AN/ terima kasih semua dukungan kalian mulai dari, review, follow maupun favourite. saya agak lucu kalian mengajukan vote. hehe, saya sudah memutuskan akan saya buat apa ff ini, tapi saya ngk akan bilang, biar kalian tau sejalan dengan cerita ini berjalan, gmn?
Jadi, ini dia chapter 4. hope you like it!
Love and Pride
By Dragonjun
Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Chapter 04. Surprising or surpised
05 September 2005
Sudah seminggu Draco menghindari kenyataan yang meresahkannya. Dia tidak bisa berpikir jernih, dan semua mimpi-mimpi buruknya juga tidak berkompromi untuknya. Dia kesal dengan hidupnya saat ini. dia merasa tidak terima akan nasib yang sedang dia alami.
Berpikir masak-masak, dia merasa perlu mendatangi Theo, sahabat baiknya, atau kalau Theo masih menganggapnya sahabat. Tapi dilain pihak dia ingin bertemu Hermione, masalahnya dia tidak tau apa yang membuatnya ingin bertemu dengan gadis itu, bukan wanita itu.
Dulu pada suatu titik, dia yakin dia memiliki perasaan yang tidak pernah dia rasakan pada wanita lain selain Hermione. Kepergian Hermione bukanlah sesuatu yang dia bayangkan, tidak dari wanita paling berani yang pernah dia kenal, atau mungkin.. dia memang tidak pernah mengenal Hermione Granger.
Dengan mempertimbangkan semua kemungkinan itu, dia memutuskan untuk mendatangi Hermione lebih dulu, pertimbangannya Cuma satu, dia akan menemukan wanita itu di tempat yang dia ketahui, St Mungo, mungkin Nott Estate pilihan yang baik, namun dia tidak yakin apakah keluarga kecil itu akan menetap di rumah peningalan keluarga Nott, tidak dengan semua kenangan Theo disana.
Namun tampaknya takdir sedang mempermainkannya. Dia mendapati figur sahabat lamanya itu keluar dari salah satu ruangan Healer. Draco ingin menyapa Theo tapi dia mengurungkan niatnya, dia tak yakin apa yang akan dia sampaikan. Alih-alih menyapa, Draco membututi sahabat lamanya itu.
Theo berjalan dengan santai tanpa terburu-buru, seakan bahwa dia sudah sangat terbiasa berada di rumah sakit ini. dia berjalan ke arah lantai lima, kafetaria. Draco melakukan sedikit sihir untuk merubah penampilannya dan mengikuti Theo. Ini adalah salah satu keahlian yang tidak pernah dia bagikan pada banyak orang, mengendap-endap dan mencuri dengar.
Dan kini dia yakin bahwa takdir memang sedang mempermainkannya, karena di sana, di salah satu meja, duduklah wanita yang keberadaanya menjadi tujuan utamanya datang ke rumah sakit, dengan di temani dua anak laki-laki yang duduk di setiap sisinya. Anak yang paling muda sedang membaca buku dengan serius, walaupun tampaknya dia masih terlalu kecil untuk bisa membaca. Draco menduga mungkin gambar-gambar di buku itu tampak menarik perhatian anak Hermione yang paling kecil, sedangkan anak yang tertua, Draco tak bisa melihatnya karena duduknya yang membelakangi sedang bercerita seru dengan ibunya.
Theo menghampiri keluarga kecil itu dan memberikan kecupan singkat pada istrinya yang menyambutnya dengan senyuman. Anaknya yang sedang membaca buku menutup bukunya dan menyapa ayahnya, Theo mengusap kedua kepala anaknya itu.
Ada suatu perasaan yang aneh untuk Draco melihat Theo dan keluarga kecilnya. Terlintas dalam pikirannya, bagaimana kalau itu adalah dia? bagaimana kalau pria yang harusnya mengecup Hermione dan membelai kedua kepala anaknya itu adalah dia, Draco Malfoy.
