Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei...

Warning : OOC (Bangggeeeet!), TYPO (apalagi!), Ga Je... Boy x Boy...

Pair : SasuNaru (Foreveeeer Togetherrr!)

Nah, this is the fourth chapter...

Fic miyu masih banyak kekurangan, tapi... kalau buat reader senang...

jadi senang deh!

Read n Review, Please... ^_^

.

Happy Reading, Minna-Chaaan

.

Got It!

.

.

"Kau mau pulang sekarang?" tanya Sasuke sambil berjalan mengekor di belakang Naruto yang asyik dengan pikirannya sendiri, tapi setelah mendengar pertanyaan Sasuke, Naruto langsung menjawab ketus.

"Tidak, aku mau menginap di rumahmu!" cibir Naruto. Ia menghentakkan kaki tannya dengan kesal sambil mengumpat menyumpahi Sasuke di dalam hatinya.

sedangkan si ayam? ya... bisa kita tebak kalau wajahnya masih datar seperti biasanya.

"Hm, baguslah kalau kau mau menginap. Kau bisa sekalian ku jadikan butler di rumahku." Kata Sasuke sambil memasukkan kedua tangan porselennya ke dalam saku celana pendeknya yang berwarna hitam.

"Cih, terima kasih, Teme-sama yang terhormat. Sayangnya, aku lebih memilih tinggal di kandang singa dibanding tinggal di rumah anda." Kata Naruto. Meski terdengar formal, sebenarnya ia menekankan suaranya, pertanda kalau ia sedang kesal.

Sasuke tetap tidak menggubris, kemudian dia menyodorkan bungkusan plastik berwarna putih yang berisi baju butler milik Naruto.

"Ketinggalan." Katanya singkat.

Naruto hendak menoleh, tapi ia urungkan niatnya, karena tahu bahwa itu bungkusan yang berisi baju butlernya. Akhirnya Naruto pura-pura tak mendengar dan pura-pura sibuk mencari kunci motornya di saku celananya.

"Ketinggalan." Ulang Sasuke lagi karena merasa tak diindahkan oleh pemilik rambut kuning yang sedang sok sibuk mencari kunci motornya.

Naruto masih pura-pura tak mendengarkan kata-kata Sasuke, membuat pemuda pemilik surai raven itu mendengus kesal, Lalu...

"Ketinggalan." Ulang Sasuke sambil melemparkan kunci motor milik Naruto dan bungkusan berwarna putih itu ke pipi tan milik Naruto.

Naruto menggeram kesal setelah mendapat perlakukan sedemikian sopannya dari Sasuke.

"Oi! Sakit, Teme!" seru Naruto kesal sambil mengelus pipi tan mulusnya. Kemudian ia memungut bungkusan putih itu beserta kunci motornya sambil menggerutu kesal.

Saat ia tengah merapikan baju butlernya, sebuah gelang dari kayu dengan ukiran lambang klan Uchiha berada di atas lipatan bajunya.

Melihat gelang yang ia yakini pemiliknya adalah Sasuke, Naruto menyeringai senang. Wajah tan mulus miliknya mendongak angkuh mencari laki-laki berambut raven yang sudah membuat ia jengkel.

"Ketinggalan." Kata Naruto sambil mengacungkan gelang dari kayu itu. Tapi Sasuke sudah lebih dulu berbalik menuju ke dalam rumahnya.

"Ketinggalan, Teme!" seru Naruto, karena meras Sasuke melakukan acara balas dendam dengannya.

Sasuke masih tak bergeming atau lebih tepatnya sengaja tak mendengarkan ocehan si Kuning yang berada di belakangnya itu.

"Oi, Ketinggalaaaaaan!" teriak Naruto seakan-akan ingin merobohkan kediaman Uchiha saat itu juga.

Mendengar suara Naruto yang terdengar seperti sangkakala itu, Sasuke menutup telinganya dan berbalik dengan wajah yang penuh amarah, tapi...

PLUK!

Sebuah gelang dari kayu menampar pipi porselennya.

"Ketinggalan, tau! tak kusangka laki-laki seperti kau yang terlihat Cool, ternyata mempunyai gelang, HEH!" kata Naruto sambil tertawa konyol.

Mata Sasuke membulat setelah mendengar penuturan polos dari Naruto. tapi ia langsung menunduk untuk mengambil gelang kayu yang menjadi jati diri klannya itu. Kemudian ia membuka mulutnya.

