A/N: Begitu selesai ulangan Naka langsung melesat buka laptop ini ^^ ok, langsung aja~ Chap tergaje di sekuel ini!
To:
NanaMithrEe: Terimakasih atas reviewnya. Naru-chan kayaknya nanti kenapa-napa deh. Tapi gak tau juga ya… hehehe, baca aja deh kelanjutannya.
Chielasu88: Terimakasih atas reviewnya. Kalo penyakit biasa untuk apa dibuat hurt genrenya? SasuNaru gak bakalan cerai, kok. Tenang aja. Naka bakal selalu buat happy ending kalo multichap.
Ashahi Kagari-Kun: Terimakasih atas reviewnya. Iya… Kaka rempong banget di sini. Bikin ilfeel. Kok tau chap ini bakal dibuat lebih menegangkan?
Amane Rara 'Misa-Chan: Terimakasih atas reviewnya. Iya, emang pendek kayak authornya*ngaku* Apakah Naka hiatus terlalu lama? Gak kan:D*masang wajah se-innocent mungkin* Gomen chap kemarin kurang bagus.
sasunaru4ever: Terimakasih banyak atas reviewnya. Hiks… Naka jadi terharu. Beneran ngikutin dan review setiap chap, ya ternyata. Makasih banyak. Bener-bener seneng aku.
meiyo fujo: Terimakasih atas reviewnya. Amin, moga aja ya. Naru gak bakal mati, Naka janji buat happy ending di tiap mutichap Naka.
naru3: Terimakasih atas reviewnya. Sasu(HARUS) nerima Naru apa adanya.
Sayuri Kitazawa: Terimakasih banyak reviewnya. Tau tuh, sok pahlawan amat*dor* Nasib anaknya yaaaa…. Gitu deh. Iya, ulangan emang tanggal 12an, tugas sebelum ulangan ini membludak amat! Serasa diteror sama tugas makala-makala ini -_-
Hara-namii: Makasih reviewnya juga cuy*ketuleran virus dinda* Kakashi kan emang lebeh!*dibunuh dinda*
NatsU HarukA: Terimakasih atas reviewnya. Akhirnya ada juga yang suka liat Kakashi yang rempong itu *sujud nyampe benjol* Sasu jadi kok ngutak-atik gen-nya.
Miyako Shirayuki Phantomphive: Terimakasih banyak reviewnya Nee-chan ^^Naka sengaja buat chara pov semua. Soalnya gaya penulisan Naka emang gitu. Biar lebih nyaman aja. Ano… IFA itu apa Nee-chan? *sumpah, kagak tau beneran* apa IFA itu sejenis fandom?*gubrak*Mohon pencerahannya*?*
Aoi Ko Mamoru: Terimakasih atas reviewnya. Ini udah diupdate, semoga bisa ngobatin penasarannya.
Yashina Uzumaki: Makasih banyak reviewnya. Naka jadi terharu, soalnya Yas selalu review cerita Naka^^ Makasih banyak. Eh, jangan salah! Kiba juga salah satu orang penting di fic ini. Sasuke mau ngutak-atik syaraf tubuhnya sendiri biar bisa ngelindungin Naru. Dia mau buat dirinya kayak mesin pendeteksi epilepsy. Jadi, kalo Naru mau terserang penyakit itu, Sasu langsung ngerasa gelisah.
(no name): Aduh… Gomen kalo fic Naka pake chara Naruto, bukan Naruko -_- udah terlanjur dinamain Naruto sih… ntar lain kali kalo Naka buat femNaru, Naka buat charanya 'Naruko' deh… Makasih atas kritik dan sarannya ^^
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Speciel Request: my lovely readers *halah*
Sekuel by: Demi Neechan
Story by: shiho Nakahara
Pairing: SasuFemNaru
KibaIno
KyuuKa
Warning: FemNaru, cerita gaje, lebay, dan seperti biasa TYPO BERTEBARAN, bahasa rancuh dan agak kasar. Siapin kantong plastik kalo baca ini chap _-_ takutnya nanti mual.
