Hay semua… chapter updet kilat. Gomen hampir seminggu baru updet fict yang kemarin. Zie sebenarnya pengen updet empat hari lah paling lama updetnya. Tapi, warnet di sekitar kos semuanya pake internet positif. So, FFn termasuk salah satu yang di blokir.

Zie updet pake Hp dan berhasil. Ada yang pengen nanya gimana cara updet pake Hp?

O ya, ini untuk pertama kalinya Zie semangat banget bikin cerita.

Alasannya? Kalian semua kayaknya pada bingung dengan Naruko dan Naruto itu sama apa tidak?

Jawabannya akan kalian temukan di chap ini.

Jadi siapkan tempat duduk kalian dan Zie harap tidak ada yang bingung dan kecewa dengan lanjutan ini.

Topeng punya Zie06

Naruto punya Masashi Kishimoto

M, T+

SasufemNaru slight Itakyuu, SasuSaku, GaafemNaruko

Romance, supernatural, fantasy, hurt, dll.

Semuanya hanyalah topeng. Tidak ada yang nyata di dunia ini. Karena semuanya hanyalah palsu. Aku pun sama. Kau pun sama. Mereka pun sama. Kita hanya pemain dalam drama dengan topeng yang menyembunyikan jadi diri kita sebenarnya.

Abal, gaje, gila, stress, aneh, ajaib, gender bender, yaoi, yuri (?), straight, dll.

Happy reading minna-san

Namikaze Minato : 19 tahun

Uzumaki Sara : 17 tahun

Akasuna Hitori : 18 tahun

Uzumaki Kushina : 12 tahun

Uzumaki Mito : 40 tahun

Suasana di salah satu kamar mewah dengan kasur King size berada tepat di tengah kamar dan bunga Ciontoria —bunga mirip mawar tetapi beraroma lavender yang akan menggugurkan kelopaknya setiap satu jam sekali sejak pertama kali dipetik— yang ditata sedemikian rupa di atas nakas kecil di samping ranjang tersebut. Cahaya bulan purnama menjadi satu-satunya penerang kamar tersebut yang memiliki banyak jendela panjang yang menghadap keluar, menghadap taman Bunga Cintoria yang tumbuh subur di pekarangan mansion utama Akasuna tersebut. Di atas kasur king size tersebut, seorang wanita cantik dengan gaun tidur putih polos tampak tertidur lelap. Rambut merah panjang dibiarkan tergerai lembut di bantal putih suteranya.

Cantik sekali. Wanita itu terlihat seperti seorang malaikat yang tertidur. Bahkan, kulitnya yang putih pucat dan bibir yang pecah kekurangan kelembaban tidak mengurangi kecantikannya sedikit pun.

Sedangkan, lelaki tampan bersurai merah berwajah baby face, mirip Sasori tetapi lebih dewasa menatap sendu ke arah wanita tersebut. Dengan perlahan, ia mendudukkan tubuhnya di samping wanita itu. Mengelus wajah wanita itu sayang. Merasakan kelembutan rambut itu yang tidak pernah berubah selama sekian tahun. Tetap lembut dan beraroma musim panas yang disukainya.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk" perintahnya.

Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian pelayan muncul dari pintu tersebut. Wajahnya yang terdapat luka melintang di atas hidungnya menatap lelaki itu tenang. "Hitori-sama. Gaara-sama sudah datang" ucapnya sopan.

"Hn" gumam pria itu kemudian beranjak dari kamar tersebut yang sebelumnya mengecup penuh cinta dahi wanita itu.

"Oyasuminasai, Sara-chan"

.….
…..

Flashback kilat

Uzumaki Sara, nama gadis itu. Gadis manis bersurai merah panjang dengan pupil mata ungu indah yang selalu memancarkan keteduhan bagi siapa saja yang menatapnya. Selain mata yang indah, ia juga memiliki bibir yang mungil dan merah cherry serta kulit yang putih mulus layaknya gadis bangsawan lain. Terlahir sebagai putri sulung klan Uzumaki, salah satu dari 9 klan yang memiliki kekuatan monster, Uzumaki Sara termasuk gadis yang paling diicar di sekolahnya.

Terlebih lagi, sikap sopannya terhadap semua orang dan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya menjadi poin terpenting dari dirinya. Terlebih lagi dengan kepiawaiannya memilih kata dalam berbicara dan berbagai piala penghargaan yang berjejer rapi hampir memenuhi gudang, semakin menambah nilai plus dari dirinya.

"Nee-sama!" Sara yang sudah hapal dengan suara keras nan cempreng sang adik, sontak menoleh ke samping. Menatap Uzumaki Kushina, adiknya yang terpaut umur cukup jauh darinya berlari menghampirinya.

Surai merah panjang yang selalu diikat asal, mata merah yang selalu melirik jahil, serta kulitnya yang tan karena sering terpapar matahari merupakan ciri fisik Kushina. Adiknya yang memang begitu berbeda dengan sikap para Uzumaki pada umumnya.

Sikapnya yang barbar, spontan, tidak terlalu pintar dalam setiap pelajaran, suka berkelahi dan tidak mau mengalah menjadikan ia sebagai gadis paling keras kepala di keluarganya. Ibunya bahkan sudah menyerah untuk merubah sikap anaknya yang semakin ngeyel ketika dinasehati. Mendesah berat atau mungkin hanya memijat pelipisnya ketika beberapa orang tua ataupun pihak sekolah menghubunginya karena tingkah sang anak bungsu.

"Kushina, berhenti berlarian seperti itu" tegur Sara lembut. Mengelus rambut Kushina yang terasa lengket di jarinya. Adik kecilnya ini memang sangat aktif. Jika bangsawan lain yang seumuran dengannya melakukan kegiatan lain seperti berkumpul dengan bangsawan lain untuk berdandan atau melakukan acara minum teh bersama, Kushina akan lebih memilih untuk bermain sepak bola, berlatih memanah dengan target monster lemah yang ia temui di jalan —meskipun sering meleset dan mengenai benda lain— atau kegiatan lainnya yang sama sekali tidak mencerminkan seorang gadis bangsawan.

