Disc: Karakter by Masashi Kishimoto
Sum: Cinta, pengorbanan, dan dendam dapat terjadi. Dimana Sasuke anak yatim dan merupakan pelayan ramen mencintai seorang anak pengusaha kaya Namikaze Naruto. Mereka saling mencintai dan menjalani hubungan rahasia, sampai dimana hubungan itu terungkap. Akibat tidak direstuinya hubungan mereka, membuat salah satu diantara mereka meninggal dalam rumah yang mereka beli bersama. Rumah yang terlihat indah namun terasa seram, kelam, dan mencekam tak salah orang menanggapinya sebagai rumah berhantu. Ada desas-desus dimana orang yang memasuki rumah itu akan dikutuk oleh pemilik rumah yang sebelumnya mati terbunuh. Siapapun yang menginjak rumah itu akan mati sampai dendamnya terbalas.
Warning : OOC, typo, dll
Rate: M (khusus di bawah umur, harap lewati saja adegan yg tidak berkenan. Jika tetap membaca bagian itu, resiko ditanggung pembaca)
Ganre: Horor and Romance
Note: Cerita ini muncul dari mimpi Rin, seram tapi romantis ya meski Rin menambahkan cerita di beberapa bagian. Ada kala momen bahagia, so sweet, sedih, kecewa, kesal, marah, seram dll yang dapat digambarkan pada ff ini. Untuk peran pasangan dalam fanfic ini Sasuke dan Naruto, hanya saja author membebaskan kalian memilih gander nya bisa SasuFemNaru atau SasuNaru (itu suka" para pembaca dalam menghayal, Rin membebaskan pembaca untuk berfantasi). Ketakutan reader dalam membaca ff ini tidak ditanggung oleh Rin, jadi selamat membaca~
"Kesamaan kata atau kalimat atau cerita, lokasi dll itu murni karena unsur ketidaksengajaan, karena ff ini murni dari inspirasi Rin sendiri yang idenya mungkin sudah pasaran ^_^"
"Human talk" 'Human think'
"Ghost talk" 'Ghost think'
- Karakter by Masashi Kishimoto -
-happy-~(O0O)~-reading-
- Home Curse -
- Shizuka Kirarin -
Vol 4: Meet you
.
Naruto menatap pria berambut merah khawatir. "Gaara kau yakin?"
Gaara menatap Naruto penuh keyakinan. "Memang menyedihkan jika aku jauh darimu orang yang kucintai tapi aku juga tidak bisa melihatmu berlarut dalam kesedihan. Pergilah, pergilah ketempat dimana kebahagiaanmu berada. Tenanglah aku akan memastikan ayahmu tak mencarimu" Gaara tersenyum lembut setelah menyerahkan sebuah koper. "Ah.. ini pakailah kau pasti membutuhkannya, aku sudah mengatas namakanmu…" Gaara menyerahkan kartu ATM, tabungan bank, dan kartu Naruto.
Naruto menatap kartu tabungan dengan nama Karuto dan melihat nominal uang yang tertera disana. "Gaara ini terlalu banyak.." ucap Naruto tidak enak.
"Ambilah, anggap saja itu ucapan terimakasih dariku karena sudah menjadi pasangan hidupku walau hanya sementara"
Sebelah tangan Naruto mengelus wajah Gaara dengan sedih. "Maafkan aku"
Gaara tersenyum sedih, ia mengelus rambut pirang Naruto. "Hubungi aku jika kau memerlukan bantuanku" Naruto mengangguk lemah.
"Ah iya… ini" Naruto melepaskan cincin emas di jari manisnya sebagai saksi bisu pernikahannya dengan Gaara. "Aku kembalikan padamu, kau orang yang baik Gaara kuharap kelak kau menemukan pasangan hidup yang lebih baik dariku dan tentu kalian saling mencintai"
Gaara terdiam menatap cincin emas yang mirip dengan cincin yang melekat di jari manisnya, ia tersenyum dan mengembalikan cincin itu pada pemiliknya menuai tatapan bingung dari Naruto. "Semenjak pernikahan kita cincin itu sudah menjadi milikmu, juga sebagai bukti bahwa kita pernah bersama. Kuharap kau tak keberatan menyimpannya untukku" Naruto mengangguk singkat sambil tersenyum mengiyakan permintaan Gaara yang mungkin menjadi terakhir kalinya karena setelah ini mereka mungkin saja tak pernah bertemu lagi.
