Judul: Little Fire on the Candle

Sub-judul: Question

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING: AU, OOC-ness

Pairing: SasuHina, SasuSaku

NOTE: Di chapter ini saya tingkatkan pace-nya sedikit, supaya alurnya maju. Saya tipe author yang condong ke drabble-ish author, jadi kalau ga didesak dengan satu pijakan kuat buat majuin alur, bisa-bisa sepuluh chapter terus aja nyeritain hal-hal kecil yang memancing pergolakan batin Sasuke tiap chapternya (keringet dingin).

ETA: Terima kasih pada Cake Nightray Vessalius yang sudah mengutarakan kekurangan pada chapter ini. Sudah saya koreksi pada bagian-bagian yang Anda sebutkan. Bila ada yang terlewat, murni human-error. Berikutnya akan saya perbaiki lagi.

Melihat ada yang masih bingung dengan 'Astrologi' dan 'Astronomi' yang saya pakai dalam fic ini, saya akan jelaskan sekali lagi:

Untuk membicarakan 'cek & giro', tentu kita tak lepas dari 'uang'. Berbeda, tapi bertalian. Serupa tapi tak sama.

Semua hal yang berhubungan dengan benda langit dan semacamnya (astronomi) adalah pengantar untuk menu utama kita, astrologi. Kalau saya tiba-tiba membahas ramalan bintang, atau melulu membahas emosi manusia dan kaitannya dengan pergerakan benda langit, rasanya tidak nyaman dan tidak sesuai. Mungkin ini selera saya. ^^

Yang bisa saya katakan adalah, percaya saja pada saya sebagai author, bahwa tidak ada satu halpun dalam fic ini yang sekedar tempelan belaka, atau pemanis, atau asal-asalan. Semua sudah dipertimbangkan dengan cermat. Berbagai rencana dan plot sudah ada dalam kepala saya. (Jika kalian jeli, bisa dilihat setiap hal yang seolah remeh dalam fic ini sebenarnya memiliki peran lebih) ^^

Stop the rambling, and here we go:


Little Fire on the Candle

( Act 4: Question )


.

Sasuke tengah membuka gerendel gerbang depan rumahnya, ketika seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh menghampirinya dan berujar, "Nona Hinata menunggu di dalam."

Sasuke sedikit terkejut. Tak biasanya Hinata datang ke rumahnya tanpa berkata apapun dulu sebelumnya.

Sasuke mempercepat langkahnya, membuka pintu depan dengan terburu. Di dalam ruangan luas itu, seorang wanita setengah baya yang berparas cantik masih tetap dalam posisi yang sama ketika ia meninggalkan rumah tadi siang. Terpaku pada layar televisi.

"Kudengar Hinata datang," Sasuke menghampiri wanita itu.

Sang wanita menoleh sekilas, "Ya, menunggu di kamarmu," ujarnya singkat sebelum kemudian melepas tawanya seraya menunjuk layar televisi. Sasuke sempat melirik dan melihat sekelompok orang tercebur ke dalam kubangan di layar kaca yang lebar itu.

Mendengus, segera dihentakkannya kakinya menuju lantai dua, menuju kamarnya di loteng.

Pintu kamarnya terbuka sedikit dan segera dimasukinya kamarnya itu, "Hinata kau di sini?" ujarnya membuka pintu kecokelatan kamarnya lebar-lebar.

Seorang gadis berambut hitam keunguan dan berparas lembut tengah duduk diam di atas tempat tidurnya dengan sebuah buku di tangannya, "Sasuke, selamat sore. Maaf aku lancang masuk ke ke kamarmu," ucapnya dengan senyum di bibirnya.

Sasuke tesenyum, menghampiri laci di samping tempat tidurnya dan meletakkan dompet biru tuanya di sana, "Kau ini bicara apa, tentu saja tidak apa-apa. Kau kan pacarku," ujarnya ringan.

Gadis berambut hitam itu menggoyangkan kakinya yang terjulur di sisi bangku tempat tidur, "Ng… Tak biasanya kau keluar rumah sendirian."

Sasuke menoleh sekilas. Dengan gerakan yang sedikit cepat, dibukanya pakaiannya dan memakai t-shirt biasa untuk di rumah, "Bukannya hari ini kamu ada kerja kelompok bersama teman-teman penelitianmu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Gadis berambut hitam di belakanganya memainkan helaian rambutnya, "Sudah selesai. Tadinya aku mau menghabiskan waktu yang tersisa seharian ini denganmu," gadis itu menatap Sasuke lekat-lekat, "tapi tampaknya kau sibuk."

"Kenapa tidak menelepon ponselku?" Sasuke mengganti celananya kini.

"Sudah. Tapi ponselmu kau geletakkan di atas meja."

Sasuke menoleh pada meja kecil di samping tempat tidurnya. Oh Tuhan, ia lupa membawanya tadi. Ditengokkannya kepalanya pada Hinata, "Maaf," ucapnya dengan sedikit canggung.

"Sudah makan siang?" Gadis berambut hitam itu tersenyum ke arahnya, menepis topik yang tidak mengenakkan.

Sasuke mengangguk kecil. Dilangkahkan kakinya menuju kamar mandi, "Aku cuci muka sebentar."

