ia taruh di atas nakas sebelah tempat tidurnya.
"IGE MWOYA?" Ten berteriak heboh ketika melihat benda yang berada dalam kotak tersebut, bukan hanya itu yang membuat nya histeris namun surat yang berada di dalam nya juga.
Annyeong adik ipar yang manis ~~ ^^
Pakai ini nanti malam okay
Kau akan kelihatan berkali-kali lipat lebih manis !
AKU TIDAK MENERIMA PENOLAKAN!
Salam sayang dari kakak iparmu- Luhannie :*
Ten terkejut tentu saja, dan tidak percaya ada manusia seperti Luhan di dunia ini, ia kembali melihat benda yang kini ada di dalam kotak, lagi-lagi melongo dan akhirnya menghela nafas panjang lagi sebelum mengambil benda yang dikirim oleh Luhan.
Sebuh T-shirt raglan berwarna Hitam-Putuh dengan gambar Tom&jerry dan tulisan CALIFORNIA.
"yang benar saja aku harus memakai ini?" ia tersenyum mengejek sekaligus merasa konyol
Bagaimana mungkin di ia harus memakai T-shirt kekanakan seperti ini di acara makan malam? Bukankah ia harus tampil rapi dan sopan agar ia terkesan seperti namja baik-baik dan sopan di depan keluarga Lee?
Jadi apakah sekarang kau berharap menjadi bagian dari keluarga Lee huh?
Ten memukul kepalanya dan melemparkan Tshirt konyol itu. Ia benar-benar butuh tidur sekarang.
NOT YOU
"Jadilah kekasihku"
"oh- APA?" Ten berteriak
"Aku tidak mau" Ten melipat kedua tangannya di depan dada, dan ia melupakan fakta bahwa sudut bibirnya sedang sakit.
"Kau fikir aku mau?"
"Lalu kenapa Hyung memintaku menjadi kekasihmu?"
Taeyong menghela nafas panjang
"apa kau belum membaca isi pesan Sehun Hyung tadi?"
"aku sudah, maksudku kenapa harus aku? Bukankah banyak fansmu yang ingin jadi kekasihmu"
"Aku tidak bisa"
"Kenapa?" Ten berteriak
"hei..apa bibirmu itu tidak sakit?"
"Kalau berbicara dengan Hyung rasanya sudah tidak sakit lagi"
Taeyong mendengus, konyol sekali – pikirnya
"Karena Luhan Hyung yang cerewet itu sudah memberi photo mu pada Oemma, dan mengatakan bahwa kau adalah kekasihku"
Ten menjatuhkan rahangnya, bagaimana mungkin Luhan hyung mendapatkan photonya
"b-bagaimana bisa?"
"aku tidak tahu dan tidak mau tahu, yang penting sekarang kau harus membantuku"
"Aku tidak mau, aku mau nya jadi kekasih Johnny Sunbae"Ten tetap pada pendiriannya
"Baiklah aku akan membacakan surat ini di radio sekolah, biar semua orang tahu bahwa kau sangat menyukaiku dan ingin jadi kekasihku" Taeyong mengambil sebuah surat dari saku blazernya dan menunjukkankannya pada Ten
"surat itu-ah Sial" Ternyata Taeyong masih menyimpannya, ia hanya tidak mau Johnny salah paham, ia tidak mau kalau Johnny mengaanggapnya menyukai taeyong
"Bagaimana ? apa kau setuju?" Taeyong tersenyum licik
"sampai kapan?"
"Hanya sampai, orang tuaku mencabut tentang perjodohan konyol itu, mungkin seminggu atau lebih"
"Apa untungnya bagiku?"
"kau cerewat sekali, mirip Luhan Hyung"
Ten hanya mendengus mendengar ucapan Taeyong
"Aku janji setelah ini selesai aku akan membuatmu dekat dengan dengan Johnny"
"JINJAAAA?" mata ten berbinar-binar mendengarnya
"Baiklah aku setuju, lagipula Cuma seminggu"
Ten memandang bayangan dirinya dicermin, ia sungguh merasa Luhan sedang mengerjainya.
