Back again!

Mumpung waktunya ada, jadi publish sekaligus dari chapter 1-4. Jelek bagus masalah nanti, wakakak. Jgn lupa R&R lhoo.. Aku sangat butuh itu!

"Chapter 4"

Genre : Romance/Comfort

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

WARNING! : OOC, gaje, alur cepat, AU, miss-typo, OC, abal & laennya

Summary : Sakura, seorang gadis yang mempunyai kepribadian di tempat yang berbeda tak bisa hidup mandiri di saat kedua orang tuanya harus bekerja di luar negeri. Akhirnya dua orang pemuda dipekerjakan orang tua Sakura, yaitu Naruto dan Sasuke. Dan terjadi konflik dengan senior nomor satu di Konoha High School, Kiba Inuzuka, sekaligus kekasih Sakura. NaruSaku, SasuSaku, KibaSaku/ R&R?

Saya persembahkan chapter 4 ini untuk para readers yang setia membaca dari chapter 1-3... Hehe ^^ *nggak berarti maksa baca dari ch.1* Hanya aja, mana seru coba kalo kita baca langsung chapter 4 tanpa tahu apa-apa yang sebelumnya? o.O
Kiba akan berkonflik dengan Sakura! Dan kedua pengawal Sakura akan... rahasia donk! Not at all! I don't care what you say…

'Don't like, don't read, don't blame!'

~Chapter 4~

.

FFn(My-Butler)FFn

.

.

.

Hari itu, tepatnya saat waktu pulang sekolah tiba, Sasuke dan Naruto telah berdiri menunggu Sakura. Mereka takut melanggar, ya... seperti kemarin, justru kemarin Sakura yang menunggu mereka. Namun, sepuluh menit telah berlalu, Sakura tak juga keluar. Kalau disusul ke kelasnya.. bisa-bisa Sakura malah keluar lewat sisi lain.

Dari tadi, yang lewat hanya siswa-siswi Konoha High School. Naruto dan Sasuke kerepotan karena kebanyakan siswi yang lewat adalah fans mereka yang sekaligus minta tanda tangan dan foto bareng. Tentu saja mereka melayaninya. Meskipun Sasuke nggak ikhlas memberikannya.

Setelah lima menit berlalu, tepatnya lima belas menit kemudian, munculah tiga gadis yang sedang tertawa ria-tapi, kali ini tanpa kehadiran ketua gank mereka.

Spontan, Naruto menghadang jalan dan ketiga gadis itu terdiam sambil menghentikan tawa.

Naruto menenangkan diri agar tak dianggap pencopet, meskipun sebenarnya Ino sudah tau itu dan tak mungkin. Naruto mengangkat sebelah alisnya, melihat Sakura tak ada diantara mereka. "Eh? Sakura mana? Dia nggak bersama kalian, ya?" tanyanya.

"Tentu saja Sakura nggak bersama kami! Jelas-jelas kau lihat ada Sakura apa tidak di antara kami," jawab Ino enteng.

"Lalu, Sakura di mana sekarang?" tanya Naruto tanpa berbasa-basi.

"Tadi katanya mau menyusul kami. Kami juga nggak tau dia di mana. Sakura aneh hari ini, ya 'kan teman-teman?" ujar Ino.

"Iya, Sakura seperti punya masalah, tapi tak mau memberitahunya pada kami. Biasanya pasti selalu diberitahu, apalagi pada Ino," sambung Tenten.

"Jadi, Sakura masih ada di dalam?" kata Naruto sambil mengerutkan dahinya. Sekarang, ia terpikir 'apa sih, masalah Sakura? Cewek begitu... punya masalah juga. Kupikir dia terbuka dan tak sulit menghadapi masalah apa pun,' Naruto yang bengong pun ditegur Ino.

"Kalian 'kan pengawalnya... jadi, tolong hibur Sakura ya! Soalnya aku sudah gagal. Biasanya dia cepat terhibur oleh kami," Ino dan yang lainnya pun berlalu.

"Kita harus mencari Sakura," ucap Sasuke.

"Ya!" seru Naruto. Mereka pun berlari, kembali memasuki halaman sekolah. Tiap koridor, ruang, dan yang lainnya mereka hampiri. Tapi, tak ada satu pun tanda keberadaan Sakura. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berpencar.

Naruto yang mulai terpikir sesuatu pun menghampiri tempat loker para siswa laki-laki. Siapa tahu 'kan Sakura ke sana? Saat Naruto hampir memasuki koridor loker, memang di sanalah Sakura sekarang berada. Tapi, Naruto mundur perlahan dan bersembunyi di balik sudut. Di samping Sakura sekarang adalah Kiba, kekasihnya.

Naruto menguping pembicaraan mereka, meskipun ucapannya terkadang kurang jelas. 'Mereka sedang membicarakan apa, sih?' pikir Naruto.

"Iya! Aku tak mungkin membiarkan gadis ini mengirim surat semacam ini kepadamu!" terdengar suara Sakura yang sedikit keras.

"Tapi dia hanya fansku, Sakura. Kau tahu 'kan kalau aku hanya mencintaimu?" balas Kiba enteng. Suaranya terdengar tenang dan sama sekali tak panik. Sedangkan Sakura begitu terdengar emosi.

"Lama kelamaan pikiranmu pasti berubah, Kiba-kun," kata Sakura. Kali ini ia memelankan suaranya. Naruto sedikit menggeser tubuhnya, mengatur jarak karena pembicaraan itu terdengar semakin kecil.

"Kalau aku seperti itu, berarti aku tak mencintaimu," ujar Kiba. Tiba-tiba ia memeluk Sakura. "Kau harus percaya padaku kalau kau juga mencintaiku." Namun, Sakura dengan cepat menggenggam lengan Kiba yang melingkari pinggangnya dan menyingkirkannya dengan kasar.

