A/N: Yosh!! Chapter tiga, pembaca!! And thanks banget bwt review-review indah dr kalian! Itach4ever-san, Luna gak akan hapus serial ini kok! Akan Luna buta doble deh! Makasih reviewnya!!

Dsiclaimer: Naruto bukan punya Luna, klo iya pasti udah Luna bikin yaoi dari dulu !

Warning: Seperti biasa, bahasa kasar naruto n Sasuke yg gak oleh ditiru!! Hints shonen ai SasuNaru! Ah, tokoh baru kluar neeeh!!

Yep, jangan lupa drop reviews sehabis baca yah!!


Chap.3

Mission 2: Make a Move to New Guy!

SMAN Konoha, pagi hari...sebelum pelajaran dimulai.

"Hei, hei! Kalian lihat televisi kemarin!?" seru Kiba, si radio berjalan SMAN Konoha dengan antusias pada teman-teman di kelasnya, yang juga kelas Naruto, sambil melambai-lambaikan koran.

"Tentu aja kita lihat!" seru Ino dan Sakura bersamaan.

"Berarti kalian udah tau berita menggemparkan yang terjadi semalam, kan!? Coba bayangin, si Pencuri Legendaris Kyuubi no Kitsune muncul lagi di Konoha setelah tujuh belas tahun nggak ada kabarnya!!" teriak Kiba sangat bersemangat.

"He-eh! Nggak cuma itu, kita juga lihat Sasuke dan kakaknya, Uchiha Itachi, beraksi dengan sangat kereeeeen!!" jerit Ino dengan hati berbunga-bunga.

"Tapi, pencuri itu juga cool banget! Fans Club Kyuubi no Kitsune bakal segera terbentuk, nih!!" teriak Sakura dengan antusias juga.

Dimulai dari mereka berdua, cerwek-cewek di kelas langsung pada ribut dan mendaftar untuk jadi anggota fans club Kyuubi. Kiba salah tingkah melihatnya.

"Berisiiik! Bisa tenang nggak, sih!?" teriak Shikamaru dari mejanya dengan tampang kaya' mau membunuh. "Aku nggak bisa tidur semalam, jangan ganggu aku dengan ocehan bodoh kalian pagi buta begini!!"

"Shikamaru, ini sudah siang," kata Kiba tambah salah tingkah. "Lagian, kok, kau tenang-tenang aja? Kau nggak lihat berita semalam?" Kiba menghampiri meja Shikamaru dan mengajak si pemalas itu ngobrol.

"Cerewet, kemarin aku nyelesaiin program yang aku kerjain sama Shino. Nggak ada waktu buat nonton TV, ngerepotin aja!" kata Shikamaru bosan dan malas.

"Heeh, sayang banget, tuh! Kau nggak lihat aksi Kyuubi yang udah menghilang selama tujuh belas tahun dari Konoha. Rugi!" ujar Kiba prihatin.

"Aku nggak tertarik sama pencuri bodoh yang ber-cosplay dengan pakaian rubah," kata Shikamaru lagi sambil membenamkan wajahnya di kedua lenganya dan mulai tidur lagi di atas mejanya.

"Kau ini membosankan," kata Kiba sambil menjulurkan lidah.

Saat Kiba berdiri dari kursi yang didudukinya dan menoleh, Naruto baru saja menginjakan kakinya ke kelas. "Hoi, Naruto!" seru Kiba seraya berlari ke arahnya.

"Ah, Kiba! Pagi!" sapanya ceria seperti biasa.

Kiba membalas sapaanya dan merangkulkan lengan kananya ke leher Naruto dengan antusias. "Hei, hei, kau lihat tv kemarin?" tanya Kiba.

Naruto menggelengkan kepala. "Nggak sempat, kemarin aku kerja sambilan terus ngerjain tugas matematika-sial dari Kakashi," kata Naruto. Dia nggak bohong loh, biarpun nggak bilang kerja sambilan apa.

"Eeeeh? Kau juga nggak lihat? Aaah, sayang banget! Padahal kemarin ada berita heboh yang seru banget! Rugi amat nggak nonton!" kata Kiba prihatin lagi.

Naruto tertawa salah tingkah. Nggak usah nonton pun, dia sudah tahu berita apa yang dimaksud Kiba. Pasti tentang si Pencuri Legendaris Kyuubi no Kitsune yang kembali beraksi setelah lama vakum. Ia menghela nafas dan berjalan ke kursinya. Ia meletakkan tasnya saat Kiba kembali menggosip di sebelahnya.