Melihat perhatian kecil dengan makan bersama di kafetaria membuatnya merasa perasaan asing yang tak pernah dia rasakan, cemburu, iri, marah. Harusnya dia ikut senang bahwa sahabatnya, yang tidak pernah mendapatkan kebahagian keluarga dari dia kecil, akhirnya bisa membentuk keluarganya sendiri dan bahagia. Tapi jauh di lubuk hatinya dia sadar, dia mungkin akan sangat berbahagia untuk sahabatnya itu, mungkin, kalau wanita itu bukanlah Hermione.
Draco merasa tidak tahan lagi menyaksikan lebih lama, dia beranjak dari kursinya dan mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu. tampaknya dia akan semakin gila kalau berlama-lama di sana. Draco selalu menjadi orang pengecut, dia kesal dengan dirinya sendiri karena dia pengecut.
"Ini hidupku!" kata Draco mendengus ketika dia menginjakkan kaki memasuki Malfoy Manor. Seminggu sudah dia lari dari ketidak puasan dalam hidupnya, dia kembali pada kehidupannya yang monoton dan kembali dalam kepengecutannya. Dia akan kembali berdiskusi dengan ayahnya. Dia jelas tidak tau apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Kalau dia boleh memilih dia hanya ingin hidup dengan nyaman dan tanpa gangguan.
Dengan perasaan malas dia mengarahkan dirinya untuk ke ruang kerja ayahnya. Tapi dia berhenti di depan pintu ek besar itu ketika dia mendengar suara dari dalam.
"Sampai kapan kau akan membiarkan hal ini, Lucius. Putraku sudah tidak pulang selama satu minggu," kata Narsicca marah. Draco tidak pernah mendengar ibunya berkata seperti itu pada ayahnya, kecuali saat-saat sulit mereka selama perang.
"Aku sedang memikirkannya Narcissa. Kau perlu ingat bahwa dia juga putraku," kata Lucius mendesis, Draco mendengus mendengarnya. Ayahnya masih menganggap dia putranya, padahal Draco sendiri baru saja memutuskan untuk tidak memanggilnya ayah lagi.
"Kalau begitu pikirkan jalan keluarnya. Aku tidak mempertaruhkan nyawaku hanya untuk melihatnya seperti itu, Lucius. Kita sudah mengambil masa kecilnya, masa remajanya, sekarang mungkin masa depannya," kata Narcissa merintih.
"Aku tau. Tapi kita tidak bisa membiarkannya bersikap bodoh," balas Lucius tetap tegas. Draco tanpa sadar menyerigai. Membuat ayahnya merasa tak nyaman merupakan salah satu kesenangan untuknya beberapa tahun belakangan ini.
"Aku tidak tahan dengan ini semua. Dia bisa saja nekat menikahi Astoria hanya untuk membuatmu murka, bahkan walaupun dia tidak mencintai gadis itu," Narcissa merintih, Draco merasa terpecah karena mendengar suara ibunya semakin lemah, dia yakin air mata sudah menetes di pipi ibunya.
"Dan itulah kenapa aku mengatakan bahwa dia bodoh. Aku malah senang kalau dia menikahi Greengrass. Setidaknya dia darah murni. Tapi tidak sebelum dia membawa pewarisnya untukku," Draco mendengar suara Lucius yang tegas, dia tak bisa menutupi bahwa ada lubang yang tidak dia mengerti dari pembicaraan ini dan dia cukup berterima kasih karena ibunya bertanya tentang hal yang ingin dia tanyakan.
"Apa maksudmu? Dia tidak akan bisa mendapatkan pewaris kalau menikahi Astoria, dan aku masih ingat semua orang di luar sana masih mengangap kita tidak layak untuk menikahi salah satu putri mereka," pinta Narcissa.
"Kita sudah mendapatkan pewaris, Narcissa. Kita hanya perlu meng-klaimnya," kata Lucius tenang. Draco merasa bahwa dia salah mendengar, namun keheningan setelah itu membuatnya ingin merutuki dirinya untuk segera masuk ke dalam ruangan dan meminta penjelasan. Draco berusaha keras untuk menjaga ketenangannya sehingga masih berdiri di ambang pintu.
"Apa maksudmu?" tanya Narcissa penuh dengan rasa penasaran.
