Yo! Saya kembali! Masihkah anda sekalian ingat? Sepertinya enggak... ekhem... jadi... begini, sebenarnya saya memutuskan untuk hiatus beberapa tahun karena melanjutkan studi, tapi... entah mengapa saya selalu terpikirkan oleh fik-fik kamfret bin kupfret yang masih belum selesai sampai saat ini... huaaaahhhh/gulingguling/dan karena ada waktu luang tiga hari, saya pun berusaha mengetiknya, itu juga dengan tergesa-gesa sekali karena ingin fic ini cepat selesai! mengingat perjalanan fic ini masih sangat panjang, yah... semoga saja keterburu-buruannya tidak terlihat. ^_^. Ahaha... saja juga minta maaf untuk chap yang berantakan ini, selamat menikmati!


.

.

.

Hijikata berjalan gontai memasuki markas Shinsengumi dengan wajah yang kacau. Kedua tangannya masih betah memeluk buket bunga mawar pemberian Gintoki erat-erat.

Meski dia membenci segala macam jenis bunga, ia tetap tidak bisa membuang bunga pemberian Gintoki yang satu itu.

Menundukan kepalanya, ia melihat kembali beberapa tangkai mawar merah yang tersusun rapi dalam balutan buket berpita merah marun. Membuatnya tanpa sadar langsung meneteskan buliran-buliran airmata ketika terbayang wajah kecewa Gintoki yang tak bisa ia lupakan. Beruntung, markas sudah sepi walau pun malam belum terlalu larut, jadi ia tak usah khawatir akan ada seseorang yang memergokinya tengah menangis.


Gintama : © Sorachi Hideaki

The Journey of Love : © Hiria-ka


Chapter 4

ˁˀ GinHiji ˁˀ

Tangan-tangan terampil Hijikata dengan cekatan menyempurnakan berkas-berkas dokumen hasil laporan dari Yamazaki tanpa ada kesulitan sedikit pun. Tak lupa dengan sebatang rokok mayoboro favoritnya yang selalu setia menemani bibir seksinya agar tak kesepian.

Dilihatnya sekilas, segerombol mawar merah yang tertata rapi di dalam vas bunga cantik yang tengah berdiri di atas meja kerjanya. Ia tersenyum tipis setiap kali melirik bunga-bunga itu. Ini baru hari pertama semenjak ia memutuskan untuk tidak muncul di hadapan Gintoki lagi. Tapi rasanya, ia sudah sangat merindukan sosok pemuda silver pengganggu itu, ia bahkan kerap kali berhalusinasi mendengar suara pemuda slengean itu menyapanya dan memanggil namanya dengan lembut seperti biasa, membuatnya harus berkali-kali berhenti ditengah-tengah aktifitasnya hanya untuk memastikan kalau itu hanyalah imajinasinya belaka.

Benar-benar...

Baru kali ini ia merasa begitu hampa tanpa adanya si idiot natural perm itu di sekitarnya. Padahal biasanya kalau ia bertemu dengan pemuda keriting itu, yang ada hanyalah emosi yang meluap-luap untuk meremukan tulang-tulangnya.

Tapi... sekarang, giliran tidak ketemu, rasanya malah rindu.

Sebenarnya ia ingin sekali menggugurkan kandungannya, tapi apa daya kalau Kondo melarangnya tegas. Selain melanggar hukum, hal itu benar-benar tidak patut untuk dilakukan. Membunuh seorang bayi yang tidak berdosa. Dia tidak akan pantas disebut sebagai seorang samurai lagi kalau sampai bertindak gegabah seperti itu.

Namun... tetap saja, kebencian masih melanda dirinya setiap kali ia memikirkan kalau jabang bayinya adalah bibit keturunan dari si bajingan brengsek itu.

SREK—

Suara pintu kertas yang bergeser membuat Hijikata mengalihkan perhatiannya.

"Lihat ini Toshi! Aku baru saja membelikan—"

Kondo yang tengah berdiri di ambang pintu langsung terdiam. Tanpa sadar menjatuhkan belanjaannya(yang hampir semuanya berisi nutrisi untuk ibu hamil seperti susu dan vitamin)— ketika melihat bawahannya tengah asyik menghisap rokok sambil menyalin pekerjaannya.

"OI TOSHI! APA YANG KAU LAKUKAN!" Ia mengahampiri Hijikata terburu-buru lalu mengambil puntung rokok yang terselip di bibir pemuda itu, dan segera mematikannya di asbak rokok.

"Ng...? Kondo-san...?" Hijikata mengernyit heran, tak mengerti dengan tindakan yang dilakukan oleh Komandannya.

"Toshi! Apa kau lupa kalau sekarang kau sedang hamil?!" Kondo membentaknya setengah marah.

Hijikata hanya mendecih. "Tentu saja aku ingat, Kondo-san" jawabnya malas seraya mengambil sebatang rokok lagi dari saku jasnya, namun secepat kilat Kondo langsung menyambar bungkus rokok Mayoboro itu dari tangannya dan membuat Hijikata kembali berdecak kesal.

"Tch! Ada apa dengan mu Kondo-san? Tolong jangan main-main aku sedang—"

"Kau tidak boleh merokok Toshi! Kau ingin membunuh anak di dalam perutmu secara perlahan?"

Hijikata mendengus sembari membuang muka ke arah lain. "Geh... biar saja, aku memang tak menginginkannya dari awal"

Kondo yang mendengarnya hanya bisa tersenyum maklum, paham dengan kegundahan yang sedang dipikirkan oleh wakil-nya.

"Kau tak perlu gelisah Toshi," ia memunguti barang belanjaannya yang tadi berserakan. "Kalau kau tidak keberatan, aku bersedia menjadi ayahnya. Jadi, jangan sangkut pautkan anak tak berdosa itu lagi dengan Takasugi" Senyuman berwibawa yang jarang sekali terlihat terkembang di wajahnya. Membuktikan bahwa itu adalah sebuah tawaran yang tulus.

Hijikata membeku di tempat. Lalu tertawa hambar.

"Haha... jangan bercanda, Kondo-san..."

Sementara itu, di tempat lain,

"Huwaaa! Shinpachi! Kaguraaaaaa! Percuma saja! Gin-san tidak akan pernah bisa move on! Gin-san terlalu mencintai Hijikata! Gin-san tidak ingin yang lain selain Hijikata! Huuuaaahhhh!"

Shinpachi dan Kagura sudah sangat ingin sekali memukuli Gintoki yang sedari tadi gegulingan di lantai sambil menjambaki rambutnya sendiri kalau saja mereka tak ingat bahwa pria itu baru saja dilanda musibah sakit hati.

Pasalnya, baru juga kemarin malam dirinya di putuskan oleh sang kekasih tercinta, pagi ini, dia malah sudah berubah menjadi orang gila bertampang zombie. Akibat tidak tidur semalaman dan tidak mau makan apapun sebab berkali-kali mencoba aksi(?) bunuh diri—yang utungnya saja selalu gagal maning, diantaranya; gantung diri—talinya di gunting sama Shinpachi, mau makan racun tikus—udah keburu ditelan sama Kagura, mau nusuk jantung pake pisau dapur—malah di gebukin abis-abisan sama duo bocah remaja itu— Akhirnya, mau tak mau Kagura pun terpaksa meminta bantuan pada keempat wanita SENIOR— yang kini sudah teramat risau melihat kelakuan depresi lebay mode on-nya Gintoki.

