Ringkasan: Kehidupan tidak semudah mimpi kanak-kanak. Terutama jika takdir mengikatmu dalam status bernama shinobi. Siapa yang bisa menebak apa yang ada di ujung mimpi itu?

Peringatan: canon setting; future fict; alternate reality; almost Shikamaru-centric. Belum di-beta.

Disclaimer: Naruto series is the property of Kishimoto Masashi. I gain no financial advantage by writing this.


DARI BAGIAN TIGA

Mata hitam Shikaku memandang lurus wajah Shikamaru yang diam di depannya. "Kau harus tahu bahwa kami memikirkanmu. Aku dan ibumu adalah orang yang paling mengetahui apa yang akan kau lalui jika kau benar-benar menikah dengan gadis itu."

Tidak pernah sekali pun ia menyangka bahwa ayah dan ibunya menjalani pernikahan antardesa.

Dan sekarang, ia nyaris melangkah ke dalam situasi yang sama.

Mendadak Shikamaru merasa lelah dengan semuanya. Pemuda itu menjatuhkan tubuhnya, berbaring memandang langit-langit di atasnya. Segala yang baru saja didengarnya menguap ketika ia memejamkan mata.

Semuanya terasa begitu kacau.


.

#

.

Ujung Mimpi

©fariacchi

Empat: Fakta

.

#

.


"Gomen!"

Nara Shikamaru mengamati gadis berambut merah muda di depannya yang tengah mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya yang tertunduk. Ia menghela nafas.

"Apa boleh buat," ujarnya.

Haruno Sakura mengangkat wajahnya, dengan sungguh-sungguh menampakkan raut bersalah. "Gomen, Shikamaru! Aku benar-benar sibuk karena membantu persiapan pernikahan Ino. Pekerjaan di Rumah Sakit Konoha juga menumpuk karena Ino cuti. Maaf aku jadi tidak sempat membantumu mencari informasi yang kau minta!"

Shikamaru menghela nafas lagi. "Tidak apa-apa, Sakura. Pernikahan Ino minggu depan, kan? Aku mengerti."

Sakura memandang pemuda di depannya dengan agak tidak enak. "Sebenarnya aku sempat mencari di beberapa dokumen lama, tapi agaknya memang sulit. Entah dokumen itu tidak ada, atau mungkin memang begitu tersembunyi, aku sendiri kurang tahu." Gadis itu memutus ucapannya sejenak untuk merogoh tas merah yang diselempangkan di bahunya, lalu mengeluarkan beberapa gulungan tua. "Hanya ini yang kutemukan. Namun ini terlalu umum dibandingkan informasi yang kau minta. Sebenarnya aku juga belum sempat membaca terlalu dalam," ujar Sakura seraya menyodorkan gulungan itu.

Tangan Shikamaru terjulur menerima beberapa gulungan tua itu. "Arigtou," ujarnya.

"Gomen, aku hanya bisa mencarikan sampai di situ."

Shikamaru melengkungkan senyum tipis ke arah gadis di depannya. "Sudah kubilang—tidak apa-apa. Ini cukup. Terima kasih."

Mata hijau jernih Sakura memandang pemuda di depannya, lalu berpindah ke gulungan-gulungan di tangan pemuda itu. Ia sedikit ragu, namun akhirnya memutuskan bicara. "Umm—Shikamaru … ?"

Shikamaru mengangkat satu alisnya. "Ya?"

"Apa—kau dan Temari-san baik-baik saja?" Sakura berujar pelan, merasa sedikit tidak enak menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi.

Hening sejenak. Ruang kerja Shikamaru yang dipenuhi tumpukan dokumen, gulungan, dan buku mendadak senyap ketika dua sosok di dalamnya terdiam.

Setelah menarik nafas sebentar, Shikamaru menatap Sakura dan menghadiahkan gadis itu seulas senyum. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui kepastian resiko yang harus kami ambil jika ingin melangkah ke tahap yang lebih jauh."

Sakura memandang lekat-lekat pemuda itu. Ia menyimpan dalam hati keraguan akan senyum Shikamaru, lalu berujar lega, "Syukurlah kalau begitu."

Shikamaru mengucapkan terima kasih ketika gadis di depannya pamit untuk menuju rumah Yamanaka. Tepat ketika pintu ruang kerjanya tertutup dan sosok Sakura menghilang di baliknya, Shikamaru sekali lagi menghela nafas.

