Heya!heya!fiya!
Sebenarnya cerita ini juga inspirasi Dari game online yang Rui main yaitu Wartune (^^)/
update kilat ndak kalo gini?
Glastle gempar!
Shion sekarat dan King hanya bisa bersimpuh diujung tempat tidur sambil menangis. Semua tabib berdiri sejajar mengelilingi tempat tidur Shion yang wajahnya pucat dan lemas.
"Maaf," kata Sakura. "Maaf—maaf." Tayuya mengintip dibalik punggung Sakura dan matanya menerawang datar. Ia sepertinya mengawasi Shion dengan serius.
King mengangkat tangannya dan telapak tangannya yang besar dapat terlihat jelas. Ia meminta semua tabib keluar, kecuali Sakura, Tayuya, dan Naruto.
"Kami mencoba yang terbaik. Kami membuat ramuan apa saja yang dapat meringankan sakitnya, tapi tidak ada yang manjur." Kata Sakura. Ia tidak pernah setakut ini—bisa dibilang inilah kali pertamanya merasa khawatir.
Tayuya benar-benar mengunci mulutnya. Ia hanya berdiri tegang seperti tiang kaku yang dingin, tersembunyi dibalik punggung Sakura dan Naruto.
King memijat dahinya. "Queen? Apa dia sudah sadar?"
Naruto dan Sakura berpandangan sendu. "Belum," sahut Naruto.
King menggeleng pelan. "Apa yang akan terjadi ketika istriku bangun dan mendapati putrinya seujung kuku dengan kematian!" jerit King takut, cemas. "Aku sayang putriku! Aku memimpikan kalau aku sudah tua nanti, ia yang akan mengurusku.. sama seperti aku mengurusnya sekarang." Renung King. "...dan aku tidak bisa membayangkan kalau ia mati lebih dulu daripada—aku!"
King tidak bisa menutupi sedihnya. Sakura bergumul dengan pikirannya yang kacau dan tidak ingin menangis. Menangis itu hina.
Naruto memandangi wajah Shion yang pucat—nyaris biru. Kemudian, Shion cegukan dan mulai kejang.
"Ini dia!" jerit Sakura. "Ini titik sakitnya!"
Sakura tanpa sadar melompat ke tengah tempat tidur dan menekan-nekan dada Shion. "Tidak!" jeritnya. "Tayuya! Kelopak anggreknya! Berikan padaku!"
Kini semua mata tertuju pada Tayuya. Tayuya berkeringat dingin dan kedua kepalan tangannya disembunyikan dibalik punggung.
"Kelopak...aa—pa?" tanyanya konyol.
"TAYUYA! CEPAT!" jerit Sakura ketika setetes darah keluar dari mulut Shion.
Tayuya masih berdiri tolol di tempatnya dan menahan tangis. "Tidak..aku tidak tahu!" jeritnya.
"Aku sudah meraciknya dan aku memberinya padamu! Sudah kukatakan itu adalah obat sementara untuk meringankan penyebaran racunnya! Dan kau bilang TIDAK TAHU?" bentak Sakura.
Ia memaki pada Tayuya dan Shion semakin parah saja. King membelalak takut.
Naruto kini salah tingkah. Kemudian, matanya tertuju pada kepalan tangan Tayuya yang disembunyikannya.
"Tayuya!" panggil Naruto. "Apa itu yang ada di tanganmu?"
Tayuya mundur, dan tetap menjaga tanganya seperti tadi. "A—pa?"
Naruto memaksanya membuka kepalan tangannya itu, tetapi Tayuya tetap teguh.
"Aku sudah memeringatkanmu!" bentak Naruto. Kemudian ia melempar pedangnya. Pedangnya melesat dan hampir menusuk jantung Tayuya—hampir menancap di dadanya. Tayuya merasa lutunya lepas dan akhirnya ia terduduk lemas.
Kepalan tangannya terbuka dan tampak tiga lembar helaian kelopak anggrek gunung. Sakura tidak bisa tidak marah.
Naruto mengambilkan kelopak itu dan memberikannya pada Sakura. Sakura meletakkan kelopak anggrek itu di atas tenggorokan Shion dan kejangnya berhenti.
