Foodie
.
.
.
Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.
.
.
.
Pair : Various pairings (or you can request too) ((only for bap, bts, toppdogg, and got7))
Genre bisa berubah di setiap update.
.
.
.
Inspired by food, ofc. ((authornya doyan makan))
.
.
.
Chapter 4, Kidoh x Seogoong : Homemade Beef Teriyaki (1.486 words)
Rating : K
Genre : Romance (lagi)
"Terkadang makan masakan enak pun akan terasa hambar jika bukan kau yg membuatnya."
p.s : (tolong jangan lupa baca author's note untuk info next chapter.)
.
.
.
Happy reading, readers!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hyosang mengetuk pintu apartemennya. Di pundaknya tersampir sebuah backpack hitam berukuran sedang, snapback hitam di kepalanya, jeans hitam dan kemeja putihnya sudah terlihat sedikit lecek dan basah. Hyosang menunggu pintu itu terbuka, karena ia tahu seseorang pasti sedang berada di dalamnya.
"Hyosang! Selamat datang!" seseorang langsung menghambur memeluknya saat pintu itu dibuka.
"Wow wow kau memelukku terlalu kencang, Nona." Hyosang tersenyum, dan ujung bibirnya membentuk simpul.
Hyunho si pemeluk melepas pelukannya, kemudian menarik tangan Hyosang untuk masuk ke dalam apartemennya. Tak lupa juga dia menutup pintu.
"Basah, memangnya hujan?" Hyunho menaruh tas Hyosang di sisi sofa di ruang apartemen minimalis itu. Lalu dia berdiri dan bergegas ke kamar, mengambil handuk kering.
Hyosang menyimpan jawabannya, dia melepas sepatunya, tangannya membuka kancing di kemejanya, lalu melepas kemeja itu dari tubuhnya.
Hyunho kembali dengan sebuah handuk putih.
"Tidak hujan, hanya saja hari ini dewi fortuna tak bersamaku." Ucap Hyosang, tersenyum.
Hyunho mengangguk mengerti. Dia duduk di sebelah Hyosang dan meletakkan handuk itu di pangkuannya.
"Kau mau mandi? Akan kusiapkan air hangatnya."
"Tidak, aku tidak biasa mandi dengan air hangat." Hyosang tersenyum lagi.
"Karena tak punya waktu untuk menyiapkan air hangat, sudah pasti. Kau 'kan pemalas." Ucap Hyunho.
"Aku hanya terlalu sibuk. Sibuk memikirkanmu." Hyosang mengambil handuk di pangkuan Hyunho, lalu mengeringkan rambut dan juga tubuh bagian atasnya.
"Seberapa rindu kau padaku, eh? Tak biasanya Jin Hyosang menggombal padaku." Hyunho mencibir lucu.
"Kau di Jepang satu tahun, bodoh. Aku merindukanmu, sangat." Hyosang mencium pipi Hyunho.
Rona merah menjalar di pipi Hyunho, "dan kau terlalu pengecut untuk bilang itu.".
"Aku tak punya waktu, kau tahu 'kan."
Hyunho menjadi sedikit kesal. Dia ingat saat dia masih di Jepang, dia mendapat tawaran melanjutkan studinya disana untuk satu tahun. Hyosang hanya rutin mengiriminya pesan singkat, namun jarang sekali menelepon/mengajak video call. Bahkan Hyunho bisa menghitung dengan jari berapa kali Hyosang meneleponnya. Maklum, Hyosang yg bekerja sebagai penulis lagu dan produser musik tidak bisa seenaknya diganggu karena musik yg bagus berasal dari ketenangan, menurut Hyosang.
