Title : Love is Never Gone
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol
Other Cast : Wu Yi Fan, Lu Han
Genre : Romance, angst
Chapter : 4/?
Warning : ChanHun. U've been warn.
" Aku sudah punya kekasih." Sehun menatap Jongin dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca.
Jongin terpaku di tempatnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga dan telinganya serasa berdenging. Jongin hanya bisa menatap Sehun tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Jongin ingin membuka mulutnya, meyakinkan Sehun bahwa yang dia katakan itu hanya guyonannya saja, tapi seakan-akan ada lem perekat yang dioleskan di bibir Jongin hingga dia tidak bisa membuka mulutnya. Perkataan Sehun seakan-akan melumpuhkan syaraf-syaraf tubuhnya hingga dia tak dapat melakukan apapun selain berdiri diam bagai patung.
" Karena itu—mulai sekarang jangan ganggu aku lagi. Jangan memikirkanku lagi a—anggap saja kalau kita tidak pernah membicarakan masalah ini—atau lebih baik anggap saja kalau tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita." Tutur Sehun pelan seraya menyingkirkan tangan Jongin yang masih merengkuh bahunya.
Sehun menatap Jongin sekilas dan dia bisa melihat Jongin hanya menatap lantai dengan sorot kosong. Hatinya terasa perih tapi sekuat mungkin dia mencoba untuk menahannya. Sehun beranjak menjauhi Jongin dan keluar dari lift. Meninggalkan Jongin yang masih tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya sampai pintu lift tertutup dan menghilangkan sosoknya dari pandangan Sehun.
Sehun hanya bisa menatap nanar pintu lift yang sekarang sudah tertutup rapat. Air matanya sudah kembali menggenang di pelupuk mata, tapi lagi-lagi saat dia mengingat Chanyeol dan semua usaha dokter muda itu untuk selalu membahagiakannya, membuat Sehun menarik napas dalam-dalam dan segera mengusir bayangan Jongin dari kepalanya.
Chanyeol menoleh sekilas ke arah Sehun yang tengah duduk disampingnya dan menatap layar televisi di hadapan mereka. Entah untuk yang keberapa kali Chanyeol mendapati kekasihnya tengah melamun dengan wajah seperti ingin menangis. Sejak Chanyeol pulang tadi, Sehun memang tampak tidak bersemangat dan tidak seperti biasanya. Chanyeol meneliti wajah cantik Sehun dan rasanya pria itu dapat melihat gurat-gurat kecemasan dalam sorot matanya. Chanyeol menjulurkan tangannya perlahan dan mengusap pipi Sehun dengan lembut membuat Sehun tersentak kaget dan langsung menoleh pada kekasihnya.
" Ada apa ?" Tanya Chanyeol. Sehun berusaha tersenyum dan hanya menggeleng pelan.
" Ada masalah di kantor ?" Tanya Chanyeol lagi membuat Sehun tergagap.
Memang ada masalah di kantor tapi sayangnya itu bukan masalah pekerjaan. Rasanya ironis sekali. Sehun menggeleng pelan dan kali ini pria cantik itu mengalihkan tatapannya dari kekasihnya. Chanyeol menarik tangannya dari pipi Sehun, mengambil remote TV dan mematikannya. Dokter muda itu kemudian memutar tubuhnya kesamping hingga berhadapan dengan Sehun agar dia bisa menatap kekasihnya dengan lebih leluasa. Chanyeol menarik napas pelan dan menggenggam kedua tangan Sehun.
" Apa yang membuat kekasihku yang paling cantik sedunia ini gundah, hmm ? Ceritakan padaku." Ujar Chanyeol dengan nada setengah bercanda meski matanya menatap Sehun dalam-dalam.
Sehun merasa air matanya ingin keluar saat Chanyeol menatapnya seperti itu. Sehun bisa merasakan cinta Chanyeol lewat tatapan matanya dan bagaimana bisa Sehun memberitahu Chanyeol bahwa alasannya menjadi gundah adalah karena mantan pacarnya yang dulu sangat dicintainya datang dan memintanya kembali padanya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dibawah tatapan ini?
" Aku tidak apa-apa. Tidak ada apa-apa, pak dokter." Sehun menjawabnya dengan senyum manis.