CRASSS

Sebuah kunai melesat cepat menusuk kepala keriting Gintoki yang langsung memuncratkan darah segar. Membuat Shinpachi harus ternganga lebar ketika melihat kepala boss-nya bocor dan segera berceloteh ria pada sang tersangka. Namun sayang, dirinya malah tak di pedulikan oleh gadis seksi yang memiliki bekas jahitan di mata kirinya itu.

"Kau memang bodoh, Gintoki" gadis itu— Tsukuyo— berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Gintoki untuk mencabut kasar kunai yang menancap di kepalanya. "Bahkan setelah di campakan seperti itu olehnya, kau masih tidak mau memandang kami? —naa Sacchan?" ia meniupkan asap yang ia hirup dari pipa rokoknya tepat di depan wajah Gintoki yang langsung terbatuk.

"Itu benar Gin-san..." Sarutobi menyahut, lalu ikut menghampiri si natural perm bodoh dan berjongkok di depannya dengan wajah yang... berseri-seri(?). "Setidaknya, kau bisa menyiksa ku untuk melampiaskan kekesalan mu padanya—"

BUAGH

"—Ack!"

Sebuah tendangan ala Yato menghantam perutnya.

"Jangan memperburuk keadaannya aru!"

"Apa yang kau lakukan! Kagura-chan! Hanya Gin-san yang boleh menendangku!"

"Aku menggantikannya aru, saat ini Gin-chan sedang tidak ingin meladeni mu, tolong mengerti perasaanya aru!"

"Heeee! Makanya itu! Gin-san, lupakan saja si pecinta Mayo itu, dan berpalinglah pada ku~!"

PLAK

Sekarang sebuah tamparan mendarat di pipinya.

"HOI SARUTOBI TEME! JANGAN ASAL BICARA KAU! DIA HANYA AKAN BERPALING PADA KU!"

SRAT

Tak mau kalah, sebuah cakaran dari kuku-kuku cantik Ayame menggores pipi si wanita perokok.

"HEEE?! APA KATAMU TSUKKI?! GIN-SAN ITU TYPE PRIA SADIST BUKAN MASOCHIST! JADI DIA LEBIH COCOK DENGAN KU! BUKAN DENGAN MU YANG MALAH SELALU MENYIKSANYA!"

OH... betapa ironi... Andai saja Sacchan tahu kalau Gin-san yang sejatinya sadis, justru kerap kali menjadi korban amukan Hijikata Toushirou...

Keadaan menjadi semakin ricuh dengan perdebatan panjang dua wanita cantik itu.

Gintoki yang memang tak peduli dengan dua gadis gila yang sedang memperebutkannya, lebih memilih untuk pergi dan duduk di kursi kerjanya sembari menatap kosong keluar jendela. Sementara Shinpachi hanya bisa menghela nafas berat ketika melihat keributan yang terjadi disana.

"Aneue..." desisnya miris saraya menoleh pada Otae yang sedang menatap Gintoki prihatin sembari menangkupkan satu tangannya di pipi.

"Maaf Shin-chan... kalau sudah begini, kami pun tak akan bisa membantu lagi, sepertinya Gin-san memang benar-benar mencintai Hijikata-san, nee Kyuu-chan?"

Kyuubei yang memang sedari tadi tengah asyik menyeruput teh hijaunya langsung meletakannya di meja lalu menatap serius pada Gintoki yang masih duduk di kursi kerjanya tanpa terusik sedikitpun.

"Yang dikatakan Tae-chan benar, Shinpachi-kun. Karena saat ini satu-satunya orang yang sangat di inginkannya adalah pria Shinsengumi itu, yah... cinta memang memiliki segi yang rumit,"

Sesaat, Shinpachi merasa mendapat sebuah petunjuk dari kata-kata bijak Kyuubei, tetapi, detik berikutnya— ia malah bersweatdropria ketika melihat Kyuubei sudah memegang kedua tangan Otae dengan begitu mesranya.

"Seperti hal nya, cinta kau dan aku, Tae-chan..."

Dan Otae yang di gombali seperti itu hanya bisa tersipu.

"Mou... Kyuu-chan..."

Oke. Abaikan mereka. Sekarang kita beralih pada Shinpachi yang sudah memberi aba-aba pada Kagura untuk menghampiri Gintoki tanpa mau repot-repot memperdulikan keributan yang masih ada disana.

"Gin-san..." ucapnya lirih sembari memberikan kode hitungan mundur pada Kagura dengan jari-jarinya.

3...

2...

1...

BUAAAGH

"—SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS TERMENUNG SEPERTI ORANG BODOH?!"

Belum sempat Gintoki menoleh dengan sempurna pada Shinpachi, dirinya sekarang sudah terlempar ke atas dengan kepala yang menjebol atap.

SRET

—BRUGH

Dan kembali terjatuh ketika Shinpachi menarik kakinya.

Kericuhan yang terjadi di antara dua gadis ganas yang sedari tadi saling cakar-cakaran pun langsung hilang di telan kesunyian. Mereka menatap tubuh Gintoki yang sudah tergeletak mengenaskan di lantai.

"—OI! TEMERA! DARI PADA TERUS MENYIKSA KU SEPERTI INI, LEBIH BAIK BUNUH SAJA AK—"

"—DASAR PECUNDANG!"

Shinpachi berteriak, memotong protesan dari Gintoki. Sementara Kagura masih berdiri dengan tenang sembari menyampirkan payung ungu nya di pundak. Dan keempat orang sisanya, hanya bisa diam menatap tiga anggota Yorozuya yang nampaknya mulai serius.

"AKU TAK MENYANGKA KALAU ORANG YANG DULUNYA DIKENAL SEBAGAI SEORANG IBLIS, TERNYATA BISA JADI SELEMBEK INI HANYA KARENA MENGAHADAPI PERSOALAN CINTA! YANG BENAR SAJA?!"

Gintoki menundukan kepalanya dengan tatapan nanar. Semua yang dikatakan oleh remaja ber-megane itu memang benar. Habis mau bagaimana lagi? Ia sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya mendadak tak memiliki semangat hidup tanpa Hijikata.

"LIHAT DIRIMU SEKARANG! MEMALUKAN! KAU TIDAK PANTAS MENDAPAT JULUKAN HEBAT ITU GIN-SAN!"

Dengan penuh emosi, Shinpachi menyambar kerah baju pemuda perak di depannya.

"KALAU KAU MEMANG MENYUKAINYA, KENAPA KAU MENYERAH BEGITU SAJA?! KENAPA KAU TIDAK MENGEJARNYA DAN MENGATAKAN DENGAN TEGAS PADANYA KALAU KAU BENAR-BENAR MENCINTAINYA—"

"—Dia menyuruhku untuk tidak menampakan diriku lagi di hadapannya, Pattsuan..."

Gintoki memotong celotehan si bocah megane.

"TSK!" Shinpachi menghentakan cengkramannya pada Gintoki begitu saja. "Sekarang aku ingin bertanya satu hal padamu Gin-san, kenapa kau selalu dan selalu menuruti semua ucapannya?"

"..." Jeda sebentar, Gintoki tersenyum miris. "Karena aku mencintainya, apa alasan itu masih belum cukup?"