"Tak ada salahnya, kalau seseorang ada benda yang dianggapnya penting."kata Sasuke datar sambil berbalik kembali menuju rumahnya.

"tentu saja, aku juga punya benda yang sangat penting. Ini!" kata Naruto sambil mengacungkan buku bercover rubah miliknya dengan senyum riang, karena memang ia menganggap buku bercover rubah itu bendanya yang sangat penting.

"Oh, tempat kau merangkai cerita jelek itu? Hm... aku heran kenapa karyamu yang menurutku biasa-biasa saja itu bisa menyedot publik." Kata Sasuke dengan angkuh, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengangkat wajahnya dengan angkuh. Oh! jangan lupakan juga senyumnya yang menyebalkan itu yang tampak seperti mengejek Naruto.

Mendengar hal itu, Naruto menggeram kesal. Ia pun memainkan gas motornya yang membuat telinga Sasuke seperti ditabrak truk.

BRUM...BRUM...BRUM...

"Hen..."

"Hei, jaga mulutmu, ya! Aku tak pernah menyinggung masalah hobimu!" potong Naruto kesal.

Setelah itu, Naruto memacu motornya meninggalkan kediaman Sasuke dengan hati yang bukan main dongkolnya.

.

"Aku pulang..." kata Naruto dengan lesu. Ia segera melempar bungkusan berwarna putih itu ke sofa dan menjatuhkan diri di samping bungkusan putih itu.

"Wah, Naru-chaan... sudah pulang ya?" kata seorang wanita paruh baya yang ternyata ibunya, Kushina.

Naruto masih diam tidak menyapa ibunya.

Tangan tan mulus miliknya meraih kacamata yang bertengger di depan matanya, kemudian melepasnya dengan lesu.

"Ada apa, Naru-chaan...?" tanya sang ibu sambil mengelus surai pirang milik Naruto.

"Bu, ada adik kelasku yang tahu kalau aku adalah Saphire Namikaze." Kata Naruto to the point sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing.

"Ah, hanya adik kelas. Kau bisa mengancamnya." Kata Kushina sambil melambaikan tangannya di depan wajah.

Naruto mengacak surainya dengan gemas.

"Kalau dia cupu atau bodoh, tentu saja sudah ku lakukan sebelum ibu memberikan saran itu."kata Naruto frustasi. Ia memandangi lantai yang tengah ia pijak membayangkan wajah Sasuke yang ia injak-injak dengan kakinya.

"Lho? Jadi..."

"Ya, dia itu anak yang benar-benar membuatku panas, menyebalkan, angkuh, tapi sayangnya dia itu... terlalu jenius." Kata Naruto frustasi.

Kushina menghela nafas, tak lama kemudian terdengar suara bel yang mengganggu ketenangan mereka.

"Aku pulaang!" terdengar suara bariton yang muncul dari balik pintu rumah mereka.

Seorang laki-laki berambut oranye dan berwajah mirip Naruto menghampiri mereka.

"Halo Ibu... Wah, otouto-chan, kau kelihatan murung." Kata si oranye sambil tertawa geli. Ia mengacak surai kuning milik Naruto dengan gemas tanpa tahu kalau sang adik sedang dilanda kegalauan tingkat dewa.

"Hei, Kyuubi. Kenapa aku ditinggal di luar!" terdengar suara lain dan munculah sosok pemuda berambut hitam panjang dan bermata onyx menyusul si oranye yang ternyata kakak Naruto, Kyuubi Namikaze.

"Itachi, kubilang tunggu di luar!" teriak Kyuubi sambil mengacungkan telunjuknya menuju ke arah luar.

Naruto yang penasaran dengan teman kakaknya itu menolehkan kepalanya dan mendapati laki-laki yang hampir mirip dengan Sasuke itu menyandarkan tubuhnya di pintu rumah mereka.

Mata safir miliknya turun mengamati postur laki-laki itu, kemudian matanya tertuju pada sebuah gelang kayu yang terdapat lambang klan Uchiha di bandulannya, sama persis dengan milik Sasuke.

'Gelangnya.. sama dengan si Teme, apa dia...'

"Hei, orang bodoh yang menyandarkan tubuhnya di pintu, Adikmu bernama Sasuke Uchiha, apa itu benar?" tanya Naruto seakan-akan mengiterogasi Itachi. Matanya berkilat-kilat menunggu jawaban pemuda bersurai panjang itu.

