Iin: Uwaaah... daku males ngebacot! Langsung aja deh bales review~
Pichi: Ok!
Chappie 3:
buat: twingklypurp, Arasa Koneko-chan, Yuuzuka Yumeina, Hikari Kou Minami udah dibalas lewat PM
Chappie 2:
buat: Anesu-chan Nyo udah dibalas lewat PM.
Chappie 1:
buat: Anesu-chan Nyo, Ness Caelum, Hyuka Len(.)Ikari *tanda kurung dihilangkan* udah dibalas lewat PM
Iin: Osh! Selamat membaca!
Pichi: Enjoy it!
"Baiklah, Len-oujisama," Gakupo menunduk dan memberikanku surat tanda kepemilikan kerajaan.
"Ayo kita pulang," ajakku pada Luka, Luki, Rin dan Ted.
"Hai," lalu kami berjalan pulang.
Hari yang menyenangkan!
Dan, aku akan mengundang Miku Hatsune ke kerajaanku. Ahahahaha!
A Vocaloid Fanfiction.
Disclaimer: Yamaha Corp.
Presented by: Iin and Pichi.
Inspirited by: Prince of Evil.
Title: Prince of Evil.
Warning: Gaje, abal, hancur, aneh, first fic in Vocaloid fandom, typo[s], misstypo[s], beda sama lagunya, you can guess whose POV is this, LITTLE GORE, and many more…
Don't like? Don't read!
RATE: T semi M
Di perjalanan, Luka dan Luki menunduk lesu. Kenapa? Apakah karena Kerajaan Ungu kini jatuh ke tanganku?
Apa peduliku?
Ups! Apakah aku lupa menceritakan bahwa aku membawa beberapa 'souvenir' dari Kerajaan Ungu? Aku membawa Gumi. Yah, untuk berkerja menjadi dayang tambahan di sini. Ah, lagipula wawasannya luas. Sangat menyenangkan memiliki dayang seperti dia.
Kiit...
Kereta kuda sudah berhenti tepat di depan kerajaanku.
Karpet merah sudah tersedia di sana dan dengan perlahan beserta segala keangkuhanku aku turun dari kereta dan berjalan dengan gagahnya.
Rin dan Luka mengekor di belakangku. Luki dan Ted melanjutkan perjalanannya menuju tempat meletakkan kereta.
"Selamat datang, Len-oujisama," ujar Haku.
"Hm," sahutku pendek lalu berjalan masuk menuju singgasanaku.
+Prince of Evil+
Aku sudah selesai melakukan semua kegiatan rutinku. Ah, sayangnya Ted tidak membawa 'santapan' kesukaanku. Tidak ada kejahatan hari ini. Bosaaaan~
Ting!
Tiba-tiba saja aku teringat akan rencanaku. Membawa Miku ke istanaku.
"Gumi-san, bawakan aku data tentang Hatsune Miku," ujarku sambil merapikan bajuku.
"Tidak bisakah kau mengatakan 'tolong'?" geramnya.
"A-a-a!" aku menggerakkan telunjuk kiriku ke kanan dan ke kiri. "Kurasa pengetahuanmu sungguh kecil, Gumi-san. Pengetahuanmu tentang kebiasaan Kerajaan Setan."
"Aku hanya ingin mengajarimu, Len!" bentaknya kasar.
"Len?" aku mengangkat sebelah alisku.
"Apa? Ada yang aneh?" ia memandangku tajam. Aw~ sungguh menakutkan~ hahahaha!
Aku berdiri, "Tidakkah kau diajari sopan santun oleh Gakupo-san?"
"Tentu saja!" ia membentakku. Ingin mati rupanya.
"Jadi, kau adalah murid yang buruk. Haruskah aku mendidikmu ulang, Nona?" tanyaku sarkastik.
"Jika kau bisa bertingkah tidak sopan, aku juga bisa!" ia melawan.