Sasuke menatap bayangan dirinya di cermin yang menempel di dinding kamar mandi kecil itu. Dibasuhnya mukanya, dan menghela napas.

Ketika Sasuke kembali ke dalam kamar, yang dilihatnya adalah gadis berambut hitam itu di depan laptop-nya di meja belajar. "Hinata, sedang apa?" tanyanya sedikit terkejut.

Gadis berambut hitam yang dipanggil Hinata itu tak menoleh, "Melihat-lihat," jawabnya singkat, masih terpaku pada layar laptop di hadapannya.

Sasuke menghampiri Hinata di meja belajar, dan seketika ia terkesiap ketika dilihatnya Hinata tengah menatap webpage yang menunjukkan Konoha Chatroom di sana. "Kau sering ke sana?" Sasuke berusaha terdengar sewajar mungkin.

"Tidak," sahut Hinata pendek, "aku cuma membuka Browser History-mu."

Sasuke terkejut, "Hei, hentikan!" ujarnya tanpa pikir panjang dan merenggut mouse dari tangan Hinata. Sekejap kemudian laptop itu mati setelah ia menekan beberapa menu.

"Aku tidak tahu kamu tertarik pada dunia maya," Hinata mendesis perlahan, menjauhkan tangannya dari mouse laptop milik Sasuke di hadapannya.

"Cuma iseng," jawab Sasuke seraya mengelap mukanya dengan handuk kecil di pundaknya.

Hinata mengangguk perlahan, "Oh…"

Sasuke merebahkan dirinya di atas ranjang berseprai biru langitnya, menghirup napas dalam-dalam. Aroma wewangian dari pengharum ruangan lavender tercium lembut. Wangi Hinata.

Ia ingat betul saat pertama kali Hinata mengajaknya ke sebuah toko aroma terapi, dan menyarankannya untuk membeli pengharum lavender keungunan itu. Dalam bulan-bulan berikutnya, tiba-tiba saja hal itu sudah menjadi kebiasaan. Kini ia bahkan tak bsia tidur tanpa wewangian lavender.

Mungkin seperti itulah ketergantungannya terhadap Hinata diibaratkan. Wanginya yang merasuk jauh ke dalam dirimu, mencengkeram hatimu, dan tanpa kau sadari kau tak bisa lepas dari dirinya.

"Hari ini aku memperingatkan teman satu kelompokku yang kubilang menyebalkan itu, kau ingat?" Hinata menggeser kursi putarnya mendekati ranjang tempat Sasuke berbaring.

"Yang rambutnya kuning emas dan selalu berbicara keras itu?" Sasuke melirik Hinata sedikit.

Hinata mengangguk pelan, "Benar."

Sasuke terdiam sejenak. Setelah beberapa saat ia membuka suara lagi, "Naruto. Kalau tidak salah namanya begitu?" ujarnya menoleh pada Hinata.

Hinata sedikit terkejut, tapi senyum kembali terpoles di wajah lembutnya itu dan mengangguk, "Dia bilang dia akan lebih berkonsentrasi lain kali," Hinata menghela napas, "walau entah sudah yang keberapa kalinya hal itu diucapkannya. Aku tidak suka, dia terlalu banyak omong kosong."

Sasuke tertawa kecil, "Yang seperti itu seharusnya disingkirkan sejak awal. Kenapa kau membiarkannya masuk kelompok penelitianmu?"

Hinata tersenyum sedikit, "Kurasa seseorang bisa berubah, kita harus memberinya kesempatan selama dia masih bersunguh-sungguh."

Sasuke menatap kekasih hatinya itu, "Kau terlalu baik," ujarnya. Hinata tertawa kecil.

"Bagaimana caranya kau mengetahui kesungguhan hati seseorang?" Sasuke meraih ponsel di atas meja kecil di samping ranjangnya dan memainkan gantungan berbandul huruf H keperakan. H dari Hinata, tentunya.

Hinata menyandarkan punggungnya di sandaran kursi putar, menghela napas sejenak, "Tidak ada cara khusus. Yang kau butuhkan hanya rasa percaya," ujarnya ringan. Sasuke tertegun dan menatap ke arahnya.

"Aku tidak suka laki-laki itu," desis Sasuke. Hinata sedikit terkejut.

"Kenapa?" Hinata mengerutkan keningnya sedikit.

Sasuke mengangkat bahunya, "Insting," jawabnya sekenanya. Meninggalkan pertanyaan besar di kepala Hinata.

"Oh iya, sejak kapan kau datang?" Sasuke mengalihkan pandangan dari gantungan ponselnya pada Hinata.

Hinata mengangkat empat jarinya.

"Pukul empat?!" Sasuke terpekik. Ini sudah pukul enam sore, dan ia telah membiarkan Hinata menunggu selama dua jam. Sungguh sesuatu yang sangat disesalinya.

Hinata menggelengkan kepalanya perlahan, "Empat jam lalu," ucanya pelan.

Sasuke terkejut bukan main. Segera ia melompat dari posisinya berbaring dan kini terduduk di atas ranjangnya menatap Hinata. "Maaf," desisnya. Raut penyesalan terpampang di sana.

Hinata menggelang pelan, "Tidak apa-apa," ujarnya masih dengan senyuman lembut di wajahnya. "Kau pasti sangat menikmati aktifitasmu seharian di luar ini hingga lupa waktu," tambahnya lembut.

