Oc... Chapter 4 sudah Update, Semoga tidak membuat kalian kecewa :3
AiEmerald : Kya kya kya... terimakasih banyak XD, saya juga sangat senang :D
Baiklah... Selamat membaca :3
LOVE YOU TILL THE END
Discliamer: Detective Conan -c Aoyama Gosho
Warning: OOC abis, GJ, Typo(s), alur maju-mundur, plot loncat-loncat
R&R please :)
Di Chapter sebelumnya:
Shinichi sakit sehingga Shiho menjenguknya. Saat merawat Shinichi Shiho membayangkan kembali saat ia terjatuh kejurang dan diselamatkan oleh Shinichi. Mulai saat itulah Shiho jatuh cinta pada Shinichi. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan sehingga Shiho berjanji akan selalu berada di sisi Shinichi sebagai seorang sahabat.
Chapter 4 : Cinta Yang Tertukar
#Flasback off
Tanpa terasa air mata Shiho menetes, ia sangat merindukan waktu itu, waktu dimana ia merasa perasaannya dan perasaan Shinichi menyatu, waktu dimana ia merasa Shinichi hanya miliknya seorang. Walau hanya sekejap, namun baginya waktu itu adalah waktu yang paling berharga dalam hidupnya.
'Shinichi, Shinichi, Shinichi' dalam hati, Shiho memanggil-manggil nama Shinichi.
"Shiho, kenapa kau menangis? Hey… apa sebegitu parah keadaanku sampai-sampai kau menangisiku" goda Shinichi tiba-tiba sambil tersenyum jahil.
Tanpa Shiho sadari, Shinichi telah bangun dari tidurnya dan mendapati Shiho sedang menangis sambil menggenggam tangannya. Seketika itu juga Shiho melepas genggaman tangannya dari Shinichi.
"B-Baka Shin, kau membuatku terkejut" Shiho memalingkan wajahnya untuk menghapus air mata dan untuk menutupi rona merah di wajahnya, kemudian Shiho beranjak menjauh dari Shinichi.
"Shiho kemarilah" tiba-tiba Shinichi meraih telapak tangan Shiho kemudian menariknya agar Shiho mendekat padanya, namun hal itu malah membuat Shiho kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas Shinichi.
"Awwww… Shin?" Shiho tampak terkejut.
Shiho berusaha mengangkat tubuhnya dari tubuh Shinichi namun Shinichi malah melingkarkan lengannya pada pinggang Shiho.
"Shiho, apa kau tahu? Aku suka melihatmu saat kau menangis" Shinichi mengatakan hal itu sambil tersenyum hangat.
"Apa maksudmu Shin? Kau sudah gila? Cepat lepaskan aku!" Shiho berusaha melepaskan diri dari Shin.
"Shiho, apa kau tahu? Kau terlihat sangat manis saat menangis" lanjut Shinichi tanpa menghiraukan permintaan Shiho.
Tanpa bisa dicegah, wajah Shiho memerah semerah tomat, dengan posisinya sekarang ia tidak bisa menyembunyikan ekspesi wajahnya. Shiho hanya bisa tertunduk malu. Keheningan menyeruap di antara mereka hingga Shiho dapat mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin menggila. Shiho merasa inilah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya.
"S-Shinichi… A-aku" Shiho tampak ragu untuk mengatakannya, namun tekatnya telah bulat.
"A-aku Menyukaimu" akhirnya Shiho dapat mengatakannya.
Sambil tertunduk, Shiho menunggu jawaban dari Shinichi, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Shiho memberanikan diri memandang ke arah Shin. Dengan gugub Shiho perlahan mendongakkan kepalanya. Namun ternyata yang diajak bicara sudah tertidur kembali. Shiho akhirnya dapat melepaskan diri dari pelukan Shinichi.
"Heh... Dasar Baka-Shin... Sunggguh... kau orang yang tidak bisa ditebak" Shiho setengah tersenyum sambil memandang wajah Shin yang tengah tertidur.
'Ternyata dia benar-benar sedang mengigau' batin Shiho
'Mungkin... aku memang terlalu berharap darimu... Shinichi Kudo'.
Sore hari, di Sekolah
'Sekarang sudah jam 5 sore, seharusnya sebentar lagi Shiho keluar dari kelasnya' batin Higo.
Hari ini, Higo melakukan hal yang sama, menunggu Shiho keluar dari depan gerbang sekolahnya. Namun Ran yang datang menghampirinya.
"Ryusuke-san?" Sapa Ran.
"Hei… Emm Mouri-san" Jawab Higo sedikit ragu.
"Iya… sedang apa di sini? Menunggu seseorang?" Selidik Ran.
"Iya, tapi bukan untuk urusan penting" Jawab Higo sekenanya.
