Nada dering handphone Luhan terdengar dibalik tas kerjanya. Pemuda yang tengah asik memandang jalanan dibalik jendela bus itu kini mulai merogoh tasnya. Mengambil benda persegi di dalamnya dan mengecek sang pemanggil —Zhang Yixing. Sesegera mungkin panggilan itu ia angkat.

"Halo, Yixing?"

"Lu-ge, hari ini aku tidak bisa pulang, atau mungkin besok juga."

Luhan mengernyit bingung, "apa maksudmu?"

Yixing menghela nafas di sebrang sana. Entah kenapa, Luhan serasa menangkap nada ragu dan gugup dalam nada suara Yixing. "Aku pulang ke Changsa, nenekku sakit, ge. Mungkin aku akan lama di sana. Kau tidak apa jika kutinggal, kan?"

"Tentu saja, kau pikir aku anak kecil? Tapi, nenekmu baik-baik saja, kan?"

"Aku tidak tahu, mama hanya memberitahuku untuk segera pulang."

"Baiklah, aku akan segera pulang untuk membantumu berkemas."

"Tidak perlu, ge. Aku sudah di bandara sekarang, sebentar lagi pesawatku berangkat."

"Benarkah? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"

Disebrang sana terdengar helaan nafas Yixing, "maafkan aku, ge. Mama baru memberitahuku tadi, jadi ini sungguh mendadak."

Luhan yang mendengar itu hanya mampu menghela nafas. "Baiklah, kau sudah bawa semua obat-obatanmu, kan?"

"Sudah."

"Hati-hati, jangan sampai terluka."

"Aku akan hati-hati, ge"

"Di pesawat lebih baik kau istirahat, jangan sampai kelelahan."

"Baik, ge."

"Kau sudah bawa dompet, mp3,..."

"Aku sudah bawa semua yang perlu ku bawa, ge."

"Jangan lupa pakai selimut ketika di pesawat nanti, udara malam di pesawat sangat dingin."

"Baik, ge."

"Setelah sampai sana..."

"Ge."

"Ya?"

"Aku bisa menjaga diriku. Gege tak perlu khawatir."

"Baiklah, hati-hati di jalan."

Terdengar gumaman mengiyakan dari Yixing. "Pesawatku akan berangkat. Aku pergi dulu, ge. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa. Titip salam buat bibi dan paman, juga nenek dan kakek."

Setelah mendengar kata iya dari sebrang, telpon pun terputus. Luhan kembali memasukkan handphone nya ke dalam tas. Raut wajahnya masih terlihat khawatir. Mungkin dirinya kekanakan, tapi ia sungguh cemas dengan adiknya Yixing. Mereka sudah bersama sejak kecil membuatnya tak bisa lengah sedikitpun mengenai Yixing —ditambah dengan kondisi kesehatannya. Pandangan pemuda itu kembali terarah pada jendela bis dengan lantunan do'a dalam hatinya. Semoga Tuhan melindungi adiknya.

...

Itu bahasa cina, kan? Jadi pemuda ini dari cina?

...

Dia turis? Apa yang ia bicarakan di telpon tadi?

...

Wajahnya tidak seperti dari negara lain.

...

Cara bicaranya lucu.

...

—Luhan tersentak. Sesegera setelah semua suara itu memenuhi kepalanya ia mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru bis. Bis saat itu tengah kosong, hanya beberapa penumpang di dalamnya. Lagi pula, sejauh pandangannya, ia sama sekali tidak melihat orang tengah memperhatikannya atau sedang membicarakannya.

...

Kenapa dengan pemuda ini?

...

Suara itu muncul lagi. Luhan segera melihat pada wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Ia yakin suara itu muncul dari sana, tapi ia sendiri tidak yakin bahwa wanita ini berbicara padanya. Ia hanya tidak mendengarnya —tapi lebih seperti suara itu tiba-tiba muncul di otaknya.

