01 - For Me, The Miracle Is Impossible

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Untuk hatiku yang mengharapkan sebuah keajaiban, aku minta maaf karena aku tidak berhasil mendapatkannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau tahu, Hyung, bintang memang sangat kecil jika dibandingkan dengan bulan. Namun, bintang adalah simbol dari tentramnya langit. Cahaya mereka begitu indah di langit malam, membuat sang rembulan tidak pernah merasa kesepian."—Cho Kyuhyun.

"Kau tidak pernah berubah, Kyuhyun-ah. Kau masih saja bodoh seperti bintang harapanmu itu, Sirius. Aku pun tetap sama seperti dulu. Tetap seperti bintang redup, yang hanya diam melihatmu membakar diri sendiri demi dapat dilihat oleh mereka."—Cho Siwon.

"Maaf karena aku masih pengecut sejak dulu. Aku tidak akan mengharapkan senyuman tulusmu lagi. Tapi, aku tetap berharap kau akan terus bahagia, Kyuhyun-ah."—Cho Kibum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, Agustus 2014

"Katakan sekali lagi, Kyuhyun-ie. Kalau kau akan berhenti bermain basket."

Suara hentakan bola yang terbuat dari karet sintesis itu terdengar memecah keheningan. Siang yang sudah berada di puncak, membuat peluh dari sang pemilik bola merembes dari pori-porinya. Tatapan setajam elang itu hanya fokus pada ring dan melakukan beberapa gaya andalannya.

Disebuah basketball stadium yang sangat luas ini, ia terus memainkan bola itu—sendirian—sejak dua jam yang lalu. Namun, sejak satu jam terakhir, kegiatannya berubah. Ia tak lagi melakukan beberapa gaya ketika shooting. Ia hanya sekedar men-dribble bola, lalu melakukan medium shoot tanpa jump dan berlari mengelilingi lapangan.

Tubuh tinggi kurusnya yang terbalut oleh sweater crew neck terus bergerak, berusaha untuk menyamarkan suatu kalimat yang terus berdengung ditelinganya. Seragam sekolahnya masih tersembunyi dari balik sweater itu, membuat ia terus menghasilkan keringat dua kali lebih banyak.

Hembusan kasar terdengar begitu jelas. Tepat ketika dirinya merasa semua yang ia lakukan adalah sia-sia. Tak cukup membuat dirinya lelah, kalimat itu terus saja berputar. Kepalanya hampir pecah. Satu kalimat sederhana itu terus mengalun indah, tak dapat hilang sedikitpun.

Tidak bermain basket lagi, ya?

Batinnya kini yang berbicara. Tatapannya berubah kosong. Langkahnya terhenti. Begitu pula dengan bola basket ditangannya yang terlepas. Manik musim gugur itu bergerak tak tahu arah, kosong dan kian meredup. Pancaran polos miliknya perlahan menghilang, tepat ketika benaknya hampir terjatuh begitu dalam.

Digigit bibir bawahnya lalu menghela nafas berkali-kali. Sungguh pun, ia merasakan sesak yang luar biasa saat ini. Bagi dirinya, menangis adalah larangan. Ia tidak ingin menjadi dirinya dahulu, yang kerap kali menangis dalam diam.

Aku sudah berjanji tidak akan menangis. Jadi, tidak ada alasan untukku meneteskan air mata lagi.

Bruk!

Pemuda itu memilih untuk menghentikkan aksi membuat tubuhnya lelah. Nafasnya memburu ketika membiarkan tubuhnya terbaring terlentang di lapangan sepi ini. Yang benar saja, rasa lelah seketika menggerayang, terasa begitu jelas sampai ia meringis. Matanya terpejam ketika merasakan sinar lampu yang menyorot tepat diatasnya. Wajah putihnya kian pucat seiring dengan rasa tak nyaman yang mulai menusuk. Ia tahu ini adalah batasnya, tapi ia bahagia melakukan ini. Sungguh.

"Aku sudah berhenti. Lalu apa yang ku lakukan sekarang?"

Pemuda itu, Cho Kyuhyun, menghela nafasnya perlahan. Keningnya berkerut dalam ketika merasakan sakit yang menusuk itu. Tepat diperutnya, hingga rasa itu mulai menggerayang ke tulang rusuk, hingga persendian terasa nyeri. Rasa-rasanya, ingin sekali Kyuhyun merutuk diri sendiri saat ini.

Kalau kau lelah, seharusnya berhenti sedari tadi, bodoh!

Kibum, Cho Kibum, seorang pemuda berambut hitam pekat itu mengunci pandang pada sosok Kyuhyun yang masih sibuk dengan rasa sakitnya. Disana, ia dapat melihat bagaimana penderitaan seorang Cho Kyuhyun terjadi.

Ya, Cho Kyuhyun—salah satu atlet basket yang telah mengharumkan nama sekolah dengan memenangkan beberapa turnamen—terlihat begitu rapuh dimatanya. Saat ini, Kibum tidak dapat bergerak. Tubuhnya layaknya batu, tetap berdiri di ambang pintu dan memandang Kyuhyun dalam diam.

