A/N : Karena banyak yang ingin tahu masa lalu Sasuke setelah ditinggal Si Dobe, aku kasih nih buat kamu-kamu yang minta... jangan protes ya karena jalan ceritanya aku tunda dulu :p
Tapi cuma kilasan aja, belum rincian kejadian demi kejadian penderitaan Sasu teme kok... terus balik lagi deh kecerita.. XD
Kupanjangin seribu word. Jangan minta lebih lagi ya :3
Balas review~
Akira Naru-desu
#tergeletak bercucuran darahdari kepala
Aku udah kritis kamu lemparin batu! Artinya ini salah kamu karna aku harus dirawat di RS, jadinya telat apdet! #ceburin empang
Nih! Aku kasih lebih 1k+. Baca ya ^^
gothiclolota89
sabar neng, aku juga pengen cepet-cepet selese. Tapi nanti jadinya belibet n ga bakal indah pada waktyunya~ *malah nyanyi*
Dee chan – tik
Hiks,... secara nggak langsung, ntu nyindir aku T,T
Aku udah tambahin word ceritanya 1k+ nih,,,
Icha Clalu Bhgia
Nani nggak pake O depannya?! #maksud loe?
Ada apa dengan SasuSai? Ya udah kuganti jadi SaiSasu.. #nambah parah?!
Buh,, dikit-dikit.. otakku pyusing kalo numpahin ide langsung seabreg... ^^
Achiez
#mundur tiga langkah
err... iya sama-sama ^^ ... tapi aku nolak kamu tuh.. #elu kan nyang bilang love u duluan?! napa elu juga yang nolak! *tenggelemin disungai nil*
Aku nih yang sekarang lagi krisis.. kuota abis, ga bisa baca fic keren yang di Fave ato difollow ma aku T^T..
hanazawa kay
Menma, iya betul... tapi masih ada yang lain juga.
Yang laennya mungkin kejawab setelah chap-chap berikutnya :")
Yamaguchi Akane
Iya, ntu typo... padahal udah dicek berkali-kali masih aja nyelip #misuh-misuh
Makanya sekalian aja aku pub tanpa ngecek #plakk!
Hah... beneran deh, itu kalimat B. Inggris di file kompi ku ada spasinya. Napa pas publis FFn nggak ada spasi ya :/ .. Bingung sayah
Bukan,, maksudnya ikan sepat. Tuh yang suka ada di sawah.. #ketauan pedalemannya
Canda deh, Iya itu typo lagi T^T
KirikaNoKarin
Aku jahat T,T ... kan... kan... kan... aku cuma nyalurin ide gilaku aja...
Karin Vulpecula Bluesky
Aduh, jangan mati dulu. Nunggu fic ini tamat dulu ok! #maksud loe!
kkhukhukhukhudattebayo
Aku juga kasian, tapi aku seneng bagian itu. XD
Aku potong karena yah... awalnya aja cuma mau kubikin lime, eh malah keterusan. :/
SasuNaru sieh pasti ngefull dong mwehehehe :S
narutatsuya. fujitatsu
Iya, ini fic udah kayak pelem bunuh-bunuhan aja ya banyak misterinya. #kan fic loe dodol!
ukkychan
Ma'aciew :3 #ngalay
cerita ini abal kok, apanya yang menarik o,oa
IzcaRizcassieYJ
SasuNaru aku mulai chapter depan :)
miszshanty05
Amien, baca ya ^^
himawari. wia
#hug back
Yang jadi seme itu aku! #digebukin
Ah, aku sih kayaknya MenmaNaru... tapi entah kenapa makin sini tuh jadi dibalik deh. pokoknya MenmaNarumenma deh.
autumn. aoki
Um, aku juga jadi bertanya-tanya tentang pertanyaan yang kubuat itu. -.-"
BTw, TnX ya udah ngasih tau :3
Waalaikum salam.
yuki amano
duh, kamu ini pikirannya -_-"
nanti Naru di rape kok, tapi bukan sama Itachi Xd
Untuk Menma, dibilang nggak tau... yah gimana ya, luka Naruto kan parah. Ga mungkin sehari sembuh dan langsung nongol sambil bilang "Adikku sayang~ kakakmu udah balik~ cipika cipiki sama rapenya mana~" gitu kan? #plakk!
dias. sabila
tahap demi tahap dong,, pendekatan dulu. Masa langsung nyosor(?), nggak nyelekit kehati dong nantinya.
Koukei
Ah, aku nggak bisa apdet kilat T^T
TheBrownEyes'129
Tengkyuu :"3
sn
sebenarnya? Oh, bacalah chapter ini :)
Hima-chan
Itu adalah inti dari cerita ini, akan terungkap saat si 'kenapa' menjadi 'apa'
Dan aku akan munculin alasan itu saat Naruto sudah hancur... bwahahaha #plakk!
Amach cie cerry blossom
:( Nggak papa, jangan sedih dong amach... kan kamu udah baca :)
Reviewmu masuk kok, konfliknya itu sederhana sebenarnya. Cuma kata-katanya aja yang ribet. Sumpah deh, aku yang buat aja ampe kelenger saking pusingnya buat ntu kalimat-kalimat ga jelas.
Itachi yang jadi penyebabnya? O.O UAPAH?! sumami gue itu! *suami woi bukan sumami!*
Arisa
Duh, itu salah satu alasannya... kamu pinter ya :D #secara nggak langsung nih -_-
Pelampiasan? Nggak kok. Ita sama Dei masing-masing udah punya pac –*bekeped*
namikaze hikaru
Iya, ini aku apdet chapter 4, maaf ya karena lama banget :3
G
Nwah loh? Aku juga suka bagian yang ntu :3
azurradeva
Okeh!
Wookie
Ke poskamling :d #plakk!
Yah, mungkin Sasuke akan menjawab pertanyaanmu yang ini. Ita punya hubungan apa sama Naru.. mwehehe XD
O.O Fic ku aneh? Huweee! #guling-guling direl kereta
kheiki
buh... nggak kuat aku kalo banyakin word, nih cukup segini aka aku bisa banyakinnya.
narutatsuya. fujitatsu
jadi yang keren ficnya doang ya? #pundung
err.. reviewmu ada dua sih?
keijichan1
Emm.. mungkin.