Hyunho dulu bisa saja tak mengambil tawaran studi itu, tetapi karena keinginannya untuk lulus kuliah secepatnya (sementara Hyosang sudah lulus kuliah 2 tahun sebelum mereka menikah, karena Hyosang mengikuti program akselerasi), dan juga Hyunho ingin melihat perubahan sikap Hyosang nanti saat terpisah darinya, karena jujur saja Hyosang sangat tinggi egonya. Maka Hyunho putuskan untuk menerima tawaran itu dan lihat hasilnya? Hyunho tersenyum penuh kemenangan dengan perubahan sikap Hyosang.
"Jadi kapan kau sampai tadi?" Hyosang menatap Hyunho, lalu menghapus jarak diantara duduk mereka dan merangkul bahu Hyunho.
"Aku sampai di Incheon jam 2 siang, terima kasih tidak menjemputku, untung saja aku bertemu Byungjoo." Ucap Hyunho dengan ekspresi kesal.
"Byungjoo? Byungjoo siapa?"
"Byungjoo, tunangannya Jiho." Hyunho menyandarkan kepalanya di bahu Hyosang.
"Jiho... Shin Jiho temanku maksudmu?" ucap Hyosang.
"Memangnya siapa lagi. Lagipula Byungjoo 'kan sepupuku."
"Oh begitu."
Setelahnya tercipta keheningan. Hyunho masih menyandarkan kepalanya di bahu Hyosang, sementara si empunya bahu mengambil remote tv lalu menekan tombol on.
"Mandi dulu." Hyunho merebut remote tv dari tangan Hyosang.
"Aku lapar." Hyosang menepuk perutnya yg ber-abs hampir sempurna itu.
Hyunho langsung bangkit dan menuju ke dapur setelah memberikan kembali remote tv itu kepada Hyosang. Dia lalu membuka kulkas, mengeluarkan tempat sterofoam berisi danging sapi fillet yg masih segar. Lalu tak lupa mengambil bawang bombay, paprika merah dan hijau, sedikit wijen, garam, lada hitam bubuk, dan saus teriyaki. Hyunho mengeluarkan daging dari tempat sterofoamnya, lalu mencuci potongan-potongan daging itu sampai bersih, dan meletakkan daging yg sudah bersih itu di piring. Paprika juga dicuci bersih. Tangan terampilnya mengambil pisau dan talenan, kemudian memotong potongan daging sapi fillet itu menjadi potongan kecil panjang. Setelah selesai dengan daging, dia mengiris bawang bombay, tak lupa juga paprikanya. Lalu dia mengambil wajan dan spatula, memasukkan sedikit minyak ke wajan dan memanaskannya. Setelah sudah cukup panas, Hyunho memasukkan irisan bawang bombay terlebih dahulu. Dia menumisnya sampai mengeluarkan bau harum khas bawang. Setelah itu, tangannya memasukkan irisan paprika merah dan hijau ke tumisannya.
Hyunho sibuk dengan tumisannya, bahkan tak menyadari kini Hyosang menuju ke dapur, dalam keadaan topless karena setelah melepas kemejanya ia tak memakai baju ganti.
Hyunho kemudian memasukkan potongan-potongan daging itu ke wajan, mengaduknya bersama dengan tumisan bawang bombay dan paprika. Kemudian memasukkan garam dan saus teriyaki.
Saat tangannya baru saja akan mengambil botol kecil berisi lada hitam, dirasanya seseorang memeluk pinggangnya dari belakang.
"Astaga, Hyosang!" tak sengaja, botol lada yg sudah terbuka itu kena kibasan tangan Hyunho yg refleks karena kaget.
Tapi Hyosang menangkap botol itu, tak membiarkannya jatuh ke lantai.
"Maaf." Bisiknya di telinga Hyunho, sembari tangannya membubuhi tumisan daging di wajan itu dengan lada hitam.
"Hei, idiot, kau memasukkan ladanya terlalu banyak!" Hyunho langsung merebut botol merica dari tangan Hyosang.
"Nona, aku suka lada." Hyosang mencium pipi tembam Hyunho, gemas.
