WHY ME?

.

CHAPTER 3

.

2016©yeyepapo

.

Pairing: Wonkyusung, Yesung centric

.

Casting : super junior, ahn jaehyun, song jaerim, oc:park ryeojin

UNTUK MEMUDAHKAN BERIMAJINASI SAYA PAKE JAEHYUN N JAERIM OPPA..

JANGAN BULI SAYA YA KARENA MEREKA GA MIRIP, DAN KENYATAAN UMURNYA BERBEDA..

.

Genre: drama, angst, family, friendship

.

Warning: shounen-ai, latter!mpreg, TYPO

.

Segala sesuatu hamper 70% imajinasi saja..

.

Disclaimer: cerita punya saya,/ SuJu, Jaehyun, Jaerim punya Tuhan,/OC: Park Ryeojin punya saya

.

For other shipper who didn't like story with the cast please leave and don't BASH ANY OF THE CAST.

.

ONE MORE TIME I WARN YOU

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

ENJOY!

.

PREVIOUSLY

.

"ada apa ini?"

Ryewook langsung menghampiri Kyuhyun dan menjelaskan.

"setengah jam yang lalu Yesung hyung sadar, kami memanggil Dokter untuk memeriksanya.. saat kami tinggal keluar Yesung hyung berontak dan menangis. Lalu kami masuk lagi, Donghae hyung memegangi Yesung hyung dan Dokter berusaha menyuntikan obat penenang. Saat aku Tanya Dokter, katanya Yesung hyung tidak mau melakkukan tes untuk penyakitnya.. "

Kyuhyun tidak habis pikir. Sebenarnya apa yang disembunyikan Yesung dari semua orang?

Kyuhyun bergegas menuju Yesung dan Donghae dan langsung memeluk Yesung. Awalnya Yesung masih berontak dan mengumpat tapi tak lama kemudian Yesung mulai tenang. Kyuhyun mengisyaratkan Dokter untuk mengurungkan niatnya menyuntik Yesung.

"shhh.. tenang hyung.. ada aku disini…"

"hiks.. Kyu aku tak mau.. hiks kenapa? Kenapa kalian memaksaku? Aku juga tak ingin punya.. aishh.."

Yesung mencengkeram kemeja Kyuhyun dan terus menangis. Beberapa menit kemudian setelah Kyuhyun menenangkan Yesung, Yesung mulai tertidur karena lelah menangis.

Kyuhyun dibantu Donghae merebahkan tubuh Yesung. Dia menghela nafas lelah. Apa yang harus mereka lakukan untuk membujuk Yesung agar mau melakukan tes kesehatan, atau mungkin agar mau menceritakan apa yang sebenarnya dia derita.

"Kenapa harus kau yang menderita hyung?"

NOW ON CHAPTER 3

Cuaca di Cheonan sangat cerah hari itu. Musim panas baru saja memasuki awalnya. Suasana belum terlalu panas dan tidak pula masih dingin. Kim Jongwoon, seorang siswa kelas tiga Junior High School berjalan beriringan dengan teman-teman sekelasnya. Bercanda gurau menikmati hari dan sesekali membicarakan rencana liburan musim panas mereka. Begitu melewati sebuah perempatan Jongwoon undur diri karena arah rumahnya berbeda dengan teman-temannya.

Sesekali Jongwoon menendang kerikil-kerikil kecil yang berada di jalanya sambil bersiul lirih. Wajah riangnya berganti curiga saat perasaannya mengatakan ada seseorang yang membuntutinya. Dengan mendadak dia berhenti dan langsung membalik badannya. Dia tidak menemukan siapapun hanya beberapa orang dewasa dengan peliharannya sedang berjalan-jalan. Jongwoon mencoba mencari-cari sesuatu yang mencurigakan tapi tak menemukannya. Mengangkat bahu cuek Jongwoon melanjutkan perjalanan pulangnya yang tertunda.

Mungkin Jongwoon tidak menemukannya, tapi di seberang jalan ada dua orang dewasa tengah memperhatikan gerak-geriknya dari dalam sebuah sedan hitam. Mereka berdua terus mengikuti Jongwoon sampai Jongwoon tiba di rumahnya. Begitu Jongwoon memasuki rumahnya, dua orang penguntit itu terdiam sebentar sebelum salah seorang dari mereka membuka suara.

"sepertinya dia berpotensi. Tubuhnya terlihat sehat-sehat dan terlihat sedikit.. feminine.." ujar yang paling tua sambil membenarkan letak kacamata berbingkai hitamnya.

"yah menurutku juga begitu tapi kita masih harus terus mengawasi dia agar kita tahu dia memiliki daya tahan tubuh yang lemah atau kuat. Kau sudah menyelidikinya kan? Siapa namanya?" sahut yang muda sambil sesekali melirik arah rumah Jongwoon.

Sedikit kurang ajar memang berbicara informal dengan yang lebih tua. Tapi dia merasa dia lebih berhak mendapatkan kehormatan daripada orang yang lebih tua yang duduk di belakang kemudi itu. Mengingat dia adalah atasan dan seniornya walau usianya lebih muda 3 tahun.

"aku sudah menyelidiki anak itu. Dia hanya pernah mengalami radang tenggorokan dan flu biasa, aku mendapatkannya dari medical record nya di rumah sakit daerah Cheonan dan tingginya 170 cm dan beratnya 66 kg...dan namanya Kim Jongwoon, dia berumur 15 tahun lebih 10 bulan. Untuk lebih lengkapnya kau bisa membaca di map yang aku berikan padamu tadi pagi…"

Yang lebih tua menjelaskan hasil penyelidikan yang dia lakukan secara singkat.

"baik nanti akan aku baca.. sekarang yang harus kita lakukan hanya menunggunya berusia 17 tahun. Tahun depan.."

Suasana didalam mobil tiba-tiba lenggang.

"kita pergi.."