Summary: Aku menyayangi Sasuke. Tapi, dengan kondisi tubuh yang seperti ini… perlahan-lahan aku harus menjauh darinya karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Namun, cinta tetaplah cinta, tak ada yang bisa mengubahnya.
Selalu Bersamamu
Suasana senja itu begitu berbeda di kediaman Namikaze sulung dari hari-hari sebelumnya yang tenang. Aura ketegangan menyelimuti hingga sudut rumah itu. Terlihat jelas dari garis wajah setiap manusia yang berada di dalamnya. Menunggu dengan cemas keadaan Namikaze bungsu yang kini telah berganti marga menjadi Uchiha itu sadar dari mimpi buruknya.
Kakashi terus-menerus melakukan pertolongan dibantu dengan Kyuubi dan Sasuke. Kiba dan Ino menunggu dengan cemas di balik daun pintu bewarna putih itu. Kara sibuk mondar-mandir menunggu kabar selanjutnya sesekali bergumam kecil berharap keadaan adik iparnya itu segera membaik. Nami, Natsu dan Ai tetap bermain dengan ceria di kamar milik Namikaze junior itu. Seolah tak terjadi apa-apa.
.
Sasuke's Pov:
"Kurasa, penyakit itu membuat syarafnya tertarik dan berkumpul di daerah perutnya. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Jika penyakit itu kembali menyerangnya, mungkin saja syaraf-syaraf itu bisa putus dan menyebabkan…" Kakashi sengaja menggantungkan kalimatnya seraya melepas perlahan stetoskop yang sedari tadi menempel di kedua telinganya.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita bawa ia ke rumah sakit sebelum sesuatu yang lebih parah terjadi padanya!" Kyuubi yang sangat protective pada Naru sudah mulai tersulut emosi.
Aku hanya diam menatap wajah datar istriku ini. Wajahnya sudah kembali tenang, namun aku tetap waspada. Penyakit itu bisa menyerangnya kapan saja. Semakin memandang wajahnya, semakin besar keinginanku untuk mewujudkan janjiku pada Sakura, dan juga padanya. 'Aku akan selalu menjaganya. Selalu bersamamu, Naruto.'
Kulihat Kyuubi mulai beranjak dari tempat duduknya menuju Naruto, mengangkatnya keluar ruangan ini untuk di bawa ke rumah sakit. Aku hanya mengikuti tiap langkahnya dari belakang.
Oh Tuhan, kenapa kau membuat takdir keluarga ini selalu berujung di sebuah rumah sakit?
.
Mobil sport hitam milikku melaju dengan cepat di kegelapan malam. Ai yang berada di sampingku hanya menatap polos pemandangan di luar yang gelap. Mengadu kekelaman onyx miliknya dengan kelamnya suasana malam.
"Tou-san, kenapa dengan Kaa-san? Kok dia gak bangun-bangun? Kaa-san sakit ya?" pertanyaan polos itu kini keluar dari diri putriku ini. Putri Uchiha yang sangat kritis.
"Kaa-san tidak apa-apa. Ai tak usah khawatir. Di rumah sakit nanti, Ai jangan nakal ya? Duduk diam dan bersikap manislah," aku masih menatap fokus jalanan di depan. Pandanganku tertuju pada satu mobil sport merah yang berada tak jauh di depanku. Mobil yang berisi Naruto, Kyuubi dan Kara.
"Lho, kalo Kaa-san gak sakit, kenapa kita ke rumah sakit? Apa Tou-san yang sakit? Tou-san gak bo'ong kan?" Ai kini menatap wajahku dengan kedua bola mata obsidian miliknya, replika mataku.
"Tou-san ada kerjaan sedikit di sana. Berhentilah bertanya dan tetaplah bersikap tenang," kini aku hanya menanggapinya dengan kalimat dingin yang khas dari bibirku.
