Hataraku Naruto-sama!

By: two-one kf

Disclaimer:

Manga Naruto itu ciptaannya Mas Masashi Kishimoto, tetangga saya yang lama... tapi bohong. Dan Highschool DxD buatannya Ichiei Ishibumi.

Sinopsis:

Naruto adalah seorang pemuda yang tidak mau merepotkan ibunya, oleh karena itu Naruto memutuskan untuk bekerja sendiri. Sayangnya, pekerjaan baru Naruto tidak seperti yang dia bayangkan.

Warning:

Shinobi!Naruto

Typo

Romance

Story start!

"Apa kau sudah mengerti, Tuan Walikota?"

Suara feminim dengan nada merendahkan menusuk telinga Naruto, dengan sedikit pandangan kesal, Naruto berkata, "Iya iya, aku mengerti kok!"

"Kalau begitu, ini apa maksudnya?"

"Eh? I – Itu…"

"Kau ini gimana sih! Masa begitu saja nggak bisa! Dasar walikota nggak becus!"

"Eh!?"

Hati kecil Naruto pun terluka.

Chapter 4

Sudah dipastikan, keseharian walikota memang tidak normal.

.

.

.

"Hm, hari ini cukup sampai situ saja. Pastikan pertemuan kita berikutnya kau sudah paham, mengerti?"

Naruto mengangguk dengan cepat begitu melihat Tsukiyo yang menatapnya dengan tampang galak dan aura-aura menakutkan yang membuatnya merinding disko. Padahal dari luar Yomiyama Tsukiyo terlihat sangat elegan dan menawan, tapi dalamnya itu membuat Naruto bergidik ngeri dan langsung teringat satu kata favorit sohibnya.

Mendokusei.

"A – aku mengerti." Naruto mengangguk cepat-cepat karena tatapan maut Tsukiyo.

"Bagus, urusan kita sudah selesai hari ini. Selamat tinggal, Tachibana." Tsukiyo masih tetap menatap mata biru Naruto dengan penuh 'perasaan' selama beberapa saat sebelum mengangguk dan memungut buku-bukunya kemudian berdiri dari sofa.

Wanita itu berjalan anggun menuju pintu keluar, sebelum Tsukiyo membuka pintunya, dia menoleh sekilas dan kembali memberi Naruto salah satu deathglare termanisnya, "Dan pastikan... pertemuan berikutnya kau bisa menjawab pertanyaanku, kalau tidak..." Tsukiyo tidak melanjutkan kalimatnya dan membiarkan suasanya jadi sunyi senyap yang membuat bulu kuduk Naruto makin asoy berjoget.

Naruto menelan ludahnya dan mengelap keringat dingin di dahinya dengan tangan gemetaran. "Y – ya Bu..."

"Ufufufu..."

Blam!

Setelah pintu kantornya ditutup dengan suara berdebam, Naruto menghela nafasnya lega. 'Gila, itu wanita benar-benar menakutkan. Rasanya aku sedikit mengerti penderitaan Fujisaki, aku jadi kasihan pada orang yang bakal jadi suaminya.'

Oh Naruto, jangan bilang seperti itu.

Kejadian awalnya begini, beberapa saat setelah Naruto duduk manis di kursi empuknya, si wanita gothic nan sadis itu muncul dari pintu kantornya tanpa permisi dan langsung menarik kerah baju Naruto lalu menyeret si walikota dan melemparkannya ke sofa yang akan menjadi saksi bisu kesadisan wanita tersebut.

Pomf!

Belum sempat Naruto memperbaiki posisinya, Yomiyama Tsukiyo sudah menjejali si walikota malang itu dengan setumpuk buku tebal ke pangkuannya. Tanpa basa-basi, Tsukiyo langsung duduk di sofa di depan Naruto, menyilangkan kaki jenjangnya dan menatap tajam Naruto.

Lalu dengan suara dinginnya, "Seorang walikota harus tahu ilmu ekonomi, kalau tidak kotanya tidak akan maju." Membuat Naruto mengangguk pasrah menerima kenyataan kalau nasibnya ada di tangan seorang Yomiyama Tsukiyo.

Akhir kata, Tsukiyo segera mengajari Naruto tentang ekonomi yang membuat kepala Naruto pusing mendengarkan penjelasan wanita gothic itu.

"Untungnya dia sudah pergi... dasar, kenapa wanita secantik dia harus sesadis itu sih? Entahlah, aku tidak akan pernah paham dengan yang namanya wanita." Kata Naruto sambil mengelus pelan pergelangan tangannya yang tadi sempat dicengkram oleh Tsukiyo.

"Hei Naruto, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Naruto agak sedikit kaget saat mendengar suara Isobu. Karena dari kesembilan Bijuu, Isobu tidak termasuk Bijuu yang sering membuka percakapan duluan karena memang pada dasarnya si mata satu itu tidak banyak bicara, biasanya yang melakukan hal itu adalah Kurama, Gyuuki dan Son. Kurama karena dia itu Jinchuuriki asliya, Gyuuki karena dia jadi rekannya saat berperang dulu, dan Son karena dia Bijuu pertama yang mempercayai Naruto setelah Kurama dan Gyuuki.