"Kau baik-baik saja, nak?" Wanita paruh baya itu menatap cemas Luhan yang tengah menatapnya dengan raut wajah ketakutan.

Luhan untuk kesekian kalinya tersentak. Hatinya membenarkan suara yang memenuhi otaknya tadi adalah suara milik wanita ini, tapi caranya menangkap suara itu dirasa berbeda. Dia tidak mungkin —

"Nak, kau baik-baik saja?"

Luhan masih menatap wanita itu dengan raut yang berubah bingung namun pada akhirnya ia mengangguk kikuk.

...

Apa dia sungguh baik-baik saja?

...

Luhan sudah tidak peduli lagi dengan suara itu. Ia yakin itu suara wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Tapi dirinya juga yakin ketika suara itu memenuhi kepalanya, wanita itu sama sekali tidak membuka mulutnya.

Badannya terasa begitu lemas. Luhan merebahkan dirinya kembali di kursi bis dengan perasaan takut yang menggerayangi. Pandangannya kembali ke arah jendela bis, menerawang apa yang ada dibaliknya. Pikirannya mulai berjalan dengan liar. Hingga membuatnya menarik suatu kesimpulan kalau suara yang ia dengar tidak nyata atau jangan-jangan dirinya terkena skizofrenia?

Kepala Luhan menggeleng dengan kuat. Mengenyahkan semuanya dengan otaknya yang terus membisikkan bahwa dia normal, dirinya baik-baik saja. Bersamaan dengan itu, puluhan suara langsung menyerang otaknya secara bersamaan. Luhan tersentak, matanya membulat sempurna. Suara itu semakin memenuhi ruang kepalanya hingga rasanya akan meledak. Sebuah darah mengalir sukses melewati lubang hidungnya. Dan semua berakhir gelap bagi Luhan. Bahkan suara wanita paruh baya yang bertanya cemas padanya tak sempat ia dengarkan.

—bahkan dirinya tidak menyadari bahwa mungkin saja suara yang memenuhi otaknya berasal dari segerombolan orang yang memasuki bis ketika bis yang ia tumpangi berhenti di halte berikutnya.

.

.

.

Yixing mematikan handphone-nya. Benar-benar membuatnya dalam modus mati ketika ia telah selesai menghubungi semua orang terdekatnya —yang mungkin akan menghawatirkan dan mencarinya. Membuat semuanya percaya pada dunia kebohongannya.

Pemuda berlesung pipi itu menghela nafas. Kaitan jemarinya mengerat. Ia tidak biasa berbohong dan ia takut berbohong. Meski dokter yang sekarang tengah mengemudi di sampingnya telah meyakinkannya berkali-kali, tapi ia masih tetap merasa ini tidak benar. Benarkah ini untuk kebaikan semuanya?

Pandangannya beralih pada puluhan pohon pinus yang berjajar di pinggir jalan. Meski hari sudah gelap, tapi Yixing masih bisa melihat bayangnya melalui bias lampu mobil. Entah kemana ia akan dibawa oleh dokter muda bermarga Kim di sampingnya dan entah kenapa ia dengan bodohnya menuruti semua permintaan konyol dokter itu. Yixing tak pernah tahu, ia hanya merasa mungkin ia harus mengikuti dokter muda ini meski entah kenapa hatinya terasa menolak dari tadi.

"Setelah kita menemukan sebelas lainnya, kau akan merasa lebih baik, Yixing-shi." Dokter Kim membuka suaranya tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan.

"Legenda itu... tidakkah dokter ingin menceritakannya padaku? Aku sungguh tidak mengerti." Pandangan Yixing masih asyik dengan pohon-pohon pinus di luar sana. Bahkan sekarang dirinya bisa melihat pemandangan binar lampu kota dari celah tumbuhan-tumbuhan tinggi tersebut.

"Tentu aku akan menceritakannya. Tapi setelah kita sampai nanti." Dokter Kim memandang Yixing sekilas hanya untuk memperlihatkan senyum meyakinkannya.