Yah, memang kerajaan ini begitu. Setiap orang yang baru masuk ke kerajaan ini pasti akan bertingkah tidak sopan. Tapi, sebentar lagi ia akan tunduk di hadapanku. Kujamin itu.
"Kuanggap itu sebagai pujian," ujarku tenang.
"Itu sama sekali bukan pujian!" sentaknya dengan wajah yang merah padam menahan amarah.
"Haku-san, Luka-san. Pegang lengannya!" titahku.
Luka dan Haku mendekati Gumi lalu memegang kedua lengannya.
Aku mendekatkan wajahku pada Gumi. Langsung saja wajahnya memerah.
"Tatap aku dengan lekat, Gumi-san," aku menatap matanya lalu mendekati telinganya, "dan masuklah dalam pesonaku."
Aku merasakannnya bergetar. Aku tersenyum puas. Yap, ia telah terhasut pada bisikan mautku.
Aku melirik Rin. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia juga tidak menatapku. Ada apa?
"Nah, bagaimana perasaanmu Gumi-san?" tanyaku.
"Baik, Len-oujisama," ujar Gumi.
Berhasil, sudah kujamin bukan? Seperti kata Napoleon, 'Kutaklukan dia!'
Jangan tanya aku, kenapa aku bisa menaklukan dia, ah! Bahkan semua wanita di sini. Itu sudah jelas bukan?
"Bagus. Sekarang, mana datanya?" tanyaku sambil tersenyum senang.
"Ini, Len-oujisama," ia menyerahkan data tentang Miku.
Hatsune Miku, seorang putri kerajaan hijau. Sangat ramah dan dekat dengan rakyatnya.
Kerajaan hijau merupakan salah satu kerajaan yang mengakui 'seorang putri'.
Hatsune Miku sangat tertutup. Tidak ada yang pernah tahu tentang urusan pribadinya.
[Tidak ada informasi lebih lanjut]
"APA!" aku meremas data itu.
"Ada apa, Len-oujisama?" tanya Rin —karena hanya dia yang memiliki hak untuk bertanya seperti itu— sambil menatapku cemas.
"Apa ini? Ini yang disebut data? Memalukan! Bahkan lukisam wajahnya saat ia masih kecil! Ted-san! Gantung Gumi!" aku tidak dapat berpikir dengan jernih. Langsung saja aku menjatuhkan hukuman pada Gumi.
"Hai," ujar Ted mengangguk.
"Tidak!" bantah Rin.
Aku melirik Rin sekilas, "Apa maumu?"
"Maaf atas kelancanganku, Len-oujisama," Rin menunduk.
Aku mengangguk.
"Tapi, menurut pendapat saya. Lebih baik kita membiarkan Gumi-san tetap hidup. Ia pasti memiliki fungsi yang lain dan dapat membangkitkan kerajaan kita, Len-oujisama," Rin memberikan pendapatnya.
Duk!
Aku duduk ke singgasanaku. Lalu meletakkan tanganku di bawah hidungku. Yah, seperti berpikir.
"Baiklah. Luka-san, siapkan undangan untuk Hatsune Miku ke istanaku. Biar aku dan Rin-san yang akan mengantarkan undangan itu padanya," ujarku pada Luka lalu berbalik menuju kamar tidurku.
Kita lihat, betapa indahnya hari esok.
+Prince of Evil+
Hm... siap! Penampilanku sudah rapi. Ayo turun dan melihat undangan yang dibuat oleh Luka.
Klek!
Aku membuka pintu dan melihat mereka. Rin sudah siap berangkat, Luka juga sudah membawa undangannya. Aku menuruni tangga.
Entahlah, aku baru menyadarinya sekarang. Setiap aku pergi. Pasti, aku bersama Rin.
"Luka-san, bisa aku melihat suratnya?" tanyaku pada Luka.
"Tentu saja, Len-oujisama," ia menyerahkan suratnya padaku.
Aku tidak membacanya dan langsung saja menarik Rin menuju luar kerajaan.