Tapi, Pemuda bersurai hitam itu tampak tenang, kemudian membuka mulutnya.

"Ya, kuning. Apakah ada masalah dengan itu?" kata Itachi dingin. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Tentu saja! Aku ada masalah dengan adikmu! si rambut ayam super menyebalkan, dan katakan padanya, kalau suatu saat akan ku tonjok wajahnya yang menyebalkan itu." Kata Naruto dengan geram. Ia mengacungkan kepalan tangannya yang berwarna tan itu.

"Ya, pasti ku sampaikan." Kata Itachi sambil mengangguk cuek.

Kushina dan Kyuubi menatap Naruto tak percaya, karena baru kali ini adik manisnya berbicara sekasar itu. Sedangkan Itachi tampak mengerutkan dahinya. Sedikit ada keterkejutan di matanya, karena adiknya- Sasuke- baru saja membuat adik kekasihnya-Kyuubi- marah besar.

Naruto menggeram kesal dan mengambil bungkusan berwarna putih yang berada di sampingnya itu kemudian pergi sambil menghentakkan kakinya dengan kesal

.

"Ah Segarnya..." kata Naruto sambil menyibak helaian surai kuning miliknya.

Ia pun duduk di atas kasurnya yang berukuran king size sambil mengeringkan rambutnya.

Tiba-tiba...

Stop it, Oh! Stop it!

When the music...

Naruto melirik ke sampingnya dan mendapati handphone-nya berbunyi. Di raihnya handphone itu dan mengamati layarnya.

"Nomor siapa ini..?" tanya Naruto dalam hati.

Tidak tertera nama pemanggil di sana.

Baru saja jarinya hendak menggeser gambar berwarna hijau untuk mengangkat panggilannya, bunyi nada dering di handphone-nya tidak berbunyi lagi.

"Siapa sih?"

"What?!" seru Naruto kaget.

Ia mendapati 120 panggilan tak terjawab di handphone-nya. Serta 57 pesan singkat yang ternyata dari nomor yang sama dengan orang yang barusan saja menelponnya tadi.

"Siapa orang ini? Apa stalker?" kata Naruto sambil mengerutkan dahinya. Ia pun membuka salah satu pesan singkat itu.

.

Subject : You will get Your Punishment!

From :Majikanmu, dobe!

Message :

Apa-apaan kau, hah! Jangan bercanda...

Ku ingatkan lagi, kalau besok... kau harus datang lebih awal dariku dan menyambutku seperti majikanmu!

Welcome to your hell, Dobe. Hahaha...

.

Naruto mendengus kesal setelah melihat pesan singkat yang menyebalkan itu.

Ia pun membalasnya dengan geram plus dongkol.

.

Subject : Nothing...

From : Blue eyes

Message :

Masa bodoh,Teme. Oh! Ternyata kakakmu sudah menyampaikan pesan dariku ya? Hm... baguslah. Karena hal yang di sampaikan kakakmu itu adalah Nyata! Dan REAL! Lihat saja nanti! :P

.

Other Side...

Seorang pemuda berambut raven duduk santai di ruang bacanya. Ia tampak di temani dengan handphone berwarna putih miliknya serta secangkir teh di sampingnya.

Get it, Yeah You'll get it!

Ia membaca sebuah pesan yang baru saja sampai di handphone-nya yang berdering tadi,

.

Subject : Nothing...

From : Blue eyes

Message :

Masa bodoh,Teme. Oh! Ternyata kakakmu sudah menyampaikan pesan dariku ya? Hm... baguslah. Karena hal yang di sampaikan kakakmu itu adalah Nyata! Dan REAL! Lihat saja nanti! :P

.

Wajahnya merah merona setelah mendapatkan pesan singkat itu.

'Tapi...'

Jari-jari putih milik Sasuke mulai mengetik kembali kata-kata di handphone miliknya.

.

From : Majikanmu, Dobe!

Message :

Memangnya apa yang kau katakan pada aniki-ku?

.

Ia menekan kata 'send' di layar handphone putih miliknya itu. Entah mengapa setelah Sasuke menekan tanda itu, hatinya menjadi lega.

Baru saja ia hendak beranjak untuk mengambil salah satu buku di ruang baca keluarganya.