Berusaha mengelabui kecemasan Chanyeol dengan aktingnya yang amatir. Chanyeol menurunkan sedikit wajahnya dan menaikkan sedikit sudut alis kiri dengan senyum kecil tersungging di bibirnya. Ini adalah ekspresi khas seorang Park Chanyeol yang hanya akan keluar saat dia tak mempercayai ucapan Sehun. Diam-diam Sehun membuang napas pelan. Bagaimana mungkin dia bisa menceritakan hal ini pada Chanyeol? Bagaimana mungkin dia bisa menceritakan hal ini pada pria yang begitu tulus mencintainya seperti ini?
Sehun menatap Chanyeol dalam-dalam seperti yang Chanyeol lakukan padanya. Laki-laki inilah yang selalu ada untuknya dalam beberapa tahun terakhir. Laki-laki inilah yang menariknya bangun dari jurang kesedihannya. Laki-laki inilah yang selalu berusaha memberikan kebahagian untuknya. Sehun tahu Chanyeol sangat mencintainya dan dia yakin akan bahagia bersama Chanyeol. Jadi alasan apa yang membuatnya memikirkan masa lalunya? Masa lalunya yang membuatnya merasa sakit. Masa lalunya yang membuatnya terjepit dalam posisi yang membingungkan. Apa hak Jongin hingga membuat Sehun bisa memikirkannya di depan kekasihnya sendiri?
' Masa lalu selamanya akan menjadi masa lalu. Masa lalu tidak akan pernah jadi masa depan. Jadi untuk apa aku menengok ke masa lalu kalau masa depan sudah ada di depan mataku?' Bisik Sehun dalam hati.
Tanpa aba-aba Sehun mengalungkan lengannya pada leher Chanyeol dan mencium bibir dokter tampan itu. Chanyeol sedikit terkejut karena ciuman Sehun yang tiba-tiba, tapi belum sempat Chanyeol bereaksi, Sehun menyudahi ciuman itu.
" Ok. Sekarang kau sukses membuatku semakin bingung. Ada apa sebenarnya?" Tanya Chanyeol seraya melingkarkan tangannya di pinggang Sehun. Hei, jangan salah paham. Dia bukannya tidak suka Sehun menciumnya, tapi bertindak agresif itu benar-benar bukan kebiasaan seorang Oh Sehun. Selama ini Chanyeol lah yang selalu lebih dulu memulai kontak fisik yang terjadi di antara mereka.
" Tidak ada apa-apa. Aku hanya rindu padamu saja." Ujar Sehun lirih seraya merebahkan kepalanya Ke bahu lebar Chanyeol. Jemari lentiknya perlahan turun ke lengan berotot Chanyeol dan mengusapnya pelan. Chanyeol menelengkan kepalanya bingung karena gesture Sehun yang jelas-jelas sedang menggodanya. Chanyeol menatap Sehun dengan ekspresi bertanya membuat Sehun mengangkat kepalanya dari bahu Chanyeol dan balas menatapnya.
" Apa yang salah? Memangnya aku tidak boleh merindukan kekasihku sendiri? Akhir-akhir ini kau selalu saja sibuk dengan pasien-pasienmu sampai tidak punya waktu untukku." Sehun mulai merajuk lengkap dengan bibir tipisnya yang mengerucut. Chanyeol tertawa melihat ekspresi imut Sehun. Ok, siapa yang kuat melihat ekspresi menggemaskan seperti ini? Yang pasti bukan Park Chanyeol.
" Oohh, jadi bayi besar ini merindukan dokter Chanyeolnya?" Goda Chanyeol.
" Iya, pak dokter. Rindu sekali sampai sakit rasanya. "
" Ya Tuhan, kasihan sekali. Mana yang sakit?" Sehun rasanya ingin menoyor kepala Chanyeol karena senyum mesum yang sekarang menghiasi wajah tampannya. Tapi kalau dengan bertingkah sedikit manja dan menggoda bisa mengalihkan perhatian Chanyeol, maka Sehun rela melakukannya.
" Seluruh badanku sakit pak dokter." Ujar Sehun lagi membuat seringai mesum Chanyeol semakin melebar.
" Waah, kalau begitu harus segera diobati. Ayo ikut pak dokter ke kamar rawat. Biar dokter Chanyeol periksa di dalam." Dan sebelum Sehun sempat menjawab Chanyeol telah merengkuh Sehun dalam sepasang lengan kekarnya. Menggendongnya menuju kamar mereka dan melupakan topik yang mereka bicarakan sebelumnya seperti yang Sehun harapkan.
" Aku tidak bisa Jongin. Aku sudah punya kekasih."
