Bip! Bip! Bip!

Cklek!

Ino membuka pintu apartemennya kemudian masuk diikuti Naruto.

Tep! Tep! Tep!

Brukk!

Naruto berlari kecil mendahului Ino kemudian tiduran di sofa ungu depan televisi. "Haaa. Lelahnya."

"Tsk! Sungguh menyedihkan." Ino berdecak sambil menggeleng-geleng kepala melihat tingkah pacarnya. "Kau seperti orang tua saja."

"Ino sini!" Naruto menggerakan tangannya memberi isyarat agar Ino menghampirinya.

"Aku mau masak, kau diam aja disana!"

"Nanti saja!" Naruto berdiri seraya menghampiri dan sedikit menyeret Ino-membuat Ino agar duduk di sofa.

Cup!

Naruto mengecup bibir Ino sekilas kemudian kembali tiduran-menjadikan paha Ino sebagai bantal.

Srek! Srek!

"Hey!" Ino mengacak-acak rambut pirang Naruto kasar. "Apa maksudnya ini?"

Naruto nyengir kuda. "Sudah lama aku nggak dielus-elus sampai tidur sama kamu."

"Jiahhh." Ino memutar bola matanya bosan. "Aku harus masak. Bukankah kau lapar?"

Naruto menggelengkan kepalanya membuat Ino menggeliat geli. "Aku ngantuk. Nanti malam aja."

"Oke deh. Terserah." Ino mengelus-elus pirang jabrik Naruto lembut-membuat pemiliknya terpejam nyaman.

Ino pun menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Aku juga jadi ngantuk."

Mereka berdua pun terlelap.

Lunatic's Lament

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Warning:

AU, OOC, Alur Cepat, Typo(s), EYD Amburadul, Dll.

Naruto berjinjit menghampiri Ino yang tengah memasak di dapur.

Grep!

Naruto memeluk Ino dari belakang. Ino sedikit terkejut tapi melanjutkan kembali acara masaknya. "Masak apa darling?"

"Omelet."

Snif! Snif!

"Aku tak sabar untuk menyantapnya." Naruto mengeratkan pelukannya menatap tangan Ino yang tengah memasak-sendu.

"Kau menggangguku!" Ino menggeliat protes. "Duduk di meja!"

"Siap darling!" Naruto mengecup leher Ino seraya melepas pelukannya kemudian duduk di kursi kayu dengan meja makan persegi yang minimalis.

Tak lama kemudian makanan telah siap. Ino menghidangkan omelet dan jus jeruk di meja tersebut. Naruto menatap Ino yang cekatan dengan antusias.

"Itadakimasu!" Naruto dan Ino mengucapkan kata khas yang biasa diucapkan sebelum makan. Naruto dan Ino dinner berdua ditemani omelet dan jus jeruk.

"Ino.. tak terasa sudah tiga tahun kita bersama.."

Ino menghentikan suapannya. Menunggu lanjutan ucapan Naruto dengan antusias. "Malam ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.."

"Eh? Kenapa malam ini?" tanya Ino penasaran.

"Aku mau tepat tengah malam kita bersama." Naruto mengedipkan sebelah matanya. "Tepat kita telah menjalin hubungan sebagai pacar selama tiga tahun ini."

Ino tersenyum kecil. "Jadi, sekarang kita ke bukit?"

"Iya.. kita kebukit dan melihat bintang bersama." Naruto tersenyum ceria.

"Baiklah." Ino mengangguk antusias. "Apa kita akan menginap?"

"Tentu saja!" Naruto seolah mengingat sesuatu. "Ah aku harus mengambil tenda dulu. Setelah selesai makan, aku keluar dulu ya. Kau bersiaplah."

"Oke! Sementara kau pergi, aku akan mengepak selimut, termos kecil, alas piknik dan membawa beberapa makanan ringan."

"Kau tak perlu membawa makanan ringan, aku akan membelinya dijalan. Tapi kalau kopi dan air hangat.." Naruto tersenyum penuh arti. "Tentu saja harus bawa! Hehehe."

Ino memeletkan lidahnya. "Dasar!"

-neverlookback-

Tep! Tep! Tep!

Naruto berjalan mengendap-endap disebuah lorong gelap.

Krieet!

Naruto membuka salah satu pintu yang berjajar di lorong-perlahan seraya masuk ke ruangan gelap tersebut. Naruto membuka sebuah lemari besar, dia menatap isi lemari tersebut sambil menyipitkan matanya-mencoba fokus. "Mungkin yang ini." Naruto mengambil salah satu kotak yang bertumpuk disana seraya membukanya.