Seketika, semuanya menjadi amat sangat hening.

Shinpachi terdiam. Kagura hanya menatap dingin kearahnya. Otae terbelalak sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kyuubei sama seperti Kagura. Tsukuyo dan Sacchan mematung.

Tadi itu memang sebuah alasan yang simple. Tapi... dari cara pemuda itu mengatakannya, terdapat makna kesungguhan, kesetiaan, dan kehangatan tiada tara yang terkandung di dalamnya.

"Ehem"

Untunglah sebuah dehaman yang cukup keras dari Kyuubei langsung memecah keheningan tersebut. "Itulah mengapa kubilang kalau cinta memiliki segi yang rumit, Shinpachi-kun" tukasnya datar, sembari berdiri dari duduknya. "Beri dia waktu untuk sendirian agar dia bisa berpikir jernih. Ayo pergi, Tae-chan"

Dan setelahnya, penerus klan Yagyuu itu pun melenggang pergi dari sana bersama Otae yang memberikan anggukan kecil.

"Maaf. Karena kami sudah memaksamu untuk berpaling, Gintoki" Tsukuyo tersenyum tipis sebelum ikut pergi bersama Kyuubei setelah memberi kode pada Sacchan untuk mengikutinya.

"A-Ah... baiklah kalau begitu, aku juga pamit dulu Gin-san..." sebelum gadis ninja bermegane itu benar-benar menghilang di balik pintu, ia kembali memutar tubuhnya untuk melihat keadaan Gintoki. Walau sedikit sulit, ia mencoba memaksakan senyumnya. "Umh... berjuanglah!" dan berlari keluar setelahnya. Menyisakan ketiga Yorozuya yang masih terdiam disana.

Cukup lama mereka terbalut oleh keheningan karena tak ada satu pun diantara mereka yang mau membuka suara.

"Kagura-chan"

Sampai akhirnya Sinpachi memutuskan untuk memecah keheningan tersebut. Ia menaikan kacamatanya dan menatap serius pada dua orang itu sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Aku punya rencana"

.

.

.

.

.

Di sinilah mereka bertiga sekarang.

Di depan pintu gerbang Markas Shinsengumi. Dengan Shinpachi yang tengah menyeret tubuh Gintoki yang sudah dibuat sekarat oleh Kagura sampai tak sadarkan diri.

"Kami ingin bertemu dengan Hijikata-san"

Dua buah pedang langsung teracung di depan leher Shinpachi.

"Maaf. Yorozuya dilarang masuk"

"Cih!" Kagura meludah sembari menatap kesal pada dua orang penjaga yang mencegat mereka.

"Oh... jadi begitu rupanya... sepertinya ini bukan hanya masalah sepele," Shinpachi menoleh pada Kagura sembari menaikan kacamatanya yang tidak melorot. "Tolong bantuannya ya, Kagura-chan"

Mengerti akan apa yang dimaksud oleh Shinpachi, Kagura pun mengangguk, lalu dengan cepat meremukan kedua pedang yang menghadang Shinpachi dengan kedua tangannya.

"O-OI—"

BRUAAAK

Dan langsung menendang dua orang anggota Shinsengumi itu sampai menjebol gerbang.

"Kerja bagus. Terimakasih Kagura-chan"

"Tak perlu sungkan aru"

Mereka pun melangkah masuk kedalam markas Shinsengumi masih sambil menyeret jasad(?) sekarat Gintoki.

Namun naas, baru beberapa langkah masuk, mereka sudah dihadang lagi oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah si pangeran sadis dari planet sadis, Okita Sougo. Kapten Divisi satu Shinsengumi yang saat ini sudah menodongkan Bazookanya tepat didepan mereka.

"Yorozuya da nee... berani sekali masuk ke markas kami tanpa izin... mau mengantar nyawa heh?"

Kagura meludah untuk yang kedua kalinya.

"Aku yang akan mengantar nyawamu ke neraka, sadis aru!"

Satu tangan Shinpachi dengan cepat menghentikan Kagura yang sudah ingin maju menghadapi Sougo.

"Hah..." ia menghela nafas. "Okita-san, tolong beri kami kesempatan untuk bertemu dengan Hijikata-san, sebentar saja"

Sougo hanya terkekeh dengan wajah datarnya, tak berniat menanggapi ucapan Shinpachi dan malah bersiap menembakan bazookanya.

"Kalian ingin pulang sendiri, atau ku antar pulang he?" pemuda surai coklat pasir itu menyeringai sadis.

Shinpachi hanya terdiam dengan wajah datarnya yang kembali serius. "Kagura-chan..."

"OUUU!"

BUAAAKH

Dan sebelum Sougo sempat meluncurkan tembakannya, bazookanya itu sudah terlebih dahulu terpental jauh karena tendangan spontan dari Kagura.

"CK! CHINA MUSUMEEEE!"

BAM

Kagura menahan serangan Sougo dengan payung ungunya.

Bersamaan dengan perkelahian dua bocah monster yang baru saja dimulai itu, nampaklah beberapa anggota Shinsengumi yang mulai berkumpul menghadang Shinpachi sebelum dia sempat melangkah lebih jauh.

"Hahah... menjengkelkan sekali ya, Gin-san!" Shinpachi menyeringai kesal dengan pembuluh vena yang mencuat keluar dipelipisnya. "Kalau kau tidak segera bagun, aku akan menjadikan dirimu sebagai tameng" geramnya, berniat membangunkan si pemuda silver yang masih berada dalam kondisi semaputnya.

Namun percuma, nasi telah menjadi bubur, pukulan bertubi-tubi yang telah di lancarkan Kagura pada Gintoki sebelum mereka menyeret pemuda itu kesini membuatnya berada di ambang hidup dan kematian.

Dengan sedikit menyesal Shinpachi pun menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.

Tanpa pikir panjang ia segera mengambil ancang-ancang, berniat untuk melempar jasad setengah tewas Gintoki dengan cara memutar-mutarkannya bagaikan baling-baling, lalu menghempaskannya ke atas, sembari berteriak—

"KAGURA-CHAAAN! SHOOT!"

Tanpa menunggu lama, Kagura langsung mengabaikan Sougo sejenak dan bersiap mengayunkan payung ungunya bagaikan tongkat baseball, lalu memukul sembarang tubuh tak bernyawa(?) Gintoki dengan sekuat tenaga, menembakannya jauh kedalam markas. Dan entah itu sebuah keberuntungan atau kebetulan belaka, jasad mengenaskan Gintoki justru terpental menuju ruangan Hijikata yang memang baru saja ingin bergegas membuka pintu karena mendengar keributan di luar.

BRUAAAAAKHH...

Dengan tidak elitnya, tubuh pemuda keriting itu jatuh tersungkur dengan pose menungging setelah menjebol pintu kertas yang hendak di buka oleh Hijikata. Beruntung si wakil komandan sempat menghindar.

Hijikata sendiri hanya bisa tercengang ketika mendapati sosok pemuda keriting dengan ciri yang sangat dikenalnya tengah tertelungkup dengan keadaan mengenaskan tak sadarkan diri. Lantas, ia pun buru-buru menghampiri sosok bersurai perak itu dengan panik tanpa mempedulikan permasalahan yang sedang terjadi di antara mereka.

"O-Oi! Gin— maksudku— Yorozuya!"

