Main Pairing : Taoris
Rated : M
Warning : Yaoi, ooc, oc, mpreg
Disclaimer : Semua tokoh di ff ini bukan punya saya, saya cuma pinjem nama doang, tapi semuanya—penokohan, alur, dll—murni dari imajinasi saya
A/N : hehe, fyi aja, buat semua perawatan dan atribut kehamilan di ff ini murni dari imajinasi author, jadi kalo ada yang aneh maklum ya, otak authorkan kadang lurus kadang miring.
.
Don't Like Don't Read
.
Kris mendesah jengkel saat lagi-lagi Tao mengerucutkan bibirnya. "Oh Tuhan! Tao! Aku sudah mengupas lima apel dan tiba-tiba kau bilang kau tidak ingin makan apel?! Terakhir kuingat, kaulah yang memohon-mohon agara dibelikan apel!"
"Tapi aku benar-benar tidak ingin makan apel, gege," balas Tao, pipinya menggembung.
"Kenapa kau tidak bilang daritadi? Aku sudah terlanjur mengupas lima apel! Dan kau menolak semuanya! Apel pertama kau bilang terlalu manis, apel kedua kau bilang terlalu asam, apel ketiga kau bilang baunya aneh, apel keempat kau bilang aku terlalu tebal mengupas kulitnya—jujur, yang ini aku tidak mengerti, dan yang kelima kau tiba-tiba saja mengatakan kau tidak tidak ingin makan apel?! Kalau kau anggap ini candaan, ini sangat tidak lucu," ucap Kris dengan suara tinggi, ia benar-benar kesal sekarang. Masalahnya, ia sudah susah-susah mencari toko buah yang buka pukul 2 pagi—bayangkan, 2 pagi!—yang berujung ia harus membangunkan sunbaenya dan bertanya apakah mereka punya persediaan apel, dan begitu mendapatkan apelnya, Tao bilang ia tidak ingin makan apel?! Ia sudah ditertawakan sunbaenya—meskipun mereka mengerti keadaan Tao, kedinginan saat muter-muter mencari toko buah, dan ia bahkan sempat dikejar tiga anjing! Lalu Tao dengan ringannya mengatakan , "Kris gege, aku tidak ingin apel,"?! Oh Tuhan…
Tao terdiam mendengar ucapan Kris yang bernada tinggi, kepalanya menunduk. Namun tiba-tiba kepalanya naik, matanya mentap mata Kris langsung, dan jejak air mata tampak jelas di pipinya. "Gege, kau marah padaku?"
Melihat Tao yang menangis membuat Kris serasa ditonjok. "B-bukannya begitu, baby, hanya saja, aku sedikit… kau tahu, kesal," ucapnya setenang mungkin, menyingkirkan keinginan untuk melempar Tao ke luar jendela.
"OH! Jadi Kris gege merasa kesal padaku?!" ucapnya sambil memelototkan matanya, membuat Kris kaget. "Dasar namja brengsek! Keluar kau! Sana cari saja yeoja atau namja lain yang mau mengandung anak sialanmu ini! Pergi!"
Kris kaluar dari kamarnya tanpa sepatah katapun, kedua tangannya membawa pisau dan sepikir apel yang tadi dikupasny. Sial, batin Kris. Itukan kamarku.
.
.
Mata Chanyeol mendadak terbuka lebar saat melihat Kris sedang mengunyah apel di meja makan. Begitu pula dengan Baekhyun, Kyungsoo, Lay dan Kai yang ada di belakangnya. Lay bahkan melirik jam dinding di belakangnya, lalu jam di depannya, memastikan kedua jam itu menunjukkan waktu yang sama. 06.15.
"Berhenti melihatku seperti itu," ucap Kris tanpa mengalihakan perhatian dari apelnya, wajahnya tidak terlihat senang sama sekali.
"Ada apa, Kris gege?" tanya Lay sambil berjalan menuju dapur, diikuti Kyungsoo yang masih menatap Kris aneh. "Tidak biasanya kau bangun sepagi ini," lanjutnya, dan yang lain mengiyakan sebelum duduk di kursi masing-masing, pandangan tak lepas dari Kris.
