Title: Bocah

(Tinkxx)

– Sunwoo x Chanhee/New –

Bocah –

Chanhee menghela napasnya pasrah ketika tahu dirinya menurut begitu saja ketika diajak pergi oleh Sunwoo. Dengan tangan yang menangkup wajahnya, ia menatap tetangganya itu dengan malas. "Harusnya aku kabur, kenapa aku malah disini bersamamu?"

Sunwoo meringis. "Karena kita ditakdirkan untuk selalu bersama, Kak," ucapnya sembari mengambil kue dengan bubuk gula diatasnya, meraupnya kasar sampai bubuk gulanya menyebar kemana-mana. Dan Sunwoo tertawa melihat dirinya yang seperti itu, menurutnya itu lucu dan ia mengulanginya lagi karena Chanhee yang ikut tersenyum melihatnya. Sampai akhirnya ia berhenti ketika bubuknya masuk ke hidung.

"Kak, hidungku gatal," rengeknya yang cuma membuat Chanhee merinding geli mendengarnya.

"Salah sendiri!" Bentak Chanhee cukup keras sampai pengunjung lain melihat mereka. Tangannya ragu untuk membantu, malah ia malas sekali untuk sekadar menyentuh Sunwoo. Tapi melihat Sunwoo yang kesulitan mau tidak mau membuatnya iba dan akhirnya menarik lengan pemuda itu ke kamar mandi, yang untungnya kosong.

"Turunkan tanganmu, biar aku yang membersihkan wajahmu," kata Chanhee yang sudah siap dengan tisu basah miliknya. Untungnya tinggi Sunwoo dan dirinya itu sama, jadi ia tidak harus repot-repot mendongak atau mengulurkan tangan ke atas untuk menjangkau wajahnya.

"Makanya lain kali jangan makan bubuk gula seperti itu lagi." Chanhee berucap yang cuma dibalas anggukan patuh dari Sunwoo. Perlahan ia mengusap bagian mata Sunwoo yang terkena bubuk gula sampai tangan Sunwoo menghentikannya. Pemuda itu berkata, "Tapi itu tadi lucu, Kak."

"Lucu?" Chanhee mengerutkan alisnya bingung.

"Kakak senyum ketika aku melakukannya, jadi kupikir aku lucu dan melakukannya lagi."

Chanhee tertawa pelan. Bagaimana ia tidak tertawa kalau saat ini Sunwoo terlihat sangat polos dengan satu matanya yang berbinar dan satu mata yang masih tertutup karena tangan Chanhee yang membersihkan daerah itu. Ia bahkan tidak menolak ketika Chanhee menekan pipinya terlalu kuat. Ia mendengus. "Kau bodoh, Sunwoo, bodoh."

"Bodoh apanya?"

"Apa yang kau lakukan tadi itu bodoh."

"Tapi aku melakukannya karenamu, Kak," kata Sunwoo pelan dengan tangan yang mengucek matanya yang baru saja dibersihkan. Ia menatap Chanhee yang sedang membersihkan tangannya di wastafel, menatapnya melalui kaca. Chanhee yang merasa diperhatikan pun mendongak dan tersenyum pada Sunwoo, melalui kaca juga.

Suasana jadi aneh dan Sunwoo benar-benar canggung hanya karena dapat senyuman dari seorang Choi Chanhee.

Lama mereka terdiam di dalam kamar mandi–sebenarnya Sunwoo sudah selesai dengan urusannya, hanya saja Chanhee masih sibuk merengut sambil menekan-nekan ponselnya. Jangan tanya Sunwoo kenapa Chanhee mendadak seperti itu, ia tidak mau bertanya, takut dimarahi.

Tiba-tiba saja pergelangan tangannya dipegang dan ia hampir menjerit ketika Chanhee menariknya keluar dari kamar mandi. Pemuda itu cuma menganggukkan kepalanya dan menoleh sebentar untuk berkata, "Matamu merah, ayo pulang, kau pasti mengantuk."

