A/N: Sebelumnya seperti biasa mau ngucapin makasih dulu buat reviewers di Chapter 3: Ren-Mi3 NoVantA, Kirana Naru Natsuhiko, dan Kara Couleurs. Sekalian bales review dari Sieg harts (Kalo yang lain udah dibales lewat message).
Sieg Harts: Bagus kita sependapat. Saya nyoba mempertahankan image Naruko di manga/anime yang cantik, agresif dan menggoda iman. Ya maksudnya biar ga terlalu OOC. Tapi tenang aja Naruto masih waras, ga bakal jatuh cinta sama kakak sendiri ;)
Nah, ini dia chapter 4, selamat membaca!
Ayo Pulang, Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Jangan kaitkan tata cara pernikahan, perceraian, dan pergantian marga di fic ini dengan di kehidupan nyata atau SARA. Karena untuk 3 hal itu di fic ini semuanya hanya karangan saya :D
Cerita Sebelumnya:
"Anak-anak," seru Tou-san, "Tou-san dan Kaa-san akan mengadakan pesta pernikahan Sabtu ini. Bagaimana menurut kalian?"
"Secepat itu?" tanyaku sedikit kaget.
"Ya, harus secepatnya. Tidak enak juga kalau tinggal serumah tanpa status pernikahan, karena biar bagaimana pun kami kan sempat bercerai."
"Ia, 'kan malu sama tetangga Naru-chan," tambah Kaa-san.
"Oh," aku hanya mengangguk-angguk baru mengerti, "kalau kalian menikah lagi, itu berarti... Namaku akan jadi Naruto Namikaze?" Kutatap Tou-san dan Kaa-san bergantian.
"Tentu saja," tawab Tou-san dan Kaa-san bersamaan.
"Hehe. Nama kita jadi mirip Naruto-kun," ujar Naruko. Kutatap Naruko, yah kau benar Naruko.
Naruto Namikaze.
Aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Margaku akan berubah. Namikaze adalah marga yang cukup terkenal. Marga yang hebat dan ternama. Tapi aku merasa aneh jika harus melepaskan marga Uzumaki. Biar bagaimana pun sudah hampir 17 tahun 'Uzumaki' melekat pada diriku. Aku tidak ingin melepasnya. Aku merasa berat melepas marga 'Uzumaki'-ku...
.
.
.
Chapter 4
-Keluarga Baru, Kakak Baru-
Hari ini hari Sabtu, 18 September 2010. Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Kaa-san dan Tou-san. Hari yang akan mengikat kembali perasaan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Ikatan yang sangat sakral dan tidak akan mereka langgar untuk kedua kalinya. Aku baru tau kalau ternyata pesta pernikahan pertama mereka 20 tahun lalu juga dilaksanakan pada tanggal 18 September. Rupanya tanggal 18 September sudah seperti tanggal keberuntungan mereka.
Kuputar badanku ke sebelah kanan dan kulihat jam di meja dekat kasurku. 8:00 P.M. Kurapatkan kembali selimut yang menyelimuti tubuhku. Entah kenapa hari ini aku malas sekali. Aku tau seharusnya aku ikut senang dengan kembali rujuknya Kaa-san dan Tou-san. Dan hari ini secara resmi aku akan mempunyai seorang ayah. Sosok yang kunanti-nanti sejak aku kecil. Tapi kenyataannya tidak se-simpel itu. Tidak segampang itu aku menerima ini semua. Kehilangan Nee-san, datangnya Naruko, dan juga pernikahan ini datang terlalu cepat. Ini malah menjadikan semuanya tambah rumit di kepalaku. Kupikir aku masih butuh waktu.
Tok! Tok! Tok!
Kudengar pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku menguap lebar dan mengulat di kasur dengan malas.
"Hoaaammmasuk, tidak dikunci," kataku masih sambil tiduran di kasur.
Kemudian masuklah Naruko yang sudah siap untuk hari spesial ini. Rambut pirang panjangnya dibiarkan terurai hingga mencapai pinggangnya. Badannya dibalut gaun putih selutut. Wajahnya diberi make up tipis dan bibirnya diberi sedikit lipglosh. Dandanan yang sederhana, tidak berlebihan. Tapi sudah cukup memancarkan kecantikannya dan sukses membuatku terpana. Dia... benar-benar cantik. Aku terpaku sejenak memandangnya.