Ucapan Sehun terus terngiang di kepalaku sepanjang hari ini. Aku ingin sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakannya tapi kenyataannya memang seperti itu. Sehun sudah menjalin kasih dengan pria lain. Sehun sudah melupakanku dan tak lagi mencintaiku. Padahal selama ini aku selalu menunggu dan berharap suatu saat nanti aku dapat kesempatan untuk bertemu dan memperbaiki hubungan kami. Aku memang bertemu dengannya lagi, tapi situasi berkata lain.
Apa penantianku selama ini sia-sia? Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi karena dia sudah tidak mencintaiku. Dia bahkan memintaku untuk melupakannya. Dia bahkan memintaku untuk berhenti mencintainya.
Bagaimana bisa aku melakukan itu? Bagaimana bisa aku melupakannya? Kenapa dia tega bicara begitu padaku? Kenapa dia tega menyuruhku melupakannya saat dia tahu aku masih sangat mencintainya?
Kulempar lampu tidur diatas nakas untuk meluapkan kekesalanku dan dalam sekejap lampu itu pecah berkeping-keping seperti perasaanku saat ini. Emosiku meluap naik tanpa bisa kukontrol dan tanpa kusadari detik berikutnya amukanku semakin menjadi. Aku melemparkan semua benda yang berada dalam jangkauan tanganku. Bantal, selimut, Telepon, kursi dan apa saja yang tampak di depan mataku jadi pelampiasan kemarahanku. Aku tidak peduli jika tamu di kamar sebelah dapat mendengar suaraku. Aku tidak peduli berapa banyak kerugian yang harus kuganti untuk semua kekacauan ini. Aku bahkan tidak peduli jika pihak hotel mem-blacklist namaku dari daftar tamu karena merusak inventaris. Aku tidak peduli semua itu. Saat ini Aku hanya ingin melampiaskan emosiku yang tidak tahu lagi harus kusalurkan kemana.
Tiga tahun aku menekan perasaanku. Tiga tahun aku tenggelam dalam bayang rasa bersalahku padanya. Dalam tiga tahun terakhir ini, tidak pernah sedetikpun aku menanggalkannya dari kepalaku, tapi apa yang kudapat? Apa balasan dari semua penantian dan rasa bersalahku? Dia memberikan cintanya untuk pria lain. Dia bahkan dengan gampangnya menyuruhku berhenti mencintainya. Dia pikir aku bisa? Kalau aku bisa melakukannya sudah sejak dulu aku lakukan itu !
" Brengsek. " Raungku seraya menendang kursi meja rias di hadapanku. Aku kerap melampiaskan amarahku sampai aku melihat sosok Yifan hyung bersandar di pintu kamarku. Menatap semua kekacuan yang kubuat dengan tenang, seolah-olah melihatku mengamuk adahal hal biasa baginya. Entah sejak kapan dia berada disitu, aku sama sekali tak tahu. Aku menghentikan amukanku dibawah tatapan Yifan hyung. Sesuatu dalam tatapannya membuatku tersadar dengan apa yang baru saja kulakukan.
" Sudah selesai?" Ujarnya enteng tanpa merubah posisi nyamannya yang bersender di pintu kamar hotelku.
Aku menghela napas berat seraya mendudukan diriku di ujung ranjang. Kuusap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Kusembunyikan wajahku dalam telapak tanganku. Terlalu malu menghadapi Yifan hyung dengan kondisi yang seperti ini. Aku dapat mendengar suara langkah Yifan hyung mendekat ke arahku dan tak lama kurasakan sosoknya duduk disampingku. Yifan hyung duduk diam disampingku. Seakan memberikan waktu bagiku untuk menenangkan diri sebelum menghadapi pertanyaan-pertanyaanya. Hening lama diantara kami. Yifan hyung masih belum bersuara dan aku tak punya selera untuk berkata. Sampai akhirnya Yifan hyung memecah keheningan dengan suara beratnya.
" Terakhir kali aku melihatmu mengamuk, saat kau masih di tahun-tahun pertama kuliahmu. Saat itu paman mencabut semua fasilitasmu dan menjadikanmu tahanan rumah saat kau ketahuan meniduri seorang gadis. Saat itu kau masih begundal kecil yang merepotkan." Ujar Yifan hyung. Meski aku tak menatapnya aku bisa mendengar nada geli dalam suaranya dan entah kenapa itu mampu membantuku merasa lebih tenang. Aku tak menjawab perkataan Yifan hyung tapi aku tahu, dia sadar aku mendengarkan perkataannya.