"Tidak ada apa-apa, dan untuk informasi saja, aku sudah bangun dari jam dua tadi," jawab Kris santai sambil memasukkan sepotong apel lagi ke dalam mulutnya , mengunyahnya, dan menelannya dengan dramatis. "Kalau kau tanya kenapa," lanjut Kris, menjawab pertanyaan Chanyeol yang belum sempat terucapkan. Dengan satu tarikan napas, Kris menjelaskan semua yang terjadi padanya, termasuk tragedi ditertawakan Yuri snsd dan dimaki Kyuhyun super junior karena mendatangi dorm mereka saat dini hari hanya untuk meminta apel. "Yah, begitulah ceritanya, sudahkah kuberitahu kalau aku juga sempat dikejar tiga anjing?"
Chanyeol, Kai, dan Baekhyun tidak bisa menahan tawa mereka begitu membayangkan Kris yang keliling Seoul hanya untuk apel yang tidak jadi dimakan Tao, atau Kris yang dimaki Kyuhyun dan ditertawai Yuri, atau yang terparah, Kris yang lari tunggang langgang dikejar anjing. Lay dan Kyungsoo juga tampak geli, namun berusaha menahan tawa mereka untuk menghormati Kris yang sudah susah payah mencari apa yang Tao mau.
"Kau beruntung kakimu panjang Kris," ucap Baekhyun di sela tawanya. "Kaukan jadi bisa meraup jarak tiga kali lipat dari anjing-anjing itu dalam satu langkah,"
"Oh, tentu saja, tapi anjing yang mengejarku adalah Doberman Pinschers, Pit Bulls, dan German Shepherds, aku butuh dari sekedar kaki panjang untuk bisa lolos dari tiga anjing gila itu,"
"Oh, lalu apa yang kaulakukan, Kris?" tanya Kai yang sepertinya tidak lagi memiliki keinginan untuk tertawa begitu mendengar jenis-jenis anjing yang mengejar Kris. Yah, mereka memang bukan tipe anjing yang bisa dikalahkan dengan punya kaki panjang.
"Aku memanjat pagar, dan lihat—" Kris menjulurkan tangannya, memperlihatkan beberapa bekas luka baru di telapak tangannya. "—ini karena duri-duri di pagar sialan itu, tapi untungnya tiga anjing itu tidak begitu nafsu memakanku, jadi aku masih bisa duduk di sini dan berbagi cerita dengan kalian,"
"Tapi Kris," ujar Chanyeol. "Kau melakukannya demi Tao, kan?"
"Ya, dan kalau kau mau bilang aku ini pacar yang awesome, aku sudah tahu,"
"Dasar bajingan, pantas kau dikejar anjing, tapi tidak aku tidak ingin mengatakannya—meskipun kau memang pacar yang baik untuk kungfu panda itu—aku hanya ingin tanya, Tao sedang ngidam ya?"
Kris menarik napas kasar dan menjauhkan piring apelnya yang kini kosong. "Ya, hebatkan? Oh! Apa aku sudah pernah bercerita soal masa ngidam Tao yang aneh?"
"Aneh?"
"Yah… kecuali kau berpikir membangunkanku tengah malam lalu menyuruhku lari keliling dorm hanya dengan celana dalam atau memintaku untuk meminum campuran kecap, kopi dan jus mentimun itu tidak aneh,"
"Tapi," ucap Kyungsoo yang mulai menata piring di meja makan—dengan Kai yang dengan senang hati membantunya. "usia kandungan Tao sudah enam bulan, kan? Bukankah biasanya orang ngidam hanya sampai usia kandungan tiga bulan?"
Kris memutar bola matany dan memjawab, "diakan namja spesial, mungkin itu sebabnya ngidamnya juga spesial,"
Dan percakapan berhenti. Hanya keheningan yang menemani mereka sampai satu per satu member yang lain bangun untuk sarapan. Luhan datang sambil memeluk lengan Sehun dan menyandarkan kepalanya di lengan itu, dan matanya masih terpejam. Taolah yang datang paling akhir, tangannya melingkari perutnya yang sudah terlihat membesar, wajahnya terlihat tidak senang.
"Tao-ah, kau kenapa?" taanya Chen yang menyingkir dari kursi di samping Kris.
"Lay eomma," ucap Tao manja, tanpa memperdulikan pertanyaan Chen. "Tao tidak mau makan roti,"
Lay mengangkat sebelah alisnya, tidak biasanya maknaenya ini pilih-pilih makanan. "Lalu kau mau makan apa baby panda?"