"Kenapa belum siap-siap? Cepat mandi, tamu-tamu sudah mulai berdatangan."
Bukannya menuruti Naruko, aku malah duduk di kasur sambil kembali menguap lebar. Naruko yang sudah mulai kesal menarik tanganku agar aku turun dari kasur.
"Mau sampai kapan diam disitu? Ayo cepat ini sudah siang," omel Naruko kesal.
"Iaaaa," Dengan kaki yang terseret-seret dan badan yang didorong-dorong Naruko, aku masuk ke kamar mandi. Semoga saja air dingin bisa membuatku segar dan mengusir rasa malas ini.
Selesai mandi aku kaget karena Naruko masih saja berada di kamarku. Dia duduk di kasurku dan sedang memegang sebuah bingkai foto. Di dalamnya ada foto aku dan Karin-Neesan, kami mengambil foto itu beberapa bulan lalu. Ekspresi wajah Naruko sulit kubaca. Wajahnya seperti memperlihatkan ekspresi senang, bibirnya tersenyum, tapi aku melihat ada kesedihan di mata birunya. Tatapannya juga terlihat kosong. Kenapa dia?
"Kenapa masih disini?" tanyaku membuyarkan lamunan Naruko. Naruko sedikit tersentak dan mengembalikan fotoku ke tempatnya.
"Eh? Aku hanya memastikan kamu ga akan tidur lagi."
"Ga akan lah. Sekarang cepat keluar aku mau ganti baju."
"Baiklah, aku tunggu di depan pintu," kata Naruko sambil keluar dan menutup pintu kamarku.
Aku memakai kemeja berwarna biru muda dan jas berwarna hitam tanpa dasi, serta sepatu pantofel hitam. Jarang sekali aku memakai baju seperti ini. Soalnya aku lebih suka memakai t-shirt dan jeans. Untuk rambutku kubiarkan seperti biasa, lagipula rambut spike seperti ini susah sekali diatur.
Begitu aku keluar dari kamar, Naruko sudah berdiri di depan kamarku sambil memperhatikanku dari ujung kepala ke ujung kaki. Mulutnya menganga memperlihatkan kekagetannya. Kok sampai segitunya? Padahal aku merasa tidak ada yang aneh dengan penampilanku.
"Whoa, kamu tampan sekali kalo memakai jas," puji Naruko dengan mata berbinar-binar. Hatiku senang dan wajahku memerah mendengarnya, tapi kusembunyikan dengan sempurna. Malu sekali kalau sampai ketauan pipiku merah.
"Eh, ada yang kurang, masa kerahmu ke atas gini? Ini acara resmi, bukan acara prom di sekolah. Sebaiknya di turunkan saja," kata Naruko sambil merapikan kerah kemejaku. Naruko yang memakai high heels kali ini tingginya hampir menyamaiku dan otomatis wajah kami sejajar sekarang. Kuperhatikan wajahnya, wajahnya serius sekali, terlihat fokus merapikan kerahku. Ada rasa grogi dalam diriku, wajah kami tidak pernah sedekat ini sebelumnya.
"Nah, selesai!" ujarnya setelah selesai merapikan kerah kemejaku. "Sekarang ayo kita turun, Tou-san dan Kaa-san sudah menunggu," lanjutnya sambil mengaitkan lengannya di lenganku. Haduh, mau sampai kapan Naruko membuat jantungku berdetak tidak karuan begini? Aku diam tidak bicara apa-apa, hanya mengikutinya ke lantai 1.
Benar saja kata Naruko. Di lantai 1 sudah mulai banyak tamu. Pesta pernikahannya dilaksanakan secara sederhana. Tou-san dan Kaa-san hanya mengundang keluarga, kerabat dan teman-teman mereka saja. Keperhatikan tamu-tamu yang sudah datang, aku kurang mengenal mereka. Kelihatannya kebanyakan teman-teman Tou-san dari Inggris. Tapi apa ini yang mereka sebut pesta 'sederhana'? Ini sih bisa dibilang megah.
Ruang tamu dan keluarga sudah dihias dengan bunga-bunga berbagai ukuran dan warna. Ada sekitar 7 meja besar yang tersebar di ruangan, lengkap dengan 6 kursi di masing-masing sisinya. Tampaknya jumlah tamu yang diundang memang hanya sedikit.
