Uchiha's Dating Agency © Eternal Dream Chowz

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga

Rate: T

Genre: Romance, Humor

Warning: Out Of Character, Typo(s), Alternate Universe

.

.

.

Chapter 3. Duck Prince/Beauty Sadako/Jungle Girl

"Ukh, sial," rintih Sasuke dengan suara serak. Dia baru saja tersadar dari tidur panjangnya setelah semalam dihajar oleh seorang gadis brutal.

"Ck, gadis sialan! Shit, punggungku!" Sasuke memegangi punggungnya yang terbalut oleh perban, ia merubah posisi nya untuk duduk dan itu cukup menyakitkan.

Ia mendecih kesal lalu berusaha mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan yang ditempatinya. Kalau tidak salah, dia sedang berada ruangan VIP di rumah sakit. Ruangan yang ditempatinya bernuansa elegan dengan dominasi cat warna coklat dan krem, saat asyik mengobservasi ruangan itu, tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada sebuah objek yang sedang terduduk di sofa yang berada di sudut ruangan. Sasuke memicingkan matanya guna melihat lebih jelas, sosok itu berambut panjang lurus berwarna coklat, wajahnya tak terlalu kelihatan, tapi sepertinya dia wanita dan sedang tertidur.

Setelah cukup lama Sasuke memperhatikan sosok itu, tiba-tiba saja sosok itu menggeliat pelan lalu duduk lebih tegak, Sasuke memucat.

"Shit!" desisnya pelan.

Tepat pada saat sosok itu membuka mata dan menampakkan mata tanpa pupil berwarna keunguan, sontak sasuke melempar bantal yang dipakainya tadi, "Mati kau, Sadako!" teriak Sasuke.

"!?"

Sebuah bantal empuk mendarat tepat mengenai wajah orang itu disusul erangan kesakitan, "Ugh, apa-apaan ini?"

Dengan kesal ia memungut bantal lalu memelototi Sasuke, "Siapa yang kau sebut sadako, hah?"

Sasuke menelan ludah, yang dilemparnya tadi orang bukan hantu, dan lagi sosok cantik itu bukan wanita tapi pria, double shit! Sasuke hanya diam di tempat, lidahnya terasa kaku untuk sekadar mengumpat orang yang ada di depannya.

Kriett …

Sasuke dan orang itu lantas menatap pintu, menatap Itachi yang masuk dengan santai ke ruangan itu.

Sasuke menghela napas lega, "Siapa dia, Baka aniki?" tanya Sasuke sambil menunjuk orang itu dengan jari-jarinya

Tidak sopan sekali, batin orang itu.

Itachi baru membuka mulut tapi langsung disela, "Hei, Itachi, adikmu itu tidak sopan sekali. Pantas saja Hinata menghajarnya," cibir orang itu dengan raut kesal. Sasuke tidak membalas, ia sedang asyik berpikir, jadi nama gadis hutan itu Hinata.

Itachi menghela napas, "Apalagi yang dilakukannya padamu?"

"Aku baru bangun setelah menunggui putri tidurmu itu semalam suntuk. Tapia pa yang kudapatkan? Saat membuka mata, wajahku langsung disambut bantal hangat bekas iler, kau tahu?" Dengan nada menusuk Neji mengutarakan kekesalannya.

"Cih, Sadako! Jangan mengataiku putri tidur, dasar pria berwajah wanita!" umpat Sasuke tak mau kalah.

Neji melotot, "Nah, itu satu lagi, mengataiku sadako dan berwajah wanita. Kau sendiri lebih mirip bebek, lebih tepatnya bebek mesum!" ujar Neji sarkatis disambut tatapan tak terima dari Sasuke dan tawa kecil dari Itachi.

"Jangan tertawa, Baka aniki!" ujar Sasuke dengan raut kesal.

"Hahaha, sepertinya kalian akan akrab," sahut Itachi yang langsung dibalas tatapan tajam dari Sasuke dan Neji.

"TIDAK AKAN!" mereka menolak bersamaan, membuat tawa menyebalkan Itachi makin keras, "Nah, kompak!" kata Itachi lagi di sela-sela tawanya.

"TIDAK!" Mereka menyahut bersamaan lagi, membuat Sasuke dan Neji saling menatap kesal, Itachi tertawa puas.

.

.

.

Hinata baru saja tiba di Rumah Sakit Haruno tempat Sasuke dirawat. Yah, niatnya sih mau minta maaf pada bebek Uchiha mesum. Apalagi semalam ia dimarahi habis-habisan oleh Neji dan Hiashi karena telah menyerang Sasuke sampai pingsan. Padahal Itachi yang kakak kandung Sasuke saja tidak protes, kok mereka malah menghakiminya? Hinata mengerucutkan bibirnya karena kesal.

Apalagi kalau dipikir-pikir, bukankah pantat bebek itu duluan yang menyerangnya? Makanya Hinata menghajarnya, lagi pula kalau bebek itu bicara secara baik-baik apa maksud dan tujuannya, mungkin Hinata tidak akan mengerahkan kekuatannya sampai separah itu. Salahnya sendiri langsung mendekati Hinata dengan wajah mesum. Untung saja kejadian semalam dirahasiakan dari pers dan hanya pihak staf beserta beberapa peserta di TKP saja yang tahu.