Sasuke sedikit tersentak, "Oh, bukan begitu. Aku hanya merasa bosan di rumah dan memutuskan jalan-jalan sebentar. Tahu-tahu saja langit sudah mulai gelap," ujarnya sedikit kalang kabut.

Hinata tertawa kecil dan membisikan 'tidak apa-apa' sekali lagi.

"Ah, aku hampir lupa," Hinata menepuk kedua tangannya, "aku buatkan croissant kesukaanmu," ia menghampiri plastik besar di dekat kaki ranjang Sasuke dan membuka plastik merah itu dengan cekatan.

"Wow! Terima kasih, Hinata. Kau selalu ingat kesukaanku," Sasuke tersenyum lebar, girang.

Hinata mengeluarkan sebuah kotak transparan dari dalam kantong plastik itu dan meletakkannya di atas tempat tidur, di hadapan Sasuke. "Tadi waktu kubawa kemari, croissant-nya masih hangat. Sengaja kubawa hangat-hangat."

Sasuke tertegun, "Maaf…" ulangnya.

Hinata mengeluarkan sebungkus tisyu, "Tidak usah meminta maaf sebanyak itu. Kau tahu kan, apapun yang kau lakukan, aku akan selalu memaafkanmu," Hinata tersenyum pada Sasuke.

Sasuke menelan ludah.

"Ayo cepat makan," Hinata menjulurkan sebuah croissant yang dibalut tisyu padanya, "habiskan ya."

Sasuke tersenyum, "Tentu," ujarnya sambil menerima croissant yang diulurkan ke hadapannya itu dan mulai menggigitnya.

Keheningan kembali menyeruak. Sasuke sibuk menikmati croissant lezat buatan orang yang paling dikasihinya itu, sementara Hinata menggoyangkan kakinya di kaki kursi dan terpekur menunduk seolah memikirkan sesuatu. Baik Sasuke maupun Hinata tidak ada yang angkat bicara.

Keheningan macam ini bukanlah hal yang tak biasa. Hanya dengan berada bersama satu sama lain, keduanya dapat merasakan perasaan tenang dan nyaman. Keduanya bahkan sering menghabiskan waktu berjam-jam dalam diam dan hanya saling menyandarkan punggung dan memainkan jemarinya masing-masing.

Sasuke tengah meraih croissant yang kedua, ketika Hinata membuka suaranya, "Sudah lama sekali, sejak pertemuan terakhir kita."

Sasuke menggigit croissant-nya, "Ya," jawabnya singkat.

"Aku kangen padamu," Hinata berucap perlahan. Kepalanya masih tertunduk.

Sasuke menghentikan aktifitasnya, menatap Hinata. Semburat rona merah dapat dilihatnya dari pipi lembut Hinata. Sasuke tersenyum, "Aku juga. Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu. Kurasa aku bakal gila kalau tidak bertemu denganmu seminggu lagi."

Hinata mengangkat kepalanya sedikit, "Aku…takut."

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Takut kenapa?"

Hinata meremas rok merah marunnya. Sedikit keraguan terpancar di wajahnya, namun diucapkannya juga kata-kata yang telah begitu membebani pikirannya selama sebulan belakangan ini, "Takut kau akan berpaling pada wanita lain."


Suara nyaring deringan jam weker menggema. Sasuke mengulurkan tangannya dari balik selimut dan menekan tombol di atas jam kecil kebiruan itu. Diintipnya sedikit jarum jam yang terpampang di sana. Pukul tujuh tepat.

"Sasuke~ Mau tidur sampai kapan? Cepat bangun, hari ini kau harus menyelesaikan banyak tugas di sekolah kan?" sebuah suara menyeruak. Sasuke menoleh ke arah pintu dan didapatinya seorang wanita setengah baya tengah berdiri di ambang pintu.

"Aku tahu," jawabnya singkat. Tanpa menunggu respon dari wanita setengah baya itu, Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dalam kamarnya.

"Kau sama sekali tidak pernah menganggapku sebagai seorang Ibu," wanita itu menatap Sasuke tajam. Jawaban yang diterimanya hanyalah bantingan pintu kamar mandi.


Hari Senin bukan hari yang menyenangkan bagi Sasuke. Ada banyak hal yang harus dilakukannya, mengingat statusnya sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Namun juga bukan hari yang menyebalkan, mengingat ia akan beraktifitas seharian sehingga tak sedikitpun rasa bosan terbersit dalam pikirannya.

"Capeknya~" seorang gadis berambut pirang yang dikuncir empat menjatuhkan dirinya di atas kursi. Diliriknya Sasuke dan berujar, "Hei Ketua, boleh kan aku istirahat sejenak?"

Sasuke mengangguk tanpa menyahut. Di hadapannya kini setumpuk kertas tengah menunggu untuk ditandatangani. Tak ada waktu untuk hal yang tak perlu—begitulah.

"Setiap hari selalu saja begini. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Bukannya aku tak suka, tapi kuharap kau mengerti betapa penatnya aku, setiap hari menjalani rutinitas yang sama," gadis pirang itu menghela napas, menatap kipas angin besar di atas ruangan.

Sasuke sedikit banyak mendengar apa yang dikatakan gadis pirang itu. Rutinitas berulang… Ya, ia sendiri merasakan kebosanan yang tak berhingga itu.