Yixing mampu melihat senyum Dokter Kim yang terpantul di kaca jendela mobil. Tapi entah kenapa perasaannya malah tambah tidak yakin. Sekilas ia melihat seekor unicorn di seberang sana —dibalik pohon-pohon pinus itu. Warnanya yang putih kontras membuat Yixing dapat melihat hewan legenda itu dengan jelas. Mata Yixing terfokus pada hewan itu dengan wajah terkejut hingga akhirnya sang unicorn hilang dari pandangannya karena mobil yang semakin bergerak menjauh.

Posisi Yixing masih sama. Ia terdiam di balik jendela dengan pandangan yang ragu. Tadi ia benar-benar melihat unicorn yang sama seperti yang datang dalam mimpinya. Unicorn yang sama dengan mimpinya namun dengan ekpresi yang berbeda yang ditangkap oleh Yixing. Mata unicorn yang muncul dimimpinya selalu dalam binar senang. Berbeda dengan mata unicorn yang tadi ia temui. Mata itu menangis, —

—menyuratkan kesedihan.

.

.

.

Senja sudah berakhir dari beberapa menit yang lalu. Gelap telah menaungi tanah yang dipijak oleh Sehun dan Jongin. Bulan juga sudah nampak meski cahayanya tidak begitu terang. Hanya lampu-lampu jalan yang membuat Sehun dan Jongin dapat melihat sekitarnya.

Pemuda dengan seragam sekolah itu masih saling diam. Semenjak percakapan terakhir mereka di halaman belakang sekolah, tidak ada lagi yang mengeluarkan suaranya. Hanya hembusan nafas yang terdengar semakin jelas di tengah kesunyian dua pemuda itu.

Rumah Sehun sudah terlihat di ujung jalan. Sebentar lagi pemuda dengan rambut yang dicat pirang itu akan sampai di kediamannya. Selang tiga rumah dari rumah Sehun maka Jongin akan menemukan rumahnya. Tapi entah kenapa, mereka merasa tidak rela untuk sampai di rumah sekarang. Setidaknya sebelum keadaaan kembali normal bagi mereka.

Langkah Sehun terhenti. Mungkin ia yang harus memulai. Setidaknya kecanggungan ini harus benar-benar berakhir, bukan?

"Jongin-ah!"

Pemuda berambut hitam yang sudah beberapa langkah di depannya ikut terhenti. Ia menatap sahabatnya dengan pandangan tanya.

"Kau marah padaku?"

Jongin menggeleng. Kenapa ia harus marah?

"Lalu kenapa dari tadi diam?" Suara Sehun terdengar merengek.

Jongin mengernyit bingung untuk sesaat. Senyumnya muncul beberapa saat kemudian. Dihampirinya Sehun dan dirangkulnya pemuda berkulit pucat tersebut.

"Aku diam karena kau diam, pabbo! Ayo cepat jalan!" Jongin langsung menyeret Sehun dalam rangkulannya agar kembali melangkah. Tak mempedulikan wajah Sehun yang berubah masam.

"Ya, ya, ya, aku tahu kau lebih pintar dariku. Tapi bukan berarti kau bisa memanggilku pabbo." Sungut Sehun dengan tubuh memberontak —mencoba melepaskan diri dari rangkulan Jongin.

Sebaliknya, Jongin semakin mengeratkan rangkulannya bahkan hampir mencekik Sehun. Senyumnya semakin melebar —tidak mempedulikan Sehun yang semakin memberontak. "Bukankah langitnya indah?"

"Kau gila!"

Langit saat itu begitu gelap. Bahkan bulan pun tidak begitu membiaskan cahaya. Hal itulah yang mendasari Sehun untuk berpikir kalau Jongin sudah gila. Namun sayangnya Jongin terlihat tidak peduli sama sekali.