"Setidaknya ini bisa menahan sakitnya, mungkin Cuma setengah jam." Sakura mendesah. "Setelah setengah jam...khasiat sudah tidak ada lagi,"
King basah oleh keringat. "...dan apabila khasiatnya habis, putriku akan kembali kejang?"
"Tidak." Sakura menggeleng. "Ia akan langsung mati. Aku menyadari kalau racunnya sudah hampir menyerang jantung."
King kembali pada wajah murungnya, lebih terkejut dibanding tadi.
Naruto mengambil pedangnya yang menancap di tembok. "Kurasa ada yang berhutang penjelasan pada kita." Kata Naruto sambil melirik Tayuya yang lemas dan gugup.
Tenten terduduk di tanah dan salah satu akar pohon yang mencuat menusuk kakinya. Ada sebuah—seekor—gumpalan putih di pangkuannya. Serigala.
Gumpalan itu menggeliat dan mendengus, embusan napasnya menjadi uap udara yang dingin. Tenten membelai telinga lebar serigala putih itu.
Tadi ia hampir mati diterkam serigala itu. Tapi serigala itu berubah jinak saat Tenten tidak sengaja menyayat lengannya. Lengannya berdarah, dan ternyata serigala itu menyukai aroma darah Tenten.
"Oh—oh!" kunang-kunang itu terbang rendah disekitar kepala Tenten. "Pasti yang lain sudah menungguku! Ayo Snow, kurasa kau sudah cukup berbaring!"
Kemudian Tenten berdiri dan serigala itu—Snow—mengikutinya dengan patuh seolah-olah mereka telah bersama-sama sejak lama.
Ketika Tenten sampai di puncak dan bertemu yang lainnya, ia akhirnya merasakan yang namanya 'lega' itu.
"Tenten!" sambut Ino dan yang lainnya kecuali Neji.
"Apa bongkahan putih itu?" tanya Neji.
Tenten tersenyum senang, "Ini serigala! Namanya Snow!"
Kemudian Snow melolong dan semua yang ada di sana—kecuali Tenten—menjadi ngeri.
Ino melihat sebuah daun pohon kakao yang kecokelatan dan wangi sedang terbang ke arah mereka. Daun kakao itu ditangkap oleh Ino dan ia menggosoknya. Daun itu adalah pesan rahasia Sakura untuk rombongan mereka. Pesannya mengatakan agar mereka lebih cepat dan waktu mereka kurang dari setengah jam.
"Kita harus cepat!" desak Hinata. "Sebelum Shion mati!"
Kemudian mereka berjalan lagi. Snow rupanya cukup membantu dalam perjalanan. Ia cukup kuat untuk menyingkirkan dahan pohon yang menghalangi jalan dan ia juga cukup pintar dalam menunjukkan jalan.
"Wah!" decak Kiba. "Peliharaanmu boleh juga, Vior!"
"Tentu saja!" kata Tenten kagum. Ia hampir tidak percaya kalau Snow adalah serigala, baginya Snow adalah anak anjing paling imut—hanya saja lebih kuat.
Mereka tidak menyangka kalau semakin mereka ke atas gunung, udara makin dingin bahkan bersalju. Perubahan udara yang sadis membuat mereka merasakan rasa sakit di seluruh badan.
"Seberapa jauhnya, sih?" gerutu Hinata.
"Kata kunang-kunang, lili tebing itu ada di salah satu tebing paling curam yang menyeramkan, sebentar lagi sampai!" jelas Ino.
"Ba—bagus!" ujar Tenten menggigil.
"Kau menyembunyikan kelopaknya!" teriak Sakura. "Kau sadar, Shion hampir mati kalau saja Naru tidak memaksamu membuka kepalan tanganmu itu!"
Tayuya bermandi airmata ketakutan, ia sedang terpojok di sudut kamar kosong, jauh dari kamar Shion. Sakura membiarkan King menjaga Shion sementara.
Sinar bulan yang samar menyelinap lewat celah jendela yang berderak karena angin bertiup. Naruto mengawal Sakura.
"Katakan padaku—" Sakura meremas jarinya. "—apa maumu... kau ingin membunuh Shion?"
"TIDAK!" bantah Tayuya cepat. "Ini...aku..aku..tidak!"