Kushina yang ditegur Sara sontak mengerucutkan bibirnya. Merenggut kesal ke arah sang kakak yang terlalu berlebihan menurutnya. "Aku bukan anak kecil lagi, Nee-sama. Lagipula, apa salahnya berlari. Berlari itu bagus untuk kesehatan, tau!" rajuknya dengan ekspresi lucu.

"Setidanya jangan ketika sedang memakai seragam sekolahmu, Hime" ucapnya tertawa pelan, mencubit pelan pipi tembam Kushina yang langsung mendapatkan pekikan keras dari si empu pipi. "Ayo kita pulang. Kaa-sama bilang akan ada tamu penting hari ini" ajaknya kemudian, menyeret tubuh adiknya itu yang sudah ingin kabur menghindari acara makan malam yang memang begitu membosankan.

Malam harinya…

"Nah, Sara. Perkenalkan ini Namikaze Minato. Calon suamimu"

Mito, atau Uzumaki Mito menunjuk seorang pemuda tampan bersurai pirang panjang diikat yang memiliki manik sapphire yang duduk di sampingnya semangat. Sara, yang baru saja memasuki ruangan dan duduk di salah satu sofa bersama adiknya langsung menatap bingung ibunya.

"Tunangan?" tanyanya bingung.

Mito mengangguk senang. "Ya. Kaa-sama sudah memutuskan jika kalian akan langsung menikah tanpa harus ada pertunangan" jelasnya antusias mengingat umur Mito yang sudah tua dan keinginannya untuk mendapatkan seorang cucu manis dari klan Namikaze yang memang sudah berteman baik dengan klan Uzumaki.

"Tentu saja, kalian akan menikah ketika Sara-chan berumur 17 tahun" timpal seorang wanita bersurai pirang dengan mata biru keabu-abuan yang duduk di samping pemuda —calon suaminya— itu. Di samping wanita itu yang Sara yakini sebagai ibu dari calon suaminya itu, seorang pria berambut putih mengangguk antusias. Rambut putih yang panjang dan lebat.

Sara yang sudah mengerti jalur pembicaraan orangtuanya dan calon mertuanya itu kemudian mengalihkan perhatiannya ke samping Mito. Menatap penampilan calon suaminya dalam. Surai pirangnya yang mengingatkan ia akan matahari di musim panas, mata biru safir yang jernih dan wajah yang ceria tetapi berwibawa. "Namikaze Minato. Yurushiku" sapanya sopan, memajukan tangannya tepat di depan Sara sehingga membuat Sara yang masih sibuk memberi penilaian tersentak kaget sembari menatap uluran tangan pemuda itu.

Sara yang mengerti langsung menerima uluran tangan pemuda tersebut meskipun cukup kesulitan karena tempat duduk mereka yang berseberangan dan dihalangi oleh meja panjang yang tidak terlalu besar.

Cup!

"Uzumaki Sara. Yurushiku" balasnya sopan dengan wajahnya yang merona merah. Diperlakukan bak seorang putri oleh pemuda tampan, siapa sih yang tidak blushing?

….

5 tahun kemudian….

Pernikahan yang begitu meriah antara klan Uzumaki dengan klan Namikaze telah lama berlalu. Musim semi datang dengan aroma bunga yang semerbak digantikan dengan musim panas yang membuat siapa saja akan enggan meninggalkan tempat berteduh mereka. Setelah musim panas yang begitu menyiksa, pohon kemudian berguguran meninggalkan cabang pohon mereka. Turun ke tanah dengan warnanya yang kuning keemasan. Angin musim dingin kemudian berhembus semakin lama semakin kencang, membekukan benda apapun yang terlewati olehnya.

Wajah cantik itu menengok ke arah jam dinding yang tergantung manis di atas perapian di ruang keluarganya.

'00.17'

Mata beriris ungu itu semakin bergerak gelisah. Sensasi dingin yang ia rasakan akibat hembusan angin musim dingin yang berhembus pelan dari ventilasi udara tidak dihiraukannya. Pikirannya hanya satu, Minato.

Lelaki yang sudah menjadi suami sahnya 5 tahun yang lalu itu saat ini tengah keluar. Pagi tadi lelaki itu mengajaknya untuk ikut bersamanya merayakan pesta ulang tahun anak pertama raja Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto yang mereka beri nama Uchiha Itachi. Namun, Sara yang terlalu sibuk dengan penelitiannya dan pekerjaannya sebagai dokter menolaknya halus dan untung saja suaminya itu bukan tipe suami yang memaksakan kehendak.

"Sudah tengah malam" gumamnya semakin risau. Sebenarnya, ia tadi akan pergi menyusul Minato ke pesta ulang tahun tersebut 3 jam yang lalu. Tetapi, ia mengurung niatnya ketika salah seorang pelayannya mengatakan jika akan ada badai salju sebentar lagi. Dan benar saja, tidak menunggu lama angin kuat yang membawa berton-ton benda putih mirip kapas itu menderu kencang. Menabrak jendela kamarnya keras sehingga ia yakin semua tamu undangan pesta malam ini akan menginap di istana kerajaan.

Hanya saja entah kenapa perasaannya tidak enak. Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Sesuatu yang membuat hatinya berdenyut sakit. Membuatnya tidak bisa tidur malam itu.

"Semoga kau baik-baik saja, Minato-kun" gumamnya khawatir, mengeratkan selimut yang ia bawa dari kamarnya ke ruang keluarga mansionnya.

