.
.
.
Second Chance
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Mystery, Fantasy, Family, Adventure
Warning : AU, gajelas, OOC, misstypo
Chara : Sasuke, Naruto, Ino, Hinata, Konan
NO BASHING CHARA
Happy Reading!
.
.
.
Konan membuka kotak yang berwarna hitam, mengambil salah satu tabung, dan mengulurkannya pada Sasuke. "Untuk lukamu." ucapnya.
Sasuke menerima tabung kecil itu dengan bingung. "Ini harus diminum?"
"Tidak. Teteskan saja pada lukamu."
Sasuke membuka tabung yang dipegangnya dan meneteskan air mata itu ke pundaknya. Luka Sasuke perlahan-lahan menghilang, pemuda itu terlihat takjub, tapi ia tidak mengatakan apapun.
"Apa kita langsung pergi ke Dunia Bawah?" tanya Naruto.
"Lebih baik begitu." ucap Konan sambil bangkit berdiri.
"Jangan." ucap Sasuke tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Konan yang mengangkat sebelah alisnya.
"Karena… Kita sudah mendapatkan salah satu syaratnya. Bisakah kita bersantai barang satu hari?" Sasuke mencoba mencari alasan lain.
"Tidak." jawab Konan tegas.
Sasuke mengumpat dalam hati. Meski ia masih mempunyai satu alasan lainnya, Sasuke tak mau menggunakannya, karena itu akan menyakiti hati Ino. Tapi demi kebenaran yang coba ia ungkap sendiri, ia harus menggunakan alasan itu dan menyembunyikan alasan sebenarnya.
"Aku ingin mengunjungi orang tuaku. Toh kita sedang di Dunia Manusia. Yang lainnya pun juga ingin mengunjungi keluarga, iya kan?" Sasuke melirik yang lain, dan melihat Ino membuang muka.
Konan terdiam, ia dan Sasuke bertatapan. Sepertinya gadis berambut biru itu tak percaya pada Sasuke. "Baiklah." tapi toh ia menyetujuinya.
Konan mendongak ke atas. "Ini sudah tengah hari. Aku memberi batas waktu kalian sampai tengah malam. Kalian lihat bukit itu?" Konan menunjuk sebuah bukit di kejauhan. "Itulah tempat kita berkumpul nanti malam."
"Baiklah kalau begitu." tukas Ino sambil berjalan cepat menuju jalan setapak.
"Jangan lewat di situ!" seru Konan tiba-tiba. "Ada wabah penyakit di desa pertama yang akan kautemui!"
"Aku tidak peduli!" Ino balas berseru.
"INO!" akhirnya Konan berteriak dengan nada berbahaya. Ino terkejut dan berbalik. Sementara Sasuke menatap Konan dengan tajam. "Percayalah padaku, lebih aman lewat sini." Konan menunjuk hutan yang ternyata juga ada di bawah tebing.
Mereka berjalan kembali menyusuri hutan hingga sampai pada sebuah jalan raya yang sepi.
"Kita berpencar di sini?" tanya Hinata.
"Kalau begitu aku lewat sini." ucap Sasuke singkat, ia langsung berjalan cepat mengikuti jalan raya tersebut yang mengarah ke kota yang ramai. Naruto memicingkan matanya sambil terus memandang punggung Sasuke yang makin menjauh.
.
.
.
"Naruto-dobe, aku tahu kau disitu, keluarlah." Sasuke berhenti di tengah jalan raya yang masih sepi.
"Aku ketahuan, ya?" tiba-tiba Naruto melompat turun dari sebuah pohon di sisi jalan.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Sasuke.
"Aku hanya penasaran. Kalau kau ingin mengunjungi orang tuamu, harusnya kau berbelok ke kanan tadi. Tapi kau malah lurus menuju kota lain." jelas Naruto.
"Kau tahu rumah orang tuaku?"
"Sebenarnya aku pernah melihatmu memandangi sebuah rumah." Naruto mengangkat bahunya. "Jadi kuyakin itu rumah orang tuamu."
"Kau tidak berburu di sekitar rumahku, kan?" Sasuke bertanya untuk memastikan.
"Tidak. Aku langsung pindah tempat. Jadi kenapa kau menuju kota-ttebayo?" tanya Naruto.
Sasuke terdiam, ia menatap Naruto. Sampai akhirnya Sasuke menghela napas, "Kalau kau begitu penasaran, ikutlah denganku."
