Cerita Sebelumnya.

"Ja-jahat." Ucap Hinata sambil mendorong bahu kanan Naruto yang terluka.

"I-ittaiii." Pekik Naruto kesakitan dan kali ini tidak berpura-pura.

"Rasakan." Ucap Hinata memalingkan wajah lalu mengembungkan pipinya.

Setelah terpekik kesakitan yang tidak berpura-pura Naruto melihat kearah Hinata yang memalingkan wajah sambil mengembungkan pipinya.

Tanpa sadar tangan kanan Naruto tergerak menuju pipi Hinata lalu mencubitnya.

"Jika mengembung seperti ini lucu sekali. Hehehe." Ucap Naruto lalu terkekeh.

Hinata menoleh kearah Naruto yang terkekeh.

'Naruto-kun…Namikaze Naruto-kun…' Batin Hinata.

.

White Heart

Disclaimer:Masashi Kishimoto

Story:Baka DimDim

Warning:AU,OOC,Typo,No EYD,Pasaran,Abal,Maksa,VIOLENCE. dll.

Rate:M

Genre:Crime /Romance

.

"Jika mengembung seperti ini lucu sekali. Hehehe." Ucap Naruto lalu terkekeh. Lalu mengoyangkan tangannya yang tengah mencubit pipi Hinata.

Hinata POV.

Naruto-kun…Namikaze Naruto-kun… Di-dia sangat mengeingatkanku pada Naruto-kun teman semasa kecilku.

I-ini seperti Déjà vu.

Flashback.

Aku kini sedang berada ditaman bermain dekat sekolahku, masih dengan seragam sekolah langkap yang menempel ditubuhku.

Seperti biasa aku sedang sendirian duduk di sebuah ayunan sambil negingat seorang anak laki-laki yang menolongku saat aku diganggu beberapa anak nakal setahun lalu.

Mengingatnya… membuat kedua pipiku merona. Dia sangat baik, ceria dan sangat ramah. Tanpa sadar saat aku melihatnya aku selalu membuntutinya. Tentunya tanpa katahuan olehnya.

Terkadang saat aku bersamanya aku merasa terhanyut oleh kedua matanya yang berwarna biru seperti langit dan terkadang aku berpikir apakah aku menyukainya? Apakah ini cinta pertamaku yang terjadi di usiaku yang belum genap 10 tahun?

Cinta pertama?

Mengingat wajahnya saat tersenyum membuat jantungku berdebar cepat.

Tak terasa kedua pipiku kembali merona.

Aku menatap kearah langit cerah yang sewarna dengan matanya dengan kedua pipiku yang merona.

Sreekk.

Sebuah suara dibelakangku mengintrupsi kegiatanku yang menatap langit lalu aku sedikit memutar tubuhku dan tidak menemukan sumber suara itu. Aku kembali meluruskan tubuhku yang sebelumnya sedikit berputar…

"Hallo Hinata-chan!"

Wajahku merona… Wajah Naruto-kun sangat dekat…

"KYAAAA…"

Brukk

Aku melihatnya sangat dekat hingga aku terjatuh kebelakang.

"Hinata-chan! Hehehe. Gomen, mengejutkanmu." Ucapnya lalu terkekeh melihatku terjungkal kebelakang.

"Na-naruto-kun?" Aku mendadak gugup. Seseorang yang sedari tadi menjadi fokus utama pikiranku kini berada tepat di depanku.

Dia membantuku berdiri dengan menarik tanganku tanpa memberi isyarat ingin membantu.

Dengan gugup aku berdiri lalu sedikit menunduk untuk menyembunyikan kedua pipiku yang merona ini.

"Na-naruto-kun sedang apa?" Aku sedikit mengangkat wajahku lalu melihat Naruto-kun yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap yang berbeda simbol sekolah dengan seragam yang aku kenakan saat ini.

"Aku selalu lewat sini bila pulang sekolah, Hinata-chan. Masa Hinata-chan lupa, kan Hinata-chan sering mengikutiku." Ucap Naruto-kun lalu tersenyum lebar.