Hah? Suka Sasuke? O.O UchihaCest maksudnya...? Nggak kepikiran.
PhantoMRotiC
Duh, kamu tau aja kalo Naru dibawa Shika ke poskamling #plak!
Iya, Sasori lagi PMS. Makanya marah-marah mulu.
tsunzoro
Ma'aciew :"3
Enjoyed ttebayo!
.
.
.
BRAAK!
Pintu besar berwarna coklat terbuka dengan kasar oleh seseorang yang kini berdiri diambang pintu itu. Mata kelamnya berkilat penuh amarah dengan pandangan yang tertuju pada seseorang lain yang tengah duduk memunggunginya dalam ruangan. Kaki berbalut jeans biru donkernya melangkah cepat mendekati sosok itu. Memutar kursi beroda yang menjadi tempat duduknya dan mencengkram erat sisian kursi itu dengan kedua tangannya. "Apa yang kau lakukan pada Naruto!" Membentak, tak ada kesopanan pada ucapannya barusan meski orang yang ada dihadapannya itu adalah sang kakak.
Ia menggeram saat tak juga mendapatkan jawaban, "Katakan Itachi!" Bentaknya sekali lagi.
Onyx terpejam sebelum kembali terbuka dengan pandangan datarnya. Tak sekali pun terpengaruh emosi onyx lain yang memandangnya murka. "Sepeduli itukah dirimu Sasuke?" Ia bertanya.
Gertakan gigi dan napas kasar menerpa wajah porselennya, "Kau. Tidak berhak melakukan apapun padanya." Ucap Sasuke dingin, tak mengindahkan tatapan datar yang kakaknya itu arahkan padanya. "Dia milikku. Milikku Itachi. Jadi jangan campuri urusanku. Jauhi dia!"
Itachi mendorong pelan dada Sasuke, "Milikmu Sasuke? Kau lupa, dia sudah meninggalkanmu. Dia menghianatimu, dia membuatmu tersiksa setelah kepergiannya. Kau lupa bagaimana setiap harinya kau berusaha untuk menjemput ajalmu? Mengiris pergelanganmu. Menjatuhkan dirimu dari lantai tiga. Over dosis obat tidur? Menenggelamkan dirimu -"
"Lalu? Itu alasanmu untuk mencampuri urusanku?" Sasuke menyela cepat, ia tersenyum sinis melihat kakaknya itu diam. "Dia masih tetap milikku Itachi –Ah! Atau jangan-jangan kau masih mengharapkannya?" Onyx Sasuke melihat alis Itachi sedikit mengerut. "Kau tidak pernah bisa membohongiku Itachi." Tubuhnya kembali tegak, membebaskan kekangannya pada kursi yang diduduki Itachi. "Bahkan saat dulu dia masih bersamaku, aku tahu betapa kau ingin merebutnya dariku. Sebisa apapun kau mengelak, menahan perasaanmu. Jangan pernah bersikap naif Aniki, kau melakukannya untuk senanganmu sendiri bukan? Kau hanya orang munafik!"
"..." Diam, bukan berarti Itachi tak merasakan apapun. Ucapan Sasuke sudah keterlaluan meski ia tetap menjaga wajah tenangnya tapi tidak dengan hatinya, tidak dengan perasaan yang tertutupi tebalnya prisai stoik miliknya.
"Jangan pernah kau macam-macam padanya lagi Itachi."
Blam! –dan pintu tertutup dengan kerasnya.
Bukankah sudah terlalu jauh? Sudah cukup bukan untuknya merasakan sakit? Lalu, sekarang dia ingin menjemput rasa sakit itu lagi? Sakit yang bertahun-tahun Itachi rasakan.
Tidak.
Ia tidak akan pernah membiarkan Sasuke mengalaminya lagi. Terluka lagi olehnya. Munafik? Anggaplah ia seperti itu, munafik pada apa yang sebenarnya menjadi tujuannya.
"Apa tidak cukup dengan sex saja kalian berdua membuat keributan di rumah ini?" Mata kelam Itachi melirik beranda kamarnya yang terbuka. Melihat seseorang yang tengah menyandar pada kusen jendela kamarnya.
Itachi menghela napasnya dan memutar kembali kursinya seperti semula, menghadap meja belajarnya. "Ini sudah malam. Kembali ke kamarmu." Ucap Itachi, tangannya mengambil bolpoin tinta dimeja dan kembali menuliskan sesuatu pada buku dihadapannya.
Cukup lama diam, sebelum orang itu menegakkan tubuhnya dan berjalan masuk dalam kamar Itachi. "Otou san tidak akan suka ini Nii san." Ucapnya dengan pandangan mengedar keseluruh kamar.
"..."
Mata onyxnya beralih menatap punggung Itachi, "Diam tidak akan menyelesaikan semuanya. Tidak juga dengan amarah."
"Fugaku." Itachi membalikan tubuhnya dan menatap sosok remaja yang sibuk melihat-lihat buku pada lemari besar dengan berbagai macam buku yang tersusun rapi di dalamnya. "Kau sudah menemukan buku yang kau cari?"
"Hn." Tangan Fugaku terangkat dengan sebuah buku yang dipegangnya. "Aku tidak akan mengganggu lagi." Ucapnya seraya berjalan mendekati beranda, ia melirik kecil sang kakak yang dari penglihatannya begitu kelelahan –dengan semuanya.
"... boleh kuberi saran, Nii san seharusnya biarkan Sasuke nii dengan apapun yang dia rencanakan. Biarkan dia tahu hasil perbuatannya sendiri."
"Ucapan yang terlalu tua untuk anak seusiamu." Itachi melemparkan minuman kaleng yang ada dimejanya dan ditangkap oleh Fugaku dengan mudah.
"Hn. SMA bukan berarti tidak dewasa. Jaa Nii san."
Wussssh...
Hembusan angin terasa sedikit kencang saat jendela itu terbuka sempurna dengan seorang pemuda yang terlihat melompati beranda ke beranda disebelahnya. Membiarkan dinginnya angin malam memasuki kamar bernuansa gelap itu. Aura dingin, melebihi dinginnya angin yang masuk. Suram, penuh amarah dan –entahlah apa lagi yang sebenarnya dirasakan oleh Si Surai raven.
Trek!