"Tapi, Kak, makanan kita?"

"Nanti biar Eric yang ambil kesini, aku sudah bilang ke kasirnya."

Sunwoo menahan tangannya yang otomatis membuat Chanhee tersentak ke belakang dan hampir jatuh kalau saja tangan Sunwoo tidak menahannya. Ia merasa aneh karena Chanhee yang biasanya tidak pernah meninggalkan makanannya, hari ini malah pergi begitu saja.

"Apa?" Tanya Chanhee sedikit kesal karena tautan tangan mereka yang terlalu erat-Sunwoo yang menggenggam tangannya.

Dengan pelan, Sunwoo balik menarik Chanhee keluar kafe. Yang ditarik cuma diam, tidak tahu kenapa dirinya diperlakukan begitu. Setelah sampai di parkiran motor, Sunwoo memakaikan helm Chanhee dan menyuruh pemuda itu untuk naik, tapi Chanhee menahan tubuhnya.

"Kau kenapa? Aku berbuat salah?"

Sunwoo mengurungkan diri untuk naik ke motornya. Ia terdengar menghela napas dan Chanhee sedikit takut kalau saja Sunwoo tiba-tiba marah padanya. Ayolah, jelas saja ia takut, Sunwoo punya tampang yang menyeramkan kalau marah, sekalipun dirinya belum pernah melihat bocah itu marah.

Perlahan, Sunwoo menurunkan kaca helmnya, ia menarik pinggang Chanhee agar mendekat padanya. Tangannya terulur untuk merapikan poni Chanhee yang turun menutupi sebagian matanya. "Kak Kevin menunggumu? Kau mau kita pulang karena Kakak mau makan dengannya, kan?"

Harusnya Chanhee lebih berhati-hati. Ia lupa kalau Sunwoo tahu segalanya dan bisa berpikir dengan cepat. Kalau sudah begini, ia mau bagaimana? Ia seperti tertangkap basah karena ketahuan berselingkuh, padahal Sunwoo bukan siapa-siapanya dan Kevin hanyalah teman yang dengan tega ia tinggalkan demi bocah ini.

Ia berdeham sebentar sebelum menahan tangan Sunwoo yang semakin bergerak di wajahnya. "Aku ada janji lebih dulu dengan Kevin, tapi kau malah menarikku kemari."

"Kenapa Kakak diam saja tadi waktu kuajak kemari?" Tanya Sunwoo sembari berdecak kesal. Ia kesal karena ia pikir sudah berhasil membuat Chanhee patuh padanya, tapi ternyata Chanhee masih memikirkan orang lain. Ya memang kau siapa sampai ada di pikiran Chanhee terus menerus?

Untungnya jalan sedang sepi, jadi tidak ada yang melihat betapa dekatnya mereka dan bagaimana tangan Sunwoo dengan gemasnya bergerak di pipi gembil Chanhee, menepuknya lalu mencubitnya berulang kali. Ia jadi ingat kalau pemuda itu sering dibilang mirip salah satu karakter kartun ketika kecil.

Chanhee berdecak ketika cubitan di pipinya makin terasa. Dengan geraman marah ia menjitak kepala Sunwoo yang kemudian mengaduh kesakitan. "Antar aku kembali ke kedai ramen dekat sekolahmu!" titahnya tanpa menerima penolakan.

"Aku kan masih mau main sama Kakak," rengek Sunwoo tidak rela melihat Chanhee sudah siap dengan helm terpasang.

"Main di rumah kan bisa," ucapnya asal.

Sunwoo menggerutu, merutuki Kevin yang mengganggu waktunya bersama Chanhee. Dengan berat hati, ia memakai helmnya lagi dan menaiki motornya. Setelah itu menuju kedai ramen favorit Chanhee.


"Tidak ikut ke dalam?" Tanya Chanhee ketika turun dari boncengan motor Sunwoo. Ia menyerahkan helmnya dengan canggung.