000

Apa yang lebih membahagiakan daripada merayakan ulang tahunmu bersama teman-teman sekolahmu dan keluargamu? Jongwoon saat ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Menikmati suasana yang ceria dan penuh tawa membuat Jongwoon bersyukur masih bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 17 karena tahun lalu dia tidak merayakan ulang tahunnya yang ke 16 karena adiknya yang berusia 14 meminta dirayakan, dan agar tidak terlalu boros orang tuanya meminyanya untuk bergantian merayakannya dengan adiknya.

Ketika jarum jam menunjukaan angka 10, acara di tutup dengan Jongwoon mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya. Satu persatu tamu pesta berpamitan pada Jongwoon. Saat Jongwoon mengantarkan tamu terakhir keluar rumahnya dia kembali melihat sebuah sedan hitam berada di depan rumahnya walaupun jaraknya lumayan jauh sekitar 50 meter tapi Jongwoon yakin sedan itu adalah sedan yang sama yang beberapa hari ini dia lihat mengikutinya. Perasaanya mengatakan kalau orang yang ada di dalam sedan itu memiliki niat jahat.

"Jongwoon ada apa?"

Panggilan ibunya membuatnya terkejut.

"tidak ada apa-apa eomma.."

Jongwoon mencoba mengenyahkan pikiran jeleknya, dia menutup pintu dan membantu orang tua serta adiknya untuk membereskan rumah. Walaupun tidak sampai semuanya di bersihkan hari ini karena hari sudah benar-benar malam.

"sudah,, kita bersihkan badan kita dulu, lalu istirahat. Besok kita bersihkan lagi.." sang kepala keluarga menyarankan yang dibalas sorak senang Jongjin dan anggukan dari Jongwoon dan ibunya.

000

Sinar hangat matahari sore di musim semi menimpa kulit Jongwoon yang tengah berjalan sendirian di sebuah gang menuju ke rumahnya. Sepertinya dia baru pulang dari sekolah.

Dia berjalan dengan tenang sambil sesekali menendang kerikil tak berdosa di hadapannya. Dia tidak sadar saat ada sepasang iris kelabu yang mengikuti gerak-geriknya, sampai….

"Kim Jongwoon…"

Remaja itu terlonjak kaget saat tiba-tiba seorang pria dengan masker dan jubah hitam serta topi hitam menghadangnya sambil menyebut namanya.

"nu-nuguya?"

Jongwoon terlihat mulai ketakutan dan mulai berjalan mundur. Tapi sepertinya dia sedang sial, orang asing itu dengan gerakan cepat membungkamnya dangan sapu tangannya yang berbau sehingga Jongwoon langsung pingsan.

000

Pria yang menculik jongwon adalah pria suruhan dari orang-orang yang selama ini mengikuti gerak geriknya.

Tubuh pingsan Jongwoon diletakan di sebuah ranjang dengan sedikit kasar. Begitu yakin Jongwoon tidak akan terjatuh dari kasur, pria suruhan itu meninggalkan ruangan itu. Tak lama datanglah 3 orang pria dengan baju kebanggaan dokter meraka.

"Ryeojin-ah dia lebih sempurna daripada yang kau ceritakan padaku 3 bulan lalu…" Seorang dari meraka yang terlihat paling tua menghampiri Jongwoon dan mengelus pipi muda Jongwoon.

"Itu salahmu tidak mau ikut melihat keadaannya…" Yang paling muda menyela.

"Kau adik yang paling kurang ajar yang aku miliki Jaehyun-ah bahkan aku akan lebih bahagia jika Ryeojin yang jadi adikku lihat.. dia itu penurut , tidak sembrono.. dan.. sopan…"

Yang di panggil Jaehyun hanya mencebik lalu ikut menghampiri tubuh Jongwoon dan mengecek keadaannya.

"Ryeojin hyung ambilkan tali dan selimut.."

"tapi Jaerim-ssi bilang tidak perlu diikat hanya perlu dibius total kalau dia terbangun nanti.."

"Aku yang memimpin disini…" Ujar Jaehyun sedikit menaikan nada suaranya.

"Jaehyun-ah jaga bicaramu.. dia lebih tua darimu.. Ryeojin-ah turuti saja dia.. "

"ne… Jaerim-ssi.."

Ryeojin keluar dari ruangan itu untuk mengambil tali dan selimut. Wajahnya menyiratkan ketidak sukaan. Jauh di dalam hatinya dia sangat membenci Jaehyun. Dokter muda yang sombong dan tidak tahu sopan santun, sangat berbeda dengan kakaknya yang sangat lembut dan ramah.

Percobaan yang akan mereka lakukan ke tubuh Jongwoon sebenarnya adalah idenya, tapi saat Jaehyun mengetahui ide Ryeojin, dia langsung mengambil ide itu dan menyuruh Ryeojin menjadi bawahanya.

Ryeojin bisa apa? Dia hanya dokter baru yang baru dilantik 1 tahun lalu dikarenakan dia yang kuliahnya terlambat 3 tahun karena masalah biaya. Sedangkan si sombong Jaehyun sudah dilantik 2 tahun lalu karena kekuasaan yang dimiliki orang tuanya yang notabene pemilik beberapa rumah saikit di penjuru korea selatan. Dan ya.. uang mengalahkan segalanya.

Sedangkan kakak Jaehyun yang seorang dokter spesialis penyakit dalam memutuskan bergabung di projek percobaan ini 3 bulan lalu alasannya dia tidak mau adiknya mengacaukannya karena projek ini akan menjadi projek rahasia dan tidak ada yang boleh tahu ataupun sampai bocor ke telinga publik.

Setelah dia mendapatkan apa yang Jaehyun minta dia buru-buru kembali ke ruangan tadi.

00

"kau akan membiarkannya telanjang seperti ini? Apa kau tidak keterlaluan Jaehyun-ah.." Jaerim menasehati adiknya.

"biarkan dia seperti ini.. aku ingin melihat dia berontak dan shock saat tahu dia telanjang dan.. terikat…" jawab Jaehyun dengan smirk yang dianggap sangat menyebalkan oleh Ryeojin.