.
.
.
"Kau tak mau menyimpan sabitmu dulu?" tanya Naruto ketika mereka sudah hampir memasuki kota, sudah terdengar suara bising di depan mereka.
"Baiklah." Sasuke mengangkat bahu dan meletakkan sabitnya di sisi jalan yang ditumbuhi semak bunga mawar liar.
Naruto menyernyit, "Maksudku di tempat yang aman, Sasuke."
"Tidak apa-apa, kok. Saat malam, semuanya akan kembali padaku." ucap Sasuke.
Naruto tampaknya tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia hanya mengangguk. Kemudian mereka berjalan memasuki kota tersebut. Untuk beberapa saat Sasuke berhenti dan mengedarkan pandangannya ke seluruh jalan.
"Aku harus bertanya." ucapnya pelan. Ia bertanya pada salah satu manusia yang lewat. Naruto memandangi mereka dengan bingung.
Sekitar semenit, Sasuke kembali menghampiri Naruto sambil tersenyum, suatu pemandangan yang langka. "Perpustakaan ada di sana. Ayo!" katanya.
Naruto semakin bingung dengan apa yang ada di dalam otak Sasuke. Ia terus memikirkan hal itu selama perjalanan menuju perpustakaan. Lalu ketika mereka berdua sampai di depan bangunan tersebut, matahari sudah condong ke Barat.
"Tunggu sebentar, Sasuke. Kau belum memberitahuku." cegah Naruto saat Sasuke sudah menaiki undakan tangga.
"Memberitahu apa?"
"Memberitahu alasan kenapa kita berdua berada di depan perpustakaan manusia yang terletak di kota kecil seperti ini!?" seru Naruto tak sabar.
Sasuke menutup matanya, berpikir. "Aku menemukan beberapa kejanggalan… Aku ingin memastikannya." Sasuke membuka kelopak matanya kembali.
"Kejanggalan apa?"
"Aku tak bisa memberitahumu dulu." jawab Sasuke. "Siapa tahu aku salah."
"Tapi kalau kau benar?" tanya Naruto.
"Pasti semua akan terungkap. Pasti. Di akhir nanti." Sasuke berbalik dan memasuki perpustakaan. Naruto mengikutinya dengan banyak pertanyaan berputar di kepalanya.
.
.
.
"Sasuke? Sebenarnya apa yang kau cari?" tanya Naruto. Sudah satu jam penuh mereka mencari di bagian koran-koran lama. Dan Sasuke belum mengatakan sepatah katapun.
"Bisa tolong bantu aku?" akhirnya Sasuke mendongak. "Carilah koran yang memuat berita kematian dari kota kecil di pinggir pantai yang tadi. Dekat rumah Ino."
Naruto mengangguk, dan mulai mencari di tumpukan koran yang belum disentuh Sasuke, sekitar beberapa menit kemudian, Naruto bertanya lagi. "Koran tahun berapa?"
"Dari rentang waktu 1 sampai 50 tahun yang lalu." jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang yang sedang dibacanya.
"Tapi banyak berita kematian di sini!" keluh Naruto. "Bagaimana aku tahu berita kematian mana yang kau cari?"
Sasuke tersenyum misterius. "Kau akan tahu, Naruto. Kau pasti akan menyadarinya." jawab pemuda itu.
.
.
.
Detik demi detik berlalu. Tanpa mereka sadari, matahari telah terbenam, dan bulan menggantikan posisinya di langit.
"Ahhh… Cukup." Naruto menghenyakkan diri di kursi.
"Kalau kau tak mau membantu tak apa." jawab Sasuke santai sambil terus berkonsentrasi pada korannya. "Aku masih punya sisa beberapa jam lagi. Untunglah aku bisa mempersingkat jam kerjaku sebagai Grim Reaper."
Naruto tak mengatakan apa-apa, ia hanya menatap jendela, terlihat bulan purnama yang menggantung rendah di langit yang kelam. Akhirnya Naruto menoleh lagi, tak sengaja pandangannya tertuju pada tumpukan koran yang lain. Ia menyernyit.
"Hei." Naruto berdiri dan melangkah menuju tumpukan koran itu. "Sasuke… ini… tapi tak mungkin…" Naruto bergumam pelan.