Hinata menghela napas lelah.

FLASHBACK ON

Sasuke tergeletak naas di tempat. Jaraknya dari Hinata sekitar tiga meter. Saat itu Hinata benar-benar masih kaget menyaksikan para staf dan Itachi yang panik lalu segera membawa Sasuke ke rumah sakit. Tiba-tiba saja di belakangnya ada aura tidak mengenakkan. Ternyata ada Neji di sebelahnya.

"Ah, Neji-nii, kenapa kau keringatan seperti itu?" Hinata menatap ragu sosok Neji yang terlihat kecapekan seperti baru berlari-lari mencari sesuatu.

Sedangkan Neji tersenyum aneh membuat Hinata bergidik, "Gara-gara mencarimu yang menghilang entah ke mana!"

Hilang sudah wajah stoic Neji digantikan raut amarah yang luar biasa, Hinata bukannya takut malah cengengesan tidak jelas.

"CEPAT PULANG!" raung Neji, Hinata mengusap telinganya yang berdenging karena suara keras Neji, tapi ia hanya mengangguk pelan, tak mau membangkitkan amarah kakak lelakinya yang satu ini.

Setelah meminta maaf pada Itachi atas perbuatan Hinata kepada Sasuke—yang entah kenapa dapat dimaklumi oleh Itachi—, Hinata dan Neji pun kembali ke mansion Hyuuga. Sesampainya di rumah ia dihadiahi jitakan maut dari Neji dan tatapan maut Hiashi yang telah mengetahui seluk beluk masalah yang dibuat Hinata.

Meski bukan seluruhnya salah Hinata, tapi tetap saja itu salah, karena Sasuke sedang menjalankan misi, "Minta maaf pada Uchiha besok! Mengerti?" perintah Hiashi dengan tatapan tajam. Hinata mengangguk pasrah, ia sudah cukup lelah setelah dimarahi Neji selama di perjalanan tadi.

FLASHBACK OFF

Asyik melamun sepanjang perjalanan, akhirnya tanpa sadar Hinata sudah sampai di depan kamar rawat yang diberi plakat nama Uchiha Sasuke. Dengan enggan Hinata menggenggam gagang pintu itu dan memutarnya perlahan. Takut-takut, Hinata mengintip isi ruangan itu.

Ruangan itu kelihatan ramai, ada Neji, Itachi dan si pantat bebek yang tengah berbicara dengan volume suara yang bisa membuat orang infeksi telinga. Hinata melangkah masuk tanpa menimbulkan suara berisik, tapi apa daya, Itachi menoleh dan telah melihatnya.

"Ah, Hinata-chan!" sapa Itachi, Hinata tersenyum tipis, Sasuke menatap Hinata dengan tatapan kesal.

"Gadis hutan," cerca Sasuke, membuat Neji dan Itachi menatapnya tajam sedangkan Hinata menatap heran pada Sasuke.

"A-apa masalahmu, Tuan Bebek Mesum?" balas Hinata dengan wajah polos, membuat Sasuke menggeram kesal.

"Apa kau bilang? Dasar—hufft!"

Itachi membekap mulut otouto-nya agar ia berhenti mengeluarkan kata-kata mutiara yang lebih parah.

"Maafkan dia ya Hinata-chan. Dia memang seperti ini sejak dulu. Oh ya, aku mau memberitahu tentang acara dating kalian sebentar," ujar Itachi, ia melepaskan bekapan tangannya saat Sasuke mulai kehabisan napas.

"Uhuk, uhuk … apa-apaan kau, Baka aniki? Mau membunuhku, hah?" sembur Sasuke dengan galak.

"Ah, ada masalah apa dengan acara itu Itachi?" tanya Neji yang penasaran.

"Itu—karena semalam semua peserta telah mendapat pasangan, jadinya Hinata dan Sasuke mau tidak mau harus jadi pasangan juga."

Sasuke dan Hinata menatap Itachi dengan pandangan tidak terima, "T-tidak bisa diubah lagi Itachi-san?" Penolakan pertama datang dari Hinata, ia benar-benar ogah berpasangan dengan Sasuke.

Sasuke pasang tampang garang, "Tidak! Lebih baik aku keluar," tolaknya.

"Eits, kau lupa perjanjiannya, Sasuke? Dan maaf, Hinata. Peraturannya memang begitu," ucap Itachi sambil tersenyum manis, Sasuke mendengus kesal, tak mampu lagi menolak.

"Hei, hei aku tidak merestui kalian! Terutama kau, bebek!" Neji berujar dengan amarah.

"Kau pikir aku sudi?" balas Sasuke sarkatis.