Sakura melihat wajah Kiba dengan serius. "Sudahlah. Lebih baik kita putus saja!"

Sakura membalikkan tubuhnya dengan cepat, namun saat kakinya baru saja sekali melangkah, tangan kokoh Kiba menarik lengannya. "Kenapa tiba-tiba mengambil tindakan ceroboh!?" ketus Kiba pada Sakura.

Ekspresi Sakura sama sekali tak kecewa, marah, atau pun sedih, bahagia apalagi. Yang ia tunjukkan hanyalah wajah tanpa ekspresi dan menyeramkan. "Aku sudah muak. Cintamu nggak tulus, kamu selalu menghabiskan waktu untuk melayani satu fansmu itu. Fanatik atau nggak, bukan alasan yang tepat untuk selingkuh," tuturnya sambil melepas genggaman Kiba. Ia pun berlalu dari situ.

"Kecemburuanmu sudah keterlaluan, Sakura! Kamu juga nggak mencintaiku!" seru Kiba. Namun apa reaksi Sakura? Nihil. Sakura tidak menggubris ucapan itu. Ia hanya berlalu tanpa kata, meskipun kini air mata mengalir di pipinya.

Naruto mendadak kaget ketika Sakura melewatinya. Ia tak sempat menjauh dari situ karena tak mau melewatkan sedikit pun pembicaraan mereka. Tetapi, Sakura terus menunduk sehingga keberadaan Naruto tak disadarinya. Naruto menghela napas tanda leganya.

Saat Sakura tiba di depan gerbang, Naruto berpura-pura baru muncul dengan alasan mencarinya. "Hey, Sakura! Kau kemana saja? Aku dan Sasuke mencarimu dari tadi!" seru Naruto ceria. Walaupun ia tahu keadaan hati Sakura sedang tersakiti. Entahlah. Naruto tidak mengerti sebenarnya. Rupanya masalah Sakura adalah kekasihnya sendiri.

Naruto menundukkan tubuhnya, ia berusaha melihat wajah Sakura yang terus tertunduk dari tadi. Meskipun dugaan Naruto adalah 'Sakura menangis' tapi tak ada suara tangisan. "Sakura... kau tidak apa-apa 'kan?"

"Antar aku pulang," jawab Sakura singkat. Ia berjalan menuju mobil pribadinya. Naruto tetap berdiri di tempat sambil memandang Sakura yang berjalan tergontai-gontai. Naruto merasa iba melihatnya. 'Cuma gara-gara pria?' batin Naruto. Sasuke tiba-tiba saja muncul dengan santai, dan Sasuke langsung tahu kalau Sakura sudah berada di dalam mobil.

FFn(My-Butler)FFn

Setibanya di rumah, lagi-lagi tak seperti biasanya. Tanpa suara sedikit pun, Sakura segera menuju kamarnya. Bahkan saat ditanya Bibi Noris, ia tidak menjawab sedikit pun. Naruto yang berniat merahasiakan apa yang ia dengar pun harus tutup mulut sementara waktu. Sementara? Ya, mungkin saja nanti tak ada yang perlu dirahasiakan.

Naruto dan Sasuke kini berada di taman-sesuai jadwal. Mereka membersihkan taman. Disela-sela pekerjaan, tentu saja mereka tidak melewatkan untuk mengobrol.

"Teme.." tegur Naruto ketika Sasuke sedang sibuk menyapu dedaunan kering yang jatuh. Sebetulnya Sasuke tak mau menoleh, namun mendengar suara Naruto yang agak serius, ia pun menoleh. "Sakura aneh. Kata-kata Ino memang benar. Apa dia punya masalah?" lanjutnya.

"Sejak pagi Sakura memang sudah aneh. Kenapa tanya padaku? Kenapa tidak bertanya pada temannya itu saja?" saran Sasuke sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Tapi..." Naruto berhenti menyapu. "Temannya juga nggak tahu masalah Sakura apa." Ia mendekat pada Sasuke dan berbisik padanya.

Ssst. Ssstt.

"Apa!?" respon Sasuke. Ia sama sekali tak begitu percaya. "Jangan bohong, Naruto."

"Tadinya niatku memang merahasiakan ini, tapi rasanya aneh kalau aku menyimpan rahasia darimu, Teme," balas Naruto memercayakan ucapannya.

"Jadi, kau mau berbuat apa?" tanya Sasuke. "Kalau itu benar, Kiba akan kembali berkumpul dengan Shikamaru cs 'kan?" sambungnya.

"Eh, iya juga ya! Aku nggak memikirkan itu. Tapi kasihan Sakura, kalau setiap hari dia seperti itu, malah terasa aneh," kata Naruto sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. "Tapi sepertinya nggak, Kiba bakal bergerak secara individu tanpa berniat kembali ke gengnya. Dari yang kudengar tadi, karena nggak terlalu kumengerti, sepertinya Kiba bakal pacaran sama fans fanatiknya itu."

Sasuke menyeringai tipis. "Huh, Dobe, kau tidak boleh asal bicara kalau hanya mendengar segitu saja."

"Aku yakin! Pembicaraannya memang sudah setengah, tapi aku langsung mengerti kok,"

BLETAKK

Sasuke menjitak kepala Naruto. "Ehh.. apa salahku, Teme!? Sakit, tahu!" ringis Naruto sambil memegang kepalanya yang dijitak Sasuke.