Cho Kibum dan Cho Kyuhyun, mereka kakak-beradik. Anak dari Cho Young Hwan, seorang pembisnis kaya raya yang merupakan pemilik Cho Corporation, salah satu perusahaan terbesar di negara ini, Korea Selatan.

Bisa dihitung dengan jari bagaimana percakapan mereka terjalin. Dirumah bak istana mereka pun tak ada yang berani mengambil percakapan. Kyuhyun yang tidak pernah memusingkan hal itu terkadang merasa bersalah. Namun, Kibum selalu bergerak lebih dulu, menanyakan kondisi adiknya secara terang-terangan.

Sepertinya, walau hanya sekedar mengatakan hai pada Kyuhyun sekarang, Kibum tak bisa. Pemuda dengan tatapan sendu itu hanya bisa memandang dari jauh. Benaknya terus mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun, ia tahu Kyuhyun tidak akan bisa mendengarnya. Karena sosok Kyuhyun masih betah diposisinya, menghempaskan tubuh di lapangan basket yang luas ini.

"Aku ingin berhenti. Tapi, aku tidak bisa."

Sejujurnya, Kibum ingin sekali berlari menjauh. Tepat ketika ia melihat Kyuhyun sesekali mengusap pipinya. Hatinya tergores perih. Ya Tuhan, Kyuhyun menangis. Sungguh pun, pemuda berusia lima belas tahun itu tidak pernah menumpahkan air matanya.

Jika Kibum tahu, Kyuhyun sudah melewati batasnya. Kyuhyun ingin melawan, tapi rasanya begitu sulit disaat ia mengingat segala kesedihan yang akan ia terima dari mereka. Jangan salahkan Kyuhyun jika ia menangis kali ini. Sudah cukup senyuman yang ia perlihatkan. Biarkan ia menumpahkan kesedihannya dalam diam, tanpa isak tangis.

"Maafkan aku, Kyu-nie." Kibum berniat menjauh. Namun, ia tidak melupakan satu hal. Pemuda itu menaruh sebuah kotak makanan beserta minuman disamping tas Kyuhyun. Sebelum pergi, ia mengusap air matanya yang tanpa disadari telah mengalir.

Seorang Cho Kibum menangis. Pemuda berwajah es itu hampir tak pernah menunjukkan ekspresi yang berarti pada orang-orang sekitar. Namun, ia terlihat lemah kini, hanya karena adiknya, Kyuhyun.

Kau tahu, Kyu. Dia kembali. Kau bahagia, bukan? Tapi, mengapa kau menangis?

Suara derap kaki terdengar di sepanjang lorong. Kibum melangkah menjauh dari sana, berniat untuk tak melihat pemandangan menyedihkan itu lagi.

Kibum tak menyadari ada seseorang yang memerhatikannya sedari tadi. Pria itu tersenyum hambar melihat punggung Kibum telah hilang karena berbelok arah. "Dia masih saja seperti tikus, yang selalu datang dan pergi diam-diam."

Pria bermata sipit itu tak henti tersenyum, membuat kedua pipinya terangkat keatas. Ia mendecak ketika sampai di lapangan basket ini, melihat pemuda yang ia kenal—lagi-lagi—berada di sana—sendirian.

"Aku melihat Kibum tadi." Kim Yesung. Pria itu mendekat kearah Kyuhyun, mengambil sebuah botol minuman yang ia temukan di samping tas Kyuhyun. Lalu menempelkannya di pipi putih pemuda itu yang terlihat basah. Astaga, pemuda di hadapannya ini benar-benar bermandikan keringat.

Setidaknya, air matanya tersamarkan. Keringat ini membantu Kyuhyun. Karena dengan telak Yesung tak menyadari bahwa ia baru saja menangis.

"Lalu?" Kyuhyun membuka matanya sesaat, menatap Yesung—hanya sekedar untuk memastikan bahwa yang datang itu benar-benar Yesung—lalu kembali menutup matanya. Sensasi dingin yang terasa dari botol minuman itu membuat ia sedikit tersadar. Namun, rasa sakit ditubuhnya tak berkurang sama sekali.

"Kau akan membiarkan dia terus seperti itu? Apa yang terjadi pada kalian sebenarnya?" Yesung bertanya sengit. Pria berumur 26 tahun itu menatap Kyuhyun bingung.

"Aku suka dia yang seperti itu, Hyung." Kyuhyun menggigit bibir bawahnya dengan mata tertutup. Rasa sakit yang menggerayang mulai berkurang. Ia menghela nafas lega.

Yesung mengerutkan kening. Lalu duduk disamping Kyuhyun yang masih berbaring. "Ya, kau suka membuat dia menangis dalam diam. Kau tahu, ini sudah kesekian kalinya aku melihat Kibum menangisimu."