Sontak wajahku semakin memerah. Ia mengetahui aku sering mengikutinya. Oh Kami-sama…

"Kenapa Hinata-chan sendirian? Apa Hinata-chan diganggu anak-anak nakal itu lagi?" Ucap Naruto-kun dengan nada dan raut wajah khawatir.

"Ti-tidak, a-aku hanya sedang ingin main ketaman i-ini, Na-naruto-kun." Ucapku terbata sambil sedikit menunduk.

"Begitu. Hehehe. Tadi Hinata-chan lucu sekali saat terjatuh." Ucap Naruto-kun sambil tersenyum lebar.

"Mou Naruto-kun jahat mengejutkanku seperti tadi." Ucapku memalingkan wajah dengan kedua pipiku yang mengembung.

"Hehehe. Gomen ne Hinata. Jangan marah ya." Aku mendengar suara Naruto-kun yang memintaku untuk tidak marah, namun aku memutuskan untuk pura-pura marah padanya.

Jujur saja aku tidak marah namun saat aku melihat wajahnya yang begitu dekat membuat jantungku berdebar cepat dan semakin berdebar karena keterkejutanku melihat wajah seseorang yang menjadi fokus pikiranku sebelumnya berada dekat… Sangat dekat…

"Huh." Gumamku masih mengembungkan kedua pipiku.

Aku merasakan ada sesuatu yang mencubit pipi kiriku. Aku pun mengarahkan pandanganku padanya yang sedang tersenyum.

"Jika mengembung seperti ini lucu sekali. Hehehe." Ucap Naruto-kun lalu terkekeh. Kedua pipiku semakin merona karena Naruto-kun menyebut diriku lucu.

"Apalagi jika pipi ini merona seperti ini. Menjadi semakin lucu." Ucap Naruto-kun sambil menggoyangkan tangannya yang tengah mencubit pipiku.

Flashback End.

Bu-bukan, ini bukan Déjà vu. Naruto-kun yang tengah mencubit pipiku sangat mengingatkanku pada Naruto-kun yang berada di masa laluku.

"…ta, Hinata…" Suara dan gerakan tangan Naruto-kun pada pipiku yang mesih dicubitnya mengintrupsi pikiranku.

"Eh. Ti-tidak apa." Ucapku lalu sedikit menunduk.

Bersamanya yang sangat mirip dengan seseorang dimasa kecilku membuatku merasakan sesuatu yang sama seperti dulu dimana jantungku selalu berdebar.

"Kalu begitu makanlah, Hinata." Ucap Naruto-kun sambil membelai pipiku dengan lembut.

"Uhm. A-ayo ki-kita makan, Na-naruto-kun." Ucapku terbata sambil menunduk. Aku sadar pasti kedua pipiku ini tengah merona ria.

Hinata POV. End.

Setelah selesai dengan makan malamnya mereka kini tengah menonton televisi. Bukan. Bukan mereka tetapi hanya si gadis yang tengah menonton dan si laki-laki hanya terfokus pada ponsel yang sedang di genggamnya. Duduk disebuah sofa yang tidak terlalu besar, menghadap pada televisi yang tengah menayangkan sebuah dorama yang menceritakan seorang laki-laki yang berprofesi sebagai IT disebuah istana kepresidenan yang berlagak tidak bisa bela diri namun dibalik itu laki-laki itu merupakan alat yang digunakan oleh ayah angkatnya untuk membalas dendam pada pemerintahan.

"Hiks… Hiks… Hiks…" Hinata menaings terharu melihat adegan romantis yang mengharukan pada dorama yang sedang ia tonton.

Naruto menoleh kearah Hinata lalu menoleh kearah televisi yang sedang menayangkan sebuah dorama.

'Apa setiap gadis selalu terharu pada sebuah adegan romantis?' Batin Naruto.

Drtt Drtt Drtt.