Get it, Yeah You'll get it!

Handphone-nya kembali berdering menandakan ada pesan yang baru saja masuk di handphone-nya. Ia meraih handphone-nya itu dan tersenyum.

.

From : Blue Eyes

Message :

Ck, tentu kau sudah mendengar sendiri dari aniki-mu! Aku tak perlu mengulanginya lagi!

Dasar, tunggulah saat itu tiba, Teme! Hehehe... O.O

.

Sasuke tertawa kecil tanpa sadar.

'Aku akan menunggunya, Dobe.' Lirih Sasuke dalam hati.

FLASHBACK

"Hey, otoutou... kau kenal dengan bocah manis bersurai kuning dan bermata biru? Ia salah satu dari keluarga Namikaze." Kata Itachi sambil duduk di samping Sasuke yang masih sibuk dengan buku ensiklopedia dunia di tangannya.

"Iya, bocah yang berisik itu." Kata Sasuke singkat tanpa menoleh ke arah Itachi yang mencoba menarik perhatian Sasuke dengan ceritanya.

"Hm, begitu. Aku tadi ke rumahnya dan bertemu dengannya." Kata Itachi sambil menyandarkan tubuhnya di sofa perak milik mereka.

"Hn, Jadi?"

"Ya... dia titip salam untukmu, katanya dia bersumpah bahwa suatu saat nanti dia akan menciummu tepat di bibirmu!" kata Itachi sambil menyeringai setan.

Pemuda bersurai pantat ayam itu menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Itachi meminta penjelasan lebih.

'Dapat, kau! Otoutou...!' sorak Itachi dalam hati.

"Aku serius... kau bisa tanyakan langsung dengannya." Kata Itachi sambil tersenyum manis, namun terselubung niat aneh di senyumannya.

Sasuke menyipitkan matanya mencoba memperhatikan wajah Itachi yang datar, mungkin saja ia akan menemukan bahwa aniki-nya ini telah berbohong.

'Tidak mungkin, kau mau menipuku, aniki! Tapi... apa salahnya memancing si dobe itu?' Batin Sasuke. Ia ikut menyeringai setan.

FLASHBACK END

.

.

Esoknya...

Naruto tampak bersiap-siap dengan baju butler-nya. Sebelum pergi diliriknya kembali penampilannya di cermin. Ya... setidaknya, wajah tan miliknya tidak terlihat aneh ketika memakai baju butler itu.

"Yosh, lumayan tampan kalau pake baju ini." Kata Naruto sambil tersenyum GaJe.

Naruto pun turun ke bawah dan menyapa ibu, ayah dan kakaknya seperti biasa.

"Loh? Kenapa kau memakai baju butler?" tanya Minato -ayah Naruto- dengan heran. Kushina dan Kyuubi juga menutup mulut mereka karena tak percaya setelah melihat Naruto memakai baju butler yang membuat ia terlihat sangat tampan.

"Kau cosplay, ya?" tanya Kyuubi sambil melahap kembali rotinya.

"Cosplay apanya! Ini di suruh oleh adik temanmu itu, Aniki!" sungut Naruto kesal. Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi kayu di samping Kyuubi.

"Wah, Naru-chaan... kau manis sekali!" seru Kushina sambil bertepuk tangan dengan gembira.

"Cih," sungut Naruto kesal karena dibilang 'manis'. Ia pun melahap roti dan susu yang sudah tersaji di hadapannya.

.

Naruto baru saja sampai di sekolahnya. Ia mengunci roda motornya, lalu melenggang pergi dengan tas berwarna oranye- hitam di punggungnya.

"Na...Na..Naruto?! ini kau?" tanya laki-laki bertato 'ai' di dahinya, Gaara.

"Memangnya kenapa? Terlihat aneh?" tanya Naruto sambil melihat kembali penampilannya.

"Tentu saja! Kenapa kau memakai baju butler di sekolah?" bisik Gaara. Ia tampak mengamati sekelilingnya, dimana banyak sekali yang melirik Naruto dengan penuh kekaguman.

"Yo, Naruto! Kenapa kau pakai baju pembantu laki-laki,hah?" tanya pemuda bersurai nanas sambil mengusap tengkuknya, sedangkan di samping Shikamaru tampak seorang pemuda bertato segitiga di pipinya sambil bergelayut manja di lengan Shikamaru.a.k.a. Kiba.