"Ugh" Sara merenggangkan ototnya pelan. Seluruh tubuhnya terutama leher terasa begitu sakit ketika ia gerakkan. Sepertinya ia tertidur entah sejak kapan ketika menunggu suaminya itu pulang. Mata bermanik ungu miliknya sekilas menatap jam yang masih tergantung manis di dinding. Terbelalak kaget ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

"Astaga, Minato-kun" pekik Sara kaget. Berusaha mengabaikan rasa pegal di tubuhnya dan beranjak secepatnya dari sofa menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

BRAK…

Seorang pria bersurai pirang yang tampaknya baru saja selesai mandi terlihat dari handuk putih yang melilit pinggangnya tersentak kaget ketika pintu kamarnya dibuka keras. Sedangkan pelaku pembuka kamar tersebut hanya tertunduk dengan wajah memerah. Mulutnya terbuka menutup, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Berlari dengan gaun tidur yang cukup berat dan sandal rumah yang terbuat dari kulit kelinci asli sudah mampu membuatnya ngos-ngosan seperti ini.

"Sara, kenapa kau berlari se—"

HUG!

"Baka!" Sara yang begitu khawatir dengan Minato langsung saja menerjang lelaki itu. Tidak memperdulikan Minato yang melongo heran. "Aku mengkhawatirkanmu" lanjutnya masih memeluk Minato.

Minato yang sudah sembuh dari keterkejutannya, mulai membalas pelukan Sara. Mengelus rambut berwarna merah itu lembut. "Maaf tidak memberitahumu. Tadi malam badai salju. Jadi, kami semua menginap di istana selatan. " jelasnya.

Sara menggeleng pelan dalam pelukan Minato. "Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu khawatir. Tadi malam firasatku buruk" ucapnya pelan, tidak menyadari perubahan mimik lelaki itu yang berubah sendu.

….

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan biasa. Minato yang setiap pagi berangkat bekerja mengurus beberapa bisnis keluarga dan Sara yang juga berangkat bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit milik keluarganya.

"Kau tidak apa-apa, Sara?" suara seseorang mengagetkannya. Sontak, Sara menoleh dan mendapati wajah rekannya yang menatapnya khawatir. Rekannya itu bernama Akasuna Hitori. Lelaki berumur 22 yang memiliki wajah baby face yang terkesan cool —menurut pendapat semua suster dan pasien— serta rambut merah cerahnya dengan balutan kemeja putih dan jas putih khas para dokter.

Sara tersenyum lemah. Beberapa minggu ini ia memang tidak pernah istirahat penuh. Ia bahkan harus pulang larut malam atau tidak pulang sama sekali. Untunglah, suaminya itu juga sama-sama sibuk seperti dirinya dikarenakan bisnis dekorasi bangunan yang digelutinya kini sedang diminati banyak bangsawan sehingga ia mengerti dan mengizinkannya. "Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu lelah" balasnya lemah.

Hitori tersenyum lembut, menepuk pelan pucuk kepala Sara. "Untuk malam ini, kau pulanglah. Aku akan menyelesaikannya untukmu"

Sara menggeleng pelan. "Tidak, Hitori-kun. Aku ingin kita menyelesaikannya berdua." Balasnya mantap.

Melihat keseriusan Sara, Hitori hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Mata hitamnya menatap raut wajah Sara yang sedikit memucat, khawatir. Matanya yang biasanya bersinar sedikit redup dengan bibirnya yang mulai pecah-pecah. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu, mengatakan jika ia tidak perlu memaksakan diri. Namun, ia tahu ia tidak bisa melakukannya. Setidaknya untuk saat ini.

Ya, setidaknya untuk saat ini.

Tanpa sadar, lelaki itu tersenyum. Bukan senyuman lembut tetapi seringai tipis.

…..

…..

Keesokan harinya…

Pagi ini, Sara tidak bisa menghentikan senyuman lebarnya. Langkahnya terasa ringan meskipun tubuhnya sudah memberontak ingin istirahat. Langkah kakinya pasti, membawanya menelusuri lorong kantor perusahaan bergaya semi tradisional jepang. Sesekali, kepala wanita itu mengangguk sedikit, memberi salam kepada siapapun yang ditemuinya di sepanjang lorong.

Namikaze Minato room.

Sara menahan nafasnya. Ditatapnya pintu geser berlambang khas klan Namikaze lama. Rasa gugup mulai menyapanya. 'tenang, tenang. Semua akan baik-baik saja' rapalnya dalam hati. Menghirup udara panjang untuk menetralkan debaran gugup di dadanya, akhirnya Sara memberanikan dirinya untuk menggenggam handle pintu tersebut sampai tubuhnya tiba-tiba tidak bisa ia gerakkan. Matanya terbelalak lebar dengan bibir yang menganga shock.

"Apa? Kau ha-hamil?"

"Bisakah kau memelankan suaramu. Aku tidak mau ada yang mendengarnya"

"Jadi, apa benar?"

"Ya, satu bulan"

"A-Apa? Jadi…"

"Ya, aku hamil anakmu Minato-nii"

"….."

Sara memerosotkan tubuhnya lemah. Air mata yang berusaha ia tahan mengalir deras, membasahi wajahnya yang tirus karena kelelahannya. Ia sudah tidak ingin dan tidak bisa mendengar apapun lagi. Oleh karena itu, ditutupnya rapat-rapat telinganya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menolak kenyataan yang baru saja menamparnya.

"Tidak mungkin" gumamnya pelan, sangat pelan. Ia kenal, bahkan sangat mengenal suara mereka. Hidup bersama bertahun-tahun tentu saja membuatnya mengenali dengan jelas siapa yang memiliki suara tersebut. Hanya saja, perasaannya menolak keras perintah otaknya untuk menerima kenyataan tersebut.

1 bulan. Itu berarti hari dimana Minato pergi ke pesta kerajaan. Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya ibunya yang pergi selaku ketua klan? Apakah Kushina yang pergi? Apa yang terjadi diantara mereka berdua? Mengapa mereka merahasiakan semuanya darinya?