Dengan hati-hati ia membalik tubuh pemuda silver itu.

"Oi! Apa yang—" bibirnya langsung terkatup rapat— tercengang dengan wajah yang amat sulit di jelaskan.

Dilihatnya baik-baik wajah nista mantan kekasihnya direngkuhannya yang nampak begitu jelek— dengan pipi yang bengkak seperti habis terkena sengatan tawon dan lingkaran biru yang menghias mata kirinya, juga tak lupa dengan mulut berbusa yang setengah terbuka layaknya orang yang tengah overdosis.

'Tch... baka darou omae?!' gumamnya pelan sambil menatap jijik pada jasad nista Gintoki. Sedikit heran... mengapa bisa-bisanya dia menyukai pemuda tak jelas macam si dungu satu itu...

"YAMAZAKIIIII!"

Dan detik berikutnya, teriakan panik ala diktator itu berhasil membuat Yamazaki yang memang baru mau nongkrong di jamban langsung berlari secepat kilat ke ruangannya.

"Ha-hai Fukuchou!"

"CEPAT SIAPKAN AIR HANGAT DAN JUGA SELEMBAR KAIN!"

"Ha-Ha'i!"

.

.

.

.

.

Jari-jari lentik itu menelusuri garis wajah pemuda maniak gula yang kini masih belum sadarkan diri dipangkuannya. Dirabanya pelan pipi Gintoki yang sudah tidak bengkak lagi setelah di kompresi olehnya. Tak dipedulikannya keributan yang sedari tadi terdengar di luar sana.

Yah... tak perlu melihatpun ia sudah bisa menebak siapa orang-orang pembuat onar di markasnya kalau bukan dua bocah nakal yang juga telah melempar mantan kekasihnya itu kemari.

"Oi.. sadarlah bodoh... aku tidak ingin kau mati dengan keadaan konyol seperti ini" Ditepuknya pelan sisi wajah Gintoki dengan punggung tangannya, berharap pemuda itu akan bangun. Tapi sayang hal yang dilakukannya tak berefek sedikitpun.

Ingin sekali rasanya dia menampari wajah pemuda keriting di depannya itu agar cepat tersadar— tapi— segera diurungkan niatnya, mengingat dirinya seringkali melakukan tindak kekerasan pada pemuda tampan itu selagi mereka masih menjadi sepasang kekasih. Jadilah, ditungguinya dengan sabar pemuda silver yang masih belum juga menunjukan tanda-tanda akan sadar tanpa berniat untuk memberikan pukulan cinta atau beragam pukulan lainnya.

Seolah tak tertarik dengan pemandangan lain, Hijikata malah terhanyut sendiri memandangi wajah tampan mantan kekasihnya—yang baru sehari— dengan senyuman pedih.

Di tundukan kepalanya untuk melihat lebih jelas garis wajah pemuda silver yang masih tertidur di atas pahanya. Ingin sekali di kecupnya kening pemuda itu lalu melontarkan kata-kata lembut yang belum pernah sekalipun ia ucapkan padanya— namun enggan, karena ia lebih mementingkan gengsinya yang sangat tinggi. Bisa-bisa nanti si natural perm ini akan salah sangka padanya.

Yah... meski begitu masih ada sedikit rasa sesal dihatinya karena tak pernah sekali pun dirinya memberikan perhatian lebih terhadap pemuda itu. Padahal, Gintoki selalu saja memberinya kehangatan melalui perhatiannya yang kadang terbilang cukup menyebalkan. Contoh kecilnya; ketika pemuda itu dengan sengaja menubruknya dari belakang hanya untuk memberikan sebuah pelukan hangat padanya yang akhirannya berujung dengan perang adu jotos berat sebelah yang tentu saja di dominasi oleh Hijikataatau, ketololan Gintoki yang terkadang bersikap sok romantis namun gagal tapi selalu berhasil membuatnya diam-diam tersenyum.

Ah... kalau begini, dia jadi sangat tidak ingin berpisah dengan si idiot itu kan... Memang tak bisa dipungkirinya lagi kalau perasaan sayangnya pada Gintoki malah semakin besar seiring ia berusaha untuk melupakannya.

Semua ini memang gara-gara si bajingan brengsek Takasugi! Kalau saja saat itu dia tidak lengah dan cepat menyadari gerak-geriknya lalu menebasnya sebelum pemimpin Kiheitai itu berhasil menangkapnya ini semua pasti tidak akan terjadi!

Ya! pasti tak akan terjadi!

Hijikata menggigit bibirnya, menahan amarah yang tiba-tiba memuncak saat mengingat sosok Takasugi.

Kebencian kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Tanpa disadari. Segelintir cairan bening yang hangat meluncur begitu saja dari iris birunya— mendarat tepat di atas pelipis Gintoki. Menangis dalam diam dengan lekukan wajah frustasi. Jujur, dirinya masih tak rela untuk meninggalkan pemuda keriting itu begitu saja.

"...argh..."

Sebuah rintihan kecil terdengar dari Gintoki yang mencoba menggerakan badannya, sontak membuat Hijikata tersadar dari pikirannya dan buru-buru menjauhkan wajahnya. Tak lupa dihapusnya cepat airmata yang masih menggantung di sudut matanya sebelum pemuda perak itu sempat melihatnya.

"E...egh?—Hijikata...?"

Panggilan itu sukses membuat Hijikata mematung.

Tawa hambar lalu terdengar dari si pemuda perak. "Haha... Aku pasti bermimpi..." Ia mencoba mendudukan dirinya sembari memegangi rusuk kirinya. Walau tak melihat secara langsung, Hijikata yakin, pasti di sekitar perut dan dada pemuda keriting perak itu penuh dengan lebam(yang tentu saja diberikan oleh duo bocah nakal itu).

"Eh...? Apa itu? Kau habis mengangis? Matamu..."

Tatapan terluka yang di campur perasaan cemaslah, yang pertama kali di tunjukan Gintoki padanya ketika mereka duduk berhadapan.

Hijikata sudah ingin berdiri beranjak pergi, tak mau meladeni ucapan pemuda itu, hanya saja... Gintoki sigap menarik lengannya. Tidak mau membiarkannya pergi.

"Kalau boleh aku memohon, bisakah... kau tidak meninggalkan ku lagi?"

Hijikata mengeraskan rahangnya. Satu tangannya yang bebas mulai terkepal kuat-kuat. Kenapa ia harus mendengar kata-kata yang sangat tidak ingin di dengarnya? Cih! Sial! Ini benar-benar menyiksa batin, kau tahu?

Tanpa mau memberikan jawaban sepatah katapun, Hijikata menghentakan genggaman tangan Gintoki dari lengannya dan segera berdiri. Begitu pula dengan Gintoki yang ikut berdiri untuk menahannya.

"Kenapa kau datang kemari? Bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak menampakan wajah jelekmu di depanku lagi, teme?"

Ucapan dingin dan menusuk itu membuat Gintoki tersenyum kecut.

"Apa... kau membenci ku?" bukan menjawab, Gintoki malah balik bertanya. Takut kalau-kalau dia tidak sadar telah berbuat kesalah yang membuat wakil komandan shinsengumi itu jadi membencinya. Ia tidak mau kejadian seperti dulu terulang lagi.

Hijikata diam. Dengan cepat melarikan iris birunya kearah lain, menghindari tatapan menyelidik Gintoki.