'Salahmu untuk kembali. Salahmu bila aku tak bisa menahan diriku lagi.' Angin menerpa helaian rambut Itachi yang tergerai lurus di belakang punggungnya. Tak ada pengikat yang biasanya ia pakai, membuat parasnya yang tampan tertutupi sebagian rambut berwarna hitamnya.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
Fiction : Uzumaki Kagari
Genre : Romance(?), Drama, nambah 'atu Hurt/comfort
Rate : M
Pairing : SasuNaru, little NaruSasu.
Slight : ShikaKiba, Gaara pontang-panting kemana aja, Itachi nggak tau sama siapa(?).
.
Warning : Yaoi, Sho-Ai, Boys Love, MalexMale, incest, Lime, LEMON, Brother complex, OOC kelas berat untuk Sasuke, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.
!DON'T LIKE DON'T READ!
But,
You can try to read and don't flame!
Uzumaki Kagari present... My X-Uke is My Seme
.
Chapter 4, Hurt –This Really Hurt
##*###*####*####*####*###*###*###*###*###*###*###* ###*####*####*###*####*##
O. Kagari Hate The Real World .O
.
Ramai, begitu banyak makhluk dengan akal pikirannya dalam satu ruangan berkelap kerlip cahaya dengan berbagai warnanya. Bergerak, melompat, meliukan tubuh mereka tanpa aturan. Bebas, terserah pada mereka untuk melakukan apa pun ditempat itu. Melupakan akal, melupakan jika mereka mempunyai pikiran. Hanya kesenangan, hanya nafsu yang mendorong mereka untuk tetap bergerak, untuk tetap menenggak minuman beralkohol yang disajikan sebanyak apapun mereka memesan.
Bercumbu ria, sex –tak perlu tempat khusus atau pun tertutup. Hal itu telah menjadi tontonan gratis pembangkit birahi. Para kaum adam yang begitu mabuk dalam riuhnya malam, dalam panasnya suasana.
Sasuke adalah salah satu dari orang-orang itu. Menatap dengan penuh kepuasan saat di depan mata kepalanya sendiri melihat seorang anak laki-laki yang umurnya tak lebih dari empat belas tahun dengan kedua tangan terikat di belakang oleh borgol, mulut yang disumpal vibrator, juga keadaannya yang tak mengenakan sehelai benang pun. Polos dihadapan puluhan orang yang melihat anak itu bagai tontonan.
Tepukan tangan bagai menyambut idola terdengar saat alunan desahan anak itu semakin keras. Penis dan lubang belakangnya terlihat begitu memerah, terlihat sangat siap santap.
"Aku pergi dari sini."
Tangan Sasuke menggenggam erat pergelangan tangan seorang pemuda beriris keunguan yang beranjak dari tempat duduk di sampingnya. Tatapan malas dari warna violet ia dapatkan sebagai balasannya. "Ini puncaknya." Ia berucap dengan seringai yang terpahat indah dibibirnya.
"Aku menemanimu ke sini bukan untuk melihat laki-laki dengan bondage dan lain-lainnya tentang homosex Sasuke. Pikirkan pakai otakmu, tempat ini terlalu hina. Bahkan untuk gay sepertimu." Ucap pemuda itu -Suigetsu pada Sasuke.
"Ini tempat terburuk yang pernah kudatangi seumur hidupku –"
"Lalu kau ingin kemana? Kamarku? Hotel? Apartemen?" Sela Sasuke, ia menyeringai saat pemuda di depannya terdiam. Tak menolak ataupun sekedar menjawab pertanyaannya. "Apartemen?" Tanyanya lagi.
"Kau itu sakit." Suigetsu menyentakan tangan Sasuke yang menggenggam pergelangannya, mengambil tas selempangnya yang ia letakan di atas meja bar dan menatap kesal laki-laki dihadapannya itu. "Cari saja wanita, atau laki-laki lain sekalian. Aku bosan jadi pelampiasanmu terus." Dan melangkah pergi meninggalkan pemilik onyx yang tak henti-hentinya menunjukan seringaian.
"Sick? –Oh... May be I'm crazy." Satu tangan Sasuke menarik seseorang yang melewatinya, membuat orang itu harus menubruk dada bidangnya. Ia memberikan senyuman menggodanya dan menatap orang itu dengan onyxnya. "Temani aku malam ini." Jemari tangannya mengelus lembut sisian wajah pemuda manis bersemburat merah dalam pelukannya.
"Bagaimana dengan temanmu tadi?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir berlapis lipstick transparan berasa ceri pemuda itu.
Sasuke menggerakan kepalanya ke kiri lalu ke kanan, "Teman?" Ia kembali menatap pemuda dalam dekapannya. "Kau lihat, aku sendirian." Ucapnya seraya mengelus dan sedikit menekan bibir bawah pemuda itu dengan ibu jarinya. "Aku pria kesepian dimalam yang dingin, manis."
Pemuda itu tersenyum dan mengalungkan tangannya dileher Sasuke, "Maka biarkan aku menghangatkanmu malam ini, tampan."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ah! Ah! ...Ah! Sasuke kun! AH! A –ah! Stop! Enough! Ah! ...Ah!" Desahan keras begitu menggema disalah satu kamar hotel berbintang lima. Desahan yang berasal dari seorang pemuda yang terlihat sudah sangat kelelahan dengan tubuhnya yang terus dipaksa terlonjak dan terus mengerang dengan lelehan saliva yang mengalir bebas dari mulutnya yang terbuka. Lelah, karena sudah lebih dari tiga jam ia sama sekali belum beristirahat dari sejak permainannya dengan seorang laki-laki di atasnya ini dimulai.
Laki-laki yang sudah tiga kali memenuhi dirinya dengan cairan putih sperma namun tak sekalipun terlihat gurat kelelahan diwajah tampannya.
"Belum cukup sayang, kau akan menemaniku hingga aku puas!" Sasuke menggenjot, menggerakan pinggulnya dengan cepat. Menubruk pantat pemuda itu dengan kencang. Ini masih belum cukup, rasa kesal dan amarahnya belum juga mereda.
"Ah! ...Ah! AAH! Stop! Ah –AH!" Cairan putih kembali menyembur dari kejantanannya.
Sasuke tertawa dan menangkup kasar dagu pemuda di bawahnya, mencium bibir bengkak pemuda itu dengan ganas sebagai peredam desah liar yang sejak tadi mengalun indah ditelinganya.