'Mungkin hidupku lebih berwarna dari hidupmu,'

—Tiba-tiba saja sosok Sakura muncul dalam kepalanya. Sasuke tertegun. Detik berikutnya, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. "Betul juga ya… betul juga…" ucapnya dalam hati.

"Apa usulku tempo hari itu diterima?" suara gadis pirang itu kembali menyeruak, membuyarkan lamunan Sasuke.

Sasuke tak mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas di hadapannya. Kertas-kertas itu adalah poster dan pamflet yang akan disebarkan dalam sepekan ke depan di seluruh penjuru sekolah dan sekitar kompleks sekolahan. "Tentang stand pengisi pengganti stand salon itu?" Sasuke balas bertanya.

Gadis berambut pirang menggumamkan 'Ya'.

"Tentu saja. Kau urus saja sesukamu. Sebagai wakilku, kau tentu tahu mana yang baik dan buruk bagi festival yang akan datang ini. Jangan lupa kalau ini adalah proyek besar kita."

Gadis pirang itu bangkit dari kursinya dan meregangkan otot tangannya, menghela napas panjang, "Baiklah, saatnya kerja! Kerja!" gumamnya.

Tepat sebelum gadis pirang itu melangkahkan kaki keluar ruangan OSIS itu, Sasuke berseru, "Letakkan papan tanda 'Sedang sibuk' di depan pintu, Temari!"

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, ketika Sasuke menyelesaikan semua laporan yang harus dikoreksinya berkenaan dengan festival yang akan dilaksanakan sekolahnya dua pekan mendatang. Menggeliat sebentar, ia kemudian meraih ponselnya dan mengetik dengan cepat.

'Hinata masih sibuk? Ada dimana?

Aku baru selesai dengan urusan OSIS, mau makan siang sekarang.

Kalau kau senggang, bisa makan siang bersama?'

Sasuke meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Menyandarkan punggungnya dengan santai, mencoba rileks. Baru saja kelopak matanya terkatup, ponselnya bergetar. Segera disambarnya benda mungil berwarna keperakan itu dan dibukanya cepat.

'Maaf, aku sudah makan siang bersama teman kelompok penelitian…

Sekarang kami sudah mulai lagi berkutat dengan penelitian…

Maaf ya…'

Sasuke menghela napas. Diketikkannya kalimat yang hinggap di kepalanya,

'Tak apa.

Semoga penelitianmu berjalan lancar.

Sampai nanti =)'

Tak beberapa lama kemudian, jawaban dari Hinata datang.

'Aku sedang berusaha keras, terima kasih. Aku semakin bersemangat. =)

Makan yang banyak ya. Jangan terlalu lupa waktu dengan tugas OSIS-mu.

Sampai nanti =)'

Sasuke menutup ponselnya. Merebahkan lehernya di sandaran kursi empuknya, ia putar kursi itu menghadap jendela.

.

Ruang OSIS yang ia tempati cukup besar. Dinding berwarna kuning gading yang terang, dengan jendela besar yang menghadap ke lapangan sekolah. Lantai keramik berwarna putih dengan sedikit corak kehijauan, dan lima buah meja kayu cokelat dalam ruangan.

Satu meja bundar yang cukup besar terletak membisu di tengah ruangan, berparade dengan satu meja lainnya di ujung ruangan dekat pintu masuk, tempat Bendahara OSIS menghabiskan waktunya seharian menghitung anggaran dan satu meja di samping kiri jendela besar tempat Sekretaris mengetik dan membuat berbagai macam laporan, bersama dengan satu meja lagi di samping kanannya tempat Wakil ketua menghabiskan waktunya. Terakhir tentu saja meja panjang di depan jendela besar—meja untuk ketua OSIS, yang tak lain adalah Sasuke sendiri.

Kursi-kursi kulit yang empuk di belakang setiap meja, kecuali meja bundar di tengah ruangan yang tak berkursi. Setumpuk kursi plastik warna putih teronggok di sudut ruangan.

Sebuah ketukan di pintu mengalihkan pandangan Sasuke dari pemandangan di balik jendela besarnya. Sasuke menoleh sekilas, "Masuk," serunya kemudian.

"Ketua, anda belum makan siang," seorang gadis bertubuh ramping berkacamata muncul dari balik pintu.

"Aku tidak lapar," sahut Sasuke, kembali mengalihkan pandangannya pada langit biru yang terlihat dari kaca jendela besarnya.

Gadis berambut merah itu menghampiri meja kerja Sasuke, meletakkan bungkusan di atasnya, "Aku sudah belikan burger dan cola, dimakan ya," gadis itu tersenyum lebar.

Sasuke melirik sekilas, "Thanks," sahutnya pendek.

Gadis berkacamata bingkai cokelat itu duduk di kursi di hadapan meja kerja Sasuke, "Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya kemudian.

"Tidak ada," lagi-lagi Sasuke menjawab singkat.

"Kalau ini tentang Hinata—"

"Bukan," sela Sasuke cepat.

"Oh," gadis itu menghela napas panjang, "baiklah, selamat makan," ujarnya dan beranjak berdiri dan melangkah keluar ruangan.

Sebuah ketukan kembali terdengar. Sasuke memutar bolpen di tangannya, "Masuk," serunya.

