Disclaimer : Kubo Tite

Silent Love Chapter 4 We Live Together!

.

.

.

Nanao tertunduk dengan kedua tangannya menyangga kepala. Pusing, sudah tiga hari ini rasa tidak nyaman itu singgah di kepalanya. Belum ada seminggu dia tinggal di Karakura town. Tapi masalah yang di hadapinya serasa dia adalah penghuni kota ini selama bertahun-tahun. Hari kedua dia tinggal di sini, dia harus di sibukkan dengan masalah Yachiru. Hari ketiga, dia harus menghadapi kenyataan dia sedang main rumah-rumaha dengan Byakuya. Satu hari belum selesai dia kembali di sibukkan dengan masalah penyerangan Hollow.

Nanao menggaruk-garuk kepala dengan kesepuluh jarinya. Tidak biasanya dia seperti ini, sefrustasi ini. Bangun pagi lalu mandi, selesai mandi, masih dengan piyama mandinya dan rambut setengah kering dia harus duduk di depan meja kerja. Laptop yang menyala, sudah lima hari ini laptop itu tidak pernah di shut down, dan di samping kanan kiri tumpukan kertas dan buku-buku tertata rapi menggunung. Sudah enam hari pekerjaannya tidak pernah selesai. Tidak satu pun. Bagi Nanao itu memang sesuatu yang luar biasa. Dia lebih suka menyelesaikan semua pekerjaannya hingga tuntas sebelum naik ke atas ranjang dan tidur nyenyak. Tidak seperti ini membiarkan pekerjaan menumpuk.

"Nanao Chan!" teriak Yachiru dari meja makan. Ya dia bisa menebaknya. Genap seminggu mereka tinggal bersama. Dan selama seminggu itu juga mereka bertiga punya kebiasaan aneh. Kebiasaan yang ditimbulkan dari permainan rumah-rumahan.

"Ya, aku segera keluar!" balas Nanao dengan berteriak.

Buru-buru Nanao mengubah posisi laptopnya pada posisi stand by. Melepas piama mandinya dan mengganti dengan celana panjang warna hitam dan kaos warna merah yang tidak terlalu ketat. Dia lalu menyisir rambutnya sambil menggigit jepet rambut yang biasa dia gunakan. Setelah dirasa cukup rapi dia langsung menggulung rambutnya kebelakang dan mengikatnya dengan jepit. Sambil berjalan meninggalkan kamar tidak lupa dia memasang kacamatanya.

"Aku laper Nanao!" rengek Yachiru sambil mengekor di belakang Nanao yang sekarang sedang bersiap-siap membuat sarapan.

"Iya sabar! Tunggu sebentar!"

"Apa sarapan pagi ini?" tanya Yachiru antusias.

"Telur dadar dan roti panggang," sahut Nanao yang langsung disambut cibiran oleh Yachiru dan tatapan mata mencela Byakuya seklebat dari balik laptonya. "Kalau tidak suka, masak saja sendiri!" bentak Nanao kesal dan dia kembali pada kegiatan memasaknya.

Beginilah keadaan rumah Kuchiki selama seminggu. Sebuah kamar apartemen di lantai teratas yang menjanjikan pemandangan kota Karakura yang terlihat indah di malam hari. Warna putih dan hitam mendominasi interior ruangan dengan gaya minimalis. Tiga buah kamar tidur dengan kamar mandi dalam, dapur basah dan dapur kering yang dijadikan satu, ruang kerja Byakuya dan ruang keluaraga yang menjadi satu tanpa penyekat.

Byakuya tidur di kamar utama. Nanao dipaksa menempati kamar yang bersebelahan dengan Byakuya, sedangkan Yachiru menempai kamar yang letaknya bersebrangan dengan kedua kamar tersebut.

Pagi hari kegiatan dimulai dari sarapan pagi. Nanao yang bertugas memasak. Yachiru sibuk merengek kesana kemari, berpindah-pindah anatara Nanao dan Byakuya. Lalu tuan rumah sendiri sibuk bekerja di atas meja kerjanya.