Kyuhyun akhirnya memilih untuk membuka mata. Yesung memang sudah mengetahuinya. Pria itu merupakan pelatih basket disekolah ini. Tentang berhentinya ia bermain basket pun, Yesung sudah tahu sebabnya.

Ah, ralat, seluruh warga sekolah ini sudah tahu. Kyuhyun mendecih. "Seperti yang kau tahu, Hyung. Aku sakit dan mungkin akan segera mati. Ya, itu kesimpulan yang tepat dari segala berita aneh tentangku," jeda sesaat. Kyuhyun menghela nafasnya. Tatapan kosongnya kembali menguasai, membuat manik musim gugur miliknya meredup. "Tidak ada manfaatnya menangisiku. Kibum Hyung hanya terlalu bodoh."

Tanpa sadar, Yesung mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Ia dapat melihat betapa redupnya tatapan Kyuhyun. Matanya terasa panas, namun ia berhasil dengan baik menahan air matanya.

Sangat disayangkan baginya kedua pemuda itu—Cho Kibum dan Cho Kyuhyun—mereka selalu unggul dalam kegiatan sekolah. Entah ada angin apa, keduanya berhenti. Kyuhyun yang berhenti dari club basketnya, dan Kibum yang berhenti dari club fisikanya.

Tapi, Yesung lebih heran dengan pemuda satu ini. Bagaimana bisa seorang Cho Kyuhyun yang selalu sehat di matanya, tiba-tiba keluar dari club basket dan mengatakan aku akan segera mati. Ya, Tuhan, Yesung tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. "Kau tahu kalau kau sakit, lalu kenapa kau masih bersikeras bermain, eoh?"

"Untuk yang terakhir kali, mungkin?" Kyuhyun mengangkat bahu tak acuh. Ia menatap Yesung sebentar, lalu tertawa kecil. "Kau jelek sekali, Hyung. Untuk apa air matamu itu? Aku tidak membutuhkannya."

Yesung terkesiap. Lalu mengusap kedua pipinya yang basah. Ia tidak sadar telah menangis. Tunggu, sejak kapan ia menangis? "Aish, mulutmu itu perlu di sekolahkan."

Kyuhyun terkikik kecil. Lalu membiarkan atmosfir kesunyian menguasai mereka sesaat. "Aku senang bermain sendirian sekarang. Menikmati detik-detik yang tersisa disini merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku." Lalu kembali menatap langit-langit basketball stadium yang luar biasa besar ini. Sepi sekali, dan Kyuhyun memang sengaja membolos. Hanya demi mengutarakan penatnya dari segala kenyataan pahit kehidupannya.

Mereka terdiam. Kalimat terakhir Kyuhyun membuat Yesung bungkam. Ia menghela nafas lalu ikut menghempaskan tubuhnya disamping Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil, merasakan angin berhembus entah dari mana. Lapangan besar ini begitu tertutup, membuat ia menyipitkan kedua mata karena hanya cahaya lampu yang menusuk matanya. "Mereka seperti matahari, Hyung." Tangan pucat Kyuhyun terangkat, menggerakkan jarinya seolah sedang melukis diudara. Ia terus melakukan itu dengan sang angin yang menjadi tintanya.

Yesung meletakkan kedua tangannya di bawah kepala, menatap Kyuhyun penuh. Ia sedikit terkesiap melihat Kyuhyun tersenyum. Walau cahaya polos dari manik musim gugur itu tak dilihatnya. Namun, Yesung dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari senyum itu. "Siapa matahari yang kau maksud, Kyu?"

Ya, Kyuhyun tersenyum puas. Delusinya bermain. Baru saja tangannya melukis bintang di siang terik ini. Ia sedikit rindu dengan malam. "Kedua orang tuaku."

Sepertinya, sudah ketiga kalinya Yesung mengernyitkan dahi karena Kyuhyun hari ini. Dan Yesung harus mengubur harapannya untuk melihat senyum polos Kyuhyun kembali. Karena detik ini, pancaran sinarnya kembali hilang, terganti dengan raut kosong yang ketara.

"Mereka seperti matahari, Hyung. Sang matahari yang tak kuasa ku pandang."

Yesung menatap Kyuhyun tidak mengerti. Tanpa alasan yang jelas, dadanya berdenyut sakit mendengarnya. "Aku tidak mengerti, ..."

"Maaf jika aku membuatmu bingung, Hyung. Aku hanya sedikit merindukan malam." Kyuhyun menoleh sesaat kearah Yesung, disertai dengan kekehan kecil.

Yesung tertawa. "Kau benar-benar aneh. Aku kira hanya aku yang aneh disini." Lalu tawa itu hilang tak berbekas. Yesung membasahi bibirnya lalu menggigit dengan kuat pipi dalamnya. Ia dapat merasakan pelupuk matanya memanas. Aku sudah mengetahui semuanya, Kyu. Semua hal yang bertolak belakang dengan desas-desus tentang dirimu. Aku sudah mengetahui semuanya.