Ribuan pertanyaan berterbangan di otaknya. Memaksanya untuk bangkit dari duduknya dan pergi berlalu. Ia memang begitu penasaran, tetapi rasa sakit yang bercokol di hatinya jauh lebih besar. Ingin rasanya ia menggebrak pintu, dan menghajar keduanya yang telah berani menghianatinya. Tapi, apa itu cukup? Apa ia berani melakukannya?

Tidak!

Ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk melakukan itu. Ia memang sadar dan sudah mewanti-wanti saat dimana Minato datang menggandeng wanita lain untuk memberikan ia keturunan. Mengingat, dua tahun lalu ia divonis tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi, mengapa harus dengan Kushina? Adiknya sendiri? dan mengapa harus dengan cara seperti ini?

Diusapnya kasar air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya. Dipercepatnya langkah kakinya, dua kali lebih cepat. Rasa sakit di dalam hatinya semakin terasa. Saat ini, ia hanya ingin menyendiri. Menghilang dari pandangan semua orang dan melampiaskan rasa sakit yang menggerogotinya sepuas-puasnya.

"Kenapa kau menangis?"

Sara sontak menghentikan langkahnya. Menatap Hitori yang masih memakai pakaian dokter yang berdiri satu meter di depannya sembari menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan datar.

Namun, Sara hanya terdiam. Memalinkan wajahnya ke arah lain selain Hitori. Ia tidak ingin ketika ia membuka mulutnya, suara tangis yang sudah ia redam sejak tadi keluar. Tidak!. Ia masih belum siap untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya meskipun kepada sahabatnya sejak kecil tersebut.

Hitori mendesah berat. "Coba ku tebak. Mereka menghianatimu, bukan?"

Sara tersentak kaget. Mata ungunya langsung menatap Hitori tajam. "Darimana kau mengetahuinya?" Tanyanya mendesis marah. Wajahnya memerah, dengan tangannya yang terkepal erat.

Hitori tertawa pelan. "Jadi tebakanku tadi, benar?" katanya santai, seakan-akan mereka sedang membicarakan gossip hangat para artis. Mata hitamnya menatap manik ungu itu yang perlahan berubah sendu. Menggelap dan tidak secerah yang selama ini ia lihat. Seperti tatapan seseorang yang sudah mati. Kosong dan tidak berwarna.

"Sara" panggil Hitori lagi. Menepuk pelan pundak wanita itu lembut. Hatinya begitu sakit melihat wanita pujaannya menderita seperti ini. Tetapi, ia juga tidak menampik ada perasaan senang ketika mengetahui ia masih memiliki peluang untuk mendapatkan wanita itu meskipun sebenarnya wanita itu sudah berkeluarga.

"Aku mohon. Berhentilah menangisi seseorang yang tidak menangisimu. Aku mohon, berhentilah menatap seseorang yang tidak menatapmu" Hitori mendekap tubuh Sara erat, membiarkan wanita itu menangis di pelukannya. Memeluknya erat seraya mengecup puncak kepalanya sayang. Menyalurkan perasaan cintanya yang begitu besar untuk wanita itu.

Ia bahkan tidak memperdulikan tatapan terkejut ataupun bisikan lirih dari beberapa pelayan ataupun pegawai yang tidak sengaja melihat mereka. Dipikirannya saat ini adalah Sara. Hanya wanita itu. Wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang hampir menjadi miliknya sebelum 'direbut' oleh Minato.

Ya, miliknya. Mulai saat ini Uzumaki Sara adalah miliknya. Dan ia akan memastikannya.

….

Akasuna Chiyo atau yang sering dipanggil sebagai nenek Chiyo oleh para anak tetangganya hanya dapat tercengang kaget di ambang pintu rumahnya. Wanita yang umurnya hampir mencapai setengah abad itu tampak terkejut ketika matanya menatap anak sulungnya yang datang dengan seorang wanita dalam gendongannya.

"Siapa wanita yang ada dalam gendonganmu itu, Hitori?" tanyanya tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

Hitori mendesah lelah. "Bisakah Kaa-sama membiarkan kami masuk terlebih dahulu?"

Nenek Chiyo itu segera menyingkir, memberikan Hitori —anak pertama dari pernikahannya dengan Akasuna Hamori— jalan masuk menuju rumah kecil yang hanya berlantai dua miliknya. Rumah yang jauh dari kata istana, mengingat ia adalah seorang permaisuri dengan kerajaan pasir.

"Siapa dia, Hitori?" Tanyanya lagi dengan tatapan menyelidik. Menatap wajah sembab wanita yang tengah tertidur pulas di atas kasur putih single bed milik Hitori di lantai dua.

"Uzumaki Sara" jawab Hitori tenang, tidak memperdulikan mata ibunya yang membulat kaget.

"Apa? Uzumaki Sara istri Namikaze Minato? Apa yang kau pikirkan sehingga membawa istri orang lain ke sini? Bagaimana jika suaminya mencarinya?" nenek Chiyo memijat pelipisnya pelan. Penyakit kepalanya yang sudah lama sekali sembuh tiba-tiba saja kambuh. Tidak menyangka anak sulungnya yang terkenal sopan, baik tetapi tidak pernah peduli dengan orang lain termasuk keluarganya bisa berbuat senekat ini.

"Aku tau, tapi aku tidak peduli" desah Hitori pelan. Mata hitamnya memperhatikan wajah damai Sara yang nampak indah di matanya. "Karena aku mencintainya" lanjutnya dalam hati. Mengusap lembut pipi Sara yang sedikit lengket akibat air mata.

"Terserah kau saja lah. Tapi, aku harap kau terima konskuensinya, Hitori" pasrah nenek Chiyo, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan. Setidaknya ia membutuhkan ketenangan sebelum ketenangannyayang kemungkinan besar terusik akibat ulah anak sulungnya tersebut.

…..

...….

Tujuh tahun kemudian….

