Naruto is Masashi Kishimoto's

.

.

.

Cerra Vige presents

Dead Akatsuki

Warning : Semi Canon, OOC, maybe typos, DLDR!

.

.

Chapter 4 : Job For the Red Haired Guy

Sakura mendapati dirinya terbangun karena panasnya udara Konoha pagi itu. Ia menyingkap selimut putihnya, lalu turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.

Ruang tamu kosong, dan terdengar suara dari arah kamar mandi.

"Sasori, cepatlaaah!" Sakura mengetuk pintu kamar mandi sambil berteriak. Terdengar sahutan dari dalam yang menandakan pemuda berambut merah di dalam mendengarnya.

Sakura duduk di sofa dengan mata setengah terpejam, lalu menghidupkan televisi di hadapannya. Semuanya berisi tentang tempat-tempat hiburan saat musim panas. Sungguh, sebenarnya ia sangat ingin pergi bersama kawan-kawannya saat ini juga. Pada saat yang bersamaan, Sasori keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk miliknya.

"Kaus, kemeja, celana pendek. Pilihan yang bagus Sasori," kata Sakura sambil berjalan masuk ke kamar mandi.

Sakura menutup dan mengunci pintu kamar mandinya. Hari kedua.

Masih ada beebrapa hari lagi sampai Sasori keluar dari apartemennya. Sakura melihat ke sekelilingnya, peralatan mandi milik Sasori sudah berjejer rapi di sebelah miliknya. Sakura menghela nafas sambil mengikat rambut panjangnya menjadi satu. Sepertinya ini akan menjadi musim panas yang panjang.

.

.

.

Sakura keluar dari kamar mandi bersamaan dengan bel yang berbunyi dari luar.

"Jangan mendekati pintu! Biar aku yang membuka." Sakura melempar handuknya kearah sofa, lalu berjalan kearah pintu dengan Sasori yang mengikutinya dari belakang karena penasaran.

Gadis itu memutar kenop pintu dan menariknya.

"Sakura, ayo ke pantai!"

Manik Sakura membelalak lebar ketika melihat Naruto, Ino, Lee dan Kiba berada di hadapannya. Mereka membawa pelampung dan masing-masing mengenakan sunglasses mereka.

Sakura melirik kecil kearah Sasori yang berada di balik pintu untuk tidak bergerak sedikit pun. Sasori hanya mengangguk dan menyilangkan telunjuk kanan dan kirinya di depan bibir.

"Ummm, kurasa tidak sekarang," jawabnya lirih.

"Kenapa Sakura-chan? Kau sakit, eh?" Naruto maju selangkah dan menempelkan tangan kanannya di dahi Sakura, "Tapi dahimu tidak panas."

"A-aku merasakan sakit di...perutku! Ya! Di perutku!" jawab Sakura sambil meremas perutnya yang dilapisi tanktop oranye.

"Kau baik-baik saja 'kan forehead? Apa kami batalkan saja acara kami kali ini?" Ino melepas sunglasses miliknya dan matanya memancarkan kekhawatiran.

"Tidak! Tidak perlu! Kalian pergi saja..."

"Tapi tidak akan ramai kalau tidak ada kau, Sakura-chan..." Kali ini Lee yang angkat bicara.

"Tak apa, kalian pergilah. Mungkin aku masih butuh istirahat," kata Sakura sambil berpura-pura meringis kesakitan.

"Baiklah, kami berangkat kalau begitu. Cepat sembuh, Sakura." Kiba membetulkan letak kacamatanya, lalu merangkul Ino dan berjalan menjauh.

"Cepat sembuh ya forehead!" Ino melambaikan tangannya yang terbebas dari genggaman Kiba.

"Ya, bersenang-senanglah!" jawab Sakura sambil balas melambaikan tangan.

Setelah memastikan kawan-kawannya turun, ia segera berbalik dan menutup pintunya.

"Nyaris saja." Sakura menenangkan dirinya sambil berjalan kembali kearah dapur.

"Kau berbohong pada kawan-kawanmu." Sasori menyeringai kecil sambil bersandar pada counter dapur.

Sakura melirik risih pada Sasori, "Jelas saja. Karena aku tidak mungkin bilang pada mereka bahwa kau ada disini."