"Entah menapa, aku sangat menyukai bintang." Kyuhyun menerawang. Matanya berembun karena alasan yang berbeda. Rasa sakit itu muncul kembali. Tepat ketika dirinya mengingat afeksi mereka yang selalu terombang-ambing.

"Kau tahu, Hyung, bintang memang sangat kecil jika dibandingkan dengan bulan. Namun, bintang adalah simbol dari tentramnya langit. Cahaya mereka begitu indah di langit malam, membuat sang rembulan tidak pernah merasa kesepian." Kyuhyun tersenyum tanpa sadar. "Aku ingin seperti bintang itu, Hyung. Menjaga sang rembulan disepanjang umurnya."

Yesung menyeka air matanya yang telah membasahi pipinya. Ia tak kuasa lagi menahan lelehan air mata itu. Jika semua tim basketnya berada disini, ia pasti telah di tertawakan habis-habisan. "Tidak semua bintang selalu indah seperti kelihatannya. Kau tahu dengan baik, bukan?"

Kyuhyun mengangguk kecil. "Aku tahu." Lalu mendecih pelan ketika pemikiran tentang 'menjadi bintang' tiba-tiba terlintas. Ia merasa begitu bodoh memikirkan itu sedari tadi. "Hyung, kau mau membantuku?"

Tatapan dalam Kyuhyun, Yesung dapatkan. Pikirannya yang semula penuh, kini buyar karena tatapan itu. Ia tidak bisa menolak, tentu saja. Kyuhyun merupakan murid kesayangannya sejak dulu. "Tentu."

"Aku mungkin tidak akan disini lagi setelah dua minggu kedepan. Tolong jangan katakan apapun pada eomma. Aku ingin bermain basket lagi sampai waktu itu tiba."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kibum mempercepat langkahnya. Suara hentakan kaki disepanjang koridor Kyung Hee Senior High School menggema. Jam sekolah sudah berakhir dan ia langsung menuju basketball stadium yang berada di bangunan ekstrakulikuler.

Tapi, beberapa menit yang lalu, Kibum harus menelan kekecewaan. Hatinya berteriak khawatir karena baru saja bertemu dengan Yesung. Pria itu mengatakan kalau Kyuhyun sudah pulang. Namun, keadaan Kyuhyun tak bisa dikatakan baik. Adiknya itu mengalami mimisan dan menolak bantuan dari Yesung yang menawari pulang bersama.

Kibum tahu ini akan terjadi. Hatinya kalut sekarang, merasakan penyesalan karena membiarkan Kyuhyun terlalu memfosir tubuhnya beberapa waktu lalu.

Kyuhyun itu bodoh. Pemuda itu selalu sok kuat selama ini, mengatakan bahwa keadaannya sudah jauh lebih baik. Tapi, apa yang Kibum lihat belakangan ini? Bahkan tanpa bermain basket ataupun kegiatan melelahkan sekalipun, Kyuhyun seringkali pingsan dan muntah-muntah. Semua ini pertanda buruk. Kibum tidak ingin pikiran negatifnya merupakan fakta. Ia tidak ingin kehilangan Kyuhyun.

Kibum mengatur deru nafasnya. Ia baru saja berlari, menelusuri jalan sepanjang arah rumahnya. Kibum rasa, aksinya berlari mencari Kyuhyun membuahkan hasil. Senyuman terlukis begitu saja di wajahnya.

Punggung itu, Kibum sangat mengenalnya. Sweater berwarna baby blue itu membuat ia semakin yakin. Lantas, dengan segera Kibum mendekat. Dibuang jauh-jauh semua egonya. Saat ini, ia sangat mengkhawatirkan Kyuhyun.

Suara decitan ayunan terdengar, tepat ketika Kibum duduk di samping Kyuhyun yang juga tengah terduduk diayunan taman ini. Wajah pucat Kyuhyun membuat hati Kibum berteriak khawatir.

Kyuhyun menutup kedua matanya, mengarahkan wajahnya keatas. Sang matahari yang tak kuasa ia tatap—dengan mata telanjangnya—ia berusaha menatap sosoknya dengan mata hatinya. Entahlah, apa yang Kyuhyun lakukan saat ini. Kyuhyun hanya sedang menikmati segala keindahan sang mentari.

Mimisannya hampir berhenti. Walau Kyuhyun tidak terlalu peduli dan hanya menutup lubang hidungnya dengan beberapa helai tissue. Kyuhyun tahu, ia terlalu memfosir tubuhnya. Ia melakukan aksi membuat tubuhnya lelah hanya demi menghilangkan kalimat—tidak bermain basket lagi—yang dikatakan ibunya minggu lalu. Tapi, kalimat itu tak juga hilang dari otaknya. Ia ingin bermain lagi, melepaskan penat dalam pikirannya walau sang tubuh tak lagi sekuat dulu.

"Kyu-nie."