'Ini belum cukup! Belum cukup aniki! Belum cukup sampai kau merasakan bagaimana sakitnya aku Naruto!'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hurt... This really hurt...
.
.
.
Hari keempat dan masih sama, diam dan memandangi langit dengan kedua kaki yang ditekuk dan tangan yang menguncinya agar tetap menyatu. Menyembunyikan sebagian wajah pucat bergurat kelelahan miliknya. Ini keempat harinya ia melakukan hal yang sama, duduk diam. Tak bicara, tidak mau memakan ataupun sekedar meminum jus jeruk yang setiap empat jam sekalinya selalu diantar ke dalam kamarnya. Matanya kosong, begitu hampa dengan guratan hitam yang menghiasi bawah mata itu.
Hampa... begitu kosong...
Ia merasa jika semua itu tidak berguna jika ia sendiri memang tak menginginkannya.
Untuk apa ia makan, untuk apa ia minum, untuk apa ia mengisi perutnya yang kosong selama empat hari ini jika ia saja menginginkan hal macam mati kelaparan untuk berbaik hati mungkin salah satu dewa kematian untuk mengabulkannya.
Ia hampa... sangat kosong...
Tak ada artinya hidup bukan? Ia sudah tak memilikinya lagi...
Dia pergi, ini hari keempat dia pergi meninggalkannya. Sendirian, ia yang tidak pernah sekalipun membayangkan hari itu akan terjadi. Hal ini akan dialaminya.
'Akhiri saja... akhiri saja... aku punya salah padamu... apa yang jadi kesalahanku...'
'... maafkan aku... kembali... kembali... jangan pergi... kau bosan padaku... kau tidak menginginkanku lagi...'
Ia rapuh... ia rasanya ingin juga pergi... pergi sangat jauh dan menganggap jika kejadian empat hari lalu hanya mimpi buruk yang tak pernah akan ia ingat-ingat lagi.
"Tidak ada lagi..." Kalimat pertama setelah berhari-hari ia membungkam bibir pucatnya yang terlihat begitu kering dan pecah-pecah. "Dia tidak bersamaku..."
Tes... tes...
"Dia meninggalkan aku..." Jemari kurus gemetarannya memegangi pagar besi yang menjadi sandarannya. Tubuhnya beranjak dari duduknya. Kakinya gemetar, mungkin untuk berdiri saja sudah susah payah ia lakukan.
Tes... tes...
Tes...
"Dia pergi..."
Kosong... pandangannya kosong meski langit biru begitu indah terpantul pada gelap malam miliknya.
Terlalu condong, tubuh ringkih itu bagai melayang saat kedua tangannya tak lagi ia jadikan tumpuan. Hanya perutnya yang menahan tubuh yang terlihat begitu limbung.
"Aku tidak diinginkan... Naruto..."
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kalian tidak memaksanya?!" Membentak adalah hal yang jarang –bahkan tidak pernah Itachi lakukan pada siapapun. Tidak ketika ia sedang kesal atau pun marah. Tapi, saat pendengarannya itu mendengar suatu berita yang langsung menyulut emosinya –ia membentak dua orang maid dihadapannya. Ia bukan hanya marah, ia sangat khawatir saat mendengar sang adik yang tak mau makan ataupun minum selama empat hari. Hanya diam dan bahkan tidur saja tidak. Hanya diam di berandanya seperti raga yang ditinggalkan pemiliknya.
Padahal ia hanya pergi satu Minggu untuk training sekolahnya. Tapi, kenapa selama satu minggu itu tidak ada kabar. Tidak ada yang memberitahunya perihal keadaan Sasuke yang berubah drastis dari empat hari yang lalu.
Tak mau berlama-lama dan membuatnya kembali membentak kedua maid itu. Ia memutuskan untuk segera menemui adiknya. Melihat keadaan sang adik yang –ia sendiri tak tahu seperti apa adiknya itu sekarang.
Kakinya berjalan menaiki satu persatu anak tangga hingga lantai teratas rumahnya –lantai tiga. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah pintu dengan gantungan matahari dan bulan. Pintu kamar Sasuke.
Tok! Tok! Tok!
"Otouto, ini aniki."
Tak ada jawaban, hening seperti tak ada siapapun dalam ruangan pintu yang tengah ia ketuk itu. Menimbang sebentar, Itachi memutuskan untuk membuka pintu dihadapannya. Tidak dikunci, kebiasaan dari Sasuke.
.
.
Sungguh, harus berekspresi seperti apa atau reaksi apa yang seharusnya Itachi tunjukan saat ini ia benar-benar tidak tahu. Saat kedua mata onyxnya menatap sesuatu di beranda dengan jendelanya yang terbuka lebar. Sesuatu yang nampak melayang bebas hingga akhirnya tak lagi ia lihat. Sosok bagai malaikat putih yang berkelebat. Sosok Sasuke dengan tubuh melewati pagar besi beranda kamarnya –seperti bunyi hukum gravitasi, malaikat itu jatuh dengan senyuman kecil yang membuat kedua mata onyx Itachi terbuka sempurna.
KRAAANG!
"KYAAAAAAA!"
Tubuhnya berat untuk tetap berdiri hingga ia jatuh dengan kedua lutut yang membentur lantai. Tangannya dengan lemas melepaskan kenop pintu yang ia pegang sesaat lalu. Matanya menatap nanar melewati ruangan kosong hingga keluar beranda. Langit biru yang seakan berubah menjadi begitu kelam dengan terdengarnya teriakan melengking yang didahului oleh sesuatu yang jatuh menimpa atap kaca taman bunga mawar milik Ibunya.
"Sa –suke..."
.
.
.
Sungguh indah bukan, cantiknya sang malaikat putih yang dikelilingi oleh taburan bunga mawar putih yang bertebaran menyelimutinya. Pandangan yang membutakan nalar sang Tuhan, sang malaikat indah yang kehilangan sayap.
Jatuh dengan merah yang menodai jubah putih kebesarannya. Obsidian yang terbuka, begitu lemah seakan menunggu malaikat maut yang akan menariknya keluar dari rasa sakit ditinggal Tuannya.
.
.
.
.
.