"Tanya saja pada Sakura langsung. Sana, biar kubersihkan taman ini. Lagi pula, orang tua Sakura akan pulang sebulan lagi, kita harus menghibur Sakura." Sasuke merebut sapu yang sedang dipegang Naruto, dan Naruto pun cengengesan sambil melambaikan tangannya dari situ. "Semoga sukses, Dobe," lanjutnya.

"Makasih, ya, Teme!" seru Naruto.

-Naruto POV-

Aku harus berusaha menghibur Sakura! Sejujurnya.. aku lebih suka dia usil tapi 'ceria' walaupun sifat itu disembunyikannya daripada diam murung seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa mengubah sifatnya kalau sejak sekarang aku nggak bisa membantu masalahnya? Huh.. Padahal saat aku emosi saat Sakura nggak meminta nomor ponselku saat dia meminta nomor ponsel Sasuke, aku pernah bilang nggak akan mengasihani Sakura kalau putus dengan Kiba. Ternyata aku cukup iba melihat Sakura tadi.

Niatku tak cuma sekedar ucapan meski hanya di hatiku saja.. Aku mau mengubah sifatnya. Karena sayang gadis beruntung seperti dia bersifat menjengkelkan. Yah... meskipun niatku nggak diketahui siapa pun.

Aku memasuki koridor lantai dua menuju kamarnya. Awalnya, aku pikir langkah pertama adalah mengetuk pintu kamarnya. Eh... tapi tiba-tiba aku segera mengurungkan hal itu. Kenapa? Terdengar isakan tangis dari dalam kamar Sakura.. Tidak salah lagi, dari suaranya.. itu suara Sakura. Tapi, aku harus berani!

-End of Naruto POV-

Tok tok tok.

Ketukan pintu yang halus menghentikan isakan tangis Sakura. Sakura berniat diam sebelum orang yang mengetuk pintu mengeluarkan suaranya.

"Aku boleh masuk, nggak?" tanya Naruto dengan suara yang agak lembut.

"Ya." jawab Sakura singkat.

Sakura semudah itu mempersilahkan seseorang masuk ke kamarnya-Naruto sempat tak menduga. Naruto menutup pintu sedikit demi sedikit, kemudian ia melangkah mendekati Sakura yang sedang duduk di tengah-tengah tempat tidurnya. Kepala Sakura tertunduk, kedua lututnya ia tekuk dan ia lingkarkan kedua tangannya. Tentu saja siapa pun mudah mengerti kondisi seperti ini.

"Kau.. tak apa-apa, 'kan?" tanya Naruto sambil duduk di ujung tempat tidur.

Hiks.. hiks...

Justru tangisan Sakura kembali terdengar oleh pertanyaan Naruto barusan. Naruto tak punya ide di saat seperti itu; otaknya tiba-tiba tersumbat begitu melihat seorang gadis menangis-yang membuat jati dirinya hilang sekejap. "Kau punya masalah, ya? Katakan saja padaku. Aku pendengar yang baik kok," hanya kata-kata itu yang terlintas di pikiran Naruto.

Namun, Sakura hanya menggeleng.

"Lalu kenapa kau menangis? Menangis pasti punya alasan, kan?" Naruto berusaha membuka mulut Sakura, untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Tidak," jawab Sakura singkat.

"Yah.. Kalau begitu, aku pengawal yang payah," ucap Naruto sambil tersenyum. Meskipun senyuman itu tak dilihat Sakura, tapi ia dapat merasakannya.

"Kenapa?" tanya Sakura setelah diam sejenak.

"Karena aku tak bisa menghibur orang yang kukawal. Aku malah membiarkan orang yang kukawal menangis tanpa sebab," jawab Naruto lembut. "Lihat aku, Sakura."

Sakura menghentikan isakan tangisnya. Tapi tetap saja ia tak mungkin bisa menunjukkan wajah kesedihannya.

"Lihatlah teman-temanmu yang sangat mengkhawatirkanmu, jangan menyimpan suatu hal yang kau tangisi sendiri. Aku yakin hatimu akan sakit," nasihat Naruto. Ia memikirkan ucapan-ucapan cerdas yang jarang ia perlihatkan di depan semua orang. Ucapan itu mampu membuat Sakura akhirnya berani menghadap ke depan.

Meskipun penglihatannya kurang jelas karena air mata masih tertampung di matanya, ia tetap melihat ke depan atas kemauan Naruto.

"Nah, sekarang ceritakan saja. Aku yakin ada penyebabnya," kata Naruto dengan lembut.

"Bahkan aku nggak mampu menceritakannya," Sakura mengusap air matanya. Kini matanya bengkak dan merah. Terlihat jelas bahwa Sakura sekarang sedang menahan air matanya. "Kalau pun aku menceritakan semuanya, aku tak yakin kau akan mengerti."

"Minimal, aku tahu apa penyebabnya. Aku bisa mengambil intinya," ucap Naruto lagi.

"Ya sudah, kalau itu maumu," Sakura menghela napas panjang, seakan-akan menyiapkan mental untuk terlihat tabah di depan Naruto. "Kiba.. Ya, dia masalahku. Kau pasti bisa mendengar pembicaraan kami di tempat loker. Kau pasti mengerti, Naruto."

Deg!

Naruto tersentak. 'Apa!? Sakura.. ternyata tahu...' Naruto ingin menjelaskan bahwa itu hanya kebetulan. Tapi rasanya mustahil untuk mengelak. "I-itu.. aku.."

"Berbohong pun percuma. Jelas-jelas aku melihatmu," serobot Sakura. Sifat-sifatnya seakan pulih kembali. "tapi tak apa.. aku beruntung karena aku nggak perlu menceritakannya padamu lagi, kan?"