Kyuhyun membuka mata lalu menoleh. Tissue ditangannya ditarik begitu saja. "Oh! Bum-ie Hyung. Kau belum pulang?" Kyuhyun sedikit terkejut melihat Kibum sudah berada disampingnya.

Kibum diam. Tentu saja ia tidak akan pulang begitu saja. Setiap harinya, ia selalu pulang bersama Kyuhyun. Hari ini memang sedikit berbeda. Shin Ahjussi tidak bisa menjemput mereka karena anaknya sakit. Jadi, mereka memilih untuk menaiki bus bersama—pulang dan pergi.

"Katakan padaku, apa yang sakit?" Kibum menatap sengit Kyuhyun, menuntut jawaban. Ia berjongkok di depan Kyuhyun, mengeluarkan sapu tangan di saku celananya dan membersihkan tangan dan bawah hidung Kyuhyun yang terdapat bercak darah.

Kyuhyun sedikit terkesiap. Ia sempat menarik tangannya dari genggaman Kibum, tapi genggaman itu terlalu kuat. Dan Kyuhyun terima saja perlakuan Kibum—yang mulai—mengeluarkan aura berlebihannya. "Aku tidak apa-apa."

"Jangan berbohong padaku." Kibum mengatakan itu dengan nada datar, namun Kyuhyun tahu itu sebuah perintah. "Kau tidak pandai berbohong."

Kyuhyun tersenyum kecil. Entah mengapa, ekspresi datar Kibum menjadi hiburan tersendiri baginya. "Perutku, kepalaku, tulang rusukku dan tubuhku terasa sangat lelah, Hyung." Kyuhyun berkata jujur, mengatakan seluruh rasa sakitnya pada Kibum. Hatinya berdenyut sesaat, merasakan kasih sayang tulus yang terpancar dari tatapan Kibum. Kau selalu seperti ini, Hyung. "Tapi, sekarang sudah tidak terlalu sakit."

"Sudah minum obatmu?"

Kyuhyun mengangguk. "Sudah."

Lalu Kibum menatap dalam Kyuhyun, mencoba mencari raut kikuk atau suatu kebohongan. Tidak ada. Hanya rona pucat yang tak hilang dari wajah putih adiknya. "Kau sudah minum jus yang kuberikan?" Percayalah, hanya sebatas percakapan tentang bagaimana keadaanmu yang selalu mereka bicarakan selama ini.

Dan percayalah, Kyuhyun selalu tersenyum lebar setelah itu, menampilkan senyuman polosnya hingga kedua matanya menyipit. Namun, senyuman itu selalu berhasil membuat hati Kibum berdenyut nyeri. "Sudah tak bersisa. Aku menghabiskannya setelah bermain sampai aku minum obatku tanpa air."

Kau selalu tersenyum padaku. Tapi, aku tidak pernah menemukan raut tulus disana. Bisakah kau membenciku saja, Kyu? Aku tidak ingin kau terus seperti ini.

Batin Kibum terus berbicara. Tak kuasa ia mengatakan itu hingga kedua tangannya terkepal tanpa sadar, meremukkan sapu tangan di genggamannya hingga tak lagi berbentuk rapi.

"Hyung, kau cukup membuatkan jus jeruk saja. Aku tidak suka jus wortel yang pernah kau berikan itu." Kyuhyun menjulurkan lidahnya dengan ekspresi jijik. Mengingat rasanya, perutnya semakin tak enak saja. "Rasanya menjijikan, Hyung."

"Baiklah. Aku tidak akan membuatkannya lagi." Kibum berdiri dari jongkoknya, lalu memandang sekitar. "Aku akan membelikanmu minum. Tunggu sebentar disini."

"Hyung ..." Kyuhyun sudah membuka mulut untuk mencegah Kibum pergi. Tapi, ia urungkan niatnya ketika sosok Kibum sudah berlari menjauh. Ia menghela nafas, merasakan degupan jantungnya menggila.

Ekspresi datar sang kakak tak pernah berubah. Walau Kyuhyun tahu, dibalik punggung tegap itu, Kibum selalu menyembunyikan seonggok rasa takut, kesedihan, serta perasaan bersalah. Hati terdalamnya, ingin sekali ia membenci Kibum. Namun, hanya sekedar tak menghiraukan keberadaan Kibum rasanya begitu sulit Kyuhyun lakukan.

Kita masih saudara. Sebagian darahku mengalir di darahmu, Bum-ieHyung. Aku tidak akan bisa membencimu.

Drrtt...

Suara getaran ponsel membuat Kyuhyun tersadar. Ia segera mengeluarkan benda persegi panjang itu dari saku celananya. "Siwon Hyung."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kibum tak henti merutuk dirinya sendiri sedari tadi. Ia terlalu senang karena percakapan sederhana tentang bagaimana kondisimu yang terjalin antara dirinya dengan Kyuhyun beberapa menit lalu. Sampai tanpa sadar, Kibum berjalan tak tentu arah dan berakhir sedikit tersesat setelah mendapat air mineral yang baru ia beli.