Apa nya yang terlihat manis? Ten merasa bahwa dirinya terlihat kekanak-kanakan sekarang. T-shirt raglan Tom&Jerry dengan celana jeans hitam, apakah ini yang disebut manis? Ten terus mempertanyakan hal yang sama berulang-ulang. Ia sedikit melirik jam di meja nakasnya.
"sial—sudah jam 7 lewat 25 menit…kurang 5 menit lagi" Ten bergegas mengambil ponselnya dan segera keluar.
"bisa gawat kalau terlamabat" Ten tidak mau ia terlihat buruk pada pertemuan pertamanya dengan keluarga Taeyong
Jadi, apakah kau lagi-lagi berharap jadi bagian dari keluarga Lee?
"kenapa lama sekali?"
"Eh?"
Ten terkejut mendapati Taeyong berdiri di luar apartement nya, sejak kapan? Batin Ten
"sudah 30 menit aku diluar sini" sambil melihat jam tangannya, seolah bisa membaca pikiran Ten
"Siapa suruh Hyung menjemptku? Aku tidak menyuruhmu"
"Luhan Hyung yang menyuruhku"
"Tapi-"
"Masuk"
Ten mendengus, dan menuruti perintah Taeyong untuk masuk mobil.
Disepanjang perjalan hanya kesunyian yang mendominasi, tidak ada percakapan diantara keduanya. Ten tidak menyukai suasana sunyi seperti ini, ia membencinya. Sesekali ia melirik Taeyong, berpakaian bebas seperti ini membuatnya terlihat tampan, dengan setelan hoodie hitam dan jelana jeans hitam, seperti mafia tapi tetap tampan, Ten tersenyum sendiri memikirkannya.
"Bagaimana menurutmu?" Ten memutuskan untuk memulai pembicaraan
"apanya?" Taeyong menimpali sambil terus fokus pada kemudinya
"Baju ini, apa menurutmu ini manis?" Ten hampir muntah menyebutnya manis terlebih di depan Taeyong yang sering berkata dingin
"Sudah sampai"
"eh? Sudah sampai?" Ten bertanya pada dirinya sendiri, ia melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
Ia takjub dengan rumah keluarga Lee ini, rumah nya tidak terlalu besar, namun memiliki 3 lantai, di halaman rumahnya ada taman Bunga dan kolam ikan, rumput hijau yang seperti karpet tebal menyelimuti halaman indah itu. Ten tersadar dari keterkagumannya ketika ia merasakan jari tangannya bertautan dengan jari seseorang- Lee taeyong
"Kita harus bersikap seperti layaknya kekasih pada umumnya"
"jadi jangan gugup" Taeyong berbisik pada Ten, membuat pipi Ten memanas dan memerah, aliran darahnya juga semakin cepat. Ia sungguh tidak mengerti kenapa jantungnya berdegup kencang saat Taeyong bersikap manis padanya?
Tak lama kemudian pintu bercat putih didepannya terbuka,
"TENNN" Luhan lah yang pertama muncul dari balik pintu memeluknya erat, membuat tautan jarinya dengan taeyong terlepas
"YA TUHAN KAU MANIS SEKALI" tiba-tiba yeoja paruh baya dengan namja paruh baya disebelahnya muncul dari balik pintu. Itu adalah tuan dan Nyonya Lee, orang tua Taeyong dan Sehun
Luhan melepas pelukannya dan kemudian merangkul pundak Taeyong
"Bagiaman umma? Benarkan kataku, kalau mereka sangat cocok"
"kau manis dan mungil anak muda" Tuan Lee tersenyum dan menepuk bahu Ten
"dah OH—Umma lihat, mereka memakai baju yang sama. Ya tuhan kalian sangat manis sekali" Luhan pura-pura terkejut, tentu saja pura-pura karena dialah yang memaksa Taeyong dan Ten memakai T-shirt itu.
Ten menatap Taeyong, sejak kapan dia berganti pakaian? Taeyong memakai Tshirt yang sama dengannya hanya warnanya yang berbeda, jika Ten berwarna putih-hitam, maka Taeyong berwarna putih-merah.