"butler, Shika! Butler!" kata Naruto sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya.

"Ck, bagiku sama saja." Kata Shikamaru cuek.

"Wah, Naruto! Kau benar-benar tampan!" seru Kiba setelah melihat Naruto di hadapannya.

Naruto tersenyum lima jari mendengar pujian dari teman sekelasnya itu.

"Kau ini, aku selalu tampan setiap harinya." Kata Naruto, narsis.

Tiba-tiba..

"Dobe... kau sudah melanggar peraturan yang pertama!" kata suara bariton yang membuat bulu kuduk mereka berdiri setelah mendengar suara dingin nan menyeramkan itu.

"E..hehe... Shika, ayo kita ke kelas. Naruto, Sasuke, kami duluaan!" kata Kiba. Ia pun menarik Shikamaru menjauhi Naruto, Sasuke dan Gaara yang masih terpaku.

"Ah! Naruto, Sasuke, aku lupa kalau hari ini ada jadwal piket kelas, aku juga duluan ya... Jaa.." kata Gaara memecah keheningan di antara Naruto dan Sasuke. Ia pun melambaikan tangannya ke arah mereka berdua dan berlalu.

Syuuu...

Tinggal mereka berdua...

"Dobe, kau sudah melanggar peraturan." Kata Sasuke masih dengan datar namun menusuk. Matanya tertutup kelopaknya yang berwarna putih itu, serta kedua tangannya disilangkan di depan dadanya tak lupa pula wajahnya terangkat dengan angkuh.

"Ya... maaf, Teme! Aku saja baru sampai..." sungut Naruto sambil memutar tubuhnya, agar bisa lebih jelas menatap lawan bicaranya.

"Aku masih mau berbaik hati padamu kali ini, kalau kau masih suka melanggar pekerjaanmu sebagai butler..."

" Kau akan tahu akibatnya!" kata Sasuke dengan ketus. Ia pun melenggang pergi meninggalkan Naruto yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

"Haaah..." Naruto hanya menghela nafas sambil melangkah pergi menuju kelasnya.

.

Saat Istirahat...

Naruto tampak berdiri sambil memegang bungkusan bergambar rubah di tangannya. Tak lupa pula buku kesayangannya ia apit di sela-sela lengannya. Mata safirnya bergerak mencari-cari sosok seseorang yang belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Akhirnya ia melongokkan kepalanya ke dalam kelas Sasuke mencoba mencari orang yang ia tunggu dari tadi.

"Looh? Kok tidak ada?" seru Naruto. Ia mulai mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok rambut raven dengan model paling jarang di sekolah mereka.

"Ah! Giliran ku tunggu, si ayam itu tidak ada! Apa sih, maunya!" sungut Naruto kesal. Untung saja ia tidak membanting bungkusan itu, karena sebenarnya dia juga lapar.

"Hm..."

Naruto menyentuh pundak seorang laki-laki berambut biru muda yang berdiri tak jauh darinya.

"Ya, ada apa?" tanyanya sopan sambil tersenyum manis memperlihatkan gigi-gigi taringnya yang tajam.a.k.a Suigetsu.

'Hiii...' Batin Naruto ngeri.

"Ah, Tidak, apakah kau melihat Sasuke?" tanya Naruto sambil tersenyum tak kalah ramah dari Suigetsu.

Suigetsu tampak mengerutkan dahinya, tanda berpikir. Kemudian ia tersenyum riang.

"Tadi dia bolos, hm.. coba kau cari di atap sekolah! Dia sering pergi ke sana." Kata Suigetsu.

Iris safir Naruto tampak memancarkan kebahagiaan.

"Oh ya?! Kalau begitu, terima kasih, dik!" kata Naruto sambil melenggang pergi.

Kaki tan miliknya berjalan menyusuri tangga di samping kelas 3A. Yang merupakan jalan menuju atap KHS.

"Ah,untung saja aku tidak memakai baju butler lagi, kalau tidak... mana mau aku pergi ke kelas si Teme itu." Kata Naruto di sela-sela langkahnya.

Ya... ia membuat kesepakatan, kalau Naruto hanya memakai baju butler saat datang ke sekolah dan saat akan pulang sekolah. Merepotkan? Tentu saja! Teman blonde kita yang satu ini juga benar-benar kesal dengan permainan gila yang seakan-akan Sasuke buatkan khusus untuknya.