"kita siapkan alat dan perlengkapannya serta panggil suster yang akan membantu…" Jaerim menarik Jaehyun keluar. Ryeojin mengikuti kemudian.

Segera ruangan itu hanya di isi oleh Jongwoon seorang.

Mata sipit itu mengerjab bingung, dengan susah payah dia mencoba menggerakan tubuhnya, tapi sia-sia. Kedua lengannya terikat erat di atas kepalanya. Sedangkan kakinya terikat erat di ujung ranjang yang dia tempati.

Saat ini dia berada di sebuah ruangan yang terlihat tak terpakai dan dia terbaring di ranjang berukura meter yang terlihat seperti ranjang rumah sakit. Dan tubuhnya, tubuh muda itu terpampang sempurna dalam artian dia tidak memakai sehelai benangpun.

Jongwoon mencoba melepaskan dirinya dari tali-tali yang mengekangnya, tapi gerakannya terhenti saat pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan 3 orang pria berpakaian dokter yang masing- masing mendorong trolley berisi peralatan-peralatan aneh yang mungkin pernah dia lihat di rumah sakit. Tak lama masuklah 2 orang wanita membawa lampu bertiang berukuran besar dan sebuah tabung besar dengan isi yang berwarna merah seperti daging.

Mereka mulai men-set peralatan itu di sekitar Jongwoon.

Jongwoon mulai berteriak dan semakin memberontak.

"lepaskan aku.. lepaskan aku… apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku…"

Salah seorang dokter-atau siapapun itu- dengan kacamata berbingkai hitam menghampiri Jongwoon sambil membawa sebuah suntikan berisi cairan berwarna kuning keruh.

"maafkan kami,, kami hanya ingin menjadikanmu pria istimewa… maaf menjadikanmu kelinci percobaan…"

"mwo?"

Dokter itu mengijeksikan cairan itu ke tubuh Jongwoon. Sedangkan jongwon mulai merasa mengantuk. Samar-samar dia mendengar percakapan orang – orang itu.

"kita harus segera memasukan rahim itu ke dalam tubuhnya…"

Jaerim mulai menggunakan sarung tangannya. Setelah peralatannya sudah terpasang di tubuh Jongwoon. Dan suster sudah mengecheck tekanan darah dan detak jantungnya, para dokter 'gila' itu mulai membedah perut Jongwoon dan meletakan sebuah rahim yang mereka buat khusus untuk laki-laki.

Proses itu memakan waktu 4 jam untuk memastikan rahim itu bisa mendapat supply darah dan bekerja optimal.

Setelah 4 jam yang melelahkan bagi 3 dokter itu, mereka membersihkan diri dan memberikan Yesung baju dari rumah sakit terkenal di Cheonan.

"kau sudah memanggil ambulan?" Jaehyun bertanya pada Ryeojin yang tengah mencatat sesuatu di bukunya.

"ah ne.. aku sudah menelponya mungkin 10 menit lagi ambulannya sampai.."

Jaehyun mengangguk paham lalu meninggalkan Ryeojin yang sepertinya menyibukan diri dengan bukunya.

Begitu ruangan itu hanya terisi Ryeojin dan Jongwoon, Ryeojin meletakan bukunya yang ternyata hanya berisi coretan-coretan tidak jelas.

"aishh aku sudah muak dengan si sombong itu.. aku akan menguasai projek ini.. akan ku singkirkan kalian…"

Ryeojin menyeringai senang.

000

Saat Jongwoon membuka matanya kembali, dia merasakan nyeri di perut bagian bawahnya. Saat ini dia berada di ruangan yang berbeda dari sebelumnya, ruangan ini terlihat lebih rapi dan bersih, posisinya sekarang tidaklah terikat lagi, tapi karena nyeri di perutnya dia tak mampu bergerak lebih.

"kau sudah bangun, bagaimana perasaanmu?"

"kau siapa? Apa yang kau lakukan dengan perutku?"

"haha.. anak muda, kau tak perlu takut. Aku dokter Park, Park Ryeojin… aku hanya memberimu sebuah keajaiban… maksudku… kau special…."

Jongwoon menatap sosok dokter di depannya bingung.

Cklek

Pintu terbuka dan menampilkan Jaehyun yang masuk bersama kakaknya.

"heii.. kelinci manis.. kau sudah bangun?.. bagus.. bagaimana perasaanmu?" Jaehyun menghampiri ranjang Jongwoon.

"kalian apakan aku? Aku bersumpah akan melaporkan kalian ke polisi.."

Jaehyun tersenyum mengejek. Dia menghampiri Jongwoon dan meraih dagu Jongwoon. Dia membuat Jongwoon menatapnya.

"Go on.. kalau kau mau melaporkan kami ke polisi tapi kau akan mendapatkan kenyataan yang akan membuatmu malu seumur hidupmu dan kau akan menyesal melaporkan kami ke polisi.."

Jongwoon semakin ketakutan. Ada yang benar-benar tidak beres dengan tubuhnya.

"Ryeojin-ah bawa Jaehyun keluar aku akan bicara pada anak ini.."

"hyung bukannya kita sepakat aku yang akan bicara pada bocah ini.."

"kau diam.. kau sudah membuatnya takut jadi sekarang keluar.."

Jaehyun mendengus sebal lalu keluar dari ruangan itu dengan emosi.

Ryeojin yang semulai ingin keluar juga dicegah Jaerim.

"kau di sini saja Ryeojin-ah sepertinya aku perlu teman untuk bicara pada anak ini… biarkan anak manja itu di luar.."

Jongwoon yang sedari tadi diam dibuat semakin bingung. Jaerim meraih kursi di samping ranjang Jongwoon dan duduk.

"nak.. namaku Jaerim. Song Jaerim dan dia adalah Park Ryeojin dan dokter yang keluar tadi adalah Song Jaehyun, adikku.."