"Pergilah, sudah ku katakan padamu kan, aku masih belum bisa melupakan Mitsuba. Jadi, tolong jangan tampakan wajahmu lagi" Ia berbalik, melangkah pergi. Namun Gintoki yang tidak terima malah menghadangnya.

"Jadi, kau tidak membenciku?"

"Tch..." Hijikata memutar arah, berniat melarikan diri dari pemuda perak itu, tapi lagi-lagi Gintoki berhasil menghadangnya.

"Kenapa, Hijikata?" iris merah itu mencoba menyelami iris biru gelap di depannya. "Itu bukanlah hal yang bisa kau jadikan alasan kuat untuk mencampakan ku begitu saja kan? Kau masih mencintai Gin-san kan?"

Sebuah urat kekesalan mencuat di pelipis Hijikata. Susah sekali mengusir natural perm itu dengan cara baik-baik.

"Kalau ku bilang aku membenci mu, apa yang akan kau lakukan?"

Gintoki terdiam. Raut wajahnya berubah serius. Iris merahnya menajam.

"...Kau bohong"

Hijikata sedikit terlonjak, nafasnya reflek tertahan. Tapi dengan cepat kembali bersikap normal sembari mendengus kesal.

Pemuda perak bodoh di depannya ini memang agak sulit di bohongi, itu sebabnya ia memilih mengakhiri hubungan mereka untuk menghindarinya.

"Terserah kau sajalah teme. Lebih baik kau cepat pergi dari sini, aku sudah tak ingin berurusan denganmu lagi, pergilah"

Lagi, langkahnya terhenti ketika satu tangan Gintoki dengan sigap langsung melingkar di perutnya, menahannya yang sudah ingin menerobos pergi.

"Kau menyembunyikan sesuatu"

Kali ini Hijikata dibuat membeku. Dengan sedikit gelisah ia langsung melancarkan sebuah sikutan pada wajah Gintoki yang berakhir gagal karena pemuda perak itu berhasil mengelak.

"TEME... itu bukan urusanmu! Lepaskan aku, Yorozuya" gertaknya. Cukup dongkol karena pemuda perak itu masih tak mau menyerah.

"Tidak, sebelum kau mengatakan alasan yang sebenarnya padaku"

Rengkuhan tangan Gintoki di perutnya semakin mengencang dikala Hijikata mencoba berontak.

"Agh... lepaskan... —kau bodoh..." rintihan kecil terdengar dari Hijikata, namun hal itu tak digubris sama sekali oleh Gintoki yang malah semakin mempererat rengkuhannya membuat Hijikata mengeraskan rahangnya menahan sakit. Sungguh di sayangkan, Gintoki tak tahu mengenai kehamilannya.

"Lep... askan... bodoh... kau menyakitinya!"

Sumpah. Demi kacamata gembel Shinpachi, Gintoki agak kurang paham dengan kata terakhir yang diucapkan pria di depannya.

"H-Huh...? Apa kau baik-baik saja?" kedua alisnya pun bertaut ketika melihat raut menderita di wajah Hijikata. Perlahan, ia melonggarkan rengkuhan tangannya pada perut pemuda itu.

"Geh... teme..." Hijikata memberikan deathglare terbaiknya pada Gintoki yang langsung tercekat menelan ludah. Entah mengapa, saat ini Hijikata terlihat sepuluh kali lebih menyeramkan dari pada macan betina yang baru melahirkan.

"HANASE!(Lepaskan!)"

Sebuah tamparan yang cukup kencang mendarat di tangannya. Mau tak mau membuat Gintoki melepaskan rengkuhannya dari Hijikata yang kini tengah mengeluarkan aura dingin mencekam.

"Apa aku harus menarik pedangku untuk mengusirmu pergi dari sini, HAH? Yorozuya?"

"H-huh?" Firasat buruk langsung melanda Gintoki ketika melihat Hijikata sudah siap menarik keluar bilah tajam pedannya.


Kondo yang mendengar kebisingan di luar sana segera bergegas keluar. Ia mencoba menerobos kerumunan orang untuk melihat biang masalah yang menyebabkan kericuhan di markasnya.

"Sougo, ada ap—" dan hanya bisa terkejut dengan mulut setengah terbuka ketika mendapati dua sosok bocah yang sangat di kenalnya sedang beradu kekuatan. Bahkan tak urung sampai mengimbas beberapa anggota Shinsengumi yang tak terlibat dengan perkelahian mereka. Matanya lalu beralih kearah sosok bocah ber-megane yang masih berkutik dengan anggota Shinsengumi lainnya.

"Ehk?!—Kalian —Yorozuya?!"

Teriakan Kondo membuat suasana gaduh di sana tiba-tiba berhenti.

Shinpachi menolehkan kepalanya ke sumber suara, sama halnya seperti anggota Shinsengumi yang lain.

"Kondo-san..."

.

.

.

"Hah... maafkan aku, Shinpachi-kun, gadis China"

Kondo menundukan kepalanya dalam-dalam. Memberikan tatapan tak enak hati pada duo bocah Yorozuya yang ada di hadapannya. Saat ini mereka berempat tengah duduk berhadapan di ruangan kerjanya.

"Tak apa, Kondo-san, hanya saja... aku tak mengerti, kenapa kau sampai melakukan semua ini?" Shinpachi mengangkat kacamatanya yang tidak melorot.

Kondo tersenyum kecut, sedang Sougo hanya memasang tampang malasnya sembari meniupkan gelembung permen dari karet dimulutnya.

Ruangan menjadi hening seketika, karena Kondo tak kunjung mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan bocah megane di depannya. Bersyukur orang yang bersangkutan masih sabar menungguinya.

"Oi! Jawab pertanyaan Shinpachi aru! Kenapa kalian sampai melarang Yorozuya masuk ke markas gembel ini? Apa masalahmu dengan kami? Padahal tadi aku dan Shinpachi datang ke sini dengan baik-baik aru yo!" Kagura yang memang dari lahir hanya memiliki batas kesabaran yang sangat tipis pun berceletuk seenak jidatnya tanpa memahami perasaan pria Gorilla di depannya yang kini terlihat murung.

Sougo mendecih seiring gelembung permen karetnya meletus.

"Lebih baik, orang yang tidak tahu apa-apa sepertimu diam saja, China Musume"

"Huh? Apa katamu sadis aru?!"

Kagura sudah menaikan satu kakinya di atas meja dan akan meninju wajah tampan Sougo kalau saja Shinpachi tidak segera menariknya untuk duduk kembali.

"Apa ini ada hubungannya dengan Hijikata-san?"

Kondo memaksakan senyumnya. "Itu memang benar" lalu menghela nafas. "Tapi maaf, aku tak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya pada kalian" Ia pun menautkan jari-jarinya di atas meja sembari menundukan kepala dengan kedua alis mengkerut "Tolong mengerti. Sekarang ini Toshi sedang mengalami masalah yang sulit"

Shinpachi sedikit memiringkan kepalanya. Jarang sekali dia bisa melihat pria Gorilla itu bicara dengan nada serius. Bahkan terdengar sedikit frustasi.

"Tapi, kenapa dia tak mau bertemu dengan Gin-san?"