" Kalau tak salah umurmu waktu itu sembilan belas, hmm ? Aku masih ingat jelas bagaimana murkanya paman saat gadis itu datang ke rumah dan minta pertanggung jawabanmu." Ujar Yifan lagi kali ini dia terkekeh pelan. " Maksudku, ya wajar saja sih, yang kau tiduri itu anak rekan kerjanya. Mau ditaruh dimana muka paman?" Yifan hyung tertawa geli dan kali ini aku bisa merasakan sudut bibirku melengkung tipis dengan sendirinya saat mengingat bagaimana appa menghajarku begitu aku pulang kerumah. Pak tua itu dan semangat bela dirinya yang luar biasa.
" Kalau sudah begitu kau akan berlari padaku dan merengek minta bantuan untuk membujuk paman. Benar-benar merepotkan."
Aku berhenti menyembunyikan wajahku dibalik telapak tangan dan meski belum mau menatap Yifan hyung aku dapat merasakan senyumku mulai mengembang. Emosi yang tadi kurasakan perlahan menguap hilang seiring penggalan masa lalu yang diceritakannya. Yifan hyung yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri. Yang terkadang bisa menjadi sosok pengganti appa. Yang tahu bagaimana pribadiku melebihi diriku sendiri.
" Sudah berapa lama itu berlalu, huh? Delapan? Sembilan tahun?" Cibirnya. Aku mengangguk pelan.
" Sekarang kau bukan begundal kecil lagi Jonginah—" Ujar Yifan hyung. Kurasakan satu tangannya menepuk pelan kepalaku membuatku menoleh menatapnya. " –tapi kau tetap adikku yang merepotkan dan aku masih tempatmu untuk berlari meminta bantuan." Yifan hyung tersenyum seraya mengusak rambutku sekilas.
Aku memberinya seulas senyum. Kehilangan tiga hal yang kucintai; kekasih, ayah, dan karir impian membuatku menjadi sosok yang berbeda. Dalam tiga tahun terakhir ini, aku hampir tak punya alasan lagi untuk tersenyum. Yifan hyung adalah alasan terbesar mengapa aku masih melakukannya. Aku bertukar pandang dengan Yifan hyung dan hening diantara kami membuatku tahu akan pertanyaan yang akan segera keluar dari bibirnya.
" Apa yang dikatakannya? " Tukas Yifan hyung tepat seperti yang kuduga. Aku mengalihkan tatapanku darinya dan menghela napas pelan sebelum menjawabnya. Hanya mengingat perkataan Sehun tadi sudah mampu membuat mataku terasa panas.
" Dia memintaku melupakannya. Dia memintaku untuk berhenti mencintainya." Dan kata demi kata terus berlanjut dari bibirku tanpa bisa aku hentikan.
Aku menceritakan semuanya pada Yifan hyung. Aku menceritakan semua yang Sehun katakan. Aku menumpahkan semua kekesalan dan kekecewaanku padanya. Betapa sakitnya aku karena perkataan Sehun, betapa aku kecewa dengan penantianku, betapa aku merasa putus asa dengan ini semua. Semua kuluapkan padanya tanpa ada yang tersisa. Sampai akhirnya aku terdiam karena tidak tahu lagi apa yang ingin kukatakan dan hanya bisa menatap lantai menahan sekuat mungkin air mata yang mendesak keluar sejak tadi.
Jongin dan Yifan duduk dalam diam. Tidak ada yang bicara sejak Jongin mengakhiri ceritanya. Jongin diam karena berusaha keras menahan tangisnya sementara Yifan terdiam karena memberikan waktu bagi Jongin untuk menenangkan dirinya sendiri. Yifan menoleh menatap adik sepupunya yang sekarang ini tampak sangat rapuh didepannya. Yifan tahu Jongin mencintai Sehun lebih dari apapun di dunia ini. Yifan tahu Jongin selalu menyalahkan dirinya sendiri karena perpisahan mereka. Yifan juga tahu seberapa besar keinginan Jongin untuk kembali bersama Sehun dan memperbaiki hubungan mereka. Yifan rasa sangat wajar jika saat ini Jongin merasa sangat putus asa. Yifan menepuk bahu Jongin pelan untuk mengalihkan perhatian adiknya dari serpihan-serpihan kaca yang tengah ditatapnya sejak tadi.
