PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
THE PROPOSITION
(The Propotition #1)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !!
Bab 3
Keesokan harinya pada saat jam makan siang, Junsu berjalan melintasi pintu ruang kerja Jaejoong dan melemparkan dompetnya di atas meja kerja Jaejoong. "Apapun kondisinya, jangan biarkan aku mendekati mesin otomatis membeli makanan. Seminggu lagi aku punya janji untuk pengepasan gaunku, dan selama itu aku hanya boleh makan salad dan seledri."
Jaejoong tertawa tidak begitu antusias. Dibenaknya dia masih belum pulih dari kejadian tadi malam, diaterlalu sibuk mengurusi Junsu untuk diet agar terlihat ramping saat menggunakan gaun pengantinnya. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur mencoba untuk membuang dan berpaling saat pikirannya terus berkutat dengan tawaran yang diajukan Yunho. Namun sebagian besar ia terjaga karena bibirnya masih terasa terbakar akibat ciuman Yunho yang begitu panas, tubuhnya terasa sakit menahan kerinduan sepanjang malam, sampai pada akhirnya Jaejoong menyerah dan mengambil vibrator miliknya dari laci nakas.
Setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi, Junsu memiringkan kepalanya ke arah Jaejoong. "Ada apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa." Jaejoong berbohong.
Junsu menatapnya sambil membuka wadah Tupperware-nya.
"Omong kosong. Kau terlihat sangat kacau."
"Terima kasih, aku menganggap kau berbicara seperti itu karena stres menjalani diet rendah karbohidrat, dan kau tidak dengan sengaja bersikap menyebalkan?"
"Ha, ha. Hari ini kau terlihat seperti sangat emosional ingin membuat acara baby shower-mu sendiri." Jawab Junsu sambil makan sesuap selada.
"Bukan, bukan seperti itu." Tanpa sadar Jaejoong mencorat-coret kalender mejanya. Meski belum yakin ia siap mengatakan apapun kepada Junsu tentang semalam saat bersama Yunho, ia seperti akan meledak jika ia tidak memberitahu seseorang. Pada saat yang sama, ia tahu ia membutuhkan saran sahabatnya jika dia benar-benar akan menerimatawaranserius dari Yunho. "Su-ie?"
"Hmm?" Junsu tidak mengangkat wajahnya, ia malah memandangi saladnya dengan ekspresi jijik. "Kau tahu, saat ini aku ingin membunuh seseorang yang membuat ranch dressing (saos untuk salad)."
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Dengan cepat Junsu mengalihkan perhatiannya dari kotak Tupperware-nya ke Jaejoong. "Ough sial. Aku tidak suka nada suaramu. Ada apa? Apa kau dipecat? Tidak, tunggu, apa aku yang dipecat?"
Jaejoong melambaikan tangannya tanda tidak peduli, "Bukan, bukan, bukan seperti itu. Ini tentang..." Jaejoong menarik napas panjang.
"Setelah acara Baby shower, aku pergi minum dengan Yunho Jung."
"Oh Tuhan, kau tidak boleh melakukan itu! Jae, aku sudah memperingatkan kamu tentang dia! Junsu memejamkan matanya dengan erat. "Tolong katakan padaku, dia tidak memanfaatkan kondisi emosionalmu yang sedang rapuh setelah acara Baby shower."
"Aku tidak sebodoh itu," Jaejoong menghela napas.
Junsu membuka mata gelapnya. "Lalu apa yang terjadi?"
Jaejoong lalu meneruskan untuk menceritakansemuanya pada Junsu, dimulai dari kemunculan Siwon dan penentangan Jaejoong tentang penawaran DNA dari Yunho.
Ketika Jaejoong sampai dibagian penawaran Yunho yang menginginkan Jaejoong bisa hamil secara normal, Junsu langsung bangkit dari tempat duduknya, dan melemparkan salad ke depannya. "Gila, Jae!"
"Aku belum menyetujuinya."
Mata Junsu membelalak. "Kenapa tidak?"
"Kenapa tidak? Dua detik yang lalu kau begitu ketakutan saat kau berpikir aku sudah tidur dengan Yunho!"