Aroma sedap telur dadar tercium di seluruh ruangan, aroma itu seperti bel penanda dimulanya waktu makan. Tanpa disuruh Yachiru dan Byakuya langsung menempatkan diri pada kursi masing-masing. Yachiru mulai sibuk memainkan peralatan makannya. Byakuya membaca koran dan Nanao sibuk mengoleskan mayonaise, membuat sandwich lalu mengisinya pada piring-piring kosong.

Yachiru langsung melahap sarapan paginya yang tidak pernah berubah selama seminggu. Byakuya masih sibuk dengan koran di tangan. Nanao dia masih harus mempersiapkan bekal untuk Yachiru. Membereskan peralatan memasak, mengantar Yachiru sampai depan pintu setelah itu dia baru bisa menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi dan menikmati sarapan dalam intimidasi Byakuya.

Kurang lebih seperti itulah salah satu kebiasaan aneh yang muncul dari pemainan rumah-rumahan.

Seperti memang di sengaja, setelah Nanao duduk di meja makan, Byakuya melipat koran dan meletakkan di kursi yang tadi diduduki Yachiru. Mereka berdua mulai melahap sarapan mereka dalam diam. Sesekali Byakuya memperhatikan cara makan Nanao. Kalau dia kepergok sedang curi-curi pandang, Nanao akan membalasnya dengan melotot jengkel. Dan Byakuya, dia selalu pandai membuat Nanao mati kutu.

"Apa hanya ini yang bisa kau masak?" ledeknya sambil menatap bosan pada potongan roti berwrna kecoklatan yang masih separo.

"Ada banyak restoran yang menyediakan jasa delivery, Kuchiki taichou cukup mengangakt telpon dan memesan," balas Nanao tidak kalah dingin.

"Aku hanya meragukan kemampuanmu. Ternyata gadis pandai berotak cemerlang sepertimu hanya sanggup membuat sandwich telor untuk sarapan, ebi tempura di siang hari dan yaki meshi di malam hari."

Nanao menelan ludah. Jengkel. Dia ingin melempar piring beserta isinya ke wajah cowok arrogant di sebelahnya. Setiap hari, laki-laki itu selalu tahu bagaimana membuatnya dongkol. Mempermaikannya, membuat wajahnya merah karena naik pitam.

"Tapi aku tidak keberatan," lanjut Byakuya sambil mengiris sandwich miliknya, melahap dan membiarkan makanan itu turun ke krongkongan sebelum kembali bicara. "Aku bukan laki-laki kuno yang mengharuskan istriku pandai memasak."

setelah dibuat merah karena naik darah, sekarang wajah Nanao kembali di buat merah karena malu. Buru-buru Nanao menundukkan kepalanya.

Byakuya memang selalu begitu. Dia suka menggodanya. Membuatnya kesal lalu sejurus kemudian membuatnya tersipu malu. Apa sebenarnya yang ada di otak laki-laki itu! Apa dirinya yang salah karena terlalu kaku, karena dia tidak se-agresiv dan segenit Rangiku? Atau harusnya dia bersikap malu-malau kucing seperti Soi Fong dan Hinamori. Atau mungkin dia harus bersikap manis seperti Rukia, supaya Byakuya balik bersikap baik padanya?

Tidak, dia tidak bisa menjadi orang lain. Dia Nanao, bukan Rangiku atau Hinamori atau Rukia atau cewek lainnya. Dia hanya cewek kaku yang terlalu gila kerja, mengagumi kepandaiannya, jarang tersenyum dan tidak pandai merias diri. Dia yang selalu mementingkan harga dirinya, dia yang tidak rela hatinya di taklukan oleh laki-laki, dia yang tidak menyerah begitu saja seperti cewek-cewek lain pada umumnya. Itulah dirinya.