Terengah-engah, mata bermanik onyxnya terbuka dengan peluh yang membanjiri wajahnya. Membuat helaian hitam yang tak sampai diikat, melekat erat dipelipisnya. Jantungnya seakan berpacu mendahului detikan jam dinding di kamarnya. Bunyinya terdengar sangat kencang ditelinganya.
Mimpi. Sangat buruk. Setelah lama ia tak lagi memimpikan saat-saat itu, hari-hari dimana batinnya sebagai seorang kakak begitu diuji. Sakit, kecewa. Marah. Melihat seseorang yang sangat disayanginya, adiknya berubah menjadi sesosok yang penuh keputus asaan. Berkali-kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya hanya karena satu alasan. Naruto. Pemuda pirang yang telah meninggalkan adiknya. Memberikan begitu banyak kepedihan pada sosok polos sang adik.
Naruto. Pemuda pirang yang sudah bersedia bersujud di bawah kakinya hanya untuk satu alasan.
Itachi membangunkan tubuhnya, ia duduk menyandar pada kepala tempat tidur dengan telapak tangan yang menangkup sebagian wajahnya. Ia ingat, sangat ingat bagaimana hancurnya perasaan Sasuke saat itu. Bagaimana sang adik tak mau membuka suaranya, duduk diberanda dan diam seharian seperti orang mati.
Hanya karena Naruto.
Hanya karena pemuda itu meninggalkannya.
Tidak salah jika ia melindungi adiknya, bukan? Tidak salah jika ia akan melakukan apapun untuk menjauhkan orang yang akan menyakiti adiknya. Ia tidak bersalah. Satu-satunya agar Sasuke hidup adalah dengan membuat Naruto jauh darinya. Jauh dan tak akan pernah dilihat Sasuke lagi.
Pemuda itu sendiri sudah berjanji, namun ia melanggar janji yang ia ucapkan pada Itachi. Melanggar sumpah seumur hidupnya untuk tak menemui Sasuke lagi.
Iya. Satu perasaannya tidak akan membuatnya luluh ataupun memaafkan orang yang sudah menyakiti adiknya. Membuatnya harus mengubur dalam-dalam Sasuke yang dulu dikenalnya. Sasuke, adiknya yang dulu sangat ceria dengan caranya sendiri. Menjadikan Sasuke yang seperti sekarang. Membuatnya menjadi orang paling hina karena telah bertanggung jawab atas perubahan sikap adiknya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Itachi melirik suara kecil yang berasal dari sisi utara kamarnya. Menangkap siluet seseorang yang berada di berandanya. Ia melihat siluet itu mengacung-acungkan sesuatu yang terlihat bersinar ditangannya. 'Ponsel?' –Lalu beralih melihat ponselnya yang menyala dan bergetar di atas laci samping tempat tidurnya.
Dei-dara is calling. Tulisan yang tertera dilayar ponselnya. Ia mengklik tombol yes dan mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
"APA YANG MEMBUATMU LAMA TERBANGUN BODOH?! AKU SUDAH BERDIRI DI SINI SELAMA LIMA BELAS MENIT!"
Itachi sedikit menjauhkan ponselnya sebelum menanggapi nada omelan yang ia dengar, "Apa yang kau inginkan?" Tanyanya.
"Bisakah kau buka jendelamu dulu sebelum bertanya macam-macam Itachi!"
Tatapan Itachi kembali pada beranda kamarnya, "Passwordnya?"
Decakan sebal terdengar dari seberang sambungan telepon itu. "Kau! Tidak ingat sama umur ya?"
"..."
"Baik-baik! Aku tidur denganmu malam ini! Kau puas? Sekarang buka jendelanya, aku kedinginan tahu!"
Kaki Itachi menapak pada lantai dingin kamarnya, ia menutup sambungan teleponnya dan menaruh ponselnya dilaci. Ia berjalan mendekati beranda kamar, onyxnya melihat wajah kusut pemuda pirang yang nampak mengetuk-ngetukan kakinya ke lantai.
Klik!
"Kau mati atau tidur hah! Dan lagi, pindahkan kamarmu ini ke bawah. Memanjat pagar tanaman itu susah tahu!" Itachi menatap datar pemuda pirang yang dengan seenaknya masuk dalam kamarnya. Sudah terlalu biasa baginya dan memilih untuk mengunci kembali jendela besar di depannya.
Bugh!
Debam kecil terdengar saat Deidara menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Aku menginap. Lagi." Ucapnya dengan mata terpejam.
"Lewat pintu –"
"Adik resemu itu tidak mengizinkan aku masuk, un. Membuka pintu saja tidak. Cih! Bisakah kau ajarkan sopan santun pada adikmu itu Itachi!" Ujar Deidara, ia dengan kesal melempar bantal disebelahnya pada Itachi –tentu saja ditangkap dengan mudahnya oleh pemuda onyx itu.
"Sasuke?" Itachi menyebutkan nama adiknya.
"Kau mengejekku atau apa?" Delikan tajam Deidara berikan pada Itachi. –Fugaku, sudah pasti dia yang Deidara maksud.
"Salahmu bukan? Ini –" Itachi melirik jam dinding dikamarnya, " –jam dua pagi." Deidara mendengus dan membalikan tubuhnya dengan guling Itachi yang menjadi bantalannya.
"Aku mau tidur. Tunda sampai besok!"
Tak ada tanggapan dari Itachi, ia membiarkan pemuda pirang yang kini menyembunyikan wajahnya disela bantal. Wajah yang sekilas tadi ia lihat membiru pada bagian pelipisnya. Tak butuh untuknya bertanya mengenai apa yang terjadi pada pemuda pirang itu. Ia tahu, karena memang alasan Deidara mendatanginya seperti ini pastilah hanya karena satu alasan. Sasori.
"Kau tidak berniat untuk menyeretku lagi kan, Dei?"
"..."
Sunyi, pemuda pirang di atas tempat tidurnya sudah terlelap untuk dapat menjawab pertanyaannya. Menghela napas, Itachi menarik selimut untuk menutupi tubuh berbalut pakaian urakan Deidara. Beberapa bagian bahkan robek –entah, mungkin karena terlalu kencang ditarik mungkin.
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Itachi mengambil ponselnya dari atas laci saat benda itu bergetar beberapa kali. Tangannya menekan tombol yes dan mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
"... dia di sini."
"Hn." –Dan sambungan terputus.