Sougo yang sebenarnya juga memiliki batas kesabaran yang sebelas dua belas dengan Kagura langsung menjawab "Itu karena dia tidak ingin Danna tahu ten—"

"—Sougo" bersyukur Kondo segera menyela omongannya, Ia menggelengkan kepalanya tegas agar bocah sadis itu segera mengunci mulutnya.

"Aku mohon dengan sangat. Tolong mengertilah, kehadiran kalian hanya akan membuat keadaan Toshi menjadi tambah kacau"

Kondo membungkukan badannya dalam-dalam sampai dahinya menyentuh meja. Bersungguh-sungguh memohon pengertian pada dua bocah remaja itu.

"Kondo-san..." Shinpachi menatap iba, walau tak tahu apa permasalahan yang sedang dialami oleh Komandan Shinsengumi itu, ia bisa melihat beban berat dari raut wajahnya. Ia bahkan jadi tak tega untuk menuntut penjelasan lebih lanjut.

Kagura hanya terdiam sementara Sougo mendecih kesal. "Kau tak perlu memohon-mohon pada mereka Kondo-san... kita hanya perlu mengusirnya saja, bereskan?"

"Grrr! Sadis aru... jangan memancing emosiku konoyaro!" Kagura kembali menaikan satu kakinya keatas meja seraya menyambar kerah seragam Sougo. Yak, emosinya kembali tersulut.

"Kagura-chan..." Shinpachi mencoba menenangkannya, namun tak digubris.

Sedang si bocah sadis malah memiringkan seringai piciknya "Heh... sadar diri oi China! Kalian itu hanyalah pengganggu yang seenaknya mengacau di Shinsengumi, kalau bukan karena ulahmu aku mungkin masih melanjutkan tidur siangku"

"Sougo!" sekarang Kondo yang mencoba menenangkan si bocah sadis, tapi akhirnya bernasip sama seperti Shinpachi.

"APA KATAMU?! TEMME..."

"Kau yang temme, China musume..."

"KONNO... MATI SAJA KA—"

—BRUAAAKKKHH!

Suara hantaman keras yang sepertinya berasal tak jauh dari sana menginterupsi perkelahian bodoh dua bocah remaja dan membuat keempatnya langsung terdiam saling memandang dengan wajah bingung.

"GAWAAAAAT! KOMANDAAAAAAN! INI GAWAAAAAT! HIJIKATA-SAN! YOROZUYA NO DANNA! MEREKA—OGH!"

Teriakan panik Yamazaki terpotong ketika dirinya ditubruk oleh tiga orang yang tengah berlari terbirit-birit menuju tempat kejadian, dimana asal suara hantaman itu terjadi. Hanya Sougo yang masih terlihat tenang tanpa mau repot-repot mengikuti jejak Kondo dan kedua bocah Yorozuya itu.

"Apa yang mereka lakukan Zaki?" pangeran sadis itu menyandarkan dirinya di pintu kertas sembari melipat kedua tangannya.

"Ehk? Okita Senchou" Yamazaki berdiri sembari mengibaskan bajunya. "Tadi aku dikejutkan oleh Danna yang tiba-tiba terlempar keluar membobol pintu, sepertinya Hijikata-san sedang mengamuk"

Sougo mendengus "Tch, Danna..." lalu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Yamazaki yang memandang heran.


"SUDAH KU BILANG! AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI TEME!"

TAK

Gintoki menahan serangan Hijikata dengan bokutounya.

"KAU BERBOHONG! AKU MELIHATNYA! AKTINGMU SANGAT BURUK!"

Masih tak ada satupun yang mau mengalah diantara mereka.

"TCH!" Hijikata kembali menghujamkan beberapa serangan pada Gintoki yang masih sigap menahannya tanpa kewalahan. Garis wajahnya masih terlihat tenang, yang ada malah Hijikata sendirilah yang kehilangan banyak tenaga karena terus menyerang, dan itu membuat dirinya semakin kesal.

"TOSHI!/GIN-SAN!/GIN-CHAN!"

Melihat Kondo serta dua orang bocah Yorozuya berlari mendekat kearah mereka, Hijikata memutuskan untuk menghentikan aksinya dan melangkah pergi.

"CK! KAU INI MEMANG KERAS KEPALA! PULANGLAH! AKU SUDAH CAPEK BERURUSAN DENGANMU"

Tak mau mendengarkan kata-kata wakil komandan Shinsengumi itu Gintoki masih ngotot mengejar.

"OI! TUNGGU! Hijikata! Kau harus menjelaskan semuanya pada Gin-san dulu!—"

STAB

Beruntung, Kondo sudah berdiri tepat didepan Gintoki guna menahannya agar tidak menyusul Hijikata.

"OI! MINGGIR! Kau menghalangiku Gorilla!"

"Biarkan dia sendiri, Yorozuya"

Gintoki sudah ingin menyingkirkan Gorilla jejadian yang merangkap sebagai Komandan Shinsengumi itu kalau saja Shinpachi dan Kagura tidak menahannya.

"Gin-san! Tolong dengarkan apa yang dikatakan Kondo-san! "

"Benar Gin-chan! Si Mayora itu sepertinya memang sedang memiliki masalah"

"Geh..." desah frustasi terdengar dari Gintoki, satu hentakan langsung membuat Shinpachi dan Kagura melepaskan tarikan mereka dari kedua tangannya. "Tolong, biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini sendiri, ini urusan pribadiku, maaf karena telah membuat kalian terlibat dengan semua ini"

"TAHAN DULU YOROZU—"

SRAT

Baru satu langkah maju, sebuah tebasan yang datang secepat kilat hampir menyerempet leher Gintoki.

"Bukan begitu caranya, Danna..."

Sougo yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Gintoki dengan santai memasukan bilah tajam katananya kedalam sarung pedang. Tak mempedulikan tatapan kesal yang tengah tertuju padanya.

"Kau tak bisa mengganggunya disaat kadar sensitifnya sedang meningkat"

.

.

.

.

.

Oke, untuk sekarang biarlah dia mundur. Yah mundur. Tenang saja. Dia hanya mundur sementara. Ya. Sementara... tapi... sanggup kah?

"AAARRRGGHHH... aku tidak bisa tenang!" Gintoki mengacak-acak rambut keritingnya frustasi. Tak percaya dirinya berhasil diusir dengan cara licik oleh Kapten divisi satu Shinsengumi itu. "Bocah sadis sialaaaan! AGH! Kurang ajar!"

Shinpachi yang melihatnya hanya mengehela nafas sembari meletakan tiga cangkir teh diatas meja. Hari sudah menjelang malam dan ia memutuskan untuk menginap di Yorozuya. "Sudahlah, terima saja dulu kekalahan mu ini Gin-san. Lagi pula, Okita-san kan sudah janji akan memberitahumu semua permasalahan yang ada kalau waktunya sudah tepat"

"Cih! Waktu yang tepat? Memangnya kau pikir aku akan bertahan berapa lama lagi!?"

BLETAK

Jotosan super kuat mendarat dikepala peraknya.

"Tenangkan dirimu Gin-chan aru! Kita baru saja meninggalkan markas shinsengumi beberapa jam yang lalu! Kau boleh mengatakan hal itu setelah 24 jam berlalu aru!"

"Kagura-chan, kita tidak punya waktu untuk membahas hal itu, lagi pula Gin-san kau sendirikan yang menyetujui kesepakan yang dibuat oleh Okita-san" Shinpachi menaikan meganenya.

