I only need a world that has you in it….
Rated: M for this chap
Main pair: Sasuke X Naruto,
Slight pair: Sasuke x Sakura, Gaara x Naruto
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Drama,Hurt/Comfort, Angst,
Warning: pastinya YAOI donkzzzz…. Xexexxe xp…narUKE- saSEME…fuufuufufuufufuuu…. #plak ga penting…. Maaf kalau masih banyak typo di chapter ini, #ojigi. Sungguh ini akibat kecerobohan "ku",,, "ku" harap masih berkenan membacanya ya…
Summary:
'Sasuke.. setelah 3 tahun akhirnya kau kembali, walaupun kini status kita sebagai saudara, tapi dengan kau disini itu sudah cukup bagiku, tetaplah seperti ini, disisiku menemani rasa sepi yang akau rasakan, temani aku disini, selamanya…'
Jiaahhh…. Belum juga fic yang laennya selesai eh malah bawa fic baru… ckckckck.. ya itulah saya jika ada hal yang menginspirasi akan langsung saya tuangkan menjadi sebuah cerita hehehhe#sok lu ahh author geblek…
Hmmm,, ngomong-ngomong fic ini saya terinspirasi dari manga yaoi yang judulnya sama yaitu, 'kimi no iru sekai shika iranai' karya ichika hanamura, manganya ini bagus lhoo.. hehe..
Yooo silahkan baca ya…. xexeexe
#previews chapter
'ara? Apa ini?' batin Sakura melihat sebuah benda kecil berwarna orange didekat pintu.
'wahh.. lucunya, gantungan kunci rubah, hehhee… hmm.. tapi rasanya aku pernah melihat gantungan kunci ini, hm.. tapi dimana ya?' pikirnya dalam hati setelah mengangkat gantungan kunci itu, kemudian memasukkannya dalam tas dan melangkah menuju kearah Sasuke.
'ah, biarlah, mungkin nanti kuingat lagi, sebaiknya sekarang aku menyusul Sasuke.' Iapun berlari kecil guna menyeimbangkan langkah panjang sang pemuda dengan langkah kecilnya….
Hujan masih setia membasahi langit yang kini mulai semakin gelap, mataharipun sudah kembali keperaduannya, suasana kota yang malah tambah ramai, dimana terdapat pasangan kekasih yang tengah berjalan dalam hujan sepayung berdua, terlihat sangat romantic. Namun tak begitu dengan salah satu pemuda berambut pirang yang malah lebih senang diguyur hujan ketimbang mampir kesupermarket hanya untuk membeli sebuah payung.
'masih sakit. Apa yang harus kulakukan sekarang?' batinnya sambil memegang dada kirinya, yang kini masih berjalan di tengah-tengah keramaian para pejalan kaki yang berpayung itu.
'aku tak ingin pulang saat ini. Aku tak ingin bertemu dengannya.'
'tapi kemana?'
'aku capek, kurasa aku sudah terlalu jauh berjalan'
'Gaara….'
'bolehkah aku menghubunginya?'
'….'
'sepertinya hanya ia yang bisa membantuku saat ini…' batin Naruto bimbang dengan perasaannya, digeledahnya kantong seragamnya mencari sebuah ponsel berwarna orange di saku celannya, nihil, 'oh.. Shit!' ponsel kesayangannya ketinggalan di tasnya saat ia berlari meninggalkan tempat itu dan juga sekolahnya. Bingung bercampur kesal karena kebodohannya, iapun berusaha mencari sebuah box telepon, setidaknya ia bisa menghubungi salah satu sahabatnya itu. 'aha!' akhirnya diseberang jalan itu terlihat sebuah box telepon yang sedang ia cari, dilangkahkannya kaki kecilnya menuju kearah box itu, sesampainya disana iapun langsung menekan nomor telepon sahabatnya.
'tuuuttt….tuuut….tuu.. klek'
"mosh-mosh, Gaara desu.. dare?" ujar suara diseberang.
"Gaa..ra.. hiks.." tiba-tiba setelah mendengar suara sang sahabat iapun mengeluarkan air mata, yang sejak tadi tak keluar sedikitpun walau ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
"Naru? Hei? Naru? Kau kenapa? Apa yang terjadi? Katakana padaku."