"Kalau begitu.. aku masih ingin bertanya, Sakura. Aku hanya dengar setengah pembicaraannya saja," kata Naruto lagi. Nada suaranya ia coba serius. "Apa sebabnya kau sampai mengambil keputusan seperti itu?"

Sakura hanya tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak menunjukkan keterkejutannya mendengar Naruto yang sebenarnya berkata, 'Mengapa kau mengambil keputusan ceroboh seperti itu!?'. Pertanyaan yang sama dengan Kiba. Sakura menjawab dengan tenang, "Untuk apa aku mempertahankan laki-laki tukang selingkuh sepertinya? Huh?"

"Bodoh! Memangnya dia selingkuh? 'Kan gadis itu.. cuma fansnya yang fanatik! Kamu jangan asal ambil keputusan dan seenaknya! Kiba 'kan juga bilang begitu, dan katanya dia juga mencintaimu!"

Sakura berdiri dari tempat tidurnya. Ia melangkah dengan cepat, dan berhenti di pintu kamarnya. "Kalau begitu.. buktikan saja besok. Kalau dia mencoba membujukku, berarti dia mencintaiku. Tapi justru sebaliknya," katanya tanpa menoleh pada Naruto.

"Nggak perlu dibuktikan begitu! Kepercayaan adalah suatu kekuatan dalam hubungan! Kalau begitu.. berarti kau yang tidak mencintainya, Sakura!" tegas Naruto. Ia ikut berdiri.

"Jika aku repot-repot melakukannya.. dan rupanya itu sia-sia, apa untungnya untukku?"

"Sia-sia? Kau pikir sebesar apa rasa cinta Kiba padamu?"

"Jangan sok tahu. Kau bahkan nggak mengenal Kiba. Kau cuma kenal teman-temannya," Sakura pun pergi dari situ.

BLAM!

Pintu kini tertutup. Dan masih ada si bloon Naruto yang berdiri mematung. Ia menunduk, tapi kenapa dia harus emosi? Ketulusan yang awalnya untuk menyembuhkan seorang gadis... ternyata tidak mempan untuk Sakura. Sakura memang gadis aneh, Naruto mulai berpikir begitu.

Ia pun keluar dari kamar Sakura dan mengambil langkah seribu untuk secepatnya meninggalkan kamar gadis itu.

FFn(My-Butler)FFn

PLUK.

Sebuah handuk kecil tersangkut di bahu Sasuke. Spontan, Sasuke langsung menoleh dan menyengir kecil. "Hn. Sudah selesai, ya, Dobe?" Sasuke mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang dilemparkan pemuda yang dipanggilnya Dobe itu. Siapa lagi yang Sasuke panggil 'Dobe' di dunia ini selain Naruto?

Naruto pun duduk di samping Sasuke. "Sudah selesai apanya! Dia memang keras kepala, kukatakan dengan cara halus juga sama saja hasilnya," gerutu Naruto. Tiba-tiba, ia terkejut melihat taman yang berubah drastis. Taman kediaman Haruno yang tadinya kotor dan terlihat suram sekarang indah dan asri. "Kau.. Teme.. Hebat juga! Wah wah, pantas saja keringatmu banyak begitu," Naruto kini berada di tengah-tengah taman itu.

Sasuke tersenyum kecil melihat tingkah Naruto. Naruto memang pemuda yang penuh kejutan, secepat kilat ia segera melupakan emosinya dan menjadi ceria kembali. "Dobe, menurutmu aku bisa?"

JLEB

Naruto menelan liurnya. Matanya membulat seketika. Ia segera menoleh pada Sasuke. "A-apa? Ma-maksudmu.. bicara dengan Sakura!?" tanya Naruto memastikan ia tak salah dengar. Sasuke mengangguk dengan yakin. "Kau.. Bercanda, kan Teme?"

Sasuke mendekati Naruto sambil mendelik Naruto dengan ekor matanya. "Kenapa? Aku tidak boleh melakukannya, ya? Siapa tahu Sakura mau mendengarkanku," ucap Sasuke.

"Ti-tidak, tentu saja kau boleh. Kenapa tidak? Hanya saja.. Teme, kau aneh! Kau sedang kemasukan barang halus, ya?" Naruto melihat-lihat tiap tubuh Sasuke. "Ada yang aneh!"

"Aku baik-baik saja, Dobe. Tidak ada salahnya 'kan merubah sifatku?" Sasuke melirik ke arah Naruto yang kini berdiri tegap di depannya. "Atau jangan-jangan..."

Naruto segera menutup mulut Sasuke. "Teme! Jangan bicara sembarangan dong! Lagipula mana mungkin..."

Sasuke menyingkirkan tangan Naruto yang membekap mulutnya, "Dengar dulu. Aku tadi mau bilang apa kau takut tersaingi, memangnya kau pikir aku mau bilang apa?"

"Ohh, itu!" seru Naruto. "Sejak awal aku memang sudah kalah dalam persaingan kita."

"Aku tidak pernah ingat kita pernah bertaruh melakukan persaingan,"

"Oh, ya ya! Benar juga! 'Kan semua berjalan secara sendirinya.. Hehe, aku memang payah,"

"Iya, kau payah karena tak bisa jujur,"

Naruto mulai tak mengerti maksud pembicaraan Sasuke. Ia pun menyenggol lengan Sasuke dengan lengannya sambil tertawa kecil. "Kapan kau akan bicara dengan Sakura?"

Sasuke berpikir sejenak. Dengan segera ia telah memutuskan, "Besok saja di sekolah."

"Heeh? Sekarang saja! Ayolah! Kalau besok mana seru lagi?" rengek Naruto. "Teme~"

"Tidak, pokoknya besok,"

"Sekarang!" bantah Naruto.