"Em, Mouri-san… apakah kau tahu dimana Miyano-san?" Tanya Higo setelah berfikir sejenak.
"Miyano?… Ow… sekarang dia sedang menjenguk Shinichi. Hari ini Shinichi tidak masuk karena sakit. Tadi dia mengajakku untuk menjenguknya, tapi aku masih ada urusan yang harus ku selesaikan" Jawab Ran.
"Memangnya ada apa Ryusuke-san mencari Miyano?" Tanya Ran penasaran.
"Tidak ada, aku hanya penasaran. Kemarin kalian pulang bersama tapi hari ini Mouri-san hanya sendiri" Jawab Higo.
Ran tampak ragu untuk bertanya lagi, namun rasa ingin tahunya mengalahkan ketakutannya. Dengan suara sedikit tertahan akhirnya Ran memberanikan diri bertanya pada Higo.
"Ryusuke-san, apakah seseorang yang sedang kamu tunggu itu… adalah pacarmu?" Tanya Ran.
Higo terdiam sejenak sambil menatap Ran yang sedang menunggu jawaban darinya, Higo hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat.
"Bukan… dia hanya teman" jawab Higo sambil melemparkan senyum yang ia paksakan pada Ran.
Mendengar jawaban dari Higo, Ran menyunggingkan senyum terlebarnya.
"Benarkah? Wakatta" Jawab Ran reflek.
"Em… laluu, apakah aku boleh menemani Ryusuke-san menunggu orang yang ingin ditemui?" Tanya Ran lagi.
"Tapi sekarang aku mau pulang, aku sudah tau orang yang aku tunggu sekarang berada di mana" Jawab Higo sambil beranjak pulang.
"Ryusuke-san, apakau orang yang kamu tunggu itu… adalah Miyano?" Tanya Ran ragu.
Higo melihat Ran sekilas dan tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Ran.
Ran hanya bisa memandang kepergian Higo dengan raut kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.
Keesokan harinya di Sekolah
"Ohayou Minna" Sapa Shin saat ia memasuki ruang kelas.
Melihat kedatangan Shinichi, teman-teman sekelasnya langsung menghampiri Shin untuk menyambutnya.
"Ohayou… Hey, kamu sudah sembuh Shin? Syukurlah" Tanya salah seorang dari mereka.
"Iya… Untungnya aku lekas sembuh" Jawab Shinichi sekilas, kemudian ia menuju ke bangku Shiho.
"Ohayou Shiho" Sapa Shin.
"Ohayou…" Shiho yang sedang asik membaca buku hanya melirik Shinichi sekilas lalu melanjutkan membacanya.
"Kau tidak menyambutku Shiho? Apa kamu tidak senang melihatku kembali?" Tanya Shinichi dengan wajah ngambek.
Shiho memutar kedua bola matanya, kemudian dia menurunkan bukunya sekilas sambil berkata "Ya... selamat datang, Shinichi" lalu melanjutkan kegiatan membacanya lagi.
Shinichi hanya bisa speechless melihat tingkah Shiho.
"Percuma mengharapkan perlakuan yang lebih darimu, Shiho" Kata Shinichi setengah berbisik.
"Apa katamu?" Shiho melirik pada Shinichi.
"Tidak ada" Jawab Shinichi tanpa melihat Shiho.
"Em… Shiho, aku dengan dari Akako-san, katanya kemarin kau ke rumah ya?" Tanya Shin ragu.
"Iya… aku hanya mampir sebentar" Jawab Shiho datar.
"Maaf ya, aku sama sekali tidak ingat. Yang aku ingat hanya waktu kau menelfonku, lalu aku keluar dari kamar dan menunggumu di sofa depan TV, setelah itu aku tertidur" Jelas Shinichi dengan wajah menyesal.
"Iya, aku tahu" Jawab Shiho dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Em… Shiho, aku ingin bertanya… Em…"
Merasakan gelagat yang aneh dari Shinichi, akhirnya Shiho melepaskan pandangan matanya dari buku yang sedang Ia baca.
"Ada apa Shin? tidak biasanya kamu bertele-tele" Tanya Shiho dengan nada kesal.
"Em… aku tidak terlalu yakin, tapi… apakah kemarin… aku melakukan sesuatu yang aneh padamu?" Tanya Shinichi.
Shiho terlihat berfikir sejenak, namun kemudian Shiho malah balik bertanya pada Shin.
"Melakukan sesuatu yang aneh, maksudnya?" Tanya Shiho sambil memicingkan sebelah matanya.
"Aaaaaah sudahlah, aku hanya bergurau, Wakatta" Jawab Shinichi setengah berteriak sambil mengembangkan senyum lebarnya.