"Bicara yang benar!" bentak Sakura. Naruto menatap dingin dibelakang punggung Sakura, bagaikan patung porselen yang dingin dan kaku. Naruto sesekali berdeham saat Sakura membentak secara keterlaluan, tetapi Tayuya benar-benar menyebalkan, ia bicara dengan nada takut yang tidak jelas.
"Percuma," bisik Naruto. "Kita kurung dia di sini sampai ia mengaku,"
Sakura tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Naruto yang notabene tertarik pada kecantikan Tayuya. Kemudian, Tayuya—yang matanya merah bengkak—tersungkur di lantai marmer yang dingin.
"Aku setuju dengan Naruto." Timpal Sakura tiba-tiba. "Ayo, kita harus melihat keadaan Shion. Kita tinggalkan dia disini sampai dia mau mengaku."
Tayuya membuka mulutnya seakan ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak jadi. Naruto berjalan keluar, kemudian Sakura dibelakangnya. Sakura hampir mengunci pintu kamar itu, tetapi Tayuya tiba-tiba berteriak.
"Tunggu!" ratapnya. "Aku akan mengaku."
Tenten, Hinata, Ino, Neji, dan Kiba menahan napas melihat pemandangan di depan mereka.
"Oh... maksudku... WOW!" seru Kiba girang.
Mereka sekarang berada di tebing paling menyeramkan, dan lili tebing yang keperakan hanya berjarak sepuluh langkah dari mereka. Banyak pohon kering kerontang yang jelek dan gosong, serta gagak-gagak yang terbang tinggi mengaok. Yang lebih parah lagi, tanah yang mereka pijak seolah-olah bernapas. Naik-turun, dan bergerak-gerak, seperti siap menelan mereka hidup-hidup.
"Bisa kita cepat-cepat mengambil lili itu dan pergi?" rajuk Hinata.
"Masalahnya,"—Kiba menatap ngeri ke depan—"Siapa yang bersedia mengambil lili itu?"
"Ukh.." Tenten menatap laut yang berdebum di bawahnya. "Aku takut ketinggian!"
Neji yang menguap sedari tadi tiba-tiba merayap mendekati lili itu. "Well, aku saja deh." Neji memang gila, tapi tidak disangka ia berani juga. Oh, mungkin ini bukan 'keberanian' tetapi 'kegilaan'.
Neji nyaris memijak tempat yang salah, dan hampir terjungkal masuk ke lautan, tetapi ia terus berjalan. Lili itu sudah digenggamnya sekarang. "Hore? Bolehkah aku bilang hore sekarang?" tanyanya.
"Sinting! Kembali dulu kemari!" jerit Tenten. "...atau kau tidak akan bilang hore selamanya!"
Neji tertawa, tapi hanya sekedar tawa singkat yang tak berarti, ia kembali meniti langkah ke arah teman-temannya dan ia selamat—syukurlah. Lili itu ditangannya dan mereka tinggal kembali saja ke Glastle.
"Berapa waktu yang tersisa?" tanya Hinata.
"Lima belas menit lagi!" raung Ino. "Oh, ayo cepat kembali secepat yang kita bisa."
"Apakah kita bisa? Tempatnya jauh." Timpal Hinata.
"Kita sudah sejauh ini, dan sudah sekeras ini bekerja. Kita tidak akan membiarkan perjuangan ini sia-sia, dan Shion harus hidup!" kata Kiba.
Jadi mereka bersama-sama bergegas kembali sebelum ada hal-hal buruk terjadi.
Sakura membeku, dan Naruto tidak bisa menahan amarahnya.
"Sialan!" umpat Naruto. "Kaum trash bergerak dan pamanku dalam bahaya!"
Sakura meringik pelan dan tiba-tiba ide gila menancap di otaknya. "Naruto, kumohon. Jangan beritahu siapa-siapa. Ini rahasia."
Naruto melemparkan tatapan penolakan. "Tidak bisa, Sakura! Pamanku harus tahu!"
"Tidak!" Sakura menjaga agar suaranya tetap tenang dan pelan. "King sudah cukup lelah menghadapi semua ini. Aku tahu perang bakal terjadi, tapi kita harus mencari waktu yang tepat untuk memberitahunya. Paling tidak kalau Shion dan Queen sudah pulih."
Naruto melunak, "Oke, deh. Tapi kita harus memberitahu mereka. Ini bahaya." Naruto mengacak rambutnya. "..dan tahanan kita,"—Naruto melirik Tayuya marah—"..Si Tayuya ini, kita apakan?"