" Kau benar-benar masih mencintainya?" Tanya Yifan setelah lama terdiam.
" Kau sudah tahu jawabannya hyung." Jawab Jongin parau tanpa mengalihkan pandangannya dari serpihan kaca yang berserakan dilantai.
" Kalau begitu rebut dia." Usul Yifan membuat Jongin terperangah menatapnya seolah-olah Yifan adalah makhluk paling aneh di dunia sementara yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa.
" Kau gila hyung ? Kau menyuruhku menghancurkan hubungannya?" Tanya Jongin. Yifan mengangguk.
" Hyung, betapapun aku mencintainya dan ingin kembali padanya, aku tidak mau membuatnya membenciku lebih dari ini." Jawab Jongin lurus membuat Yifan terpekur dan mendesah pelan.
" Kalau begitu aku akan mencarikan wanita atau pria lain untukmu." Usul Yifan lagi.
" Bukan itu yang kubutuhkan hyung." Tolak Jongin. Yifan berdecak tak sabar karena sikap Jongin yang membingungkan. Rasanya ingin sekali dia mencekik Jongin karena sikapnya ini. Jutaan wanita cantik dan pria gay di luar sana yang siap menggantikan posisi Sehun tapi kenapa sekalipun Jongin tidak mau mempertimbangkannya? Jongin membuat semuanya menjadi sulit.
" Lalu apa maumu? Apa kau mau terus diam seperti ini? Kau mau terus mencintai Sehun sampai kapan Jongin?"
Jongin hanya menjawab pertanyaan Yifan dengan helaan napas yang panjang dan gelengan kepala. Yifan menatap Jongin sedih. Dia ingin sekali membantu atau menghibur Jongin lebih dari ini, tapi sejauh inilah yang bisa Yifan lakukan. Yifan merasa dirinya tidak cukup berguna sebagai seorang kakak. Lama mereka berdua terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Jongin memecah keheningan dengan perkataannya.
" Hyung." Seru Jongin tiba-tiba.
" Ya ?"
" Aku akan pindah kemari." Perkataan Jongin sukses membuat Yifan terbelalak lebar.
" A-apa ?"
" Aku akan pindah ke Jepang. Aku tidak mau berpisah lagi dengan Sehun!" Ujar Jongin mantap membuat Yifan semakin terbelalak kaget.
" T-tapi Jonginah, bukannya tadi kau bilang kau tidak mau merebutnya?" Rasanya Yifan masih tak percaya dengan apa yang Jongin katakan. Bagaimana tidak, semenit yang lalu si gila ini bilang dia tidak mau merebut Sehun, lalu kenapa tiba-tiba berubah pikiran?
" Aku berubah pikiran. Percuma aku menunggunya selama ini kalau saat bertemu aku tidak melakukan apapun. Aku tidak mau mengulangi kesalahanku yang dulu. Dulu aku kehilangan dia karena aku tidak berbuat apapun saat dia pergi, sekarang aku tidak mau begitu." Jawab Jongin tegas membuat alis Yifan bertaut.
Yifan melemparkan Jongin tatapan yang seolah berkata –apa-kau-yakin-kau-waras?- sementara Jongin balik menatap Yifan serius.
" Kau sendirikan hyung yang bilang padaku kalau aku berjodoh dengannya aku akan bertemu dengannya lagi? Sekarang aku bertemu dengannya lagi hyung. Ini takdir. " Lanjut Jongin.
" T-tapi katamu dia sudah punya kekasih?" Ujar Yifan mulai panik melihat keseriusan Jongin. Masakan dia benar-benar mau merusak hubungan orang?
" Baru kekasih belum jadi suami, itu berarti masih ada sela untukku. Lagipula kan tadi kau yang mengusulkan padaku untuk merebutnya." Jawab Jongin optimis.
Sekarang Yifan benar-benar panik karena sepertinya Jongin sangat serius. Meski tadi Yifan lah orang pertama yang mengusulkan ide gila ini tapi sebenarnya Yifan tidak sepenuhnya bermaksud seperti itu.
" Jonginah, kalau kau disini bagaimana dengan perusahaan ?" Tanya Yifan. Berusaha menggagalkan niat Jongin dengan embel-embel pekerjaan.
" Aku akan ambil alih dari sini." Ujar Jongin tegas membuat Yifan semakin panik.
" Jonginah, tidak bisa seperti itu—"
" Kenapa tidak bisa? Aku pemimpin perusahaannya." Kecam Jongin.
