Last Chapter
.
Previous Chapter
"Tetsuna, tunggulah aku. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi," ucap Akashi. Senyum yang telah lama hilang itu, sudah kembali lagi ke paras tampannya.
.
Kuroko no Basuke Fanfiction
.
Arti Cintaku
.
Warning : typo, alur cepat, gaje, author newbie,dll
.
Menunggu
Hal itu yang dilakukan gadis bersurai baby blue sepunggung itu sekarang. Angin musim dingin berhembus pelan menerbangkan surainya yang panjang. Gadis itu mulai merasa kedinginan. Apalagi bajunya lembab karena terkena air matanya tadi.
Siapa sebenarnya yang akan kutemui? Kenapa Chihiro-nii tidak memberitahuku?, batin Kuroko.
Kuroko sudah berada di tempat yang dimaksudkan Mayuzumi beberapa menit yang lalu. Saat dia datang tidak ada siapapun disana. Akhirnya, dia menunggu.
Pandangannya menatap langit musim dingin. Langit musim dingin yang mulai menampakkan warna ke-oranye-an tanda hari sudah mulai sore.
"Akashi-kun...," tanpa sadar Kuroko berguman pelan memanggil nama orang yang dicintainya, meskipun sang pemilik nama tidak ada disana.
Tiba-tiba sebuah jaket telah tersampir dibahunya.
"Berdiri diluar dengan baju seperti itu. Apakah kau tidak merasa kedinginan?" tanya Akashi yang sudah berada dibelakang Kuroko. Akashi melepas jaketnya untuk dipakaikan ke Kuroko tadi.
"A-a..ka, Akashi-kun?!" Kuroko kaget. Saat Kuroko berbalik dia sudah mendapati Akashi berdiri dihadapannya. Baru saja dia menggumamkan namanya.
Akashi tampak sudah berganti baju dengan kaos dan celana panjang putih.
"Ah, maaf membuatmu menunggu lama Tetsuna."
Menunggu? Jangan-jangan... Akashi adalah orang yang dimaksud Chihiro-nii?!
Kuroko menundukkan kepalanya. Wajahnya terasa memanas. Pipinya yang seputih boneka porselen sudah berwarna merah padam.
"Iie, aku tak menunggu lama," suaranya dibuat sedatar mungkin untuk menutupi kegugupannya. Bagaimana tidak gugup jika jarak keduanya itu cukup dekat.
"Tetsuna angkat kepalamu saat berbicara denganku."
"Tidak Akashi-kun." kegugupannya semakin menjadi. Kuroko tidak mau wajahnya yang seperti ini dilihat oleh Akashi.
"Masih keras kepala seperti dulu. Kau tidak berubah Tetsuna," Akashi menghela napas.
Tangan Akashi memegang lembut pipi Kuroko. Diangkatnya wajah Kuroko sehingga memperlihatkan paras cantik Kuroko yang masih dihiasi oleh warna merah padam. Meskipun Kuroko sedang blushing tetapi dia tetap menampakkan wajah datarnya.
Tidak berhenti sampai disitu. Tangannya bergerak merapikan rambut Kuroko yang berantakan diterpa angin. Setelah selesai Akashi kembali menurunkan tangannya.
Kuroko menatap Akashi. Heran dengan perlakuan Akashi terhadapnya tetapi juga merasa senang disaat yang bersamaan. Warna merah padam sudah sirna dari pipi gadis itu.
"oh iya, selamat atas kemenangannya Akashi-kun," ucap Kuroko. Gadis itu tersenyum kepada Akashi. Berusaha menutupi kenyataan bahwa dia baru saja menangis tadi.
Akashi hanya bungkam saat melihat senyuman itu. Setelah mendengar kata-kata menyakitkan bahkan menerima banyak luka dihatinya, Kuroko masih bisa menunjukkan senyumannya. Rasa bersalah kembali datang pada dirinya.
"Iya terima kasih," ucap Akashi.
"Kau kesini karena Chihiro bukan?"
"Un, Chihiro-nii yang menyuruhku."
.
.
Setelah itu hening yang terjadi diantara keduanya. Mereka larut dalam pemikirannya masing-masing.
"Akashi-kun maafkan aku," Kuroko berkata dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Akashi.
Akashi tersentak. "Maaf? Untuk apa kau meminta maaf kepadaku?"
"Maaf karena aku menjadi beban dan pion yang tak berguna untukmu. Maafkan aku karena aku lemah Akashi-kun."
Akashi menatap lekat mata Kuroko. Kau tak perlu minta maaf Tetsuna. Yang seharusnya minta maaf adalah itu aku, batin Akashi.
"Aku tak akan memaafkanmu Tetsuna," ucap Akashi enteng.
Kuroko kaget. "Eh? N-na..nande?"
Telunjuk Akashi menyentuh bibir Kuroko mengisyaratkan untuk diam. "Aku tak akan memaafkanmu titik tak ada protes. Dengarlah alasanku."
Kuroko menurut. Lagipula tak ada gunanya membantah orang yang berada di hadapannya.