"Heeeiiii, anak kembar kesayangan Tou-san sudah datang. Ayo kesini bergabung bersama kami," kata Tou-san setelah melihat kami turun dari tangga. Kaa-san hanya tersenyum di samping Tou-san. Kulihat Kaa-san memakai gaun pengantin putih yang cocok sekali dengannya. Sedangkan Tou-san memakai jas berwarna putih dengan kemeja yang juga berwarna putih. Mereka serasi sekali. Aku tersenyum melihatnya.
"Kau gagah sekali Nak, aku jadi ingat waktu muda dulu, aku juga sepertimu," kata Tou-san memegang kedua pundakku.
"Te-terima kasih Tou-san."
"Hei, sekarang coba lihat putri Tou-san," kata Tou-san lagi, beralih ke Naruko, "cantik sekali 'kan Kaa-san?"
Kaa-san yang merasa dimintai pendapat segera menjawab, "Tentu saja, siapa dulu ibunya?"
"Hahaha, ia ia ibunya juga cantik, makanya aku ingin menikahinya lagi sekarang."
"Haha, bisa saja."
Kami tertawa setelah itu. Ralat, sebenarnya mereka bertiga yang tertawa, aku hanya tersenyum. Walau begitu hatiku merasa nyaman dengan suasana seperti ini. Apa ini rasanya memiliki keluarga yang lengkap?
Setelah itu, tamu semakin banyak berdatangan. Dan sekitar jam 10, acara inti dimulai. Karena aku sudah tidak mempunyai kakek dan nenek dari pihak Tou-san maupun dari pihak Kaa-san, maka Deidara-Ojisan jadi pendamping Tou-san dan Hiruzen-Ojiisan jadi pendamping Kaa-san. Acara pun dimulai. Tou-san dan Kaa-san kembali mengucapkan janji sehidup semati mereka disaksikan oleh semua yang hadir. Kaa-san sempat terharu saat mengucapkan janji suci itu, tapi Tou-san dengan segera menenangkannya.
Dan mulai sekarang kami adalah keluarga Namikaze. Kaa-san sudah jadi Nyonya Namikaze. Dan otomatis namaku juga berubah jadi Naruto Namikaze. Nama yang masih asing di telingaku.
Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama seluruh tamu undangan. Aku tidak terlalu akrab dengan mereka semua karena kebanyakan mereka tamu Tou-san dari Inggris. Terbukti dari apa yang mereka lakukan sepanjang acara makan siang. Yang para tamu itu sapa hanya Naruko, Naruko dan Naruko. Aku merasa tidak dianggap disini.
Saat itu aku memilih meja di pojok ruangan ditemani Naruko dan keluarga dari pihak Kaa-san. Ada sepupuku Sasori, Gaara, Kankurou, Temari. Dan juga Hiruzen-Ojiisan.
"Hei, kenapa murung?" tanya Naruko yang duduk di sampingku. Rupanya dia menyadari kalau dari tadi aku hanya diam saja. Aku hanya menggeleng.
"Jangan bohong Naruto," ujar Temari-Neesan menimpali, "ini hari spesial untuk kita. Seharusnya kamu senang di saat seperti ini. Jangan murung terus."
Aku memandang sepupu-sepupuku itu, dari tatapan mata mereka jelas sekali terlihat kekhawatiran.
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa," jawabku tidak yakin. Aku hanya tidak ingin membuat keluargaku cemas.
"Mohon perhatiannya," kata Tou-san membuat perhatian semua orang tertuju padanya, "pertama-tama aku berterima kasih kepada hadirin yang sudah menyempatkan diri menghadiri pesta sederhana ini. Pada kesempatan ini aku juga ingin memperkenalkan anak laki-lakiku kepada kalian semua. Dan mungkin sebagian besar dari kalian belum mengenalinya. Kalian lihat pemuda berambut pirang disebelah sana."
Tou-san menunjukku dan membuat perhatian semua tamu teralih padaku.
"Perkenalkan, dia Naruto Namikaze, anak laki-lakiku. Dialah yang kelak akan menjadi penerusku di perusahaan."
