Terima kasih untuk reviewnya.
Kuroko no Basuke and all identifiable characters and situations are created and owned by Fujimaki Tadatoshi. The author of the fan fiction does not, in any way, earn profit from the story and no copyright infringement is intended.
Sore itu seusai kelas yang terakhir, Furihata bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Semuanya tampak normal senormal biasa. Yang tidak normal adalah ketika ia berjumpa dengan Akashi di gerbang kampus. Karena letak gedung fakultas mereka berbeda, sejujurnya mereka sama sekali tidak pernah bertemu di luar kantin. Makanya ia bilang situasi ini tidak normal.
Ia berjalan mendekati pemuda itu. "Akashi?"
Sepasang manik merah yang indah menoleh menatap matanya. Sang pemilik tersenyum tipis. "Hei."
Ia balas tersenyum gugup. "Kenapa ada di sini?"
Di sekeliling mereka, ia bisa merasakan gadis-gadis berbisik-bisik. Nah kalau yang ini sangat normal. Ia selalu mengalami keadaan yang sama setiap kali berada di dekat Akashi. Sudah jadi rahasia umum kalau Akashi menempati peringkat pertama sebagai pria yang paling ingin dikencani oleh mahasiswi Universitas Tokyo.
"Menunggumu," jawab pemuda itu. "Ada waktu menemaniku sebentar?"
Ia mengerjap. Ingin pergi beli barang ya? Mungkin ke toko buku lagi. "Baiklah."
Mereka berjalan nyaris bersisian, tidak benar-benar bersisian karena sejujurnya Furihata agak minder berdiri di samping Akashi. Aura mereka terlalu berbeda. Kalau mau diibaratkan, Akashi itu keturunan kerajaan sedangkan dirinya hanya rakyat biasa.
Terlalu larut dalam pikiran, ia tidak sadar mereka sudah sampai di depan rumahnya.
"Eh? Rumahku? Kukira kau ingin ke toko buku."
Akashi tersenyum. "Ada yang ingin kuberikan padamu."
Alisnya terangkat. Awalnya ia hanya merasa aneh tapi perasaan aneh itu langsung berganti dengan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan saat melihat Akashi mengeluarkan sepasang gelang cantik berbentuk persegi panjang dengan rantai. Tampaknya seperti emas putih. Matanya melebar.
Sepasang gelang itu bentuknya saling melengkapi satu sama lain. Yang satu berukuran sedikit lebih besar dengan ruang kosong di tengah dan yang satu lagi berukuran lebih kecil dengan bentuk yang mengisi ruang kosong di gelang yang pertama.
Wajahnya memerah. "I-Itu untuk pasangan, kan? K-Kenapa diberikan padaku?"
Entah apa namanya ekspresi Akashi saat itu, namun yang Furihata tahu adalah ia tidak suka melihat Akashi berekspresi seperti itu. Seolah-olah sedang terluka.
"Ambil saja dua-duanya."
"Eh?"
Akashi menghela napas. "Tadi siang kelihatannya kau juga ingin punya sesuatu seperti ini. Jadi ambil saja dan berikan yang satunya pada siapapun yang kau inginkan."
Jantung Furihata memang sudah berdebar sejak menyadari itu gelang untuk pasangan, tapi rasanya setelah mendengar ucapan Akashi, debarannya terasa nyeri.
Ia menggigit bibir. Kenapa juga harus berpikiran macam-macam? Siapa yang bilang barang yang berpasangan hanya diperuntukkan untuk pasangan? Siapa juga yang bilang antara teman tidak bisa memakai barang yang sepasang?
Diraihnya gelang yang berukuran lebih besar. Pemuda itu menatapnya lekat, seakan mengawasi setiap gerakannya. Ia tersenyum saat mata mereka bertemu, memasang gelang itu pada pergelangan tangan Akashi yang tampak terkejut. Jemarinya agak gemetar, membuatnya mati-matian berharap Akashi tidak sadar. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Akashi.
"Boleh tolong pasangkan juga?"
Akashi sempat diam sesaat sebelum mengaitkan gelang satunya pada pergelangan tangan Furihata.
Pemuda dengan manik karamel itu mengangkat tangannya, senyumnya merekah. "Indah sekali."
"Ya, sangat indah." Furihata tidak tahu Akashi sedang menatapnya saat mengatakan itu.
"Terima kasih, Akashi."
Pemuda itu tampak ragu. "Kau suka?"
Ia mengangguk antusias. "Aku suka!"
Hari itu rasanya terlalu banyak ketidaknormalan yang terjadi. Dimulai dari Akashi yang menunggunya di gerbang kampus, lalu memberinya gelang pasangan yang indah, kemudian sekarang rasanya ia melihat wajah Akashi merona!
"Wajahmu… merah?"