Sasuke memasang 'deathglare' nya ke arah Naruto yang kemudian ditakuti Naruto. Naruto mengacungkan dua jarinya. "Peace!" Naruto memasang wajah imutnya-tentu saja semuanya takut pada ekspresi membunuh itu tak terkecuali Naruto. "Tapi.. jangan pasang ekspresi membunuh itu pada Sakura, ya!"

"Kalau aku mau, apa boleh buat!" balas Sasuke. Dalam lubuk hati yang sebenarnya, ia hanya ingin memanas-manasi Naruto.

"Kalau begitu, kukatakan dari sekarang saja. Usahamu pasti gagal! Dengan cara halus saja gagal.. apa lagi dengan cara itu. Sakura bakal nangis ketakutan! Teme, dattebayo~"

"Oh, ya, Naruto-aku tak berniat agar usaha ini berhasil. Cuma sekedar 'usaha', aku tidak memperhitungkan keberhasilannya," ujar Sasuke.

WINGG ! Naruto terkejang seketika. "Lebih baik nggak usah melakukan apa pun kalau begitu," katanya kemudian.

Mereka pun kembali duduk sambil melihat kertas jadwal. Ternyata yang membuat kertas jadwal itu panjang adalah karena jadwal itu susunan dari hari semenjak orang tua Sakura pergi sampai sebulan penuh. Naruto dan Sasuke cukup lega mengetahui itu.

Hari ini jadwalnya tidak padat. Sakura membatalkan rencana lainnya di hari itu. Yah.. dalam keadaan menangis, memang mustahil keluar rumah. Pasti banyak yang bertanya 'kenapa matamu bengkak dan merah?' atau, 'ada yang melukaimu, ya?' atau bisa saja, 'sini kutonjok orangnya sampai mimisan!' Mengerikan~

Mengingat ucapan Sakura semalam, Sasuke harus mengantarnya membeli parfum karena Kiba sedang sibuk. Eh!? Sibuk? Apa mungkin karena fans itu? Berarti.. masalah ini sudah terjadi sejak malam kemarin 'kan? Sasuke dan Naruto segera melupakan hal itu. Sakura tak mungkin memaafkan Sasuke dalam keadaan seperti itu kalau terlambat sedikit. Sakura tak membatalkan hal ini.

Baru saja Sasuke ingin melangkah menemui Sakura, ternyata gadis itu kini sudah berdiri di hadapan Sasuke-dan Naruto yang kemudian dengan cepat menoleh sambil berdiri.

"Sa-Sakura.." Naruto justru lebih kaget dari Sasuke. "Maafkan Teme, ya! Dia.. dia membersihkan taman ini sendirian lho! Jadi..."

"Sasuke, siapkan mobil pribadiku," perintah Sakura tanpa mempedulikan ucapan Naruto.

Sasuke dengan cepat berlalu dari situ dan bergegas menyiapkan mobil pribadi Sakura. Kini tinggal Naruto dan Sakura di sana. Sakura sedang melihat ponselnya. Inilah kesempatan Naruto untuk memperhatikannya-mata Sakura! Sama sekali tidak terlihat bengkak seperti tadi.

"Sa-Sakura.. Matamu.. Tadi, kan bengkak. Kenapa bisa hilang dengan cepat?" tanya Naruto.

"Mataku nggak akan lama membengkak. Tangisanku, kan sudah lama berhenti. Lagi pula rugi, kan membuat mata bengkak? Aku sampai membatalkan sebagian kegiatan setelah pulang sekolah gara-gara ini," jawab Sakura. Kini ia malah menjadi gadis dingin. Bukan usil, cerewet, dan ceria seperti dulu. "Sudahlah, minggir. Kau nggak usah memikirkan masalahku sampai sejauh itu. Kau nggak akan kuanggap payah selama tetap mematuhi perintahku," sambungnya.

Mobil pribadi berwarna putih itu kini telah berada di depan Kediaman Haruno.

"Cih! Cih!" decih Naruto kesal. Ia memberikan jalan pada Sakura. "Sampai berapa lama aku bisa menyadarkan otak tersumbatnya itu? Haaah~rasanya jadi mustahil! Itu karena otakku juga abnormal," Naruto pun berjalan gontai menuju kamarnya sambil membawa gulungan jadwal itu tanpa menggulungnya dengan rapi. Tiba-tiba, muncul ide di pikirannya.

TING!

Naruto merogoh sakunya dengan tergesa-gesa, dan akhirnya ia menggenggam ponsel hitamnya. Ia mulai mengetik kata demi kata, dan akhirnya.. "Sasuke, Sasuke, Sasuke.. Mana Sasuke?" Ia mencari nomor ponsel Sasuke dengan tak sabaran. Akhirnya ketemu, 'Sasuke Uchiha'.

"Teme.. kau harus mengiakan ini!" seru Naruto dengan wajah cerianya lagi sambil menunjukkan cengiran kuda khasnya pada Sasuke yang kini pasti gugup sambil menyetir. "Kau bisa merasakan keceriaanku, sobat!" Naruto pun berjalan pelan dengan langkahan kaki yang besar. Senyumnya terus tertebar di wajahnya.

FFn(My-Butler)FFn

"Apa!?" seru Sasuke begitu membuka pesan di ponselnya. Ia sampai lupa ada Sakura di sampingnya. Sakura langsung menoleh pada Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya. "Tak ada apa-apa." kata Sasuke.

'Bodoh.. Si Dobe itu. Sampai mengancamku segala! Masa' kalau aku tidak membujuk Sakura soal Kiba, dia malah bilang aku menyukai Sakura! Dasar!' batin Sasuke sambil melempar ponselnya ke kursi belakang. 'Lebih baik tak usah kubalas! Aku bisa kehilangan konsentrasi menyetir kalau begini.' pikirnya lagi.