Deg! Aku kaget bukan main. Aku tahu aku ini anak laki-laki Tou-san satu-satunya dan mau tidak mau aku memang akan jadi penerusnya. Tapi ini terlalu cepat dan begitu tiba-tiba. Mulai terdengar tanggapan-tanggapan dari para tamu yang kaget mendengar pernyataan Tou-san.
"Pantas saja wajahnya mirip denganmu Minato."
"Oh, jadi dia anak laki-laki yang waktu itu kau ceritakan."
"Kau akan jadi penerus perusahaan besar Nak."
Begitulah kira-kira tanggapan mereka. Membuatku merasa tidak yakin apa aku bisa menjadi apa yang Tou-san harapkan. Sebuah tanggung jawab yang begitu besar menurutku. Sebuah beban yang harus kutanggung sebagai penerus keluarga Namikaze.
Setelah acara makan selesai, Tou-san dan Kaa-san lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol dan menyapa para tamu yang hadir. Sedangkan aku lebih memilih untuk pergi ke balkon dan menyendiri di sana. Mengamati langit biru yang cerah di siang hari ini. Semilir angin segar membuatku semakin menikmati kesendirian ini. Sebelum seseorang menepuk pundakku.
"Yo Naruto!" Seorang pemuda berusia sekitar 27 tahun berdiri di sampingku. Rambutnya pirang dan panjang untuk ukuran seorang laki-laki. Bagian belakangnya diikat ponytail dan poni bagian depannya menutupi mata sebelah kirinya. Aku tidak yakin apa benar dia adik kandung Tou-san, masalahnya penampilannya beda jauh sekali dengan Tou-san.
"Deidara Oji-san?"
"Ayolah jangan panggil Oji-san un, aku terdengar tua. Panggil saja Deidara," katanya sambil berbalik dan bersandar di pagar balkon. Sebenarnya aku ragu untuk menurutinya karena perbedaan umurku dengan umurnya terlalu jauh. Tidak enak juga kalau memanggil dengan nama. Tapi karena itu yang dia minta, jadi aku turuti saja.
"Baiklah."
"Hei, kau lihat Naruko. Kelihatannya dia senang sekali un," katanya menunjuk ke dalam ruangan di dalam. Aku menoleh mengikuti arah yang ditunjuknya. Kulihat Naruko sedang mengobrol dengan beberapa tamu, sambil sesekali tertawa menanggapi obrolan tamu-tamu itu. Tiba-tiba pandangan kami bertemu, kualihkan pandanganku kepada Deidara.
"Hn," jawabku dengan anggukkan.
"Wajar saja, sejak kecil dia dibesarkan hanya oleh Minato. Sudah pasti dia merindukan sosok ibu. Dia juga kesepian karena tidak punya saudara un. Ditambah lagi dengan kesibukan Minato yang kadang harus menginggalkannya sendirian untuk urusan bisnis. Di saat seperti itu biasanya aku yang menemaninya di rumah."
"..." Aku hanya diam bingung harus bicara apa. Kupandang kembali langit biru yang cerah.
"Dia keponakan yang amat aku sayangi. Hei, kau mau berjanji sesuatu kepadaku?" tanya Deidara menoleh kepadaku.
"Apa?"
"Tolong jaga Naruko untukku," ujarnya terdengar serius, "sekarang dia tinggal disini, aku sudah tidak bisa melindunginya. Sekarang adalah tugasmu melindunginya. Aku percaya padamu."
"O-ok," jawabku ragu. Lagi-lagi aku diberi tanggung jawab yang tidak bisa dibilang gampang. Dan kembali membuatku bertanya-tanya. Apa aku mampu?
"Naruko menuju kesini. Baiklah, aku kesana dulu," ujar Deidara kembali menepuk pundakku.
"Hn."
"Jangan lupa kata-kataku." Aku mengangguk. Deidara beranjak dan mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hei, kalian barusan ngomongin apa? Ngomongin aku ya?" tanya Naruko sambil tersenyum lebar memandangku dan Deidara bergantian.
"Haha, tanya saja Naruto un, aku kesana dulu," ujar Deidara saat berpapasan dengan Naruko sambil menepuk pelan puncak kepala Naruko, "temani Naruto sana. Sepertinya dia sedang butuh teman."
"Eh, mau kemana? Disini aja temani kami." Deidara hanya melambaikan tangan dan terus berjalan ke dalam. Naruko mengabaikannya dan ikut berdiri di sampingku memandang langit.