Sakura mengangkat bahu. Naruto melirik Tayuya lagi. "Dia sudah mengaku." Kata Naruto. "Kita maafkan saja. Aku tak ingin semuanya makin runyam." Katanya. Sebenarnya, itu hanya alasan karena Naruto masih menyukai Tayuya.
Sakura mengingat-ingat lagi pengakuan Tayuya tadi.
Tayuya berkata kalau Karin Becrux—kakaknya yang jahat—sedang merencanakan sesuatu dengan Gaara, pria yang bisa dibilang pangeran dari kaum Trash dan petinggi-petinggi Trash lainnya. Dan tugas Tayuya adalah membunuh putri raja; ia yang meletakkan povadox di gelas minum Shion.
Tayuya mengaku kalau ia tak sampai hati membunuh Shion yang baik, dan cantik—namun Karin mendesaknya terus sampai ia merasa muak.
Sakura tak habis pikir, Imaginatio makin keruh saja suasannya. Dan Sakura lagi-lagi tak habis pikir, obat penenang dari kelopak anggrek itu khasiatnya berkurang dengan sangat cepat, dan rombongan pembawa lili tebing harus sampai kurang-lebih dalam tiga menit lagi.
Dengan gusar ia meremas-remas jarinya dan giginya bergemelutuk. Ia takut kalau-kalau para rombongan tidak sampai tepat waktu dan rencana Tayuya berhasil.
Di tengah-tengah kegusarannya, darah segar kembali keluar dari bibir Shion dan Sakura hanya bisa berdiri didampingi Naruto dan King memasang tampang rela.
Kemudian mereka bersiap-siap menerima kematian putri raja.
"Kau menginjak kakiku! Ah! Goblok!" jerit Neji.
"Apa boleh buat. Kita terpaksa pulang pakai benda sihir reyot ini." Kata Ino.
Yang dimaksud Ino adalah Flox. Flox adalah semacam mesin yang digunakan untuk membawa seseorang pulang ke rumah mereka secepat mungkin. Flox hanya bisa digunakan untuk perjalanan pulang dan biasanya Flox berupa mesin reyot. Bisa dibilang, Flox seperti halte bus berjalan yang terbuat dari besi.
Flox yang mereka naiki terbang dan melesat turun secepat bata yang dijatuhkan dari langit.
"AAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!" teriak mereka ketika flox yang mereka tumpangi menabrak atap kamar Shion dan merubuhkannya.
Sakura berdiri tegang dan menatap tak percaya.
"Sakura!" Ino yang pertama bangkit. Sakura membelalak.
"Tinggal lima detik! Kemarikan lilinya!" teriaknya. Kemudian Neji melemparkan lili itu dan Sakura meloncat ke tengah tempat tidur, ke arah Shion yang kaku seperti ranting dan mencekokinya dengan kelopak lili yang putih seperti salju.
Untuk beberapa saat, tidak ada reaksi. Semua mata merajam Shion dengan tatapan harap, dan kemudian terdengar suara batuk yang mungil, pelan dan semua orang tersenyum lega.
Shion bangun dan tenggorokannya kering dan sakit, kemudian King memeluknya.
TIDAK ada hari-hari yang lebih membahagiakan daripada hari-hari di Glastle. Terutama setelah wabah povadox berhenti menyebar dan Shion selamat dari kematian.
Tayuya—meskipun sudah dimaafkan oleh banyak pihak—tetap dikurung di suatu kamar gelap yang lembab, karena ia meracuni putri raja. Sakura dan Naruto masih menyembunyikan fakta bahwa kaum Trash yang terlupakan sudah menyiapkan rencana sinting untuk membantai Glastle dan merusak Imaginatio.
Sakura tidak sampai hati mengabarkan hal itu kepada King setelah semua yang terjadi. Tetapi ia tidak bodoh. Ia tahu kalau ia menyimpan kenyataan itu lebih lama, akan lebih bahaya.
Maka, ia memberitahu King, dan wajah King yang belakangan sudah agak merona karena senang kembali pucat dan khawatir.