Ponsel yang berada di genggaman tangan Naruto bergetar.

'Karin?'

'Lusa jam 8 malam kita bertemu di restoran Nadeshiko di Shizuoka. Bawa gadis Hyuga itu bersamamu.'

'Kenapa mendadak seperti ini?'

Pagi hari. Terlihat seorang laki-laki yang mengenakan sebuah jaket sport berwarna hitam dan jeans panjang berwarna biru donker tengah berdiri tenang dengan sebuah senyum terpatri di wajahnya. Mata birunya memandang kearah seorang gadis yang tengah berlari berputar-putar dengan bahagia di sebuah tanah lapang di kaki gunung. Gadis itu tersenyum manis, gadis dengan sebuah kaus berlengan panjang berwarna pink dan celana jeans panjang berwarna hitam itu berlari seperti anak kecil.

"Wah… udaranya sejuk, Naruto-kun." Ucap Hinata sambil berlarian seperti anak kecil. Sedangkan Naruto hanya memandang kearah Hinata dengan senyum tipis.

Kini mereka berada di kaki gunung Fuji menikmati pemandangan alam.

"Apa kau senang bisa mengunjungi tempat ini?" Tanya Naruto setelah menghampiri Hinata.

"Uhm. Aku senang, Naruto-kun. Ini pertama kalinya aku berada di kaki gunung Fuji." Ucap Hinata dengan senyum manis di wajahnya.

"Selama ini kemana kau pergi berlibur, Hinata?" Tanya Naruto. Wajah Hinata berubah sendu mendengar pertanyaan Naruto. Ia kembali teringat mendiang ayahnya.

"Maaf, sepertinya pertanyaanku membuatmu sedih." Tanya Naruto sambil mengelus puncak kepala Hinata.

"Tidak apa Naruto-kun. Saat libur panjang, aku selalu pergi bersama Tou-sama menuju tempat-tempat yang bernuansa alam seperti tempat ini, tapi ini pertama kalinya aku pergi ke gunung Fuji." Ucap Hinata dengan raut wajah sendu.

"Jangan kau ceritakan lagi. Itu akan membuatmu sedih." Ucap Naruto kembali mengelus puncak kepala Hinata.

"Uhm. Arigato Naruto-kun." Ucap Hinata. Naruto menunjukkan ekspresi bingung.

"Untuk apa?" Tanya Naruto.

"Telah mengajakku ke tempat ini." Ucap Hinata dengan sedikit senyum.

"Aa. Selama tempat itu menurutku aman untukmu." Ucap Naruto dengan senyum tipis.

Hinata mengangguk dan tersenyum pada Naruto.

Slebb

Sebuah suara peluru yang mengenai tanah membalikkan ekspresi wajah Naruto.

"HINATA! LARI!" Teriak Naruto sambil menarik tangan Hinata.

Slebb

Terdengar kembali suara peluru yang mengenai tanah.

"Lari menuju balik pohon itu!" Ucap Naruto cepat sambil menunjuk sebuah pohon besar yang tidak jauh dari lokasi mereka.

'Cih! Bagaimana mereka bisa menemukan kami?' Batin Naruto.

"Jangan pergi sebelum aku memberi perintah. Tetap sembunyi disini." Ucap Naruto.

"Ta-tapi apa yang akan Naruto-kun lakukan?" Ucap Hinata ketakutan.

"Aku akan mengalihkan perhatian mereka." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Ta-tapi Naru–" Ucapan Hinata terpotong kala dengan cepat Naruto memegang dagu Hinata lalu mencium keningnya.

"Dengarkan printahku. Okay." Ucap Naruto dengan tenang dan sebuah senyum hangat.

Naruto pergi mencari asal dari tembakan itu dengan bersembunyi dibalik pohon lalu bergerak dari balik sebuah pohon ke pohon lain untuk mempertipis jarak. Mengeluarkan sebuah pistol Desert Eagle dari holster yang berada dibalik jaket hitamnya lalu menonaktifkan pengaman pistol itu.