Naruto tersenyum dengan air mata haru keluar dari mata shapiernya. "Arigatou…" ujarnya lirih.
Gaara mengangguk singkat, ia tersenyum lirih. "Hati-hati dijalan.." ucapnya terakhir kali dengan lambaian tangan mengarah kearah Naruto yang mulai berjalan menjauh, lambaian tangan untuk mengatarkan kepergian mantan kekasihnya. "Sampai jumpa Naruto…
Selamat tinggal…. my love"
-~(O0O)~-
Naruto menatap kosong jendela kaca pesawat menampilkan pemandangan langit biru dan awan yang terbentang luas tanpa batas, perlahan tangan kanan Naruto mengarah kearah kalungnya yang barbandul cincin emas putih dan menatap ukiran halus bertuliskan sebuah nama di dalamnya 'Sasuke'. Lama Naruto terdiam memandang cincin itu sampai ia memutuskan melepaskan kalungnya dan mengeluarkan cincinnya tanpa sengaja ia melihat sebuah cincin yang tersemat di jari manis tangan kanannya, cincinnya bersama Gaara.
Naruto melepaskan cincin itu dari jarinya dan menggantinya dengan cincin pemberian Sasuke sedangkan cincin Gaara dijadikan bandul dari kalungnya, kini jari manisnya tersemat cincin Sasuke. Naruto menggenggam erat kalung berbandul cincin pernikahannya dengan Gaara. "Maaf Gaara untuk kali ini aku hanya milik Sasuke.." ucap Naruto dan memakai kembali kalung itu dan menyembunyikan bandulnya dibalik bajunya.
Naruto menuruni pesawat dan dengan sabar ia menunggu kopernya muncul di ban berjalan, dan langsung keluar bandara menuju kearah taxi yang masih kosong penumpang meminta supir taxi untuk mengantarnya ke apartemen dimana tempatnya tinggal bersama Sasuke dulu sebelum memutuskan untuk pindah.
Naruto menatap apartemen kecil Sasuke dari depan pinrtu yang terbuka lebar, dengan perlahan ia memasuki apartemen itu sembari membawa masuk kopernya lalu menutup pintunya. Tanpa kata Naruto memasuki apartemennya semakin dalam, ia menatap kearah ruang tamu yang terhubung dengan dapur, tata letak sofa ruang tamu masih sama hanya saja tidak ada tv besar menempel pada dinding. Tidak ada yang tersisa di apartemen, kosong tanpa satu barang apapun. Apartemen kecil dimana tempat untuk seseorang tinggal kemudian pergi, menunggu sampai datang orang baru untuk menyewa apartemen dan meninggalkan banyak kenangan di dalamnya. Kenangannya bersama Sasuke.
Tak terasa air mata menetes ketika sebuah kilasan bayangan dirinya dulu bersama Sasuke ketika tinggal di apartemen ini, tertawa bersama sambil menonton drama komedi dari kaset yang ia beli di pinggir jalan, makan bersama, bercanda dan bergurau. Naruto menyentuh dinding berwarna caramel hasil dari ia cat dengan susah payah bersama Sasuke. Ingatan kembali muncul di pikirannya, awalnya Sasuke ingin dindingnya berwarna gelap namun karena terkesan suram Naruto tak menyetujuinya dan meminta warna kuning cerah tentu saja Sasuke menolak baginya warna itu membuatnya silau dan berakhirlah pada pertengkaran kecil memperebutkan warna yang mereka sukai, mereka sering mempeributkan hal kecil dan berakhir menjadi pertengkaran tapi semua itu akan kembali menjadi gelak tawa, menertawakan alasan kebodohan dari pertengkaran mereka bahkan Naruto masih dapat mendengar suara gelak tawa di memori otaknya. Naruto tersenyum teringat ketika mereka tertawa heboh sampai ada tetangga yang menggedor pintu apartemennya karena terlalu berisik dan omelan panjang dari pemilik apartemen yang pusing melihat tingkah mereka yang kekanakan.