Belum pernah Shikamaru menghela nafas sebanyak ini dalam satu waktu.

Mungkin, sebagai ganti kata 'merepotkan' yang akhir-akhir ini sulit diucapkan, ia menjadi sering menghela nafas. Mungkin juga, memang karena keadaan di sekitarnya terasa begitu kacau.

Shikamaru tubuh di sofa hijau lumutnya, lalu mulai membuka gulungan-gulungan yang diterimanya. Satuan waktu berlalu ketika Shikamaru dengan malas membaca isi satu gulungan ke gulungan lain.

Namun tiba-tiba mata tajam pemuda itu membulat ketika membaca sebuah gulungan bersampul merah.

"Ini—" kata itu terhenti begitu saja. Ia tidak melanjutkannya, melainkan duduk tegak dan membaca serius.

Dengan hati-hati, Shikamaru menekuri isi gulungan itu—membaca dengan sempurna setiap kata yang tertulis di sana. Kemudian dalam satu menit ia melempar gulungan itu ke lantai.

Shikamaru merogoh saku, mengeluarkan rokok dan pemantiknya.

CLING.

Asap melayang.

Shikamaru menyandarkan tubuhnya, lalu mengadahkan kepala memandang langit-langit ruang kerjanya yang berwarna kayu.

Akhirnya, setelah seminggu berlalu sejak perbincangan dengan ayahnya, Shikamaru benar-benar mengujarkan kembali kata itu.

"Merepotkan—"

.

#

.


Namikaze Naruto mengacak kepalanya dan menggerutu frustrasi, sementara sosok pemuda berpakaian Anbu di sampingnya bersandar tenang pada dinding dan melipat kedua tangan di dada.

"Mengeluh tidak membuat pekerjaanmu selesai, Dobe," sahut pemuda dengan topeng Anbu-nya yang tergantung di lehernya.

Naruto memukul meja dengan kesal. "TEME! Kau bisa bicara begitu karena kau tidak merasakan berada di sini dan terkubur dalam tumpukan dokumen! Aku bisa gila kalau begini terus!"

Uchiha Sasuke menghela nafas. "Kau kira aku tidak gila? Kalau saja Sakura tidak cuti dari pekerjaan administrasinya—".

Pemuda berambut pirang cerah yang tampak kacau itu membenarkan jubah merah yang dikenakannya. "Apa boleh buat, kan? Sakura-chan sibuk membantu persiapan pernikahan Ino dan Sai," sahutnya.

"Dan meninggalkanku untuk mengawasimu, Hokage-sama," sindir Sasuke.

"TEMEEEE! Berhenti menggodaku! Kau ini sama sekali tidak membantu!" Naruto berujar keras.

Sasuke berjalan tenang ke hadapan tumpukan dokumen di meja Naruto dan menatap lurus pemuda itu. "Aku memang tidak di sini untuk membantu, tapi untuk mengawasi supaya kau tidak kabur dari pekerjaanmu, Usuratonkachi."

"Sasuke!" Naruto menggeram kesal dan baru saja berdiri untuk melampiaskan kekesalannya pada Sasuke ketika pintu ruangannya terbuka.

Mata biru safir Naruto memandang sosok jangkung yang memasuki ruangannya dengan membawa sebuah gulungan merah di tangannya.

"—Shikamaru? Ada apa?"

Nara Shikamaru menatap Naruto dengan serius, membuat pemuda itu melupakan niatnya untuk meninju wajah Uchiha Sasuke.

"Aku perlu bicara denganmu," ujar Shikamaru.

Perlahan, Shikamaru memandang Sasuke yang masih diam mengawasi. Naruto memahami isyarat itu dan memandang Sasuke juga.

Sedikit mendecak, Uchiha Sasuke berujar, "Pastikan saja si Dobe ini tidak kabur," lalu menghilang di balik kepulan asap.

Naruto duduk di kursinya dan menyingkirkan beberapa dokumen yang menghalangi pandangannya dari Shikamaru di depannya. "Kenapa wajahmu serius seperti itu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Naruto bertanya dengan agak khawatir.

"Sebelumnya, maaf jika aku membawa masalah pribadi ke ruangan ini," Shikamaru berujar seraya menjulurkan gulungan berwarna merah yang di bawahnya. "Aku ingin kau memberitahuku segala yang kau ketahui tentang isi gulungan ini, Naruto."