Ia menatapku sejenak dengan fokus, seperti tatapan Naruto yang menyelidik ketika aku berbohong padanya. Tatapan menyelidik dari mata birunya yang kini tertutup di balik kedua kelopak matanya.
"Ai, bisakah kau tidak menatap Tou-san dengan pandangan seperti itu?" aku yang risih karena terus ditatap oleh obsidian-nya kini angkat bicara.
Kulihat ia tetap diam lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan.
.
"Sudah kubilang! Kita harus segera melakukan operasi itu! Aku tidak ingin Naruto menderita seperti itu! "Aku menatap intens kedua bola mata Kakashi yang berbeda warna. Merah dan hitam.
"Ya, aku tahu! Tapi dengan begini kau juga akan menderita, baka! Mana otak Uchiha-mu yang jenius itu?" balas Hatake di hadapanku ini dengan sengit.
"Lalu, apa yang bisa kita lakukan lagi? Syaraf sensoriknya itu terganggu! Aku bukan orang bodoh yang tak mengetahui hal sepenting itu! Dia istriku! Dan aku mencintainya!" entah sejak kapan aku menjadi OOC seperti ini. Ya, sejak bertemu dengan Naruto.
"Baiklah jika kau memaksa! Kita lakukan besok! Jika terjadi sesuatu padamu, jangan salahkan aku! Aku sudah memperingatimu!" ia kembali menatap tajam diriku.
"Hey! Bisakah kalian tenang? Naruto butuh istirahat! Pelankan suara kalian!" Kali ini pertengkaran kami dilerai oleh suara Kyuubi. Kulihat mata merah ruby-nya menjadi semakin merah karena tegang dan takut kehilangan adiknya lagi. Ya, sudah cukup dia kehilangan Sakura. Beban yang ditanggung seorang kakak seperti Kyuubi ini sangat berat.
Aku kembali melunak dan mendudukan diri di sofa yang ada di ruangan itu. Kembali menatap datar wajah tenang istriku itu. Ai yang tak mengerti apa-apa hanya menatap penasaran infus yang terus menetes dari selang yang dialirkan ke tubuh Naruto. Dengan ekspresi seperti biasanya, ekpresi yang selalu ingin tahu.
"Tou-san! Katanya Kaa-san gak sakit? Kok digituin sih?" jari telunjuk mungil Ai menunjuk infus yang terus menetes dengan stabil itu. Aku menatap matanya sesaat lalu berusaha untuk tersenyum.
"Nanti Ai bakal ngerti, kok," dan… aku hanya mengeluarkan jawaban yang ambigu.
Kualihkan pandanganku kembali ke wajah istriku. Waspada. Jika penyakit itu kembali menyerangnya dan semua syarafnya menegang… mungkin saja syaraf itu bisa putus dan menyebabkan nyawanya… ah! Tenang Sasuke! Naru akan segera sadar dan tersenyum ke arah kami semua dan mengeluarkan cengiran dobe-nya. Penyakitnya tak akan menyerangnya kembali, selamanya.
.
Jam sudah menunjukan pukul 02.00 pagi. Namun, mataku belum merasakan kantuk. Aku terlalu takut menutup mataku, bisa saja sesuatu terjadi padanya saat aku tengah mengistirahatkan kedua mata obsidianku. Ya, aku tak boleh lengah. Dulu ia yang harus menjadi 'Guardian Angel' Sakura, kini… aku yang harus menjadi 'My Wife's Keeper'
Tanpa diduga, tubuh si Dobe yang sedari tadi hanya diam tak bergerak dilengkapi dengan wajah datarnya kini mulai menampilkan tanda-tanda kehidupan. Terlihat jelas olehku tangannya bergerak walau hanya sedikit. Hal itu membuatku yang sedari tadi tegang menjadi lega. Lega karena kesadarannya.