"Sasuke, ada apa, sih?" tanya Sakura yang menyadari adanya masalah.

"Tidak, cuma pesan dari orang asing yang selalu mengirim pesan aneh," jawab Sasuke dengan nada serius. Tapi terdengar seperti cari-cari alasan.

Sakura justru tertarik mendengarnya dan ingin tahu lebih jauh, "Eh? Seperti apa pesannya?" tanyanya.

Sasuke menoleh selama dua detik, kemudian ia utarakan pandangannya ke depan kembali. "Anu.. Eh, tempat parfumnya di mana?" elak Sasuke.

"Beberapa kilometer lagi dari sini, tepatnya di Cherry Shopping, di sebelah kiri," Sakura menunjukkan kaca di sebelahnya, bertanda di sebelah kirinya. "Lalu, apa pesan-pesan itu?"

Sasuke tidak menjawab. Peluhnya menetes seketika dari dagunya.

"Kau kepanasan, ya, Sasuke?" tanya Sakura. Gadis ini menambah suhu AC lebih dingin lagi. 'Setelah kupandang-pandang, Sasuke tampan juga.' batin Sakura. "Kalau begitu, aku saja yang baca pesannya sendiri, ya!"

"EH!? Jangan-jangan! Ada pesan yang tak boleh dibaca perempuan di dalamnya!" ucapan Sasuke tentu membuat Sakura mengubur niatnya yang tadi hendak mengambil ponsel Sasuke di kursi belakang. "Pokoknya ada yang tidak boleh dibaca."

"Ohh.. Ya sudah. Kau pasti nggak ingat, 'kan pesan-pesan orang asing itu sampai nggak menceritakannya padaku?" ujar Sakura meyakinkan dirinya sendiri.

"I-iya." jawab Sasuke. 'Dobe baka!'

CKIIIT.

Mobil porsche dari Jepang berwarna putih itu berhenti di tepi sebelah kiri. Sakura turun. Tapi, Sasuke cuma diam sambil melihatnya.

"Ng.. Sasuke.. Kau juga turun." kata Sakura sambil mengayunkan tangannya. Sakura sekarang berada di depan pintu masuk Cherry Shopping.

"Hn." respon Sasuke sambil turun dari mobil.

Saat mereka masuk, Sakura segera mencari parfum, sementara Sasuke hanya mengikuti Sakura dari belakang- ternyata Sasuke sambil memegang ponselnya dengan emosi bergelora. Ia sendiri tak bisa membantah meskipun Sasuke mengirimkan fotonya dengan tatapan 'deathglare' yang biasanya ditakuti Naruto.

Sakura pasti percaya ucapan Naruto.

"Hmm.. Sasuke, kamu mau beli parfum nggak? Biar kubayar. Sekali-kali aku ingin berbaik hati," tegur Sakura yang saat itu sedang berhenti di tempat parfum khusus laki-laki.

Sasuke langsung melihat parfum laki-laki itu. "Parfumku belum habis.. jadi tidak usah saja," jawab Sasuke.

"Ng, kalau begitu coba tanya si Naruto," kata Sakura lagi. Tapi ekspresinya jadi berubah, seakan-akan menggambarkan saat-saat melihat kebodohan Naruto.

Sasuke mengangguk. Ia segera mengirim pesan 'tidak ikhlas' itu kepada sobat 'blonde'-nya.

Kring kring.. kring kring.. Bunyi pesan masuk Sasuke. Ia segera membukanya.

From : Naruto-Dobe

To : Sasuke-Teme

Sub : Hehe.. Nggak, deh. Punyaku masih ada. Kalau habis nanti 'kan aku tinggal minta padamu saja, Teme. Lebih baik kau beli saja untukmu! Good Luck!

Sasuke membalas lagi,

Sub : Dasar.. Ya sudah. Jangan salahkan aku kalau nanti kau malah menyesal menolak rezeki. Tapi aku juga tak mau membeli benda yang masih ada..

Sakura tampak yakin bahwa Naruto sudah membalas pesan Sasuke. "Bagaimana, Sasuke? Dia mau nggak?" tanya Sakura. "Dia nggak mau, ya?"

"Ehh..." Sasuke menyimpan ponselnya sambil tersenyum. "Dia juga tidak mau."

"Ohh, ya sudah," jawab Sakura sambil berjalan menuju kasir.

Saat sampai di kasir, pelayan kasir itu malah tersenyum. Wajar saja Sakura dan Sasuke bingung karena benda yang sekarang dipegang Sakura tak juga diambil pelayan itu.

"A-ada apa? Parfumnya ada yang salah?" tanya Sakura. Ia mengerutkan dahinya.

"Fu fu fu... Kalian pasangan yang serasi. Cantik dan tampan!" Ucapan pelayan itu mampu membuat wajah Sasuke merah, meskipun tak semerah Sakura.

"Eh-eh tidak!" balas mereka kompak.

"Sampai kompak begitu! Kalau begitu aku kasih diskon, ya.. Pria tampan ini nggak membeli parfum, ya?" Pelayan ini terus menggoda mereka.

"Aku cuma pengawal Nona Haruno, jadi tolong jangan salah sangka," ujar Sasuke dengan wajah serius.

Pelayan itu segera mengambil parfum yang dari tadi terus dipegang Sakura sambil mengangguk. "Aku cuma bercanda," katanya sambil membungkus parfum itu.

Tanpa kata-kata yang lebih banyak lagi, Sakura dan Sasuke keluar dari Cherry Shopping. Kemudian mereka masuk ke mobil. Namun, Sasuke malah membuka ponselnya kembali.