"hiks.. hiks… hikss… Gaa..raa.. hiks.. "
"tsk, bicaralah yang jelas bodoh. Kau dimana? Biar aku yang kesana."
"hiks.. aku di supermarket dekat lampu merah.. Gaa-"
'Tutt…tuttt..tuttt' suara telepon terputus.
"tsk, hoi Naru? Naru? " seru Gaara yang masih menempelkan ponsel miliknya di telinganya. Merasa tak aka nada jawaban dari seberang sana iapun segera mengambil kunci kamar dan payung kemudian berlari ketempat sang sahabat berada. Dirasakannya perasaan yang tak tenang, gelisah, apalagi setelah mendengar suara isakan sang sahabat.
'sial! Sebenarnya apa yang terjadi padamu Naru?' batinnya sambil berlari dengan kecepatan tinggi.
'hiks.. hiks.. kenapa? Kenapa tiba-tiba aku menangis?'
'padahal, sejak tadi air mata ini tak mau keluar, tapi mengapa sekarang jadi deras begini? Hiks.. hiks… hiks…'
'sakit… dadaku sakit, perih.. Gaara… cepatlah.. aku membutuhkanmu.. hiks.. hiks..' batin Naruto yang sudah keluar dari dalam box telepon itu, kini tengah berjongkok memeluk kedua lututnya di depan sebuah supermarket, tempat yang ia ucapkan tadi ditelepon pada sahabatnya.
hujan masih mengguyur dengan deras.
"mau sampai kapan kau mengikutiku?"
"hehe.. maaf.. hmm.. jadi ini tempat tinggalmu sekarang?"
"hn.."
"tsk, dasar bahasamu itu masih sama saja Sasuke."
"hn.."
"umm? Namikaze? Rasanya aku pernah dengar marga ini, tapi dimana ya?"
"bodoh."
"diam kau, tak baik bilang langsung pada perempuan kata-kata itu. Itu menyakitkan tau."
"hn.."
"Ggaahh.. kau membuatku kesal."
"bukan urusanku rambut pink."
"haa… sudahlah rugi ribut denganmu, hanya menghabiskan tenaga. Eh.. apa kau tak mengijinkan aku masuk Sasuke? Hujan masih deras, masak kau membiarkan aku pulang di hujan yang sederas ini?"
"….."
"hmm,, ayolah,, hanya untuk beberapa menit tak kan lama, hanya sampai hujan ini reda. Ya?"
"hn."
"yatta!... arigatou" ucap Sakura sambil berjalan mendekati Sasuke yang kini tengah membuka pintu rumah itu.
'cklek'
'tap..tap..tap..'
'klik..'
"wahh.. sugee… rumahmu rapi juga dan interornya cukup mewah, hehe,, kurasa kau pasti nyaman tinggal disini, ya kan Sasuke?" ucap Sakura yang kini berjalan mengampiri sofa berwarna merah marun ditengah ruanga itu.
"hn.." ucap Sasuke, sambil menuju kedapur, membuatkan minuman untuk sang tamu. Namun, ada yang mengganjal hatinya, si pirang. Tumben ia tak melihat si pirang, biasanya ia yang selalu lebih dulu berada dirumah dan menyambutnya.
'kemana perginya si Dobe? Tumben ia belum pulang?' batinnya ditengah-tengah kegiatan membuat minuman untuk sang tamu.
"jadi, kau masih mau bungkam padaku Naru?"
"…."
"tsk… sudahlah, sekarang lebih baik kau mandi. Nati kau bisa sakit kalau kau terus memakai pakaian basah itu. Aku akan mengambil handuk untukmu, tunggu seben-" ucapan Gaara terpotong karena pergerakan tiba-tiba dari sang pemuda pirang yang kini tengah memeluk pinggang pemuda berambut merah itu.
'Grep.'
"hiks..hiks.."
"hoi! Apa yang kau lakukan Naru?"
"bisakah.. hiks,…bisakah.. kau memelukku Gaara? Aku mohon?"
"apa-apan kau? hentikan. Ku rasa kau demam Naru." Ujar Gaara yang memegang dahi Naruto merasakan apakah badannya panas atau tidak, ternyata tidak ada rasa panas yang menjalar ditangan putih itu.
"Gaara.. aku mohon.. hilangkan.. hilangkan sentuhannya.. aku mohon.. hiks.. Gaara.. hiks" ujar Naruto ditengah isak tangisnya menatap Gaara penuh harapan.