Tapi Sasuke yang mendengar perubahan suara pada Naruto langsung menghampirinya. "Ada apa?"
Atensi Sasuke sekarang tertuju pada koran itu, ia melongo. Naruto menatapnya. "Inikah berita yang kaucari?" tanya Naruto ragu-ragu.
Seringai muncul perlahan di wajah Sasuke. Ia menyambar koran itu dari tangan Naruto dan menaruhnya-membantingnya-ke meja.
"Ini dia!" suara Sasuke bergetar saking senangnya. "Ini buktinya! Dia tak bisa mengelak lagi!" Sasuke menyobek artikel berita 50 tahun lalu yang berjudul : 'Kematian Tradis Seorang Gadis Indigo' lalu memasukannya ke saku.
Sasuke menoleh cepat ke arah Naruto, ia sekarang terlihat marah. "Jangan beritahukan ini pada siapapun." desisnya galak. "Bersumpahlah."
Naruto menelan ludah, perubahan ekspresi Sasuke yang tiba-tiba itu membuatnya agak takut. "Aku bersumpah, demi jiwa adikku yang berada di surga."
Ekspresi Sasuke melunak, ia menoleh ke arah jendela. "Sudah malam rupanya." ucapnya. Tanpa disangka-sangka Sasuke melesat keluar dari ruangan. Naruto mengejarnya, tanpa menghiraukan seruan dari penjaga perpustakaan.
Sasuke melompati undakan tangga di depan lalu berhenti di tengah jalan yang sepi. Naruto berhenti di ambang pintu perpustakaan.
Sasuke menoleh singkat ke arah Naruto sebelum meloncat ke atas. Naruto buru-buru menuju jalanan dan mendongak ke atas.
Yang dilihatnya bukanlah Sasuke, tapi seorang Grim Reaper yang melayang di udara. Makhluk itu menatap Naruto lama dengan mata merahnya yang berpendar mengerikan. Akhirnya Grim Reaper tersebut terbang meninggalkan Naruto sendirian.
.
.
.
Ino yang berada di atas bukit sedang duduk memeluk lututnya. Gadis itu terlihat bosan, tapi jika diperhatikan baik-baik, sorot matanya terlihat sedih. Berkali-kali ia menghela napas.
"Ino." mendengar namanya disebut, Ino langsung menoleh ke belakang dan mendapati Naruto berdiri beberapa meter darinya.
"Darimana saja kau?" tanya Ino mencoba bersikap galak.
"Aku…" Naruto memkiran alasan yang tepat untuk diucapkannya, "Aku baru saja selesai berburu." dustanya.
"Oh?" Ino mengangkat sebelah alisnya, "Lama sekali."
Naruto menyeringai. "Sesekali mempermainkan mangsa buruan itu menyenangkan. Ia ketakutan setengah mati. Sebelum akhirnya mati beneran. Haha." ucap Naruto sambil duduk di sebelah Ino.
"Dasar." geram Ino sambil beringsut menjauhi Naruto.
"Kau sedang sedih." sahut Naruto tiba-tiba. Itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Ino terpaku di tempatnya.
"Huh. Memangnya kenapa?" gadis itu berusaha menutupi kesedihannya.
"Tidak. Tapi ekspresi wajahmu seperti aku. Saat memikirkan keluarga kita masing-masing." ucap Naruto, ia mendongak menatap langit.
Ino terlihat bingung untuk membalas ucapan Naruto. Maka dari itu, Naruto melanjutkan perkataannya. "Aku punya adik perempuan berumur 14 tahun. Aku berjanji tidak akan mati dalam perang. Tapi nyatanya aku memang mati."
"Tapi kau kan bangkit kembali."
"Ia baru berusia 14 tahun. Bukan usia yang cukup untuk menyadari bahwa kakak satu-satunya berubah menjadi vampir."
"Aku bersalah padanya. Tapi ketika aku memperlihatkan diriku pada saat-saat terakhirnya, ia sepertinya memaafkanku." lanjut Naruto.
Keheningan menyelimuti mereka, sebelum akhirnya Ino angkat bicara. "Kenapa adikmu meninggal?"
"Ia meninggal saat melahirkan bayinya. Itu sekitar 15 tahun setelah ia mengira aku meninggal. Tapi sampai sekarang aku tak bisa memaafkan diriku."
"Jangan merasa begitu bersalah. Aku juga punya masa lalu yang menyedihkan." ujar Ino.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Naruto.