Satu lagi malam yang berat untuknya. Malam dari ribuan malam yang ia lewati setiap harinya. Dan, untuk kali ini. Ia tidak tahu apa keputusannya ini benar, atau kah akan membuat semuanya bertambah rumit.
Krak!
Satu lagi. Ia harus menghentikan kebiasaannya untuk menghancurkan barang –apapun yang digenggamnya saat marah ataupun kesal.
.
##*###*####*####*####*###*###*###*###*###*###*###* ###*####*####*###*####*##
O. Kagari Hate The Real World .O
.
.
Tetesan-tetesan cairan bening terlihat dengan konstan jatuh setiap dua detiknya dari kantung plastik bening yang digantungkan pada tiang besi disebelah tempat tidur dengan seseorang yang nampak terbaring di atasnya. Lilitan perban putih terlihat memenuhi sebagian tubuh orang itu. Wajah berkulit tan yang nampak tenang dalam tidurnya menyembunyikan rasa sakit yang sebenarnya ia rasakan.
"Ha-ah..." Tujuh kali –Shikamaru yakin ia sudah menghela napasnya sebanyak tujuh kali dari tiga puluh menit ditambah lima detik sejak ia duduk disofa biru kamar rawat ini. Ia memijat pangkal hidungnya dan berdiri, melangkah mendekati tempat tidur pasien di tengah ruangan itu. "Bagaimana?" Ia bertanya pada seorang wanita cantik dengan jas putih yang sama sekali tak bisa menutupi dada besarnya yang terekspose kemana-mana. Jangan salah, wanita dihadapannya kini sudah hampir kepala lima.
"Jatuh dari tangga –kau sangat tahu jika alasan itu tidak akan berguna untukku Shikamaru?" Wanita cantik itu membalikan tubuhnya menghadap remaja laki-laki yang terlihat mengusap tengkuknya dengan sebelah tangan.
"Dan anda juga tahu jika aku tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya pada anda kan, Tsunade sama?"
Wanita itu –Tsunade mendengus pelan sebelum kembali memfokuskan dirinya pada pemuda lain yang tengah terbaring di sampingnya. Terlelap karena obat-obatan yang ia berikan sebagai pereda rasa sakit sementara untuknya.
Shikamaru berdehem pelan, "Bagaimana keadaannya?"
"Dua tulang rusuk retak, satu hampir patah, pendarahan dikepala dan geger otak ringan. Setelah kritis tiga hari dan selebihnya dia baik-baik saja." Hampir, hampir saja Shikamaru mengarahkan tatapan anehnya pada wanita di sampingnya itu. Memberitahukan kondisi seseorang dengan yah... seperti begitulah... padahal pemuda pirang yang terbaring itu adalah keponakan tersayangnya.
"Aku kesal sekali pada bocah bodoh ini! Seenaknya saja! Semaunya!" –Krak! Shikamaru mundur satu langkah melihat tiang besi yang digenggam Tsunade sedikit bengkok. "Dari dulu tidak pernah berubah!"
"Sepertinya... aku membuat Baa chan menangis lagi... ya?"
Shikamaru dan Tsunade sontak menatap pemuda di samping mereka, melihat cengiran lemah sang pemuda pirang yang terlihat sangat dipaksakan diwajahnya.
"Kau! Bocah bodoh! Apa maksud cengiranmu itu!" Kedua tangan Tsunade mencengkram pakaian putih yang dikenakan Naruto.
"Tsunade sama, Naruto sedang terluka. Tolong hentikan!" Shikamaru segera menahan tangan Tsunade yang terlihat siap memukul Naruto.
"Khhh... sakit... –ukh... Baa chan.." Ringis Naruto, meski pelan namun ia terkekeh mendapatkan perlakuan wanita di sampingnya.
Cengkraman pada pakaian Naruto melemah sebelum terlepas. Tsunade berdecak penuh kekesalan. Selalu, anak ini selalu membuatnya tak bisa melakukan apapun.
"Dua Minggu. Kau harus istirahat minimal selama dua Minggu. Tidak ada bantahan, tidak ada protes. Dan jangan sekali-kali kau mencoba untuk kabur Naruto." Ucap Tsunade, belahan bibir yang terbuka membuatnya kembali bicara, "Tidak. ada. bantahan. Aku pergi dulu." Kaki berbalut celana putihnya melangkah menuju pintu keluar ruangan itu. Meninggalkan Naruto yang terlihat misuh-misuh dan Shikamaru yang menghela napasnya untuk kedelapan kalinya.
.
.
.
"Shikamaru." Panggilan Naruto hanya ditanggapi gumaman tak jelas oleh pemuda kuncir yang tengah membaringkan tubuhnya disofa. "Sudah berapa hari aku di sini?"
"Enam, tujuh hari dengan hari ini." Shikamaru menjawab seraya mengubah posisi tidurnya miring menghadap Naruto.
"Berarti sudah setengahnya dari yang dikatakan baa chan kan?"
Alis Shikamaru sedikit terangkat, "Jangan pikirkan itu Naruto, dua Minggu yang dimaksud Tsunade sama adalah waktu dari kau bangun, yang artinya dua Minggu dari hari ini." Ujar Shikamaru.
"Tapi, aku sudah tidak apa-apa." Kepala berpenyangga Naruto menoleh pada Shikamaru, menatap langsung kuaci kecil pada mata pemuda kuncir itu dengan sapphirenya. "Kau tahu aku juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan Menma. Nanti dia bisa kesusahan, anak itu butuh aku."
"..."
"Shikamaru?" Panggil Naruto saat pemuda kuncir itu tak juga bersuara.
"Menma merupakan hal yang tak bisa kau gunakan sebagai alasan Naruto. Ada hal lain, dan dia, orang itulah yang membuatmu mengkhawatirkan Menma."
"..." Bungkam, Naruto menutup rapat belahan bibirnya. Bukan tidak ingin bicara, tapi kedua bibirnya seakan tak menuruti perintah dari otaknya. "... kau... tahu ya?" Pertanyaan itu begitu pelan, tapi masih cukup kencang untuk Shikamaru mendengarnya.
"Bahkan kau sampai meninggalkannya. Aku yang tahu seberapa lama kau menyimpan perasaanmu padanya, Naruto. Dan kau melepas dia setelah kau mendapatkannya." Ucap Shikamaru.