Sehun masih mencoba melepaskan rangkulan Jongin yang sekarang makin terasa mencekiknya hingga kedua pemuda tersebut tiba-tiba di hadang oleh sekelompok orang berpakaian hitam lengkap dengan kaca mata dan alat komunikasi di telinga. Langkah mereka terhenti dengan tatapan bingung. Jujur saja, rasanya mereka ingin tertawa melihat sejumlah orang yang baru Sehun hitung sekitar 10 pria dewasa berdiri di depannya. Penampilan mereka yang mengingatkan kedua pemuda tersebut dengan tokoh agen dalam film-film action cukup menarik kelenjar tawa mereka. Meski untungnya, mereka tidak sampai benar-benar tertawa. Namun Jongin dan Sehun jadi bertanya-tanya, apa mereka sedang mengadakan pesta kostum? Atau sedang ada acara trap di sini?

Pemikiran Sehun dan Jongin langsung lenyap ketika secara tiba-tiba kesepuluh orang tersebut mengelilingi mereka berdua. Sinyal bahaya langsung bisa ditangkap oleh Sehun dan Jongin yang sesegera mungkin memasang kuda-kuda asal. Mereka berdua bukan atlit atau anggota klub bela diri, jadi wajar jika tidak mempunyai basic dalam memasang kuda-kuda. Tapi insting mereka sesegera mungkin langsung memerintahkan untuk melakukan posisi bertahan.

"A-apa yang kalian mau? Kami hanya anak sekolah. Apapun yang kalian cari tidak bisa didapatkan dari kami." Sehun mencoba meredam ketakutannya tapi suara bergetarnya tak mampu ia tutupi.

"Kami hanya punya uang bekal kami yang tidak bersisa banyak dan juga handphone," sambung Jongin.

Entah kenapa, Sehun dan Jongin merasa sepuluh orang yang mengepungnya tidak tertarik dengan uang mereka. Dari cara berpakaian mereka, orang-orang ini lebih terasa seperti mafia dan uang bukan tujuan mereka sekarang. Maka dari itu, Sehun dan Jongin langsung merelakan semua barang mereka yang terpenting mereka bisa selamat sampai rumah.

"Kami tidak butuh uang. Kami hanya butuh sang teleportasi," ucap salah satu pria berpakaian hitam itu dengan suara beratnya.

Sehun dan Jongin langsung tercekat. Mereka saling memandang. Mata mereka langsung memancarkan ketakutan. Mereka berdua tahu apa yang dimaksud oleh pria ini yang itu artinya bahaya. Atau lebih tepatnya, Jongin yang dalam bahaya. Dalam tatapan Jongin dan Sehun mereka saling berhitung. Seperti bisa membagi pikiran mereka, kedua pemuda itu mengangguk. Sesegera setelah itu mereka langsung berlari. Tapi sayang, semuanya terlambat. Sebelum Jongin berhasil lari, salah satu dari pria berjas hitam berhasil memukul tengkuk Jongin hingga membuat pemuda itu pingsan seketika. Sehun yang melihat itu langsung berbalik menghampiri Jongin dan mencoba menyelamatkan sahabatnya. Namun yang Sehun dapat adalah pukulan bertubi-tubi dari orang-orang itu. Tenaga dan kemampuan bela dirinya tentu tidak bisa membandingi orang-orang yang tengah menyerangnya.

"Ya! Apa yang kalian lakukan?!"

Sebuah suara lantang terdengar di telinga Sehun. Pemuda itu langsung menghela nafas lega. Setidaknya ada bantuan yang datang. Setidaknya itu pemikiran Sehun sebelum ia mendengar salah satu dari yang memukulnya berucap—

"Tidak kusangka, kita juga menemukan sang elektrokonesis di sini."

—ketakutan itu berhasil menelusup di hati Sehun. Entah kenapa ia merasa ini malah akan semakin berbahaya.

.

.

.