"DIAM PATTSUAN! INI SEMUA SALAHMU! KAU KAN YANG MEMBERI IDE!" teriak Gintoki dan Kagura bersamaan. Sedang yang diteriaki hanya dapat memasang wajah dongkol setengah mati.

"Kalau bukan karenaku kau mungkin tidak akan sampai ketahap ini Gin-san! Setidaknya sekarang kau tahu kalau Hijikata-san tidak benar-benar membuangmu!"

SIIING

Sekarang Gintoki berpundungria dengan wajah suram sembari memeluk kedua lututnya.

"Kau benar, maafkan aku..."

"Hah... menurutmu apa kira-kira masalah yang sedang dialami oleh Hijikata-san?"

Gintoki merenung.

"Mungkin dia memikirkan masa depannya yang tidak akan akan cerah bila terus bersamamu Gin-chan"

Dan kemudian Gintoki sukses merana akan nasibnya yang bukan pekerja tetap. Oh... ayolah, Hijikata memang termasuk orang berduit, tapi dia tidak pernah sekalipun mempermasalahkan kemiskinanmu Gin-san.

.


.

Seperti biasa, kantin Shinsengumi selalu ramai setiap jam makan tiba. Hijikata yang memang tak berniat untuk memasukan sedikitpun nutrisi kedalam mulutnya hanya bisa diam menatapi makan malamnya dengan pandangan tak bernafsu. Satu tangannya digunakan untuk memangku wajah, sedang tangan satunya lagi digunakan untuk mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya lentiknya. Menunggui Komandan tercintanya selesai makan dan setelah itu ia akan bilang "Kau duluan saja Kondo-san, aku masih harus menghabiskan makananku" lalu saat si Gorilla itu pergi ia bisa menyerahkan kembali semua jatah makannya kepada sang koki.

Pemikiran bodoh? Haha... biarlah, Hijikata sudah tak peduli lagi. Dia sudah muak dengan semua musibah yang datang menimpanya. Sekarang dia baru mengerti arti kata 'Mengandung bukanlah perkara mudah' dalam artian yang sebenarnya.

Tadinya ia memang tak berniat berada di tempat ini, selera makannya menghilang dalam sekejab. Apalagi tadi siang moodnya sudah dirusak oleh Gintoki yang keras kepalanya minta ampun! Susah sekali diusir dan terus mendesaknya untuk meminta penjelasan. Satu-satunya alasan mengapa ia bisa sampai duduk manis dan tak bosan-bosannya menatapi hidangan dihadapannya, adalah Kondo-san. Ya, Kondo-san-nya yang berhati mulia itu tak bisa melihatnya kekurangan asupan nutrisi untuk si jabang bayi sialan(kata Hijikata) yang ada diperutnya.

"Ah... padahal makan malam hari ini sangat lezat, hanya saja kenapa Hijikata-san terlihat tak berselera?" Sougo yang memang hobi banget nyari gara-gara dengan Hijikata langsung mengeluarkan sebotol mayones dan menuangkannya diatas makan malam milik Hijikata.

"Sougou... ugh..." melihat gumpalan-gumpalan mayones bertumpuk Hijikata tak dapat berkata apa-apa lagi biasanya hal itu yang paling dinikmatinya tapi sekarang, ia langsung menutup mulutnya dan berlari ke toilet dengan sudut mata membiru menahan mual, membuat Sougo tertawa terbahak-bahak.

"Gyahahaha... Menyenangkan sekali menggodanya, Nee Zaki?"

Yang ditanya hanya menahan tawa mati-matian. Begitu juga dengan beberapa anggota Shinsengumi yang lain. Jarangkan mereka bisa melihat Wakil Komandan mereka yang galaknya kayak iblis tiba-tiba bertingkah seperti ibu-ibu hamil begitu?

Kondo sendiri cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kejahilan anak buahnya yang satu itu. "Sougo, berhentilah mengerjai Toshi. Dia sedang hamil dan membutuhkan banyak nutrisi" tukasnya dengan nada penuh kebapakan. Dan Sougo yang mendengarnya hanya meng-iya-kan saja dengan tampang malasnya.

Kembali pada Hijikata, alih-alih kembali untuk makan malam setelah selesai memuntahkan isi perutnya, ia malah melarikan diri dari markas Shinsengumi untuk mencari tempat merokok.

Benar-benar, untung saja nasib berkata lain. Karena setiap lima langkah sekali selalu ada orang yang menegurnya. Sepertinya, tuhan tak mengizinkan Hijikata menghisap racun mematikan yang nantinya akan berdampak pada jabang bayi sialannya itu. Alhasil, dengan rasa dongkol luar biasa ia memutuskan untuk kembali ke markas tanpa sepengetahuan Kondo dan memilih tidur saat itu juga.

.

.

.


.

.

.

Satu minggu pun berlalu, berterimakasihlah pada jasa Kapten Okita yang tampan dan baik hati ini. Karena kalau bukan karenanya, Gintoki dan kucrut-kucrutnya pasti akan tetap membuat keributan di Markas mereka. Yah... sepertinya mereka— para yorozuya— menepati perjanjian yang sudah mereka buat—tepatnya—yang Sougo buat.

Beralih pada Hijikata yang sekarang kehamilannya sudah berumur tiga minggu dan perut yang mulai agak membuncit, namun masih tersamarkan oleh seragam Shinsenguminya yang memang terbilang cukup longgar. Begitu juga dengan rasa mual pada segala macam jenis makanan yang awalnya selalu mengganggunya kini kian menghilang semenjak dirinya memasuki masa-masa ngidam yang luar biasa aneh. Seperti ingin minum Yakulk dan susu Strawberry secara bersamaan di waktu-waktu tertentu, terutama saat tengah malam(?) dan pagi hari. Dan tentu saja Yamazaki yang selalu menjadi korban perbudakannya.

Sementara itu... di dua tempat berbeda dan waktu yang sama,

"Shinsuke-sama! Ini sudah satu minggu! Kalau terus dibiarkan kondisi anda akan memburuk! Aku akan panggilkan Dokter!" celoteh gadis berambut pirang yang sedari tadi sibuk sendiri menghawatirkan keadaan Bossnya.

"Tidak perlu. Justru kondisi ku sekarang sangatlah sehat, fufu..."

Ketiga orang yang tengah berada disana terdiam mendengarnya. Sehat? Muntah-muntah rutin setiap pagi selama satu minggu itu sehat? Yang benar saja?

"Shinsuke?" Bansai memiringkan kepalanya menatapnya heran, ia bahkan sampai berhenti memainkan koto-nya.

Takasugi hanya terkekeh melihat reaksi ketiga anak buahnya lalu kembali ke washtafel untuk menguras isi perutnya lagi dan tak lupa mengelap sudut bibirnya setelah selesai. "Bukankah ini pertanda baik? Pernahkah kau mendengar kalau hubungan batin antara ayah dan anak tak pernah bohong? Seperti hubungan darah yang akurat?"

"Omedetto(Selamat)" Banzai tersenyum tipis, sementara Takechi memasang wajah hentai sambil berucap "Ayah... dan anak..." berulang kali.

Dan yang satu ini lebih parah,

"MASAKA?! SHINSUKE-SAMA PUNYA ANAK?! DENGAN SIAPA? SEJAK KAPAN? KENAPA AKU TIDAK TAHU?! AAAAAHHH!"