Ia menunggu jawaban, tapi pemuda itu sama sekali tidak menurunkan kaca helmnya. Dengan iseng, ia menyentuh tangannya, meremasnya pelan cuma untuk membuat Sunwoo agar menoleh padanya.

Sunwoo merengut, kemudian menggeleng. "Aku mau pulang."

"Aku belikan ramen ya nanti," tawarnya karena merasa bersalah. Tentu saja ia merasa begitu karena dengan seenaknya menarik Sunwoo keluar dari cafe tadi, yang secara tidak langsung artinya ia menolak tawaran makan siang bersama bersama Sunwoo dan memilih bersama Kevin.

Pikirnya kalau ia membelikan ramen, Sunwoo tidak akan marah lagi padanya.

Kalau saja mood Sunwoo tidak jelek, ia mungkin akan mengiyakan tawaran Chanhee, lagipula kapan lagi pemuda itu baik hati membelikannya sesuatu atau mengajaknya makan duluan. Tapi, ya ia cuma mengendikkan bahunya, mengelus puncak kepala Chanhee sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan pergi mengendarai motornya.

Iya, Sunwoo tidak mengatakan apapun, pemuda itu cuma tersenyum sebelum meninggalkannya. Membuatnya makin merasa bersalah.

Mungkin dirinya memang jahat, tapi apa sejahat itu sampai membuat seorang Sunwoo tidak berkata apapun padanya? Ia berdecak kesal, kalau sudah begini rasanya ia mau pulang saja. Lagipula dimana si Kevin itu? Tadi katanya suruh menunggu disini tapi nyatanya yang ditunggu tidak kunjung datang.

Chanhee sendiri bukan termasuk orang yang suka menunggu, ditambah Sunwoo yang akhir-akhir selalu ada dimanapun ia butuh tumpangan. Makin malas ia menunggu, bukan levelnya lagi untuk menunggu bus di halte seperti dulu.

Selagi ia merengut sambil merutuki perasaan bersalahnya pada Sunwoo, suara seseorang yang sangat ia kenal menyapa indera pendengarannya. "Chanhee!" Sedetik kemudian ia menoleh dan mengatai Kevin dengan segala macam kata kasar yang ia tahu.

Kevin terlihat menggertakkan giginya dengan gemas, ia menghampiri Chanhee yang menatapnya dengan cemberut. "Aku menunggumu di kampus satu jam! Aku bahkan ke kamar mandi untuk mencarimu, kupikir kau stress karena tugas sampai mau bunuh diri disana."

"Berhentilah menonton acara-acara seperti itu, Kev."

Kevin tertawa geli. Ia menggamit lengan Chanhee, menariknya masuk ke dalam kedai, memilih tempat favorit mereka; di pojok ruangan dekat kasir yang dari sana mereka bisa melihat dapur kedai itu dengan jelas.

"Kemana saja kau tadi? Bersama Sunwoo, ya? Aku tadi lihat motornya," kata Kebin begitu ia duduk di kursinya. Memperhatikan pemuda bermarga Choi yang saat ini sedang mengerutkan keningnya.

"Kau tahu namanya?"

"Aku baru ingat kalau dia teman Hyunjoon."

"Oh teman adikmu."

Kevin mengangguk seraya bangun dari duduknya untuk menyerahkan pesanan mereka pada pramusaji disana dan kembali lagi dengan cengiran lucu khas Kevin, yang diketahui Chanhee kalau Kevin sudah begitu artinya mereka akan dapat bonus satu mangkok lagi. Ia duduk kembali dan berkata, "Pantas saja aku tidak asing dengan wajahnya. Ternyata dia yang sering diceritakan Hyunjoon dan sering main ke rumah."

"Btw, dia selalu sinis padaku," lanjut Kevin dengan wajah kesal yang dibuat-buat.

"Kenapa?"

"Karena kita dekat, mungkin?" Jawab Kevin ragu yang langsung ia alihkan untuk berterima kasih pada pramusaji yang mengantar minuman mereka.

"Hah?"

"Dia menyukaimu, sepertinya."