Aku segera beranjak dari sofa dan bergegas melihatnya lebih dekat.
Baru saja aku akan memegang kedua tangannya, tiba-tiba sesuatu hal yang tak diduga terjadi. Badannya kembali menegang! Pelupuk matanya mulai menampilkan guratan-guratan halus karena ia terlalu kencang menutupnya. Alisnya bertaut menandakan rasa sakit yang amat sangat tengah ia rasakan.
"Naru? Hey! Jangan bercanda! Ini tidak lucu, Baka!" mataku membelalak saat melihat reaksi Naruto selanjutnya.
"…"
Hening. Tak ada jawaban… hanya tubuhnya yang terus bergerak gelisah tak terkendali menahan sakit yang mendera tubuhnya. Ia sedang berjuang!
"Hey! Katakan padaku kalau kau hanya bercanda!" jantungku kini berdebar-debar semakin kencang mengetahui suatu hal buruk akan terjadi.
"Kaa-san! Kaa-san kenapa?" Ai yang sedari tadi diam kini ikut berteriak panik memegang tangan Naruto yang satunya.
Jangan sampai penyakit itu kembali menguasai tubuhnya! Syarafnya bisa putus dan menyebabkan nyawanya…
Tanpa bisa dicegah, aku mulai berlari keluar ruangan meminta bantuan pada pihak medis. Jantungku kembali berdebar takut jika sesuatu terjadi padanya! Naruto! Bertahanlah! Demi kami semua!
.
"Bagaimana keadaannya, sekarang? Ia tak apa, kan?" aku langsung beranjak dari tempat dudukku begitu lelaki perak yang kini menjabat sebagai dokter spesialis itu keluar dari ruangan di mana istriku dirawat. Menanti kabar baik yang tak kunjung datang.
Kakashi Pov:
"… dia… Salah satu syarafnya ada yang putus… namun itu bukan syaraf yang terlalu penting. Tapi… syaraf itu menyebabkan dia… mengalami koma,"
Jgleeer!
Oh Tuhan! Berapa kali kau memberi koma pada istriku ini? Tidakkah cukup cobaan yang kau berikan padanya?
"A-apa? Koma? Kau bilang syaraf itu tak terlalu penting? Tapi kenapa dia bisa koma?" aku menatap tajam matanya. Berharap menemukan setitik kebohongan di raut wajahnya.
"Hey! Tenangkan dirimu, Sasuke! Berpikirlah jernih! Ini bukan akhir dari segalanya,"
"Kau bilang tenang? Saat istriku sekarat aku bisa tenang? Kau tidak mengerti!" aku jatuh terduduk kembali ke bangkuku dengan wajah yang menampilkan kefrustasian.
Kenapa Kami-sama selalu mengambil kebahagiaanku?
Kaa-san dan Tou-san pergi sebelum aku genap berumur 6 tahun… Itachi-nii pergi entah kemana saat aku menjelang lulus SMA… kenapa Tuhan begitu tak adil?
Kenapa sekarang ia mengambil kebahagiaan keluarga kami? Naruto… satu-satunya keluarga yang aku dan Ai miliki sekarang. Kenapa aku harus diciptakan di bumi ini dengan penderitaan yang tak ada habisnya?
Tuhan bilang… ia benci melihat umatnya bunuh diri. Bunuh diri adalah perbuatan yang amat sangat buruk… tapi mengapa ia membuat cobaan yang sangat berat? Apa ia mencoba menyuruh semua umatnya bunuh diri? Apa yang ia rencanakan sebenarnya?
"… Sasuke?... Kau, tak apa?" suara khas Kakashi menyadarkanku dari alam pikirku.
"Hn… tinggalkan aku sendiri," aku kembali menjawab pertanyaannya dengan kata 'hn' favoritku dipadu tiga kata lain yang terdengar ambigu.