Snif! Snif!

"Dari baunya.. aku yakin ini!" Naruto membawa kotak tersebut keluar dari ruangan gelap tersebut.

-neverlookback-

"Tadaima!"

Naruto nyelonong masuk kedalam apartemen Ino dihiasi senyum sumringahnya. Kemudian duduk memperhatikan Ino yang tengah mengepak selimut dan alas untuk tiduran sambil melihat bintang di bukit.

Darling will you please, take a walk with me?

We can count the stars that disappear.

I wish you could see, you're the only girl I've ever dreamed of

(Alesana – A Lunatic's Lament)

Naruto menyanyikan bait lagu favoritnya sambil menunggu Ino mengepak barang bawaan.

"Yosh! Selesai!" seru Ino antusias. "Come on! Lets go!"

Hal-hal seperti ini memang sangat disukai Ino. Menurutnya melihat bintang bersama pacar itu sangat romantis dan membuatnya high tension.

"Ou!" sahut Naruto tak kalah antusias.

Naruto dan Ino keluar dari apartemen dengan membawa tas ransel yang penuh.

"Hup!" Ino menaruh tasnya diatas jok motor thunder putih pacarnya.

Naruto merogoh celana jeansnya. "Eh?! Ino tunggu sebentar ya! Kunci motorku ketinggalan diatas meja makan!"

"Huh!" Ino mendengus kesal. "Kau selalu saja ceroboh! Cepat!"

"Baik!" Naruto langsung berlari kembali ke apartemen Ino.

Naruto langsung mengeluarkan kertas dari balik bajunya dan mengambil kunci kamar yang tergeletak disamping televisi.

Syuut!

Naruto menyelipkan selembar kertas dan sebuah kunci kamar tempat Sakura disekap.

Tok! Tok!

"Saku! Aku dan Ino akan segera pergi! Kau bisa keluar!" seru Naruto pelan kemudian berlari-keluar dari apartemen menghampiri Ino yang melipat tangan didada-tengah menunggu Naruto disamping motornya.

"Cepat Naru!"

"Iya! Iya! Sabar donk darling!" Naruto menaiki motornya setelah mengambil ransel yang tergeletak di jok motor kemudian menyampirkannya di dada. "Ayo naik!"

"Okeee!" Ino duduk dibelakang Naruto seraya memeluk erat sang pacar.

Naruto menstater motornya, melajukan motornya meninggalkan gedung apartemen cukup mewah tempat Ino tinggal.

Didalam apartemen atau lebih tepatnya di dalam ruangan tempat Sakura disekap, Sakura berhasil melepaskan ikatan yang sudah dua hari ini mengikatnya. "Ugh!" Sakura melepas kain yang mengikat mulutnya. Dengan tertatih-tatih Sakura mendekati saklar lampu yang cukup jauh darinya kemudian menyalakan lampunya.

Didepan pintu terlihat kertas dengan kunci diatasnya. Sakura segera memungut kertas dan kunci tersebut seraya membuka lipatan kertas dan membaca pesan Naruto.

Sakura, ini kode kunci apartemen Ino 09XXXX

Telepon ambulance! Kau harus segera kerumah sakit!

Jangan lupa lapor polisi. Besok, datangi kami di bukit Konoha.

Saku.. tolong maafkan Ino.. aku tak menyangka dia menjadi seperti ini..

Tolong sampaikan maaf pada keluarga Hinata.

Aku sangat menyesalinya.. semua ini terjadi karena diriku.

Aku tak mengerti kejiwaan Ino yang tak stabil semenjak kehilangan kedua orang tuanya.

Sekali lagi, maaf.

"Naruto.." gumam Sakura menatap surat tersebut sendu.

-neverlookback-

Ino keluar dari tenda membawa sekotak kue kering ditangannya. Dia menghampiri Naruto yang tengah menatap langit sambil tiduran terlentang diatas alas piknik berwarna kotak-kotak merah. "Naru!"

"Hm?"

"Nih!"

Naruto mengalihkan perhatiannya dari langit pada gadis pirang yang tengah duduk disampingnya sambil menyodorkan sekeping kue kering. Naruto mengambil kue tersebut seraya memakannya. "Enak."

"Aku belum mencobanya." Ino mengambil sekeping kue lalu memakannya. "Iya. Kau beli darimana?" Ino merebahkan tubuhnya-tiduran disamping Naruto. Menjadikan lengan Naruto sebagai bantal.