Masih dengan jari tangannya yang menyentuh dinding, kaki Naruto membawanya kesebuah kaca besar yang menghubungkannya dengan balkon tempatnya biasa memandang matahari terbenam sambil berharap Sasuke pulang cepat dan menemaninya.
"Sampai sekarang pun aku masih berharap hal yang sama Sasuke…" ucap Naruto lirih menatap matahari yang mulai tenggelam dari singgasananya dari balik kaca balkon yang tertutup.
-~(O0O)~-
Malam ini Naruto memutuskan untuk makan ramen di kedai dimana tempat Sasuke bekerja dulu sambil bernostalgia melepas rindu dan mengingat-ingat peristiwa manis yang pernah ia alami pada masa lalu bersama paman Teuchi pemilik dari kedai itu dan anaknya Ayame yang biasa ia ajak berbagi cerita dulu sekaligus memakan ramen yang paling ia rindukan. Naruto menatap kedai dihadapannya, bangunannya masih sama walau kecil tapi banyak orang yang rela mengantre lama hanya demi mencicipi semangkok ramen.
"Permisi anda tidak dalam antrean kedai? Jika tidak ingin ke kedai bisakah anda minggir agar saya bisa tetap pada barisan antrean" ucap orang yang di belakang Naruto. Naruto mengerjapkan matanya baru tersadar dari lamunannya, ia melihat jarak kosong cukup panjang dari antrean di depannya gara-gara melamun tadi ia sampai tak beranjak maju dan menyebabkan barisan di belakangnya ikut terdiam.
"Ah maaf, saya juga ingin makan ramen di kedai ini.." Naruto berkata tak enak, ia pun melangkah mendekati barisan didepannya sampai pada akhirnya ia mendapat bagian tempat duduk di pojok kedai yang jauh dari keributan pengunjung. Naruto pun mengangkat tangannya memanggil pelayan untuk memesan makanan. Lama menunggu pelayan akhirnya datang menghampirinya tanpa disangka Ayamelah yang menghampirinya, dengan cepat Naruto menurunkan topi yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya agar tak dikenali wanita itu. Ia belum siap berbicara langsung dengan Ayame setelah sekian lama tak bertemu lagipula sebelumnya ia tak berpamitan saat meninggalkan kota ini pada mereka dan ia juga belum siap bercerita banyak hal mengenai hidupnya yang pelik saat ini.
"Maaf telah membuat anda menunggu" ucap Ayame merasa tak enak, masih dengan kepala yang menunduk Naruto menganggukkan kepalanya memaklumi, Ayame tersenyum dan mempersiapkan alat tulis untuk mencatat pesanan. "Apa ada yang ingin anda pesan?"
"Hmm… aku ingin memesan lima mangkok ramen ukuran jumbo dengan ekstra naruto, menma, dan juga tomat didalamnya" ucap Naruto menuai tatapan heran dan juga terkejut dari Ayame.
"Apa anda yakin dengan pesanannya?" tanya Ayame merasa tak yakin pelanggannya ini bisa menghabisi pesanannya.
Naruto mengerutkan kedua alisnya. "Apa ada yang salah?" Ayame menggeleng salah tingkah. "Ah aku juga pesan segelas es jeruk manis" Ayame mengangguk mengerti sambil mencatat pesanan Naruto tak lupa ia membaca kembali pesanan itu dan kembali ke tempatnya untuk menyerahkan pesanan itu pada koki yang merupakan ayah Ayame sendiri.
"Maaf menunggu lama, silahkan menikmati hidangan anda.." ucap Ayame tersenyum sumringah menyerahkan pesanan Naruto. Mata Naruto berbinar haru sudah lama ia tak makan ramen favoritnya ini dengan tidak sabar ia menyeruput ramen itu dan pada akhirnya ia tersedak. Matanya memerah dan berair, tenggorokannya serta hidungnya terasa terbakar perih. Naruto terbatuk hebat. "Astaga! Ce-cepat minum ini" dengan panik Ayame menyerahkan es jeruk itu. Naruto mengambilnya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Ayame lalu meminum minumannya.