Naruto's Pov:
Tempat ini… tempat yang tak asing bagiku. Ini kan… yang dibilang surge oleh malaikat mimpiku. Apa sekarang waktunya aku untuk meninggalkan dunia? Hah! Aku belum siap! Bagaimana dengan Sasuke, Ai, bahkan Kyuu-nii dan Kara-nee yang mengkhawatirkanku?
Padahal… aku belum meminta maaf pada Sasuke, berterimakasih pada Kyuu-nii dan Kara-nee…
"Naru…" suara ini…
Dengan gerakkan patah-patah aku memalingkan wajahku untuk menatapnya. Dia… Saku-nee?
Dengan segera aku memeluk tubuhnya dan menumpahkan semua kerinduanku selama ini padanya.
"Kau… kenapa lagi, Naru?" ia kembali berkata lirih.
"Nee-chan… a-aku… mungkin sudah saatnya aku menyusul kalian semua," entah mengapa aku mengungkapkan kalimat yang tidak seharusnya kuucapkan ini.
"Ini semua gara-gara aku kan? Gara-gara aku dan penyakitku kau jadi begini… seharusnya kau tak usah menolongku jika akhirnya aku akan mati juga," ia tersenyum getir sambil menundukkan wajahnya. Samar-samar aku melihat butiran-butiran bening turun melewati pipi putihnya.
"Ne-Nee-chan… Ini bukan salah Nee-chan! Naru bahkan tak pernah menyalahkan Nee-chan! Naru bahagia kok walaupun harus mengalami kenyataan seperti ini!" aku mencoba meyakinkan Saku-nee dengan perlahan memeluk tubuhnya kembali.
"Aku hanya sudah terlalu lelah dengan semua cobaan ini. Aku pikir, aku bisa berlari menghindari takdir… tapi semua itu sia-sia! Karena… aku tak akan pernah menang melawan takdir," aku menangis sembari memeluk tubuhnya semakin erat.
"Ya… Tuhan seperti sengaja mempermainkanmu… ia selalu menyelamatkamu dan mendatangkan cobaan baru. Tapi, kau kuat, Naru! Itulah alasannya Tuhan memberimu cobaan yang cukup berat. Karena Dia yakin kau pasti bisa menghadapinya."
"Kupikir… akulah yang menyelamatkan Saku-nee selama ini…" aku menggantungkan kata-kataku dengan sengaja.
"Kau bicara apa? Kau memang menyelamatkanku, Naru…" Nee-chan membalas pelukkanku.
"Tidak! Nee-chan lah yang menyelamatkanku! Menyelamatkanku dari pikiranku yang kacau saat itu… sehingga aku tak jadi bunuh diri…" aku mulai meneteskan air mata dari kedua shappire-ku.
"Akulah yang seharusnya berterimakasih pada Nee-chan," aku berusaha membentuk lengkungan di bibirku walau aku hanya bisa membuat lengkungan senyum getir.
XOXOXO
Sasuke's Pov:
Gah! Aku sudah tidak tahan! Sudah 1 hari Naru belum sadar-sadar! Aku harus sesegera mungkin melakukan operasi itu!
"Kiba! Bisakah kemampuan manusia dibuat mirip dengan anjing?" aku menolehkan kepalaku kepada laki-laki pecinta anjing di sebelahku ini.
"Apa maksudmu?" ia menaikkan sebelah alisnya pertanda tak mengerti.
"Aku… ingin menyelamatkan Naruto. Sudah, jawab saja!" aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"… Ya, bisa. Namun, siapa yang mau melakukan hal seperti itu? Hal seperti itu berbahaya! Jika sedikit saja salah, akibatnya bisa fatal," ia mengalihkan matanya dari onyx-ku.
"Aku tak peduli seberapa besar bahayanya. Aku hanya ingin Naru tetap berada di sisiku…"
"S-Sasuke… jangan bilang kalau kau ingin…" ia menggantungkan kata-katanya dan menatapku dengan pandangan horror.