"Tak ada yang salah dengan itu. Jujur saja kepada mereka, dan jelaskan. Selesai?" kata Sasori yang sekarang duduk sambil menonton TV.

Sakura yang sedang memotong sayur, menghentikan kegiatannya dan berbalik, "Kau kira itu mudah hah? Apa kau mau Naruto langsung melubangi perutmu saat kau berdiri di hadapannya?"

"Yayaya~ baiklah, terserah kau saja. Sekarang cepat bikin sarapan, aku lapaaar." Sasori menjatuhkan dirinya diatas sofa sambil berpura-pura mati.

Sakin kesalnya, Sakura melakukan gerakan seperti akan melempar pisau di tangannya kearah Sasori.

.

.

.

Sarapan di hari ketiga Sasori tinggal di apartemen Sakura tidak begitu baik. Sarapan mereka didominasi oleh keheningan. Hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang sesekali bertubrukan dengan piring.

Tidak tahan dengan keheningan yang mereka timbulkan sendiri, Sasori pun membuka mulutnya, "Kau kenapa sih Sakura?"

Sakura hanya melirik kecil lalu melanjutkan kegiatan memotong daging asapnya.

"Tidak. Aku tidak apa-apa."

Mendengar nada bicara Sakura yan terkesan sinis, Sasori kembali bungkam. Memilih untuk tidak memancing emosi gadis di hadapannya.

"Hei Sasori, kau ahli di bidang apa?"

Sasori berpikir sejenak, "Paling di bidang membunuh dan membuat kugutsu."

Hening.

'Keahlian tersebut tentu tidak bermanfaat,' pikir Sakura. Gadis berambut pink ini sedang berpikir untuk mencarikan Sasori sebuah pekerjaan. Dan setelah itu, menendang pemuda ini keluar dari apartemennya.

"Nanti sore kita akan mencari pekerjaan," kata Sakura sambil menyendok kuah supnya.

"Untuk siapa? Untukmu?" Sasori bertanya dengan mulut penuh makanan.

"Tentu saja untukmu, bodoh. Kau harus bekerja, mendapatkan uang, lalu menyewa apartemen lain dan keluar dari sini."

Sasori hanya mengangguk-angguk setuju sambil tetap mengunyah sup daging dengan bumbu kari buatan Sakura.

Sakura sendiri sedang berpikir tentang pekerjaan apa yang cocok untuk mantan ninja kelas S seperti Sasori. Ia mengurut dahi, dan menepuknya.

"Sebelum mecari kerja, kita harus ke suatu tempat dulu. Cepat habiskan makananmu!"

.

.

.

Dan disinilah mereka berada, di depan Kantor Hokage. Untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, warga Konoha harus terlebih dahulu melapor kepada sang Hokage. Sakura pun akhirnya mengambil keputusan untuk mengakui keberadaan Sasori kepada senseinya yang satu ini, untuk mempermudah akses pemuda di sebelahnya dalam berkehidupan di Konoha.

"Kalau aku masih jadi anggota Akatsuki, aku akan menghancurkan gedung ini sekarang juga hahaha." Mata hazel Sasori yang tertutupi kacamata bening mengitari seluruh gedung tempat Hokage tinggal dan menjalankan tugasnya tersebut.

Sakura mendelik tidak suka kearah Sasori, "Itu tidak lucu Sasori."

Perlahan Sasori berhenti tertawa sambil menggumamkan kata 'maaf' dan berjalan mengikuti Sakura untuk masuk kedalam gedung di hadapannya ini.

Tanpa butuh waktu lama, merek sudah tiba di depan ruangan kepala desa Konoha. Sakura menelan ludah, walaupun ia sudah terlebih dahulu memberi tahu tentang Sasori kepada atasannya itu, tetap saja reaksi yang diberikannya tidak dapat ditebak.

Sasori yang melihat wajah Sakura berubah pucat, menyentuh dahi gadis disampingnya, "Kau tidak apa-apa, Sakura?"

"Aku tidak apa-apa Sasori," jawab Sakura sambil tersenyum tipis.