"Anak darah lumpur itu, dia Malfoy."
"Apa?"
"Anak pertama Hermione Granger, dia adalah Malfoy. Alexander Leon Malfoy," kata Lucius campuran antara kebanggaan dan tidak terima karena cucunya di beri nama Leon 'singa'. Draco merasa seakan kakinya tak lagi menapaki lantai, merasa lututnya seperti jeli sehingga dia mungkin akan jatuh sesegera mungkin. Dia jelas tidak salah mendengar apa yang dikatakan ayahnya karena Lucius mengatakannya dengan jelas dan penuh kebanggaan. Anak Hermione adalah anaknya. Pikirannya kembali pada keluarga kecil di kafetarian St Munggo, kenapa dia tidak bertahan sedikit lebih lama untuk melihat anak yang membelakanginya tadi. Apa warna rambutnya tadi? Tingginya? Hidungnya? Lamunannya sesaat tadi hilang, tampak bahwa bukan hanya dia yang tertegun karena berita ini.
"Kau tidak berpikir bahwa .. Oh,, Merlin, Cucu kita?"
"Aku juga tidak percaya, Narcissa."
"Kau yakin?"
"Ya, aku bertemu dengan anak-anaknya kemarin dulu. Dan aku tidak akan pernah salah melihat matanya, mata itu jelas mata seorang Malfoy. dan juga berkat Daily Prophet kita tau siapa istri Theo Nott."
"Tapi, Bagaimana mungkin!"
"Aku juga ragu. Tapi jelas Draco kita bermain-main dengan semua laranganku. Dan dia tidak hati-hati. Tapi setidaknya kita tidak perlu susah-susah membuatnya menikahi gadis lain. Dia hanya perlu meng-klaim cucu kita dan dia bisa menikah dengan Greengrass."
Kemarahan yang dari tadi ditahannya sudah ada dipuncak ubun-ubunnya kembali. Bagaimana mungkin ayahnya bisa mengatakan dengan begitu dinginnya tanpa memperdulikan perasaannya sama sekali. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah ucapan ibunya kemudian, tidak pernah dia mendengar ibunya berbicara dengan suara kejam dan sakit hati seperti ini.
"Kau orang paling kejam, Lucius," kata Narcissa tajam, suaranya serak menahan air mata.
"Narcissa," panggil Lucius mencoba menenangkan.
"Tidak, jangan mendekat. Kalaupun Draco bisa mengklaim putranya, aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan Astoria. Aku tidak akan membuatnya menderita sepanjang hidupnya dengan menikahi wanita yang salah."
"Narcissa, Draco hanya perlu bertemu dengan anak itu dan mengklaimnya. Hukum sihir akan mendapati anak itu sebagai pewaris Malfoy."
"Aku tidak percaya kau berpikir seperti ini. Bagaimana mungkin kau meminta anakku untuk mengambil seorang anak dari ibunya? Aku seorang ibu, Lucius. Aku tau bagaimana rasanya ketika anakku diambil dariku. Sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang ibu aku tidak akan memaafkan hal itu. dan kalau Draco sampai melakukkannya karena bujuk rayumu, maka aku tidak akan menganggapmu dan Draco sebagai seorang pria yang patut aku hormati dan kasihani lagi."
Sebelum ibunya keluar ruangan, cepat-cepat Draco pergi kembali mencari ketenangan yang mungkin tidak akan pernah dia dapatkan di Malfoy Manor.
27 Juli 2005
Theo sedang membereskan meja kantornya. Kepindahan mereka yang dipercepat membuatnya kerepotan untuk mengatur semua ini, lebih lagi dengan kedatangannya ini banyak kolengannya yang membuat janji untuk bertemu dengannya. Galeon-galeon itu tampaknya selalu saja menarik perhatian. Kalau saja dia bisa menukarkan galeon-galeonnya dengan sedikit waktu untuk keluarganya, maka dia akan melakukannya.
Dia berupaya untuk mengahabiskan waktu sebanyak mungkin dengan keluarga kecilnya, walaupun begitu tanggung jawabnya tidak hanya untuk mendapatkan galeon untuk dirinya sendiri tapi juga berapa banyak orang yang hidup bergantung pada perusahaannya. Untungnya dia memiliki keluarga yang membuat hari-harinya sangat berharga tiap detiknya.