Memiringkan kepala sedikit, Naruto meraih gulungan di tangan Shikamaru dengan penuh tanda tanya. Kemudian ia membukanya dan membaca isinya.

Shikamaru mengamati ketika kedua bola mata safir Naruto membulat sempurna.

.

#

.


Yamanaka Ino menekuk lututnya di atas tempat tidur berseprai violet, membiarkan Haruno Sakura menghela nafas melihatnya.

"Ino—kau ini apa-apaan sih? Pernikahanmu tinggal seminggu lagi dan kau bertingkah seperti akan dijodohkan oleh orang yang sama sekali tidak kau kenal." Sakura menggerakkan tangannya untuk menyisir rambut pirang lembut Ino yang panjang.

"Bukan begitu—" Ino bicara pelan.

"Lalu apa?" Sakura bicara dengan nada agak marah. Gadis itu paham benar mengenai tingkah sahabat sejak kecilnya, yang sebentar lagi akan mendahuluinya untuk menikah.

Ino menatap cermin di ujung dinding, memandang pantulan Sakura yang sedang menyisir rambut di belakangnya, lalu diam.

Sakura menghela nafas lagi, dan meletakkan sisirnya. "Ada apa, Ino?" tanyanya.

Ino menggeleng lemah.

Mata hijau Sakura memandang sosok Ino dari cermin di depannya. "Sai sangat mencintaimu," ia berujar.

Ino mencengkram terusan ungu yang dikenakannya. "Aku tahu—"

"Kau tidak boleh menyakitinya. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau sampai melakukannya."

Ino bergetar sedikit dan berujar pelan, "Aku tahu—"

Sakura menghela nafas lagi, lalu mengambil tempat dan duduk di samping Ino. Tangan gadis itu terjulur dan membelai lembut mahkota pirang Ino. Sedikit banyak, ia bisa menebak apa yang saat ini berputar di pikiran Ino.

"Ino … kau harus melupakannya …," Sakura memulai. Ino menenggelamkan wajahnya di kedua lutut. Sakura merasakan ketika gadis itu bergetar dan terisak pelan. "Kalian sudah memiliki jalan masing-masing. Baik kau, maupun Shikamaru—" lanjut Sakura.

Ketika nama itu meluncur, isak tangis Ino terdengar semakin kuat. Sakura memeluk lembut sahabatnya, mencoba membuat gadis itu merasa lebih lega.

"Aku—tahu itu—" Ino mulai bicara, diselingi isak pelan dari air mata yang mengalir di lututnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Ino mengangkat wajahnya, membiarkan Sakura melihat air mata mengalir di sudut bola aqua indah miliknya. Ino meraih tangan Sakura dan mencengkramnya, kemudian ia memandang lekat sahabatnya itu. "Aku mengira aku sudah menerimanya—tapi aku tidak bisa …."

"Ino—"

Tangis lagi. "Kenapa—kenapa kami tidak bisa bersatu? Ini tidak adil—!" Ino menguatkan cengkramannya.

Sakura hanya diam memandang. Ia tidak bisa berkata apapun.

"Memangnya kenapa kalau aku dari klan Yamanaka dan ia dari klan Nara?! Apa salah kami?! Mengapa kami tidak bisa menikah?!" Ino berteriak parau, membiarkan nafasnya memburu dengan sederet kalimat yang diucapkannya tanpa jeda nafas.

"Uhhh—" ia menangis lagi, kali ini di pangkuan Sakura.

Gadis berambut merah muda itu tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menjulurkan tangan dan membelai rambut pirang Ino perlahan, membiarkan gadis itu menangis.

Sakura tahu. Ino menyimpan perasaan kepada pemuda itu. Sakura tahu. Jauh sebelumnya, Shikamaru dan Ino pernah memikirkan kemungkinan untuk menikah.

Tapi Sakura—dan seluruh desa—juga tahu. Pernikahan mereka tidak mungkin terjadi.

Mata hijau Sakura memandang langit-langit kamar Ino. Bicara mengenai cinta adalah sesuatu yang sulit bagi shinobi. Bahkan ketika dua orang begitu saling mencintai, belum tentu mereka mampu bersatu.