Sakura pun mengetuk pintu uangan atasannya tersebut. Setelah mendengar kata 'masuk', ia dan Sasori melangkahkan kaki mereka kedalam ruangan. Mata Sakura langsung melihat kearah Tsunade dan Shizune yang sedang menatap Sasori dengan pandangan kaget.

Tsunade membenahi posisi duduknya, "Heh, kini aku sudah percaya karena sudah kulihat dengan mataku sendiri," ia bangun lalu mengulurkan tangan kanannya, "Selamat datang di Konoha, Akasuna no Sasori."

Sakura mengelus dadanya setelah mendengar reaksi atasannya terhadap Sasori.

Sasori tersenyum lalu berjalan mendekat, "Ya, terima kasih Nona Tsunade. Aku datang kesini dengan tujuan damai!" katanya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Tsunade sweatdrop. Shizune pun sweatdrop.

Sakura hanya menggerakan jari telunjuknya secara vertikal, seperti bilang 'Ia gila sensei! Abaikan saja!'

"Ahaha iya, selamat datang Sasori!" Tsunade ikut-ikutan membentuk tanda peace dengan kedua jarinya.

Sakura dan Shizune menepuk dahi mereka secara bersamaan.

"Jadi, ada apa kalian kemari?" tanya Tsunade yang sekarang sudah duduk bersandar di kursi kebanggaannya.

"Aku ingin mencarikannya pekerjaan sensei, agar ia cepat keluar dari apartemenku." Sakura menjelaskan kronologi dari Sasori sadar di depan apartemennya, ketika ia belanja, dan akhirnya sampai disini.

"Apakah kau sudah bertemu dengan beberapa ninja disini, Sasori?" Tanya Tsunade.

"Kebetulan belum. Entahlah, aku tidak melihat mereka berlalu lalang disini," jawab Sasori sambil memainkan lengan kemeja merahnya.

"Ya sebagian sedang kukirim untuk misi, dan sebagian lagi kukirim berlibur."

"Aku juga seharusnya sedang berlibur sensei, tapi gara-gara manusia ini aku jadi tidak bisa berlibur." Geram Sakura sambil melirik kearah Sasori.

"Kenapa jadi menyalahkanku? Kalau mau liburan, ya liburan saja sana," kata Sasori sambil menggerutu kesal.

"Iya, tentu saja! Aku liburan, lalu ketika kembali apartemenku sudah hancur berantakan. Hah, hebat sekali Sasori," ujar Sakura dengan nada sarkasme.

Sebelum Sasori sempat membuka mulut, Tsunade terlebih dahulu menyela pertengkaran mereka.

"Hei hei, sudahlah! Hentikan pertengkaran ala pasangan seperti ini!"

"Kami bukan pasangan!" Bentak Sasori dan Sakura secara bersamaan.

"Ehm, baiklah. Akan aku buatkan surat izin bekerja untukmu Sasori. Dan Shizune, tolong lerai mereka jika mulai bertengkar lagi," perintah Tsunade kepada asistennya yang langsung disambut dengan suka hati.

Tsunade mengeluarkan gulungan dari dalam laci kerjanya, lalu menuliskan sesuatu dan mengecapnya dengan stempel Hokage. Ia membaca ulang, lalu menyerahkannya ke Sasori.

"Ini, sekarang kau sudah mencari kerja. Sekaranng cepat kalian pergi dari kantorku, aku ingin minum sake! Shoo~" Tsunade mengusir mereka dari ruangannya, dan setelah berterima kasih, mereka pun langsung berlari keluar.

"Shizune."

"Ya, Nona?"

"Apa kau tidak penasaran dengan mereka?" mata Tsunade berkilat penasaran.

"Errr...sebenarnya iya."

"Hohoho...apa Ino sudah tahu ya?"

.

.

.

Sasori dan Sakura sedang berjalan di daerah pertokoan Konoha. Mungkin dengan Sasori yang mengenakan kaus hitam, kemeja merah dan celana hitam selutut tak akan ada yang mengira bahwa pemuda ini merupakan mantan anggota dari organisasi paling berbahaya di dunia ninja, Akatsuki.

