Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang membaca FFN ini serta dukungannya. Saya tahu jika masih banyak kesalahan, maaf juga jika cerita berjalan membosankan. Akhir kata, makasih
Desclaimer: Death Note milik Tsugumi Ohba dan Takeshi Obahta
Aku duduk di bangku deretan tengah untuk melihat pertunjukan opera. Aku tidak memakai setelan formal hanya celana jins dan kaos lengan panjang. Banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukan. Mereka semua tampak seperti orang-orang kaya dan berpenampilan keren. Laki-laki dan perempuan berusaha tampil layaknya bangsawan Inggris. aku tahu itu karena pertunjukan opera memang sebuah karya intelektual, alur ceritanya berat penuh dengan pesan moral dan diiringi dengan musik yang membuat hati histeris. Walaupun hanya dibawakan di atas panggung namun ceritanya hidup karena kemampuan luar biasa dari para aktor dan artis.
Pertunjukan sudah dimulai, kulirik Anak laki-laki disebelahku yang tampak heran melihat posisi dudukku. "Anak ini menakutkan," dia berbisik kepada ibunya. Lalu ibunya dengan sigap menaruh telapak tangannya di mulut anak laki-laki itu, dia menyuruhnya diam. Ibunya melihatku dan memberikan senyum yang ramah. Tapi aku membalasnya dengan ekspresi datar.
Sekarang aku tidak terlalu fokus terhadap cerita di pertunjukan karena sejak awal aku memang hanya ingin memastikan terjadinya pembunuhan. Jika pengirim pesan itu benar maka pembunuh itu harus memikirkan trik agar dapat mengelabuhi mata semua orang karena tempat ini terlalu ramai. Namun pemikiran seperti itu sangat lambat, si pembunuh memilih tempat ini karena dia sudah memilki rencana dan aku harus berpikir lebih cepat darinya. Aku hanya bisa beranggapan jika pengirim pesan itu benar maka diantara ratusan penonton yang acak, salah satu diantara mereka akan menjadi korban pembunuhan. Satu atau dua atau lebih banyak lagi tapi aku mempersempitnya dengan beranggapan satu orang terbunuh. Dengan suasana seperti ini membunuh banyak orang akan menimbulkan dampak besar. Selain itu pembunuhnya juga harus lebih dari satu orang.
Namun jika meneliti kasus Jonah aku berpendapat jika pelaku pembunuhnya seorang diri karena pembunuhan yang dilakukan oleh banyak orang pastinya memiliki tujuan tertentu. Jonah tidak memiliki alasan agar dirinya dibunuh secara beramai-ramai, dilihat dari segi latar belakang dan tidak adanya bekas pengeroyokan di tubuhnya. Aku tahu itu hanya dilakukan oleh seorang pembunuh.
"Anette...oh..Anette kau adalah kesatria kami, kau membebaskan kami dari perbudakan." Suara pemeran pria mengelegar di setiap sudut hall. Para penonton terkesima dengan penjiwaan para pemain. Aku berpikir sambil melihatnya sebentar. Tokoh Anette diperankan oleh seorang gadis berwajah tegas, dia bersikap seperti seorang diva, dia mengerti semua keinginan penonton. Aku tahu itu hanyalah sebuah peran namun pembawaannya sudah mirip dengan tokoh Anette seorang kesatria perempuan dari Yosdalnia, sebuah negara yang dipimpin oleh raja kejam karena senang melakukan perbudakan dan menjual rakyatnya ke negara lain.
"Aku akan mengakhiri penderitaan kalian. Aku ingin memberikan kebebasan kepada kalian. Karena itu aku harus membunuh kekasihku, raja kalian." Anette melantangkan pidatonya. Para penonton terdiam saat Anette melepaskan pedangnya dari sarungnya. Dengan tegas dia mengajungkan pedangnya ke langit, "Atas nama para dewa! Aku berjanji akan membunuh kekasihku dan merebut kembali kebebasan para penduduk Yosdalnia! Sumpah alam semeta." Annete melakukan perlawan terhadap raja. Tapi aku sadar kalau kata-kata Anette telah mengingatkanku pada penggalan sajak di buku Robert Downey,
Dia rela menjadi apapun untuknya, menjadi apapun?
Menjadi bunga, binatang, Matahari ataupun iblis
Dia rela melakukan itu untuk kekasihnya
Bahkan ketika kekasihnya itu telah membuka pintu kesedihan
Dan mengepakkan sayapnya yang berwarna hitam
Membunyikan suara lonceng kematian
Lalu membuat bunga-bunga bermandikan darah
Dia telah tersesat, dan sepasang tangan menariknya untuk bangun lalu meneruskan langkahnya
Dia rela menjadi apapun, menjadi iblis
Dia telah membunuh kekasihnya
Mengirimnya pergi
Dia tahu, Mereka tahu, tidak ada keabadian
Kehidupan tidak menginginkan mereka
Oh Tuhan, aku mengerti sekarang jika pembunuh pasti memiliki ikatan kuat dengan DK, Dia mengenalnya. Si pembunuh meninggalkan pesan bahwa aksi pembunuhannya berhubungan dengan buku karangan Robert Downey. Orang-orang yang tidak menyukainya pastinya tidak sadar. Pembunuhan pasti akan berlangsung, dan aku tahu orang yang akan dibunuhnya.