Kali ini aku berdua lagi dengan Naruko. Keheningan selalu saja terjadi tiap aku dan dia hanya berdua. Aku bingung harus bicara apa, lebih tepatnya bingung harus memulai pembicaraan seperti apa. Kupandang segumpal awan yang bergerak tertiup angin, memperhatikannya seolah-olah itu hal menarik.
Ah bagus sekali! Kemarin kelakuanku mirip Sasuke, sekarang mirip Shikamaru, besok mirip siapa lagi? Tampaknya aku merasa seperti bukan diriku sendiri akhir-akhir ini.
"Naruto-kun," kata Naruko membuyarkan lamunanku. Lagi-lagi selalu dia yang memulai pembicaraan. "Kenapa malah disini?"
"Aku ingin sendiri."
"Apa aku ganggu? Kalau ganggu, aku mau masuk ke dalam..."
"Ti-tidak."
"Kalau gitu aku temani ya."
Hening lagi. Aku benci keadaan seperti ini. Aku benci diriku sendiri yang tidak bisa mencairkan suasana canggung ini. Padahal sebelumnya orang pendiam seperti Hinata saja bisa akrab jika mengobrol denganku. Kenapa sekarang Naruko yang notabene cewek yang supel susah sekali akrab denganku. Ok maaf, ini salahku, Naruko sudah berusaha semampunya untuk akrab denganku. Aku saja yang terlalu dingin kepadanya.
"Kenapa melamun?" tanya Naruko lagi.
"Entahlah, aku merasa… aku..." Apa aku ceritakan saja padanya? Baiklah, jujur tidak ada salahnya. "Aku... aku belum bisa jadi bagian keluarga Namikaze."
Kulihat dari sudut mataku kalau saat itu juga Naruko tersentak, kemudian dia menggenggam tangan kiriku. Aku memandang tanganku yang digenggamnya, kali ini aku yang sedikit kaget dengan tindakannya itu. Ada sedikit ketenangan yang kurasakan saat Naruko menggenggam tanganku.
"Jangan aneh. Apa kamu lupa? Saat kita dilahirkan, kita ini sudah bagian dari keluarga Namikaze. Hanya saja saat berusia 2 tahun, saat Tou-san dan Kaa-san bercerai margamu jadi Uzumaki. Apa yang salah jika sekarang margamu jadi Namikaze lagi dan kita jadi keluarga Namikaze seperti dulu?"
"Aku tau, tapi 15 tahun hidupku sudah kuhabiskan sebagai Uzumaki, bukan Namikaze. Aku..." Naruko mengeratkan genggamannya di tanganku, "15 tahun tidak ada apa-apanya dibanding apa yang akan kamu lalui mulai dari hari ini. Kita mulai lagi dari awal."
"..." Aku tertegun mendengar perkataan Naruko. Aku merasa kalau sisi seorang kakak dari dirinya muncul saat itu. Aku merasa kalau aku memang seorang adik kecil yang masih berpikiran kekanak-kanakan. Berbeda dengan sosok kakak di sampingku yang terlihat lebih dewasa.
"Harimu masih panjang, hari kita masih panjang," lanjut Naruko lagi.
"Naruko-chan benar." Terdengar suara dari belakang kami.
"Kaa-san?"
Kaa-san kemudian berdiri diantara aku dan Naruko dan memeluk pinggang kami berdua. Tinggi Kaa-san yang lebih pendek dari aku dan Naruko memaksanya untuk sedikit menengadah saat memandang mata kami bergantian.
"Kaa-san tau ini terlalu cepat buat kamu. Tapi sebagai seorang Namikaze kamu jangan penakut seperti ini, Tou-san saja sudah percaya kalau kamu akan jadi penerusnya yang hebat. Jadi Kaa-san dan Naruko juga percaya padamu kalau kamu pasti bisa. Dan kamu juga jangan khawatir, Kaa-san janji, kesalahan Kaa-san dan Tou-san di masa lalu tidak akan kami ulang lagi. Sekarang kita mulai dari awal lagi. Sebuah keluarga baru." Pandangan Kaa-san diarahkan ke langit seperti aku dan Naruko saat dia mengucapkan kata-kata itu.