Dirinya yang tanpa dia sadari dan tanpa Byakuya sadari justru menjadi daya tarik tersendiri bagi Byakuya. Sifatnya yang seperti itulah yang memberikan tantangan tersendiri bagi Byakuya yang selalu di puja oleh para wanita. Yang berlomba-lomba menawarkan dirinya.

Semakin keras Nanao menolak semakin besar keingina Byakuya untuk menaklukkan. Semakin besar hasrtanya menggoda Nanao. Dan Byakuya, dia menikmati ekspresi-ekpresi aneh, lucu dan tidak terduga yang diberikan Nanao.

Bagi Nanao sendiri, meski mati-matian dia menahan diri, sebenarnya dia menikmati semua itu. Cara Byakuya menggodanya, mencari perhataiannya. Cara mereka berdebat, halus tapi di satu sisi menyindir tajam. Atau bagaimana cara Byakuya membuatnya merasa kalah, mati kutu, sesekali tersipu malu. Nanao menyukai itu tanpa dia sadari. Belum pernah ada satu pun laki-laki yang pernah singgah atau sekedar lewat dalam hatinya memapu melakukan seperti yang Byakuya lakukan.

Akhirnya mereka menyelesaikan sarapan mereka kembali dalam keheningan. Wajah Nanao yang tersipu malu cukup membuat Byakuya puas. Nanao sendiri terlalu takut mengangakt wajahnya. Terlalu takut merespon kata-kata Byakuya. Dia takut jika kalimat yang di katakan Byakuya setelah ini justru hanya membuat hatinya semakin berbunga-bunga.

Ting Tong

Bel rumah berbunyi, Nanao tidak menyia-nyiakan kesempatan satu ini, dia buru-buru berdiri dan berlari membuka pintu, ini kesempatannya melarikan diri dari situasi tidak mengenakkan ini.

"Cleaning service." seorang wanita muda akhir dua puluhan berdiri di depan pintu dengan membawa seperangkat peralatan bersih-bersih. Dia langsung tersenyum mendapati nyonya rumah yang menyambutnya. Bukan si bocah nakal atau tuan rumah yang sama sekali tidak ramah. "Selamat pagi nyonya Kuchiki," sapanya.

"Selamat pagi," balas Nanao sambil memberi isyarat, mempersilahkan wanita itu masuk. Nanao lalu menutup kembali pintu dan berjalan ke meja makan. Membereskan semua peralatan makan dan mencucinya di dapur. Untuk urusan satu ini Nanao sengaja memilih menanganinya sendiri. Alasannya sederhana karena hal itu menyangkut makanan dan makanan menyakut langsung dengan kesehatan, jadi dia menginginakn kesempurnaan untuk yang satu ini.

Byakuya kembali sibuk dengan kerjaannya. Suara mesin vacuum cleaner menjadi satu-satunya suara dalam rumah itu.

Diluar dugaan ternyata dia tidak di jadikan tukang bersih-bersih oleh Byakuya. Tidak banyak yang Nanao lakukan. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja, seperti di Soul Society dulu. Byakuya juga sama. Mereka berdua terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Meski tinggal serumah, tapi mereka seperti berada di dua dunia yang berbeda.

Kegiatan lainnya adalah memasak dan mengurus dapur. Sarapan untuk siang biasanya dia siapkan setelah selesai sarapan pagi. Maklum dia tidak pandai memasak. Dia butuh waktu dua kali sampai tiga kali lebih lama untuk mempersiapkan sarapan dari waktu normal yang dibutuhkan seorang ibu rumah tangga yang terbiasa mengurus rumah.

Di tengah tengah kesibukannya melumuri udang seukuran jari tengah laki-laki dewasa dengan tepung, tanpa Nanao duga dia merasakan kehadiran seseorang di baliknya. Nafasnya yang lembut seperti membelai tengkuknya. Nanao ingin berjingkat lalu sedikit menggeser tubuhnya menjauhi pemilik tubuh di belakang tapi tidak jadi dia lakukan. Dua buah lengan mengunci tubuhnya di kanan dan kiri. Tidak sampai menyentuh tubuhnya, tapi cukup untuk mengunci gerakan Nanao. Mau mendorong orang di belakangnya juga tidak mungkin, hanya menimbulkan reaksi berkelanjutan yang tidak di harapkan. Akhirnya dia tetap diam dan pura-pura sibuk melumuri udang dengan tepung tempura, pura-pura tidak menyadari keberadaan Byakuya di punggungnya.