"Tao mau seolleongtang,"
Mendengar jawaban Tao, kepala Kris langsung ambruk ke meja, dan tangannya yang terkepal memukul-mukul meja dengan frustasi. Apa salahku, Tuhan? pikir Kris sambil menjambak rambutnya dengan tangan yang tidak memukul-mukul meja.
Lay memandang Kyungsoo sejenak, bertanya apa ia bisa membuat seolleongtang untuk Tao—yang hanya dijawab dengan gelengan. Sebelum akhirnya menatap Kris yang masih menempelkan keningnya ke meja dengan pandangan prihatin. Meskipun geli melihat Kris yang kerepotan pergi kesana kemari untuk mencari apa yang diinginkan Tao—atau bayinya, sedikit banyak ia juga kasihan melihat Kris yang terlihat mendekati orang gila.
Tao memekik girang saat Kris bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar dorm setelah mengucapkan akan kembali lagi dengan membawa pesanan Tao.
.
.
Lagi-lagi Kris mengerang jengkel saat Tao menjauhkan mangkuk seolleongtang yang susah-susah ia cari tanpa sedikitpun memakannya. "Tao, makan itu," ucap Kris sebisa mungkin menahan rasa jengkelnya. Sedangkan member lain hanya bisa menatap pasangan ini sambil meringis, namun memutuskan untuk tetap tinggal agar bisa menyaksikan usaha Kris dalam menghadapi Tao—mumpung mereka juga libur hari ini. Meskipun rasanya tetap aneh berkumpul di ruang tengah hanya untuk melihat Tao makan—atau mungkin melihat Tao tidak makan.
"Tao tidak mau makan ini,"
Satu urat lagi tampak menonjol di leher Kris, menunjukkan kalau ia sudah benar-benar jengkel. "Kenapa?" tanyanya tanpa repot-repot menyembunyikan nada kesal pada suaranya.
"Bau sapinya membuat Tao mual,"
That's enough, pikir Kris sebelum menggebrak meja dengan tenaga yang tidak sedikit lalu berdiri menjulang dihadapan Tao, membuat Tao memekik karena kaget, bahkan member lainnya nyaris lompat saat melihat wajah Kris yang merah padam menahan amarah. "Tapi Tao—" Kris menarik napas sedikit, mencoba menstabilkan emosinya. "Seolleongtang memang bahan dasarnya kaldu sapi!"
"Tao benci bau sapi!"
"Kalau begitu kenapa kau minta, hah?!" teriak Kris, ia tidak lagi berusaha menyembunyikan rasa kesalnya. Ia tahu Tao mungkin sedang ngidam, tapi ia juga manusia dan ia juga bisa jengkel. "Kau tahu Tao, aku mulai merasa kau memanfaatkan kehamilanmu untuk membuatku melayanimu dua puluh empat jam!"
Kini Tao juga terlihat marah, setelah berdiri dan mensejajarkan dirinya dengan Kris, ia langsung menatap Kris dengan sorot mata tajam. "Oh, begitu? Asal kau tahu ya, aku juga mulai—tidak—aku malah selalu berpikir kalau kau memanfaatkanku untuk menuntaskan obsesi sintingmu terhadap bayi!"
"Apa? Kenapa kau selalu membaha masalah ini hah?! Perlu berapa kali sih kukatakan kalau aku tidak memiliki obsesi sinting terhadap bayi?! Dan asal kau tahu, aku hanya tidur tiga jam kemarin hanya karena ingin memuaskan keingan gilamu itu! Untuk informasimu saja ya, bocah, aku bahkan dikejar Doberman Pinschers, Pit Bulls, dan German Shepherds saat berlari kesana-sini mencari toko buah yang buka! Dan jangan lupak—"
"Jadi apa?! Kau merasa capek denganku?! Seharusnya kau setujui saja permintaanku untuk aborsi, jadi kau tidak perlu dikejar Doberman Pinschers, Pit Bulls, dan German Shepherds saat berlari kesana-sini mencari toko buah yang buka!"
"Hei! Kenapa jadi kau yang marah-marah di sini?! Terakhir kuingat, bukan kau yang harus lari keliling dorm dengan nyaris telanjang bulat atau menghitung ada berapa orang berkepala botak yang lewat di depan dorm kita! Dan soal aborsi, siapapun yang memiliki otak sehat pasti akan menghentikan siapapun yang berniat membunuh bayi tanpa dosa yang bahkan belum lahir!"