"K-kau ba-baik saja kan?" tanya Ayame khawatir.
Naruto mengangguk lemah. "Arigatou.." ucapnya dengan suara serak.
"Ah syukurlah…" Ayame terduduk lemas dihadapan Naruto. "Aku kaget sekali tadi…" walaupun wajah Naruto tertutupi topi namun Ayame masih bisa melihat senyum tak enak mampir di bibir cherry serta gumaman permintaan maaf dari Naruto. "Aku pertama kali melihatmu, hei apa kau baru saja tinggal di daerah sini?"
Naruto mengangguk. "Ya aku baru saja pindah ke apartemen xxx no 305"
"Eeh kau tinggal disana?" ucap Ayame terkejut. "Waah sebelumnya temanku juga tinggal disana tapi entahlah kemana ia sekarang kurasa ia sudah menikah, kuharap ia bahagia dimanapun ia berada" Ayame tampak merenung, Naruto tahu pasti siapa yang diceritakan oleh Ayame. Ayame menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikirannya dari temannya itu. "Lalu kau tahu darimana kedai ini? kau tidak keberatan kan aku berbincang sebentar denganmu" ucap Ayame, entah ia merasa tak asing berbincang dengan orang yang tidak dikenalnya ini.
Naruto tersenyum merasa tak keberatan dengan keinginan Ayame. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar lalu menemukan kedai ini. Antreannya sangat panjang kupikir makanan disini enak kebetulan juga aku sedang lapar jadi kuputuskan untuk makan disini dan memesan banyak takut aku tak bisa nambah"
"Hahaha kau lucu sekali" Ayame tertawa mendengarnya. "Kalau kau memesan banyak seharusnya kau memesan makanan yang berbeda agar kau bisa mencicipi menu yang lain"
Naruto tersenyum. "Tidak… aku hanya sedang ingin memakan ramen dengan isian naruto, menma dan tomat, itu membuatku teringat akan seseorang" Ayame menatap ramen yang ada dihadapannya ia jadi ingat juga temannya Naruto selalu memesan menu yang sama seperti dipesan oleh orang ini.
"Yah.. temanku Naruto juga sering memesan menu yang sama sepertimu" dibalik topinya Naruto terkejut mendengar perkataan Ayame, apa Ayame akan menyadarinya? "Alasannya sama sepertimu, katanya ramen ini membuatnya teringat dengan dirinya dan kekasihnya Sasuke yang menyukai tomat dan Menma.. nama dari calon anak mereka karena itu ia sangat menyukai menu ini. Haah.. aku kangen sekali padanya, dia jail dan gampang disukai orang disekelilingnya tak heran semua pelangganku mengenalnya. Aku yakin mereka juga merindukannya"
Naruto menatap sendu mangkuk ramennya. "Ya, aku juga merindukan kalian semua" ucapnya lirih.
Ayame menatap heran kearah Naruto. "Huh? kau mengatakan sesuatu?"
Naruto menggeleng pelan. "Kurasa orang yang bernama Naruto itu juga merindukan kalian"
Ayame tertawa senang. "Tentu saja! Dia kan paling suka ramen buatan ayahku, aku yakin dia pasti tak tahan mencicipi ramen ini lagi"
"Ya kurasa begitu" ucap Naruto ikut tertawa bersama Ayame.
Ayame menghentikan tawanya. Ia menatap seorang dihadapannya. "Oh ya namaku Ayame, senang bisa berkenalan denganmu"
Naruto tersenyum membalas uluran tangan Ayame. "Karuto, senang bisa berjumpa denganmu"
-~(O0O)~-
"Berhenti paman." Naruto membayar tagihan taxinya pada sopir. "Makasi paman, kembaliannya buat paman saja"
"Makasih nak.. hati-hati di jalan…" ucap bapak-bapak yang memiliki beberapa uban di rambutnya, sopir taxi itu.
Naruto tersenyum. "Paman juga hati-hati dijalan" lalu membuka pintu dan keluar dari taxi, ia melambaikan tangannya pada sang sopir yang ramah dan baik itu, memandangnya sampai taxi itu sudah berlalu menjauh darinya. Naruto pun berjalan sedikit untuk mencapai pintu gerbang sambil membawa kopernya dan sebuah tas gendong.