"Kemajuanmu lumyan juga," puji Byakuya melihat jemari Nanao yang mulai trampil memasak.

"Aku hidup untuk belajar," jawabnya ketus.

Byakuya memperhatikan tengkuk Nanao yang jenjang, begitu menggoda. Leher yang indah. Kalau bisa dia inging memegangnya membelai kulitnya yang halus lalu dengan buas mencumbu leher indah itu.

"Hari ini Yachiru pulang sore, kita makan di luar saja," tawar Byakuya.

"Maaf, saya tidak ingin menambah nominal angka hutang saya pada anda, Kuchiki taichou," tolak Nanao sekaligus sindiran untuk Byakuya.

Byakuya hanya bisa senyam senyum. Sampai sebegitu besar ya rasa anti pati Nanao pada dia. Tapi tidak masalah, dia memang hanya ingin menggodanya. Dan yang pasti serangan Byakuya belum selesai, dia masih punya jurus-jurus maut lainnya.

"Aku tipe suami yang suka memanjakan istri dengan materi," balas Byakuya.

"Katakan itu pada calon istri anda." Nanao mulai kesal. Dari pagi Byakuya terus menggodanya soal suami istri. Apa maunya! Dia bermaksud memperistrinya? Yang benar saja. Mereka hanya maian rumah-rumahan. Dia hanya berperan sebagai seorang istri dan Byakuya seorang suami. Mereka bukan suami istri sungguhan!

"Aku sedang mengatakannya pada wanita yang baru saja dan selama seminggu terakhir ini di panggil Nyonya Kuchiki."

Kaget, tanpa sadar dia menghentikan kegiatannya. Diam terpaku, tidak bisa membalas juga tidak bisa bergerak. Dia merasakan sensasi aneh di sekujur tubunya. Getaran-getaran seperti kesemutan terutama di bagian wajah hanya dari kalimat Byakuya barusan.

Byakuya hanya menggoda. Dan itu sering dia terima. Dia bahkan mengoloknya sebagai 'istri' dan memang benar semenjak tinggal di sini, petugas cleaning service, petuga keamanan, para staff dan tetangga satu apartemennya memanggilnya begitu, nyonya Kuchiki.

Tapi waktu dia mendengar langsung kata-kata itu dari mulut Byakuya kenapa rasanya berbeda? Hatinya berdesir, sedikti rasa bahagia terselip. Kalau dia jadi istrinya yang sah dia akan dipanggil seperti itu. Mereka tinggal serumah. Memiliki seorang anak mungkin, Byakuya akan jadi suaminya, dan-

Nanao berhenti berimajinasi, dia lebih menunduk lagi, tersipu malu lalu kembali melanjutkan imajinasinya. Dan kalau posisi mereka seperti sekarang ini, mungkin dia sudah memeluk pinggang Nanao dari belakang, merayunya sambil bercumbu mesra.

STOP! Nanao STOP! Jangan gila! Memang kamu rela menyerahkan hatimu, tubuhmu, kairmu, kerja kerasmu selama ini, hidupmu, semuanya pada laki-laki ini? Tidak kan! Jangan bodoh! Dengan jadi istrinya berarti kamu sudah jadi bagaian dari keluarga bangsawan Kuchiki. Lalu apa bedanya kamu dengan dia? Mungkin dengan mudah dia akan menempatkanmu sebagai pimpinan devisi tiga atau empat. Kamu tidak perlu kerja keras, usahamu tidak akan berarti, kamu hanya akan dipandang sebagai wanita yang memanfaatkn status sosial suminya untuk mendapatkan semua yang kamu inginkan, kamu tidak ingin jadi wanita seperti itu bukan Nanao!