'Cih! Dimana posisi mereka?' Seketika Naruto menyeringai melihat sedikit pergrakan dari sebuah semak-semak berjarak sekitar 200 meter dari posisinya. Masih dengan posisi bersembunyi ia mengambil sebuah teropong kecil dari sakunya lalu dengan tangan kiri ia menggunakan teropong itu untuk melihat kearah semak-semak yang mencurigakan itu.

'Ketemu! Ia sedang mencari keberadaanku dan Hinata.'

Naruto melihat seseorang bersurai pirang itu sedang mencari sesuatu dengan teropong yang berada di senapannya.

Naruto POV.

Ketemu!

Dengan tropong kecil berada dimata kiriku aku melihatnya. Seorang pria bersurai pirang dengan pakaian hitam tengah bertiarap dengan sebuah senapan laras panjang berada di depannya.

Deidara. Satu-satunya anggota Akatsuki yang memiliki rambut pirang.

Aku mengarahkan pistolku pada semak-semak yang cukup jauh itu tanpa melepas pandanganku melalui teropong kecil yang tengah aku gunakan untuk melihat kearah semak-semak itu. Tanpa menutup mata kananku yang tidak menggunakan teropong.

Mungkin ini akan menjadi pembunuhan pertama untukku pada anggota Akatsuki.

DOR!

"ARGGH!"

Sepertinya tembakanku tidak membunuhnya.

Setelah melakukan tembakan aku segera berlari menuju sasaran tembakku. Ada seorang lainnnya tengah berdiri di belakang Deidara. Aku bersembunyi dibalik pohon.

Siapa dia? Aku melihat seorang laki-laki tinggi tegak berkulit putih dengan surai hitam panjang dan pakaian serba hitam. Dia? Aku mengingat kembali daftar dari anggota Akatsuki.

Mungkin ini hari sialku bertemu 2 anggota Akatsuki secara bersamaan.

Uchiha Itachi.

"Anbu, termuda dari cabang Amerika. Putra tunggal Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Bukan begitu? Namikaze Naruto. Keluarlah." Ucapnya datar dengan pandangan tanpa ekspresi menatap Deidara yang sedang memegang bahu kanannya yang tertembak olehku.

"Hei Itachi, kau mengenalnya?" Tanya Deidara sambil memegang bahunya.

"Hei brengsek keluar kau. Akan aku bunuh kau!" Ucap Deidara sambil menatap tajam pohon tempatku bersembunyi.

Akupun keluar dari persembunyianku.

Naruto POV. End

"Anggota Anbu dengan poin lulus tertinggi kini menjadi anggota Akatsuki. Bukan begitu? Uchiha Itachi." Ucap Naruto datar dan pandangan penuh emosi.

Mereka saling menatap dengan tatapan yang berbeda. Tatapan datar tanpa ekspresi terpancar dari mata sewarna onyx Itachi dan tatapan penuh emosi terpancar dari mata sewarna batu sapphire milik Naruto.

"Pergilah." Ucap Itachi.

"Apa yang kau bilang, Itachi!? Tembak dia Itachi!" Ucap Deidara emosi.

DOR!

Dengan sekejap mata Itachi menembak kepala Deidara.

'Apa yang dia lakukan?' Batin Naruto.

"Sebenarnya apa tujuanmu?" Tanya Naruto.

"Seseorang bernama Tobi yang menjalankan perintah dari client Akatsuki untuk membunuh kedua orang tuamu. Seseorang yang sebenarnya menjadi pemimpin Akatsuki. Pergilah." Ucap Itachi datar lalu mengambil senapan yang digunakan Deidara dan pergi.

Naruto terdiam mematung mendengar ucapan Itachi.

'Tobi, seorang pria misterius dengan topeng yang setia bertengger diwajahnya. Apakah aku harus percaya padanya?' Batin Naruto.

'Hinata!'

Teringat sesuatu membuat Naruto terkejut. Naruto langsung berlari cepat menuju Hinata.