King sangat terkejut dan segera menyiapkan tentara-tentara. Ia mengadakan gerakan "Glastle Warrior" dan melatih semua prajurit secara diam-diam di ruang bawah tanah. Guardian juga pastinya tidak lepas dari tugas ini. Mereka ikut berlatih dan berlatih, berlatih, berlatih.
Sasuke sudah kembali bersama berita mengejutkan. Ia dijodohkan dengan seorang Baroness, Lady Ami. Ino mengucapkan selamat, tapi hatinya meronta-ronta.
Lady Ami sangat cantik dengan mata mungil dan badan ramping. Ino belum pernah secara langsung bertatap muka dengannya, tetapi Sasuke menunjukkan lukisannya.
Mungkin Ami adalah wanita yang cocok dengan Sasuke. Ketika Sasuke diajak bicara mengenai Ami, ia sama sekali tidak keberatan; ia malah tampak senang. Mungkin Sasuke juga sudah terpikat pada Ami.
Ino berhari-hari duduk di samping jendela di kamarnya, menikmati langit-langit kamar yang berubah warna sesuai perasaan hatinya.
Hari ini langit-langit kamar Ino berwarna kecokelatan muram, dan itu karena Ino tidak dapat menahan kesalnya. Sasuke bilang, Ami adalah wanita paling cocok dengannya dan tidak ada yang menyamai kepiawaiannya dalam menyenangkan hati seseorang!
Betapa murkanya Ino begitu mendengarnya. Rasanya seperti dirajam dengan bongkahan batu panas dan menyakitkan. Ino memberengut saat ia sampai di kamarnya. Ia melewatkan latihan dan makan siang.
"Di mana Ino?" tanya Sasuke saat ia sedang berlatih pedang dengan para prajurit. "Wow! Aku tidak menyangka dia melewatkan latihan!"
Tenten membungkuk menghindari panah saat ia melewati arena tembak-menembak panah. "Ada yang lihat Naruto?" tanyanya. "Uhm.. dia meminjam penaku."
Sakura sedang memojok di ruangan dan mengemas ramuan dalam suatu botol kaca, kemudian ketika mendengar nama Naruto disinggung, ia menengadah. Tenten sedang bingung mencari pena peraknya yang katanya dipinjam Naruto.
Dasar pria ceroboh. Pinjam tapi lupa dikembalikan, rutuk Sakura dalam hati. Kemudian, ia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi seharian. Benar juga... Aku belum melihat tampang bocah itu dari tadi, pikir Sakura. Kemudian Sakura menduga kalau ia sedang keluyuran atau sedang minum anggur di kamarnya, tetapi Sakura sendiri mengelak dari dugaan itu. Naruto terakhir kali terlihat saat makan siang. Kemudian ia pamit ke suatu tempat.
Sakura mencoba mengingat-ingat kemana tempat yang mau dituju Naruto. Kemudian, ia teringat.
Naruto tadi meminta izin menjenguk Tayuya di penjara.
Naruto meniti langkah menuruni tangga batu yang dingin dan licin. Salah injak, artinya ia bakal terpeleset dan ada kemungkinannya mati. Sepatu bot nya yang sangat pas di kaki itu berbunyi keras di setiap langkah yang ia buat. Sebuah kunci perunggu terselip di saku celananya.
Di anak tangga terakhir, Naruto mengeluarkan kunci itu. Ia melewati deretan sel-sel tahanan yang dipenuhi banyak buronan kerajaan yang bau dan jelek. Banyak tangan-tangan kucel terjulur keluar dari sel saat Naruto melintasi deretan sel itu.
"Bebaskan kami," erang mereka—para tahanan itu—tetapi Naruto sekalipun tidak memandang mereka. Ia mengatur napasnya agar tetap tenang dan berjalan terus dengan tatapan acuh.
Ada sebuah sel tahanan yang paling jelek, paling kumuh, dan lembab. Di situlah Tayuya berada. Beberapa minggu yang lalu, sebelum Tayuya dipindahkan ke sel itu, Tayuya berkata kalau ia tidak bersalah. Ia mendesak Naruto agar pria itu memercayainya, dan bodohnya, Naruto percaya.
Naruto—tidak bisa dipungkiri—telah jatuh cinta pada Tayuya sejak dulu, dan cinta itu menguap saat Tayuya ketahuan merencanakan pembunuhan pada saudara jauhnya, Shion—putri raja; putri pamannya.