Pemuda tinggi dengan rambut pirangnya masih asyik menatap kopi yang ada di hadapannya. Mengabaikan tiga pemuda lain yang tengah menunggu ucapan selanjutnya yang akan ia lontarkan.

"Aku tidak tahu pasti mengenai legenda itu, adikku Zitao yang tahu persis legenda itu dari gurunya. Kau tahu... aku hanya mendengar dan sekedar tahu." Pemuda tinggi itu mengangkat gelas kopinya dan menghirupnya sekilas. "Tapi yang aku yakin, kita berempat, ah tidak, bersama adikku jadi berlima... kita adalah bagian dari legenda."

Pemuda tinggi dengan name tag Wu Yifan di jas kerjanya menatap tiga orang di hadapannya dengan tatapan serius.

"Bukan lima..." Pemuda yang mengaku sebagai pemilik kafe tempatnya sekarang duduk buka suara. "tapi enam," sambungnya mengoreksi ucapan Yifan.

"Ah, maksudmu sahabat cina mu itu? Kita harus menunggu dia datang untuk meyakinkannya," ucap Yifan sambil menghisap kembali kopinya. "Ngomong-ngomong, tidakkah kau mempunyai Cola? Jujur saja, kopi bukanlah style ku." Yifan menyodorkan kopinya pada Minseok meminta secara tidak langsung untuk mengganti minumannya.

Minseok hanya menghela nafas. Ia segera beranjak dari tempatnya duduk, berjalan ke arah pantry untuk mengambil sekaleng Cola dingin.

"Thanks!" Yifan berseru sekilas melihat Minseok yang berjalan ke belakang kafe.

"Jika yang mengirimimu pesan sama dengan kita, berarti total sudah ada tujuh orang yang berkumpul," ucap Junmyun yang kini tengah menatap Yifan serius.

Yifan langsung berbalik menatap Junmyun, pemuda yang membawanya ke sini setelah ia berucap hal yang aneh padanya ketika di hadapan pohon oak tadi —tepat ketika ia mendapat pesan dari seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Park Chanyeol melalui pesan tersebut. Menyeretnya memasuki kafe dan langsung membuatnya bertemu dengan dua orang lainnya. Meski Yifan tidak bisa menunjukkan bandul naga miliknya —seperti tiga orang ini yang langsung menunjukkan bandul mereka masing-masing, tapi entah kenapa Junmyun langsung mempercayainya.

Yifan mengangguk. "Dua muridku memiliki bandul yang sama."

Junmyun dan Kyungsoo yang duduk di samping Junmyun langsung terperangah.

"Total ada sembilan orang, itu artinya kita tinggal mencari tiga orang lagi," sambung Yifan.

"Ini benar-benar seperti sudah digariskan dalam takdir," lirih Kyungsoo tidak percaya. Antara rasa takut dan takjub kini bercampur dalam benaknya.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sebagai legenda? Kau tahu, tidak terjadi apapun di dunia ini?" tanya Junmyun.

"Sudah banyak yang terjadi Junmyun-shi." Pandangan Yifan langsung beralih pada Pohon Oak di seberang jendela kafe. "Peperangan dan alam yang sudah tidak stabil.

—dan mungkin sesuatu yang lebih buruk akan terjadi."

Junmyun dan Kyungsoo ikut memandang apa yang di pandang oleh Yifan. Pikiran mereka semua langsung dipenuhi oleh pertanyaan mengenai legenda ini. Mengenai alasan legenda itu muncul sekarang dan alasan kenapa mereka salah satu dari legenda itu.

"Kris," ucap Yifan tiba-tiba membuat Junmyun dan Kyungsoo memandangnya bingung. Yifan segera melihat ke arah Junmyun. "Saat aku mendapat pesan tadi, kau menyebut kris dan naga, kan, Junmyun-shi?"

Junmyun mengangguk. Dirinya serasa diingatkan dengan dua lembar kertas yang sekarang tersimpan di dalam tas nya.