Gadis pirang yang beberapa saat lalu meninggalkan ruangan kini kembali dengan seseorang yang lain di belakangnya, "Ketua, sesuai yang kukatakan, ketua klub yang akan mengisi stand kosong untuk festival itu sudah kuajak kemari untuk membicarakan hal-hal teknis," gadis itu mempersilahkan masuk gadis berpakaian merah terang di belakangnya.

"Oh, sela—" Sasuke tertegun melihat sosok yang dibawa si gadis pirang yang merupakan wakilnya itu—Temari. Gadis berambut merah muda di belakang Temari membelalakkan matanya, menatap Sasuke tak berkedip. Detik berikutnya tawa gadis itu membahana. Temari menatap heran.

"Kenapa semua hal yang berhubungan denganmu adalah suatu kebetulan," Sasuke menghela napas, namun bisa terlihat raut wajah yang cukup girang.

Temari mengerutkan keningnya, "Kalian saling kenal?"

"Dia Sakura, kenalanku sejak kemarin lusa," Sasuke menjawab dengan segaris senyum tipis di bibirnya.

Temari mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih dari Sasuke. Namun Sasuke tak mengacuhkannya. "Kau boleh kembali pada pekerjaanmu," ujarnya menatap Temari.

Temari merasa tak puas, namun diturutinya juga perintah boss-nya itu. Ketika hendak menutup pintu di belakangnya, sempat ia menoleh sekilas, namun tak berkomentar apa-apa.

Sasuke mempersilahkan gadis berambut merah muda yang rupanya adalah Sakura itu duduk di seberang meja kerjanya, "Silahkan duduk."

Sakura tertawa kecil, "Wow bersikap sopan dan formal begini kalau di tempat kerja?" ejeknya penuh canda.

Sasuke menghampiri lemari es kecil dan kembali dengan dua kotak minuman dingin di tangannya. Sasuke mengacungkan kedua minuman itu dan berkata dengan menahan tawa, "Teh manis atau jus jeruk?"

Sakura tertawa. Ditunjuknya kotak es jeruk, "Jeruk. Aku baru minum teh manis di jalan tadi."

Sasuke mengangkat alisnya, "Kau sangat suka teh jeruk?"

Sakura kembali tertawa. Tanpa menjawab, ditusuknya kotak jus jeruk di tangannya dan diisapnya perlahan.

Sasuke mengamati sosok ramping di hadapannya itu. Masih seperti sebelumnya, rambut merah muda terang gadis itu terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Bola mata yang besar berwarna kehijauan seperti batu emerald yang menyala, tangan yang kurus namun sekejap lihat saja sudah ketahuan tangan itu kuat.

Di sekeliling gadis itu terdapat sesuatu yang membuatnya mampu membuatmu memalingkan pandangan ke arahnya. Merasakan energi yang meluap darinya. Dan dapat kau rasakan perasaan menggebu itu menyusup ke dalam dirimu dan membuatmu bersemangat sama sepertinya.

Sakura menatap Sasuke kini, hingga kedua orang itu saling berpandangan, "Kau tahu," Sakura membuka suara, "jangan pernah menatap seseorang terlalu dalam dengan matamu."

Sasuke mengerutkan keningnya, "Kenapa?"

Sakura menyandarkan punggungnya dengan santai. Senyum tipis tersungging di wajahnya, "Karena sekali kau merekam sosoknya dalam ingatanmu, sekali kedua bola matamu menangkap sosoknya itu, akan sulit bagimu untuk mengalihkan pandangan darinya."

Sasuke sedikit terkejut, "Apa itu? Filosofi barumu?"

"Jangan remehkan intuisiku," Sakura meletakkan kotak jus jeruknya di atas meja, "aku sudah banyak mengalami berbagai hal dalam hidup ini, membuatku bisa melihat banyak hal hanya dengan intuisi."

"Oh ya?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Dari pancaran matanya bisa terlihat kalau ia sedikit meragukan apa yang baru saja diucapkan oleh lawan bicaranya itu.

Sakura tersenyum sedikit, kembali merebahkan punggungnya di sandaran kursi empuk kecokelatan yang ia duduki, "Benar, misalnya tentang 'Cinta'. Kau tahu, setiap orang selalu beranggapan bahwa kisah cinta mereka itu berbeda dari yang lain, beranggapan bahwa kisah cinta mereka itu istimewa dan lain dari pada yang lain."

Sasuke tak menyahut, membiarkan gadis bersuara lantang dan tegas itu melanjutkan pemikiran yang hendak disampaikannya.

"Sebenarnya kita dapat mengkategorikan setiap kisah cinta dalam kelompok-kelompok tertentu. Aku sudah banyak mendengarkan kisah curhatan teman-temanku, baik itu di dunia maya maupun nyata, hampir semuanya memiliki masalah dengan kehidupan asmara mereka. Dan yang mengerikan adalah kenyataan bahwa semua kisah itu membentuk suatu pola tertentu," Sakura menarik napas sebentar.

"Ada satu garis yang menjadi penghubung antara kisah yang satu dengan yang lain. Seolah tidak saling bertalian, namun tahu-tahu saja semuanya berhubungan. Setiap atom di alam semesta ini memiliki struktur pembentuknya sendiri, begitu pula cinta. Bahkan sekarang aku mampu menebak arah percintaan seseorang hanya dengan mendengar awal kisahnya saja," lanjut Sakura lagi.