Nanao mengatur nafasnya mencoba menenangkan diri setelah otaknya memperingaktakan dirinya agar tidak menyerah pada rayuan Byakuya. Dan ketika dia cukup yakin dirinya sudah cuku tenang, sebuah tepukan di pundak kembali membuatnya terlompat di tempat.

Nanao melotot mengira orang itu Byakuya, tapi ternyata dia salah. Yang menepuknya adalah wanita cleaning service dengan sebuah senyuman dan mata yang memandang jahil.

"Baru kali ini saya liat nyonya bermesraan dengan tuan, ternyata suami nyonya bisa romantis juga ya," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Nanao membuka mulutnya, siap membantah, tapi tidak ada suara yang terdengar, dia juga tidak tahu mau membantah apa.

"Wah lucunya, ternyata, meski sudah punya satu anak, nyonya masih bisa tersipu malu seperti itu."

Habis sudah, sedikitpun otaknya tidak bisa berpikir. Yang ada Nanao justru semakin salah tingkah dan memperlihatkan sisi bodohnya.

Wanita itu menepuk pundaknya dua kali lalu berbisik pelan, "Batalkan saja perceraian kalian," lalu kembali meneruskan pekerjaannya.

"Itu..." Nanao mau membantah, tapi dia disadarkan oleh sesuatu. Byakuya! Byakuya sudah tidak ada di dekatnya, kemana dia?

Nanao memutar kepala, mencari ke seluruh ruangan dan dengan mudah menemukan Byakuya yang sudah duduk manis di depan meja kerja. Tenggelam dalam kesibukan seolah-olah tidak terjadi apapun.

Bodohnya aku bisa terpancing oleh rayuan laki-laki macam dia! Dasar buaya darat! Dia tidak menyukaiku, hanya suka menggodaku, menganggangguku, membuatku kesal. Lagi pula mana mungkin bangsawan macam dia tertarik pada wanita sepertiku! Ada banyak wanita yang jauh lebih menarik dariku! Dia pasti memperlakukan semua wanita seperti itu! Umpat Nanao sambil mulai menggoreng.

.

Malam ini berkat Yachiru, keluarga Kuchiki pergi keluar rumah bersama-sama. Pertama kalinya dalam seminggu. Semula Byakuya dan Nanao menolak ajakan Yachiru untuk pergi jalan-jalan ke festifal budaya yang di adakan setahun sekali di kota Karakura town tersebut. Tapi karena Yachiru terus merengek. Membuat keributan di sana sini, menganggu mereka berdua, membuat kepala Nanao makin pusing dan mereka berdua tidak bisa bekerja, akhirnya mereka mengabulkan keinginan Yachiru.

Dan di sinilah mereka sekarang. Di jalan panjang dengan lampion warna warni dengan barisan penjualan aneka barang mulai dari makanan, pakian, pernak pernik sampai mainan berjajar bersebelahan di pinggir-pinggir jalan yang mereka lalui. Walau Byakuya dan Nanao sama-sama tidak bisa membaca pikiran lawannya, tapi mereka sepakat, kali ini saja, kalau ada Menos yang datang mereka akan sangat bersyukur.

Yachiru menggandeng tangan Nanao kencnag, dia menarik Nanao kemanapun dia suka, sebelum ini Yachiru juga berusaha menggandeng tangan Byakuya tapi selalu gagal dan dia sudah menyerah. Byakuya jalan di sebelah Nanao menghindari Yachiru. Kalau bukan demi Nanao, saat ini dia sanggup mencacah Yachiru dengan zenbonsakura. Keinginannya itu tergambar jelas di wajahnya yang selalu terlihat dingin dan angkuh di tambah sorot mata tajam siap menusuk Yachiru kapanpun ada kesempatan.