+Prince of Evil+
Kuda putih yang akan aku kendarai sudah siap.
Aku menaiki kuda itu.
"Rin-san, ayo duduk di belakangku. Biar aku yang mengendarai kudanya," ujarku.
Argh! Apa yang aku katakan? Kenapa... setiap berada di dekatnya aku pasti menjadi lembut!
"Terima kasih, Len-oujisama," ia tersenyum kecil.
Lalu ia naik dan duduk di belakangku.
"Pegang aku dengan erat kalau kau tidak ingin jatuh," ujarku.
Lalu ia memeluk pinggangku dari belakang.
Deg... deg... deg...
Ototku berkontraksi, jantung berdebar lebih cepat dan sesuatu yang hangat menyentuh wajahku. Gawat! Tidak mungkin aku... LUPAKAN!
"Heah!" teriakku sambil memukul kudaku menggunakan cambuk.
Klotak! Klotak! Klotak!
Deru langkah kuda ini berlari. Rin makin mengeratkan pelukannya.
'Tenang saja Rin. Aku akan menjagamu. Aku janji,' ucapku dalam hati.
"Rin," panggilku.
"Ya, Len-oujisama?" ia menyahut.
"Ssh! Kau tidak perlu memanggilku begitu di luar istana, Rin," ujarku sambil menatap jalanan dengan serius. Ah, sudahlah. Aku tidak ingin membahas tentang perasaan tidak jelas ini.
"Baiklah, Len," ia berkata dengan lembut.
Mendengar Rin yang hanya memanggilku Len. Aku jadi teringat sesuatu...
[Flashback: On]
"Ayo Rin! Ucapkan sesuatu!" ujar Neru pada anak perempuannya yang masih berumur lima bulan.
"Gagagaga!" Rin mulai mengeluarkan kata-katanya dengan semangat.
"Sekarang giliranmu, Len," Neru beralih pada Len.
"Ahahahahaha!" Len malah tertawa jahat. Hm... sepertinya itu terbawa hingga Len berumur empat belas tahun.
"Ayo Rin, Len! Sebutkan satu kata pertama yang bisa kau ucapkan!" titah Neru pada anak-anaknya.
"Len!"
"Rin!"
ujar kedua anak kembar itu dalam waktu yang bersamaan.
Mata Neru membulat lalu memeluk kedua anaknya.
"Kalian berdua memang hebat. Kaa-san bangga," ujar Neru pada kedua anaknya.
[Satu bulan kemudian...]
"Rin! Dia adalah aib keluarga kita! Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melahirkan anak perempuan!" bentak sang Raja kepada sang Ratu. "Megurine! Ambil anak ini!"
"Hai," Luka mengangguk setuju.
"Len!" Rin menjulurkan tangannya.
"Rin!" Len menjulurkan tangannya.
[Flashback: Off]
Deg...
Aku kembali teringat sesuatu. Ternyata... Tou-san...
"Rin..." panggilku lirih.
"Ya?" ia merespon.
"Tidak. Lupakan saja," aku kembali mengendarai kuda itu dengan fokus.
"Hai," ia kembali merespon.
Ckiit!
"Sampai," ujarku lalu turun dari kuda diikuti oleh Rin.
Kami sampai di taman bunga. Kulihat, Miku bersama Kaito sedang tertawa riang di sana.
"Miku-chan, aku... ingin kau menjadi ratu kerajaanku. Bagaimana?" tanya Kaito sambil memberikan Miku bunga.
Miku mengambil bunganya, "Tentu."
Deg...
Aku menggenggam tangan Rin.
Tangannya juga bergetar. Tapi... entahlah, aku tidak merasa sangat sakit. Tidak lebih sakit dari saat melihat Rin membicarakan Kaito dengan wajah yang memerah. Entah... aku tidak mengerti.
Tes... tes... tes...
Air mata Rin terjatuh membasahi punggung tanganku.
Kaito! Gara-gara kau, Rin menangis! Dan juga... kau merebut Miku! Tidak bisa kumaafkan!