"Wow," Sasuke membulatkan bibirnya.

Sakura terkekeh, "Tapi herannya, walaupun tahu, tak banyak yang bisa kulakukan. Kau mengerti kan, mana mungkin kukatakan 'Hei aku tahu kalau kau akan berakhir patah hati, sebaiknya sudahi saja hubunganmu dengannya,'—pada seseorang yang sedang jatuh cinta. Orang yang tengah dimabuk asmara itu buta, aku tidak bercanda.

"Yang dimaksud buta di sini bukan dalam konteks real tentang apa yang tampak dan kelihatan. Melainkan lebih mengacu pada sesuatu yang tersimpan jauh di dalam hati orang tersebut. Seorang gadis yang berparas lembut bisa mencabik-cabik pacarnya sendiri dalam pikirannya karena dibakar api cemburu, begitu maksudku," ia mengakhiri penjelasan panjangnya dengan sedikit penekanan.

Sasuke sedikit bergidik, "Pemisalan yang tidak enak," ujarnya. Sakura tertawa.

"Kau jadi senang bercanda, ya. Apa begini gayamu kalau di sekolah?" Sakura berujar di sela tawanya.

Sasuke mengangkat bahu, "Entah. Mungkin karena aku merasa santai denganmu," ujarnya ringan tanpa berpikir.

Sakura sedikit terkejut, "Jangan mengatakan hal yang seharusnya kau ucapkan pada pacarmu," ujarnya dengan sisa tawanya.

Sasuke seketika teringat Hinata. Rasa menyesal kembali menggelitik hatinya lagi ketika ia ingat bahwa ia telah membuat orang yang begitu dikasihinya itu menunggu lama, "Pacarku menungguku di rumahku seharian kemarin," ujarnya tanpa berpikir panjang.

Sakura menghentikan tawanya, "Eh?"

"Aku tidak tahu dia akan datang. Ketika aku sampai di rumah, tiba-tiba saja dia sudah ada di kamarku, menunggu selama empat jam," Sasuke menghela napas, rasa penyesalan terpampang di wajah tampannya dengan garis sempurna itu.

Sakura menelan ludah, "Oh maaf. Kalau saja aku tidak membawamu ke tempat pertemuan itu—"

"Tidak, tidak. Bukan begitu," Sasuke menyela cepat. Seketika iapun bingung dengan apa yang ingin dikatakannya. Ia ingin menghabiskan waktu seharian di rumah bersama Hinata kemarin, seandainya waktu bisa terulang. Namun itu berarti ia tidak akan bertemu dengan Sakura dan teman-temannya. Suatu perasaan yang tidak mengenakkan hinggap di hatinya.

"Lalu?" Sakura memiringkan wajahnya sedikit.

"Mungkin sebaiknya kuajak dia lain kali. Ke pertemuan—maksudku," Sasuke menjawab sekenanya.

Sasuke mengalihkan pandangannya ke tempat lain ketika dilihatnya Sakura mengerutkan keningnya. Detik berikutnya ia baru sadar kalau ia bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang kehidupan dunia maya-nya pada Hinata. Dan mengajak pacarmu ke suatu tempat dengan berkata 'Ada seorang gadis aneh yang menarik baru saja kutemukan, ayo kita sama-sama menemuinya'—rasanya bukanlah hal yang pintar.

"Oh," gadis berambut merah muda yang akhir-akhir ini menggangu pikirannya itu terkesiap, "kehadiranku kemari untuk membicarakan festival yang akan datang di sekolahmu ini kan?" Sakura tertawa kecil. "Kita malah membicarakan hal yang tidak-tidak."

Sasuke tersentak, "Ah benar juga," ucapnya spontan. Kontan Sakura tertawa semakin kencang.

Sasuke tak senang diperlakukan seperti bahan cemoohan begitu. Tidak ada yang berani menertawakannya. Seharusnya begitu. Namun tentu saja, apapun yang berkaitan dengan gadis berambut merah muda di hadapannya ini selalu berlawanan dengan arus—dan ia sudah cukup mengerti dan terbiasa akan hal itu.

"Jadi yang akan mengisi stand kosong menggantikan stand salon itu adalah…"

"Stand Astrologi," Sakura menjawab mantap.

Sasuke mengerutkan dahinya, "Memangnya yang seperti itu bakal laku?" tanyanya sengit.

Sakura mengerling padanya, "Kau harus memperbaiki pola pikirmu yang senang menyepelekan orang lain itu," ujarnya sedikit sebal.

"Pada festival seperti itu bukannya sebaiknya buka stand makanan atau semacamnya?" Sasuke tak mengindahkan ejekan Sakura.

"Sudah banyak stand makanan yang akan tampil—begitu kata Temari. Pengunjung akan merasa jengah melihat makanan terus di sana-sini. Dan perlu kau tahu, ramalan itu sangat populer di kalangan remaja masa kini, lho."

Sasuke menatap tak percaya.

"Kau saja yang tak tahu," dengus Sakura seraya mencibir.

Sasuke menarik napas panjang, bagaimanapun sulit baginya menentang gadis keras kepala di hadapannya itu—yang entah mengapa sulit ia bantah, "Berapa orang yang akan menjaga stand nanti?" alih-alih ia bertanya.