"Apa maksudmu?" Tanya Yifan dengan tatapan bingung pada Junmyun.

Kyungsoo yang melihat itu ikut menatap kakaknya bingung. Tanpa berucap, Junmyun langsung mengambil tas nya yang tersimpan di atas meja. Membuka tas berwarna hitam itu dengan tak sabar, ingin segera menunjukkan apa yang ia dapat beberapa hari yang lalu dari pohon oak pusat kota tersebut. Namun belum selesai niatannya itu terlaksana, Minseok datang dengan tergesa ke hadapan mereka.

"Luhan masuk rumah sakit. Kita harus segera ke sana!" Pintanya dengan wajah panik yang disambut anggukan dari Junmyun dan Kyungsoo.

Sementara Yifan langsung tersentak. Orang cina dan seorang guru, itulah yang dibicarakan oleh Minseok mengenai temannya yang memiliki bandul itu. Tidak banyak orang cina yang tinggal di daerah sini dan entah kenapa ketika mendengar nama Luhan dari Minseok, Yifan langsung mengarah pada Luhan yang itu. Luhan teman seprofesinya di tempatnya mengajar.

"Tunggu dulu! Kau bilang Luhan?" Tanya Yifan tak percaya membuat ketiga orang dihadapannya langsung menghentikan langkahnya yang bergegas ke luar kafe.

Minseok segera mengangguk. "Iya Luhan, dia temanku —bagian dari kita," sambungnya yang berhasil membuat Yifan membulatkan matanya tak percaya.

Setelah mendengar itu, Yifan sepertinya harus mengakui perkataan Kyungsoo. Jika memang Luhan yang dimaksud oleh Minseok adalah Luhan yang ia kenal, maka ini benar-benar seperti sudah digariskan dalam takdir.

.

.

.

Chanyeol memandang buku usang yang di bawanya dari gudang dengan wajah bingung. Ia tidak berhasil menemukan apa-apa selain lambang dengan sebuah nama dipojok kanannya dalam setiap lembar kertasnya. Ah, tidak, kecuali lambang miliknya. Dalam kertas yang bertuliskan nama Chanyeol dengan gambar lambang seperti lambang bandul yang ia miliki terdapat tulisan-tulisan yang sesungguhnya tidak bisa dibaca oleh Chanyeol.

Inginnya, Chanyeol bertanya pada sang Phoenix, tapi bahkan burung itu tidak kembali muncul setelah kejadian mengirim pesan di gudang tadi. Chanyeol sudah memanggilnya berulang kali lewat pikirannya sampai dengan suara lantang, tapi burung tersebut sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Benar-benar menghilang.

Pemuda dengan suara berat itu sudah bertanya pada kakeknya tentang semuanya. Tapi kakeknya malah memintanya untuk bersabar. Ia bilang, ia akan ikut dengan Chanyeol bertemu dengan Kris, sang Naga lalu menjelaskan semuanya. Dan sekarang kakeknya pun ikut menghilang entah pergi kemana.

Jujur saja, ini benar-benar membuatnya frustasi. Ditambah lagi, dia hanya menemukan 10 lambang di sana dengan setiap nama yang berbeda yang tertera dipojok kanannya —yang bahkan tidak bisa dibaca Chanyeol kecuali lembar kertas dengan lambang miliknya. Bukannya Phoenix-nya bilang mereka berdua belas? Kenapa hanya sepuluh lambang yang ia temukan? Bahkan ia sama sekali tidak menemukan lambang naga —lambang seseorang yang baru saja dikiriminya pesan dengan cara yang unik.

Buku usang dengan lambang pentagon itu di simpan Chanyeol di atas nakas tempat tidurnya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi melintang. Menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran menerawang berharap menemukan jawaban atas pertanyaan yang kini berputar dalam otaknya. Hingga sesaat kemudian hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya. Ia menyerah.