"tapi ini salah Naru, tsk. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Aku benar-benar tak mengerti."
"Gaara.. kali ini,, aku mohon.. kabulkan permintaanku.. aku mohon.. sentuh aku.. Gaara.. hiks"ujarnya membalas ucapan Naruto yang kini masih memeluknya dan memandang dirinya dengan dua manic mata yang sangat disukainya itu.
"Naruto. Dengar walaupun saat ini aku masih menyukaimu, tapi hal ini salah, aku tak bisa melaku-" ucapan Gaara terpotong oleh terjangan Naruto yang kini menindih pemuda berambut merah itu, mencium bibir Gaara dengan bibirnya, melumat menjilat dan menggigit kecil bibir pemuda berambut merah itu. Berusaha membangkitkan hasrat sang pemuda yang berada di bawahnya saat ini.
"mmmhhnnn…." Ujar tak jelas yang dikeluarkan Gaara, kaget dengan mata terbelalak melihat apa yang dilakukan Naruto padanya, ia piker tubuh mungil sang sahabat itu lemah dan rapuh, namu ia salah jika ia punya kemauan ia jadi kuat seperti ini, lihatlah Naruto kini telah mengikat Gaara dengan dasi yang tadinya masih bertengger manis di leher Naruto tanpa sedikitpun melepaskan ciumannya.
Kini, ia mulai melepas swetear sekolah yang ia kenakan, dengan perlahan melepas kancing kemeja yang ia gunakan, entah nafsu atau apa yang kini menguasai dirinya, ia hanya ingin menghilangkan sentuhan itu, sentuhan dari orang yang kini membuat dadanya terasa sakit. Masih dengan mengeluarkan air mata walaupun kini intensitasnya semakin berkurang, ia terus melakukan penyerangan terhadap pemuda berambut merah dibawahnya.
Dan kini, Gaara hanya bisa pasrah dibawah tubuh Naruto. Ia hanya menikmati perlakuan-perlakuan Naruto pada 'miliknya' yang maish dimanja oleh Naruto saat ini. Pikirannya kini mulai dipenuhi nafsu, pakaian yang tadi ia kenakan kini telah amblas, tak lagi menempel ditubuh putihnya itu. Perlahan ia rasakan Naruto naik merangkak diatas dadanya dengan sesekali menciumi daerah-daerah sensitive disekitar tubuhnya. Naruto masih memakai kemejanya walaupun kancingnya sudah terlepas.
"jangan.. jangan lakukan Naruto! Aku tak ingin. Naruto! Dengarkan aku. Ini salah. Hentikan!" ujarnya walaupun tengah diselimuti nafsu, otaknya masih bekerja. Berusaha menghentikan kegiatan gila yang akan dilakukan Naruto, yang kini menusuk-nusukkan jarinya sendiri ke 'hole' miliknya, menahan rasa sakit yang mendera. Gaara yang melihatnya tak habis pikir, sebenarnya apa yang telah terjadi Naruto, hingga ia jadi tak terkendali seperti ini.
Pikirannya kembali tersentak, Naruto kini tengah memegang 'miliknya' berusaha mempersiapkan miliknya untuk memasuki 'holenya' yang masih terlihat sempit itu.
"Hentikan! Naruto, sadarlah! Kau akan menyesa- AAHHHHH" seru Gaara sebelum Naruto berhasil memaksa masuk 'miliknya' ke dalam 'hole' sempit milik Naruto. Naruto meringis, merasakan 'holenya' berubah melebar sekian kali lipat oleh sesuatu. Namun, dengan berusaha menahan rasa sakit itu, ia menaik turunkan tubuhnya perlahan, perlahan, perlahan, cepat, cepat dan semakin cepat. Sehingga'benda ' yang berada dalam dirinya itu berhasil menabrak titik kenikmatan dalam tubuhnya. Iapun mengerang nikmat walau nantinya ia akan menyesal tapi tak apa, ia hanya berusaha menghilangkan semua hal tentang dirinya, tentang orang itu, kalau bisa selamanya….
"Ahkk.. nggg.. ahhh.. hyaaa.. aahh.. "
"hik…sss…hh..aahh..ahhh..ahh…."