Sakura memandang Ino yang masih terisak di pangkuannya. Mungkin ia tidak akan mengerti apa yang Ino rasakan. Keluarganya bukanlah klan ninja khusus—ia bisa menikah dengan siapa saja yang ia mau. Namun ia paham posisi Ino: seorang anak gadis yang menjadi satu-satunya generasi penerus klan Yamanaka, yang tidak boleh seenaknya menikah dan masuk ke klan lain. Karena itu berarti tidak ada penerus klan; kematian klan; ancaman bagi desa tercinta.

Alasan yang sangat abstrak. Alasan yang sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran mereka ketika masih kanak-kanak. Namun menjadi nyata ketika mereka tumbuh dewasa, sebagai shinobi.

Sakura membelai lagi Ino dengan lembut. Perlahan, ia bicara, "Ino … Shikamaru mencintai Temari-san—"

Isak tangis Ino tidak berhenti. Dengan susah payah, ia bicara dari balik pangkuan Sakura, "Aku tahu—aku tahu itu …."

Sakura memberikan pandangan iba. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ino memang sahabatnya, namun ia harus bisa menerima kenyataan—cepat atau lambat.

"Aku mengerti—" Ino bicara lagi, perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan menatap Sakura. "Aku mengerti …," lalu Ino memeluk erat sahabatnya dan sekali lagi menumpahkan air matanya dengan kuat.

Sakura memejamkan mata, membiarkan tangis Ino menulikan telinganya.

Ia membelai rambut Ino. "Menangislah," ujarnya. "Lalu berjanjilah bahwa besok kau akan menjadi Ino yang baru. Yamanaka Ino yang akan menjadi istri bagi Yamanaka Sai."

Ino menangis.

Tapi Sakura tahu, Ino mengerti. Ia memahami segalanya, namun ia hanya seorang gadis yang terlalu peka perasaannya. Karena itu Sakura membiarkannya menangis.

Tiba-tiba saja Sakura teringat mengenai gulungan yang diberikannya pada Shikamaru. Selintas senyum getir menghiasi wajah gadis itu.

Shikamaru bukan wanita—ia jelas tidak akan menangis. Namun itu juga akan menjadi keputusan yang sangat berat.

Mungkin ia akan membiarkan Ino menangis untuk bagian Shikamaru juga.

.

#

.


Ekspresi Namikaze Naruto yang agak mengeras ketika membaca isi gulungan yang disodorkan Shikamaru beberapa waktu lalu. Setelah sekian satuan waktu, akhirnya Naruto meletakkan gulungan itu di mejanya dan memandang Shikamaru dengan tatapan ganjil.

Shikamaru diam, menunggu.

Naruto berdiri, lalu dalam hening berjalan mendekati jendela—berdiri membelakangi Shikamaru. "Aturan itu diberlakukan di Konoha beberapa puluh tahun lalu—kurasa saat masa Nidaime," Naruto bicara. "Tidak banyak yang mengetahui mengenai aturan itu, selain para Petinggi Desa."

Jeda.

Mata Shikamaru terpaku pada kanji Rokudaime Hokage yang tersulam di punggung jubah merah beraksen hitam Naruto. Ia menunggu.

"Sebenarnya, aku sendiri baru mengetahui mengenai aturan itu sekitar dua tahun setelah aku menjadi Hokage. Saat itu, salah seorang chuunin desa kita menyatakan keinginan untuk menikahi kunoichi dari Desa Kiri. Karena tidak mengetahui prosedur, aku bertanya kepada Kakek dan Nenek Petinggi Desa—rekan satu tim Kakek Sandaime—"

"Aturan itu benar?" Shikamaru memotong.

Naruto terdiam. Ia mengangguk perlahan. "Kunoichi dari Desa Kiri itu akhirnya meninggalkan desanya untuk menikah dengan chuunin desa kita," Naruto melanjutkan, "sekarang ia tinggal di Konoha … dan membuang status ninja-nya. Dan—Desa Kiri juga sudah mencoret namanya dari daftar penduduk."

Shikamaru merasa seperti pening menyergap kepalanya. Entah apa yang harus dilakukannya setelah ini.

"Maaf, Shikamaru, aku benar-benar payah," Naruto membalikkan tubuh dan memandang Shikamaru dengan perasaan bersalah. "Aku sama sekali tidak menghiraukan fakta bahwa Temari-san adalah kunoichi dari desa lain—"

"Apa—Konoha dan Suna tidak memiliki perjanjian khusus mengenai hal itu?" Shikamaru mengepalkan tangannya dan bicara.