Ia memandang dari luar pintu gerbang dimana terdapat bangunan mension besar beberapa meter didepannya, kini ia berada pada mension dimana Sasuke jadikan hadiah untuk pernikahan mereka. Tanpa sepengetahuan ayah, Itachi yang merupakan kakak Sasuke memintanya bertemu beberapa hari setelah pemakaman. Ia memberiahukan banyak hal menyangkut Sasuke, awalnya aku tak percaya bahwa Sasuke merupakan saudara Itachi Uchiha yang ia kenal tersohor. Namun setelah dijelaskan dan memperlihatkan beberapa bukti bahwa mereka memang saudara membuatku percaya pada Itachi apalagi wajah Itachi mirip dengan Sasuke. Itachi juga yang memberitahu perihal mension ini. Naruto sangat bersyukur Gaara mau bercerai dengannya dan membiarkannya pergi sehingga ia bisa membeli mension ini di tempat pelelangan yang dibantu oleh Itachi dan memutuskan untuk tinggal disini selama sisa hidupnya.
Ya, Ia dan Gaara menikah akibat paksaan dari Minato beberapa minggu setelah Sasuke meninggal. Sejujurnya ia tak ingin menikah lagi. Ia tak mau! Tapi ia juga kasihan pada Gaara yang berharap lebih. Naruto tak tega menyakiti sahabat karibnya, jadi ia menerima pernikahan itu dengan sangat terpaksa walau begitu ketika ia sudah menikah dengan Gaara, Naruto tidak bisa bersikap seperti layaknya pasangan lainnya. Ia hanya terdiam dan melakukan pekerjaan rumah apapun itu dan jarang mengobrol, ia akan berbicara jika ia diajak berbicara selebihnya tidak. Ia terlalu sibuk merindukan masa-masa ia bersama dengan Sasuke. Naruto belum siap berpisah dengan Sasuke, baginya Sasukelah sumber kehidupannya, sumber kekuatannya, dan sumber kebahagiannya. Hanya Sasuke ia merasanya nyaman dan aman, katakanlah jika ia terlalu hiperbola tapi memang itulah yang ia rasakan.
Mension ini cukup jauh dari wilayah perkotaan jadi keadaan disini tidak terlalu ramai, Naruto menatap pintu gerbang yang terdapat gembok besar didalamnya. Naruto pun merogoh saku celana dan mencoba membuka gembok itu.
Kriiieeet~ suara engsel pintu gerbang terdengar cukup nyaring. Jujur saja suara itu sedikit membuat Naruto merinding, coba saja kau bayangkan di tempat sunyi dan tidak ada satu orang pun yang berlalu lalang walau matahari masih bersinar terik seolah-olah hanya dirimu sendiri yang hidup disana. Belum lagi jika kau disuruh tinggal ditempat besar, luas, asing dan hanya seorang diri, bagaimana perasaanmu? Baru memasuki perkarangan saja rasanya sudah seperti diawasi oleh seseorang dan saat ini Naruto merasakan hal itu dengan nyata seperti pada film-film horror yang paling ia benci.
"Haaah…." Naruto menghembuskan nafasnya keras-keras, menenangkan dirinya sekaligus memberikan semangat pada dirinya sendiri yang merasa terlalu tegang karena takut-ups ia tidak ingin mengakui jika ia sedang takut saat ini. Naruto menegukkan ludahnya kasar ketika ia menatap bangunan besar dan menjulang tinggi beberapa langkah dihadapannya. Naruto menggeleng keras karenanya. 'Tidak! Aku tak boleh takut! Bagaimanapun tempat ini milik Sasuke. Sasuke pasti akan melindungiku!' ucap Naruto dalam hati dengan lantang, ia pun memantapkan hatinya melangkah masuk semakin dalam mengenyahkan perasaan ganjil seperti diawasi yang sebenarnya memang ia sedang di awasi oleh sesosok pria yang bersembunyi di balik bayang-bayang.