"Kenapa aku marah-marah kau bilang?! Jelas aku marah! Karena yang harus berjalan dengan beban tambahan di sini aku! Bukan kau! Orang berotak sehat?! Apa kau sedang mencoba untuk mengatakan aku ini gila?!"
"Paling tidak, sejauh yang aku tahu, tidak ada orang yang tidak gila yang berniat membunuh anak kandungnya sendiri! Dasar bocah manja! Lembek! Aku bahkan mulai berpikir bagaimana mungkin orang sepertiku bisa mencintai bocah cengeng sepertimu!"
Tao merasa seperti ditampar saat mendengar ucapan Kris barusan. Begitu pula dengan Kris, yang langsung menutup mulutnya sendiri begitu menyadari ucapannya. "T-Tao baby… gege tidak bermaksud… gege tidak…," Kris mencoba mendekati Tao, namun namja yang lebih pendek darinya itu terus mundur hinga kakiya menabrak sofa, matanya memandang Kris tidak percaya. Sama halnya dengan member exo yang lain, mereka tidak menyangka dduizang mereka bisa mengatakan hal seperti itu pada Tao yang jelas-jelas emosinya sedang naik-turun.
Suasana menjadi sangat sunyi, sehingga mereka semua nyaris melompat kaget saat pintu depan dorm terbanting terbuka, di susul dengan masuknya Hyoyeon, Yuri, dan Sooyoung dengan wajah panik. Namun berganti dengan wajah bingung saat tidak ada satupun diantara hoobae mereka yang mengucapkan 'hai'.
"Ada apa noona?" akhirnya Sehun lah yang pertama buka suara.
Hyoyeon, Yuri, dan Sooyoung bertukar pandang sejenak, sebelum akhirnya Yuri lah yang mulai bicara. "Sebelumnya aku mau minta maaf karena tadi pagi menertawaimu, Kris, tapi itu bukan masalah besar, kami ke sini karena ingin menunjukkan ini," ucapnya sambil menunjukkan sebuah majalah dengan foto para member exo sebagai sampulnya. Namun bukan itu menarik perhatian mereka, judul yang terpampang dengan huruf merah menyala di cover majalah tersebutlah yang membuat mereka semua membulatkan mata mereka.
"Maknae exo-m akan segera dapat momongan," baca Tao keras-keras sambil merebut majalah tersebut dari tangan Yuri, tidak memedulikan pekikan yeoja manis itu saat salah satu ujung majalah itu melukai jarinya. Dengan mata membuka lebar, Tao mencari halaman yang memuat berita tentangnya dan membacanya keras-keras. "Berita mengejutkan datang dari salah satu personil boyband beranggotakan dua belas namja ini. Menurut sumber terpercaya, namja yang dijuluki kungfu panda ini tengah mengandung dengan usia kandungan enam bulan. Bagaimana mungkin maknae exo-m yang jelas seorang namja dapat hamil?..."
Lalu suara Tao hilang, digantikan dengan suara buku jatuh. Tao membelalakkan mata, napasnya tidak teratur dan air mata sudah mulai menemukan jalan di pipinya. "Mereka tahu," ucapnya lirih. "Mereka tahu…"
Kris yang berada paling dekat dengan Tao berusaha menenangkan Tao dengan memeluknya dan memanggil namanya berulang kali, mencoba membuatnya tenang. Namun Tao seolah tuli, ia terus menerus mengucapkan 'mereka tahu'. Ketiga member snsd dan seluruh member exopun mencoba membuat Tao tenang, memanggil namanya, atau mencoba menyentuh bahunya—namun Tao sibuk dengan gumamannya sendiri. Tidak ada yang berubah posisi sampai secara tiba-tiba Tao menyelipkan kedua tangannya di antara tubuhnya dan tubuh Kris, mencengkram perutnya erat dan mengeluarkan suara tercekik sebelum memuntahkan segumpal darah.
.
.
"Panggil Tae So!"
"Kau bercanda Kris?! kita harus membawanya ke rumah sakit!"
"Panggil Tae So!" ulang Kris setelah menidurkan Tao di atas kasurnya.