"Isobu? Maksudmu sebagai Walikota? Itu... aku juga bingung sih." Naruto menyandarkan dagunya di tangannya dan menghembuskan nafasnya pelan. "Padahal sudah beberapa hari tapi kerjaku hanya duduk disini sambil mengisi lembar kerja, aku belum memikirkan apapun..."

"Begitu? Aku bertanya karena penasaran dengan apa yang ada di pikiranmu. Sepertinya Yagura selangkah lebih dulu darimu, bahkan sejak sebelum jadi Mizukage, dia sudah membuat rencana tentang Kirigakure. Sayangnya rencananya itu tidak pernah terlaksana." Ujar Isobu kalem.

"Hei sebagai informasi, aku tidak pernah berpikir bakalan jadi seorang walikota tahu, gimana caranya aku bisa memikirkan apa yang akan kulakukan pada kota ini kalau sejak awal tidak ada pikiran untuk menjadi walikota hah?!" teriak Naruto histeris pada Isobu yang sweatdrop di dalam kepalanya karena tiba-tiba saja Naruto teriak-teriak geje.

Mungkin Naruto sudah mulai gila.

Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari dapur kantor Naruto. Rupanya suara nyaring tersebut berasal dari sebuah alat untuk menghitung mundur waktu tiga menit saat memasak ramen instan.

Naruto bergegas bangkit untuk mengambil ramen instannya yang sudah matang dan buru-buru kembali ke mejanya. "Tapi yah… sekarang aku ini seorang walikota. Mau nggak mau aku harus mulai memikirkan tentang kotaku ini. Huh, kenapa tidak terpikirkan ide bagus dari tadi sih!? Oh Dewa Ramen bantulah diriku ini! Aku perlu ide~" Naruto menepuk tangannya seraya berdoa menghadap ramen instannya itu dan begitu selesai memanjatkan doa, si Dewa Ramen sudah berada di perut Naruto.

"…Mana ada dewa yang bisa dimakan…"

Setelah menyantap habis si Dewa Ramen, Naruto bersandar puas di kursinya sambil menepuk-nepuk perutnya. Sebenarnya Naruto masih belum kenyang kalau hanya makan satu mangkuk ramen instan, biasanya Naruto perlu sekitar 30 mangkuk untuk memuaskan dirinya.

Tapi karena barusan dia cuma menemukan satu mangkuk ramen saja, Naruto harus merasa puas. Dan lagi, Naruto sudah punya rencana untuk makan ramen di sebuah kedai ternama di Kuoh, kedai yang menjadi tempat favorit Naruto setelah Kedai Ramen Ichiraku.

Ngomong-ngomong, Naruto sempat depresi selama beberapa minggu begitu tahu tidak ada yang namanya Ichiraku Ramen di dunia barunya.

Naruto memejamkan matanya santai menikmati semilir angin yang masuk dari satu baris jendela di belakangnya. Setelah makan semangkuk ramen dan memikirkan tentang makanan favoritnya itu, Naruto merasa pikirannya menjadi sangat jernih sejernih kuah ramen. Hah?

Baru beberapa detik Naruto memejamkan matanya...

Think!

Tiba-tiba bohlam di atas Naruto menyala.

"AHA! I've got an idea! Kuroka bilang dia datang kemari karena suka dengan pemandanganya kan?! Kalau begitu gampang! Tinggal buat kota ini semakin hijau dan orang-orang akan berdatangan! Haha aku jenius!"

Naruto mengangguk puas dengan hasil pemikirannya yang tiba-tiba datang nyelonong nggak diundang.

"AHAHAHAHAHA!"

"...Yang dia makan itu... cuma ramen kan?"

"Entahlah, dia sudah nggak makan ramen sebulan..."

"…Ah, semuanya jadi masuk akal…"

-Hataraku Naruto-sama!-

Setelah keluar kantor dengan tawa gejenya, Naruto pergi ngeluyur ke salah satu taman yang ada di Kuoh. Naruto yang baru makan ramen setelah puasa ramen sebulan langsung berpendapat kalau penyebab sedikitnya turis di kotanya adalah karena tamannya. Walaupun ada banyak lahan hijau di kota ini, tapi lahan-lahan itu belum teratur dengan rapi.

Dengan ekspresi bahagia seperti orang mabok, Naruto segera jongkok di depan sebuah pot bunga raksasa dan menulis sesuatu di buku kecilnya sambil memperhatikan tanaman di depannya. Si Walikota melakukan pekerjaannya dengan ceria sambil menyenandungkan sebuah lagu ciptaannya sendiri yang masih belum keluar singlenya.

"Ketika seseorang sendirian~ mereka tidak punya teman~ untuk mengarungi dunia impian~ yang penuh dengan rintangan~ yeah lalala~" senandung Naruto dengan suara mantap bin okehnya yang menarik berbagai perhatian dari orang-orang yang lewat.

Sementara itu di sisi lain taman, seorang pria berjas yang terlihat familiar sedang beristirahat di salah satu bangku yang tersedia, dia sedang memilah-milah beberapa tumpukan kertas sebelum telinganya menangkap suara mantap Naruto. 'Oh my god! Dia benar-benar berbakat! Rupanya benar, aku harus merekrutnya nanti.' Batin orang itu dengan anggukan mantap setelah melihat sosok Naruto.