Ada jeda sebelum Jaerim melanjutkan ucapannya.

"sebelumya kami mau minta maaf telah melakukan sebuah percobaan pada tubuhmu tanpa meminta ijin padamu.."

"kalian melakukan apa pada tubuhku?"' Jongwoon mulai panik.

"tenang nak, kami hanya menempatkan sebuah.. ehm… rahim di perutmu.."

"APA?"

"Tenang, itu tidak akan membuat perubahan pada tubuhnya secara ekstrim, hanya akan membuatmu memiliki tubuh seperti wanita, jangan berpikir kau akan memiliki payudara yang besar… itu tidak akan terjadi.. dan kau juga akan mengalami siklus menstruasi atau disini kita sebut dengan istilah peluruhan, kau hanya memerlukan suntik hormone setiap 3 bulan sekali untuk menjaga rahimmu tidak rusak dan kau membutuhkan obat khusus untuk membuat siklus peluruhannya tidak terlalu menyakitkan untukmu serta memberikan nutrisi untuk rahimmu.. tapi kau tidak akan mengeluarkan darah dari penismu.. tidak.. itu akan menyakitkan. .." Jaerim tertawa pelan tapi kembali fokus saat dilihatnya Jongwoon menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan lebih lanjut.

"ehm..eh.. kita lanjutkan, kau akan membuang darah kotor itu lewat fesesmu karena kami membuat leher rahimmu berada di atas lubang ehm.. mu… jadi tak perlu khawatir kau harus menggunakan pembalut.." Jaerim hampir saja kembali tertawa kalau saja dia tidak melihat airmata mulai menggenang di ujung mata Jongwoon.

"kalian membuatku menjadi freak.. kalian monster… sekarang apa yang harus aku katakan pada orang tuaku? Kalian benar-benar tidak berperasaan.."

"aaaa.. kami minta padamu untuk menjaga rahasia ini.. hiduplah seperti tidak terjadi apa-apa.. saat kau memerlukan suntikan hormon dan obat-obatan kau hanya perlu menelpon dokter Ryeojin. Dia yang akan menanganimu dan semuanya gratis…" Jaerim tesenyum tulus tanpa tahu senyuman itu malah membuat Jongwoon merasakan hidupnya hancur berantakan.

"baiklah.. aku permisi dulu.. Ryeojin-ah beritahu Jongwoon-ssi tentang masalah dia dirawat sekarang. Aku sepertinya sudah terlalu banyak bicara.." Jaerim keluar dari ruangan itu.

Jongwoon mengalihkan pandangannya ke Ryeojin yang tersenyum meremehkan.

"hei anak muda.. aku tau kau merasa hidupmu hancur tapi jangan pernah berpikir untuk pergi ke dokter lain untukmengeluarkan rahimmu itu karena kau hanya akan mendapat malu dan hanya kami yang tahu prosedur pengangkatannya tanpa membuatmu mengalami komplikasi … jadi dengarkan aku.. aku akan menelpon orang tuamu dan mengabari mereka kalau kau menjadi korban perampokan dan kau terkena luka tusuk, ingat skenario itu… "

Jongwoon menatap Ryeojin penuh dendam. Tapi dengan terpaksa dia menyetujui skenario gila dari dokter didepannya.

000

Begitu Jongwoon pulih dan pulang dari rumah sakit, Ryeojin selalu memantau kesehatan Jongwoon. Setiap Jongwoon datang untuk meminta obat dan untuk menerima suntikan hormone dan pemeriksaan rahim, Jongwoon selalu datang dengan wajah ditekuk dan tak bicara banyak.

Setelah 6 bulan penanaman rahim, 3 dokter gila itu mulai menemukan keganjilan. Mereka menemukan rahim yang ada di tubuh Jongwoon sangat lemah dan tidak menyatu secara keseluruhan ke tubuh Jongwoon dan dalam waktu tertentu akan membuat Jongwoon selalu kesakitan saat melalui masa peluruhannya.

"ini tidak bisa diteruskan.. dia akan menderita setiap bulan.. sakitnya akan melebihi sakit saat wanita yang mengalami menstruasi.. kita harus melakukan tindakan, kita angkat atau kita perbaiki.."Jaerim menatap kedua dokter muda di depannya gusar.

"tapi hyung kau tahu sendiri 2 prosedur itu memiliki resikonya. Dan masing-masing resikonya sangat besar…" Jaehyun menjelaskan.

"dulu tujuan awal kita menanamkan rahim di perut Jongwoon-ssi adalah untuk melihat apakah rahim buatan kita bisa menyatu dengan tubuh pria dan apakah rahim itu bisa dibuahi… tapi melihat sekarang ini rahimnya yang tak bisa menyatu sempurna berarti ada kesalahan pada pembuatan dan atau penanamannya dulu…" Jaerim mulai membawa emosinya.

"ehm.. Jaerim-ssi sepertinya kita tidak bisa melakukan prosedur pengangkatan ataupun memperbaikinya.. dari pengamatan saya selama 6 bulan ini menangani Jongwoon-ssi, dia belum merasakan sakit yang menyiksa saat mengalami peluruhan. Dan jika kita mendiamkannya 2 atau 3 tahun mungkin akan menyatu …" Ryeojin mencoba menengahi.

"ya.. aku setuju dengannya.. setelah rahimnya benar-benar menyatu kita bisa mengujinya untuk uji pembuahan…" Jaehyun merangkul Ryeojin menunjukan kesetujuannya dengan ide Ryeojin.

"Aku keluar dar projek ini.. ini hanya projek penyiksaan manusia dan aku tidak mau menjadi bagian dari projek ini lagi…"

"hyung kau bercanda kan?"

"perlu Jaerim-ssi ketahui memang sejak awal kan anda tidak mengikuti projek ini dari awal, jadi kalau anda memutuskan untuk keluar, saya persilahkan.."

Jaehyun dan Jaerim menatap Ryeojin tak percaya, mereka tak mengira ternyata Ryeojin bisa berbicara seperti itu pada Jaerim.