Kibum mempercepat langkahnya, tak menghiraukan beratnya tas yang berada dipunggungnya. Kyuhyun sudah menunggunya terlalu lama, Kibum yakin itu. Ia hanya ingin kembali ke taman dan memberikan air mineral ini untuk Kyuhyun. Ia juga membeli beberapa buah yang tentu saja baik untuk tubuh Kyuhyun.

Tapi, sepertinya Kibum akan kembali menjadi seorang yang pengecut. Tepat ketika pemandangan di hadapannya menciutkan nyalinya. Egonya kembali tumbuh seiring tubuhnya yang membatu. Tanpa sadar, tangan Kibum terkepal, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dadanya bergemuruh merasakan rasa bergejolak yang berbeda hingga matanya terasa panas.

Cho Siwon. Pria bertubuh tinggi nan tegap itu tengah memeluk Kyuhyun. Isak tangis yang tak biasa, terdengar dari sana. Ya, isak tangis seorang Cho Kyuhyun—adik satu-satunya—membuat air matanya menetes tanpa aba-aba.

Sebuah koper besar yang berada disamping Siwon, membuat Kibum yakin bahwa pria itu akan tinggal dalam waktu yang lama. Saat ini, bukan koper itu yang menjadi pusat rasa takutnya. Melainkan tatapan itu.

Kibum benar-benar merasa takut. Tangannya gemetaran. Tepat ketika tatapan Siwon menangkap raganya. Tatapan itu menyiratkan kebencian yang begitu dalam. Kibum bergerak mundur. Kepalan tangannya semakin kuat membuat kuku-kuku jarinya memutih.

"A-ku takut, Hyung. Aku tidak ingin pergi. Aku tidak ingin melakukan Operasi itu."

Deg.

Kibum membeku. Langkahnya terhenti begitu saja. Baru saja ia ingin kembali menjadi Kibum yang pengecut dan berlari menjauh. Tapi, kalimat itu seperti paku bumi yang dengan telak menembus kakinya. Mata memerahnya menatap kosong, seiring dengan embun kristal yang menghiasi manik pekatnya. Tangannya yang semula terkepal kini mengendur. Jantungnya terasa seperti jatuh, tapi perasaannya lega tanpa alasan. Aku sungguh lega kau menolaknya.

Siwon mempererat pelukannya, mengusap dengan lembut rambut kecoklatan milik adiknya, Kyuhyun. Tatapan memerahnya tak terlepas dari Kibum. Ia mendecih dalam hati melihat raut ketakutan milik adiknya yang lain, Cho Kibum. Tangan kirinya yang bebas sudah terkepal sempurna, merasakan darahnya mendidih karena satu hal. Keluarga terkutuk ini masih sama seperti dulu.

Namun, hati Siwon semakin membiru. Air matanya hampir saja jatuh jikalau ia tak segera menatap langit yang mulai mendung. Kyuhyun pun masih sama. Tak berubah sedikitpun.

Harapan Siwon akan keluarga bahagia harus ia kubur dalam-dalam. Setidaknya, harapannya kian berubah kali ini. Ia hanya ingin Kyuhyun bahagia. Tak lebih dari itu. Kau tidak pernah berubah, Kyuhyun-ah. Kau masih saja bodoh seperti bintang harapanmu itu, Sirius. Aku pun tetap sama seperti dulu. Tetap seperti bintang redup, yang hanya diam melihatmu membakar diri sendiri demi dapat dilihat oleh mereka.

Kibum menunduk dalam, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah berhias air mata. Maaf karena aku masih pengecut sejak dulu. Aku tidak akan mengharapkan senyuman tulusmu lagi. Tapi, aku tetap berharap kau akan terus bahagia, Kyuhyun-ah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, Juli 2009

Rintik-rintik hujan di pertengahan tahun mulai menampakkan sosoknya. Matahari yang seharusnya bersinar terik, malah terlihat malu-malu menampakkan diri. Awan yang menghitam seolah mengajak penghuni bumi untuk bertarung. Suara petir yang sesekali terdengar, membuat anak laki-laki itu terperanjat.

Bagi sebagian orang, hujan merupakan bencana. Segala tuntutan pekerjaan di luar sana akan terhambat karena butiran-butiran kristal itu. Tapi, tidak bagi anak laki-laki ini.

Didepan pintu masuk sebuah Sekolah Dasar di Seoul, anak laki-laki itu berteduh. Sudah satu jam yang lalu bel pulang berbunyi, dan anak laki-laki itu masih membatu disana. Seragam berwarna biru putih yang melekat di tubuh mungilnya menandakan anak laki-laki itu masih duduk dibangku sekolah dasar.

Rintik-rintik hujan ditengah kota Seoul kian menderas. Semakin deras tangisan sang langit, semakin berbinarnya mata bulat itu.