"Ayo masuk nak" Nyonya Lee mengandeng tangan Ten
"Hei, tersenyumlah bocah" Luhan berbisik di telinga Taeyong sebelum akhirnya masuk mengikuti Nyonya Lee
"jadi sejak kapan kalian berpacaran?" Tanya nyonya Lee tiba-tiba, disela-sela makan malam mereka
"Uhuk-uhuk" Ten tersedak dan langsung mengambil minum disebelahnya
"Ya Tuhan, apa aku membuatmu terkejut?"
"A-"
"Sudahlah umma, bicaranya nanti saja setelah makan" – Sehun
Ten bersyukur karena Sehun mau membantunya, ngomong-ngomong soal Sehun, ia baru saja pulang dari kuliah makanya dia tadi tidak terlihat pada saat Ten datang
Dan acara makan malampun berlangsung hikmat, dengan Ten yang masih gugup makan bersama keluarga besar orang lain, karena ia terbiasa makan sendiri dan makan apapun sepuasnya dengan gaya bebas /?
Setelah itu
"jadi sejak kapan kalian berpacaran?" Pertanyaan yang sama lagi namun di tempat yang berbeda, jika tadi di ruang makan sekarang di ruang TV, dimana ia dan Taeyong duduk di sofa menghadap TV layar besar sedangkan keluraga Lee dan Luhan duduk dibawah membelakangi TV. Seperti seorang penjahat yang tengah diadili warga sekampung. Bagaimana tidak, ia baru saja bersyukur Sehun membantunya keluar dari pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya dan sekarang pertanyaan itu terulang lagi dengan semua pasang mata yang tertuju padanya, seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup
"i-itu…" Ten gugup, keluar dingin membasahi dahinya dan ia juga sulit menelan ludahnya sendiri
"3 minggu yang lalu" Jawab Taeyong asal
"wow? Bagaimana bisa? Bukankah Ten masih seminggu bersekolah di sana?" Luhan bersmirk- ia senang sekali menggoda Ten dan Taeyong
GLEKK
Akhirnya Ten berhasil menelan ludah berkat ucapan Luhan, Ten meremas jari tangannya, berusaha menghilangkan gugup namun gagal
"Itu bukan pertanyaan berbobot" Taeyong menimpali lagi
Luhan mendengus, Taeyong sangat sulit dikalahkan batinnya
"Apa yang kau sukai dari Taeyong nak?" Kali ini Tuan Lee yang berbicara, ucapannya sangat halus dan bijaksana, namun sorot matanya terlihat sama dengan yang lain, -mengintimidasi
"katakan saja, jangan malu-malu" Luhan dan Sehun tersenyum konyol
"a-aku..mmm….."
Tangan dan dahinya semakin basah, keringat dingin yang keluar semakin menjadi-jadi, ia gugup, bingung, dan tidak tahu harus menjawab apa, karena demi apapaun Ten tidak menyukai apapun yang ada pada Lee Taeyong, namun orang-orang didepannya menunggu jawaban darinya.
"Katakan saja..apapun" Taeyong berbisik di telinga Ten
"ooowwwww" semua nya bersorak kecuali Taeyong dan Ten
"Suamiku~~ manis sekali meraka"
"Lee Taeyong, Appa harap kau bisa mengontrol sikapmu"
"Awww….Hunnie lihat lah ~~ mereka bisa mengalahkan kita nanti"
"Tenang saja hannie, aku jauh lebih romantis dari Taeyong"
Keributan kecil didepannya membuat Taeyong memutar bola matanya, keluarganya ini sangat aneh dan suka melebih-lebihkan sesuatu, terutama Umma-nya dan Luhan.
Sedangkan Ten sangat menikmatinya, ia sedikit terhibur dan melupakan kegugupan yang sedari tadi meggerogotinya. Keluarga sunbae-nya itu jauh sekali dari bayangannya selama ini. Ia kira keluarga Taeyong sangat dingin sama seperti sikap Taeyong, namun kenyataan nya sekarang keluarganya ini sangat terbuka dan menyenangkan. Ia jadi merindukan keluarganya yang berada di Thailand.
"jadi apa jawabanmu?" lamunan Ten seketika buyar, ia seperti dihempaskan lagi di dasar jurang. Pertanyaan demi pertanyaan selalu membuatnya mati kutu.