Suara deringan telpon rumah terdengar. Tanpa menunggu lama, Chanyeol beranjak dari kamarnya dan berjalan ke ruang keluarga, tempat telpon rumahnya berada. Tidak ada sang kakek di sana, itu artinya dirinya sendiri di rumah. Kedua orang tuanya sedang dinas ke luar kota dan kakak perempuannya sedang ada di luar negeri. Jadi, hanya dirinya lah satu-satunya makhluk hidup yang harus mengangkat telepon rumahnya yang berdering.

"Yoboseo, keluarga Park di sini," buka Chanyeol dengan perkataan yang sudah diajarkan oleh orang tuanya semenjak ia kecil.

"Yeolie..."

Chanyeol mengernyit bingung. Ia tahu suara siapa itu, yang membuatnya bingung adalah nada suara yang tidak biasanya yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.

"Sebenarnya ,apa yang terjadi padamu..."

"Baekhyunie, kau baik-baik saja, kan?" jujur saja, Chanyeol mulai cemas sekarang apalagi ketika ia menangkap suara bergetar dari sahabatnya.

"—apa yang terjadi padaku?"

"Apa maksudmu?"

"Tanganku sudah sembuh... ini benar-benar sembuh, dan sekarang mereka bercahaya."

Chanyeol semakin mengernyit mendengar ucapan Baekhyun. Apalagi dapat ia dengar suara bergetar Baekhyun yang semakin kentara. Ia seperti ketakutan.

"Kau baik-baik saja, kan? Baekie?"

"Apa yang kau lakukan padaku? Apa yang terjadi pada kita?!" Raung Bekhyun terdengar tak terkendali dan sesaat setelah itu sambungan telepon terputus.

Chanyeol menyimpan gagang teleponnya dengan sembarang. Ia segera mengambil jaket yang tergantung dibalik pintu kamarnya dengan tergesa. Sesegera mungkin ia berlari ke rumah Baekhyun yang terletak tak jauh dari rumahnya. Baekhyun tinggal sendiri di rumahnya, orang tuanya tinggal bersama neneknya di luar kota dan kakak laki-lakinya yang dulu tinggal bersamanya sudah menikah dan punya kehidupan sendiri. Itu yang membuat Chanyeol bertambah cemas. Ia sungguh tidak mau terjadi apa-apa dengan sahabatnya. Baekhyun sendiri dan ia sedang kalut, itu adalah kondisi manusia yang sangat berbahaya bagi Chanyeol.

.

.

.

Pemuda dengan mata pandanya berlari memasuki sebuah ruangan di salah satu kamar rumah sakit. Ketika ia memasuki kamar tersebut, sekitar delapan ruangan yang hanya dibatasi oleh sekat tirai berwarna putih menyapanya. Ini bukan ruang VIP hingga tak heran satu kamar ini terdiri dari 8 ranjang yang saling berhadapan dengan tirai pembatas sebagai pemisah tiap kamar. Pemuda bernama Zitao tersebut tak yakin ada berapa penghuni di kamar ini, fokusnya sekarang adalah Wu Yifan, kakaknya.

Zitao tengah menikmati makan malamnya ketika Yifan menelepon pemuda itu. Mereka tidak berbincang lama ketika Yifan mengatakan ia sedang ada di rumah sakit. Hanya dengan memberi tahu alamat rumah sakit serta nomor kamar, Yifan langsung menutup telponnya. Zitao yang mendapat telpon langsung ke rumah sakit secepat yang ia bisa dengan harapan tidak terjadi hal buruk pada kakaknya.

Nyatanya memang tidak terjadi apapun pada kakaknya, bahkan ia sekarang tengah menampilkan senyum khasnya pada Zitao yang masih berdiri di ambang pintu. Yifan terduduk di salah satu kursi dekat jendela kamar yang berada di paling pojok. Melambaikan tangan ke arah Zitao yang entah kenapa menatapnya emosi. Zitao tahu harusnya ia bersyukur, tapi entah kenapa emosinya malah langsung naik ketika melihat Yifan baik-baik saja.