"Karena pertama, aku ingin minta maaf kepada seseorang yang menyayangiku dengan sepenuh hati..."
Tangan Akashi membelai lembut kepala Kuroko.
"...Kedua karena aku ingin minta maaf kepada orang yang telah menerima banyak luka dihatinya karena diriku..."
Tangan kekar Akashi turun menyentuh wajah cantik Kuroko.
"...Ketiga karena aku ingin minta maaf kepada orang itu yang selalu menerima kenyataan yang menimpa dirinya, meskipun ternyata itu menyakitkan baginya..."
Kali ini tangannya turun menggenggam kedua tangan Kuroko. Lalu, dia mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan gadis dihadapannya, sejajar dengan dadanya.
Alis Kuroko terangkat. Dirinya merasa tidak asing dengan kata-kata yang diucapkan Akashi.
"...Keempat aku ingin minta maaf kepada orang yang merelakan bukan dirinya yang berada dihati orang yang dicintainya, padahal dia tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya..." Akashi tersenyum pahit mengingat masa lalunya. Masa lalu dimana dia selalu mendapat perhatian Kuroko dan dia malah balas menyakitinya. Diam sejenak sebelum melanjutkan perkataaanya. Kuroko masih setia menunggu kelanjutan perkataan Akashi.
"...kurasa dia tidak perlu menyimpan sendiri penderitaannya dan orang yang dicintainya harus tahu apa yang dia rasakan."
Telapak tangan Kuroko dibuka. Akashi lalu mengambil sebuah buku dari dalam kantung celananya. Dia menaruhnya di telapak tangan gadis itu.
Ditangannya terdapat buku hariannya yang sudah hilang darinya sejak hari upacara kelulusan SMP Teiko. Sejak hari itu dirinya mencari-cari buku miliknya itu namun selalu nihil yang didapat.
"Akashi-kun... buku ini... dari mana kau mendapatkannya?" Kuroko mendekap bukunya itu.
"Chihiro yang memberiku itu."
"A-apa... kau membacanya?"
"Hm... iya. Chihiro yang meminta itu."
Sekarang Kuroko merasa malu. Kuroko menundukkan kepalanya, lagi. Namun, kali ini Akashi membiarkan gadis itu.
"Tak perlu malu Tetsuna."
"Nee, aku ingin bertanya sesuatu."
"Soal yang tadi, apakah orang itu akan memaafkanku Tetsuna?" Mata Akashi sesekali melirik ke arah buku milik Kuroko itu. Kepala Kuroko terangkat kembali.
"Iya, jika Akashi-kun meminta maaf dengan baik dia pasti akan memaafkanmu," ucap Kuroko seolah tak menyadari sinyal Akashi.
"Jika begitu..." ucapan Akashi menggantung. Matanya menatap serius Kuroko namun, lembut.
"...maukah kau memaafkanku, orang yang bodoh ini, Tetsuna?"
Jadi orang yang dibicarakan Akashi-kun itu aku?
Kuroko merasa sedikit beban yang berada pada dirinya telah terangkat. Kuroko tersenyum tipis."Tentu Akashi-kun. Aku memaafkanmu."
Akashi merasa hatinya terasa hangat melihat senyuman itu. Rasa hangat ini... sudah lama dia tak merasakannya. Entah kapan terakhir kali dia merasa seperti ini. Meskipun, Akashi tahu Kuroko akan memaafkannya, tetapi mendengar dari orangnya langsung itu sudah membuat dirinya sangat senang. Tapi ini belum cukup. Belum cukup hanya dengan meminta maaf saja. Disini dia akan mengakhiri semua penderitaan gadis itu. Dengan mengatakan semuanya.
Akashi berlutut dihadapan Kuroko. Tangan Kuroko yang berada disamping badannya ditarik pelan untuk digenggam. Berlatarkan langit sore. Dia mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.
"Tetsuna aku mencintaimu. Zutto aishitteru yo."
.
.
.
.
Tes Tes
Tes
Tubuhnya yang ringkih bergetar pelan. Kuroko jatuh terduduk, tangannya menutup mulutnya seolah tak percaya. Akashi yang melihat Kuroko akan jatuh langsung menangkapnya ke dalam dekapannya.
Kata-kata yang diucapkan Akashi berhasil membuat air mata Kuroko keluar. Bukan air mata kesedihan. Kali ini adalah air mata kebahagiaan. Dirinya tak pernah menyangka suatu hari nanti kata-kata itu akan keluar dari mulut orang yang dicintainya, meskipun dirinya pernah berharap suatu saat nanti akan terjadi.
Seketika terbesit ucapan sang kakak sepupu dibenaknya, 'Aku yakin cinta yang tulus itu suatu saat akan terbalas. Apalagi dengan ujian yang telah kamu lewati selama ini. Aku yakin kisahmu akan berakhir seperti kisah cinta di novel-novelmu itu. Pastinya dengan kebahagiaan yang lebih melimpah'
Kau benar Chihiro-nii, terima kasih, batin Kuroko.
Goresan luka dihatinya perlahan hilang. Perasaan bahagia menyelubungi dirinya sekarang. Usahanya tak sia-sia selama ini. Senyum terindah terbentuk di paras cantik Kuroko.