Chanhee menghela napas pelan. Mengurungkan niatnya untuk meminum coklat hangat yang ia pesan. Ia sudah biasa dengan pernyataan orang-orang yang dengan mudah mengatakan kalau mereka menyukainya, kalau mereka mencintainya, tapi kenapa ia merasa aneh kalau Kevin yang berkata begitu? Terlebih yang Kevin bicarakan adalah Sunwoo. Maksudnya ia tidak tahu kenapa rasanya ia tidak mau percaya kalau Sunwoo benar-benar menyukainya.

Sekalipun kenyataannya Sunwoo memang terlalu terang-terangan mengungkapkan ketertarikan kepada dirinya.

"Apa alasannya menyukaiku?" Lirihnya yang masih bisa didengar oleh Kevin. Kemudian ia mendongak, menatap pemuda kelahiran Kanada itu dengan serius.

Tapi yang namanya Kevin ya Kevin, pemuda itu tidak akan pernah bisa serius sekalipun temannya sedang dalam dilema besar seperti ini. Dengan senyum jenakanya ia berkata, "Kata Hyunjoon cinta tidak perlu alasan."

Chanhee mendengus geli ketika Kevin menyebutkan nama adiknya. "Yakin Hyunjoon yang mengatakannya? Bukan dirimu?"

Kevin tersenyum canggung. Ia meraih gelas kopinya, menyesapnya sedikit. Hatinya mencelos entah karena apa.

Aku tidak perlu alasan untuk mencintaimu, Chanhee.


Chanhee galau, tentu saja. Gara-gara ucapan Kevin yang mengatakan kalau Sunwoo menyukainya. Sejak pulang yang ia lakukan cuma diam di kamar dengan tangan sibuk memegang novel yang tidak ia baca sama sekali. Salahkan Kevin yang membuatnya tidak fokus membaca.

Bahkan gordennya ia tutup rapat karena malas melihat Sunwoo di dalam kamarnya. Walaupun begitu, ia masih bisa mendengar suara Sunwoo yang sedang bermain dengan adik kecilnya di dalam kamarnya.

Ia menghembuskan napas, memperbaiki posisi tidurnya sampai suara pintu terbuka membuatnya kembali terjaga. Ia menoleh dan menemukan sang Ibu yang tersenyum. Beliau menyerahkan kotak kue yang masih terbungkus rapi padanya dan dengan tega menyuruhnya ke rumah Sunwoo untuk memberikan kue itu. Ingin menolak tapi tidak tega, Chanhee kan penurut, tidak mau jadi anak durhaka katanya.

Ketika diingatkan sudah jam 10 malam, ibunya cuma mengendikkan bahunya cuek dan tetap menyuruh anaknya itu pergi ke rumah keluarga Sunwoo sendirian.

Oh ayolah, Chanhee tidak takut dengan malam atau apapun yang berhubungan dengan itu, ia cuma suka merinding kalau malam-malam jalan sendiri. Malah seingatnya, Sunwoo yang lebih penakut dari dirinya. Ia tahu karena dulu pernah diajak papanya Sunwoo jalan-jalan ke rumah tua dan Sunwoo mengompol saking takutnya. Padahal sebelumnya pemuda itu dengan percaya diri berkata, "Aku kan pelindungnya Kak Chanhee, Pa! Aku tidak takut dengan apapun, hantu sekalipun!"

Ternyata ia malah mengompol dan Chanhee yang harus mengurus semuanya.

Mengingatnya saja sudah membuatnya tersenyum sampai tidak sadar kalau sudah ada di depan pintu rumah Sunwoo. Dengan segera ia mengetuk pintu kayu itu, menunggu penghuninya untuk membukakan pintu. Juga dengan harapan kalau yang membuka adalah anggota keluarga Sunwoo yang lain, bukan Sunwoo sendiri. Karena ia masih merasa bersalah.

"Permis–"

Cklek.

Harapannya untuk tidak bertemu Sunwoo ternyata tidak dikabulkan karena yang ada di hadapannya sekarang adalah Sunwoo yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan apapun. "Sunwoo?"