Naruto meremas kunci itu dengan jari-jarinya yang berkeringat, kemudian ketika ambang pintu sel Tayuya hanya berjarak se-ibu jarinya, kakinya berhenti.
Ia melihat Tayuya disana, menyedihkan. Lambang Glastle Family telah dicopot dari lehernya, itu sudah termasuk hukumannya. Beruntung ia tidak dihukum mati. Tayuya yang biasanya mengenakan gaun yang bagus-bagus, kali ini tampil dengan gaun kumal yang tidak bisa dibedakan dengan kain lap lantai, bahkan lebih buruk. Wajahnya berminyak dan sedih. Kemudian rambutnya berantakan—menandakan kalau semalam ia tidak tidur.
Naruto menjulurkan tangannya ke dalam dan Tayuya duduk di pojokan.
"Naruto?" panggilnya. "NARUTO? Itu kamu? Kamu menepati janjimu; syukurlah!" ia tampak gusar dan berdiri mendekati Naruto, tetapi tidak mau terlalu dekat karena ia tahu kalau Naruto bakal jijik dengan penampilannya.
Naruto memasukkan kunci itu ke lubangnya kemudian ia memutarnya. Pintu tahanan itu berdecit dan menimbulkan suara 'krrreekk' saat Naruto mendorongnya.
"Ya, ini aku." Naruto mengacak rambut Pirangnya dan tidak berani menatap Tayuya yang berantakan, ia jijik dan sedikit canggung.
"Aku akan menepati janjiku juga," kata Tayuya. "Aku akan membocorkan rencana Trash."
Naruto tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya ia menutup rapat pintu tahanan di belakangnya dan mendengarkan Tayuya. "Lanjutkan," sergahnya.
Tayuya mengenyampingkan semua anak rambut yang mengganggu di wajahnya, dan ia duduk di tumpukan jerami yang basah—tempat tidurnya—kemudian ia mulai bicara.
"Karin akhir-akhir ini dekat dengan Gaara Donniels. Gaara bisa disebut sebagai pelindung kaum Trash, mungkin bisa disebut pangeran Kaum Trash." Tayuya membetulkan posisi duduknya. "Suatu malam, ketika semua penghuni Glastle sedang tidur, Karin menggunakan sihir hitam untuk memanggilku. Ia menyuruhku menjalankan misi: membunuh putri raja. Dia bilang, kaum Trash marah karena selalu menjadi kaum terbelakang yang tidak dipedulikan; dan mereka—mereka akan balas dendam pada kerajaan yang selama ini menyebut mereka penyihir siput. Mereka sudah mulai merancang pemberontakan sejak aku terpilih menjadi guardian. Mereka pikir, aku adalah jalan pintas untuk menghancurkan keluarga kerajaan."
Wajah Naruto mengeras mendengar kata-kata Tayuya, kemudian ia merasakan sesuatu yang memuakkan di perutnya, seperti habis ditonjok. Ia merasa mual dan pusing, ia merasa pusing mendengar kisah pemberontakan dan ia juga pusing kalau memikirkan adanya kemungkinan keluarga kerajaan dibunuh. Pamannya dan Imaginatio terancam. Tahu-tahu, Tayuya sudah ada di dekatnya dan berkata, "Kau tahu 'kan.. aku tidak seperti itu. Aku ini lemah, dan Karin terus mendesakku agar aku berkhianat. Tapi, aku.. aku tidak seperti begitu," rengeknya pelan dengan suara menggoda yang terbaik. Kemudian Naruto mundur menjauhinya.
"Buktikan padaku kalau kau tidak berkhianat." Kata Naruto. Kemudian Tayuya menatapnya penuh damba.
"Bukti?" Tayuya tersentak. Kemudian ia mundur, dan bediri di bagian ruangan yang terkena cahaya agar Naruto bisa melihatnya dalam terang. Ia merobek bagian bawah gaun kumalnya yang menutupi kakinya, kemudian tampaklah sayatan luka panjang, masih baru dan belum kering.
Naruto membelalak kaget, ia memang sudah sering melihat sayatan luka di medan perang, tetapi ia belum pernah melihat seorang gadis memiliki luka sepanjang itu. Sakura punya satu luka sayat besi di pahanya, tapi tidak sepanjang luka yang menempel di kaki kurus Tayuya. Luka itu memanjang dari mata kaki sampai lutut. Luka itu menganga lebar dan menjijikan.