"Naruto…"
"Wah.." Naruto ternganga ketika masuk kedalam mension, cukup kagum juga karena mension ini sudah tertata apik perabotan yang lengkap. Naruto hanya perlu membersihkannya sedikit, menyimpan bajunya di lemari, dan membeli beberapa bahan masakan dan kebutuhan lainnya. "Yos! Semangat Naru!" Naruto mengepalkan tangannya berapi-api bersiap untuk bersih-bersih. Naruto menjepit poni rambutnya yang sudah panjang. "Hm.. pertama-tama harus cari alat bersih-bersih. Ada tidak ya?" Naruto menoleh kearah kesekelilingnya dan mencari-cari setiap ruangan barangkali ada sapu atau kemoceng tapi lebih bagus jika ada penyedot debu.
Naruto membuka sebuah lemari kayu besar yang terletak di bawah tangga, dan benar ada beberapa alat kebersihan di dalamnya dan beberapa perabotan yang tak terpakai seperti aksesoris natal beserta pohon natal berukuran sedang, pelampung, dan beberapa lukisan. "Wah lengkap sekali, kalau begini aku tak perlu mengeluarkan banyak dana untuk perlengkapan musim panas dan natal" Naruto tersenyum senang menatap assesoris natal yang menurutnya lucu-lucu tak lupa ia melihat lukisan yang ada di dalam lemari itu. Ketika ia akan mengambil lukisan yang lainnya tatapannya jatuh kepada bingkai foto berukuran besar yang terletak di paling bawah pada tumpukan lukisan itu karena penasaran Naruto mengambilnya dan membersihkan kaca bingkai yang berdebu menggunakan kemoceng. Betapa terkejutnya Naruto ketika melihat foto pada bingkai itu. Itu foto selfinya bersama Sasuke ketika Naruto dilamar di taman bermain dulu.
"Sasuke.." mata Naruto berkaca-kaca dipeluknya bingkai foto itu dengan erat, dengan perlahan Naruto bangun dari duduknya sambil menatap sekelilingnya kemudian Naruto berjalan pada tengah-tengah ruang tamu dan memutuskan menggantung bingkai itu di tembok. Naruto tersenyum menatap bingkai foto yang sudah terpasang rapi di tembok. Ia mengelus foto yang terdapat wajah Sasuke.
"Ne.. teme, aku akan tinggal di sini. Dirumah yang kau beli untuk hadiah pernikahan kita, kak Itachi yang memberitahukannya padaku. Aku tak menyangka rumahnya akan sebesar ini" ucap Naruto sambil tersenyum tipis berbicara pada foto Sasuke seolah-olah ia memang sedang berbicara dengan orangnya langsung, setetes air mata jatuh menuruni pipinya. "Bagaimana ini? kau benar-benar orang yang berengsek ya teme, kalau kau memang harus pergi. Kau tidak perlu membeli rumah sebesar ini, kau tak memikirkan perasaanku yang tinggal sendirian disini? Aku kesepian teme…" Naruto mengerjapkan matanya yang telah banjir dengan air matanya sendiri.
"Aku juga merindukanmu.. sangat" Naruto menggigit bibirnya mencegah suara isakan keluar dari mulutnya. "Kuharap kau bahagia disana bersama Menma… aku mencintaimu" dan dengan akhir perkataan itu Naruto mengecup foto Sasuke dan berlalu pergi meninggalkan bingkai itu.
Sosok pria jakung keluar dari persembunyiannya, ia menatap sedih Naruto yang sudah berjalan menjauh darinya. "Tenanglah Naruto, mulai sekarang aku akan selalu ada bersamamu dan melindungimu.." ujar sosok itu kemudian menghilang kembali.
-~(O0O)~-
Naruto membawa semua belanjaannya ke meja kasir, saat ini ia ada di torseba yang cukup jauh dari kediamannya kini setelah selesai membersihkan seluruh ruangan mension untuk memenuhi kebutuhan dapur.
"Are? Aku baru pertama kali melihatmu nak.. kau baru tinggal disini?" tanya ibu-ibu itu ramah sambil memasukkan belanjaan Naruto kedalam kresek berukuran besar.
"Ah? Iya saya baru saja tinggal disini. Perkenalkan saya Karuto" ucap Naruto.