"Hmm satu, dua, tiga…" Sakura menghitung dengan jari tangannya, "Lima. Aku, Tenten, Kiba, Ino—ah Ino juga anggota Astrology Chatroom—ngomong-ngomong. Dan mungkin Shikamaru."

"Apa maksudmu 'mungkin'?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

Sakura mengangkat bahu, "Dia belum bilang akan ikut atau tidak. Dia mau ikut, tapi ada Temari. Itu maksudku."

Sasuke mendecak, "Orang yang tidak bisa memilah antara pekerjaan dengan romantika hanyalah seorang pecundang yang payah,"

"Hei jangan bilang begitu soal temanku!" Sakura protes. "Lagipula hebat sekali kau pura-pura tidak kenal Temari waktu aku bilang orang yang disukai Shikamaru di café itu adalah Temari."

"Aku tidak pura-pura tidak kenal. Kau yang tidak bertanya padaku, seandainya aku kenal atau tidak," Sasuke menyeringai. Sakura menggembungkan pipinya.

"Aku sebal dengan tingkahmu yang selalu ingin jadi pemenang itu," ujar Sakura bersungut-sungut.

Dan meledaklah tawa Sasuke yang sedikit terkekeh. Sakura terkejut, baru kali ini ia melihat Sasuke tertawa puas seperti itu.

"Jangan sembarangan. Siapa yang tidak mau kalah? Yang keras kepala itu kau. Coba ingat, sudah berapa kali aku mengalah padamu," Sasuke berujar di sela tawanya.

Sakura tak menyahut. Pikirannya campur aduk, antara kesal karena ditertawakan, dengan senang karena melihat Sasuke dengan raut wajah cerah seperti itu dan mendengar tawa renyahnya yang nyaring. Sungguh sesuatu yang tak akan kau temui tiap hari.

"Sebagai rasa terima kasihku karena sudah membuat hariku yang membosankan ini menarik, kutraktir kau makan siang. Bagaimana?" Sasuke beranjak dari kursinya.

"Eh?" Sakura kelimpungan, "sekarang? Memangnya kau belum makan? Ini kan sudah setengah tiga sore! Kau harusnya makan lebih awal!" Sakura berseru pada Sasuke yang melangkah keluar ruangan.

Sasuke mengangguk-angguk walau ekspresi wajahnya menunjukkan rasa tak acuh, "Ok, ok. Pokoknya ikut saja aku sekarang kalau kau tidak mau ketinggalan pesta," Sasuke berbalik pada Sakura, "bukankah seseorang bilang, 'Dalam hidup kita tidak boleh ketinggalan pesta' ?"

"Sialan, kau mengejek ya?" gerutu Sakura. Meledaklah lagi tawa Sasuke. Senyum terkembang di bibir Sakura di belakanganya.

Tiba-tiba bayangan sebungkus makanan yang teronggok di atas meja menangkap perhatian Sakura, "Yang di atas mejamu itu burger dan cola, kan? Kenapa tidak dimakan?"

"Aku sudah bilang berulang kali pada sekretarisku itu untuk tidak membelikanku makanan. Aku paling tidak suka pemberian orang lain," jawab Sasuke tak acuh.

Sakura melirik sekilas pada meja di samping kiri jendela besar sebelum ia melangkahkan kaki mengikuti Sasuke keluar ruangan. Sempat dilihatnya sebuah papan nama kecil di atas meja bertuliskan 'Sekretaris: Karin'.


Suasana di café terbuka itu cukup menyenangkan. Tidak banyak orang lalu lalang seperti pada café terbuka pada umunya. Disebut café terbuka, karena pelanggan duduk dan menikmati santapan lezatnya di luar ruangan, di bawah payung-payung besar dengan meja dan kursi plastik warna putih. Sekitar belasan meja berpayung seperti itu berjejer rapi mengelilingi sebuah kolam kecil dengan air mancur di tengahnya.

Sasuke mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, "Tempatnya terlalu ramai," desisnya.

"Aku justru suka suasana ramai," tandas Sakura.

Sasuke memutar bola matanya. Menyesal ia meminta gadis itu memutuskan dimana ia ingin ditraktir.

"Tempat seperti ini, kalau hujan kan banjir," Sasuke menopang dagunya, membolak-balik buku menu di hadapannya.

"Tidak akan," kilah Sakura. "Kau tidak lihat tadi kalau lantai di sekeliling café ini dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dengan parit kecil di sekelilingnya? Itu supaya mencegah banjir. Dan coba lihat di bawah kakimu, ada parit kecil dengan kawat kan? Itu untuk mencegah genangan air," Sakura menunjuk ke bawah meja Sasuke.

"Tetap saja aku tak suka," Sasuke mendengus.

"Jangan manja!" seru Sakura mendesis, tak ingin menarik perhatian pengunjung yang lain. "Makanan di sini enak dan murah. Percayalah, kau tak akan menyesal," ia mengedipkan matanya. "Pemandangannya juga bagus kan? Dan bisa kita rasakan hembusan angin alami," tambah Sakura bersemangat.