Ternyata dia si produser yang nongol di chapter satu.

Kembali pada si Walikota, Naruto yang masih asyik bersenandung itu dikagetkan dengan suara tepuk tangan yang terdengar dari belakangnya. Kontan saja, Naruto menghentikan aktivitasnya dan menengok untuk mencari tahu siapa yang bertepuk tangan.

Begitu dia menengok, dia sudah disuguhi pemandangan indah.

Seorang gadis muda dengan rambut biru tua yang panjangnya sampai ke punggungnya berdiri di belakang Naruto sambil menyunggingkan senyum manis padanya. Dia memakai sebuah baju putih berkerah dibalik sebuah sweater biru muda yang menurut Naruto terlihat sangat cocok dengan rambutnya, gadis tersebut juga memakai sebuah celana panjang abu-abu dan sepasang sepatu hitam.

Naruto kenal baik dengan gadis muda itu, sang Walikota bertemu dengannya saat berumur empat belas tahun, kira-kira tiga tahun yang lalu di sebuah bukit saat gadis tersebut sedang berlatih. Pendek cerita, Naruto dengan sifatnya itu (reader sudah pasti tahu) langsung berteman baik dengannya.

"Pagi." Sapa wanita muda itu singkat.

Naruto mengangguk dan bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk celananya, membersihkannya dari butiran debu. "Yo, cuaca yang indah ya?" ujar Naruto berbasa-basi dengan gadis itu.

"Ya, karena itu aku memutuskan untuk jalan-jalan. Tapi memang yah, beberapa orang sangat bersemangat sampai bersenandung ria, aku suka lagunya lho, fufu." Kata gadis itu dengan senyuman usil yang ditujukan untuk Naruto.

Naruto menggaruk pipinya tersipu, "Ahahaha, habisnya karena sering melihatmu berlatih, entah kenapa jadi mau coba menyanyi, hasilnya jelek yah? Suaraku ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan suaramu yang merdu itu, Chihaya."

Kali ini giliran gadis bernama Chihaya yang tersipu malu karena pujian tidak langsung dan senyum lima jari dari Naruto. Chihaya menggeser pandangannya sedikit agar Naruto tidak melihat pipinya yang memanas, dengan sedikit gugup Chihaya bertanya, "Ja – jadi, apa yang sedang kamu lakukan disini, Naruto?"

"Oh soal itu, aku sedang melihat-lihat taman disini, semenjak dilantik kemarin, aku jadi sering kebingungan memikirkan tugasku. Akhirnya ini deh, yang kulakukan pertama kali. Mengecek kondisi taman dan pepohonan." Jawab Naruto sambil menghela nafas pelan. "Dasar orang-orang merepotkan, bisa-bisanya menunjukku tanpa persetujuan dariku." Cibir Naruto yang sebenarnya masih agak kesal dengan orang-orang pemilik kekuasaan yang seenaknya mengangkatnya jadi pimpinan.

Chihaya tertawa geli melihat tingkah Naruto yang menurutnya malah membuat si pemuda pirang terlihat imut. "Itu artinya mereka percaya padamu tahu. Bangga sedikit dong, jarang sekali lho ada orang seusiamu yang punya pekerjaan sepertimu."

"Disitu poinnya, bukannya malah aneh kalau ada banyak orang yang punya pekerjaan seperti ini di usia muda?"

"Jadi apa kamu akan menyerah begitu saja?"

"Ha! Hari saat aku menyerah adalah hari saat aku tidak suka ramen! Yang artinya tidak akan pernah! Aku sudah bilang beberapa hari yang lalu, kalau aku akan mengembalikan kepercayaan kalian semua dengan membuat kota ini semakin berkembang, kalau bisa sampai selevel dengan Tokyo. Oh ya, kau bilang tadi sedang jalan-jalan kan? Boleh ikut? Sekalian ngecek tempat-tempat yang akan kuperiksa, disini terus benar-benar membosankan." Tanya Naruto dengan mata berharap pada Chihaya, si gadis berambut biru tua itu sweatdrop melihat sikap si walikota barunya.

"Eh, iya boleh kok."

|Skip...|

Klontang!

"Huh, dasar… siapa yang membuang sampah disini?" ujar Naruto sambil membungkuk dan memungut kaleng softdrink yang tidak sengaja ditendangnya. Naruto memutar kepalanya mencari tempat sampah non-organik terdekat dan menemukannya ada di samping sebuah bangku sekitar lima meter darinya.

Naruto dengan santai dan tanpa melihat langsung melempar kaleng kosong itu ke dalam tempat sampah.

Swiiiiing~

Klontang

Chihaya takjub melihat lemparan Naruto masuk dengan jitu. "Hebat! Bagaimana kamu bisa melakukannya, Naruto?" tanyanya penasaran.

Naruto hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya, "Cuma sedikit latihan dan keberuntungan." Jawabnya penuh misteri.