"Rahasia." Naruto memeletkan lidahnya pada Ino.

Ino meletakan kotak hitam berisi kue tersebut disampingnya sambil memutar bola matanya bosan. "Jiahhh. Main rahasia-rahasiaan lagi."

Naruto tersenyum kecut menatap kue tersebut.

-Flashback: On-

"Yo Kiba!"

"Kau kenapa? Muram banget." Kiba membuka kancing jas putihnya seraya duduk di samping Naruto. Dia menatap sahabatnya penasaran.

"Gak kenapa-napa." Naruto tersenyum pahit seraya mengalihkan pandangannya pada kotak hitam yang dibawa Kiba. "Apa itu?"

Kiba membuka kotak tersebut-menampilkan kue kering. "Ini kue kering unt-"

Plak!

Kiba menampar tangan Naruto yang hendak mencomot kue tersebut. "Hey jangan sentuh!"

"Kenapa?" Naruto memelas menatap Kiba. "Pelit!"

Kiba langsung menutup kembali kotak berisi kue tersebut. "Ini kue beracun bodoh!"

"Eh?" Naruto menatap Kiba heran.

"Rumah Sakit Universitas meminta kami-para-mahasiswa-kedokteran untuk membuat racun yang dicampurkan kedalam kue."

"Untuk apa?"

Kiba mengangkat bahunya. "Katanya sih cara yang lebih bagus dari pada menyuntik mati."

"Haa?" Naruto semakin heran. "Apa rumah sakit universitas ini membunuh pasien?"

"Kalau pemiliknya sudah angkat tangan karena sakitnya parah dan tak bisa disembuhkan, mereka pasti akan meminta suntik mati pasien karena mereka tak tega melihatnya dan lebih memilih pasien agar beristirahat dalam damai." jelas Kiba datar nan acuh.

"Apa-apaan rumah sakit ini? Kenapa menerima membunuh orang?!" Naruto sedikit meninggikan suaranya.

"Haa-a? Apa yang kau katakan? Pasien yang aku maksud itu hewan!" Kiba menggoyang-goyang kotak berisi kue yang dipegangnya. "Dan kue ini juga makanan anjing! Dasar bodoh!"

"O-Oh begitu.."

"Ya." Kiba berdiri seraya merapikan jas putihnya.

Naruto menengadahkan kepalanya-menatap Kiba heran. "Mau kemana?"

"Menyimpan kue ini di lab. Ja!" Kiba berjalan menjauh menuju tempat tujuannya.

-Flashback: Off-

"Ino." Naruto memeluk Ino erat.

Ino membalas pelukan Naruto. "Hng?"

"Ayo kita jadi awan."

"Hihi." Ino tertawa geli seraya menatap Naruto yang memejamkan matanya. "Tentu saja."

Ino menatap awan hitam yang bergerak lambat menutupi langit berbintang. Dia tersenyum kecil-gambaran masa lalu terlintas dipikirannya.

Ne. Kenapa kau selalu menatap langit?

Aku berharap menjadi awan dan dapat pergi kemanapun yang kumau.

Kau mau pergi kemana?

Kemanapun kau pergi.

Baiklah, aku kan selalu disampingmu.

"Naruto.." Pandangan Ino mulai menggelap, dia memejamkan matanya seraya memeluk Naruto erat. "Kemanapun kau pergi, aku kan selalu disampingmu."

The End

(_) Nell's Note:

What the fuck?! Hell! End begitu saja teman-teman! Aku nggak tahu ini akhir yang bagus atau nggak. Haaaa .~.

Gimana menurut kalian? Kalo kalian merasa sedikit ngenes berarti aku berhasil dapet feel kalian alias membawa kalian kedalam cerita. Kalau nggak berarti aku gagal huhuhu. Mohon kritik sarannya ^-^)/

Pasti penasaran ama reaksi Sakura, Sasuke & Kiba? Yeah bayangin aja sendiri. Reaksi yang mainstream Tee-he! :p

Thanks udah baca, baik itu yang ninggalin jejak atau nggak.. aku ucapkan terimakasih pake banget. #bow

Special thanks buat yang ninggalin riview di chapter sebelumnya: hana109710 Yamanaka, Fitra msh dsni, kurotsuhi mangetsu, Fina, Guest, Wiz-Land609, tamiino, dianrusdianto39, Guest, Ryuui Momochi, Sondry482, Guest, Shiroe Ino.

Akhir kata: See you next story :)