Hyosang kini meletakkan dagunya di bahu Hyunho, membuat Hyunho kegelian.
"Hyosang hentikan, atau aku akan memukulmu dengan spatula!" sayangnya Hyosang tak menghiraukannya, ia memeluk pinggang Hyunho makin erat, dan malah menggerak-gerakkan dagunya, membuat Hyunho tambah geli.
TAK!
Spatula kayu itu beradu dengan dahi Hyosang, menyebabkan rasa sakit yg langsung menjalar ke kepala Hyosang.
"Nona, sakit." Hyosang melepas pelukannya, meringis kecil lalu mengelus-elus dahinya yg kini merah akibat pukulan spatula Hyunho. Hyosang lalu memutuskan untuk kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa.
Hyunho bergumam, "Salah sendiri." Sementara Hyunho kembali fokus pada masakannya. Saat dirasa sudah matang, dia kemudian menaruhnya di piring dan tak lupa menghiasnya dengan taburan sedikit wijen dan sisa irisan paprika tadi.
Dia mengambil 2 buah mangkok, 2 buah gelas dan 2 pasang sumpit plastik. Mangkok itu masing-masing diisi dengan nasi yg memenuhi ¾ mangkok itu. Hyunho lalu berjalan menuju kulkas, mengambil sebotol besar air putih, tak lupa mengambil nampan, kemudian meletakkan masakannya, beserta nasi, gelas dan botol air.
Hyosang masih mengelus-elus dahinya saat Hyunho datang membawa makanannya. Hyunho menaruh nampan itu di meja lalu duduk di sebelah Hyosang, kemudian mengelus-elus dahi Hyosang dengan tangan kanannya.
"Maaf. Aku semakin kasar, ya." Hyosang menatapnya, membiarkan tangan Hyunho mengelus dahinya.
"Tidak, memang kebiasaanmu." Hyosang kini merangkul pinggang Hyunho, sambil tersenyum.
"Sepertinya kau makin sentimen ya, sejak terpisah denganku?" goda Hyosang dengan tatapan 'hayo-mengaku' yg dia tujukan tepat ke manik cokelat Hyunho.
"Tidak."
"Mengaku saja, nona."
"Tidak. Dan berhentilah memanggilku nona." Hyunho mencubit perut Hyosang.
"Nona Jin. Jin Hyunho." Dan Hyosang tertawa keras setelah melihat rona merah muncul di pipi putih tembam milik Hyunho.
"Hyosang!" Hyunho melotot, lalu bersikap masa bodoh, maka ia mengambil mangkuk berisi nasi dan sumpit.
Hyunho mulai menyumpit nasi di mangkuknya, tanpa mempedulikan Hyosang yg masih tertawa.
"Salah tingkah sampai makan nasi polos tanpa lauk? Hahahaha Hyunho kau lucu sekali." Hyosang kini berpindah tempat duduk, yg tadinya duduk di sofa kini bersila di karpet.
"Aku yakin di Jepang kau makan bersila di karpet, bukan duduk di sofa, Hyunho." Hyosang lalu menarik tangan Hyunho, bermaksud menyuruhnya duduk di karpet.
Hyunho menuruti Hyosang, dengan wajah kesal dan rona merah yg masih menghiasi pipinya.
Hyunho meletakkan mangkuk dan sumpitnya di meja, lalu hanya memperhatikan Hyosang yg mulai makan dengan tenang. Hyosang menyumpit daging lalu memasukkannya ke mulutnya. Ia mengunyah, merasakan perpaduan rasa gurih dan spicy di mulutnya, merasakan kelezatan masakan Hyunho yg selama ini ia rindukan.
"Masakanmuw sewlaluw enyak" (masakanmu selalu enak), "bwahkan melwebihi masakan restowran bintang lyima." (bahkan melebihi masakan restoran bintang lima), Hyosang mengacungkan jempolnya lalu kembali mengunyah.