Jaerim tersenyum penuh kekecewaan dan langsung meninggalkan ruangan itu.

"KAU… aisshhh.."

Jaehyun menyusul kakaknya untuk membujuknya agar kembali ke projek.

000

Jongwoon menatap surat kontrak di depannya. Dia mendapatkan kesempatan untuk menjadi trainee di SM Entertainment. Terimakasih untuk ibunya yang mendaftarkannya lomba menyanyi hingga salah satu staff SM melihat bakatnya.

Tapi senyum yang sedari tadi bertenger di bibir tipisnya sedikit terganggu dengan kenyataan bahwa dia bukan lagi lelaki 'normal'. Sedikit ragu dia mengangkat wajahnya dan menatap 3 orang petinggi SM di depannya.

"ehm.. sebelumnya saya mau jujur pada sajjangnim.. saya menderita kelainan di pencernaan saya dan setiap bulan harus meminum obat dan 3 bulan sekali saya harus mendapat suntikan obat khusus."

Jongwoon menatap takut jika kontrak itu akan dibatalkan. Dia tidak sepenuhnya berbohong tentang fakta sebenarnya tentang tubuhnya.

Terlihat para petinggi itu berdiskusi sebentar sebelum yang duduk di tengah buka suara.

"kami tidak mempermasalahkan itu Jongwoon-ssi. Pasti suatu saat penyakitmu akan sembuh dan kau bisa menjalani kehidupan sebagai artis dengan tenang. Tentunya kalau kau bisa bertahan untuk menjadi trainee dan menunggu waktu debutmu.. bagaimana… setuju?"

Jongwoon sedikit takut. Takut kalau petinggi itu akhirnya mengetahui kondisinya tidak akan membaik dalam waktu dekat ini oh.. mungkin selamanya. Jongwoon mengangguk lalu menyerahkan kertas kontrak yang sudah dia tanda tangani.

000

Baru satu bulan mengawali masa trainingnya di SM, Yesung mengalami sakit yang luar biasa di perutnya. Dia menyembunyikannya dengan mengunci diri di kamar dan meminum obat penghilang rasa sakit yang tersedia di kotak obat di dormnya. Begitu rasa sakit itu hilang dia bersiap untuk pergi ke tempat Ryeojin. Bermaksud menanyakan kenapa saat proses peluruhan bulan ini terasa sangat sakit.

Baru sampai di ruangan dokter Ryeojin, Jongwoon menggebrak meja dengan emosi. Wajah pucatnya terlihat penuh emosi dan peluh.

"apa yang terjadi padaku? Kenapa perutku terasa sangat sakit?"

Ryeojin bangkit dari kursinya dan menghampiri Jongwoon memintanya untuk berbaring di ranjang di ruangan itu. Jongwoon mengikuti tanpa protes.

Ryeojin memeriksa perut Jongwoon, menekannya beberapa kali sebelum memeriksanya dengan stetoskop.

"arrrhhhgg.."

Jongwoon menggerang sakit saat efek pain killer yang diminumnya mulai memudar.

"lebih baik kau istirahat di sini.. aku akan menjelaskan apa yang terjadi padamu kalau kau sudah tidak kesakitan. Aku akan menyuntikan obat padamu.."

Jongwoon terlalu fokus mencoba menghilangkan rasa sakit itu hingga tak memperdulikan ocehan Ryeojin. Begitu Ryeojin menyuntikan obat itu ke lengan Jongwoon, Jongwoon mulai terlihat melemas dan akhirnya pingsan.

Ryeojin menghela nafas berat. Dia meraih gagang telpon dan mendial sebuah nomer.

"hallo.. Jongwoon datang ke klinik saya dan sepertinya rasa sakit yang kita khawatirkan akan menyerang dia sudah mulai terjadi..iya.. aku menyuntiknya dengan obat bius.. dia akan bangun 2 jam lagi.. baik,, saya menunggu anda…"

Ryeojin meletakan gagang telponnya dengan pelan. Diliriknya Jongwoon yang terlelap dengan wajah pucat dan peluh yag membanjiri wajahnya.

"jangan gagal.. kumohon…" Ryeojin memohon entah pada siapa.

1 jam kemudian pintu ruangan Ryeojin terbuka membuat Ryeojin menengok kaget.

"ah Jaehyun-ssi.. akhirnya anda sampai.."

Jaehyun memandang Ryeojin sekilas sebelum menuju ranjang Jongwoon. Ryeojin mengikutinya di samping Jaehyun.

Jaehyun merampas stetoskop Ryeojin dan mengechek keadaan Jongwoon.

"kau memiliki mesin rongent kan? Kita rongent dan lihat keadaan rahimnya… tapi sebelum dia sadar kita harus melihat kondisi rahimnya dengan USG dulu… dan aku membawa obat penghilang rasa sakit khusus untuk bocah ini…"

Ryeojin mengangguk ragu.

"tapi waktu satu jam apakah cukup? Aku hanya memberinya sedative dengan dosis ringan…"

"cukup.."

Ryeojin mengangguk dan mereka berdua mulai melakukan rongent pada Jongwoon dan kemudian melihat kondisi perut Jongwoon dengan USG. Tepat setelah Jongwoon di kembalikan ke ruangan dokter Ryeojin, dia sadar dan mulai mengernyit sakit saat perutnya terasa nyeri luar biasa.

"akh.. dokter, apa kau tidak punya obat untuk menghilangkan rasa sakitnya?"

Ryeojin menghampiri ranjang Jongwoon sambil membawa sebuah botol berisi pil berwarna merah. Seperti obat penambah darah.

"kau hanya akan merasa kesakitan selama satu hari dalam masa peluruhan…tapi untuk menghilangkan rasa sakitnya minum 2 butir pil ini 2 kali dalam sehari …"

Jongwoon meraih botol itu dan mengambil 2 butir pil dan langsung meminumnya dengan bantuan segelas air putih yang disodorkan oleh dokter Ryeojin.