Sesaat suasana jadi hening, Sasuke dan Hinata sedang berpikir, Neji tampak kesal tapi ia memilih diam, tiba-tiba ia melirik jamnya dan membuka pembicaraan, "Cih, sudah siang. Aku harus pergi ke perusahaan, Itachi aku titip Hinata padamu. Dan kau, bebek, jangan sentuh Hinata mengerti? Hinata, jam 2 siang aku akan menjemputmu, hati-hati pada bebek itu!" Neji segera keluar tanpa mengacuhkan tatapan kesal Sasuke.

"Oke, aku tinggal sebentar ya? Aku harus mengurus acara sebentar, Sasuke jangan macam-macam mengerti?" kata Itachi dengan nada jahil yang dibalas tatapan garang dari Sasuke.

Suasana yang tidak mengenakkan untuk Hinata. Benar-benar canggung, ia merasa takut sekaligus tidak enak untuk meninggalkan Sasuke sendiri di sini. Ia memilih duduk di sudut ruangan, menghindari tatapan tajam Sasuke untuknya.

Sasuke memandang Hinata lekat-lekat, memandangi wajah Hinata yang tembam, bibir merah, pipi dengan rona tipis, mata tanpa pupil yang beriris keunguan, rambut indigo yang mirip dengan rambut gelap kaa-san-nya, tubuhnya mungil bahkan kelihatannya tidak mencapai bahu Sasuke. Tapi Sasuke masih ingat bagaimana tubuh mungil itu menghempaskannya menuju alam bawah sadar dengan sekali pukulan. Berbahaya.

"K-kenapa kau memandangiku?" dengan nada lembut bercampur gugup, Hinata bertanya.

Sasuke menatap datar, "Hn," balasnya singkat.

Satu kata singkat itu membuat Hinata bingung dengan arti ucapan Sasuke. Hening. Tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka membiarkan suara desiran angin masuk ke ruangan itu dan mengisi kekosongan.

"U-uchiha-san, yang kemarin itu—aku m-minta maaf."

Dengan suara pelan Hinata meminta maaf, ia memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada. Ucapan Hinata membuat Sasuke sedikit mengernyit apalagi saat ia mendengar panggilan marga itu untuknya karena biasanya para gadis-gadis akan langsung memanggil nama kecilnya dengan sok akrab. Sasuke merasa sedikit kesal. Hinata memanggil Itachi dengan nama kecil tapi dia malah dipanggil dengan marganya, jauh di dalam hatinya, entah kenapa ada perasaan nyaman mendengar suara Hinata yang lembut.

"Sasuke," ucapnya, membuat Hinata menatapnya bingung.

"Namaku Uchiha Sasuke jadi jangan panggil aku Uchiha saja. Aku tidak mau disamakan dengan aniki-ku. Mengerti, Hyuuga? Aku sarankan jangan membuatku repot pada acara sialan itu. Dan ingat, kau masih berhutang tentang ini padaku!" jelas Sasuke panjang lebar sambil menunjuk punggungnya yang dibalut perban, membuat Hinata mengangguk tanda mengerti.

"Ah, baiklah. N-namaku Hinata, salam kenal S-sasuke-san, dan mohon kerja samanya!" ujar Hinata dengan senyum manis yang membuat Sasuke sedikit terpana, ingat ya, sedikit hanya sedikit.

Ih, dasar Sasuke, sok dingin.

"Hn, satu lagi yang perlu kau ingat, aku tidak akan pernah menyukaimu dan kuharap kau juga melakukan hal yang sama denganku. Jangan terlalu berharap banyak padaku. Aku hanya korban pemaksaan aniki dan tou-san-ku." Dengan nada datar Sasuke membeberkan semua rahasianya.

"Ah, a-aku juga mau mengatakan hal yang sama kalau begitu kita sepakat! Deal?" ucap Hinata dengan wajah berbinar.

Tanpa banyak tanya, Sasuke menyeringai menatap Hinata. Gadis yang cukup unik. Sasuke menyambut tangan mungil itu.

"Deal."

Tak lama setelah perkenalan dan perjanjian singkat itu, Itachi masuk lalu menawarkan untuk mengantar Hinata pulang. Setelah mereka pergi Sasuke memutuskan untuk makan siang, setelah itu dia meminum obat lalu tertidur. Di saat Sasuke terlelap, seorang gadis berperawakan tinggi dan berambut kuning pucat masuk ke kamar rawat itu.

Ia menghampiri Sasuke yang tertidur pulas, "Ah, sayang sekali. I'm not lucky this time, isn't it? Hum, kali ini tidak apa. Sedang tidur kau juga terlihat tampan. Fufu, sampai jumpa di acara kita berdua, Honey." Ia mencium pipi Sasuke lalu melangkah ke luar ruangan.

It's show time.

.

.

.

To Be Continued

A/N: Oh, well, sekian fic Ether, maaf lama updatenya. Chap ini humornya mulai dikurangi dan romance nya sedang Ether kembangkan. Entah kenapa alurnya terasa makin cepat!? GOOMMEENNN! #dijitak Semoga readers tercinta menikmati chap kali ini. Arigatou buat review, fav atau follow nya dan gomen untuk kekurangan dan singkatnya chap kali ini.

Mind To RnR?