Naruto menarik nafas. "Tidak ada. Satu-satunya yang berlaku di Konoha untuk mengatur pernikahan antardesa ninja adalah aturan itu. Berlaku untuk seluruh desa ninja yang terikat aliansi dengan Konoha—" ujarnya.

Jelas saja Sakura tidak menemukan dokumen yang Shikamaru cari. Sejak awal dokumen itu memang tidak pernah ada. Shikamaru sama sekali tidak memikirkan kemungkinan adanya aturan umum seperti itu.

Mendadak Shikamaru teringat percakapan dengan ayahnya seminggu yang lalu—sesuatu tentang kerumitan pernikahan antardesa. Lalu sesuatu yang ganjil melintas di pikirannya.

Ya, ingatan Shikamaru tidak salah, ayahnya berbicara mengenai pernikahan antardesa. Tapi, jika aturan yang baru saja ditemukannya adalah mengenai pernikahan antardesa ninja, mungkinkah itu artinya—

"Naruto—apakah kau memiliki daftar shinobi Konoha yang melakukan pernikahan antardesa ninja?" ia bertanya tiba-tiba.

Naruto tampak sedikit terkejut, tapi kemudian ia mengangguk. Pemuda berambut pirang itu lalu membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan serenceng kunci dari kuningan yang sudah tua, lalu ia melemparnya ke arah Shikamaru. "Ruang dokumen rahasia. Nomor rak ada di kunci itu. Di sana tersimpan seluruh daftar yang berkaitan dengan segala aturan di Konoha. Seharusnya ada."

Shikamaru menatap kunci kuningan itu dan menggenggamnya erat. Kemudian tanpa bicara, ia berbalik dan keluar dari ruangan Hokage.

Sementara itu, Namikaze Naruto menjatuhkan tubuh di kursinya dan mengutuk pelan kebodohan dirinya sendiri karena terlambat menyadari situasi yang akan dihadapi Shikamaru.

Mata safir Naruto memandang tulisan yang terukir di gulungan merah yang teronggok di meja kerjanya. Sebuah laporan yang menyiratkan suatu aturan tak tertulis dari hukum Desa Konoha. Tidak perlu memiliki intelegensi seperti Nara Shikamaru untuk memahami maksud aturan itu.

Aturan sederhana. Sesuatu yang menegaskan akan konsekuensi dari sebuah pernikahan antardesa ninja: pencabutan status shinobi, dan pengasingan dari desa asal.

Naruto mengacak rambutnya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal seperti itu? Bagaimana bisa ia membiarkan sahabatnya terjebak dalam sesuatu yang seharusnya bisa ia peringatkan sebelumnya?

Naruto merasa sedikit bersalah. Mungkin ia perlu berbicara dengan Gaara mengenai semua ini—cepat atau lambat.

.

#

.


Nara Shikamaru berjalan menyusuri jalan desa yang lengang di sore hari. Meski matanya tampak lurus memandang ke depan, apa yang berputar di otaknya sama sekali bebeda.

Ingatannya kembali kepada daftar nama yang ditemukannya. Lalu samar-samar, suara ayahnya seperti bergema di dalam kepalanya.

"Shikamaru, pernikahan antardesa adalah hal yang sulit…"

Sekarang ia memahami maksudnya. Pernikahan antardesa adalah hal yang sulit, dan pernikahan antardesa ninja jauh lebih sulit dari itu.

Shikamaru mengepalkan tangan yang tersembunyi di balik saku celana hitamnya.

Sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa ibunya—yang selama ini hanya dikenalnya sebagai Nara Yoshino—adalah seorang kunoichi dari Desa Iwa, yang sudah membuang status ninja-nya demi mengambil status sebagai ibu bagi Nara Shikamaru.

Seperti déjà vu, Shikamaru mengingat ekspresi ibunya ketika ia mengatakan keinginannya untuk menikah dengan Temari.

Itukah alasan di balik penolakan mereka? Sebuah resiko besar?

Resiko—tentu saja. Shikamaru merasa marah kepada dirinya sendiri karena telah bertindak begitu ceroboh.

Jika ia dan Temari memang akan menikah, maka salah satu dari mereka harus siap membuang status ninja-nya—juga desanya. Harga yang sangat besar untuk sebuah cinta yang abstrak.