Naruto melihat Hinata yang duduk bersandar pada pohon sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutunya.

"Hinata." Ucap Naruto pelan sambil memegang bahu kedua Hinata. Hinata mengangkat wajahnya dan menunjukan wajahnya yang basah dengan air mata. Naruto berlutut untuk menyamakan tingginya.

"Hinata!" Ucap Naruto lalu langsung menarik Hinata dalam dekapannya.

"Naruto-kun aku takut." Ucap Hinata dalam dekapan Naruto sambil mencengkram erat jaket Naruto pada kedua pinggangnya. Naruto mempererat dekapannya pada Hinata.

"Tenanglah. Kau sudah aman." Ucap Naruto sambil mengelus puncak kepala Hinata.

Naruto merasakan Hinata mengangguk dalam dekapannya. Perlahan Naruto melepas dekapannya lalu membingkai wajah Hinata dengan kedua telapak tangannya kemudian menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Hinata.

"Jangan menangis lagi ya." Ucap Naruto lembut setelah menghapus air mata di kedua pipi Hinata.

"Apa Naruto-kun terluka? Dan aku mohon Naruto-kun jangan menyembunyikannya lagi seperti sebelumnya bila Naruto-kun terluka." Ucap Hinata pelan dengan suara serak dan raut wajah khawatir.

"Arigato telah mengkhawatirkanku. Aku tidak terluka, tidak sedikitpun Hinata." Ucap Naruto dengan senyum hangat lalu merapihkan poni Hinata yang berantakan.

"Kita pergi dari area ini." Ucap Naruto lalu membantu Hinata untuk berdiri.

Keadaan hening dalam sebuah mobil Honda Accord berwarna biru. Seorang laki-laki bersurai pirang mengemudikan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang dan kursi sebelahnya terdapat seorang gadis yang menatap jalanan. Dari raut wajah sang gadis dapat dipastikan bahwa sang gadis tengah memikirkan sesuatu.

"Hinata."

"A-ada apa Naruto-kun?" Tanya Hinata yang namanya disebut.

"Kenapa melamun?" Tanya Naruto sambil mengemudi.

"A-ano, ti-tidak apa Naruto-kun." Ucap Hinata sambil memaksakan senyum.

Naruto menghembuskan nafasnya.

"Jujurlah Hinata." Ucap Naruto sambil sedikit memandang Hinata.

"A-aku punya permintaan." Ucap Hinata sambil menunduk. Naruto diam namun ia menunggu apa yang akan Hinata katakan.

"Bo-bolehkah a-aku menemui Imotoku di Kyoto, Na-naruto-kun. A-aku ha-hanya ingin melihatnya se-secara langsung. A-aku khawatir dengan keadaannya." Ucap Hinata pelan.

Naruto yang mendengarnya sedikit tersenyum. Ia tidak langsung menjawab permintaan Hinata.

"Ka-kalau ti-tidak–"

"Lusa kita akan ke Kyoto." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Besok kita akan menemui atasanku di Shizuoka jam 8 malam. Lalu setelah itu kita akan langsung pergi ke Kyoto untuk menemui Imotomu Hinata." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Arigato, Naruto-kun." Ucap Hinata dengan senyum manis.

Sudah cukup lama mereka berada di dalam mobil yang terus membelah jalanan yang cukup padat.

"Sebaiknya beristirahatlah. Naruto-kun sudah hampir 5 jam mengemudikan mobil." Ucap Hinata khawatir. Ia memperhatikan waktu sejak mereka pergi dari kawasan Gunung Fuji. Lalu karena jalanan yang cukup padat dengan kendaraan sehingga membuat perjalanan menuju Shizuoka dengan mobil memakan banyak waktu.

"Baiklah. Kita juga harus mencari tempat untuk bermalam 'kan." Ucap Naruto. Ia menepikan mobilnya kesebuah hotel yang tidak terlalu mewah.