Chihaya menghela nafasnya pelan karena sikap temannya yang suka sok misterius. Tapi kelakuan Naruto itu tidak membuatnya jengkel dan malah menimbulkan senyuman kecil di wajah cantiknya.

"Masih banyak juga ya, yang membuang sampah sembarangan. Apa perlu kutambah jumlah tempat sampahnya ya?" gumam Naruto sambil memperhatikan sekitarnya dan membuat catatan di pikirannya untuk menambah tempat sampah.

"Ng?"

Naruto terbangun dari lamunannya saat dia merasakan benda halus yang membelai kakinya, begitu dia melihat ke bawah Naruto menemukan seekor kucing hitam kecil yang sedang mengelus-elus badannya ke kaki Naruto sambil mendengkur pelan.

Naruto berjongkok dan memungut si kucing dengan menjepit tengkuknya dan mengangkatnya di depan matanya, "Oh kau yang waktu itu kan? Apa yang dilakukan kucing kecil sepertimu disini? Mau cari makan?" tanya Naruto pada hewan mungil itu yang sudah pasti tidak mengerti pertanyaanya.

"Hei Chihaya, mau istirahat sebentar? Disana ada bangku." Tanya Naruto sambil menunjuk sebuah bangku di bawah pohon rindang yang ada di ujung jalan dekat sebuah stan Takoyaki. "Mau sekalian kutraktir Takoyaki?"

.

.

.

"Aku tidak tahu kalau kau suka kucing, Chihaya."

Naruto yang duduk di bangku memperhatikan Chihaya yang berjongkok dan memberi kucing hitam itu sebuah Takoyaki. Chihaya bernyanyi kecil sambil mengelus-elus bulu lembut kucing itu, yang membalasnya dengan dengkuran senang.

"Sebenarnya aku juga tidak terlalu suka kucing. Sepertinya aku tertular adikku yang sangat menyukai hewan imut ini." Jawab Chihaya sambil tertawa kecil.

Naruto terdiam mendengar jawaban Chihaya, mata birunya menatap lekat-lekat sosok Chihaya yang masih bermain-main dengan si kucing sebelum Naruto menyunggingkan sebuah senyuman. '…Heh, tak kusangka bisa melihat senyuman sepolos itu… Yah, sekarang sudah jadi tugasku kan.'

.

.

'Aku akan melindungi senyuman itu.'

-Hataraku Naruto-sama!-

Beberapa hari kemudian...

"Jadi ada perlu apa kau dengan benda ini?"

"Hm? Aku memerlukannya untuk menjalankan rencanaku."

"Oh! Akhirnya kau bertindak ya, aku kira kau tidak akan melakukan apapun selain mengisi kertas-kertas membosankan itu selama sebulan. Sepertinya aku salah nih." Ucap sebuah suara humoris yang disambut dengan deathglare dari yang diajak bicara.

"Hmph, aku hanya mencari waktu yang tepat. Waktu yang tepat."

"Aku kurang yakin, soalnya kau terlihat bodoh..."

"Lucu mendengarnya dari orang yang pantatnya ditendang wanita tua..."

"Apa kau—"

Klotak!

"Ini pesananmu." Sebuah suara datar menyela sebelum dua orang itu sempat berkelahi, satu orang pria muda berambut pirang perhatiannya langsung teralihkan saat mencium aroma makanan dalam mangkuk yang dihidangkan di depannya oleh pemilik suara datar barusan.

Sementara itu, pria satunya mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menghembuskan nafasnya, "Ah iya maaf, aku hampir lepas kendali dan menghajar walikota kita."

"Menghajarku? Seharusnya aku yang bilang seperti itu Fujisaki." Balas Naruto tak mau kalah.

"Kalau kau bertarung disini, aku tidak akan pernah memasakkan ramen untukmu lagi, Naruto."

"Barusan aku bilang apa ya?" Naruto langsung pura-pura bego begitu diancam oleh si pembuat ramen.

"Hah, begitu saja langsung ciut nyalimu."

"Dan kau, akan kuberitahu Nona Yomiyama kalau kau berusaha ngintip di onsen tadi sore."

"Aahaha langit malam ini indah ya?" Fujisaki Sannosuke langsung mengikuti Naruto dan bersiul polos sambil sedikit bergidik. Dia masih ingat rasa sakit saat Tsukiyo menghajar pantatnya dengan high heelnya tiap kali dia membuat si wanita gothic emosi.

Pria pembuat ramen mengangguk dan kembali ke dapur untuk memasak. "Hei Matsuda! Pesanan meja sembilan mana!?" teriaknya pada seorang pria berumur kira-kira 25 tahunan yang sedang membawa sebuah nampan dengan beberapa hidangan di atasnya.

"Sudah siap Tsukasa! Akan segera kubawa ke meja!" sahut Matsuda pada rekannya sekaligus pemilik rumah makan ini.

"Hei Tsukasa, tempatmu ini selalu ramai seperti biasa yah." Kata Naruto tiba-tiba di sela-sela makannya. Tsukasa menoleh, "Tentu saja, tempat ini sudah seperti surga bagi kami. Tidak akan kubiarkan tempat ini sepi pelanggan selama aku masih memasak disini." Balas Tsukasa yang walaupun mengobrol dengan Naruto tapi masih mampu memasak dengan handal.

