Dance With Me

.

.

.

Sehun terus saja menatapku yang dari tadi tidak melepaskan pandangan dari dirinya. Ia menundukan wajah lalu berpura-pura melihat ke arah yang lain sambil melanjutkan kegiatan streching nya. Dan bibirnya mengutuk tanpa suara.

Aku terus saja berdiri di pojokan ruang dance tanpa melakukan apapun, meski dari tadi Taemin menggeleng-gelengkan kepalanya setiap kali melihat ke arahku. Aku tidak mau menari lagi. Pokoknya aku sudah ikut klub dance bukan? Ini sudah cukup. Yang penting aku bisa melihat Sehun yang seperti biasanya. Sehun yang tidak mendiamkanku. Ini sudah cukup.

"Kau ! Jangan bercanda, kenapa klub kami harus menerima pemalas seperti dirimu?" seseorang berambut coklat menudingkan jari telunjuknya ke arah wajahku sambil mengeluarkan suara lantang.

Aku melangkah mundur.

Taemin menarik tubuh bocah itu sebelum ia sempat memukul wajahku. Aku menatap wajah bocah itu sebal. Dan kulihat Sehun menenangkan si rambut coklat seakan mereka sudah sangat akrab. Aku tidak suka. Aku berjalan keluar dari klub dance dengan debaman pintu nyaring di belakang. Dan seseorang meraih tanganku. Membawaku kembali ke dalam ruangan. Itu Sehun.

"Minta maaf." Kata Sehun yang membuatku tersenyum samar.

"Dia bicara padamu, Kim Jongin," Si Rambut Coklat mencemoohku. Lalu kupandang wajah Sehun yang nampak galak kepadaku. Dia menyuruhku minta maaf, bukan si kunyuk itu.

"Kenapa aku yang harus minta maaf? Si tengik ini yang menyerangku duluan."

"Itu karena kau bersikap seenknya. Dia itu sunbae kita."

Aku menatap Sehun penuh amarah. Aku marah padanya. Benar-benar merasa sangat marah. Kecewa dan entah apa lagi menyatu dalam dadaku hingga sesaknya tak bisa ku tahan lagi. Ku hempaskan tangan Sehun yang masih memegang lenganku. Aku lalu pergi keluar untuk yang kedua kalinya. Dia lebih memilih senior brengsek itu daripada aku. Menyebalkan sekali.

.

.

.

Namanya Park Chanyeol. Si Senior tengik berambut coklat itu. Aku tidak mau tahu namanya sebenarnya , sangat tidak penting sekali. Tapi sejak kemaarin Sehun terus saja memohon padaku agar aku minta maaf pada Chanyeol Sunbaenya ini. Tapi aku tidak mau. Tidak sudi. Tidak akan pernah melakukan hal rendahan seperti ini. Aku kan member VIP, kenapa harus tunduk pada senior jual tampang seperti dia. Meskipun aku jauh lebih tampan.

"Kau tidak datang lagi hari ini?" Tanya Taemin yang baru saja datang ke kelas.

"Jawabanya sudah jelas. Kenapa harus bertanya segala?" Aku menjawabnya malas.

"Apa kau tidak apa-apa jika Sehun jadi menempel terus pada Chanyeol karena kau tidak ada?"

Dia memprofokasiku. Dan aku lebih memilih mengabaikannya.

"Chanyeol Hyung itu, secara terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai Sehun."

"Tidak ada hubunganya denganku."

"Kau tidak menyukainya? Oh sehun?"

"Tentu saja tidak! Apa aku terlihat se gila itu?"

Taemin tersenyum lebar kearahku seakan berkata 'iya'. Matanya memandang ke arah belakang kepalaku diiringi dengan ekspresi kaku. Seakan menyuruhku untuk memutar kepala secara pelan-pelan. Dan ketika kuikuti arah pandanganya, kudapati Sehun dengan wajah masam tengah berjalan ke arah mejanya. Apa dia mendengarnya?

"Dia mendengarnya." Jawab Taemin yang entah membaca pikiranku dari mana. Terkadang aku jadi takut sendiri dengan kemampuan bocah yang satu ini.

Aku mengusap kepalaku yang tiba-tiba terasa pening sekali. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli dia mendengarnya atau tidak. Aku tidak mau dia jadi besar kepala karena apa yang ku lakukan padanya tempo hari. Merawatnya yang hampir sekarat, bahkan menuruti keinginannya untuk menyeretku ke klub dance salan itu.

Sebenarnya kan semua itu untuknya, tapi ia justru lebih mengutamakan Senior songong bermata besar itu. dari awal memang sifatnya itu sudah buruk. Egoismenya itu sudah tidak bisa di tolerir lagi. Dia bisa bersikap manis dan baik hanya ketika dia membutuhkan sesuatu. Aku tidak suka mengakuinya, tapi memang kenyataannya dia memanfaatkanku. Aku tahu itu, tapi tetap saja tidak bisa menolaknya. Aku benar-benar jatuh padanya. Tuan Oh yang tidak punya hati itu sudah mengacaukanku.

.

.

.

Aku menutup pintu kamar berlahan-lahan dan kudapati kamar yang masih belum berpenghuni. Sehun belum pulang padahal ini sudah lewat dari jam eksrakurikuler. Dan tak lama setelah aku menutup pintu Sehun muncul dari baliknya dengan wajah masam. Melemparkan tasnya sembarangan ke atas kasur lalu menatapku tanpa suara tanpa ekspresi di wajahnya. Sama sekali tidak bisa di baca.

"Kau marah? Kau tahu kau ini kekanak-kanakan sekali." Kataku Sehun pelan.

Aku menatapnya sekilas lalu mengambil komik di atas meja dan mencoba mengalihkan perhatianku dari Sehun.