Setelah beberapa menit rasa nyeri sekaligus sakit yang menghantui Jongwoon mulai memudar. Jongwoon mencoba untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Baru dia menyadari ada sosok lain selain Ryeojin. Dokter Jaehyun duduk di depan meja doker Ryeojin dan memandangnya.

"huft.. kalian berkumpul lagi dan sepertinya aku harus mengechek tubuhku apa kalian memasukan sesuatu lagi ke tubuhku…"

Jongwoon tertawa menremehkan.

"dasar kelinci kurang ajar. Aku kesini untuk memberimu obat yang baru saja kau minum… aku datang untuk menolongmu.. sopanlah sedikit.." Jaehyun mencibir dengan wajah tidak terima.

Jongwoon mendengus dan airmata mulai menggenang di ujung matanya yang tertutup.

"cih.. kalian yang membuatku begini.. untuk apa aku bersopan santun pada orang yang mencuri kebebasanku? Aku seperti terpenjara oleh obat-obatan ini.."

Jongwoon tetap menutup matanya tanpa memperdulikan airmatanya yang meleleh.

Setelah lebih dari 10 menit ruangan itu sunyi karena masing masing orang di ruangan itu terhanyut dalam pikiran masing-masing, Jongwoon mengusap airmatanya kasar lalu bangkit turun dari ranjang dan memakai kembali sepatunya.

"terimakasih obatnya.. "

Jongwoon berlalu tanpa menoleh.

000

Sepeninggal Jongwoon, kedua dokter 'gila' itu mulai berdiskusi.

"apakah Jaerim-ssi ikut membantu untuk membuat obat tadi?"

Jaehyun mengangguk. Matanya terpejam sambil menyandar di kursinya.

"aku mencoba mengajaknya untuk kembali ke projek ini tapi dia menolak.."

Ryeojin mengangguk.

"menurut hasil rogent tadi apa pendapatmu?" Jaehyun memandang Ryeojin.

"menurut saya, rahim Jongwoon mulai memperbaiki diri tapi prosesnya sangat lambat. Dan sepertinya proses itu yang menyebabkan rasa sakitnya saat Jongwoon mengalami proses peluruhan.."

"yah sepertinya memang begitu, rahimnya yg mulai memperbaiki diri tapi prosesnya terhenti saat terjadi peluruhan hingga membuat Jongwoon kesakitan. Kira-kira sampai kapan dia akan bertahan? Sepertinya kita tidak bisa melakukan uji pembuahan dalam waktu dekat.."

"saya dengar dia sekarang menjadi trainee di SM jadi sepertinya kita tidak akan bisa melakukan uji pembuahan itu jika Jongwoon tidak keluar dari SM.. kita tidak memiliki kuasa untuk mengeluarkan dia dari SM ataupun menyuruhnya keluar..."

"anak itu benar-benar merepotkan.. aku akan pindah ke salah satu rumah sakit di jepang tahun depan yang berarti 5 bulan lagi.. jadi selepas itu aku minta padamu untuk menangani Jongwoon… aku akan membuat stok obat untuknya dan menyerahkan resepnya padamu setelah aku dipindah tugaskan… aku akan memberikan akses penuh untuk melanjutkan atau men-stop projek ini.. aku sudah kehilangan harapan untuk melakukan uji pembuahan saat kita mengetahui rahimnya mengalami masalah.."

Ryeojin menatap Jaehyun terkejut. Tapi kemudian dia mengangguk patuh. Tanpa Jaehyun ketahui Ryeojin sedang bersorak bahagia di dalam hatinya. Akhirnya…. hal yang dia nantikan yaitu menangani projek ini sendirian akan terkabul.

000

Hari itu musim semi tengah berada di puncaknya. Bunga-bunga telah sepenuhnya bermekaran dan daun-daun nan hijau terbentang di sepanjang mata memandang. Mentari terlihat mulai meninggalkan sang siang dan menuju ke peraduannya. Sore hari yang syahdu di taman kota.

Terlihat 2 orang pria yang berpakaian serba tertutup tengah duduk disalah satu bangku taman yang berada di tengah taman.

"hyung.. kalau kita debut bagaimana dengan penyakitmu? Apa kau akan mempublikasikannya ke fans atau menutupinya?"

"menurutmu aku harus bagaimana Siwon-ah?"

"kalau menurutku.. ehm.. mengatakannya.." Jawab siwon ragu.

"hah.. dan membiarkan mereka kasihan padaku seperti kalian saat pertama kali mengetahui kondisiku begitu?"

Yang dipanggil Siwon menunduk diam. Perlahan dia meraih tangan berbungkus sarung tangan putih di sampingnya.

"kalau begitu aku akan mendukung apapun keputusanmu.. aku akan selalu melindungimu hyung.. ingat janjiku padamu ini Jongwoon hyung…"

Siwon tersenyum cerah, walau separuh wajahnya tertutup topi dan kacamata hitam.

Jongwoon membalas tersenyum dibalik masker hitamnya. Siwon tahu hyungnya itu tersenyum terlihat dari matanya yang menyipit dengan binar bahagia.

Akhirnya mereka berpelukan sebelum kemudian melepaskan diri dan bangkit pergi dari taman itu.

000

Telah ku lalui kesakitan ini sekian tahun. Kapan kah akan berakhir? Atau akankah penderitaan ini berakhir?

Jongwoon atau Yesung menuliskan keluh kesahnya di dalam buku diarinya. Berhenti sejenak dia menghela nafas berat lalu memutuskan untuk menyudahi keluh kesahnya. Dia mengunci buku diarinya dan memasukannya ke dalam laci mejanya.

Cklek

"hyung, kau sedang apa? Manajer hyung datang bersama member baru kita, sebaiknya hyung keluar sekarang…"

Terlihat sang eternal maknae grubnya menyembulkan kepalanya. Yesung tersenyum lalu mengangguk.