"Eih, aku masih belajar, koki restoran bintang lima 'kan sudah professional."
Hyosang menelan kunyahannya, "Terkadang makan masakan enak pun akan terasa hambar jika bukan kau yg membuatnya."
Hyunho menatap Hyosang, terkejut. Hyosang yg biasanya terlalu gengsi untuk memuji/mengatakan kata manis untuk Hyunho, kini mengucapkannya, membuat hati Hyunho luluh.
Hyunho membuang tatapannya ke sembarang arah, dan memilih untuk menatap cincin perak di jari manis kanan Hyosang, yg juga berpasangan dengan cincin perak di jari mais kiri Hyunho. Cincin perak yg menjadi ikatan antara dia dan Hyosang. Cincin perak yg Hyosang sematkan di jari manis kirinya 1,5 tahun yg lalu di altar gereja, di hadapan keluarga dan teman mereka, sebagai simbol Hyosang dan Hyunho adalah satu kesatuan yg tak pernah berakhir, menurut filosofi bentuk bulat dari cincin itu sendiri.
"Hey?" Hyunho kembali menatap Hyosang saat tangan yg ditatap itu menggenggam tangan kirinya. Hyosang meletakkan mangkuk dan sumpitnya di meja, kemudian mendekat ke arah Hyunho.
"Kuharap setelah ini kau tak akan menetap di negeri orang lagi. Hariku tak pernah diberkati dewi fortuna jika tanpamu." Hyosang memeluk Hyunho, membiarkan kulit terbukanya bersentuhan dengan lembutnya kain sweatshirt yg Hyunho kenakan.
"Asal kau janji tak akan gengsi lagi. Egomu sangat tinggi, kau tahu?" Hyunho membalas pelukan Hyosang, pelukan suaminya.
"Aku tak akan pernah ingkar janji." Hyosang melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Hyunho dengan kedua tangannya, kemudian mencium bibir tipis milik Hyunho.
Hyunho tersenyum, "baiknya segera habiskan makan malammu, Hyosang. Kau akan masuk angin jika kelamaan topless begitu."
Hyosang pun tak dapat mencegah senyum di bibirnya, "bukannya kau sangat suka melihatku topless?"
"Hyosang!"
Dan malam itu, setelah selesai menghabiskan beef teriyaki buatan Hyunho yg super spicy karena kebanyakan lada itu , Hyunho akhirnya memutuskan untuk menerima permintaan Hyosang, yaitu :
.
.
.
Memandikannya.
.
.
.
End.
Assalamualaikum ! Halo, saya kembali! Chapter ini spesial untuk para kigoong shipper yg super langka (lebih langka daripada bangdae dan namseok shipper, miris sekali! T_T). Sengaja aja bikin marriage life, gatau kenapa haha. Untuk chapter depan itu castnya GOT7, Cuma saya masih bingung, maka dari itu ayo vote, markgyeom/2jae/yugbam/markjin/markson? Tolong vote di review box, ya. Saya butuh minimal 10 vote review untuk lanjut ke chapter 5, jadi jangan lupa vote ya!
Terima kasih banyak untuk yg sudah review di chap 1/2/3, terima kasih banyaaak dan maaf kalau review kalian gak saya balas, bukannya sombong dan gak tau terima kasih tapi I'm a bit males untuk balesin review, maafkan aku ;-;
Sekali lagi, saya selaku individu yg tidak sempurna sudah pasti punya banyak kesalahan, baik yg sengaja maupun tidak disengaja, mohon dimaafkan seikhlasnya :)
Minal aidzin wal fa'idzin, selamat hari raya Idul Fitri 1436 H, semoga di hari yg suci ini kita semua bisa kembali terlahir sebagai individu yg taat, bertaqwa, dan lebih menghargai berbagai aspek kehidupan :)
Akhir kata, wassalamualaikum .
Xoxo, Nadya Ramadhana.
p.s : (follow me on twitter : instagyeom)