"Araa.. Karuto-kun manis sekali ya, rumah mu dimana nak?"
"Ano, itu di mension…" ujar Naruto, tanpa menjelaskan secara rinci lokasinya Naruto yakin ibu ini tahu dimana letak mension itu karena hanya ada satu mension di daerah ini. Naruto menatap heran wajah ibu itu yang mendadak terkesiap terkejut bahkan orang-orang yang menganterai di belakangnya untuk membayar juga ikut terkesiap.
"Maksudmu mension yang dilelang itu kau yang membelinya sekarang?" laki-laki remaja di belakangnya bertanya gugup.
"Iya…" jawabnya yang mengundang banyak pasang mata menatap kearahnya. Wajah mereka rata-rata menjadi pucat, bahkan ada beberapa yang berbisik. "Ano.. kalau boleh tau ada apa ya?" tanya Naruto penasaran.
Mereka pun memandang Naruto bersamaan, wajah mereka nampak ragu untuk menjelaskan. "Nak.. apa kau tinggal dimension itu hanya sendiri?" Naruto mengangguk mengiyakan. "Apa kau merasakan sesuatu hal aneh disana?" tanyanya lagi.
Naruto menggeleng. "Tidak semua baik-baik saja, memang ada apa?"
Mereka saling menatap satu sama lain. "Begini nak, kami sebenarnya tidak berniat untuk menakutimu hanya saja.. hanya saja sebelum kamu yang tinggal disana ada orang asing yang dinyatakan meninggal disana, entah kami tidak tau sebab kenapa ia bisa meninggal yang jelas orang asing itu ditemukan sudah tak bernyawa dengan tubuh tercabik-cabik. Polisi menyatakan bahwa pria asing itu meninggal karena hewan buas"
"Hewan buas? Tapi aku tak menemukan hewan buas apapun disana" ujar Naruto heran.
"Benarkah? Kami juga tak tahu benar atau tidaknya hewan buas itu karena tidak ada yang berani memasuki kawasan mension itu termasuk polisi sekalipun, rumor mengatakan jika roh pemilik asli mension itu tidak menyukai rumahnya dihuni orang lain lalu mengutuk siapapun yang tinggal disana agar mati secara mengenaskan"
Entah Naruto harus merespon bagaimana dengan cerita warga di torseba tadi mengenai mension yang dihuninya kini. Mereka mengatakan roh pemilik asli mengutuk siapapun yang menghuni mension, tapi bukannya sebelum Sasuke mension itu milik Itachi? Jelas-jelas Itachi masih hidup jadi tak mungkin roh Itachi bergentayangan bukan? Atau mungkin…
"Permisi tuan.. anda baik-baik saja?" pemikiran Naruto berhenti tat kala melihat seorang pria yang terduduk di depan mensionnya. Pria itu duduk membungkuk dan mengenakan jubah hitam sehingga Naruto tak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, jubah itu juga sudah basah terkena guyuran air hujan yang deras. "Tuan? Anda baik-baik saja kan? Anda sendiri disini?" tanya Naruto khawatir, ia menatap sekelilingnya mencari keberadaan kerabat pria ini.
Karena tak menemukan siapapun selain dirinya. Naruto pun berjongkok dihadapan pria itu sambil memayungi mereka berdua. "Tuan, bagaimana jika anda masuk kerumah saya dulu sambil menunggu kerabat anda. Diluar sini cuacanya sedang tidak baik" ujar Naruto. Naruto melihat pria itu mengangguk pelan, Naruto tersenyum dan membantu pria yang masih menundukkan kepalanya itu untuk berdiri dan menggiringnya kedalam rumah tanpa melihat bibir pria itu menyeringai kearahnya.
TBC
.
Yattaaa! Akhirnya selesai juga… bagaimana menurut kalian?
Makasi ya bagi review, fav, follow cerita ini.. semoga kalian menikmati episode ini..
Karena sekarang Rin sedang mengantuk jadi Rin tidak bisa lama-lama jadi…
Sampai jumpa di episode selanjutnya ya (^_~)
Akhir kata Rin ucapkan
Review Please
Salam manis,
Shizuka Kirarin
14/03/18,22:06