Shikamaru tidak pernah menyangka bahwa kehidupan sebagai shinobi bisa menjadi lebih merepotkan dari apa yang pernah dibayangkannya. Ia harus berhenti menggumamkan 'merepotkan', karena masalah yang saat ini dihadapinya tidak bisa hanya didefinisikan dengan sekedar kata kekanak-kanakan seperti itu.

Pemuda itu melempar pandangan ke arah awan keemasan yang berarak pelan di langit sore.

Menjadi dewasa adalah hal yang sulit: di mana seseorang harus siap memutuskan segalanya, dan menerima resiko sebagai bagian dari masalah.

Baru saja pandangan Shikamaru kembali ke jalan ketika sebuah suara terdengar di kejauhan.

"Shikamaru-Nii-chan!" suara jernih itu terdengar diiringi langkah kaki berderap yang dengan cepat terhenti di sisi Shikamaru.

Shikamaru menoleh, menemukan sosok pemuda familiar di sana. "Konohamaru?"

Yang disebut itu tersenyum cerah, memamerkan gigi-giginya. "Aku baru kembali dari misi! Nii-chan baru kembali dari kantor? Ne, ne, kapan kita bisa bermain shogi bersama lagi?"

Shikamaru memberikan senyum singkat. Meski sudah jauh lebih dewasa, Konohamaru tidak pernah berubah. Sifat penuh semangat dan cerianya selalu memberi aura hangat di desa. Rasanya seperti nostalgia—seolah melihat Uzumaki Naruto bertahun-tahun yang lalu—sebelum perang dan realtia lainnya mulai tampak bagi mereka.

"Sebaiknya kau melapor dulu. Lalu ke Rumah Sakit untuk membereskan lukamu," sahut pemuda itu seraya menepuk kepala Konohamaru.

"Ah. Hanya luka kecil, kok." Konohamaru tertawa sambil memegang lengan pakaiannya yang kotor dan berwarna darah. "Kata Moegi, Sakura-Nee-chan sedang cuti?"

"Ya. Sakura sibuk membantu mengurus pernikahan Ino. Kau tahu, masalah perempuan. Sisanya, orangtuaku dan Chouji membantu mengurus yang lainnya."

Konohamaru mengangguk di sepanjang langkahnya. "Apa boleh buat karena Paman Inoichi sudah tidak ada …," ia berbicara pelan, nyaris seperti kepada dirinya sendiri.

Tapi Shikamaru mendengarnya. Pemuda itu memberikan pandangan sendu.

Begitu saja, ia mengingat sosok Ino pada malam penuh darah itu.

Serangan Juubi mengarah langsung ke markas utama. Sebagai Ketua Tim Pusat Informasi, Yamanaka Inoichi memberikan instruksi terakhir Nara Shikaku kepada mereka—Ino, Shikamaru, dan Chouji—sebelum suaranya hilang untuk selamanya.

Dalam teror mencekam itu, Ino menggenggam erat tangan Shikamaru. Gadis itu tidak menangis, namun dengan suara bergetar mengatakan mereka harus menggantikan peran markas utama. Dengan determinasi luar biasa, Ino berjuang melawan batasnya—menggantikan peran sang ayah sebagai penerus klan Yamanaka yang luar biasa.

Ketika perang berakhir dan hanya Shikaku yang, meski dalam keadaan kritis, selamat berkat replika Katsuyu di sisinya, Ino baru terisak pelan. Lalu gadis itu menumpahkan tangisnya di pelukan Shikamaru.

Hari itu, segalanya berubah.

Shikamaru pernah benar-benar berpikir akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Ino. Ketika realita mereka tidak mungkin bersatu muncul, Shikamaru merasa itu seperti peringatan.

Mungkin ia dan Ino hanya melarikan diri dari kenyataan. Mungkin mereka berdua hanya terhanyut dalam arus kehilangan pada perang itu.

Ino memang selalu di sisinya. Selalu, sebagai seorang sahabat.

"—Shikamaru-Nii-chan?" suara Konohamaru menghentikan pikiran Shikamaru.

"Ah—maaf. Kau bilang apa?" Shikamaru memfokuskan kembali pandangannya.

Konohamaru tampak serius. "Kubilang, mulai sekarang aku akan berusaha lebih keras agar bisa menjadi Jounin hebat!"

Shikamaru memandang pemuda di sampingnya.