"Sekarang mengabaikanku? Harusnya aku yang marah."

"Kekekeke..." aku tertawa pada bacaanku yang sama sekali tidak lucu.

"Aku minta maaf!"

"Hoaaamzzz..."

"Kim Jongin!"

Aku menutup mataku sambil membelakanginya.

Ia beranjak mendekatiku. Merebahkan diri di samping tubuhku. Membuatku ingin membuka mata secepatnya. Tapi sayangnya aku tak selemah itu.

"Katakan apa maumu?"

Aku memalingkan wajah. Menatap kedalam manik matanya yang kelam. Membiarkan waktu berlalu dalam diam untuk sesaat. Sehun gugup. Ia memalingkan wajah dan hendak beranajak tapi aku menahannya dengan lenganku. Meletakan di celah lehernya. Ia menatapku terkejut tapi tidak menolak.

"kisseu..." kata itu terucap sendiri tanpa kusadari.

"Micheoseo?" Sehun berbisik. Dan ku balas dengan anggukan setuju.

"Kau.." ia menghentikan ucapanya dan matanya beralih mmenatap bibirku.

Sehun menelan ludahnya sendiri. Dan demi apa ini terlihat sangat seksi. Ia mengangkat kepalanya mendekatiku. Lalu berlahan bibirnya menempel di bibirku. Dia menciumku. Benar-benar menciumku. Bahkan melumatnya dan menyesap bibir bawahku. Aku terdiam membiarkan bocah ini yang bermain. Tanganya bergerak mencengkram rambutku. Mengacaknya seiring dengan semakin dalamnya ciuman kami. Ini lebih dari yang kubayangkan.

Sehun masih terus bermain dengan gerakan yang patah dan kadang terlihat ragu. Tapi terus melanjutkan ketika melihatku tak memprotes sedikitpun. Wajahnya semerah kepiting rebus, terlihat jelas di kulit pucatnya.

Ia menarik diri dengan nafas tak beraturan. Dadanya naik turun dengan mulut merah merekah. Aku benar-benar ingin menyerangnya tapi tidak tahu bagaimana melakukan hal seperti itu dengan sesama namja. Tapi momen seperti ini sangat langka dan dengan sedikit kebranian mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu dari Sehun yang entah bagaimana sedang berada dalam kondisi slave-able seperti ini.

Dan dalam hitungan detik, wajahnya berubah menjadi datar yang dibuat-buat. Ia menarik diri sambil mengusap bibir dengan punggung tanganya. Apa ini semua karena klub dance? Dia melakukanya untuk membuatku kembali. Sangat menyedihkan.

"Aku sudah melakukanya, jadi jangan berulah lagi. Dan jangan lupa minta maaf pada Chanyeol Sunbaenim." Entah kenapa rasanya seperti jatuh dari langit setelah kau di ajak terbang. Bukan jatuh biasa, tapi jatuh tepat di atas tombak berkarat yang dilumuri air garam dan tepat mengenai jantungku. Sakit sekali.

"Aku berhenti."

"Katakan sekali lagi maka aku akan membunuhmu. Bagaimana bisa seorang laki-laki bisa se-labil dirimu? Hari ini berkata ya, dan besok berkata tidak dengan mudahnya!"

"Bunuh saja, maka aku akan mengahntuimu seumur hidup." Aku membalasnya dengan nada tinggi.

"Cih, kekanakan sekali. Kim Jongin, berapa usiamu? Jika besok kau sampai tidak datang, aku akan menyeretmu dalam keadaan hidup atau mati."

Sehun beranjak ke kamar mandi dengan membanting pintu. Aku mendesah kesal. Sebenarnya siapa yang kekakanakn disini? Aku atau dia? Orang buta pun pasti mengatakan dia yang kekanakan. Bagaimana bisa aku punya perasaan pada orang semacam ini? Apa salahku di kehidupan sebelumnya hingga terjerat perasaan tidak wajar pada orang yang tidak wajar?

Aku merebahkan tubuhku dan berusaha untuk memejamkan mata. Berharap besok mendapatkan sedikit amnesia. Tidak perlu lupa pada Sehun, cukup lupa pada perasaanku saja.

.

.

.

Tubuhku terasa kaku ketika mataku terbuka dan matahari sepertinya sudah lumayan tinggi. Kurasa aku sedikit terlambat atau mungkin justru sangat terlambat. Dan Sehun tidak membangunkanku. Dia benar-benar keterlaluan.

Aku bangkit dari tempat tidur dan merasa ada sesuatu yang aneh. Mencoba menyadarinya tetapi tak juga menemukannya. Dan sesuatu yang menutupi tubuhku terasa sangat asing. Dia menyelimutiku. Aku memandang kedua tanganku dan menyadari bahwa ia juga melepas blazerku.

"Sudah bangun?" Sehun muncul dari balik pintu masuk dengan baju biasa. Bukan seragam.

"Kau tidak masuk ke kelas?" tanyaku datar.

"Untuk apa? Ini hari minggu, kau amnesia, eoh?" Ia berujar santai.

Aku mendesah panjang. Merasa konyol karena apa yang ku harapkan semalam menjadi kenyataan. Hanya saja sedikit kurang tepat.

"Sedikit." Kataku pelan lalu kembali merebahkan tubuh. Aku mau tidur seharian penuh.

"Kau tidak berhenti kan?" tanya Sehun hati-hati.

"Eoh,.." kataku malas.

"Em, Gomawo..."

Aku sedikit menyesali keputusanku. Bergabung dengan klub dance demi Oh Sehun. Sebenarnya yang konyol itu aku. Bertindak tidak rasional hanya karena perasaan tidak jelas yang berlebihan.

.

.

.

To Be Continue...

.

.

.

Selamat Hari Raya Idul Fitri...

#BOW