"Taeyong sunbae itu..mm..d-dia tampan" Ten sedikit malu mengatakannya, pipinya sedikit memerah
"Anakku memang semua tampan" Tuan Lee membanggakan diri
"Hei, tidak adil kan kalau kita hanya menanyai Ten, bagaiman kalau Taeyong juga harus diberi pertanyaan" Luhan mengusulkan dan yang lain membenarkan hal itu, ia menatap Taeyong dengan senyum licik dan alis yang di naik-turunkan
"Sial" Teayong mengumpat dalam hati
"Bocah, apa yang kau sukai dari Ten yang manis ini?" Tuan Lee bertanya santai pada Taeyong. Hell, Ten dibuat specheles, kemana perginya sikap ramah dan bijaksana Tuan Lee? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah ? mungkin sikap Tuan Lee telah menurun kepada kedua anak nya. Dan, apa selama ini Appa nya yang telah mengajari Sehun untuk memanggil Taeyong dengan sebutan Bocah?
"Aku menyukai apapun dalam diri Ten, tidak perlu ku ungkapkan pada kalian, biar aku saja yang tahu, dan kuyakin Ten mengerti dengan apa yang kumaksud tanpa menjelaskannya"
WOW ~~ semua takjub dengan ucapan Taeyong yang panjang kali lebar itu. Bukan hanya Ten yang melongo namun semua yang ada disitu menjatuhkan rahangnya serempak, terkejut dengan ucapan Taeyong yang terkesan jujur dan tulus. Padahal tanpa semua orang ketahui Taeyong juga terkejut dengan ucapannya sendiri.
Dan detik berikutnya sorakan keluarga kecil itu kembali terdengar.
"Paman, Bibi terimaksih untuk makan malamnya" Ten membungkuk hormat dan berterimaksih
"hei, Panggil saja Appa dan Umma oke?"
"hhe?" Ten cengo
"Appa dan Umma" Nyonya Lee mengulangi
"U-umma"
"ya, benar begitu"
Nyonya dan Tuan Lee, Sehun dan Luhan mengantar Ten sampai depan pintu. Tuan Lee menepuk kepala Ten sayang dan Nyonya Lee memeluk Ten. Benar-benar seperti anak sendiri. Seperti mereka juga sudah menganggap Luhan seperti anak mereka sendiri.
Ten berpamitan kepada semua yang ada disitu dan beranjak pergi meninggalkan kediaman keluarga Lee. Karena Taeyong sudah menunggunya di dalam mobil makanya ia harus cepat-cepat, karena mulut sunbae-nya itu sangat urakan.
Taeyong akhirnya keluar dari mobil dan menghampiri Ten yang masih setengah perjalanan – masih di halaman belum keluar pagar rumah- melihat hal itu semuanya kembali bersorak heboh
"Kau lama seka-"
"Yakk! Bocah…T-shirt couple kalian bagus" Teriak Appa nya sembari mengangkat kedua jempolnya. Lagi, sikap tak terduga kembali ditunjukan tuan Lee yang lagi-lagi membuat Ten terkejut. Sepertinya keluarga Lee ini hobi membuat Ten specheles.
Dan Taeyong tidak mengindahkan teriakan ayahnya itu, ia sungguh malu dengan kelakuan keluarganya sendiri, ia segera meraih pergelangan tangan ten dan menariknya cepat menuju mobil.
Keduanya menghela nafas lega setelah memasuki mobil, menyenderkan badanya nyaman pada jok mobil.
"Akhirnya selesai" Ten merasa bebannya telah berkurang dan ia merasa lelah sekarang
Dan selanjutnya kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan sedang membelah dinginnya kota Seoul malam itu.
"Mau ice cream?" Tanya Taeyong tiba-tiba
Ten mengalihkan pandangannya pada Taeyong karena ia sedari tadi hanya menatap bosan ke arah luar jendela mobil
"Boleh"
Taeyong menghentikan mobilnya di depan mini market yang buka 24 jam, karena ini sudah jam 11 malam, tidak mungkin ada kedai ice cream yang masih buka. Ia membeli 2 cup ice cream rasa coklat dan membawanya pada Ten.