Akashi mendelik. "Diam."
Rasanya Furihata ikut memanas. "T-Tapi kenapa?"
Pemuda itu tidak menjawab melainkan terus memelototi Furihata tajam-tajam, membuat pemuda bersurai karamel itu bergidik ngeri. Tentu saja Furihata tidak tahu bahwa Akashi salah tingkah karena Furihata bilang suka, meski Akashi tahu kata suka itu bukan untuk Akashi.
Pemuda bersurai merah itu menghela napas.
Ya sudahlah, biar saja suatu hari Furihata sadar sendiri.
Tentu saja seperti yang sudah bisa diperkirakan, teman-teman pelangi mereka heboh luar biasa saat menyadari Furihata dan Akashi mengenakan gelang pasangan. Bahkan orang-orang yang seharusnya tidak peduli pun tampak terperangah sesaat.
Berulang kali Furihata menjelaskan bahwa gelang itu hanya tanda persahabatannya dengan Akashi namun tidak ada satu pun yang percaya. Akashi sendiri tidak membenarkan bahwa itu gelang pasangan tapi tidak juga mengatakan itu bukan gelang pasangan, hanya tersenyum misterius yang membuat Furihata kelabakan. Untungnya para pemuda pelangi itu kebetulan ada kelas sesudah makan siang. Kalau tidak pasti lah Furihata akan digoda habis-habisan sampai mereka puas.
Furihata sendiri juga memiliki kelas. Ia tadinya berniat berjalan bersama Midorima karena toh kelas mereka sama namun karena Akashi yang tidak ada kelas berkata akan menemani Furihata, Midorima entah kenapa malah langsung mengambil langkah seribu.
"Midorima menjauhiku seperti virus," ucapnya dengan nada bingung yang kentara.
Akashi tersenyum tipis. "Dia hanya tidak mau mengganggu."
Si surai karamel menatap Akashi penuh tanya. "Memang berjalan denganku ke kelas akan mengganggu siapa?"
Manik merah Akashi berkilat. Pemuda di hadapannya ini benar polos atau bodoh? Ia sudah tergoda ingin bertanya pada Furihata apakah lelaki itu sadar kemarin-kemarin ia mengajak lelaki itu pacaran dan lelaki itu mengiyakan. Tapi kemudian ia melihat ada hal lain yang menarik perhatian Furihata.
Ia ikut menatap ke arah pandang lelaki itu, mendapati Aomine dan Kise sedang bertingkah seperti anak kecil yang baru jatuh cinta. Ia bergidik melihat bagaimana Kise memeluk pinggang Aomine dan tersenyum manis, bagaimana Aomine meraih jemari Kise dan mengaitkan tangan mereka dan balas menyeringai angkuh.
Rasanya Akashi akan muntah bila melihat lebih lama. Maka ia mengalihkan pandang pada Furihata. Matanya melebar. Pemuda itu sedang menatap jemarinya sendiri. Ada sesuatu yang bergejolak dalam diri Akashi melihat Furihata bertingkah demikian… manis? Apa kata yang tepat? Pemuda itu jelas ingin tahu seperti apa rasanya bergandengan tangan. Astaga, kalau bukan takut akan mengagetkan Furihata, sudah sejak lama ia melakukan kontak fisik dengan pemuda itu.
Sejujurnya benar ucapan Kise beberapa waktu lalu. Jika ada yang Furihata inginkan, pemuda itu cukup meminta dan Akashi akan mengabulkannya. Ia sama sekali tidak keberatan mengaitkan jemari mereka, bahkan melakukan yang lebih dari itu pun ia bersedia.
Akashi menggigit bibir. Kenapa pikirannya jadi mesum seperti Aomine? Salahkan Furihata yang terlalu menggoda iman.
"...Akashi?"
Ia mengerjap. "Ya?"
"Aku sudah sampai." Furihata terlihat geli. "Jarang sekali melihatmu tidak fokus."
Akashi nyaris salah tingkah. Ia memutar mata. Andai Furihata tahu siapa yang membuat ia tidak fokus. "Maaf, kalau begitu aku pulang dulu."
Furihata mengangguk kemudian melambai dan masuk ke gedung fakultasnya.
Akashi menatap punggung itu dalam diam. Tanpa sadar ia juga melirik jemarinya sendiri, berdecak sebal. Ah, rasanya ia jadi ingin menggandeng tangan Furihata.
Kalau tiba-tiba ia melakukannya, akankah pemuda itu menolak sentuhannya?
Pemikiran itu membuat Akashi uring-uringan sepanjang hari.
TBC.
Selasa depan mungkin nggak update dulu karena masih belum selesai ditulis. Tapi doakan saja bisa tetap update ya. ^^
Terima kasih telah membaca! ^^ *bows*