Jangan salahkan dirinya kalau ia terlalu berlebihan. Setiap kali melihat hujan, mata bulatnya tak henti berbinar senang. Manik musim gugur itu terlihat begitu lucu dan menggemaskan, tepat setelah kedua pipi chubby-nya terangkat karena senyuman.

Anak laki-laki itu—Cho Kyuhyun—mengangkat tangan mungilnya, menyentuh rintik-rintik dingin yang terjatuh dari ujung atap sekolah. Ia bergidik senang merasakan sensasi dinginnya. Sepintas ide tentang bermain bersama hujan terlintas. Kyuhyun berniat membuka kedua sepatunya, tidak ingin sepatu kesayangannya basah—karena ia masih ingin memakainya besok. Namun, ia mengingat sesuatu.

"Kyuhyun-ie, jangan bermain hujan di depan Kibum-ie, ya. Eomma tidak ingin Kibum-ie sakit."

Kyuhyun menoleh kebelakang, menatap Kibum—kakaknya—yang hampir tertidur disebuah bangku pos penjaga. Kakaknya memang selalu menyempatkan ke sekolahnya setelah jam pelajaran berakhir—walau jarak antara sekolahnya dan sekolah Kibum cukup jauh.

Kibum tidak akan membiarkan Kyuhyun sendirian sedetikpun. Kibum pernah mengatakan, "Kyuhyun-ie tidak boleh ceroboh. Aku tahu kau selalu penasaran pada sesuatu. Tapi, jangan penasaran pada hal yang berbahaya."

Kyuhyun terkikik kecil. Mengingat itu, ia jadi ingin tertawa. Masalahnya, Kibum mengatakannya dengan raut datar. Dan raut datar Kibum selalu membuat Kyuhyun tertawa. Mereka berbeda dua tahun. Kyuhyun masih duduk dibangku kelas lima sekolah dasar. Sedangkan Kibum sudah kelas pertama Junior High School.

Mereka pun terlampau dekat. Kibum selalu berusaha melindungi Kyuhyun, walau pada akhirnya dirinya-lah yang harus dilindungi. Tapi, mereka saling menyayangi, layaknya kakak-adik kebanyakan.

"Aku ingin bermain bersama hujan." Kyuhyun tanpa sadar bermonolog sendirian. Siwon belum menampakkan batang hidungnya untuk menjemput mereka. Kyuhyun bosan. Ia ingin membuat seluruh tubuhnya basah dengan musim kesukaannya ini.

"Bum-Bum sedang tidur." Kyuhyun tersenyum senang melihat Kibum sudah menutup mata dengan kepala yang disandarkan ke tembok. Ia mengangkat bahu tak acuh. Dilepas kedua sepatunya kemudian, lalu menyimpannya dengan baik didalam plastik yang selalu ia bawa.

"Aku tidak ingin merepotkan Ahn Ahjumma."

Ahn Ahjumma merupakan salah satu pembantu di mansion Cho. Mengingat wanita itu seringkali kelelahan di usianya, Kyuhyun tak tega. Terlebih setelah wanita itu mencuci sepatu-sepatu kotor dirumahnya.

Kyuhyun tersenyum puas melihat tas beserta sepatunya telah terlindungi dengan baik. Sekolah yang sudah sangat sepi itu membuat Kyuhyun dengan leluasa bermain. Tangan-tangan mungilnya merasakan sensasi menyenangkan dari rintik-rintik deras itu, menikmati hujan dan berlari dengan bebas.

Sungguh pun, Kyuhyun tak pernah merasa sebebas ini. Rasanya sangat luar biasa. Jika Kyuhyun harus memilih antara ice cream strowberi atau hujan, Kyuhyun lebih memilih hujan. Walau ia tak merasakan apapun ketika tak sengaja air itu masuk kedalam mulutnya, ia masih lebih menyukai hujan.

"Kyu-nie, kau tidak mengajakku?!" Kibum berkacak pinggang. Jangan salahkan Kibum jika ia tidak sengaja tertidur tadi. Semalam ia tak dapat menutup mata karena tangannya di infus. Rasa tak nyaman dari jarum itu membuat sebagian harinya terpenuhi dengan ketiduran. "Aku juga ingin bermain!"

Anak laki-laki berusia dua belas tahun seperti Kibum ingin bermain hujan-hujanan, tidak heran, bukan?

"Bum-Bum jangan kesini! Nanti Bum-Bum sakit lagi." Kyuhyun segera berlari menghampiri Kibum. Sedikit kepayahan langkahnya ketika ia hampir saja tergelincir.

Bruk!

Yang benar saja, tubuh mungil Kyuhyun terjatuh detik kemudian. Posisi telengkup membuat lututnya bergesekan dengan aspal. Perkiraannya salah. Kyuhyun terlalu panik tepat ketika melihat Kibum sudah membuka kedua sepatunya. Hingga tanpa sadar, Kyuhyun telah berlari dengan kecepatan langkah maksimumnya.