"Heeei Shin, sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Kenapa pertanyaanmu mengambang? Aku jadi semakin penasaran" Tanya Shiho pura-pura tidak tahu.
"Ie… tidak ada" Jawab Shin sambil menggelengkan kepala.
"Tapi… Arigatou Shiho, kau telah menjengukku kemarin. Entah kenapa, sekarang aku merasa sudah jauh lebih baik" Lanjut Shinichi.
"Iya… sama-sama. Bukankah memang sesama teman harus saling membantu" kata Shiho sambil mengulurkan tangannya pada Shinichi.
Shinichi terdiam sejenak, namun sesaat kemudian Ia tersenyum dan menyambut uluran tangan Shiho.
"Iya… aku tahu" Jawab Shinichi sambil menjabat tangan Shiho.
Selanjutnya bel tanda masuk pelajaran pertama pun berbunyi. Seluruh murid memasuki ruang kelas dan memulai pelajaran.
Selama pelajaran, Ran sama sekali tidak dapat berkonsentrasi. Yang ada di fikirannya hanyalah Higo dan Shiho. Karena tidak tahan dengan fikirannya sendiri, Ran memutuskan untuk mengungkapkan kegundahannya pada Shiho saat jam istirahat.
"Miyano-san, bolehkah aku berbicara berdua saja denganmu?" Tanya Ran.
"Ada apa ya Mouri-san?" Tanya Shiho yang tengah membereskan bukunya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu" lanjut Ran.
"Baiklah, silahkan" Shiho menghentikan kegiatannya kemudian mempersilahkan Ran untuk duduk di bangku sebelahnya.
"Emmm… aku tidak enak kalau berbicara di sini. Bisakah kita bicara di taman saja?" Tanya Ran.
"Hei kalian, sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali Ran" Tanya Shinichi tiba-tiba.
"Hai Shin, aku ada sedikit urusan dengan Miyano-san, bolehkah kamu tinggalkan kami sebentar?"
"Shin? Ran? Sejak kapan kalian saling memanggil nama depan?" Tanya Shiho yang tampak terkejut.
"Sejak kemarin waktu kita ke toko buku. Bukankah akan terdengar lebih akrab jika kita saling memanggil nama depan, benar kan Ran?" Jawab Shin yang kemudian melemparkan pandangannya pada Ran, Ran hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.
Shiho hanya bisa terdiam melihat keakraban Shinichi dan Ran, dia tidak menyangka bahwa mereka bisa akrab secepat ini. Shiho hanya bisa melengkungkan senyum pahit di kedua ujung bibirnya. Saat ini Shiho merasakan matanya seperti terbakar dan butiran air mata mulai menggenang di bawah kelopak matanya, namun kemudian Shiho memalingkan wajahnya sekilas untuk menghapus butiran itu lalu kembali ke posisinya semula.
"Ow begitu, syukurlah… aku ucapkan selamat untuk kalian" kata Shiho sambil memaksakan senyumnya.
"Em… Miyano-san, bolehkah aku juga memanggilmu dengan nama depan?" Tanya Ran pada Shiho.
"Eh…" Shiho tampak terkejut dengan pertanyaan Ran, namun akhirnya Ia malah tersenyum, senyuman yang tulus.
"Tentu saja Ran, kita kan teman"
"Wakatta… Syukurlah Shiho, aku sangat senang" Jawab Ran sambil menyunggingkan senyum lebarnya.
"Syukurlah Shiho, akhirnya kau punya teman selain aku" Kata Shinichi usil.
Mendengar perkataan Shinichi, Shiho hanya bisa melirikkan ujung matanya.
"Memangnya temanku cuma kamu? Dasar Baka-Shin, dari dulu tidak pernah beruhah, tetap saja kau terlalu self-confident" jawab Shiho sambil melipat tangannya di depan perut.
"Ayo Ran kita bicara di tempat lain saja, di sini ada setan pengganggu" ajak Shiho sambil menggandeng tangan Ran keluar kelas.
"Apa katamu? Jadi kau anggap aku setan penggangu? Shiho… Hei Shiho"
Shinichi memanggil-manggil nama Shiho namun Shiho tidak menghiraukannya. Shiho bersama Ran berjalan lurus menuju taman sekolah tanpa sepatah katapun. Akhirnya mereka duduk di salah satu kursi tepat di bawah pohon yang rindang.
"Sekarang sudah aman, apa yang ingin kau bicarakan Ran?" Shiho membuka pembicaraan mereka.
"Aku ingin membicarakan tentang... Em.. R-Ryusuke-san" Jawab Ran dengan wajah tertunduk.
"Ryusuke? Memangnya ada apa? Apakah telah terjadi sesuatu" Tanya Shiho penasaran.