"Gomawo" ucapa Ten setelah Taeyong menyerahkan 1 cup ice cream padanya
"AKu minta maaf kalau keluargaku tadi bersikap keterlaluan"
Ucapan Taeyong membuat Ten terkejut, pasalnya Taeyong si manusia urakan ini yang selalu bersikap dingin dan seenaknya sekarang minta maaf padanya. Dan kenapa hari ini semua orang senang sekali membuatnya terkejut, cengo dan specheles.
"Apa kau serius?" Ten menahan tawanya namun akhirnya suara tawanya lolos juga
"aku kau pikir aku bercanda?" Taeyong menyendokkan sesendok penuh ice cream ke dalam mulutnya.
"maaf-maaf" Ten menyudahi acara 'mari tertawa' nya, kemudian menyendokkan ice cream dalam mulutnya, sensasi dingin menyapa lidahnya ditambah dengan dinginnya udara malam menambah rasa dingin pada tubuhnya berkali-kali lipat, karena sekarang mereka berada di tempat duduk di luar mini market yang memang menyediakan tempat duduk dengan payung pada mejanya. Taeyong menyadari tubuh Ten mengigil dan Ten masih memaksakan untuk memakan ice cream, jadi dengan segera Taeyong berlari menuju mobilnya dan mengambil sesuatu. Tak lama kemudian ia berlari lagi mengahmpiri Ten dengan sesuatu ditangannya.
"ini" ia menyerahkan hoodie hitamnya pada Ten
"pakailah"
Ten lagi-lagi terkejut dengan sikap Taeyong, ia mudah sekali berubah-ubah dan sulit ditebak, terkadang baik terkadang menyebalkan. Tapi lebih banyak menyebalkannya.
Ten meletakkan ice cream nya dan mengambil hoodie dari tangan Taeyong.
"jangan memaksakan diri jika kau tidak mau ice cream" Ten menoleh pada Taeyong setelah memakai hoodie, mukanya memerah lagi sekarang. Karena Taeyong memakan ice creamnya, sendok ice cream yang dipakai Taeyong adalah bekasnya, jadi apakah ini termasuk indirect kiss?
Ten malu sendiri memikirkannya, ia harap Taeyong tidak melihat mukanya yang memerah sekarang.
"Kajja. Kita pulang" Taeyong telah selesai menghabiskan ice cream milik Ten dan mengandeng tangan Ten menuju mobil.
"Apa aku menyukai Taeyong Hyung?"
"hah? Apa yang kubicarakan? Tidak boleh tidak boleh" Ten bermonolog sendiri, sesekali ia mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak sadar telah menjadi pusat perhatian setiap siswa yang saat itu tengah menuju ke gerbang sekolah sama seperti dirinya.
"Ah-itu Johnny sunbae" Ten melihat Johnny yang telah memasuki gerbang sekolah, ia pun segera berlari menyusulnya. Dan ia melupakan bahwa ia tadi sempat memikirkan Taeyong
"ah-itu dia" Ten menarik nafas panjang, ia berjalan pelan ke arah Johhny. Karena terhalang tembok, Ten tidak tahu bahwa Johnny tidak sendiri, ia dikelilingi yeoja-namja yang membawa hadiah ataupun mengajaknya berfoto bersama.
Ten menghela nafas mengetahui hal itu, ia gagal lagi mendekati sunbae-nya itu, ia berbalik dan bersadar pada tembok. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berjongkok dilantai dengan kepalanya yang bersandar pada lututnya.
"selamat Pagi~~" sapa seseorang dengan senyumnya yang menawan
Ten mendongak, bola matanya membesar- terkejut.
"Kau sedang apa? Sedang tidak enak badan? Bisa berdiri?" Tanya orang itu beruntun.
"eh?"
Taeyong hyung kenapa? Apa jangan-jangan dia sudah berubah? batin Ten. Ia benar benar tidak mengerti kenapa Taeyong bisa bersikap baik padanya, seperti pagi ini.
Orang yang menyapa Ten adalah Taeyong, ia tiba-tiba saja berdiri dihadapan Ten dengan sikapnya yang ceria dan beda dari biasanya. Siapa yang tidak terkejut melihat berubahan Taeyong yang tiba-tiba seperti itu.