Dengan jurus maut andalan Yachiru, merengek, dia berhasil membuat Nanao merogoh dompetnya yang tipis untuk membelikan semua keinginannya. Semula dia merasa kesal. Tapi setelah melihat wajah gembiranya ketika dia berpapasan dengan teman sekelas, akhirnya Nanao sedikit paham alasan kenapa Yachiru mati-matian merengek minta di ajak kemari. Dia hanya ingin pamer pada teman-temannya. Dia ingin menunjukkan dia juga punya orang tua yang menyanginya meskipun itu hanya bohong-bohongan. Dasar anak-anak!

"Nanao chan," Yachiru menarik-narik tangan nanano sambil menunjuk-nunjuk ke arah kanan dengan wajah riang. Semula Nanao mengira dia bertemu temannya lagi dan dia sudah siap beramah tamah dengan orang tua teman Yachiru, tapi apa yang ditunjukkan Yachiru kali ini ternyata berbeda. Yachiru menunjuk-nunjuk pada rombongan Ichigo dan kawan-kawannya.

Gawat! Mereka tidak boleh tahu aku tinggal serumah dengan Byakuya!

Nanao buru-buru membisikan seuatu pada Yachiru. "Jangan bilang-bilang soal kita tinggal serumah dengan Kuchiki taichou kalau Yachiru masih ingin tinggal bersama Kuchiki taichou,"

"Ok," balas Yachiru singkat dan langsung berlari ke arah ichigo dan kawan-kawannya.

.

Acara jalan-jalan keluarga sekarang berubah jadi makan malam bersama dan beramai-ramai ria. Semula memang hanya ada Ichigo, Orihime, Rukia dan Renji. Lalu entah siapa dan kapan dimulai, satu persatu dari mereka mulai memanggil teman-temannya. Dan sekarang, di sebuah warung tenda dekat dengan tempat di selenggarakannya festifal. Diiringi suasana hiruk pikuk manusia lalu lalang, suara peralatan memasak yang saling beradu dan aroma kuah shabu-shabu yang menggoda. Semua yang terkait dengan Soul Socity dan sedang ditugaskan di Karakura town berkumpul disini, mengelilingi meja panjang terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang ditemani percakapan mengalir begitu saja.

Nanao duduk di antara Byakuya dan Yachiru. Dia tidak banyak bicara lebih sibuk memasuk-masukan bahan mentah ke dalam panci, sesekali mengaduk, memeriksa, mengambil yang sudah siap dimakan dan memberikannya pada Yachiru.

Tanpa Nanao sadari beberapa pasang mata memperhatikan ke anehan sikapnya. Salah satunya laki-laki yang duduk di sebelahnya, Byakuya. Sifat keibuannya yang dipaksa keluar karena pengalam menjadi seorang ibu dan seorang istri tiba-tiba memberikan perubahan besar yang tidak dia sadari.

"Nanao, sejak kapan kamu bertugas menggantikan kenpachi taichou mengasuh Yachiru?" ledek Rangiku salah seorang yang merasakan perubahan sikap Nanao yang selama ini terkenal kaku jadi lebih lembut.

"Sejak Nanao sering menemaniku bermain!" sahut Yachiru riang. Jawaban yang tanpa dia sadari mengundang seribu tanda tanya bagi yang lain.

"Sejak kapan kamu jadi senganggur itu? Kalau kamu punya waktu luang, gimana kalau bantu-bantu aku mengurus administrasi devisiku?" tambah Renji.

Sortoan mata tajam Byakuya langsung menghujam Renji. Renji tersenyum kecut menyadari dirinya berada dalam posisi berbahaya. "Lupakan saja," katanya buru-buru pada Nanao sebelum atasannya mencacah tubuhnya dengan Zenbonsakura.

Byakuya kembali sibuk dengan shabu-shabu di mangkuk. Dia tidak memakan, hanya memainkan lauk aneka warna yang berenang renang di dalam.

"Kamu berubah Nanao," Hinamori bicar sambil menyumpit sawi putih dari mangkuknya.