Ran hanya menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan jawabannya
"Kemarin… aku bertemu Ryusuke-san di depan gerbang sekolah kita" Ran menghentikan ceritanya, Ia ragu untuk melanjutkan ceritanya.
Shiho mulai tahu arah pembicaraan Ran, tapi Ia ingin mendengar sendiri dari Ran apa yang sebenarnya membuatnya gundah.
"Lanjutkan saja Ran, kalau ada yang bisa aku lakukan pasti aku bantu" Shiho mencoba meyakinkan Ran.
"Ryusuke-san, Ia menunggumu…" Lanjut Ran.
"Apa? Hahaha, apakah karena hal itu hatimu gundah Ran? Sungguh… Aku dan Ryusuke, kami hanya berteman. Percayalah!" Jawab Shiho mencoba mencairkan suasana.
Namun usahanya sia-sia, Ran tetap terlihat murung. Sepertinya jawaban Shiho tidak membuatnya puas.
"Aku percaya padamu Shiho, namun aku bisa melihatnya. Aku bisa melihat kalau Ryusuke-san… sebenarnya dia… suka padamu" walaupun dengan ragu, namun akhirnya Ran mengatakannya.
Mendengar perkataan Ran, Shiho hanya bisa terdiam. Dia mulai merasa bahwa apa yang dikatakan Ran adalah hal yang serius. Shiho mulai memasang wajah seriusnya.
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu Ran? Apakah kemarin Ryusuke mengatakannya hal itu langsung padamu?" Tanya Shiho menyangsikan perkataan Ran.
Ran hanya menggelengkan kepalanya, namun perlahan air matanya mengalir dari kedua pelupuk matanya.
"Tapi aku bisa melihatnya Shiho… mata itu, tatapan mata yang kosong, mata yang terlihat sangat menderita. Aku melihatnya sesaat setelah aku bicara tentang dirimu yang sedang bersama Shinichi" lanjut Ran yang kedua pipinya sudah basah oleh air mata.
Shiho dan Ran pun akhirnya terdiam, untuk beberapa saat suasana terasa begitu beku, hanya terasa angin yang bertiup lembut dan memainkan rambut mereka yang tergerai.
"Lalu… Apa yang bisa aku lakukan? Sama sekali tidak terbersit di fikiranku tentang hal itu" Shiho mulai memecah keheningan mereka dengan pertanyaan yang lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Shiho, maaf jika aku lancang…" Kata Ran yang masih menundukkan kepalanya.
"Demo… apakah kamu menyukai Shinichi?" Lanjut Ran sambil memandang ke arah Shiho.
Shiho terkejut mendengar pertanyaan Ran, sesaat suasana hening kembali, sampai akhirnya Shiho bereaksi dengan tersenyum pedih.
"Tapi ada orang lain yang Ia sukai Ran, dan… orang itu adalah Kamu" Jawab Shiho sambil memandang ke arah Ran.
Ran juga tampak terkejut dengan pernyataan Shiho, Ia tampak tak percaya dengan apa yang telah Ia dengar.
"Shinichi padaku? Aku kira dia…"
Shiho menggelengkan kepala lalu melanjutkan kata-katanya.
"Dia bilang sendiri padaku bahwa dia menyukaimu Ran" Sekarang berganti Shiho yang menundukkan kepalanya.
"Hahaha… lucu sekali ya? Kenapa kisah cinta kita malah saling tertukar? Apakah memang Kami-sama ingin mempermainkan kita?" Ran tertawa hambar.
Shihopun ikut tersenyum hambar, sekarang Ia tengah mendongakkan kepalanya, memandang langit yang cerah, berbanding terbalik dengan hati mereka saat ini, Ran pun mengikutinya. Suasana kembali hening.
"Shiho…"
"Ya"
"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Apa Ran?"
"maukah kamu… mengembalikan senyum Ryusuke-san, demi aku"
Shiho langsung mengalihkan tatapannya ke arah Ran. Dia setengah tidak percaya dengan permohonan yang diutarakan Ran. Sekarang bukan hanya Ran tapi Shihopun berwajah murung, namun akhirnya dia menanyakan hal serupa pada Ran.
"Lalu sebagai gantinya… maukah kamu menjaga Shinichi, Ran? Demi aku?" Lanjut Shiho.
Setelah mendengar hal itu, Ran tampak lebih cerah dari sebelumnya.
"Iya Shiho, aku akan melakukan apapun yang kamu minta" jawab Ran.
"Baiklah Ran, akan aku pertimbangkan" Jawab Shiho.
Tak seberapa lama kemudian bel masuk berbunyi, Shiho dan Ran pun kembali ke kelas dalam kebisuan.
TBC...