"Ada masalah, ya.. Sasuke?" tanya Sakura ragu-ragu. Rupanya Sakura masih malu gara-gara ucapan pelayan kasir.

"Aku mau mengirim pesan pada temanku sebentar," jawab Sasuke tanpa menoleh. Ia fokus pada ponselnya itu. Pesannya begini,

From : Sasuke-Teme

To : Naruto-Dobe

Sub : Dobe.. bagaimana kalau aku traktir ramen besok? Sore ini kebetulan jadwalnya 'kan membantu Bi Noris.. Kurasa semakin sulit berbicara pada Nona Haruno sekarang. Kau tak akan mengerti karena tidak melihatnya.. Kumohon.

Meskipun ucapan 'kumohon' dari Sasuke benar-benar jelas terdengar tidak tulus, Naruto tetap mengiakan apa pun yang diucapkan sahabatnya itu. Naruto tahu, pasti memang Sasuke sedang tak bisa kalau sampai bilang 'kumohon' begitu.

Naruto tertawa terbahak-bahak membaca pesan singkat pemuda bermata onyx itu.

Setelah mendapat balasan dari Naruto, Sasuke pun menancap gas dan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.

Akhirnya sampailah mereka kembali di Kediaman Haruno. Selama perjalanan, mereka tak berbicara sedikit pun. Hanya keributan di sekitar jalanan kota Tokyo yang terdengar. Eh? Ya, kaca mobil dibuka. Kalau kacanya ditutup rasanya keraguan semakin menjadi-jadi...

Sakura masuk ke kamarnya. Sementara Sasuke segera mencari Naruto yang entah di mana. Setelah dipikir-pikir, kalau tak ada di mana-mana, pasti di kamar!

Sasuke berlari seperti orang yang dikejar anjing. Ia berdiri di depan pintu kamar Naruto, ia menghela napas panjang, dan membuka pintu dengan kekuatan penuh.

Naruto ternyata sedang berdiri di hadapan Sasuke. Jaraknya hanya beberapa centi. Sehingga Sasuke pun mundur dua langkah. Naruto keluar dari kamarnya sambil menutup pintu dengan wajah tanpa dosa. Ia menyeringai pada Sasuke yang menatapnya tajam.

"Hehe!" cekikiknya sambil menutup mulutnya. "Akhirnya sobatku Teme mengerti kalau aku kelaparan.. Ckckck. Kenapa nggak sekarang saja perginya?" goda Naruto sambil mendekatkan dirinya pada Sasuke. "Ajak Sakura juga nggak masalah, kan?"

Sasuke hanya menanggapinya biasa-biasa saja. Rasa malunya tadi hanya sementara, dan sekarang sudah hilang berkat wajah cengengesan Naruto. Sasuke mengangkat kedua pundaknya yang seolah mengatakan 'Aku tidak tahu.'

"Apa yang terjadi tadi sehingga membuatmu nggak bisa melakukannya?" tanya Naruto sambil tersenyum.

"Sudahlah!" seru Sasuke.

Naruto pun menarik lengan Sasuke dan menuju ke kamar Sakura.

-Sasuke POV-

Aku tidak pernah merasa serumit ini akibat Naruto... Memang banyak peristiwa yang tidak aku inginkan selama hidup bersama si kuning ini. Tapi, tidak serumit ini!

Sejujurnya, aku tahu isi hati Naruto sekarang... Aku tahu tekadnya untuk mengubah Nona Haruno Sakura-mengubah gadis yang bahkan tak dikehendaki oleh orang tuanya sendiri. Atau siapakah itu? Hanya Naruto yang berpikiran begitu.. Darimana aku tahu? Tentu saja dari sikapnya! Aku bisa membaca gerak-gerik orang. Bahkan sahabat lamaku ini. Justru aneh kalau aku tidak bisa membaca orang sederhana sepertinya.

Tapi, adakah alasan Naruto melakukannya? Apakah terselip perasaan di hati Naruto yang sebenarnya? Tapi.. Naruto tak pernah mengatakan apa pun soal wanita yang disukainya. Tapi selain aku, kurasa lebih mustahil untuk tahu perasaan Naruto. Bagaimana caraku agar tahu? Entahlah, aku akan memikirkannya.

-End of Sasuke POV-

Ternyata Sakura baru saja keluar dari kamarnya, dan kini ia sedang menata rambutnya dan berdiri di depan pintu kamarnya. Ia mendelik ke arah Naruto dan Sasuke yang berlari dan menoleh secara keseluruhan. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan wajah seram ala 'Nyonya Besar', bukannya 'Nona Besar'.

Naruto sama sekali tidak memperhatikan situasi, apakah Sakura sedang marah atau yang lainnya. Dia malah berdiri di depan Sakura sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Always like this..

"Sakura.. Mau ikut makan di luar nggak besok? Sasuke mau mentraktirku makan ramen. Kupikir kalau mengajakmu akan lebih seru!" ujar Naruto dengan semangat.

Sakura menoleh pada Sasuke yang melihat Naruto, bukan dirinya. Kemudian ia mengalihkan perhatian pada Naruto lagi. "Sebenarnya aku ada janji dengan Kiba besok."

Mata Naruto melotot seketika. "Huh!?" Raut wajahnya berubah. "Kau masih mau saja bertemu Kiba? Aneh! Katanya..."

Sakura memotong, "Aku nggak berniat balikan dengan orang yang sudah punya pendamping seperti dia. Dia menyuruhku berjanji untuk datang ke café untuk merayakan hari jadiannya dengan wanita kecintaannya."