Zitao segera menghampiri Yifan dengan pandangan tajam yang dapat ditangkap oleh Yifan yang sekarang mulai menciut ngeri.

"Kau baik-baik saja, Tao?"

"Sangat baik, sampai rasanya ingin menelanmu hidup-hidup ge," jawab Zitao yang berhasil membuat Yifan tertawa canggung. "Tidak ada yang lucu!"

Dan seketika tawa Yifan langsung terhenti. Ia berdehem beberapa kali untuk menormalkan nada suaranya dan perasaannya yang mulai merasa takut pada tatapan Zitao.

Zitao membuang nafas. Tatapannya melembut membuat Yifan bisa bernafas lega. "Untuk yang kesekian kalinya kau membuatku khawatir, ge! Tidak bisakah kau lebih jelas memberi tahuku? Kau benar-benar membuatku berpikir yang tidak-tidak. Kukira kau yang masuk ke rumah sakit, tapi melihatmu seperti ini membuatku yakin kau bahkan lebih dari kata baik," ujar Zitao panjang lebar tanpa menyadari empat pasang mata lain yang sekarang tengah menatapnya dengan penuh takjub.

"Maafkan aku..." Yifan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kembali berdehem.

"Tao, kenalkan ini teman-temanku."

Yifan membimbing pandangan Zitao ke sekitarnya, membuat pemuda tinggi itu baru menyadari ada empat orang lain di sana. Satu orang sedang duduk di atas ranjang dengan tiga orang lainnya yang duduk di kursi yang sama seperti kursi yang diduduki oleh Yifan.

"Apa kalian berbicara bahasa Cina tadi? Aku benar-benar tidak mengerti," ujar Junmyun dengan senyum hangatnya.

Zitao yang mendengar itu hanya mampu tersenyum malu. Ia segera membungkuk menyampaikan permohonan maafnya yang tidak menyadari kehadiran mereka dan berbicara bahasa ibunya dengan Yifan tadi.

"Maafkan aku, aku tidak menyadari kalian."

Minseok segera mengibaskan tangannya dengan senyum yang tak kalah hangat. "Tidak apa-apa."

"Nah, Tao, perkenalkan ini adalah Luhan, Kyungsoo, Minseok, dan Junmyun." Yifan menunjuk ke empat pemuda yang asing bagi Zitao itu secara berurut, dari mulai yang duduk di atas ranjang rumah sakit sampai yang duduk paling dekat dengannya.

Zitao segera membungkuk, "Huang Zitao."

"Dan Tao, mereka adalah saudara kita.

—bagian dari legenda."

.

.

.

Extraordinary

.

.

.

Alternative Universe, Fantasy, Brothership

.

.

.

Story©Terunobozu

.

.

.

=Part 2a End=


A/N. Maaf, chapter 2 pun dipotong jadi dua bagian. Mungkin chapter selanjutnya juga :)

Pemunculan tokoh disetiap chapter tergantung kebutuhan cerita, jadi saya tidak bisa memaksakan satu tokoh muncul lebih lama atau sebaliknya. Maafkan saya...

Jadi ini diputuskan tidak akan ada main character-nya. Mungkin. Kita lihat saja nanti. Ada kemungkinan juga setiap tokoh tidak muncul di setiap chapter tapi tetap akan saya usahakan. Terimakasih atas saran, kritik, dan pengertiannya. Saya sungguh berterima kasih dan menghargai itu.

As usually, special thanks to: taemin-nia, flowerdyo, YunJaeee Shipper, hlyjs, asa, kioko2121, Ateara EXOtics, Yurako Koizumi, noonamoudy. hannie, lulittledeer20, Yu Hyungseo, Akiya Exotics, Espinosa Lu, chairun, HKY. Terima kasih banyak atas review berharga dari kalian :)