"Berubah? Apanya?"

"Gimana ya, lebih lembut, lebih ceria, susah menjelaskan dengan kata-kata," Hinamori menjelaskan sambil mengunyah sawi putih.

"Seperti wanita yang sedang jatuh cinta?" kata Byakuya tiba-tiba dengan wajah datarnya dan kepala tertunduk, masih sibuk memainkan makanan di mangkuknya.

Kalimat Byakuya barusan langsung merubah perhatian semua yang mengelilingi meja itu berpindah pada Nanao. Termaksud salah satunya Yachiru. Semua kegiatan berhenti. Mereka terlalu sibuk dengan pertanyaan-pertanyaa yang di hujankan pada Nanao membuat gadis berkacamata itu kebingungan.

"Itu benar?" tanya Renji yang sampai berdiri dari duduknya.

"Nanao jatuh cinta, wow!" komentar Rangiku.

"Dengan siapa?" pertanyaan tersebut keluar dari mulut Soi Fong dan Hitsugaya hampir bersamaan.

"Wanita memang terlihat lebih cantik kalau sedang jatuh cinta," komentar Orihime.

"Mungkin dengan Byakuya," sahut Yachiru asal yang membuat suasana jadi makin riuh. Dan masih banyak pertanyaan dan komentar lainnya yang membuat Nanao makin salah tingkah. Sementara Byakuya, dia tidak ambil pusing. Tetap dengan sikap sok cool-nya dan memegang teguh prinsip silent is gold sambil menikmati pemandangan menarik, Nanao bingung dan salah tingkah.

Akhirnya acara jalan-jalan dan makan bersama selesai, meninggalkan seribu satu misteri tentang Nanao dan Byakuya. Rangiku berjanji akan mencari tahu semua kebenaran perkataan Yachiru dan semua punya firasat, dia tidak akan tinggal diam melihat cowok idamannya direbut begitu saja. Dan Soi Fong dia juga pasti sudah mempersiapakan sesuatu.

Yachiru dan Nanao terpaksa pulang dengan menggunakan bus. Sedangkan Byakuya pulang sendiri dengan mobil. Cara ini terpaksa Nanao tempuh demi menjaga keamanan rahasia mereka.

Sesampainya dirumah, Nanao langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa empuk dengan tangan kanan sibuk menekan-nekan tombol remote televisi. Dia tidak ada keinginan menonton, menyelakan televisi hanya sekedar menghilangkan suasan hening di rumah ini sejak Yachiru terlelap di kamarnya dua jam lalu dan Byakuya mengurung diri dalam kamar.

Andai bisa dia ingin secepat mungkin tidur terlelap seperti Yachiru, tapi rasa pusing kembali menyerang dan otaknya masih sibuk bekerja meskipun bulan sudah tinggi. Soal kerjaan, soal Yachiru, soal Byakuya semuanya capur aduk jadi satu.

"Belum tidur?"

Nanao melompat ke kanan secara spontan. Dia tidak sadar dan tidak tahu sejak kapan Byakuya duduk di sebelahnya.

"Tidak bisa tidur," jawabnya singkat sambil pura-pura sibuk menonton layar LCD 42 inch di dedepannya.

"Aku tidak berbahaya, kamu tidak perlu sampai menjaga jarak seperti itu," Byakuya mengomentari sikap kaget Nanao barusan.

"Aku hanya kaget!" jawab Nanao sewot sambil melotot ke arah Byakuya.

Mata Byakuya hanya sedikit melebar melihat ekpresi marah Nanao. "Masih memikirkan soal tadi?"

"Tidak!" balas Nanao cepat dia sudah kembali pada kepura-puraannya menonton telivisi. Padahal kalu ditanya siapa nama tokoh utama dorama yang sedang dia tonton, Nanao pasti tidak bisa menjawab.

"Tidak biasanya kamu hilang kendali seperti ini."