"Mr Nott," pangilan dari telpon di mejanya.
"Ya, Lucy," jawab Theo.
"Mr Malfoy datang. Beliau belum mendapatkan janji bertemu. Namun beliau bersikeras ingin bertemu dengan anda sekarang," kata sekertarisnya sedikit ketakutan. Dia tak bisa menyalahkan, keberadaan Lucius Malfoy selalu mengintimidasi terutama kepada mereka yang baru saja bertemu dengannya.
"Ya, persilahkan dia masuk," jawab Theo. Mungkin Mr Malfoy bisa saja adalah Draco, tapi sejauh yang dia tau Draco belum mengambil alih Malfoy Crop, jadi kemungkinan besar yang datang adalah Lucius. Sejujurnya dia belum ingin bertemu dengan Lucius Malfoy, namun menolaknya hanya akan membuat masalah semakin runyam. Kedatangannya jelas, untuk memastikan bahwa kerjasama perusahaan mereka akan terus berlanjut. Dan Theo tidak punya alasan untuk menghentikan bentuk kerjasama itu. dia harusnya cukup berterima kasih karena Malfoy-lah perusahaannya itu masih bisa bertahan selama pengasingannya di perancis.
Lucius memasukki ruangannya dengan sikap arogan yang masih sangat melekat padanya. Theo memberinya senyum simpul dan mempersilahkan Lucius untuk duduk. Lucius memberikan pandangan ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya duduk di kursi di depan mejanya.
"Aku mendapati banyak perubahan padamu, kau menggunakan banyak teknologi muggle selama perjalananku ke ruanganmu," itulah kata sambutan dari Lucius Malfoy.
Theo tetap mempertahankan senyum simpul dan berjalan mengambil minuman di rak di samping ruangan. Anggur buatan peri yang terbaik.
"Ya, aku mendapati itu banyak membantu," jawab Theo tetap sopan.
Lucius hanya memberinya serigai mencemoh tanda tidak setuju. "Selama ini akan mendatangkan banyak galeon untuk brangkas kita," katanya mengejek, Theo tau dia sedang di uji.
"Tentu saja, Mr Malfoy. Semua peralatan muggle ini untuk mempermudah aku untuk melakukan pengawasan dengan jaringan Nott Inc di perancis. Jelas menggunakan email akan lebih mudah dibandingkan dengan pos burung hantu. Dan galeon yang dihasilkan akan semakin banyak dengan kemudahan itu," kata Theo menawarkan penjelasan walaupun Lucius masih tampak tak suka karena dia mengerutkan cuping hidungnya, tapi memberikan senyum puas. Kekayaan Nott mungkin tidak akan pernah mengalahkan Malfoy tapi perkembangan bisnis Nott Inc di bawah kepemimpinan Theo membuat Nott Inc lebih di pandang baik oleh masyarakat sihir Internasional. Malfoy jelas tak ingin kehilangan salah satu tambang galeon mereka.
"Aku tetap mendapatkan kerjasama kita kalau begitu!" balas Lucius. Satu jam mereka membicarakan keberlanjutan kerjasama mereka, sampai telpon berbunyi menyela diskusi mereka.
"Ya, Lucy?"
"Mr Nott, Mr standley baru saja mengantar anak-anak anda," kata Lucy.
"Ehm,, sebentar lagi aku selesai. Katakan pada mereka untuk menunggu sebentar atau istirahatlah di ruangan sebelah," kata Theo memberitahu sekertarisnya. "Maaf Mr Malfoy, tampaknya kita harus menyudahi dulu pertemuan ini. aku sudah ada janji dengan anak-anakku. Dan maaf saja. Anda datang tanpa pemberitahuan, aku tidak bisa membatalkan janjiku," kata Theo sebisa mungkin tetap sopan, namun tampaknya Lucius tidak suka di nomor duakan.
"Ya. Sebaiknya kita lanjutkan di kantorku besok," kata Lucius enggan.