"Naruto-kun." Panggil Hinata. Saat mobil yang Naruto kemudikan masuk kedalam parkiran hotel.

"Ya?" Sahut Naruto lalu menoleh kearah Hinata.

"Ke-kenapa Naruto-kun me-memilih pe-pekerjaan seperti ini?" Tanya Hinata ragu-ragu.

"Hmm… Nanti akan aku jawab semua pertanyaanmu. Kita harus istirahat." Ucap Naruto lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hinata.

Naruto dan Hinata berjalan menuju kamar yang akan di tempati mereka. Saat perjalanan menuju kamar mereka Naruto menggerutu tidak jelas pada hotel tempat mereka bermalam malam ini.

"Apa-apaan. Hotel sebesar ini tidak memiliki kamar dengan 2 ranjang." Gerutu Naruto.

"Su-sudahlah, Naruto-kun. Bi-biar aku yang tidur di sofa nanti." Ucap Hinata solah mengerti kalau Naruto kurang nyaman bila tidur disofa lantaran pagi ini Hinata melihat Naruto yang merenggangkan punggungnya yang pegal-pegal.

"Ti-tidak Hinata. Tidak apa." Ucap Naruto cepat.

"Tapi–"

Kryuuk

Sebuah suara asing menghentikan ucapan Hinata. Sontak Hinata melihat kearah perut Naruto.

"Hehehe. Sebaiknya berdebat masalah tidur nanti saja. Perutku sudah mulai protes." Ucap Naruto dengan sedikit merona malu.

"Hihihi. Iya-iya." Ucap Hinata sambil terkikik geli dengan sikap Naruto yang malu ketahuan perutnya bersuara protes.

Setelah berada di kamar mereka, mereka bergantian memakai kamar mandi untuk membersihkan diri.

Kini mereka berada disebuah restoran yang berada di hotel tempat mereka bermalam. Terlihat Hinata yang mengenakan pakaian casual dengan atasan berwarna abu-abu bergambar panda berlengan pendek dan bawahan sebuah celana berwarna hitam panjang. Tengah memanggang beberapa potong daging. Lalu terlihat Naruto yang juga mengenakan pakaian casual dengan kaos berwarna oranye bergambar rubah berwarna cokelat kemerahan dengan ekor yang berkibar sebanyak 9 dan sebuah celana jeans panjang berwarna biru.

"I-ini Naruto-kun." Ucap Hinata memberikan sepiring yakiniku yang telah Hinata panggang untuk Naruto.

"Terimakasih." Ucap Naruto menerima piring berisi yakiniku dari Hinata. Hinata tersenyum dan mengangguk.

Mereka makan dengan tenang dan sesekali mengobrol dan tertawa menyenangkan seolah melupakan kejadian menegangkan pagi tadi. Setelah makan malam yang menyenangkan mereka bergegas menuju kamar mereka untuk segera beristirahat. Naruto yang masih mengingat bahwa ia memiliki hutang jawaban pada Hinata berinisiatif untuk menjawab.

Kini mereka tengah duduk berdua disofa yang menghadap televisi yang sedang menayangkan sebuah dorama yang Hinata tonton di malam sebelumnya.

"Hinata apa kau masih ingat bahwa aku memiliki hutang jawaban saat di parkiran tadi?" Ucap Naruto. Hinata menoleh kearah Naruto.

"Uhm." Gumam Hinata setelah menoleh kearah Naruto.

"Aku memiliki 2 alasan untuk menjadi Anbu. Pertama karena dengan ini aku bisa mencari tahu siapa orang yang menyewa Akatsuki untuk membunuh kedua orang tuaku. Kedua karena aku juga ingin berperan untuk negara ini untuk menghentikan tindakan yang merugikan negara ini meski hanya sementara karena tidak lama lagi aku akan berhenti dan meneruskan apa yang menjadi tanggung jawabku." Ucap Naruto menjelaskan.

"Tanggung jawab Naruto-kun?" Ucap Hinata bingung.