Kibum meringis melihatnya. Mendengar dari suaranya saja, pasti sangat sakit. Namun, bukan Kyuhyun namanya jika tidak segera bangkit. Adiknya itu sudah berusaha untuk bangun. Tapi, Kibum tidak membiarkan Kyuhyun berusaha sendirian. Saat ini, tak dihiraukan sang langit yang sudah menumpahkan hujan keseluruh tubuhnya. "Kau tidak apa-apa, Kyu-nie?"

Kyuhyun mengangguk walau rasanya begitu sulit. Ia meringis ketika berusaha untuk berjalan. Lututnya berdarah. Melihat cairan merah pekat yang merembes dari sana, ingin sekali rasanya menangis. Namun, bibirnya hanya bergetar, antara menahan tangis dan menggigil kedinginan. "Aku tidak apa-apa, Bum Hyung. Tapi, Bum Hyung yang lagi sakit. Kata eomma, Bum Hyung tidak boleh main hujan-hujanan."

Kibum terdiam. Bagaimana bisa Kyuhyun memikirkan dirinya saat ini?

"Sedang apa kalian?"

Payung berwarna putih kelabu yang tiba-tiba datang, mengalihkan atensi mereka. Kyuhyun menatap pemilik payung itu dengan bibir bergetar. Dengan segera, dipeluknya sosok itu. "Siwon Hyung, Kyu tadi jatuh, hiks. Berdarah ... lutut Kyu berdarah."

Siwon menghela nafas. Ia biarkan saja tubuh basah Kyuhyun memeluk tubuh keringnya. Ia juga baru saja pulang dari sekolahnya. Ada beberapa pelajaran tambahan mengapa ia tak bisa menjemput Kyuhyun dan Kibum tepat waktu. Pemuda tampan berusia tujuh belas tahun itu menyerahkan payung ditangannya kepada Kibum. Lalu menggendong tubuh Kyuhyun yang bergetar.

Kibum menerima payung itu. Tak adapun satu kata yang terucap dari bibir Siwon untuknya. Kibum terpaku, menatap punggung Siwon yang tengah sibuk menghentikan tangis Kyuhyun.

"Berdarah sedikit saja menangis, eoh?" Dahi Siwon mengernyit melihat wajah Kyuhyun sudah berhias air mata dan air hujan.

Kyuhyun menengok sesaat pada lututnya yang berdenyut nyeri. Lalu kembali menyembunyikan wajahnya pada bahu Siwon. "Hiks ... lutut Kyu seram sekali, Hyung. Seperti baru saja digigit Zombie."

Siwon tertawa. Sedikit kesulitan mengangkat tubuh Kyuhyun yang mulai tinggi se-perutnya itu. Apalagi, Kyuhyun tak pernah bisa diam.

Tak ada yang menyadari, Kibum masih seperti batu, tak bergerak sama sekali. Dadanya terasa nyeri entah karena apa. Siwon yang tak pernah menganggapnya merupakan fakta menyakitkan yang pernah Kibum rasakan di sepanjang umurnya saat ini.

Dan satu fakta lainnya yang kerap kali membuat Kibum bertanya-tanya. Tak pernah satu kalipun Kyuhyun memikirkan diri sendiri disaat bersamanya. Adiknya itu selalu mengutarakan kesedihannya secara terang-terangan pada Siwon. Tapi, tak pernah padanya.

Satu kata sederhana dari kepedihan hatinya saat ini adalah Kesepian. Punggung mereka hampir menghilang di balik pintu mobil hitam itu, membiarkan dirinya merasa terasingkan oleh kedua saudaranya sendiri. Jika Kibum bertanya-tanya, tidak heran, bukan?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan keluargaku?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N :

Alurnya tidak terlalu rumit, kan? Aku hanya memberikan adegan tahun 2014 di chapter pertama dan semi akhir saja. Dan semua chapter setelah ini akan aku tekankan masa lalu Kyuhyun-Siwon-Kibum berserta tetek bengeknya (tahun 2009 dan beberapa flashback). Karena tahun 2014 itu sudah komplikated (prolog juga tahun 2014)

Kalian gak bingung, kan? Soalnya aku takut kalau kalian bingung. Soalnya aku juga sempet bingung ini cerita mau dibawa kemana~ *nyanyi /plak

Feel kurang dapet? Aku tidak bertanggungjawab. :vv

Aku minta maaf kalau tulisanku membosankan. :")

Btw, aku baru tahu bikin ff full brothership sangat sulit. Aku sempat gak bisa tidur semaleman karena mikir jalan ceritanya. *malah curhat* :vv

Aku benar-benar minta maaf kalau ceritanya sedikit maksa, aneh, dll. Ini ff full brothership pertama yang aku buat. :((

Seperti biasa, chapter depan akan aku publish jika respon sudah banyak. Jadi, jangan lupa vote-coment ^^.

.

.

.

.

.

.

.

Publish 03 Mei 2017