"Khu... haha... tapi aku tidak menyesal." Naruto meringis begitu tawanya membuat daerah sekitar dada dan perutnya menyerang sakit.
"Menyesal itu di akhir. Kau bahkan baru memulainya Naruto. Aku keluar dulu, kopi dan beberapa camilan mungkin bisa membuat kantukku hilang."
"..." Tak menjawab atau menanggapi ucapan Shikamaru yang baru saja keluar melalui pintu kamarnya. Naruto hanya diam dengan pandangan yang menatap lurus langit-langit putih kamar rawatnya. "Menyesal di akhir... dan kau bilang selama ini aku baru memulainya Shikamaru?"
"Aku tidak menyesal." Naruto memejamkan matanya.
"Aku tidak menyesal." Ia mengulang ucapannya lagi,yakin. –Tidak, tapi meyakinkan dirinya.
"Ini bukan sesuatu yang harus kusesali, Kaa san." Otot tangannya menegang saat jemarinya mengepal dikedua sisi tubuhnya.
"Gomennasai..."
.
.
.
.
He is my big brother, but why?
This is too much to me. I want to understand him.
.
.
.
.
Ini sudah Satu Minggu, Menma yakin sudah selama itu pemuda pirang dengan cengiran khas yang selalu ditunjukannya pergi dan tanpa mengabarinya sekalipun. Tidak ada telepon, tidak ada pesan apapun. –Curiga? Jelas. Sangat jelas ia mencurigai ini. Apalagi ditambah dengan puppy senpainya yang seakan selalu menghindari pembicaraan tentang Naruto. Kemana Naruto. Atau apalah tentang kakak periangnya itu.
Shikamaru yang minta diantar menemui ayahnya? Oh, ayolah. Dia tahu itu bohong. Shikaku jii san saat ini sedang keluar negeri. Dari dua Minggu yang lalu. Dan, ia rasa Shikamaru tidak mungkin seceroboh itu mengambil suatu alasan untuk minta ditemani kakaknya.
"Tidak cukup kah semua dibebankan padamu Nii san." Pandangan shapphire bertemu dengan birunya langit, saling berpandangan dengan warna indah yang setara. Tubuhnya berbaring direrumputan di belakang kampusnya, dengan satu tangan yang ia gunakan untuk menyangga kepalanya.
Ia tidak mengerti, meskipun ia tahu –ia merupakan bagian dari hal itu. Tapi, ia bukan siapa-siapa. Ia bukan seseorang yang benar-benar tahu segalanya. Semua yang sudah dipendam Naruto selama ini. Semua yang ia simpan dalam-dalam di dasar hatinya. Mereka kembar, tapi tidak dalam konteks sebenarnya. Ikatan batin? Lupakan. Ia dan Naruto bahkan hanya punya satu hubungan darah yang membuat mereka bisa disebut saudara. Hanya karena ibu mereka sama. Hanya karena seorang wanita yang melahirkan mereka berdua dari rahim yang sama, tetapi tidak dengan sel yang sama.
Berbeda ayah.
"Memikirkan Naruto?"
Pandangan Menma beralih saat sebuah suara mengintrupsi kesunyian yang menderanya selama satu jam terakhir. Ia melirik sampingnya saat merasakan seseorang duduk di samping kirinya. Gaara, pemuda dengan surai merah bata itu duduk dengan punggung yang menghadapnya. Ia bisa melihat kemeja coklat yang dikenakan pemuda itu sedikit kotor oleh cat –air mungkin?
"Loe nggak masuk?" Tanya Menma.
"Kau sendiri? Membolos kelas pertama dan kedua?" Tanya balik Gaara.
Menma sedikit menggerutu sebelum menjawab pertanyaan itu, "Gue nggak mood. Pulang juga di rumah nggak ada siapa-siapa."
Set
Menma tak menolak saat beban bertambah pada lengan kanannya karena sebuah kepala yang menjadikannya sebagai bantalan. "Loe jadi manja, Gaara." Ujar Menma, kepalanya menoleh pada wajah tenang dengan kelopak mata tertutup di sampingnya. "Tapi loe tahu kan kalo gue –"
"Cukup begini dan diam." Mata biru Menma memandang Gaara sebelum ia alihkan pada hamparan langit di atasnya. Ia mendengus geli, "Loe tuh mirip gue ternyata."
Tangan Menma sedikit bergeser, membuat kepala di sampingnya tergeser lebih dekat padanya. Ia mengelus helaian merah di sampingnya, "Kenapa loe diem aja Gaara? Loe udah gue manfaatin buat keegoisan gue sendiri." Pandangan Menma menyendu, "Aku akan terus menyakitimu jika kau juga terus seperti ini padaku." Suaranya melembut. "Tapi aku juga, tidak bisa melepaskanmu begitu saja."
"... kau itu terlalu bodoh."
"Ha?" Menma menoleh pada Gaara, ia terlihat bingung dengan ucapan pemuda merah bata itu. "Loe ngatain gue bego?"
Emerald yang terbuka langsung menatap biru di sampingnya. Diam sebelum membangunkan tubuhnya. Tangannya mengambil tas yang ia letakan di sampingnya dan bangkit berdiri.
"Gaara?" Menma menatap punggung Gaara dengan satu alis terangkat, pemuda merah bata itu tengah sibuk menepuk-nepuk belakang pakaiannya dan melangkah menjauhinya. "Heh, loe mau kemana?" –Tak ada jawaban atau sekedar lambaian tangan dari Gaara. Marah kah?
Menma berdecak dan merubah posisinya menjadi duduk dengan cepat, "Aargh! Kenapa gue nggak tanya soal Naruto sama Gaara! Dasar begoooo!" Tangannya mengacak-ngacak surai hitam berantakan miliknya hingga lebih berantakan lagi sebelum terhenti dan menangkup sisian wajahnya. "Kembali Naruto, jangan buat gue kayak gini."
'Udah cukup loe sembunyiin semuanya dari gue.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke sebenarnya hari ini tak mau sekalipun untuk bertemu atau menyapa Itachi. Masih kesal dengan tindakan sang kakak pada apa yang kakaknya itu lakukan. Menghajarnya membabi buta? Hal yang bukan Itachi sekali. Tapi tentu saja Sasuke tahu kenapa Itachi melakukan itu. Semua hal yang menyangkut dirinya dalam hal apapun, akan membuat kakaknya itu sensitif sekali.