"baik.. aku keluar sekarang Wook-ah.."

Begitu mereka berdua sudah bergabung dengan member lainnya, terlihat formasi utuh dari sebuah group boyband yang baru terbentuk 1 tahun itu. Super Junior.

Manajer mereka terlihat membawa sebuah koper dan di belakangnya terlihat seorang pemuda dengan perawakan kurus menundukan kepalanya juga membawa koper.

"ini member baru untuk group kalian. Seperti yang kalian dengar dari rapat kemarin… kalian harus memperlakukan dia dengan baik.. dan perlu kalian ketahui, dia adalah maknae kalian… bantu dia untuk merapikan barangnya. Dan Jungsoo kau yang menentukan dia tidur dengan siapa okay.. aku sudah lelah aku mau pulang…"

Begitu manajer keluar, sosok maknae baru itu membungkuk sopan.

"annyeonghaseo. Cho Kyuhyun imnida.."

Yang lain menganggap remeh dan mulai membubarkan diri. Hingga tersisa Leeteuk, Hankyung, Yesung dan Siwon.

"terserah kau mau tidur dimana, aku tak peduli, asal tidak di kamarku…" sang leader berujar dingin lalu masuk ke kamarnya.

"selamat datang ke keluarga besar Super Junior.." ucap Hankyung dengan bahasa Korea yang kagok.

Hankyung memeluknya sekilas dengan senyum merekah.

"aku sebenarnya ingin mengajakmu untuk tidur di kamarku tapi aku sudah sharing kamar dengan Heechulie.."

"biar dia tidur di kamarku hyung.. walau kamarku kecil tapi kau bisa tidur di lantai dengan futon.. aku membawa futon pemberian ibuku.. jadi kau bisa memakainya…" Yesung menawarkan kamarnya mengetahui kalau sang maknae kebingungan.

"kau yakin hyung?" Siwon memandang Yesung di sampingnya.

Yesung mengangguk dan dibalas senyuman oleh Kyuhyun dan raut kurang suka dari Siwon.

"baiklah tersertah kau hyung.. aku harus pulang.. besok aku akan kesini lagi.. annyeong hyung.."

Siwon berpamitan pada 2 hyung nya lalu mencium kening Yesung yang dihadiahi teriakan protes yang tidak dihiraukan Siwon.

"yak.. Siwon sudah berapa kali kubilang untuk menghilangkan kebiasaanmu itu.."

"sudahlah Yesungie.. dia kan memang seperti itu. Lebih baik kita bawa Kyuhyun ke kamarmu.."

Hankyung meraih salah satu koper Kyuhyun dan menariknya mengikuti Yesung yang berjalan menggandeng Kyuhyun yang juga membawa koper.

Begitu mereka memasuki kamar Yesung. Hankyung pamit untuk kembali ke kamarnya karena dia mendengar Heechul memanggilnya.

"kau bisa meletakan kopermu di sudut kosong sana.. dan tidur di samping ranjangku.."

Kyuhyun mengangguk dan menyeret 2 kopernya ke sudut kosong ruangan 3 kali 3 meter itu.

"ehm.. terimakasih Yesung-ssi.."

"ah kau tidak perlu se kaku itu.. panggil aku hyung saja.. Yesung hyung atau Jongwoon hyung itu nama asliku kalau kau belum tahu.."

Kyuhyun mengangguk mengerti. Dia mulai membuka kopernya dan mengeluarkan baju ganti serta perlengkapan mandinya.

"kau mau mandi?"

"ne.. badanku lengket semua hyung.."

"kamar mandinya ada di ujung lorong ya.. dan mengenai member lain, kau jangan ambil hati ya mereka mungkin belum bisa menerima kehadiranmu…"

Kyuhyun mengangguk.

"terimakasih sudah menerimaku hyung…" Kyuhyun membungkuk hormat. Tapi Yesung malah memeluknya.

"tak usah sungkan.. aku kan hyungmu.."

Mereka berdua tersenyum senang. Kyuhyun melanjutkan mencari perlengkapan mandinya. Saat dia hendak beranjak keluar dia meneloh ke arah Yesung yang duduk di depan meja kerjanya. Tak sengaja dia melihat botol-botol obat yang tertata rapi.

"eh.. hyung.. kau sakit?"

Yesung memandang bergantian botol-botol obatnya dan Kyuhyun.

"ah aku kira manjemen sudah memberi tahumu.. ah mungkin karena bukan hal penting.. aku menderita gangguan di pencernakanku. Dan harus meminum obat ini secara rutin.."

Yesung tersenyum lemah.

Kyuhyun mengangguk paham lalu undur diri untuk mandi.

Ooo

"Kini kau tahu kan sebab penderitaanku? Apa kalian tetap akan menganggapku manusia yang normal? Atau akan menjauhiku? Aku sudah lelah dengan semua ini tapi aku juga tak mau aib ini menyebar.. kalian tak akan tahu rasanya memliki sebuah rahim yang seharusnya hanya dimiliki seorang perempuan… aku juga ingin mengangkat rahim sialan ini.. tapi dokter gila itu mengatakan jika rahimku diangkat maka aku akan mengalami pendarahan hebat dan jika bukan dokter itu yang mengangkatnya maka besar resikonya akan terjadi kesalahan pengangkatan dan memicu tumbuhnya sel kanker ganas jika ada sebagian kecil yang tertinggal di perutku…"

Yesung memandang seluruh member,manajer dan keluarganya yang berdiri mengelilingi ranjangnya. Posisinya yang duduk bersandar pada dada bidang Siwon membuatnya terlihat rapuh, benar-benar rapuh ditambah sekarang dia berada di ranjang pesakitan.

Semua yang mendengar berita itu sungguh terkejut. Satu hari setelah Yesung mengetahui dirinya di rawat di rumah sakit, dia meminta seluruh member, manajer dan keluarganya berkumpul untuk menjelaskan perihal 'penyakitnya'.