Lalu dipihak lain...

"Hoeeeeeekkkk..."

Shinpachi yang baru selesai menjemur baju langsung mengetuk pintu kamar mandi prihatin. "Gin-san? Apa kau baik-baik saja?"

"Ergh... sepertinya aku masuk angin parah..."

"Gin-chan, akhir-akhir ini kau sering muntah setiap pagi menjelang, Momy ku bilang, itu salah satu tanda kalau kau sedang hamil"

"..."

TBC...


AN : Hayooooo... buat yang penasaran sama anaknya Hijikata udah saya kasih bocoran noh diatas! Noh liat noh! Noh!/plak/author sarap/abaikan... Oh ya dan satu lagi kabar buruk... atau baik? buat kalian, saya ingin menyampaikan kalau fic gak mutu en lebay ini tamatnya masih lamaaaaaa pake banget! Bahkan sampe nanti tu anak lahir dan tumbuh dewasa lalu bersaing dengan kedua ayah-ayahnya, fic ini masih belom tamat! GRAAAAH AUTHOR SUDAH FRUSTASI! Liat tuh udah berapa bocoran yang saya kasih karena ngenes pengen cepet-cepet namatin ni fik tapi hampir gak pernah punya waktu luang. Padahal niatnya cuma bikin 7 chapter langsung tamat gituhhh... tapi kynya bakal sampe belasan deh... itu juga ficnya sudah author persingkat sedemian rupa sampai jadi ky gini... huaaaaahhh/guling guling jedotin pala ketembok/ oke, INI PERINGATAN YA! jadi buat kalian yang tak suka dengan fic yang panjang-panjang/? Author sudah mengingatkan lho yaaaa

Yep, dari pada saya terus menggila, mending sekarang balas review, mulai sekarang dan seterusnya author akan balas review kalian disini ya... maaf author gak sempet bales via pm. Gomenneshi omaetachi!

Frea Cavallone-Hibari :: Hai Frea-san! :D saya senang ternyata ada yng menunggu fic gajeba antah berantah ini u.u, yep saya juga kasian sama hijikata, maaf untuk fic cacad yang satu ini Q.Q

xx :: Gyahaha... maafkan saya yang updatenya begitu lama sampai masa bulan puasa sudah habis, but anyway... anda nekad sekali? Ikutan lol/udah basi broh/digampar/ hiks.. iya saya juga kesian sama Gin-san, tapi sekali-kali mah Gin-san digituin gapapa kali/?

Lala-chan ssu :: Yep, si bakasuge emang bejad, bunuh aja si maniak yakulk itu!/disleped/ ya ampyuunn... anda jangan ikutan lebay gegara ni fic~ tau tuh ya neng hiji kejam banget

dina. listiawati :: Hai dina-san :D senang ada lagi yang mampir buat ngebaca ff ga mutu ini u.u iya ya, nasibnya hiji emang harus greget, oh sebentar-sebentar, anda bilang cerita bulukh ini suge? Huaahh... senang sekali sampai mau nangis/plakh/ tapi jangan tertipu! Kadang karena stress author bisa membuat fic ini jadi cacad minta ampun/hati-hati/?/maksud?/

Chocolate Bubbletea :: Gyahaha... emang, takasugi kan kadar pervertnya sebelas duabelas ama gintoki *puter ulang anime gintama° eps 272 yang gintoki ama takasugi berantem cuman gegara milih wanita penghibur yang sama* bbbff cuman ya, takasugi emang lebih cakep dari gin-san jadi ya... si wanita penghibur itu lebih milih dia/digorok gintoki/ tenang... saya ini penggila uke Hijikata, nah sekarang rasa gak rela kamu udah ilang belom? Atau malah masih gak terima? Soal itu... Hijikata sendiri sih akan selalu berusaha menggugurkan kandungannya, Cuma... selalu gagal gyahahaha/dibogem hiji/ ngomong-ngomong soal hasil persilangan... err itu haha.. sudahlah lupakan/digampar/ gyahaha... tebakan anda! Tebakan anda ituuuu... benar-benar menggelitik! Kira-kira dua chapter lagi mungkin terungkap. Tapi... anda pasti sudah bisa simpulkan sendiri. Hyahaha...:DD awas jangan salah fokus! saya malah sempat berpikir untuk menjadikan sougo kandidat bapak tirinya si jabang bayi/dibazooka/ tenang saja, di chapter depan nanti gintoki akan saya buat 'sedikit' pintar, sedikit loh ya! gak banyak-banyak amat/BUAGH/ dan sepertinya chap depan akan lebih condong ke arah serius, gomen... itu juga saya persingkat saya gak terlalu punya banyak waktu luang Q.Q ekhem... anyway ini adalah review dan balasan review terpanjang yang pernah saya balas dan terima :DD

sawannyan :: Hai sawannyan-san ^^ maaf ya saya baru bisa balas review sekarang, gyahaha... saya pikir cinta saya pada anda bertepuk sebelah tangan/?/ tapi ternyata... huaaahhhh/nagis lebay/ saya malah mencintai semua fic ginhiji buatan anda Q3Q/cukup woi/ pokoknya saya selalu menanti fic ginhiji terbaru anda/takh/ini balesan review atau nuntut oi?/

PRECIOUS GINHIJI :: OOPPSSS... sorry... for make you waiting so long (Q/\Q)

Yuanchan48 :: Hallo Yuanchan-san ^^ hahaha ternyata ada siders yang akhirnya menunjukan diri :D saya senang bukan main :DD emang tu si takasugi yakulk yaro giles aja/ditampol/ saya mah gak tega kok... cuma pengin bikin nasibnya hiji sengsara/BUAGH JDUK JDUAKH/sama aja aho/ waduh... baru kali saya ditodong! Pake pisau pula/yaiyalah masa pake pisang/?/ ampuuunn! Tenang aja, Hijikata gak bakal balik sama Gin-chan kok/whatt?/ becanda... sebenarnya untuk FRO cuma hijikata yang kena, sebab sebelumnya si professor udah berhasil bikin FRO untuk hewan dipercobaannya yang 140 kali, nah kebetulan FRO yang di suntikan ke tubuh hijikata itu adalah percobaannya yang ke 150 kali yang kebetulan berhasil, jadi singkat kata, Hijikata itu adalah kelinci percobaan pertama dari unsur FRO yang dibuat khusus untuk manusia. Beruntung sekali ada yang nanya soal ini, karena harusnya author menjelaskannya di chapter sebelumnya, namun karena kelalaian author yang berada dalam keterburu-buruan author jadi lupa menjelaskannya, hiks... ngomong-ngomong anda mengerti gak dengan penjelasan saya? Umh... satu lagi, takasugi gak mungkin melakukan anu-menganu/plaakk/ dengan hewan, jadi hewan bergender sama itu dipilih dan disatukan dalam kandang yang sama, pokoknya seperti itulah.../kok jadi bingung sendiri/?/

higitsune84tails :: ahhahahah... santai aja higitsune-san, saya gak terlalu mempermasalahkan soal review kok^^ ehm.. tapi soal update... maaf, saya emang gak bisa cepat Q.Q waktu yg saya punya sangat terbatas... hiks

Yep. Sekian. Sampai jumpa di chap depan~