Rumah makan ini adalah sebuah warisan dari orang tua Tsukasa. Mereka berdua mewariskannya pada putra mereka begitu dia lulus dari sebuah perguruan memasak ternama, yang akhirnya Tsukasa manfaatkan bersama dengan teman-teman seperguruan untuk mencari uang. Pada dasarnya mereka seperti Circle (grup) yang menjual Doujinshi.

Tsukasa yang jadi ahli waris pun menjadi pimpinan mereka sama seperti saat mereka di perguruan, teman-temannya tidak ada masalah dengan hal itu karena mereka percaya dengan kemampuan kepemimpinan Tsukasa dan karena sudah sering bekerja sebagai satu tim di perguruan.

"Ngomong-ngomong Naruto, kau mau pesan berapa mangkuk lagi?" tanya Tsukasa sambil melanjutkan aktivitasnya.

"Slurrp~ ah! Bawakan aku tujuh mangkuk lagi." Naruto mengelap mulutnya dengan serbet setelah menenggak habis kuah di mangkuknya. Sementara di sampingnya, Sano jawdrop melihat Naruto menghabiskan ramennya dalam hitungan detik, dia saja masih belum habis menghabiskan setengahnya.

"Ba – bagaimana bisa?..."

"Baiklah." Balas Tsukasa datar tidak seperti Sano yang terlihat sangat shock! Dia sudah tidak aneh dengan pesanan si rambut pirang yang selalu berjumlah dua digit, walaupun pada awalnya dia juga tidak percaya sih.

Lalu pintu rumah makan terbuka dan seorang pria muda berbaju putih bercelana hitam berjalan masuk. Pria itu berhenti sebentar untuk mencari tempat duduk sebelum pandangannya jatuh di dekat meja counter, tepat dimana sosok orang yang familiar dengannya sedang makan.

"Yo~ Naru – Geh!"

"Ng? Ada apa dengan 'Geh!' barusan?" tanya Naruto saat dia menoleh.

"...Menara mangkuk itu... kau yang menghabiskannya?" orang itu malah balas bertanya sambil menunjuk tumpukan mangkuk yang tingginya sudah melebihi tinggi Naruto saat sedang duduk.

"Uwah! Sejak kapan ada tumpukan mangkuk disitu!?" ujar Sano yang ternyata baru sadar kalau ada tumpukan mangkuk setinggi itu di samping Naruto.

Naruto menaruh mangkuk yang baru saja dia selesaikan di tumpukan teratas sambil memberi pandangan aneh pada dua pria yang masih shock tersebut, "Kalian kenapa sih? Seperti tidak pernah melihat orang makan 10 mangkuk ramen saja."

'Memang belum pernah tahu!' batin Sano dan si satpam berbarengan.

Sementara itu, Naruto langsung ngacangin dua orang tersebut dan kembali menunggu dengan tidak sabar pesanan selanjutnya.

Si Satpam menghela nafasnya dan duduk di sebuah kursi kosong di samping Sano. Si Satpam yang memang belum kenal dengan Sano pun segera memperkenalkan diri. "Yo, kita belum pernah bertemu sebelumnya kan? Perkenalkan, namaku Satpam." Ujar si Satpam sambil menunjuk nametag di dadanya yang bertuliskan "S. Satpam."

Sano sweatdrop membaca nama si Satpam. "Ah, namaku Fujisaki Sannosuke. Panggil saja Sano." Ucap Sano ramah sambil mengulurkan tangannya, Si Satpam pun segera bersalaman dengan si dewan tetua.

"Jadi, ada perlu apa kau denganku?" tanya Naruto pada si Satpam.

"Nggak ada kok, aku memang kadang-kadang makan disini dan kebetulan saja hari ini aku bertemu denganmu. Jadi, aku cuma menyapamu." Jawab si Satpam sambil melihat-lihat menu yang ditawarkan oleh seorang pelayan imut. "Aku pesan Udon saja."

Si pelayan imut tersebut segera menulis pesanan si Satpam di buku catatannya, lalu mengangguk kecil sambil menggumamkan 'Tolong tunggu sebentar' sebelum pergi ke dapur untuk memberitahu Tsukasa.

Si Satpam bersiul pelan sambil memperhatikan pinggul si pelayan imut yang bergoyang pelan, "Wow, dia benar-benar imut kan?" katanya tanpa rasa malu sedikitpun. Sano yang duduk di sampingnya mengiyakan, "Ya, ditambah lagi dia terlihat sangat lemah lembut."

BLETAK!

"Aduh! Hei, kenapa kau memukulku!" teriak seorang pria koki berkacamata hitam yang menarik perhatian beberapa pelanggan.

"Jangan menggoda pelanggan, Yoshii." Balas si Pelayan imut yang dimaksud datar, seolah-olah dia tadi tidak memukul Yoshii dengan nampan di tangannya.

"Boleh dong, aku tidak mengganggu mereka kan?"

"Yang kau goda itu pelanggan cowok tahu." Ujar Si Pelayan imut sambil menunjuk pada seorang remaja yang berkeringat dingin karena baru saja digoda oleh seorang pria yang lebih tua darinya. Itu bukan pengalaman yang mengenakkan.