Sudah hampir 7 tahun lamanya semenjak ia meninggalkan tempat yang sudah dia anggap rumah. Rumah yang baru ditempatinya selama 5 tahun sebelum akhirnya ia tinggalkan. Hal itu memang bukan perkara mudah. Bahkan, sangat sulit. Namun, apa boleh dikata. Ia memang diharuskan meninggalkan rumah tersebut.

"Sara-sama"

Sara menoleh, menatap wajah Iruka —pelayan pribadi yang saat ini baru menginjak usia 17 tahun— yang menatapnya khawatir. Selama dua tahun terakhir, Iruka memang selalu berada di sampingnya ketika suaminya tidak berada di sampingnya. Berbagi cerita dan tertawa bersama. Memberikan semangat ketika salah seorang diantara mereka membutuhkannya. Menjadikan ia sebagai sosok adik yang memang sudah 'mati' dalam hidupnya.

"Ada apa, Iruka?" tanyanya dengan senyuman manis di bibirnya. Senyuman yang akhir-akhir ini bisa kembali menghiasi wajahnya setelah hampir 7 tahun menghilang. Senyuman yang indah yang tak kalah dari senyuman para malaikat di atas sana.

"Hitori-sama mengirimkan pesan tadi. Dia mengatakan jika nanti sore ia baru sampai ke sini" jelasnya.

Sara mengangguk mengerti. Kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian ke taman bunga yang dipenuhi bunga Ciontoria merah yang hanya mekar ketika musim panas tiba. Di sampingnya, sepiring potongan daging semangka merah segar menemaninya.

"Apa yang Sara-sama pikirkan?" Tanya Iruka penasaran. Mata coklatnya menatap heran wajah majikan yang sudah ia anggap kakak sendiri itu yang memang sedari tadi tidak henti-hentinya tersenyum kecil.

Sara hanya menoleh sebentar ke arahnya sebelum kemudian menusuk daging buah semangka segar itu dan mengunyahnya pelan. "Hanya mengenang masa lalu. Aku tidak menyangka jika saat ini aku bisa duduk di sini bersamamu. Jika kejadian dulu tidak terjadi, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu, Iruka" ungkapnya.

"Aku rasa itu takdir Tuhan, Sara-sama" balasnya sopan. Menatap Sara dengan tatapan cinta, cinta seorang adik yang kadang-kadang mengingatkannya kepada 'adik kecilnya' yang dulu begitu ia sayangi.

"Tujuh tahun, ya" gumam Sara menutup matanya rapat. Mengingat berapa lama ia bersembunyi. Menghilang dari semua pandangan mata orang yang berusaha mencarinya. Mendekam di penjara mewah ini dan hanya ditemani oleh beberapa pelayan kepercayaan —Iruka salah satunya— dan nenek Chiyo yang kadang-kadang menginap serta suaminya, Hitori yang ia nikahi setahun yang lalu yang hanya dihadiri oleh segelintir orang saja.

Masih segar di ingatannya ketika rangkaian peristiwa buruk silih berganti menghampirinya. Dimulai dari pernikahan pertamanya yang dilaksanakan tepat ketika ia berusia 17 tahun hanya karena klannya membutuhkan penerus klan selanjutnya.

Awalnya, ia memang tidak menyetujui pernikahan tersebut karena ia sama sekali tidak mencintai calon suaminya meskipun ia memang menyukai sikap yang ditunjukkan pemuda itu kepadanya. Dan siapa yang menyangka seiring berjalannya waktu, mereka berdua akhirnya bisa saling mencintai dan hidup damai penuh cinta. Terlebih lagi ketika ia mengatakan ingin melanjutkan studinya untuk menjadi seorang dokter, pemuda itu dengan cepat mengiyakan permintaannya. Memiliki seorang suami yang mencintaimu dan memenuhi semua permintaanmu adalah kebahagiaan yang besar baginya saat itu.

Namun, sepertinya kehidupan damainya harus terusik dengan fakta bahwa selama tiga tahun masa pernikahannya dengan Minato, ia tidak kunjung hamil. Dan begitu terkejutnya ia ketika dokter kandungan yang juga temannya itu memvonis ia mandul.

Tentu saja, ia tidak menyerah begitu saja. Ia tetap ngotot melakukan pemeriksaan ulang sampai berkali-kali dan hasilnya tetap sama.

Mandul. Sebuah kata yang begitu menakutkan bagi seorang istri. Sebuah kata yang membuatnya begitu tertekan. Terlebih lagi, seiring dengan perubahan sikap ibunya yang berubah menjadi wanita dingin yang sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya lagi. Untung saja, suaminya —Minato— menerima kelemahannya dan tidak mengeluh sama sekali. Ia hanya datang dan memeluk tubuh Sara yang menangis histeris saat itu.

Beberapa bulan kemudian, Hitori —teman kecilnya yang melanjutkan pendidikannya di negara lain bertahun-tahun lamanya— datang dan mengatakan kepadanya jika ia ingin melakukan penelitian untuk mencari cara agar seorang wanita mandul bisa mempunyai anak dan tentu saja Sara ikut bergabung dalam penelitian tersebut, mengingat ia yang ingin sekali memberikan Minato seorang bayi manis.

Dua tahun berusaha, mengkaji dan menguji beribu-ribu kali, akhirnya mereka berhasil mendapatkan hasil yang cukup memuaskan meskipun masih memerlukan beberapa penyesuaian. Dan pada saat itu, Sara langsung bergegas pergi untuk memberikan kejutan berupa hasil penemuannya ke Minato —yang memang tidak tahu menahu perihal penelitiannya tersebut— yang saat itu berada di kantornya.

Namun, bukannya ia yang memberikan kejutan tetapi ialah yang malah diberikan kejutan berupa percakapan berupa hasil dari permainan gelap yang dilakukan suaminya bersama adiknya sendiri. Saat itu, tentu saja Sara begitu terkejut. Ia bahkan tidak ingat jika setelah bertemu dengan Hitori dan menangis, ia pingsan dan berakhir di kamar lelaki tersebut.