Duaar...suara letusan pistol menggema. Kepala Anette pecah terkena ledakan pistol. Penonton terdiam sebentar dengan tatapan kosong. Lalu beberapa saat terdengar jeritan dari penonton dan kekacauanpun terjadi. Sedangkan aku menatap miris tubuh Anette. Kepalanya sudah hampir tidak berbentuk. Perutku terasa mual dan tanganku bergetar. Jantungku berdetak dengan cepat, aku baru pertamakali melihat pembunuhan secara langsung. Pembunuhan kedua akhirnya terjadi.
Setengah jam kemudian polisi melakukan forensik terhadap tubuh Anette. Dan para penonton sudah dievakuasi, mereka semua tampak shock, mereka menyebutnya pertunjukan opera berdarah. Anette diperankan oleh seorang gadis bernama Crystal Limbrown, sepertinya nama panggung. Dia berdarah Inggris dan Irlandia. Dia seorang artis yang sedang naik daun dan kualitas aktingnya sebagai Anette memang sangat bagus. Namun setahun lalu dia juga pernah mengalami krisis karir. Dia hampir tidak pernah mendapatkan peran. Tapi dia berhasil bangkit setelah berkonsultasi dengan psikiater. Peran Anette membuat namanya melambung.
Sedangkan si pembunuh memang profesional. Dia berhasil kabur tanpa meninggalkan jejak. Satu kali tembakan dilesakkan tanpa ragu, akurasi yang luar biasa. Pembunuh menggunakan Sniper dengan peluru berkaliber 12,7 mm. Membuat kepala Crystal langsung pecah. Aku melangkah mendekati mayat Crystal. Namun seorang polisi muda menghalangiku dia heran melihat seorang bocah berada di tempat itu.
"Kemana orang tuamu nak? Di sini bukanlah tempat anak kecil, cepat pergilah! Kau tidak apa-apa?" polisi itu menarik lengan bajuku.
Aku malas untuk berdebat. Aku juga tidak bisa mengatakan jika ini mungkin adalah hobi, aku ingin memecahkan kasus pembuhan ini.
"Dia bernama L! Dia berasal dari Wammy House." Suara seorang laki-laki terdengar dari belakang. Watari datang dengan senyum ramahnya, aku sedikit heran karena dia menyingkat namaku. Sedangkan polisi muda itu masih tampak bingung, lalu dia memanggil atasannya. Atasanya berwajah seram namun tiba-tiba berubah menjadi ramah setelah melihat Watari.
"Anda dari Wammy House? Saya senang anda bisa datang kesini, lalu siapa anak ini?"
"Dia murid unggulan di Wammy House. Anda pasti tahu dia anak seperti apa? Wammy House adalah program khusus dari ratu, anda tidak ingin dipecatkan! Lalu bolehkah anak ini ikut dalam penyelidikan?" Perkataan Watari ramah namun membuat polisi itu tidak berdaya.
"Aku mengerti! Silahkan melanjutkan penyelidikannya jika menginginkan sesuatu tolong beritahu saya!"
Aku mulai meneliti mayat Crystal, pembunuhan dilakukan dalam radius 500 meter, dan jarak antara panggung dan tribun penonton paling atas cuma sekitar 300 meter. Jika dia menembak pastinya penonton langsung menyadarinya. Tapi tanpa satupun orang menyadarinya, berbeda jika dia berkerumun dengan penonton. Namun memerlukan keahlian menembak hebat dengan situasi seperti itu atau bahkan mustahil. Kemungkinan besar dia tidak berada disini, dia berada diluar gedung.
"Watari ayo kita pulang!"
"Kau sudah mendapatkan sesuatu L?"
"Yaah."
Watari mengerti maksudku, dia membawaku ke mobil. Sebelum pulang aku meminta polisi agar menghentikan penyelidikan. Aku meminta mereka tetap melanjutkan penyelidikan kasus Jonah Hill. Para polisi sedikit tidak mempercayaiku, namun Watari dapat mengendalikan dengan gaya persuasifnya.
Di dalam mobil aku berbincang dengan Watari. "Aku tahu menyelidiki kasus disana adalah membuang waktu. Pembunuhnya hebat kita akan dipusingkan dengan mencari hal yang sia-sia. Selama kita sibuk mencari bukti dan petunjuk dia sudah dengan bebas merencanakan pembunuhan berikutnya. Lalu ketika pembunuhan lain terjadi kita akan sibuk mencari lagi bukti dan petunjuk baru. Kita harus berada satu langkah di depannya. Pembunuhnya memang berhubungan dengan buku karangan Robert Downey. Lalu aku juga akan memberitahumu tentang DK, dia orang yang mengirim pesan ke Wammy House."
"Kau bersemangat Lucios?"
"Sekarang aku mengerti ketakutan tentang kematian. Entah apa yang dirasakan Rachel selama ini? Dia gadis yang kuat. Kematian adalah kesepian bagi semua orang, aku tidak akan lagi bermain-main dengannya. Dan jika ada orang dengan mudah mempermainkan kematian maka aku akan menghukumnnya!"
Kota sudah malam dan bintang-bintang berjajar rendah, suasananya sangat sepi karena teror pembunuhan yang terjadi di kota. Dalam hatiku aku berjanji akan menemukan pembunuhnya, sumpah alam semesta yang seperti Anette katakan.