"...Apa?" jawaban yang sangat cerdas keluar dari mulut Yoshii. Pria berkacamata itu menurunkan kacamatanya sedikit dan memicingkan matanya ke arah pelanggan yang baru saja dia goda itu. "…Kemana cewek yang disampingmu tadi?"

"..."

Duagh!

Si Pelayan imut itu kembali berjalan ke dapur setelah menendang betis Yoshii dengan hak sepatunya, yang membuat pria berkacamata itu meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. "Adu – duh! Yuki-chan! Sakit tahu!" umpatnya sambil lompat-lompat.

Wooosh~

Bletak!

Sebuah nampan bundar melesat mengenai kepala si Koki yang membuatnya terjatuh dengan kepala berasap. Tapi entah kenapa, selain kepala berasap tidak ada luka yang berarti sama sekali.

"Kembali bekerja, dan jangan panggil aku Yuki-chan!" ujar si Pelayan imut itu dingin sambil memungut nampan mautnya dan memberi deathglare pada para pelanggan yang menonton, "Apa?" satu kata pertanyaan yang keluar dari mulutnya langsung membuat para pelanggan melanjutkan acara makan mereka sambil berkeringat dingin.

"Lemah lembut ya?" ujar Naruto deadpanned, sepertinya para pengunjung juga berbagi pemikiran yang sama dengan Naruto.

"…"

"..."

Detik itu pula, Si Satpam dan Sano memutuskan untuk menarik kembali ucapan mereka.

Beberapa menit kemudian pesanan si Satpam datang, begitu juga dengan tujuh mangkuk Miso Ramen yang Naruto pesan. Mereka bertiga pun menikmati pesanan mereka masing-masing dengan penuh khidmat.

Setelah itu, mereka memesan minuman untuk sekedar mengobrol.

Sementara si Satpam dan Sano sedang asyik mengobrol, Naruto membuka benda yang dimintanya dari Sano, benda tersebut ternyata adalah sebua peta Kuoh yang paling akurat. Mata biru Naruto segera menelaah isi peta selama beberapa saat lalu mengangguk dan memberi sebuah tanda X di beberapa tempat.

"Hei Naruto, aku masih belum tahu apa yang kau inginkan dengan peta tersebut." Ujar Sano tiba-tiba yang membuat Naruto menoleh ke arahnya.

"Lihat tempat yang kuberi tanda ini?" tanya Naruto sambil menunjuk satu tanda X.

Si satpam yang memperhatikan langsung menjawab, "Itu lahan kosong kan? Memangnya kenapa, apa kau bermaksud menggunakannya untuk sesuatu?"

Naruto mengangguk, "Ya, aku berencana menaikkan pamor Kuoh di mata para turis. Secara logika, tempat yang indah pasti banyak yang mengunjunginya kan? Jadi aku akan memanfaatkan beberapa lahan kosong tersebut untuk dijadikan taman. Dan taman yang paling besar akan kutaruh tepat disamping alun-alun." Ujar Naruto sambil menunjuk sebuah tanda X disamping sebuah gambar besar yang berbentuk persegi empat.

Sano memegangi dagunya sambil memikirkan ide Naruto, sebagai salah satu dewan tetua, sudah jadi tugasnya untuk memikirkan baik-baik ide sang walikota sebelum menyetujuinya. "…Hm, itu ide bagus. Oke, aku meyetujuinya."

"Ide tentang taman bunga itu memang sejak awal pasti menarik minat para wanita, dan mengetahui sifat tipikal Kaum Hawa, mereka pasti akan menyeret pacar atau pasangannya masing-masing tanpa peduli mereka mau atau tidak, jadi yang datang akan lebih banyak. Pemikiranmu benar-benar licik Naruto." Lanjut Sano sambil menyeruput teh panas yang sudah dicemplungi Sano dengan es batu.

"Dan para jomblo juga akan berdatangan untuk mencuci mata." Tambah si Satpam sambil menenggak segelas jus. "Bakal lebih bagus kalau kau bisa tambahkan Wi-fi, Naruto. Anak-anak muda jaman sekarang jelas menyukainya."

"Bisa diatur, yang penting pembuatan tamannya sudah disetujui. Ngomong-ngomong, apa kita perlu meminta persetujuan Yomiyama-san dan Tategami-san?" tanya Naruto setelah membuat sebuah catatan untuk taman kotanya di peta.

"Kurasa Amano sudah pasti setuju, dia suka bonsai kau tahu? Kalau Tsukiyo sih, entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran wanita sadis itu."

Naruto memejamkan matanya sambil berpikir sekaligus mencerna kalimat Sano. "Hmm… apa wanita sadis itu tidak suka bunga? Pasti ada satu kan, bunga yang disukainya." Tanya Naruto yakin, karena sesadis apapun seorang wanita, pasti suka bunga kan?

Sano terdiam sebentar untuk menjawab pertanyaan Naruto, setelah memutar otak agak lama untuk mengingat bunga kesukaan si wanita sadis yang melegenda itu, akhirnya Sano teringat juga. "Ah! Seingatku dia suka sekali dengan Belladona, dia punya banyak di kamarnya. Sampai-sampai dia pernah membuatkanku secangkir teh dari bunga itu. Sampai sekarang, aku tidak pernah menyangka kalau Tsukiyo yang sadis bisa sebaik itu."