Setelah itu, kehidupannya serasa berputar 180 derajat. Mendengarkan ungkapan cinta secara tidak langsung dari Hitori, pulang ke rumah yang hanya mendapatkan tamparan, hinaan, pengusiran dan pencabutan namanya dari ahli waris keluarga Uzumaki yang dilatar belakangi oleh adegan pelukannya bersama Hitori saat itu tersebar luas. Tidak hanya itu, ia bahkan harus mendapatkan kertas gugatan cerai yang dilayangkan suaminya sendiri.

Luar biasa, bukan?

Belum sembuh dari rasa sakitnya, ia harus mendapatkan kenyataan jika sebulan setelah pengusiran oleh klannya, ia akhirnya mendengar pernikahan Namikaze Minato —mantan suaminya— dan adiknya Uzumaki Kushina berlangsung. Beberapa bulan kemudian, adiknya itu melahirkan seorang bayi laki-laki yang mereka namakan Namikaze Kyuubi. Bayi tampan bersurai orange kemerahan dengan mata merah mirip Kushina. Bayi yang memperlengkap puzzle gambaran sebuah keluarga harmonis yang tidak akan pernah ia rasakan. Sebulan kemudian, Kushina dinobatkan sebagai ketua klan ke-38 menggantikan ibunya yang pensiun dini.

Kadang, ia merasa kasihan kepada dirinya sendiri. Merasa jika ia yang memang terlalu bodoh sehingga rela dipermainkan takdir dengan seenaknya. Membiarkan suami yang begitu ia cintai, adik yang begitu ia sayangi dan ibu yang ia hormati bahkan sampai rela menerima perjodohan yang tidak ia kehendaki itu menghianatinya. Membuangnya ketika ia sudah tidak berguna lagi.

Bunuh diri?

Kata 'haram' itu sudah sering terlintas di benaknya. Ia bahkan sudah berkali-kali mencoba membunuh dirinya sendiri meskipun gagal karena selalu dipergoki oleh Iruka —yang saat itu baru mulai bekerja menjadi pelayan—, nenek Chiyo atau Hitori.

Kadang-kadang, ketika ia sedang merenung sendirian, ia seirng berfikir dimana letak kesalahannya sehingga mendapatkan takdir sedemikian buruknya. Sejak kecil, ia selalu menurut. Tidak pernah membantah sedikitpun. Waktunya ia luangkan untuk belajar dan berinteraksi dengan semua keluarga bangsawan. Menciptakan citra baik bagi klannya, Uzumaki. Ia pintar, baik dan selalu tersenyum meskipun ia sedang bersedih.

Sedangkan adiknya itu yang sejak kecil selalu membangkang dan tidak terlalu pintar dalam setiap pelajaran mendapatkan semuanya yang seharusnya ia dapatkan. Lelaki yang ia cintai —meskipun ia tidak mencintainya pada awalnya—, posisi yang seharusnya ia duduki sekarang, dan kasih sayang semua orang. Ia mengambil semuanya.

Kadang ia berfikir Tuhan itu tidak adil. Merampas semua kebahagiaannya. Namun, ketika ia sudah tidak memiliki tempat bersandar lagi, ketika ia sudah lelah memaki nasibnya, Tuhan mengirimkan Hitori, lelaki yang mencintainya bahkan sejak pertama mereka bertemu. Hitori, lelaki yang begitu mencintainya itu selalu saja datang di saat yang tepat. Merengkuh tubuhnya ketika ia butuh kehangatan. Tersenyum lembut hanya untuknya. Bernafas hanya untuknya. Bahkan, setelah ditolak olehnya berkali-kali, lelaki itu tidak pernah berhenti mencintainya. Terus mengucapkan kalimat 'aku mencintaimu' sampai ia sadar dan membalas cintanya satu tahun yang lalu.

"Sara-sama"

Sara membuka matanya perlahan. Mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan dengan cahaya yang memasuki retinanya.

"Ini..."

"Anda sedang di dalam kamar anda, Sara-sama. Tadi anda tertidur" jelas Iruka, pemuda yang baru saja membangunkannya. Tersenyum geli dengan kebiasaan baru majikannya yang akan cepat sekali tertidur ketika berada di beranda mansionnya.

"Maaf merepotkanmu lagi, Iruka" ucapnya pelan, mengelus perutnya yang membesar layaknya orang yang makan 10 porsi nasi.

Iruka tersenyum maklum. "Tidak apa. Hitori-sama sudah pulang dan sedang berada di ruang keluarga sekarang."

Sara tersenyum gembira. Suaminya itu memang sangat sibuk akhir-akhir ini dengan pekerjaannya sebagai calon pengganti raja kerajaan Pasir yang sebentar lagi akan turun dari tahtanya.

"Baiklah. Katakan aku akan ke sana setelah bersiap-siap" ujarnya riang sebelum melesat pergi bersama beberapa dayang yang mengikuti dari belakang menuju ke kamar mandi pribadinya.

…..

Hitori, pria tampan yang tidak lama lagi akan menjabat menjadi raja kerajaan pasir tampak begitu tenang duduk di atas sofa single yang berada di ruang keluarga di lantai satu mansion miliknya. Iris hitamnya membaca barisan tulisan rapi di sebuah kertas sebelum akhirnya mendesah berat dan menaruhnya kembali di atas tumpukan kertas yang menggunung di atas meja ruang keluarganya asal.

Wajahnya yang dulu baby face kini terlihat sedikit tirus. Pekerjaannya yang menumpuk dan persiapan pelantikannya sebagai raja baru membuatnya begitu lelah. Ia bahkan sering tertidur di atas meja kerjanya sekarang. Sebuah kebiasaan baru yang mungkin akan berlanjut sampai seterusnya. Mengingat tugasnya saat ini hanya setengah dari tugas seorang raja nantinya.

GREB!