"Kau harus menjalani proses pengangkatan rahim itu Jongwoon-ah.."

Yesung memandang ayahnya kaget.

"appa.. itu sangat beresiko..aku tak mau mati konyol.."

"kita belum mencobanya Jongwoon-ah, dan siapa tau kata-kata dokter itu hanya gertakan agar kau tidak melapor ke polisi dan melakukan pengangkatan!?"

Terlihat ayah Jongwoon sangat tidak terima dengan kondisi anaknya.

"tapi appa.."

"tenang.. tenangkan dirimu Jongwoon-ah. Dan Kim abbeoji.. saya paham perasaan anda tapi sebaiknya sementara ini kita biarkan rahim itu berada di tempatnya.. kita harus mengorek informasi dari dokter yang selama ini menangani Jongwoon agar kita tahu apa yang harus kita lakukan.." manajer mereka mencoba menengahi suasana.

"kalian tahu di mana dokter gila itu?" ayah Yesung bertanya penuh emosi.

"anda harus tenang, baru nanti saya beritahu keberadaan dokter itu…"

"baiklah.."

Tuan Kim mulai terlihat tenang di damping istrinya.

"aku ingin semua yang berada di ruangan ini menjaga rahasia ini. Jangan ada yang membocorkannya ke publik. Okay.."

Semua yang di ruangan itu mengangguk tak terkecuali Yesung yang menjadi topik pembicaraan.

"kemarin saat kita membawa Jongwoon ke rumah sakit aku menyewa seseorang untuk menyamar menjadi polisi untuk menangkap Ryeojin, dan setelah dia mau ikut kedalam mobil, aku membawanya ke tempat yang jauh dari kota, aku mengurungnya di sebuah gudang dengan penjagaan ketat.. aku mencoba mengorek informasi tentang keadaan Jongwoon melalui orang suruhanku di sana tapi dia bungkam… tidak mau menjelaskan apapun... Dia bilang Jongwoon adalah kelincinya dan hanya dia yang bisa memeliharanya.. itu membuatku bingung hingga tadi setelah Jongwoon selesai bercerita aku baru paham maksudnya… kita bisa mengorek informasi lainnya lagi dari Ryeojin dengan mengatakan padanya kalau kita sudah mengetahui keadaan Jongwoon yang sebenarnya… karena data Jongwoon yang aku ambil dari komputer dan laptopnya tidak lengkap, sepertinya dia sengaja menyembunyikannya di suatu tempat..."

Manajer menutup penjelasannya dengan tersenyum tipis ke arah Yesung yang membalasnya dengan lelehan airmata.

"terimakasih untuk tetap berada di sampingku saat kalian sudah tahu kekuranganku…"

Yesung menangis haru. Siwon yang menjadi sandaranya mengelus lengan Yesung menenangkan. Kyuhyun menghampiri hyungnya itu dan mengusap air matanya dengan lembut.

"aku dan semua yang menyayangimu tidak akan pernah meninggalkanmu hyung… karena kita keluarga…"

Tangis Yesung semakin keras. Ibunya yang berada di sampingnya langsung memeluknya dan diikuti semua orang di ruangan itu memeluk yesung.

TBC atau END?

AUTHOR NOTE:

Yang minta untuk di panjangin gimana ini sudah panjang kan? Di chapter ini aku focus flashback dan asal muasal yesung bisa punya rahim.

Kalau ada yang lihat typo silahkan di koreksi.. kalau lihat ketidak singkronan cerita silahkan complain.. feel free to correct me.. silahkan mengoreksi (tulisan saya)saya…

Balasan review :

Jy: ini ketahuan

Bikuta-chan: hehe yang nulis aja ikut nyeri kekeke yesung ga berubah jadi cewe dia ttp cowo..

Elfira : di sini kejawab kan…ini next nya..

Cloudsrainny :ending dengan ***sung tapi ***sung di sini bromance ya dan genrenya focus ke family n friendship.(nahlo bingung kan? Di keterangan pairing ada tuh)

Kim rose : maksih… ini udah lanjut.. lama dikit tapi panjang kan gapapa ya hehe

Alifahyeye : gimana masih penasaran? Semoga masih biar baca terus

NonnimELF : kalau ga kesakitan kayaknya pembacanya kurang dapet feel ya… hehehe (senyum setan)

Guest1 : maaf kayaknya harus diap2 kecewa kalu berharap pairing ada terwujud dalam hal romance karena pairing itu hanya sebatas bromance

Kyusung : ini lanjut…

Yesung ah : ini udah panjang ya. 4000 word lho…ini juga dah lanjut..

Wonhaesung love : iya ini next

Ryu cloud : iyakkk

Dreamhigh3424 : ini dah dipanjangin 4k lho… trimakasih

Cc: wah sepemikiran ni sama yesung cie cieeee

Olla : tedung? Yesung?! Ini dia udah jujur dan terbuka..

Name ia : sorry sedikit lama…

Sukayesunguke : uname mu bikin ngakak.. ini sudah di next..

Ren : terima kasih reviewnya.. dan dokternya iru cowo ya hehehe maaf kalau bikin bingung. Di chap ini sudah saya jelaskan semuanya. Untuk interaksi belum bisa banyak2

Guest2 : haduh ketauan deh suka baca sasunaru hahahaha aku kalau bikin ini jadi sasunaru latarnya juga harus diubah.. tapi besok lah kalau udah ada ide latarnya diganti apa baru aq bikin versi sasunaru.. gapapa ga login tapi kasih nama biar biar aku kalau bales komenmu tau itu balesan untuk siapa…hehehe

Ia : nunggu anda komen baru lanjut…

Cha2lovekorean : semoga penasaran terus biar baca terus…hehehe… udah di lanjut ya dan dichapter ini dijelaskan..

Mommydaddy : iya gapapa better late than never… waduh 3some hahaha aq ga bisa suruh mereka ber3 bersatu dalam damai eciee.. harus salah satu bromance.. dan sepertinya anda benar kekekekekeke…