"Jelas tidak sama. Aku tahu kau menginginkan sebuah hubungan -seorang suami, dan Yunho Fitzgeral bukan sosok seorang suami. Tapi aku yakin ia memiliki sperma yang luar biasa sempurna." Saat
Jaejoong tidak menjawabnya, Junsu membungkuk diatas meja Jaejoong.
"Kenapa kau menolak tawarannya?"
Jaejoong tidak mau melihat ke atas, ke arah Junsu. "Uhm...Kau tahu."
"Itukah jawabanmu? Aku tidak bisa memikirkan kemungkinan alasan untuk mengatakan tidak! Biarkan aku menjelaskan ini padamu, Kau memiliki kesempatan untuk mendapatkan apa yang sangat kamu inginkan di dunia ini, seorang bayi, dari seseorang yang sangat pintar, sehat, berwajah tampan, dan semua itu digabungkan
dengan potensi kegiatan seks luar biasa."
Wajah Jaejoong memerah dan ia menggelengkan kepalanya. "Kau sudah tahu pengalamanku, atau tidak berpengalaman, dengan para pria. Aku bahkan tidak tahu bagaimana untuk memulainya."
"Oh, saat ini aku punya sejuta skenario yang berbeda di kepalaku tentang bagaimana kau bisa memulainya." Jawab Junsu, sambil menaik-turunkan alisnya dengan cepat.
"Eww!" Jaejoong menjerit.
Junsu tertawa. "Oke, oke, aku tak akan menyiksamu lagi dengan hal-hal yang berbau seks."
"Terima kasih."
"Tapi," Junsu berkata, dengan mengangkat satu tangannya. "Hanya jika kau berjanji untuk menerima tawaran Yunho."
Dengan frustasi Jaejoong mengacak-acak rambutnya. "Percayalah padaku, ada suara begitu bersikeras dan menjengkelkan di kepalaku yang memberitahuku untuk segera berlari dengan sangat cepat ke kantor Yunho dan mengatakan iya padanya. Seolah hal itu adalah suatu pukulan aneh memutar takdir yang membuat Yunho muncul seperti itu tadi malam."
"Kedengarannya suara yang berbicara padamu datang dari alasanitu dan aku sangat setuju dengan suara itu. Yunho menawarkan padamu untuk merasakan pengalaman sekali dalam seumur hidup, dengan berhubungan seks lebih dari satu kali agar membuatmu hamil.
Maksudku, jika saja aku tidak jatuh cinta pada Youchun selama lima tahun ini, aku akan mempertimbangkan untuk membiarkan Yunho
melakukan suatu permainan untukku."
Jaejoong menyilangkan lengannya di depan dadanya. "Oh benarkah?"
"Ya," jawab Junsu sambil melamun. "Seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya, Yunho adalah pria menarik dan sangat seksual. Siapa yang tidak ingin mendapatkan pengalaman seksual dengannya setidaknya sekali seumur hidup?"
"Jadi kau mengatakan Youchun bukan pria menarik dan tidak seksual?"
Junsu tertawa. "Youchun hampir tidak memiliki seks yang hebat. Tapi aku selalu membuatnya menjadi seks sedikit liar di hari–hariku, jadi aku sangat puas dengan apa yang kumiliki." Junsu membungkuk untuk mengambil kotak makanan dan peralatan makannya yang dibiarkan tergeletak. Sambil mengayunkan garpu ke arah Jaejoong, ia berkata. "Sebaliknya kau, di sisi lain, kau memiliki kebutuhan seksual yang harus dipenuhi."
Jaejoong memutar matanya. "Tolong jangan bawa kehidupan seksualku dalam masalah ini."
"Ayolah Jae. Apa kau tidak sedikitpun merasa penasaran tentang bagaimana rasanya berhubungan seks dengan dirinya?"
Rasa panas mulai menjalar di pipi Jaejoong saat memikirkan ciuman membara Yunho sampai tubuhnya menempel mobil. Jika Yunho bisa membuatnya begitu bergairah di tempat parkir yang suram, apalagi jika ia melakukan di dalam kamar tidur? "Tentu saja aku penasaran, aku sedang mencapai titik puncak dalam kehidupan seksualku, jadi area gairahku sepenuhnya belum padam."
"Lalu, apa sih masalahnya?"
Dengan serius Jaejoong mengerutkan bibirnya. "Baiklah, caramu membandingkan disini benar-benar buruk. Yunho itu seperti melakukan seks di sirkuit balap di Indianapolis sepanjang 500 mil, dan aku membutuhkan seseorang yang lebih seperti..."