"Ya tentu. Aku minta maaf karena harus anda yang mendatangi saya lebih dulu. Jujur saja saya seharusnya kembali bulan agustus nanti, tapi anda dengan semua informasi yang anda dapatkan bergerak lebih cepat," kata Theo.
"Ngomong-ngomong dimana istrimu? Kenapa anak-anakmu sampai bisa ke kantormu?" tanya Lucius basa-basi, mereka berdua berjalan keluar ruangan.
"Dia sedang tugas di St Mungo. Kami janji bertemu untuk makan siang bersama," kata Theo memberi anggukan kecil.
"Jadi dia adalah Healer?" tanya Lucius -Theo enggan mengakui- iri.
"Ya."
"Kau pria beruntung. Draco belum menikah sampai detik ini," kata Lucius berhenti di depan pintu ruangan.
"Bukankah dia berkencan dengan Astoria, maksud saya, adik Daphne, Astoria Greengrass?" tanya Theo basa-basi ingin segera mengakhiri.
"Ya. Tapi sepertinya pernikahan masih jauh dari wacana, baiklah aku menunggu kedatangamu di kantorku besok, Theo Nott," kata Lucius akhirnya memberi tangan untuk berjabat tangan.
"Tentu."
Baru saja kata itu terucap, dua teriakan membahana menyusuri lorong itu, dua anak kecil berlari manghampiri Theo
"Daddy!"
"Jagoanku! Siap ke tempat Mommy?" tanya Theo penuh senyum, Theo mengendong putranya yang paling kecil dan mengusap bagian atas kepala putranya yang paling besar.
"Hem," jawab putranya yang paling tua, Lucius memperhatikan dengan seksama, putra Theo yang paling kecil yang ada di gendongannya berambut lurus hitam legam, dan matanya abu-abu sama seperti keturunan Nott. Namun putra tertuanya, Lucius terperangah, berambut coklat terang hampir keemasan, sama berambut lurus, namun yang membuatnya amat terkejut adalah matanya yang biru dengan keperakan di sela-sela garis iris matanya, Malfoy.
"Hello boy! Aku Lucius Malfoy!" kata Lucius tak bisa menahan diri, matanya tetap melekat pada putra pertama Theo walaupun dia menyebut Boys!
"Louise," kata putra Theo yang paling kecil bersemangat, mungkin sekitar dua tahun, Lucius mencatat. Pelafalannya masih belum jelas, dan masih tampak senang belajar berkenalan, Lucius menerima dengan singkat jabat tangan yang di tawarkan oleh si bocah. Perhatiannya kembali pada putra Theo yang paling tua dan menerima uluran tangan lebih hati-hati, dia melihat wajah putranya di wajah bocah itu, kecuali rambutnya.
"Alex! Alexander," kata putra Theo yang paling tua.
"Istrimu orang perancis?" tanya Lucius tak bisa menahan keingintahuannya. Warna matanya adalah keturunan Malfoy, kemungkinan paling besar adalah Theo menikah dengan salah satu darah murni keturunan Malfoy dalam garis keturunan perempuan yang ada di Perancis.
Theo memperhatikan semua gerak-gerik Lucius, ada perasaan tak menyenangkan yang dia sudah prediksi, namun dia tidak menyangka akan seperti ini rasanya.
"Half-France. Ibunya orang perancis," jawab Theo enggan.
"Darah murni?" tanya Lucius mendongak pada Theo menantangnya untuk berbohong. Tapi Theo tau dia tidak sehebat Lucius untuk mengalahkan Legimens-nya, walaupun peragainya seperti mendiang Severus Snape, dia bukanlah occlumens yang hebat seperti Draco.
"Hem, istriku kelahiran Muggle Mr Malfoy!" kata Theo dengan tenang. Theo bisa melihat Lucius terkejut dengan perkataanya, namun dengan cepat menyamarkannya.
"I see! Sampai bertemu besok, Theo. Selamat bersenang-senang, Boys!" kata Lucius dengan senyum yang membuat Theo bergidik.
"Kau juga Mr Malfoy!"
_TBC_