Sakura yang hari ini mengenakan dress putih tanpa lengan,mempercepat langkahnya. "Bagaimana kalau kita makan siang dulu Sasori? Aku lapar sekali," kata Sakura yang hanya ditanggapi dengan anggukan antusias dari Sasori.

Mata Sakura langsung berkliat senang ketika melihat papan nama dari kedai kesukaannya berada tidak jauh dari mereka, ia pun menarik lengan Sasori untuk memepercepat langkahnya dan masuk ke dalam kedai tersebut.

Sakura menyingkap kain yang menjadi pintu masuk dari kedai itu, "Konnichiwa paman!"

Sasori memperhatikan interior kedai yang ia sambangi kali ini, sederhana tapi nyaman. Tidak panas, karena kedai ini memiliki banyak ventilasi. Ada banyak kursi, dari kursi makan seperti biasa dan juga kursi seperti di bar, yang langsung menghadap kearah dapur. Dan kedai ini cukup ramai, ada sekitar enam sampai tujuh orang yang sedang makan di kedai kesukaan Sakura ini.

Ia dan Sakura langsung duduk di kursi bar yang langsung menghadap dapur.

"Paman, aku mau Tempura ya! Kau mau apa Sasori?"

Sasori melihat ke daftar menu yang tergantung di dinding sambil mengangguk-angguk, "Aku mau teppaniyaki saja. Dan ocha."

"Dua ocha, satu teppaniyaki dan satu tempura ya paman!" Sakura berteriak kepada laki-laki yang sedang memasak di dapur, dan mendapat jawaban berupa acungan jempol.

Tak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba. Asap dan wanginya langsung menyeruak dari kedua hidangan tersebut.

"Hm, itadakimasu!" Sakura membersihkan sumpit yang akan ia gunakan, dan mengambil sebuah tempura di piringnya.

"Tetap enak seperti biasa paman!"

"Hoho terima kasih Sakura," jawab Kojiro, si pemilik kedai.

"Apa paman bekerja sendirian disini?" Sasori bertanya sambil mengunyah makanannya.

Kojiro yang sedang menuang ocha, menolehkan kepalanya.

"Ah, sebenarnya putraku juga membantu. Tapi aku masih tetap saja kerepotan," katanya sambil menggaruk rambutnya yang sudah memutih.

"Bagaimana kalau temanku ini bekerja untukmu paman? Dia sedang mencari pekerjaan," jawab Sakura antusias sambil menunjuk Sasori.

Mata Kojiro meneliti penampilan Sasori, "Apakah kau punya surat izin kerja dari Nona Tsunade?"

"Tentu saja punya. Ini," jawabnya sambil menyerahkan gulungan yang tadi diberikan Tsunade kepadanya.

Kojiro menerima gulungan tersebut dan mulai membaca, matanya bergerak ke kanan dan kiri, menjelajahi isi gulungan tersebut.

"Oh rupanya kau dari Suna?"

Sasori mengangguk, "Iya paman. Jadi bagaimana?"

Kojiro menutup gulungan tersebut dan memberikannya pada Sasori, "Baiklah nak, kau diterima! Kau bisa bekerja mulai besok. Kurasa dengan tampangmu itu kau bisa menjaring banyak pelanggan, hahaha!" kata Kojiro sambil menepuk pundak Sasori.

Mata Sasori berbinar senang, "Siap kapten!"

Tangan Sasori membentuk tanda hormat kepada atasannya. Dan Sakura hanya tertawa kecil melihat tingkah dua orang disampingnya.

Dan, entahlah. Sakura merasa senang, namun juga merasa kesepian bahwa pemuda disebelahnya sudah menemukan kesibukan lain.

TBC -

Thanks to

Deidei Rinnepero13, suzanessa, Hikaru Kin, UzUchiHaru Michiyo, My Heart Is Belong To You, Andromeda no Rei, SoraMaria, Kim Yongra, yolachan, Purnama. Thanks guys for reading and review :D

A/N

Oke maaf ya kalo saya lama banget updatenya hehehe ^^ so..mind to review? Don't be a silent readers!

Oh iya, saya mau nanya. Menurut kalian saya kurang nge deskrip si Sasori ga? Tolong jawab yaaa karena saya butuh masukan ^^