Sasuke menghela napasnya. Baru kali ini ia makan di tempat ramai seperti ini. Ia tak terlalu suka sesuatu yang terlalu mencolok. Biasanya ia pergi ke restoran dengan penerangan secukupnya. Restoran yang tenang, dengan lilin kecil dan lampu-lampu mewah tergantung di atasnya. Lantai marmer mengkilat yang beradu dengan hak sepatu Hinata yang menimbulkan irama merdu, AC ruangan yang membuat rok yang dipakai Hinata sedikit bergoyang mengalun bersama setiap langkah gemulainya.

"Mau pesan apa?" suara seseorang mengembalikan Sasuke ke alam nyata. Seorang pemuda tanggung berambut klimis membungkuk di depan mejanya.

"Aku Paket A Chinese food, plus cumi goreng tepungnya satu porsi," Sakura angkat bicara, "dan segelas jus semangka."

Sang pelayan sibuk menarikan bolpen hijaunya di atas buku kecil di tangannya. "Dan Tuan?" tanyanya, beralih pada Sasuke.

"Hmm," Sasuke tampak berpikir. Ia masih belum menentukan pilihannya.

"Coba paket A Chinese food, ada sup tofu, kakap goreng tepung, udang goreng tepung, dan tumis daging sapi dengan buncis dan bawang bombay, lengkap dengan semanguk nasi hangat. Kau pasti suka," Sakura menyerobot.

Sasuke mengangkat bahu, "Ok, sama seperti dia," ujarnya pada pelayan yang masih menunggunya, "minumnya air mineral dingin saja."

Sakura hendak membuka suara lagi, ketika tiba-tiba dilihatnya Sasuke membelalakkan matanya melihat sesuatu di belakangnya.

Segera ia palingkan pandangannya ke belakang, dan didapatinya seorang gadis cantik berambut hitam pendek di kejauhan menatap ke arah mereka.

"Hinata?!" Sasuke beranjak dari kursinya. Berlari kecil menuju gadis berparas lembut yang mengenakan rok biru bercorak keemasan selutut yang sedikit mengembang dengan blouse putih dan pita keemasan di lengan bajunya.


"Makan siang dengan teman?" Hinata menunjuk sosok berambut merah muda yang tengah duduk membelakanginya beberapa meter di hadapannya dengan dagunya.

Sasuke mengangguk, "Klien. Dia ketua klub informal, Astrologi, yang akan mengisi stand kosong untuk festival yang akan segera tiba," jawab Sasuke mengatakan yang sebenarnya.

"Aku tidak tahu kau selalu mengajak makan siang rekan kerjamu," Hinata menatap Sasuke.

"Tidak, biasanya memang tidak," Sasuke mencoba menjelaskan.

"Kalau begitu kenapa…. Ah, sudahlah," Hinata menghela napasnya. "Kenalkan aku padanya, ya?"

Sasuke sedikit terkejut dengan permintaan Hinata itu. Sebelumnya tak pernah kekasihnya itu tertarik dengan kehidupan OSIS maupun rekan-rekan kerjanya. Namun, "Tentu, mari kuperkenalkan,"—tentu saja ia tak dapat menolak permintaan Hinata.

Detik berikutnya ketika ia melangkahkan kakinya mendekati meja tempat Sakura menunggu, kejadian tadi malam kembali terlintas di benak Sasuke. Suatu pertanyaan yang ia ingin anggap tak pernah dilontarkan oleh Hinata. Namun kenangan akan hal itu begitu membekas di kepalanya, terekam begitu jelas.

Hinata, dengan senyum tipisnya bertanya padanya,

"Apa yang akan kau lakukan jika kau menemukan seseorang yang lain yang lebih kau sukai daripada aku?"

Dan seketika dirasakannya perutnya menjadi mual.

.

.

TBC


Chapter 4 sampai sini dulu ya, saya rasa chapter ini 'gigantic' sekali, banyak hal terjadi dalam satu chapter, dan banyak hal kecil lainnya yang lalu-lalang. Daripada membuat chapter ini ga jelas poin utamanya, saya hentikan di sini. (keringet dingin)

Chapter berikutnya, konfrontasi Hinata dengan Sakura. :)

Ada saran? Kritik? Yang lainnya?

Bagaimana pendapat kalian?

Mulai sekarang, setiap reviewer yang tidak login akan dibalas komentarnya di sini :)

.

Kyoro: Sip, udah di-update nih ;) Baca terus ya!

Kaori a.k.a Yama: Di sini Sasuke lumayan banyak ketawa, Jangan pingsan yah. XD

Mugiwara piratez: Saya suka banget makan, jadinya maklum ya kalo fic saya banyak makanannya lol. Es kopi enak kok, seger dan ga kalah sama es cokelat, bisa dicoba di Dunkin Donuts terdekat di kotamu~ :) (malah promosi)

Kalau kamu datang ke Bandung mungkin sesekali kita bisa makan croissant bareng plus es kopi. Nanti traktir saya :p (lho)

Mayura: Chappie ini yang diutamain action-nya, supaya alur ceritanya maju. Moga ga ngurangin kenikmatan kamu bacanya… mulai chapter depan balik lagi disorot tentang 'filosofi kehidupan' dengan alur yang tenang ;)

TanpaNama: Yay! Ga sia-sia saya ngetik dari pagi ampe sore karena fic ini disukai readers :)

Moga chapter ini ga mengecewakan… x__x

All in all,

Terima Kasih buat kalian semua! :)