KUROKO TETSUYA DIARY
4.
ARGH!
Character: Akashi, Kuroko, Furihata
Pairing : (masih) AkaFuri
"Aku" mengacu pada Kuroko
Banyak terimakasih bagi semua yang menunggu
Dont Like Dont Read
Sengaja OOC
Happy Reading!
Tuesday, 7 October, 2xxx Afternoon
Maaf kan diri ini pembaca yang budiman, jika diary kali ini pendeknya menyaingi rambut biru halusku (itu FAKTA!). Tapi, pikiranku benar penuh oleh hal tak berguna seperti caramu menyelesaikan hukuman dengan , boleh saja sekarang kalian tertawa. Tapi setelah tulisan ini selesai, awas saja jika suara-suara itu tidak berganti menjadi tangisan kesedihan (ditujukan UNTUKKU, tentu saja).
Nah, seperti biasa akan kumulai pada permulaan hari Selasa yang indah ini. Demamku sudah turun sehingga Ayah dan Ibu memaksaku untuk berangkat sekolah. Bujukan mereka bahwa akan membelikanku Vanila shake aku telan bulat-bulat dengan mata berbinar layaknya kucing dan tangan yang saling menggengam erat didepan dada. Sungguh, saat itu otakku sepolos bayi kecil sehingga tidak memikirkan akibat yang akan kurasakan.
Entah kenapa saat aku turun dari gerbang, Akashi senpai juga datang. Dia memberikan senyum sejuta watt sambil menyibakkan rambut kebelakang dan menjulurkan kepalanya dari jendela mobil. Seolah-olah seorang artis yang akan menghadiri Golden Globe Award, kaisar kita ini tidak langsung menuruni Bugatti Venomnya, melainkan meneliti tanah yang akan dipijaknya nanti dengan seksama, kemudian baru menjulurkan salah satu tangan kepada seorang pelayan. Dia benar-benar bertingkah seperti perempuan saat itu!
Setelah puas mengomentari kedatangannya yang spektakuler, biarlah aku mengomentari caranya bertemu para sahabat (baca:budak)nya tercinta. Yang pertama dengan Midorima senpai. Diantara yang lain, hanya pemuda hijau lumut ini yang disapa dengan normal (Iya, normal).
"Sudah kau kerjakan PR kemarin, Shintarou? Tidakkah menurutmu nomor tujuh amat susah? Jika kau pikir kembali, bukankah nomormu di klub basket juga tujuh? Itu bukan merupakan sebuah..., kau tau maksudku, kan?" kali ini dengan smirk.
"Apa maksudmu, nodayo! Masakkan aku membujuk Mari sensei untuk memberi soal sulit? Humph! Lagipula nomor empat jauh lebih menyeramkan, Akashi" kali ini dengan menaikkan kacamata (bahkan tidak melorot sedikitpun).
Belum sempat Akashi senpai menjawab, suara cempreng Kise senpai telah memotong percakapan mereka. Oh, dan jika kalian melihat wajah Akashi senpai saat itu, orang dengan poker face sepertikupun akan tertawa dengan keras (kulakukan juga saat itu). Daan, seperti yang kalian semua ketahui, deathglare gratis meluncur ke arah pacar baru Aomine kun itu.
Eh, apa?! Aku belum menceritakan kejadiannya? Kapan-kapan saja, deh, durasinya amat terbatas! Baiklah, aku lanjutkan lagi. Setelah puas menghajar Kise senpai dan menyapa Murasakibara senpai yang memakan Maibounya dengan rakus, dia memeluk Furihata senpai yang baru saja tiba dan memberikan sebuah French Kiss! Bayangkan saja, para pembaca (oh, betapa merahnya wajah semua orang yang menyaksikan)!
Oke, ketimbang menceritakan keabsurdan kapten basket Teikou itu, lebih baik aku menjelaskan hukuman apa yang kuterima (sebenarnya karena aku takut Akashi senpai tiba-tiba datang dan mengambil buku ini).
Jadi, hari ini aku diminta pergi ke gym sendirian. Takut? Oh, tentu saja iya! Apalagi jika yang menyuruhku saat itu adalah Akashi senpai sendiri. Setelah menenangkan diri, aku akhirnya siap pergi.
Ditengah gym, sang kaisar bergunting telah berdiri anggun. Tangan kanannya memegang tongkat kekuasaan sementara yang kiri membawa cairan (kelihatannya seperti sianida) mengerikan.
"Kupikir kau sudah tau mengapa dipanggil kemari, bukan, Tetsuya?" ucapnya perlahan.
Dengan takut-takut aku mengangguk dan menggumam,
"Pemberian hukuman, Akashi senpai" balasku perlahan.
"Benar! Pemberian hukuman! Apa yang tepat untukmu jika begitu, Tetsuya? Hukuman mati? Atau penyiksaan hingga mati? Pilihlah, sayang"
Oh! Para pembaca yang budiman, kalian memang tidak salah melihat dan membaca! Akashi senpai memang berkata sayang (aku baperrr)!
"Itu semua melanggar HAM, Akashi senpai. Jauh lebih baik saya ikut latihan saja bersama yang lain ketimbang menghabiskan waktu tak berguna disini" balasku membungkuk sedikit.
"Menghabiskan waktu? Padahal tadinya aku berpikir untuk memberikanmu sedikit keringanan. Sayangnya, kau justru membantah ucapanku tadi sehingga hati nuraniku ikut terbawa" kali ini dengan smirk.
Aku bergidik ngeri membayangkan apa yang telah mulutku katakan. Akashi senpai lalu menyerahkan tongkat kekuasaan serta cairan aneh yang ternyata pel dan pembersih lantai.
"Bersihkan tempat ini seratus kali. Setitik noda saja, kukirim kau ke neraka!"
END
of ARGH!
Ehe, udah lama ya, aku nggak update. MAAF KAN SAYA TwT.
Jadi gini, bentar lagi udah mau UN. Sebagai seorang siswa, kewajiban utamanya belajar (ceilah bahasanya!). Buat dapet nilai yang baik, sekolahku ngadain banyak banget TO sampe-sampe nggak sempet buat nerusin ini (malah curcol XD). Tapi tenang aja, suatu saat nanti pasti selesai, kok :D
Balas review:
Aziichi: Kuroko sabar yak... Katanya kalo orang sabar di sayang tuhan... Kalo tuhan udah saya sama kuroko masa akashi gak sayang?haha lol
Biar kan waktu berjalan,.. Lanjut thor~
:Iyaa Kuroko udah sabar banget demi mendapatkan Akashi tercinta XD
Yuki: arigatou.. author-san.. sungguh aku teramat sangat senang sekali..
:Aku juga seneng banget bisa nglanjutin ini :D
Special thanks to H (inspirasi terbesar), yang udah review, follow, dan fav cerita ini, dan para silent reader (tanpa kalian tulisan ini nggak bakal aku lanjut :v)
Akhir kata, review, please?