"Ini buktinya," kata Tayuya sedih. Naruto masih tidak percaya.
"Siapa... siapa yang melukaimu?" tanya pria itu. Dan Tayuya membiarkan kedua lengannya terjuntai lemas kebawah.
"Aku, aku membuat luka ini. Sengaja untuk melindungi King." Tayuya mengakui. "Waktu itu, Felmia memaksaku menguliti King,"—Naruto bergidik—"..tapi aku tidak melakukannya. Aku menguliti sebagian kakiku dan kutunjukkan padanya di suatu malam berkabut. Aku bilang padanya kalau aku sudah menguliti King waktu ia tidur, dan Felmia percaya. Padahal itu kulit kakiku."
Naruto menguatkan hatinya, "untuk apa Felmia menyuruhmu menguliti pamanku?"
"Yah..." Tayuya merasakan sesuatu tersangkut di kerongkongannya sebelum ia berkata, "dia ingin mengujiku, menguji ketahanan hatiku dalam menyiksa dan membunuh."
"Astaga!" rutuk Naruto. "Dia kakakmu 'kan? Tapi dia kejam sekali."
Tayuya menatap dengan pandangan paling menyedihkan, "Ya. Kakakku. Kakak tiri. Kakak kandungku hanya Yure(OC), tapi Yure juga lemah saat diperintah Karin."
Karena Naruto tidak berkata apa-apa, Tayuya berkata, "Sekarang, kau percaya kan? Aku tidak berbohong."
Naruto menggeleng cepat. "Tidak, kau tidak bohong," gumamnya. "—Tayuya, kau.. kau tidak berkhianat. Maafkan aku, selama ini aku selalu menduga kalau—kalau kau pengkhianat."
Tayuya tersenyum sendu, "Hei, mau kuberitahu sesuatu, tidak?"
Naruto menatap lurus-lurus mata Tayuya, "Apa?"
"Aku menyukaimu. Lebih dari teman, Naru." Kata Tayuya.
Naruto pikir telinganya telah tersumbat sehingga dia salah dengar, "Apa?" tanyanya. "Maksudmu, aku teman baikmu?" pancing Naruto.
Tayuya mengeleng, "Tidak. Lebih dari itu."
"Kalau begitu, sahabat baik?"
Tayuya tertawa dan menggeleng. "Aku mencintaimu."
Dan Naruto bahkan tidak bisa menelan ludahnya, terjadi ledakan kecil di hati dan jantungnya. "Aku juga mencintaimu."
Sementara itu, Sakura mematung di depan pintu sel Tayuya dan mendengar pernyataan cinta itu. Tiba-tiba matanya dan mata Tayuya bertemu, cepat-cepat Sakura kabur sebelum Naruto ikut melihatnya. Tayuya tersenyum picik melihatnya.
"Apa yang kaulihat?" tanya Naruto. Tayuya mengeleng.
"Tadi ada seekor bebek kecil yang berharap menjadi kekasih pangeran." Ucapnya, meskipun Naruto tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya.
Kemudian Naruto keluar dari tempat itu sebelum matahari tenggelam, Tayuya memberi kecupan singkat dan membiarkan racunnya yang kejam menjalari hati Naruto. Saat Naruto berlalu, ia merangkak menjauh dari pintu dan melongokkan kepalanya di jendela, seorang wanita licik berwajah jahat dan penuh cemooh muncul lewat sihir hitam.
"Bagus sekali aktingmu, Tayuya. Ini baru adikku." Bisik gadis itu, terasa licin di telinga Tayuya.
"Tidak masalah bagiku, Karin-Nee."
TBC
Muahaha!
A-yo! untuk chappie kali ini Rei membantu Rui dalam pembuatan chappie ini,juga sebagai penyokong ide hahaha... thanks vroh!
okay"...untuk reviewers..trims untuk reviewnya dan Favoritenya apalagi memfollow cerita ini #nangisterharu.
okay" untuk balasan review :
Namikaze Yuli : hehehe.. still a secret Yuli-chan
Jenny eun-chan : arigatou!thanks!ganbatte for you too!
ann kei : thanks"... Rui usahakan untuk update kilat