"hei, bisa berdiri?" Tanya Taeyong lagi
Taeyong mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Ten berdiri
"i-iya"
GREB
Tangan Ten dipegang oleh Taeyong, ia segera berdiri dan sedikit terpesona dengan kebaikan Taeyong, namun
"H-hyung lepaskan tanganku, kau memegangnya terlalu kuat"
Ternyata ini adalah Taeyong yang sama, belum berubah sama sekali
"waahh~~~ Johnny sangat beruntung dikelilingi yeoja-namja seperti itu, itu pasti karena sikapnya yang sopan dan hangat pada semua orang" Taeyong tidak mengindahkan ucapan Ten sebelumnya, dan justru mengarahkan pandangannya ke arah Johnny
"eh?" Ten tidak mengerti kenapa Taeyong berbicara seperti itu, apakah itu sebuah pujian atau yang lainnya?
"apa kau yakin bisa mendapatkannya dengan kau yang seperti ini?" Taeyong memandang Ten dari atas kebawah
Tuh kan dia jadi orang yang menyebalkan lagi, batin Ten
"Ayo kita kekelas" ucap Taeyong riang dengan senyumnya yang cerah
Hell, Ten benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Taeyong yang seperti ini
"H-hyung bisa kau lepaskan tanganku" Ten benar-benar tidak nyaman dengan Taeyong yang terus-terusan memegang tangannya.
"bagaimana kalau kita meresmikan hubungan kita" Taeyong lagi-lagi tidak menggubris ucapan Ten
"hhah? H-hubungan apa?" Ten tiba-tiba panik dan merasa akan ada seseuatu yang buruk
"Bukankan sekarang kita berpacaran?"
"a-apa?" wajah Ten memerah
"iya berpacaran, aku akan mengumumkannya lewat radio sekolah. Bagaimana? Apa kau senang?" sekarang telinga nya memerah dan wajahnya menjadi panas tiba-tiba
"i-itu…"
"pfftt…HAHAHAHAHA" Taeyong tiba-tiba tertawa keras
Lhoh?
"tidak bisa tidak bisa, aku tidak bisa meneruskan" Taeyong memegang perutnya dan melambaikan tangannya ke arah Ten, jangan lupakan ia masih tertawa keras
"a-apanya?" Ten benar-benar bingung
"Wajahmu lucu sekali Ya Tuhan…"
"….."
"Aku hanya bercanda…"
'J-jadi semua sikap nya tadi hanya bercanda? Sial' Ten mengepalkan kedua tangannya
"hei, jangan terlalu serius"
"orang ini benar-benar keterlaluan, aku tidak bisa terus-terusan bersama orang seperti ini" Ten mengertakkan giginya kuat-kuat
"Kenapa kau diam saja?" Taeyong berhenti tertawa setelah melihat Ten tidak bereaksi sama sekali
"HYUNG" Ten berbicara keras namun bukan berteriak
"Kenapa Hyung bersikap seperti ini?"
"eh?"
"Apa Hyung menyukaiku?" Tanya Ten to the point, karena ia merasa Taeyong telah mempermainkan perasaanya, dan membuatnya bingung akan persaannya sendiri. Dan ia butuh jawaban, karena ia merasa yakin kalau yang disukainya itu Johnny bukan Taeyong, jadi Taeyong tidak boleh menyukainya dan ia tidak boleh termakan sikap baik Taeyong.
Taeyong menatap tajam Ten dan kemudian tesenyum
"Iya, aku menyukaimu" Taeyong berucap dingin namun terkesan sungguh-sungguh
"HAH?" Taeyong dan Ten serempak menoleh ke arah sumber suara
Itu suara Johnny. Johnny mendengarnya.
.
.
.
TBC
.
.
Ini udah cepet kan updatenya ~~
Maav kalau semakin absurd -_-
Kira-kira apa yang dilakukan Ten setelah Johnny mendengar pernyataan Taeyong
Lalu apakah Taeyong sungguh menyukai Ten?
.
I LOVE YOU TOO menyusul yaa ~~
.
Gomawo buat kalian yang uda sempetin mampir dan review~~
Silent readers mana nih suaranya?
.
RnR yuseyoo'~~~