Sunwoo menoleh dan tersedak ludahnya sendiri ketika melihat Chanhee ada di hadapannya. Buru-buru ia menutup pintu rumahnya lagi dan semenit kemudian ia buka lagi dengan memakai pakaian lengkap, maksudnya tadi kan ia sama sekali tidak pakai baju-cuma celana pendek. Ia pikir yang mengetuk pintu tadi kakaknya, bukan kesayangannya. Eh.

Tapi tetap saja bagi Chanhee, Sunwoo akan tetap dekil kalau di rumah sekalipun pakai baju lengkap. Jangan lupa kalau jendela kamar mereka berhadapan, yang artinya Chanhee tahu segalanya, begitu pula Sunwoo.

Tidak, Sunwoo tidak pernah mengintip kok, kan sebuah ketidaksengajaan.

"Oh, Kak? Tumben?" Sunwoo bertanya sambil menggaruk kakinya, kebiasaan kalau gugup katanya.

Chanhee terdiam sebelum akhirnya ingat tujuannya ke rumah Sunwoo. "Dari Ibu," ucapnya seraya menyerahkan kotak berisi kue.

"Bibi? Buat apa?"

"Itu makanan!"

Sunwoo nyengir. "Oh? Oke. Masuk dulu, Kak?"

"Aku pulang, sudah malam."

"Katanya mau main?" Tagihnya mengingat perkataan Chanhee tadi siang.

"Kau sudah besar, mau main apa memangnya? Lagipula ini sudah malam, aku takut diculik kalau pulang."

Sunwoo tertawa renyah. Tangannya secara otomatis menyentuh surai halus Chanhee, mengelusnya pelan dan anehnya Chanhee tidak melayangkan penolakan apapun. "Rumahmu tepat di samping rumah ini. Kakak lompat dari jendela kamarku juga bisa," kekehnya semakin gemas. Lalu ia melanjutkan, "Kalaupun ada yang menculikmu, pelakunya cuma aku."

"Kau gila, Sunwoo." Chanhee memutar bola matanya malas. Menurunkan tangan Sunwoo yang masih nyaman di surainya.

"Alasanku gila itu karenamu, Kak."

Tuh kan, Sunwoo memang terlalu terang-terangan. Bodoh kalau dirinya tidak paham dengan apa yang selama ini diucapkan Sunwoo. Tiap gombalan dan segala macam perhatiannya. Ia merengut, menutup kepalanya dengan topi jaketnya dan beranjak dari rumah Sunwoo. "Aku pulang."

"Hati-hati. Selamat malam, tidur yang nyenyak."

Baru lima langkah Chanhee berjalan, Sunwoo menarik tangannya, membalik tubuhnya dan ia dihadapkan dengan wajah-tampan-tapi-dekil milik Sunwoo.

"Aku lupa sesuatu, Kak."

"Apa?"

"Semoga kita bertemu..." Chanhee menunggu, sedangkan Sunwoo cuma tersenyum sumringah.

"...dalam mimpi," lanjutnya yang kemudian bersorak senang karena berhasil membuat wajah Chanhee bersemu merah.

Setelah sorakan tidak penting Sunwoo, Chanhee berlari cepat menuju rumahnya, menutup separuh wajahnya yang sudah memerah karena gombalan tidak bermutu dari seorang Kim Sunwoo.

Diam-diam ia tersenyum, senang dengan kenyataan kalau Sunwoo bukan pedendam yang akan tetap marah padanya sekalipun ia campakkan begitu saja tadi siang.

TBC

Well jangan berekspektasi terlalu tinggi sih sama fanfic ini, saya gak bikin konflik berat atau cerita yang rumit, malah ini lebay dan cenderung datar sedatar dadanya chanhee /digampar/

Saya bukan spesialis chaptered fanfic soalnya hehe.

Ini terlalu gimana gitu gak sih? Saya kok agak ragu gitu ya hehe.

Love,

Tinkxx