Konohamaru tersenyum lebar. "Ino-Nee-chan sudah mau menikah. Berarti sebentar lagi di masa depan akan ada Ino-Shika-Chou yang baru!" Pemuda itu menatap Shikamaru dan mengacungkan ibu jarinya. "Sebagai penerus klan Sarutobi, Konohamaru ini akan menjadi Jounin Sensei yang hebat!"

Pandangan Shikamaru melembut.

Betapa waktu benar-benar cepat berlalu. Sarutobi Asuma … rasanya seperti belum lama sejak ia pergi untuk selamanya, namun kobar api semangatnya telah menyala di mana-mana.

Shikamaru menepuk kepala Konohamaru lagi. "Lalu siapa yang akan menggantikan Naruto nanti? Sudah menyerah menjadi Hokage?"

"Bukan begitu!" sergah Konohamaru. Ia menatap Shikamaru lurus-lurus. "Seperti Paman Asuma dan Shikamaru-Nii-chan, aku juga akan melindungi 'Raja'*!"

Shikamaru tersenyum.

Konohamaru mendecak dibuat-buat. "Lagipula, Naruto-Nii-chan masih akan memimpin untuk masa yang lama."

Jeda.

Suara pemuda itu berubah menjadi sungguh-sungguh. "Ia harus. Aku masih punya banyak waktu untuk melakukan hal yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin ada penyesalan."

Sesuatu terasa menusuk ketika Shikamaru mendengarnya.

Sementara itu, langkah mereka terhenti ketika mendekati jalan menuju bangunan Rumah Sakit Konoha.

"Aku pergi dulu, Nii-chan. Sampaikan salamku pada Temari-Nee-chan jika kalian bertemu!" Konohamaru pamit dan berlari kecil dengan semangat menuju bangunan putih itu.

Sementara itu, Shikamaru terpekur. Pemuda itu tidak beranjak dan membiarkan pikirannya berlarian.

Selagi masih ada waktu.

Benar.

Begitu saja, awan-awan yang melayang di pikiran beranjak pergi, meninggalkan sinar yang menerangi logika pemuda itu.

Ya. Ia harus melakukan hal yang bisa ia lakukan.

Ia harus bicara dengan Temari.

Mereka perlu meninjau ulang segalanya. Segala resiko itu—mereka harus memikirkannya matang-matang. Segalanya terlalu besar.

Selagi mereka masih memiliki waktu—jangan sampai ada penyesalan.

.

#

.


.

Bersambung

.


Catatan Faria:

*) 'Raja' di sini mengacu pada bidak permainan shogi yang menjadi analogi bagi seseorang yang harus dilindungi. Sarutobi Asuma memberitahu artinya kepada Shikamaru menjelang kematiannya. Bagi yang mungkin tidak menonton: animasi Naruto Shippuuden episode 234 (ナルトの愛弟子, Naruto's Favorite Pupil), episode filler tersebut menceritakan bagaimana Shikamaru menjelaskan informasi terkait 'Raja' ini kepada Konohamaru (di sini juga Konohamaru bertemu dengan Temari).

Alternate reality mengenai Yamanaka Inoichi saya dasarkan dari perkembangan manga Naruto chapter 613 ke atas. Tentu saja itu benar-benar pukulan berat bagi fans Ino-Shika-Chou bagi saya (Jangan lupakan lelucon Shikamaru yang nyaris mati itu. Jantung saya rasanya mau copot ketika membaca!).

Kenapa Konohamaru? Well, karena Konohamaru adalah anggota klan Sarutobi. Saya lupa apakah dijelaskan di animasi atau di manga, secara jelasnya, Ino-Shika-Chou (klan Yamanaka-Nara-Akimichi) memiliki hubungan khusus dengan klan Sarutobi. Itulah mengapa Sarutobi Asuma memegang Tim 10 dan menghadiahkan mereka anting-anting—semacam tradisi. Tentu saja mengenai Konohamaru hanya perkiraan pribadi saya. Sebenarnya jika dari segi umur, Kazuma akan lebih sesuai jika sungguhan menjadi Jounin Sensei generasi baru Ino-Shika-Chou. Ah, abaikan rambling tidak jelas ini. Mari berharap Kishimoto-sensei berkenan memberi epilog yang manis.

Sebelumnya saya juga meminta maaf atas update yang agak terlambat untuk chapter ini. Terima kasih telah membaca!

.

~fariacchi – 131124~