Krieet...

Naruto membuka pintu atap sekolahnya dengan perlahan, namun dia tidak mendengar bunyi sahutan atau hal lainnya. Tapi, ketika kaki tannya mulai masuk, ia bisa melihat seseorang dengan tubuh seputih porselen tampak terbaring dengan damai. Kedua kelopak matanya tertutup, serta ia dapat mendengar dengkuran halus dari pemiliknya membuat Naruto terkekeh kecil melihatnya. Ternyata, majikannya yang ia tahu adalah orang yang keras kepala, suka memerintah dan banyak maunya, ternyata sangat tampan dengan wajah tidurnya.

Naruto berjalan menuju ke samping Sasuke sepelan mungkin agar tidak membangunkan dia yang masih damai di alam mimpi.

Setelah berada di samping Sasuke, Naruto meletakkan bekal mereka berdua dan mengeluarkan buku catatannya yang bercover rubah itu.

Ia mulai menulis sesuatu di sana sambil sesekali melirik wajah tidur Sasuke.

Dari wajah Sasuke, iris safirnya turun ke leher putih Sasuke yang benar-benar sempurna tanpa cacat itu. Kemudian ia kembali menulis sesuatu di bukunya lagi. Puas melihat leher Sasuke, irisnya turun lagi ke dada Sasuke yang terlihat bidang itu, lalu Naruto kembali menulis. Irisnya kembali turun, sekarang berada di perut Sasuke yang sangat jelas kalau Sasuke memiliki tubuh yang membuat kaum hawa pingsan kehabisan darah. Naruto pun sampai menggeleng kagum melihatnya.

Setelah puas menjelajahi tubuh Sasuke, ia tersenyum riang.

"Saatnya menulis cerita yang sebenarnya!" seru Naruto sambil mengangkat riang buku bercover rubahnya.

Naruto pun mengalihkan pandangannya menuju Sasuke yang masih tertidur, kemudian ia tersenyum senang.

"Yah, maaf aku melihat-lihat tubuhmu, Teme. Mau bagaimana lagi? Tokoh untuk ceritaku yang selanjutnya, benar-benar mirip denganmu. Aku janji deh... kalau buku ku sudah jadi, orang yang akan ku beri cetakan pertamanya adalah kau." Kata Naruto sambil tersenyum. Ia pun ikut berbaring di samping Sasuke.

.

Mata onyx milik Sasuke mengerjap pelan. Mencoba mengembalikan kembali kepingan-kepingan kesadarannya.

Ketika ia mengalihkan pandangannya ke samping... mata onyx milik Sasuke tampak terbelalak saat melihat wajah tan polos sedang berbaring dengan wajah yang hanya berjarak 30 senti itu.

"Ke..kenapa si dobe ini di sini?" kata Sasuke sambil bangkit dari acara berbaringnya dan duduk tepat di samping Naruto yang masih tertidur pulas. Kesadarannya langsung pulih saat mendapati bocah kuning yang berisik itu menyapa mata onyx-nya.

"Cih!" sungut Sasuke. Tiba-tiba matanya tertuju pada buku bercover rubah milik Naruto.

Ia mendekatkan tangan porselennya pada buku itu.

"Masih saja ceroboh!" kata Sasuke sambil mengambil buku yang ternyata lupa di tutup oleh pemiliknya itu, sehingga tulisan terakhir yang di tulis Naruto bisa di lihat oleh Sasuke!

.

Tokoh Utama: Haru Moizawa (Laki-laki semangat yang berapi-api)

Tokoh U.1 :Hayato Renzou (Laki-laki maskulin berambut raven model pantat ayam,Tampan, mata onyx, badan tegap, cuek, menyebalkan, Jenius sekali, idola para gadis, Bad boy!)

Bentuh Tubuh : Putih porselen, kaki panjang. Satu kata mewakili semuanya, SEMPURNA!

..

Sebuah seringai nakal terpatri di bibir Sasuke, mata onyx-nya melihat ke arah Naruto yang masih tidur dengan damainya.

'Fuh! Sepertinya aku mengenal orang dengan ciri-ciri seperti ini.'Batin Sasuke sambil menyeringai.

.

.

TBC

To

Be

Continued...

jangan lupa nge-review ya... Minna :D

karena, #Your Review So meant... to fix my fic#

Jaa... Muaaach :*