Mengerti kalau tidak ada yang bisa mengubah pikiran Kris, Suho dengan cekatan segera menghubungi nomer Tae So dan memintanya ke dorm, kebetulan sekali Tae So memang akan ke dorm untuk melihat perkembangan Tao dan ia akan segera sampai. Sepuluh menit, katanya sebelum menutup telepon.
"Tao, panda, kau bisa mendengarku, hei, hei… Tao?" Hyoyeon melepas kardingan biru langit yang ia kenakan dan menggunakannya untuk membersihkan darah yang megotori dagu Tao. Tao memang tidak lagi memuntahkan darah, namun kini ia mulai mengeluarkan darah dari hidungnya, membuat semua orang semakin panik. Hyoyeon tetap mencoba menghentikan darahnya, namun tidak ada usahanya yang berhasil.
Kris mencoba mengelus perut Tao, ia yakin apapun yang sekarang terjadi pada Tao pasti berhubungan dengan bayinya dan mungkin ia bisa sedikit membuat bayinya tenang. Tao mengeluarkan suara antara batuk dan tercekik, lalu menghempaskan kepalanya ke bantal dan berteriak sekeras-kerasnya. Setiap tarikan napas Tao terdengar menyiksa, seolah namja itu harus menghadapi rasa sakit yang mengerikan hanya untuk satu tarikan napas. Bernapas membuat Tao tersiksa, dan mendengarnya tanpa bisa berbuat apa-apa membuat Kris terbunuh.
Suara pintu yang terbuka benar-benar membuat mereka lega. Tae So.
"Aku butuh dua orang untuk membantuku," ucap dokter muda itu begitu menganalisi keadaan Tao. "Kau dan kau—" katanya sambil menunjuk Hyoyeon dan Kris, yang memang berada paling dekat dengan Tao. "Yang lain tolong keluar,"
.
.
Krislah yang pertama keluar dari kamar, di susul dengan Hyoyeon, baru yang terakhir Tae So. Kris dan Hyoyeon seputih kertas, dan mereka tidak berkata apa-apa sebelum bergegas ke kamar mandi dan muntah sejadi-jadinya.
"Jadi," ucap Baekhyun takut-takut, melihat dari ekspresi Tae So, kelihatannya ia tidak begitu senang. "Bagaimana?"
Yeoja itu menghela napas, dan mengatakan kalau kondisi Tao sudah stabil, bayinya sudah tenang dan darah dari hidungnyapun sudah dapat dihentikan. "Untuk mimisannya," lanjut dokter muda itu dengan muram, membuatnya terdengar tua dan sangat letih. "Itu normal, tidak perlu di khawatirkan, tapi muntah darahnya, itu cukup… wow, bayi Tao panik karena merasakan ibunya stress, akhirnya gerakan si bayi menjadi liar, dan mungkin tidak sengaja mengenai organ dalam Tao, dan yah… begitulah. Tapi tenang saja, aku sudah menenangkan bayinya dengan musik klasik. Omong-omong, apa yang menyebabkan Tao stress berat begitu?"
"Ia berantem denganku," ucap Kris setelah keluar dari kamar mandi, wajahnya masih seputih kertas. "Lalu ada berita di majalah membuatnya sangat amat stress sekali,"
Tae So memucat. "Kris," ucapnya pelan. "Tao harus di bawa ke rumah sakit, aku hanya dokter baru Kris, aku… aku takut aku tidak sanggup menangani Tao, maksudku, aku bahkan masih panik setiap kali melihat kondisi Tao memburuk dan aku juga tidak tahu pasti apa penyebab ia muntah darah. Dan lagi, bukankah kehamilan Tao sudah diketahui publik? Untuk apa menyembunyikan Tao di dorm kalau begitu?"
"Berada di rumah sakit tidak akan memberi pengaruh baik pada kondisi Tao, aku yakin itu, lagi pula ia sudah nyaman berada di dekatmu, dan kurasa itu yang terpenting, hasilnya bisa lebih buruk seandainya—tunggu—kau tahu darimana soal kehamilan Tao yang sudah menyebar? Terakhir kita ngobrol, kau bilang kau benci majalah,"
"Aku tahu," jawab yeoja itu lirih, kini wajahnya bahkan lebih putih dari Kris. "Karena aku yang bertanggung jawab atas bocornya berita ini,"
.
.
TBC
Huah! Akhirnya jadi chapter gaje ini
Thnaks fo reading
Review please? ^_^