"Hn," anggukku sebagai respon dari pernyataan Kaa-san. Kali ini perasaanku lebih tenang. Kata-kata dari seorang ibu memang selalu ampuh untuk menenangkan kerisauan di hati anaknya. Dan itu terbukti padaku.
"Minato Namikaze, Kushina Namikaze, Naruko Namikaze, Naruto Namikaze. Bukankah itu nama yang bagus? Kaa-san yakin mulai sekarang keluarga Namikaze akan jadi keluarga hebat."
"Dan juga Karin Namikaze," tambah Naruko, "aku tau pasti dia mengawasi kita dari tempatnya berada sekarang." Aku dan Kaa-san menoleh kepada Naruko bersamaan. Dia benar. Anggota keluarga kami satu lagi adalah Karin Namikaze. Dan aku juga yakin Karin-Neesan sedang mengawasi kami dari tempatnya berada sekarang.
"Ya, kamu benar Naruko-chan. Ya 'kan Naru-chan?" tanya Kaa-san berpaling ke arahku sambil tersenyum.
"Hn."
"Hn? Hei, Kaa-san perhatikan kamu berubah drastis sejak kepergian Nee-san. Kaa-san kehilangan Naru-chan yang hyperaktif, ceria, dan selalu tersenyum lebar saat ngobrol dengan Kaa-san. Sekarang kamu jadi dingin, irit bicara, dan pendiam. Tiap menanggapi sesuatu hanya memakai 2 huruf, 'h' dan 'n'. Apa kamu sadar itu?"
Tanpa kujawab pertanyaan itupun Kaa-san sudah tau jawabannya. Dan melihat aku hanya diam Kaa-san melanjutkan kata-katanya.
"Jangan biarkan kesedihan membuat kamu seperti ini. Berusahalah ceria, ok?"
"Akan kucoba Kaa-san."
"Dan satu lagi. Kaa-san lihat kalian sama sekali BELUM akrab. Ayolah kalian ini kakak-adik, bahkan kembar. Tapi tingkah kalian seperti orang lain saja. Sudah seminggu serumah tapi masih saja acuh tak acuh."
Aku menunduk mendengar pernyataan Kaa-san yang ini. Kalau boleh aku jujur, semua itu sebenarnya gara-gara aku. Naruko sudah berusaha semampunya untuk dekat denganku, tapi aku sama sekali tidak memberinya kesempatan. Sebenarnya bukan aku tidak memberinya kesempatan. Aku juga sudah berusaha semampuku, hanya saja aku belum bisa sepenuhnya mengalahkan egoku untuk menerimanya begitu saja. Sudah kubilang 'kan aku masih perlu waktu. Mungkin sampai aku bisa mengalahkan ego dari sisi jahat diriku itu? Entah itu sampai kapan.
"Aku masih perlu waktu Kaa-san," ujarku jujur.
"Kaa-san tau, tapi sepertinya Kaa-san bisa memaksa kalian untuk akrab."
"Eh? Maksudnya?" Kali ini Naruko yang angkat bicara sedangkan aku hanya terdiam, bingung. Apa maksudnya dengan 'memaksa'?
"Kaa-san bosan melihat kalian seperti ini, sudah saatnya Kaa-san turun tangan. Kaa-san punya sebuah rencana," kata Kaa-san sambil tersenyum aneh. Senyum yang menyembunyikan sesuatu.
"A-apa?" tanya Naruko lagi.
"Ra-ha-si-a. Sekarang ayo kita masuk. Kita berkumpul dengan yang lain," katanya sambil menarik tanganku dan tangan Naruko, menarik kami masuk ke dalam rumah.
"Kaa-saaannn..."
"Hahaha, kalau merengek bersamaan seperti itu membuat kalian lebih terlihat seperti kembar."
Dasar Kaa-san ini, malah mengalihkan pembicaraan. Tapi perasaanku benar-benar tidak enak mendengar kata-kata Kaa-san tadi. Seringkali rencana Kaa-san aneh dan susah ditebak. Apa yang Kaa-san rencanakan sebenarnya?
To Be Continue...
A/N: Apa yang akan Kushina rencanakan untuk kedua anak kembarnya? Nantikan jawabannya di chapter 5. Semoga kalian penasaran. Review, review, reiview... :D
Arigato
-rifuki-