" T-tapi Jongin, katamu kau tidak mau dibenci Sehun. Kalau kau merusak hubungannya dia bisa membencimu Jonginah." Bujuk Yifan. Berharap argumennya kali ini dapat mematahkan niat buruk Jongin.
Ok, Yifan memang cukup banyak mengajarkan hal buruk pada Jongin. Bahkan dulu Yifan lah yang mengajarkan Jongin bagaimana menjadi seorang womanizer. Tapi meski begitu Yifan adalah seorang gentleman sejati, dan merusak hubungan orang tidak ada dalam kamus seorang gentleman. Demi Tuhan, tadi itu Yifan tidak serius menyarankannya.
" Dibenci pun tak apa hyung. Jika dibenci membuatnya punya alasan untuk terus memikirkanku, maka dibenci pun aku rela." Ujar Jongin lirih membuat Yifan terpaku mendengar perkataan Jongin.
" Selama aku masih bisa berada di dekatnya, dibenci pun tak apa." Jongin mengangguk mantap. Disebelahnya, Yifan bergidik dan menelan ludah dengan susah payah.
Adiknya ini benar-benar sudah gila !
To be Continue...
Reps Corner :
relks88 : Aku ga mungkin ceritain endingnya disini. Aku takut kalian pada bubar jalan :P
Icha : Aku bukan Amin. atau Parmin apalagi Sarimin. Jgn panggil Min ya, panggil Fi aja. Or kak Fi kalau lbh muda dari aku. I'm 91 babies XDD
kjinftosh : Jongin aja yg bego. Siapa juga yg bakal mau di ajak balikan kalo begitu caranya. Jongin mah ga ngerti perasaanya wanita #eehh
oh ana7 : Mungkin. Bisa jadi. Makanya stay tune yaa.. hehehe
fyodult : PCY emang enak buat tempat bersandar. Soalnya dia kan lebar dan panjang/? . Panjang x Lebar = Luas == PCY/?
Dazzling Kaise : Insya Allah~ Insya Allah~ Insya Allah~ ada jalaaaaaaaann *nyanyi brg abang Maher Zaen*
AwKaiHun : Apa rasa itu masih ada? Atau jangan2 Sehun cm gampang baper kek anak abs abs disenyumin cemewewnyaa/? ok. thx for ur support ^^
Xobbledae : Lah situ menang banyak namanya. Mending Jongin ama saya aja XDD
ohhanniehunnie : Mana yg sakit..? * Alaala dokter Chanyeol*
YunYuliHun : Go #teambiarkanjongintersakiti
sehuniesm : Kalo kamu mau sama Chanyeol. Kamu musti sogok aku dulu/? . Nah kamu mau sogok pake apa?
dini : Kalo endingnya Kai sama aku, kamu rela ga?
vitaminexo : Jeng. Terorerorejeng terorerorejeng jeng jeng jeng jeng ! Aku bukan Asthor. Panggil aku Fi, or kak Fi. I'm a 91 babies.
MinnieWW : Aku tau kenapa. Itu karena kamu kejam. Jahat kamu Tapasha. Kamu jahat
yehet94 : Kalau Sehunnya sakit gigi, boleh? Jangan panggil Thor. Panggil aku Fi aja.
n4 : Sesungguhnya fiksi ini sangatlah tidak rumit. Ini bahkan ga ada apa-apanya dibandingkan misteri di balik kopi sianida/?
Guest : The thing is, mereka ga akan pernah punya anak bareng. Terakhir kali aku cek, salah satu diantara mereka ga punya rahim soalnya.
Kaihunchipo : Pesan Kak Fi : Jangan baper nak. Sesungguhnya baper itu berbahaya bagi kesehatan emosi, hati, jantung, paru-paru dan janin. /?
: Setelah ditanya ke yg berwajib/?, perasaan Jongin saat itu seperti perasaannya exo-l waktu tau Kris mau cabut dari exo. #Eeaaa #Atiatibaper
: Lebih mending Sehun diambang kebingungan apa di ambang kematian?
A/N : Hi babies. It's me Fi. How's my babies doing these days? Seperti biasa maapkan replies abal-abal di Reps corner, i'm norak just like that. Tehehehehe. And i'll say welcome to new babies. Welcome to the club. As always babies, reviews, followers and subscribes are very muvh love. I love silent readers as well. Thank you so much for keep coming back babies. Till next time, paipai ^^