"BRUUUUSSSSHHHHH!"

"Sayangnya, sebelum aku sempat meminumnya, seekor cicak jatuh ke dalam cangkir dan mati seketika, sepertinya dia mati kepanasan. Jadi, tehnya terpaksa kubuang deh." Lanjut Sano sambil menghela nafasnya kecewa tidak memperhatikan Naruto yang baru saja menyemburkan minumannya.

"Dia itu berniat membunuhmu tahu!"

"Ah tidak mungkin, Tsukiyo memang sadis, tapi nggak mungkin sampai mau membunuhku kan?" sanggah Sano sambil mengibas-ngibaskan tangannya tidak setuju dengan kata-kata Naruto.

"Belladona itu bunga beracun! Semua bagian bunga itu berbahanya, sangat fatal bagi anak-anak! Kalau kau meminumnya, mungkin kau sudah seperti cicak itu sekarang."

"EHHHHH!?" teriak Sano histeris. "Ja – jadi, cicak itu mati bukan karena kepanasan? Tapi karena meminum… teh itu?" tanya Sano takut.

"Sepertinya… Aku pernah membaca tentang bunga itu di perpus."

Jawaban Naruto langsung membuat Sano shock berat, si pria kebanyakan gaya itu benar-benar tidak pecaya kalau Yomiyama Tsukiyo penah melakukan percobaan pembunuhan padanya. Detik itu juga, Sano memutuskan untuk tidak akan pernah dekat-dekat dengan bunga merah beracun itu dan berhati-hati kalau satu ruangan dengan wanita bermarga Yomiyama.

Oh, tidak lupa, Sano juga mendoakan agar arwah cicak yang menggantikannya tenang di alam sana.

Tiba-tiba saja si Satpam merasa punya ide cemerlang, "Hei Naruto, aku punya ide." Ujarnya bersemangat menarik perhatian Naruto.

"Apa?"

"Kau tahu vending machine kan?"

"Ya kenapa?" tanya Naruto lagi. Kali ini makin penasaran.

"Bagaimana kalau kau memasang vending machine yang menjual majalah de—"

"Ditolak."

"Hei aku belum selesai bicara!"

"Ya dan aku sudah tahu apa yang akan kau ucapkan." Ucap Naruto deadpanned, selama beberapa hari ini, Naruto makin mengenal satpam satu ini. Ternyata dia nggak ada bedanya dengan remaja berambut cokelat yang selalu meneriakkan obsesinya terhadap oppai.

"Apa kau tahu betapa susahnya aku mendapatkan SUPER MILKY-NYAN edisi khusus ini!?" tanya si Satpam sambil mengayun-ayunkan sebuah majalah yang tidak dipedulikan oleh Naruto. "Aku harus keluar kota untuk mendapatkannya tahu, belum lagi aku harus mengantri! Kalau ada vending machine seperti itu disini, aku bakal terbantu banget, nggak perlu susah-susah!"

"Ya itu sih masalahmu." Jawab Naruto santai.

Sebelum si Satpam sempat membalas, majalah yang dipamerkannya diambil oleh Sano. Kontan saja, si Satpam langsung menoleh ke arahnya dan hendak mengambil lagi majalah berharganya sebelum dia melihat sorot mata Sano yang penuh ketertarikan.

"Darimana kau dapati ini!?" tanya Sano penuh semangat.

Si Satpam sempat tercengang beberapa saat sebelum membalasnya dengan penuh semangat juga. "Heh, kemarin aku mengantri berjam-jam untuk mendapatkannya, bahkan sampai sekarang pun majalah itu belum kubaca. Aku menunggu waktu yang tepat." Ujar si Satpam dengan bangga.

"Wow! Kudengar Milky-nyan akan berpose spesial dalam majalah ini!"

"Iya kan! Makanya aku rela mengantri lama demi mendapatkannya!"

"Ooh! Datanglah ke tempatku! Aku punya banyak yang seperti ini! Ada edisi nomor 16 yang katanya sudah tidak dijual lagi di brankasku!"

"Benarkah!? Kalau gitu, gimana kalau setelah ini kita ke tempatmu dan menikmati majalah ini sama-sama, kurasa ini adalah waktu yang tepat yang sudah kutunggu-tunggu! Aku juga akan membawa koleksiku!" usul si Satpam ceria.

Sano langsung mengangguk setuju dan menjulurkan tangannya yang kemudian langsung digenggam erat oleh si Satpam. Mereka berdua sama-sama punya seringai mesum di wajah mereka. "Senang bekenalan denganmu, my friend!" ujar mereka bersamaan.

INSTANT BEST FRIEND!

Malam itu, dua lelaki yang awalnya tidak saling kenal langsung menjadi sahabat karib karena sebuah majalah.

Yah, mungkin itulah salah satu manfaat dari majalah seperti itu. Yaitu untuk mempererat hubungan pertemanan para pria.

"…"

"…"

"…Tsukasa?"