"Bemper mobil?"
"Aku tadi akan mengatakan, aku ingin melintasi jalur lambat, dasar kau sok pintar."
Junsu tertawa. "Maaf. Aku tak bisa menahannya." Ia menegakkan tubuhnya di kursinya. "Ayo teruskan."
Jaejoong memutar-mutar pensilnya tanpa sadar. "Maksudku hubunganku dan Kangin melangkah dengan kecepatan yang sama.
Tentu saja, aku pernah terlibat aktivitas seksual dengan beberapa pria, dan melakukan base ketiga: berciuman, bercumbu dan penetrasi dengan mereka, tapi tidak dengan Kangin. Dia hanya dengan satu gadis yang lain. Kami berkencan sangat lama, namun ia mau bersabar dan menunggu." Jaejoong menggelengkan kepalanya.
"Yunho tidak membuatku terkesan sebagai pria yang penuh pengertian. Dia lebih seperti tipe 'wham, bam, thank you ma'am' berhubungan seks dengan seseorang yang tidak kau kenal setelah itu kau langsung meninggalkannya."
"Kau tidak akan tahu kecuali kau mencobanya. Dan demi Tuhan, Jae, Yunho bukanlah seorang Neanderthal si manusia purba yang akan menjambak rambutmu dan menyeretmu masuk ke guanya."
Junsu terdiam dan menjilat bibirnya. "Walaupun di skenario dia berpotensi memiliki kinky seks."
"Su-ie, tolong." Jaejoong mendesah.
"Baiklah. Ini adalah bagian terpentingnya. Terlepas dari apakah kau sedang jatuh cinta dengan seseorang atau tidak, semua pembicaraan ini mengenai seks. Jadi biarkan dia tahu apa yang kamu inginkan atau tidak. Dia jelas sangat menginginkanmu jika Yunho bersedia menawarkan DNA-nya untuk berhubungan seks denganmu, jadi aku yakin dia pasti dengan senang hati melakukan semuanya sesuai dengan keinginanmu."
Sekilas gambaran kebaikan dan kepedulian Yunho terlintas di pikiran Jaejoong. Yunho bukan seorang bajingan seperti yang dia pikirkan sebelumnya. "Aku rasa begitu..."
Junsu menghela napas. "Oke, Jae, mari kita lupakan semuanya tentang tekanan seksual dan pria seperti apa Yunho itu. Untuk sejenak jangan pikirkan hal lain selain apa yang akan kau rasakan jika tahun depan kau sudah bisa menimang bayimu sendiri di tanganmu."
Memikirkan hal itu air mata menyengatmata Jaejoong, dan itu membawanyakembali mengingat apa yang dikatakan Yunho padanya tadi malam. Seorang bayi - itulah bagian terpentingnya. Tentu saja, Yunho memang orang asing bagi dirinya, tapi itu sama saja, atau mungkin bisa lebih buruk lagi jika ia memilih menggunakan donor
sperma. Dengan Yunho ia memiliki kesempatan untuk lebih mengetahui kehidupan calon ayah bayinya secara langsung, sementara jika ia pergi ke klinik hal itu tak mungkin ia dapatkan.
Jaejoong tidak memiliki banyak pilihan, jadi jika ia ingin memiliki seorang bayi, Yunho adalah pilihan yang paling masuk akal.
Jaejoong menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Junsu berhasil memecahkan sedikit masalah yang ia tinggalkan. "Sekali lagi kau telah membuktikan bahwa kau memang cocok berada di dunia periklanan karena kau baru saja berhasil menjual penawaran Yunho kepadaku."
Junsu menjerit sambil berlari ke sisi meja. Melingkarkan lengannya di leher Jaejoong, dan tersenyum puas. "Oh, Jae, bayangkan saja tentang anak cantik yang kau buat dengan Yunho. Entah laki-laki atau perempuan, suatu hari nanti dia pasti akan menjadi seseorang yang akan membuat patah hati orang lain."
Jaejoong tersenyum. Gambaran seorang bayi dengan mata hijau tajam seperti miliknya dan berambut pirang kecoklatan dari Yunho terlintas di benaknya. Jaejoong akan membuat mimpinya menjadi kenyataan.