Kenapa ia bisa tahu Itachi menghajar Naruto? Katakan saja, ia tahu semua pergerakan sang kakak. Tak ada apapun yang bisa Itachi sembunyikan darinya. Termasuk pada Itachi yang mendatangi rumah Naruto seminggu yang lalu dengan hasil pemuda pirang itu diangkut dari rumahnya dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Itu yang Sasuke lihat dari lembaran foto yang ia dapat.
Kembali pada kenapa ia sekarang harus merasa heran saat melewati kamar kakaknya dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Satu alis Sasuke terangkat melihat beberapa koper dengan Itachi yang tengah memasukan pakaiannya. "Apa yang kau lakukan?" Mengesampingkan rasa kesalnya, Sasuke bertanya pada Itachi.
"Kau bisa melihatnya sendiri Sasuke, Itachi sedang mengemasi barang-barangnya." Jawaban itu tidak ia dapat dari sang empunya kamar, namun dari seseorang yang dengan nyamannya tidur-tiduran terlungkup di atas tempat tidur Itachi. Tak lupa dengan sebungkus keripik kentang yang ada di sampingnya. "Dia mau pergi, tau deh mau kemana."
Sasuke menatap Itachi, "Kau mau kemana Itachi?"
"..." Tak menjawab, yang ditanya malah sibuk dengan koper kedua –terlihat beberapa buku yang sudah masuk dalam koper itu.
"Aniki." Kali ini Sasuke melangkah mendekati Itachi, mengambil sebuah buku dari tangan sang kakak hingga Itachi menatapnya. "Kutanya. Kau mau kemana?"
"US." Jawab Itachi singkat, ia mendelik saat Sasuke melempar buku ditangannya hingga membentur lemari.
"Tidak boleh." Ucap Sasuke, onyxnya berkilat saat Itachi kembali pada aktivitasnya mengemasi buku-bukunya. "Aku tidak mengizinkanmu pergi. Tidak berarti tidak!" Suaranya meninggi. Tatapan tajam ia berikan pada pemuda pirang yang bersiul dengan kekehan yang juga menatapnya.
"Sepertinya ada yang tidak rela kakak tersayangnya pergi jauh~" Sudut bibir Deidara tertarik saat kadar ketajaman tatapan Sasuke terlihat lebih berbahaya.
"Dei, hentikan."
Deidara tak mendengarkan Itachi, "Itachi itu pergi karena kau juga tidak memerlukan dia lagi kan? Dia itu juga ingin bebas darimu yang selalu merepotkannya."
"Lalu bagaimana denganmu sendiri?" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada dan balas tersenyum sinis, "Mengandalkan kakakku karena kekasihmu itu tidak ada pedulinya padamu? Bersikap seolah tidak peduli saat tubuhmu menjadi balasannya? Ah, jangan lupakan saat laki-lakimu itu datang dan memohon-mohon maaf dikakimu setelah apa yang dilakukannya padamu, lalu kembali mengulangi kesalahannya lagi, lalu apa? Kau akan memaafkannya lagi seperti biasanya?"
Gertakan gigi dan kedua tangan yang mengepal membuat senyum kemenangan terukir dibibir Sasuke, kedua bibir Sasuke kembali terbuka. Bersiap melontarkan berbagai kalimat lain. Namun niatnya itu terhalang saat Itachi berdiri dan membentenginya dengan sebuah tangan yang direntangkan. "Cukup Sasuke. Jika kau ingin menghalangi kepergianku, maka katakan itu pada Otou san. Aku pergi untuk perusahaan, hanya perjalanan bisnis dan Tou san ingin aku menjemput Hinata."
Sasuke bungkam, ia menyingkirkan tangan Itachi dari hadapannya dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia berhenti diambang pintu dan menoleh pada Itachi, "Jika begitu, aku bisa melakukan apapun selama kepergianmu bukan?" Ia menyeringai saat perhatian penuh dari onyx lain terarah padanya. "Hati-hati diperjalananmu Ani." –Blam.
.
.
Sunyi untuk beberapa saat sebelum sebuah suara terdengar dari kedua pemuda kontras itu, "Aku sebaiknya pergi." Dengan wajah yang sedikit tertunduk, Deidara membangunkan tubuhnya dari atas kasur dan melangkah melewati Itachi. Ia meringis saat cengkraman keras ia dapat dari pemuda onyx itu. "Lepaskan tanganku Itachi." –Satu tetes cairan bening jatuh di atas marmer hitam.
Grep!
Tubuh Deidara menubruk dada bidang Itachi, "Tidak ada yang menyuruhmu pergi." Jemari porselen begitu lembut saat mengusap helaian pirang dalam dekapan tubuhnya. Membiarkan pemuda dengan tubuh gemetaran itu menangis dalam diam.
"Kau ikut bersamaku." Putus Itachi, ia merasakan anggukan pelan Deidara sebagai jawabannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kau tidak tahu seberapa keras aku mencoba, seberapa ingin aku melihatmu.
Kau kembali dengan rasa sakit yang kembali menghantam hatiku.
Aku tersenyum, terbalik dengan rasa kepedihanku.
.
.
.
Sakit, ini sangat sakit.
.
.
.
.
"Jadi, kemana saja kau selama dua Minggu dobe?"
.
"Jadi kau Naruto? Sasuke selalu cerita tentangmu padaku."
.
"Hampir semua teman Sasuke itu pernah tidur dengannya. Termasuk aku."
.
"Kenapa kau bawa aku kemari Sasuke?"
.
"Apa kau masih mencintaiku dobe?"
.
.
.
.
.
To be continue...
A/N : Bwehehehehe... gomen ne minna san -,-v
Jangan rajam aku hiks T^T... ini aku lanjut dengan ketelatan luar biasa. Beneran deh, ini chapter cuma beberapa hari ku ketik. Tapi males beli kuotanya itu loh yang bikin empet setengah hati. Ke warnet, akunya males juga. #mati aja loh!
Udah deh, banyakan author note dari pada ceritanya entar, jaa ne minna. Review ya! ^^/
Chapter depan Sasuke udah memulai rencananya #smirk
'
Eh, Satu lagi. Emang bener ya SP (scrensplays) mau dihapus dari FFN karena banyak plagiat? #katanya