"Itu ra-ha-sia. Kau akan tahu setelah ini berakhir." Ucap Naruto sambil tersenyum. Namun Hinata terlihat masih memiliki pertanyaan lain.

"Apa kau khawatir dengan situasi yang sekarang ini?" Tanya Naruto pelan seolah bisa membaca pikiran Hinata.

"A-aku takut bila seperti i-ini. A-aku tidak ingin Naruto-kun terluka karena me-melindungiku." Ucap Hinata sedikit menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai menggenang karena air mata.

Naruto melihat Hinata seperti itu mendekat kearah Hinata lalu menarik Hinata kedalam dekapannya. Mendekap erat dan mengelus punggung Hinata untuk menenangkannya.

"Aku lebih takut bila kau yang terluka, Hinata." Ucap Naruto membisik di telinga kiri Hinata.

"Ke-kenapa? Ke-kenapa Naruto-kun ma-mau melindungiku?" Ucap Hinata dengan suara bergetar.

Naruto melepas dekapannya pada Hinata lalu membingkai wajah Hinata dengan kedua telapak tangannya. Menghapus jejak air mata di wajah Hinata. Dengan jarak antara wajah Hinata dan Naruto yang tidak sampai 30 cm. Naruto menatap mata Hinata yang agak sembab dan begitu pula dengan Hinata yang menatap mata Naruto. Sapphire dan Amethyst yang saling menatap dengan keindahannya.

"Aku tidak tahu. Saat bersamamu aku merasa nyaman. Aku merasa seolah aku tidak memiliki beban berat seperti yang selama bertahun-tahun ini aku rasakan..." Ucap Naruto pelan sambil tersenyum hangat.

Hinata yang melihat senyuman dan ucapan Naruto hanya terdiam dan meresapi ucapan Naruto dengan jantungnya yang berdebar-debar.

"… Dan yang aku tahu kau lebih dari sangat berharga untukku." Ucap Naruto. Naruto mempersempit jarak anatra wajahnya dan wajah Hinata hingga kening mereka bersentuhan. Naruto dan Hinata bisa merasakan hangat hembusan nafas mereka masing-masing.

"Tutup matamu… Hinata-chan..." Lirih suara Naruto.

Hinata menutup matanya seperti apa yang Naruto ucapkan. Ia sadar bahwa Naruto memanggilnya dengan suffix 'chan' pada namanya. Namun Hinata mengacuhkan kesadarannya itu.

Perlahan Hinata dapat merasakan hidungnya bersentuhan dengan hidung Naruto dan beberapa detik kemudian Hinata merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Hinata sempat menegang saat ia merasakan bibirnya tersentuh oleh sesuatu yang hangat.

"Naruto-kun menciumku?" Batin Hinata.

Naruto menutup matanya. Ia mencium Hinata dengan lembut tepat dibibirnya. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya mengikuti apa yang sesuatu yang bukan dari logikanya inginkan.

Beberapa detik kemudian Naruto melumat bibir Hinata dengan perlahan dan lembut tanpa nafsu untuk menuntut. Ia merasakan Hinata mulai membalas lumatan dibibirnya. Tak ada permaian lidah hanya ada lumatan dan kecupan yang saling menghangatkan perasaan masing-masing.

Naruto dan Hinata merasakan ada sesuatu yang berada didalam perut mereka yang menggelitik. Sesuatu yang tidak menyakitkan. Sesuatu yang dapat dirasakan bila seorang manusia tengah mendapatkan atau mengalami sesuatu yang membahagiakan... sangat membahagiakan.

Tak lama lumatan dan kecupan yang saling menghangatkan perasaan itu terhenti. Naruto menyentuhkan kembali keningnya dengan kening Hinata. Ia perlahan membuka matanya dan melihat mata Hinata yang masih menutup.

"Bukalah... Matamu... Hinata-chan." Ucap Naruto lirih.

Perlahan Hinata membuka matanya dan menampilkan pancaran mata beriris Amethyst yang indah. Amethyst itu kembali menatap Sapphire.