Tubuh kekar itu sedikit tersentak kaget, merasakan sepasang lengan bergelayut manja di pundaknya. Dapat ia rasakan, dagu seseorang itu menyampir di pundaknya. Wangi bunga Ciontoria menguar, menusuk alat penciumannya. Wangi yang begitu menenangkan.

"Kau terlihat kurang sehat, Yang Mulia"

Hitori tersenyum miring. Tidak membalas sindiran istrinya karena sikapnya yang workaholic. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, sementara kepalanya ia miringkan ke samping untuk menangkap bibir menggoda istrinya yang terasa seperti permen jeruk.

Cup!

"Tadaima, Sara-chan" ucapnya tidak nyambung sama sekali. Memberikan senyuman terbaiknya yang hanya ia berikan untuk istrinya saja.

"Okaerinasai, Hitori-kun" balas Sara tersenyum sembari menutup matanya ketika kedua bibir itu kembali bertemu. Memagut pelan untuk melepas rasa rindu setelah tidak lama bertemu.

….

Awal musim gugur di dunia bawah disambut dengan suka cita. Bunga yang indah nan wangi yang hanya tumbuh di dunia bawah bermekaran.

Sara yang kini tengah berdiri di balkonnya, menikmati bagaimana pohon di pekarangan mansionnya menggugurkan daunnya yang berwarna kuning keemasan sebelum dikejutkan dengan lengan kekar yang melilit di pinggangnya. Tersentak kaget sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya di dada bidang pelaku pemelukan itu. Sebuah senyuman manis tercetak di wajahnya. Sebuah senyuman yang selalu muncul akhir-akhir ini.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Kaa-sama" Tanya pelaku pemelukan itu lembut. Namun, Sara tidak menjawab. Hanya diam dan semakin menyamankan dirinya di dalam pelukan lelaki itu yang sebelumnya menghadiahkannya cubitan pelan. Mendengar lelaki itu yang memanggilkan Kaa-sama membuat hatinya menghangat yang langsung berefek kepada wajahnya yang memerah.

Sosok itu mendengus geli. Merasa jika tingkah Sara yang bertambah manja semakin hari. Tapi, toh ia tidak menolaknya. Ia bahkan semakin mengeratkan rengkuhannya. Melihat tingkah istrinya yang biasanya sopan dan anggun menjadi sedikit manja membuatnya tidak bisa menahan senyuman geli untuk bertengger di bibirnya. Tangan kanannya beranjak naik, mengelus perut buncit Sara yang semakin membesar.

"Ayo masuk. Berlama di luar tidak bagus untuk tubuhmu" ajaknya pelan setelah lama terdiam di posisi tersebut. Namun, Sara tidak bergeming. Ia bahkan tidak melepas lengan sosok itu yang sekarang tengah ia pegang. "Sara-chan. Ayo masuk!" ulangnya lagi.

Sara memutar bola matanya, bosan. Suaminya ini memang terlalu overprotective padanya. "Tetaplah di sini, Hitori-kun. Aku mohon" pinta Sara pelan. Matanya kembali tertutup rapat, menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Sementara, sosok yang bernama Hitori tersebut hanya mendesah berat. Sebenarnya bukan masalah besar baginya membiarkan Sara berdiam diri selama yang ia mau. Toh, Selama wanita yang dicintainya itu senang, ia akan membiarkannya. Hanya saja untuk tahun ini, ia harus memastikan jika wanita terkasihnya ini tidak bertindak sesuatu yang mungkin bisa membahayakan dirinya dan calon bayi mereka.

"Hitori-kun" suara lembut Sara menyadarkan Hitori segera. Manik hitam gelapnya itu menatap wajah berbingkai surai merah itu bigung.

"Hm"

Sara tersenyum masih dengan mata tertutup. "Apa Hitori-kun tau apa yang aku pikirkan sekarang?"

Hening.

Hitori hanya terdiam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Sara. Ia hanya terdiam menunggu ucapan Sara selanjutnya.

"Aku membayangkan seperti apa rupa anak kita kelak" wanita itu tersenyum lembut. Terkikik geli ketika dirasakannya tendangan yang berasal dari dalam perutnya.

"Memangnya seperti apa rupa anak kita yang kau inginkan, hm?" gumam Hitori memeluk tubuh Sara erat. Jika Sara tidak ingin masuk, setidaknya ia bisa menghangatkan tubuh wanita 'bandel' itu dengan tubuhnya sendiri. Not bad.

"Aku ingin anak kembar kita sepasang. Yang laki-lakinya akan mirip sepertimu dan yang perempuannya akan mirip sepertiku. Ah, aku juga ingin anak perempuanku memiliki senyuman seperti malaikat yang bisa memberikan kebahagiaan bagi semua orang dan anak laki-lakiku yang kuat sehingga bisa melindungi saudaranya"

Hitori tersenyum lembut sembari mengamini ucapan Sara. Mengandaikan jika ia memiliki sepasang anak kembar yang akan selalu menyambutnya ketika pulang seperti yang dilakukan Sara setiap harinya. Ah, hanya membayangkannya saja sudah membuat hatinya menghangat. Ya, hangat. Setelah kehadiran malaikat kecil mereka, mereka akan menjadi sebuah keluarga kecil yang hangat dan bahagia.

….

3 tahun kemudian…

Kili kanan ku lihat saja banyak pohon cemala, a-a

Seorang gadis imut dengan dress ala bangsawan selutut berwarna putih miliknya tampak begitu asik menyanyikan lagu yang kemarin baru saja diajarkan oleh ibunya. Kakinya yang tidak sampai menyentuh lantai —mengingat umurnya yang belum 3 tahun dan ia tengah duduk di kursi kereta kuda kerajaan yang tinggi— ia gerakkan maju mundur secara bergiliran. Bibir merahnya yang mungil masih saja menyanyikan lagu kesukaannya itu sejak kereta kuda tersebut berjalan.

Di sampingnya, tampak bocah laki-laki yang bersurai merah dengan mata hitamnya menatap bocah perempuan itu bosan. Mendengus kesal sebelum akhirnya menyibukkan dirinya dengan boneka kayu yang diberikan oleh kakeknya sebagai hadiah ulangtahun keduanya dulu.