"…Ya?"

"Aku tidak mengenal mereka…"

"Ah, begitu? Aku juga…"

Dan setelah itu, si Walikota muda dan si Koki muda memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenal mereka berdua.

|Tebece|

Sepatah dua patah kata Author…

Maaf, sudah hampir empat bulan lebih Author nggak update fic, karena banyak hal terutama kegiatan organisasi Author di RL, membuat waktu Author banyak yang tersita ditambah lagi dengan banyaknya tugas dari guru…

Harap maklum ya…

.

.

.

Yak, Sudah jelas siapa nama satpam tercinta kita! Namanya adalahh~

Security Satpam.

Yap, setelah sekian lama author mencari karakter anime yang punya kriteria hampir sama dengan satpam satu ini… ternyata nggak ada.

Yowes lah, jadi OC deh.

Anyway, sudah chapter 4 tapi masih belum ada adegan berantem, memang sih Author mau fokus ke permasalahan pertama yaitu mengatur kota. Di setting cerita ini, aturan dasar sudah ada, jadi tugas Naruto gampang-gampang susah.

Seperti menaikkan pamor Kuoh.

Dan yang paling penting adalah masalah anggota organisasi Naruto. Author sudah ada dua kandidat yang masing-masing merangkap jadi Sekretaris dan Wakil. Yang sekretaris kayaknya sudah bisa ditebak, iya kan? Dan wakilnya nanti bukan dari karakter DxD. Seorang manusia yang cukup badass bagi Author.

Oke saatnya balas review.

Hyuuhi Ga Ara : Hmm… itu, Yuri-chan dengan Author.

Cr4zyfic : Sulit, selama Author nggak sibuk sama urusan sekolah.

Awim Saluja : Don't worry, ganbarimasu!

Senju D Luffy : Iya, karena jujur saja, Author bosen dengan kebanyakan Author lain yang lansung main pairing NarutoxRias, baru ketemu jadi budak… membosankan. Tapi, yah, Naruto tetap akan ketemu dengannya setelah dia tahu eksistensi mereka.

Joe the polite flamer : Namanya, Security Satpam, umur 27 tahun, status single, sedikit agak mesum.

Dragfilia hasnah : Entahlah, kalaupun iya nggak bakal masukin pairing mainstream.

OnixDragon : Thanks, jangan khawatir nanti juga ketemu kok, dibawa santai aja, kalau perlu banyak baca cerita fiksi biar mantap. Soal bawahan Naruto sudah ada orangnya, tinggal tunggu kapan munculnya. Kalau 9 Bijuu pakai kagebunshin takutnya jadi OP.

TheFourtySeventh : Sudah, ternyata nggak ketemu nyari yang sama karakteristiknya.

UnderClothes : Dibaca semua kok, yah terima kasih sarannya, bakal diusahain. Konflik dengan fraksi lain agak lama, tapi bentrokan dengan Naruto nantinya adalah Fraksi Iblis.

Sage Akagami : Chapter lima ketemu lagi.

Sederhana : Yee, nggak bisa gitu.

Castiel Archangel : Ada dong, tapi ini masih Arc damai. Belum muncul konfliknya.

: Bagus! Author nggak perlu susah-susah cari Goku lagi.

20th Ward Eyepatch : Bisa. Pasti bisa.

Rahmatz : Ah, bisa saja. Masih ada yang lebih baik dari Author kok.

Mudiantoro : Belum saatnya, bersabarlah menunggu.

: okeh.

Uzumaki akbar 51 : Rencananya dia naik pangkat jadi Kepala Kesatpaman Kuoh (?)

Namikaze Ichza : Rata-rata panjang fic sekitar 4000-5000

Emozonic : Author kena WB dan setelah Author pikir-pikir, ada bebepara kesalahan. Jadi, bakal di rewrite, untung masih chapter awal.

Yuuki hatsu : Kuroka itu Nekoshou, biar ada konfliknya.

KonohaNoHIkari : Sudah jadi OC nih, resmi sekarang. Soal Otonashi, kan Author sudah tulis, setiap karakter yang muncul punya alasan. Jadi, Otonashi sudah punya peran sendiri nanti.

Uzumaki Akagami : Heh, Author sudah kepikiran soal itu sejak chapter satu. Dan jangan khawatir, pertarungan Naruto dkk melawan para fraksi gaib itu bakal epic dah!

The silent reader : Sorry, sudah dibenerin. Soalnya Author ngantuk, jadi nggak sadar.

Ryoko : Sip bisa diatur.

Asuka Ryu : Senang berkenalan denganmu, untuk masalah POV masih belum ya? Oke, bisa diperbaiki. Humor? Bisa nambah. Soal pertarungan, belum muncul untuk chapter-chapter awal.

InmaGination : Yup, nanti Naruto akan mulai curiga.

Rifky-F : Makanya Author memutuskan untuk bikin fic sendiri, habis isi fandom xover NarutoDxD kebanyakan sama settingnya, ketemu Rias dan jatuh cinta, membosankan.

Oh dan, mungkin Author nggak akan update selama dua minggunan, Author sedang ada ujian senin depan.

Stay tune~

two-one kf out!