Naruto tersenyum hangat dengan sedikit rona merah di kedua pipinya begitu pula Hinata. Memang Hinata adalah gadis pemalu namun pancaran mata Sapphire Naruto seolah menenangkannya dari rasa malu dan gugup.

"Kau merasakannya… Hinata-chan?" Ucap Naruto sambil tersenyum hangat.

"A-aku merasakannya Naruto-kun." Jawab Hinata pelan.

"Itulah perasaan yang aku rasakan padamu yang membuatku tak ingin kau terluka. Kau lebih dari sangat berharga untukku." Ucap Naruto lalu menarik Hinata dalam dekapannya dan Hinata yang perlahan mengangkat kedua tangannya untuk melingkari tubuh Naruto ia merasakan bahwa Naruto juga berdebar tepat dijantungnya.

"Naruto-kun juga berdebar sepertiku..." Batin Hinata.

Cukupa lama mereka saling mendekap Naruto dan Hinata sama-sama tak bersuara saat mereka saling mendekap. Naruto merasakan nafas Hinata yang teratur ia berpikir apakah Hinata tertidur.

"Hinata." Ucap Naruto memanggil Hinata.

"..."

"Tertidur ya." Ucap Naruto sambil tersenyum melihat kearah Hinata yang ada didekapannya.

Naruto mengambil remote televisi lalu mematikannya. Kemudian Naruto mengankat tubuh Hinata untuk dibaringkan di ranjang. Setelah membaringkannya di ranjang Naruto memakaikan selimut sampai leher Hinata. Ia berbalik untuk menuju sofa tempat ia akan tidur. Namun sebuah tangan menarik sisi kaos yang dikenakan Naruto. Naruto berbalik dan melihat Hinata yang terbangun.

"Na-naruto-kun ti-tidur sa-saja disini. Ra-ranjangnya cu-cukup lu-luas u-untuk berdua." Ucap Hinata terbata malu dan gugup dengan wajah merona meminta Naruto untuk tidur diranjang dan suasana canggung dengan kejadian sebelumnya saat di depan televisi.

"Tidak apa. Aku akan tetap tidur di sofa." Ucap Naruto sambil tersenyum. Ia juga merasa canggung dengan apa yang ia lakukan sebelumnya.

"Su-sudah du-dua hari Naruto-kun ti-tidur di sofa." Ucap Hinata. Ia mengingat sudah dua hari Naruto tidur disofa. Dari saat ia menginap di apartemen Naruto lusa kemarin dan kemarin.

"Tidak perlu. Aku tidak mau mengganggu tidurmu." Ucap Naruto menolak.

"Ti-tidak, a-aku tidak ter-terganggu." Ucap Hinata dengan senyum dan rona merah diwajahnya meyakinkan Naruto.

"Baiklah." Ucap Naruto sedikit tersenyum lalu membaringkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong.

Hinata memiringkan tubuhnya untuk membelakangi Naruto untuk menenagkan debaran jantungnya yang menggila dan menutup kedua matanya mencoba untuk tertidur jemarinya menyentuh bibirnya.

"Ciuman pertamaku ada pada Naruto-kun..." Batin Hinata.

Sedangkan Naruto hanya terdiam menatap langit-langit kamar dengan pikirannya yang memikirkan kejadian yang ia lakukan di depan televisi sebelumnya.

"Kenapa aku menciumnya? Aku tidak pernah mencium seorang gadis sebelumnya." Batin Naruto.

Naruto memejamkan matanya dan mencengkram dada kirinya yang berdetak tidak normal.

.

.

TBC

Wordnya berkurang lagi dari chapter sebelumnya. -_-

Yang mau review silahkan review. yang mau curhat selahkan curhat. yang mau protes silahkan protes. yang mau flame juga gapapa. yang pastinya bakal author baca tulisan-tulisan yang nempel di kolom review.

Maaf kalo typo, jelek dan wordnya berkurang.