Di depannya, seorang wanita dewasa yang tampak begitu anggun dengan dress merah muda bercorak bunga yang sejak tadi menatap kegiatan kedua bocah yang ternyata kembar tersebut. Memiliki sepasang anak kembar yang begitu aktif seperti mereka merupakan anugerah yang begitu besar baginya. Butuh perjuangan yang keras untuk mendapatkan.

"Ne, Kaa-sama"

"Ya, Naruko?"

Bibir gadis itu mengerucut manis. "Apa tempatnya masih jauh?"

Sara tertawa pelan. Sepertinya gadis ciliknya sudah bosan lagi. "Sebentar lagi, sayang"

"Kaa-sama sudah mengatakannya sejak setengah jam yang lalu" protes bocah laki-laki di sampingnya. Ia juga tampaknya sudah bosan memainkan boneka kayunya. Mata hitam yang begitu mirip dengan suaminya itu menatap sebal kearahnya. Sukses, membuatnya salah tingkah. Diprotes oleh kedua anak imutmu bukan sesuatu yang menyenangkan.

Ah, ternyata ia melupakan fakta itu. Fakta dimana kedua anaknya ini jenius. Lahir dari orangtua yang dua-duanya jenius, tentu saja menjadikan mereka berdua jenius juga sehingga ia harus selalu berhati-hati dalam berbicara jika tidak ingin direpotkan dengan pertanyaan selanjutnya yang semakin membuatnya kewalahan.

"Kaa-sama benar Naruko, Sasori. Coba lihat ke samping" seorang lelaki dewasa yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga akhirnya mengeluarkan suaranya. Berniat menolong istrinya yang 'disidang' kedua anaknya.

Sontak, kedua bocah yang belum genap 3 tahun itu menoleh ke samping. Memperhatikan bangunan besar yang mirip roda tetapi versi raksasa berputar pelan dengan lampu yang menyala indah.

"Woah, Nii-sama. Lihat!"

Naruko yang baru pertama kali melihatnya terpekik senang. Mata hitamnya yang bundar —mengikuti Sara— menatap bangunan itu takjub.

"Hn" balas Sasori —kakak Naruko yang lahir 15 menit lebih awal— ambigu yang sontak mendapatkan delikan kesal dari Naruko.

"Huaa!"

Seorang gadis bersurai pirang dengan mata biru laut bundar terpekik senang. Turun dari kereta kudanya paling pertama, mendahului kakaknya yang duduk tepat di samping pintu kereta tersebut. Matanya yang bundar menatap takjub bangunan mirip roda kereta yang lebih besar ribuan kali takjub. Saking besarnya, ia dapat melihatnya dari jarak yang cukup jauh dari tempat benda itu berada.

"Nii-cama, lihat! Huaaaa. Ayo kita ke cana" gadis itu memekik cempreng, menunjuk benda besar itu senang. Meskipun kakaknya itu hanya menatapnya datar. Tidak tertarik sama sekali dengan benda besar yang berputar pelan tersebut. Bocah 10 tahun itu hanya menguap mengantuk dan lebih memilih duduk di salah satu koper bawaan mereka sembari memakan buah apel yang menjadi favoritenya itu.

"Nii-cama!" merasa tidak diperhatikan, gadis itu kembari mengeluarkan suara cemprengnya. Menghentakkan kakinya kesal sembari berlari menuju ke arahnya. Menyeret kakaknya itu keras tanpa memperdulikan delikan kesal yang dilayangkan sang kakak kepadanya.

"Lepaskan aku, baka imouto!" Kyuubi yang tidak rela ditarik-tarik bak tarik tambang akhirnya mengeluarkan suara protesnya yang langsung dibalas dengan wajah kesal adiknya itu. Menggembungkan pipinya lucu dengan mata biru bundarnya yang mulai berawan.

"Tapi Nii-chan. Nalu ingin ke cana" keukeh Naruto, masih menarik tangan kakaknya itu.

"Naruto, Kyuubi. Berhenti bermain dan kemasi barang kalian" Kedua bocah yang berbeda umur 7 tahun tersebut sontak menoleh. Menatap ibunya yang berkacak pinggang, siap kapan saja menjewer telinga mereka atau menjitak mereka penuh sayang.

"Ya, Kaa-cama/Hn" jawab mereka berbarengan, berlari cepat mengambil barang prbadi mereka sementara sang ibu tersenyum puas.

Hari ini, mereka memang tengah berlibur ke Ame Land. Taman hiburan yang baru saja dibuka sebulan yang lalu ini memang begitu tersohor, bahkan sampai ke negara Uchiha. Dan berkaitan dengan ulangtahun anaknya Kyuubi yang kesepuluh besok, mereka akhirnya memutuskan untuk berlibur ke sini.

"Kaa-san, ayo!"Kushina menoleh, menatap wajah ceria anaknya, Naruto yang tengah menenteng koper kecil berwarna orange miliknya semangat. Tertawa pelan, akhirnya Kushina mengikuti langkah anaknya menuju penginapan yang akan mereka tempati selama di Ame.

….

…..

Ne, apa kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?

Ada yang mau menebak?

Mengapa author memotong ceritanya sampai di sini?

Karena kepanjangan!

Jadi, Zie memotongnya dan menjadikan setengah dari lanjutan chapter selanjutnya!

Besok ceritanya berfokus pada Naruto dan Naruko.

Chapter sekarang bisa dikatakan cuma flashback para ortu aja…

Mengapa Naruko bermarga Akasuna, mengapa Naruto bermarga Namikaze.

Untuk yang bertanya mengapa Naruto tidak memakai marga Namikaze, Zie jelasin besok.

Kalau tanggapan kalian bagus, Zie publish 3 hari paling lambat… (author merayu dibagian ini)

See ya!

Review ne?