"Naru.. ahh.. nggg.. cuu..kupp… kau.. ngg… kesakitan.. ahhhhh"
Naruto hanya menggeleng mendengar ucapan pria yang berada dibawahnya, berusaha untuk tak terlalu menikmati permainan yang tengah mereka lakukan, yang ia harapkan terjadi sejak dulu tapi bukan saat seperti ini, dimana yang bermain hanya tubuh dan tidak melibatkan Hati.
Ditatapnya Naruto yang masih menaikk turunkan tubuhnya sambil sesekali air mata masih menetes dipipinya. Ia bersumpah, siapaun yang telah membuat sahabat sekaligus orang yang ia cintai sampai seperti ini, ia akan menerima balasan yang setimpal. Itulah yang Gaara batinkan ditengah-tengah kegiatan yang semakin heboh yang mereka lakukan.
"lepaskan ikatanku Naru." Ujar Gaara yang masih menatap Naruto bernafsu.
"…" Naruto menggeleng.
"aku akan melakukannya. Percayalah aku tak akan kabur."
"….." perlahan Naruto mendekati ikatan yang mengikat kedua tangan putih itu, dilepasnya ikatan itu. Kemudian ditatapnya pemuda berambut merah itu, mencari sebuah jawaban.
"tenanglah, aku disisni akan kulakukan apapun untukmu," bisik Gaara ditelinga Naruto. Diangkatnya perlahan lengan mungil itu menuju lehernya, dipeluknya tubuh mungil itu, dilingkarkannya tangannya di pinggang ramping itu.
"aku bergerak, tahanlah" bisiknya lagi, kini iapun menggerakkan perlahan tubuhnya, membuat Naruto mengeluarkan desahannya lagi, semakin cepat, hawa nafsulah yang kini lebih berperan, gerakan yang ia berikan semakin brutal, deru nafas itu beradu ditengah ruangan yang cukup sempit, tak ada kata-kata cinta yang mengiringi, hanya kepuasan. Kenikmatan dan kesedihan yang mereka dapatkan. Berusaha mengurangi namun sebenarnya malah menambah. Namun nasi sudah jadi bubur, tak bisa dikembalikan lagi. Inilah, inilah yang menjadi pilihan sang pemuda berambut pirang, berusaha menghilangkan semua yang orang itu berikan…..
Hingga saat keduanya mengerang nikmat mencapai kepuasan yang tiada tara, tak ada yang mengucapkan satu katapun, diam dalam nikmat. Itulah yang mereka berdua lakukan….
Ada cinta namun hanya di satu pihak….
Ada luka dikedua pihak….
Menyakitkan, ya…sangat menyakitkan….
"tsk, kemana perginya si Dobe itu. Apa ia tak tahu ini sudah tengah .."
Ujar sebuah suara baritone disebuah kediaman yang selalu Nampak sepi…
Tak ada yang tau sebenarnya apa yang tengah dan akan dilakukan pemuda ini pada seorang pemuda yang pada mulanya memiliki hati yang bersih, namun perlahan berubah menjadi hitam karena kesedihan yang ia alami, seperti harapan yang terlontar dari mulut pemuda ini, pada saat itu….
"nee… Gaara… aku harap kita masih bisa seperti biasa…."
"tentu…"
"aku harap kita masih bisa bercanda, tertawa, saling ejek, hiks.. dan saling berbagi.." ucap Naruto yang kini tengah bersandar di bahu Gaara.
"tentu… kita sahabat selamanya… sampai kau atau aku mati.. sampai dunia kiamat…kita akan tetap jadi sahabt selamanya.." ucap Gaara yang merangkul Naruto. Memejamkan matanya sejenak sambil menikmati angin malam yang berhembus melewati jendela didepan mereka yang terbuka..
"Arigatou…." Ujar sang pemuda pirang pelan kemudian menutup matanya menikmati angin yang menerpa wajah tannya, mengeringkan air mata yang mengalir perlahan….
Tsuzuku….
Yosh,, update lagi hehhee…
Hmmm… gimana? Gimana?... (^O^)
Mangap ya, kalau lemonnya kurang asem.. xexexe XD
"ku" ucapin makasi ya udah mampir walaupun hanya mampir untuk baca fic nista "ku" ini, dan juga yang udah review, ngasi saran n kritik, dll, "ku" juga ucapin makasi ya….
Akhir kata…
"jaa.. neee…."