Naruto mengerti ucapan Sakura. Sakura sama sekali tidak terlihat emosi, tapi begitu jelas terlihat menyimpan keperihan.

"Ma-maksudmu.. Kiba.. dia.." Naruto gelagapan.

"Kenapa kau yang tampak terpuruk? Harusnya, 'kan aku.. Iya, dia sekarang bertunangan dengan fans fanatiknya itu. Fans yang membuatku cemburu buta," ucap Sakura. Ia tiba-tiba menyeka air matanya yang hampir mengalir di pipinya. Kiba.. seorang pemuda yang begitu mencintai Sakura.. tapi dia malah tidak berniat membujuk Sakura.. dia malah bertunangan dengan wanita lain!? Padahal Sakura sejujurnya begitu mencintainya. Itulah mengapa Sakura begitu cepat cemburu. Wajar saja.. wajar, itu wajar. Pikir Naruto.

Lima menit telah berlalu. Lamunan itu bukan berarti tak berarti. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Sedangkan Sasuke terus memperhatikan sobat blonde-nya... Sasuke nyaris mengerti tingkah dan reaksi Naruto. Tapi...

Sakura tanpa ragu menggandeng lengan dua pria itu, Naruto di sebelah kanannya, dan Sasuke di sebelah kirinya sambil tersenyum. Tapi... air matanya tak dapat tertahan. Air matanya mengalir ke samping karena angin ketika Sakura lari menuruni tangga sambil terus memegang dua lengan itu.

Saat turun, Sakura mengelap air matanya dengan tisyu dan meminta izin pada Bibi Noris agar besok diberi izin pergi.

FFn(My-Butler)FFn

Keesokan harinya, hari berjalan seperti biasanya. Hari ini sama seperti kemarin. Tak ada keceriaan sedikit pun yang ditunjukkan Sakura. Tapi, sore ini mereka akan pergi ke Café Poirot. Justru Sakura yang berniat mentraktir mereka.

Sasuke dan Naruto tentu saja tak menyia-nyiakan waktu. Ketika Sakura telah siap dengan baju putih yang tampak elegannya masuk ke mobil, mereka pun menyusul masuk ke mobil. Sasuke yang menyetir. Sementara Naruto duduk di belakang, ia berniat menemani Sakura. Eh? Ya, Sakura duduk di belakang.

"Jadi.. Sakura.. Kau membatalkan janjimu, ya? Tapi, janji harus ditepati," kata Naruto sambil terus melihat Sakura yang terlihat tegar.

"Nggak, aku bisa mengatakannya pada Kiba. Dia nggak bakal marah. Aku, 'kan bukan siapa-siapanya lagi," balas Sakura sambil membuka ponselnya.

"Dasar Kiba, dia malah menyakiti hati gadis yang dicintainya! Kalau aku.. aku justru nggak akan pernah berpikir seperti itu. Aku tahu kau sebenarnya gadis yang baik," kata Naruto sambil mengepalkan tangannya.

"Eh?" respon Sakura sambil menoleh pada Naruto.

"Y-ya, maksudku kau nggak jahil seperti yang kami lihat, 'kan? Kenapa sifatmu kadang berbeda? Jangan-jangan ada kembaranmu yang satu lagi.." kata Naruto tanpa pikir.

"Baka! Mana mungkin! Aku sengaja melakukannya.. Kamu nggak pernah mendengar apa pun yang kuucapkan, ya!?" gerutu Sakura.

"Memangnya kau pernah bilang padaku?" tanya Naruto sambil menurunkan tangannya yang dari tadi terus mengepal.

"Kau saja yang lupa.."

"Tapi entahlah, sepertinya yang lupa itu kamu, deh!" kata Naruto sambil memegang dagunya.

"Huh!" Sakura mendengus. Dia sama sekali tak marah. "Tapi terima kasih, Naruto."

"Un-untuk apa?" tanya Naruto.

"Aku tersenyum berkat kau," jawab Sakura. "Aku ingin mengajak kalian ke café. Mahal-mahal juga tidak apa-apa, aku yang bayar kok!"

"Hehehe.. nggak masalah!" seru Naruto.

Sumber kekuatan.. Memang bukan hanya dari senyuman, tapi juga dari ucapan. Secerdas apa pun orang, kalau tak bisa menggunakan kata-katanya, pasti tak ada gunanya. Tapi, sebodoh-bodohnya orang, kalau ia cerdas menggunakan kata-katanya seperti Naruto, pasti ada gunanya!

Contohnya Sakura.. Dia berhasil tersenyum berkat Naruto. Padahal hal sederhana itu bisa dilakukan oleh siapa pun, dan terlihat mudah, kan? Eits! Jangan salah dulu. Tidak semua orang dapat menghibur lho... ^^ Naru, itu benar kan?

.

.

.

TBC

(A/N : Kira-kira.. Café mana yang mau dihampiri Sakura? Eh.. ada yang berpikiran sama ama aku nggak? Wikikikikikik.. Pasti ada *digampar* Kenapa Sakura malah ngajak ke café... akh itulah pokoknya *secret*. Dan nanti jadi kayak gimana? Oh, ya.. sedikit bocoran! Fans fanatik yang jadian sama Kiba itu... eits eits, rahasia donk! Nanti di chapter 5 semuanya bakal dikeluarin. Rahasia-rahasia yang sengaja aku buat untuk membuat kalian penasaran! XP *plakk* Deehh... terus Sasuke berhasil nggak baca perasaan Naruto? Dan Naruto nya gimana? Kelihatannya dia usil.. Mau ngerjain Sasuke sama Sakura berbarengan.. Co cuitt XD See u soon at chapter 5!)

.

.

.

Review?