"Aku benci Kaito," desisku melihat Kaito yang tertawa riang.
"Aku juga bisa merasakan perasaanmu, Len," ujar Rin menahan isakannya.
Aku melepaskan genggaman tanganku lalu memegang pipinya.
Aku menatap lekat matanya yang berair.
"Rin..."
Grep...
Aku membawanya ke pelukanku. Tangan kiriku berada di punggungnya dan tangan kananku berada di kepalanya —menekan kepalanya agar ia berada di pelukanku lebih dalam lagi.
"Le... Len...," suaranya bergetar.
"Ssst... tetaplah di sisiku, Rin," aku mengatakannya dengan lembut.
Argh! Len baka!
"Tentu saja," ia balas memelukku.
Sesuatu yang hangat seakan mengalir dengan lembut dalam tubuhku.
+Prince of Evil+
Aku sampai di rumah dan langsung saja disambut oleh ribuan penduduk berpakaian ungu. Mau memberontak ya? Kebetulan, aku sedang kesal dan ingin melampiaskan semuanya.
"Len-oujisama!" teriak Ted dari gerbang istana.
Grr! Aku sedang ingin melawan sekarang!
"Tenang saja, Ted-san. Kebetulan, aku sedang bersemangat," aku tersenyum jahat.
"Bahahaha! Anak kecil!" ledek salah satu orang berpakaian ungu tersebut.
Sring!
Aku mengeluarkan pedangku.
Sring! Sring! Sring!
Mereka juga mengeluarkan pedang-pedang.
Fokus... fokus...
...
SEKARANG!
Aku bergerak dengan lincah sambil mengayunkan pedang-pedangku.
Zaash!
Aku menebas tiga orang sekaligus.
Syung~
Trang!
Seseorang mengarahkan pedangnya kearahku dan segera saja aku menangkisnya.
"Maukah kau menemaniku bermain, kakak?" ejekku lalu menancapkan pedang pada puncak kepalanya.
"Hup!" aku meloncat lalu berputar di atas kepalanya. Aku menjadikan kepalanya tumpuan untuk meloncat.
Buk!
Aku menendang tubuhnya agar terjatuh dan mencambut pedangku.
"Terima mainan ini, anak kecil!" teriak dua orang sambil menyerangku.
Syung!
Mereka menyerangku dengan pedang yang membujur bersamaan. Aku merunduk lalu merebut salah satu pedang mereka lalu menusuk punggung mereka dengan kedua pedang yang aku bawa hingga tembus di dada kiri.
Jleb!
"Akh!" pekik mereka dan aku kembali menarik kedua pedang itu.
Aku dikelilingi oleh orang-orang yang membawa pedang.
Aku berputar sambil merentangkan tanganku yang membawa pedang.
Zrash! Zrash! Zrash!
Crat!
Banyak yang terjatuh dan memuncratkan darahnya.
Yaks! Darahnya mengenai sepatuku yang mahal!
"Heaaaah!" seseorang menyerangku dari belakang.
Jleb!
Darah bercucuran dari punggungku.
.
.
.
Sayang, ini bukan darahku.
Dengan respon yang cepat, aku mengayunkan pedangku ke belakang tanpa melihat posisi lawan. Untungnya pedangku lebih panjang, jadi ia terkena pedangku duluan dan darahnya muncrat ke punggungku!
"Euh! Gara-gara kamu, bajuku jadi kotor!" aku marah-marah pada tubuh tak bernyawa itu lagi.
Tring!
Sret!
Pedang yang tadi aku rampas terbelah menjadi tipis dan kecil. Mataku membelalak.
"Skak mat," ujar orang itu lalu mengayunkan pedangnya kewajahku.
"Dalam pikiranmu," aku mengadahkan kepalaku dan menekuk lututku sehingga yang terpotong hanya helaian poniku.
Lalu menggerakkan tanganku yang menggenggam pedangku menusuk jantungnya.
Bret!