Ino menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan kisahnya. "Dulu aku punya beberapa saudari, mereka juga penyihir." Ino mulai bercerita. "Aku juga punya kakak laki-laki."
"Waktu itu aku bertengkar dengan kakakku karena hal sepele. Aku kabur dari rumah. Sialnya, aku ditangkap. Saudari-saudariku juga ditangkap."
"Tapi aku melihat kakakku datang untuk membelaku. Ia bahkan tidak tahu kalau aku penyihir!" mata Ino berkaca-kaca mengingat masa lalunya.
"Sebelum aku dibakar, dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan kakakku terbunuh karena dituduh melindungi penyihir. Istri dan anaknya yang masih kecil juga dibunuh. Saat itu aku benar-benar kehilangan kendali dan membuat sebuah kutukan. Aku dibakar, tetapi masih bisa hidup kembali." Ino terisak. "Aku merasa sangat bersalah. Lagipula, anak itu baru saja terlahir ke dunia ini."
"Ino." Naruto merangkul Ino. "Jangan bersedih. Apapun yang telah kaulakukan, aku masih menyayangimu sebagai keluarga."
Deg!
Ino terpaku, ia merasa hatinya sangat sakit saat mendengar perkataan Naruto. Sebuah suara muncul di kepalanya beserta wajah seorang lelaki yang begitu disayanginya.
"Apapun yang kaulakukan, aku tetap menyayangimu."
"Adikku tersayang…"
"UWAAAAAA!"
Ino bangkit berdiri dan menjambak rambutnya sendiri. Air mata mengalir deras dari matanya. Jeritannya membelah keheningan malam. Ino yang shock terlihat seperti orang gila.
"JANGAN KATAKAN ITU!" Ino memekik lagi. "Jangan! Jangan pergi! Jangan pergi-"
Ino mendongak dan menatap Naruto yang terlihat panik. Sayangnya Ino terlalu shock hingga tidak bisa membedakan mana hal yang nyata dengan hal yang ada di pikirannya. Ia melihat bayangan kakakknya yang telah tiada.
"Maafkan aku!" Ino berlutut. "Maafkan aku, nii-san!"
"Ino." Naruto memeluk Ino dan menepuk-nepuk pundaknya. "Ini aku Naruto. Jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu. "
"Bohong!"
"Eh?" Naruto terkejut saat Ino menatapnya dengan marah.
"Kakakku dibunuh setelah mengatakan hal tadi! Pembohong!" Ino kembali menangis.
"Tegarkan hatimu, Ino. Jika yang kita lakukan ini berhasil, kau akan bertemu kakakmu lagi."
"Tapi itu artinya aku akan kehilanganmu." Ino yang sudah bisa mengontrol emosinya itu duduk di rerumputan, ia mengusap air matanya. "Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku."
Naruto terdiam, ia memandang Ino. "Itu pengorbananmu, Ino." Naruto tersenyum. Aku juga sudah menganggapmu sebagai adikmu." pemuda itu membaringkan dirinya dan menatap bulan purnama.
Ino tersenyum, ia meneteskan air mata lagi, air mata bahagia. "Terima kasih, Naruto."
.
.
.
Menjelang tengah malam, Hinata kembali dengan sekeranjang roti dan setermos susu coklat panas. Saat itu Ino bergelung di rerumputan di sebelah Naruto. Ia duduk dan menguap saat melihat Hinata datang.
"Darimana saja kau, Hinata?" tanya Naruto pada Hinata yang tampak kelelahan karena harus mendaki bukit tersebut.
"Aku bekerja." jawab Hinata sambil tersenyum. Ia mulai memakan salah satu roti Croissant yang ia bawa. "Kalian mau?"
Ino mengambil satu roti dari keranjang dan memakannya dengan wajah mengantuk, sementara Naruto hanya menggeleng.
"Ah, Sasuke! Kau juga mau?" Hinata menawarkan rotinya pada Sasuke yang baru saja mendarat tepat di sebelahnya. Sasuke menerima roti itu tanpa kata dan duduk di sebelah Ino. Setelah mereka kenyang makan dan minum, tepat saat tengah malam, Konan tiba-tiba muncul.
"Ayo. Kita ke kaki bukit." ucapnya singkat.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N : Masih butuh kritik dan saran. Arigatou^^