"Hn,"
"Apa tidak ada cara lain? Kenapa tidak kau beli saja hewan yang bisa mendeteksi hal seperti itu daripada harus mengorbankan dirimu!" Kiba mulai menaikkan suaranya.
"Kalau Naru menderita karena gen-nya diutak-atik… aku harus melakukan hal yang sama," ucapku lirih. Tak menyadari tatapan Kiba yang semakin horror.
Kiba's Pov:
"Kalau Naru menderita karena gen-nya diutak-atik… aku harus melakukan hal yang sama," kalimat yang keluar dari mulut suami sahabatku ini sukses membuatku memandangnya semakin ngeri.
Kini aku semakin yakin bahwa Uchiha memang memiliki nyali yang besar. Sebegitu cintanya kah ia pada Naru sehingga nekat melakukan hal yang sangat berbahaya seperti itu?
"A-apa? Kau gila!" aku yang sudah kehabisan kata-kata untuk membalas pernyataannya itu kini hanya bisa mengeluarkan kata-kata itu.
"Ya, aku menjadi gila karena Naruto. Ia satu-satunya keluargaku saat ini. Dan aku tak ingin kehilangannya lagi," kulihat pandangannya melunak, tatapannya yang tadinya tegas dan penuh kepercaya dirian kini berganti dengan tatapan sendu yang tidak ke-Uchiha-an.
Aku tertegun menatapnya. Karena Naruto… sifat Uchiha yang dingin berubah menjadi lebih berperasaan dan berekspresi. Karena Naruto, aku bisa bertemu dengan Ino dan menjalin ikatan pernikahan, karena Naruto… Kyuubi selamat dari pikiran bunuh dirinya. Karena Naruto, Kakashi menggapai mimpinya, dan karena Naruto juga kami berkumpul di sini dengan kecemasan menyelimuti.
Naruto… membawa pengaruh besar bagi kehidupan kami semua.
Naruto, orang yang berharga…
Ia membahagiakan kami semua dengan senyumnya, kata-katanya, dan bahkan perbuatannya. Dan seharusnya ia mendapat kebahagian juga. Kini giliran kami untuk membalas semuanya.
"Kau… beginikah sifat Uchiha yang sebenarnya? Selama ini kupikir kau sosok yang dingin dan angkuh. Tapi ternyata… kau masih punya sisi kemanusian dan peduli terhadap orang lain."
"Hn,"
.
Kakashi's Pov:
"Apa kau yakin dengan keputusanmu saat ini? Aku harap operasimu berjalan dengan lancar," aku menatap pasrah tubuh Uchiha yang kini tengah terbaring dengan baju hijau di atas kasur operasi.
"Aku yakin, karena aku ingin selalu bersama Naru," ia menjawab pertanyaanku dengan tatapan menerawang jauh menatap langit-langit ruangan.
Aku mulai memindahkan obat bius yang ada di dalam suntikkan ke dalam tubuhnya. Tak butuh waktu yang lama, obat itu kini mulai bereaksi dan perlahan menguasai kesadarannya.
Aku serta dua orang dokter lain di dalam ruangan itu memulai kegiatan operasi tersebut.
TBC or End
A/N: ok gomen-gomen… Udah lama update, pendek lagi-_- ending di chap depan*masih rencana, sih* update nanti agak telat! Soalnya Naka ada kerjaan lain… babay!
Alasan Naka update pendek karena Naka buat fic baru yang judulnya 'I Hate My Life' dengan pair SasuNaruko xD
Synopsis: Kisah seorang anak yang kedua orangtuanya cerai dan harus ikut ayahnya karena keputusan hakim. Di sana dia disiksa di rumah barunya oleh ibu tirinya, dibully di sekolah barunya karena saudara tirinya. Pokoknya nyesekin ceritanya. Kalo ada waktu mampir ya? Ja~
Gomawo, Shiho Nakahara