Aku menarik pedang itu hingga membelah pundaknya. Dari jantung hingga pundak.
Habis... akhirnya berakhir.
"Fufufu! Pertunjukkan yang bagus, Len-oujisama," ujar seseorang berambut ungu.
Gakupo!
"Cih," aku mendecih.
"Aku penasaran apa reaksimu jika melihat ini," Gakupo menarik sesuatu dari kegelapan.
"Emmmh! Emmh!" erang Rin.
Rin... RIIN!
"Apa maumu, Gakupo-nii?" tanyaku sambil menatapnya tajam.
"Aku hanya ingin kekuasaanku kembali, Len-oujisama," ujar Gakupo.
Aku melihat keadaan sekitar.
Kalau aku melempar pedangku... tidak mungkin! Pedang ini tidak akan mengenai sasarannya dengan tepat. Lagipula pedangnya berat. Hm... ah!
Aku melirik tanganku yang menggeggam pedang yang sempat terbelah tadi.
Aku punya ide!
"Mm... Gakupo-nii~ tidakkah kau berpikir, Pangeran sepertiku bisa mendapatkan seribu orang dengan mudahnya? Yah, itu berarti... sandramu tidak akan mengurungkan niatku untuk menguasai kerajaan milikmu. Mengerti?" ujarku sambil memutar-mutarkan pedangku.
"Hm?" ia mengangkat sebelah alisnya.
"Masih belum mengerti juga? Tidak kusangka, kau lebih bodoh dibandingkan yang aku bayangkan," ejekku.
"Berarti... ini tidak berarti lagi?" ia mengeluarkan samurai dan mendekatkannya ke leher Rin.
"..." aku hanya menatapnya tajam.
"Baiklah. Akan kubunuh dia!" lalu ia mengayunkan pedangnya ke arah Rin.
Aku memejamkan mataku.
Syung!
Jleb!
Darah kembali bermuncratan. Aku membuka mataku.
Pakaian Rin terkotori darah. Pupilnya mengecil karena ketakutan. Aku tepat waktu.
Saat aku memejamkan mata seakan-akan melihat kematian orang yang disayangi dihadapan sendiri, diam-diam melempar pedang yang terbelah dua tadi.
Lemparanku yang akurat mengenai dahinya hingga tembus. Kalau aku terlambat 0,1 detik saja. Aku tidak yakin, Rin masih bisa berdiri tegak di hadapanku.
"Hm, sayangnya. Aku tidak akan berhasil menemukan pengganti Rin diantara seribu orang yang kumaksud tadi, Gakupo-nii," ujarku sambil kembali berjalan dengan santai menuju istanaku.
Aku berjalan dengan angkuh menuju istanaku.
Sesuatu tentang kejadian tadi -Miku dan Kaito- membuat emosiku membuncah lagi.
"Ted-san!" panggilku.
"Ya, Len-oujisama?" ia membungkuk.
"Kau tau Kaito-nii bukan?" tanyaku tanpa menatapnya.
"Pangeran Kerajaan Biru? Tentu saja, Len-oujisama," sahutnya kembali.
"Bagus. Hancurkan Kerajaan Biru. Jangan lupa, jajah Kerajaan Merah," ujarku lalu bersiap untuk berjalan, "kurasa Kerajaan Ungu sudah tidak berguna lagi."
"Hai," sahutnya.
Tap, tap, tap...
Langkah kakiku menggema.
Bagus, tinggal tunggu hasil saja. A~ HA! HA! HA!
Tsuzuku...
Iin: Ya~! Chappie 4 is update!
Pichi: Hihi~
Iin: Osh! Makin lama makin gaje~
Pichi: ...
Iin: Gimana gorenya? Cakep kan? XD
Pichi: Abaikan yang satu itu.
Iin: AH, sudahlah. Review please~
Pichi: R-E-V-I-E-W!
*untuk kali ini tidak ada Fun Quiz XD*
.
.
Mind to Review?
.
.