"Boku mo, Akashi-kun... aku mencintaimu."
Akashi memeluk erat Kuroko berusaha menyalurkan rasa kasih sayangnya. Didalam dekapan Akashi, Kuroko menumpahkan seluruh perasaanya. Perlahan Kuroko mulai membalas pelukan Akashi.
"Maaf Tetsuna, selama ini aku tak menyadari perasaanku sendiri," bisik Akashi. Sebenarnya Akashi sudah mencintai Kuroko saat pertama kali bertemu. Cinta pada pandangan pertama kata mereka. Namun yah... Akashi hanya tak menyadarinya sampai hari ini dia baru mengetahuinya.
Ditangkupnya wajah Kuroko dengan kedua tangannya. Kening Akashi menyentuh perlahan kening Kuroko.
"Tetsuna izinkan aku memulainya dari awal lagi. Izinkan aku memperbaiki semua kesalahanku selama ini... . .. dengan menjadikanmu kekasihku."
Kuroko hanya bisa mengangguk. Dirinya tidak sanggup bicara saking bahagianya.
"Kalau begitu mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih Tetsuna. Jangan ada rahasia lagi diantara kita."
Diciumnya lembut kepala kekasihnya itu oleh Akashi. Lalu, memandangi wajah Kuroko. Raut wajah gadis itu terlihat lebih lega. Lega karena semua beban yang ditanggungnya sendiri telah sirna. Tak sengaja pandangan mereka saling beradu. Jantung mereka berdetak lebih cepat.
Akashi melihat manik biru muda yang indah milik Kuroko, meskipun masih mengalir air mata dari sana.
Hangat. Itulah yang dirasakan oleh hati milik seorang Akashi Seijuuro. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Kuroko mulai sekarang.
"Berhentilah menangis. Jika kau terus menangis aku tidak akan bisa melihat wajah cantikmu."
Akashi menghapus air mata Kuroko lalu membantu gadis itu untuk berdiri.
"Tetsuna mulai sekarang kau harus memanggilku Seijuuro."
"Akashi-kun kenapa tiba-tiba?"
"Seijuuro bukan Akashi."
"Ha'i Seijuuro-kun."
"Hah... ya sudahlah."
Kuroko tertawa pelan mendengarnya.
Lalu, mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam dengan tangan yang saling bertautan erat.
.
.
.
.
.
~OWARI~
Yeay... akhirnya selesai~
Maaf cuma bisa buat begini padahal mau buat sedikit lebih panjang lagi tapi saya sedang M (Malas)
Jujur saya nangis(?) waktu buat bagian yang Kuroko nangis itu. Apalagi waktu saya ngetik earphone yang saya pakai memperdengarkan lagu Ichiban no Takaramono dari angel beats versi biola/piano oleh xclassicalcatx dan Theishter /Kise : makin banjir tuh-ssu/
.
Thanks to : michelle hadiwijaya, mao-tachi, hinamorilita-chan, Furoshiki, Rania Asri Asyur, momo satsu chan, Kirigaya Shiina, Kynha-chan, MashiroYui, Namida Kurusu, Namikaze678, Renkou-Tachii, Rillie de Cuerto, Renkou-Tachii, galia.78, dan para reader tercinta
.
Terima kasih minna karena telah membaca hingga akhir fanfiction pertama saya. Jangan lupa Review yah~
karena review anda akan sangat berguna bagi saya
OMAKE 1
"Kagami-kun...!" suara pelatih Seirin menggema di sepanjang koridor. Seketika mereka yang berada disekitarnya menutup telinga guna menyelamatkan pendengaran mereka masing-masing.
"Apa kantoku? Tidak usah berteriak kan bisa," Kagami kesal tapi tidak mau ditunjukkan lebih lanjut karena takut. Iya takut. Takut dengan pelatihnya.
"Dimana Kuroko-chan?"
"Entahlah, dia pergi lagi saat kutemukan." Ok Kagami sudah cari mati rupanya.
"Cari Kuroko-chan sekarang. Tidak ada yang boleh pulang sampai dia ketemu."
Anggota tim Seirin hanya menatap horror pelatih mereka. Dan dimulailah pencarian mereka /kasihan kau nak/
OMAKE 2
Anggota tim Rakuzan dan Kiseki no Sedai rupanya diam-diam menguntit Mayuzumi. Terbukti saat Mayuzumi menemukan mereka semua ditemukan tengah bersembunyi oleh Mayuzumi.
Mayuzumi tetap menampilkan wajah datar memandang mereka. Menghela napas,Sebenarnya berapa banyak penguntit yang mengikutiku?
Mereka yang tertangkap basah hanya senyum watados.
OMAKE 3
"Chihiro-nii... selama ini kau yang menyembunyikan bukuku?"
"Buku? Oh.. buku yang kuberikan padamu itu. Aku tak menyembunyikannya. Midorima Shintarou yang membawanya dan kuberikan pada Akashi."
Midorima-kun?, batin Kuroko.
Kuroko sweetdrop