Nanao tidak membalas. Sepertinya masalah makan malam tadi memang membuat hatinya gusar. Dia sendiri tidak menyadari. Nanao menganggap perasaan gusar itu di sebabkan oleh masalah pekerjaan dan Yachiru.

"Kalau mereka tahu kita tinggal bersama, katakan saja yang sebenarnya, bereskan?"

Nanao tiba-tiba menoleh, menatap Byakuya. Apa yang di katakan laki-laki itu seharusnya benar. Baykuya bahkan tidak peduli, tidak ambil pusing sedikitpun. Kenapa dia harus gelisah seperti ini.

Byakuya tersenyum jahil, "Atau kamu takut setelah ini kita tidak bisa tinggal bersama?"

"Aku akan sangat berterima kasih jika Rangiku bersedia menggantikan posisiku sebagai ibu Yachiru dan istri yang akan di ceraikan Kuchiki Byakuya," balas Nanao sewot. Lagi-lagi dia kembali menatap ke layar LCD dan mengganti saluran.

Dalam hati, Nanao tidak berhenti memikirkan dua kalimat Byakuya. Kenapa dia harus takut jika permainan rumah-rumahan ini terbongkar, toh dia melakukan ini karena terdesak keadaan. Bukan atas kehendaknya. Teman-temannya pasti bisa mengerti. Tapi bukan itu yang menganjal hatinya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang dia rasakan semenjak Yachiru menunjuk sosok ichigo dan teman-temannya. Sesuatu yang membuatnya gelisah sampai-sampai dia meminta Yachiru merahasiakan permainan rumah-rumahan mereka.

"Tidurlah, besok pagi jam tujuh kita ada rapat dengan yang lainnya," Byakuya berdiri dari duduknya. Nanao tidak menggubris, dia masih sibuk dengan satu persatu kenyataan mengejutkan yang dia temukan sampai sebuah ciuman mendarat di keningnya. "Tidur yang nyenyak," suara Byakuya berbisik pelan di telinga kanan Nanao.

Wajah mereka begitu dekat meski dia tidak bisa melihat wajah Byakuya. Serangan barusan benar-benar membuatnya terkejut sampai-sampai sekujur tubuhnya terasa kaku tidak dapat digerakkan.

Pelan-pelan Byakuya menarik diri, menikmati rekasi kaget Nanao sesaat sebelum berbalik dan meninggalkan wanita yang dicintai terbengong-bengong sendirian.

"Sialan!" umpat Nanao sambil mengusap-usap keningnya dengan lengan piyama sepeninggal Byakuya. Makin keterlaluan saja dia, batinnya. Dan betapa bodohnya dia jatuh terpesona seperti anak bau kencur yang baru merasakan cinta monyet. Harusnya tadi dia langsung mendorong Byakuya. Bukan terpesona dan memberikan peluang laki-laki itu untuk mempermainkannya.

Ada yang tidak beres dengan dirinya. Nanao yang pandai langsung merasakan hal itu. Kalau dia dalam posisi biasa, dia akan mendorong Byakuya. Tapi tadi tidak. Mau tidak mau dia harus mengakui tadi dia memang kaget dengan sikap byakya, tapi hatinya berdesir tidak menentu ketika keningnya di sentuh oleh bibir Byakuya. Hatinya seperti menikmati kejutan tadi. Hatinya coba mengatakan tentang kejujuran yang selama ini terus Nanao sangkal. Dia jatuh cinta pada laki-laki itu.

Dan Nanao tersadar, dia tidak ingin permainan rumah-rumahan ini berakhir!

.

.

.

Akhirnya selesai juga chapter 4. Sempat bingung mau nulis apa di chapter ini, maklum tipe amatiran yang nulis tanpa bikin kerangka.

Makasih juga buat para semua reviewer yang kebanyakan anonymous. Juga para pembaca setia cerita ini.

Semoga makin terhibur. Dan maaf entah kenapa saia merasa cerita ini hanya jalan di tempat. Semoga yang membaca tidak merasa demikian.