"Kemarin itu muncul pencuri yang kereeeen banget!" seru Kiba semangat. Dibilang seperti itu, wajah Naruto agak memerah malu.

Apa memang sekeren itu? Pikirnya heran.

"Terus, sama seperti kemunculan pertamanya 27 tahun lalu, ia mengirim surat ke Satuan Khusus Kepolisian Uchiha! Apalagi dia kembali mempecundangi orang-orang itu!" kata Kiba lagi sambil meringis saat mengingat wajah Uchiha Itachi dan Sasuke yang kesal abis di TV semalam saat Kyuubi kabur dari mereka.

"Heeh, beneran, tuh!? Apa Sasuke juga ada di sana?" tanya Naruto pura-pura sangat tertarik. Sebenarnya dia tahu itu, tapi untuk mengurangi kecurigaan atau membuatnya nol sama sekali, dia harus pura-pura nggak tahu.

"Ya, dan wajahnya lucu banget saat dipecundangi Kyuubi, sama dengan kakaknya. Hu hu hu, kalau ada kamera dan kupotret, akan kusebarkan ke sekolah dan internet!" kata Kiba sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Benar sekali!! Teriak naruto semangat dalam hatinya. Ia meringis dan tertawa juga.

Saat itu Uchiha Sasuke memilih waktu untuk membuka pintu geser kelas keras-keras dan masuk ke kelas. Wajahnya terlihat lebih mendung dari biasanya dan aura hitam di sekelilingnya terihat menebal. Semua orang langsung diam saat ia masuk kelas dan mengirim pelototan mematikan ke semua orang yang melihatnya. Mood-nya sedang sangat-sangat jelek, pikir semua orang bersamaan.

Ia berjalan pelan ke kursinya perlahan serentak semua orang memberi jalan padanya. Uchiha yang biasanya memang udah nakutin, tapi hari ini ia kelihatan seratus kali lebih nakutin dari biasanya. Cuma Naruto yang nggak terpengaruh oleh mood gelap Sasuke.

Naruto meringis lalu berdiri dan mendekati Sasuke dari belakang. "Ohayou (met pagi) Sasuke-kuuuun!" sapanya-pake ditambah embel-embel –kun segala, di dekat telinga Sasuke dengan nada usil.

"Uzumaki, aku lagi nggak mood bertengkar," ancamnya dingin.

"Weleh, Uchiha, sejak kapan kau jadi sopan?" tanya Naruto mengejek. "Haa, apa semalam terjadi sesuatu?" tanya Naruto sok tahu.

'Twitch.' Alis Sasuke berkedut sekali.

"Hm...ada hubunganya sama berita di tv, ya?" tanya Naruto lagi tambah usil.

'Twitch, twitch.' Kali ini ada dua kedutan dengan bulu kuduk yang berdiri.

"Jangan-jangan masalah cewek," tebak Naruto lagi sambil bersiul.

Sasuke berdiri karena nggak betah dengan ocehan Naruto. "Kalau kau ngomong lagi, kuhajar kau sampai babak belur," ancam Sasuke lagi dengan mata menyipit bahaya.

"Kaya' aku bakal takut aja. Coba sini, Sasuke-chaaan!" panggil Naruto menantang.

Saat Sasuke sudah mengepalkan tinju dan hendak menonjok Naruto seseorang menarik seragamnya dari belakang dengan sigap. Sasuke tertahan dan nggak bisa maju. Di pihak Naruto juga terjadi hal yang sama.

"Apa-apaan, kau!?" seru Sasuke sangat kesal. Ia membalikkan badan hanya untuk berhadapan dengan Shino yang terlihat sangat kesal.

"Uchiha, kalau mau berkelahi lakukan di luar. Kau mengganggu waktu istirahatku," kata Shino tanpa ekspresi, tapi dari nada suaranya yang rendah dan mengancam itu, mereka bisa tahu kalau dia juga lagi bad mood.

Sesaat wajah Sasuke blank berhadapan dengan Shino, tapi kemudian ia mulai sadar dan memperbaiki mood-nya. Bukan hal yang bijaksana bertengkar dengan Shino hanya karena kesal pada Naruto. Weleh, dia sendiri nggak tahu Shino yang senang seperti apa. Kalau sampai membuatnya marah...dia nggak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Sasuke mengangguk pelan dan Shino melepaskan seragamnya. "Naruto, jangan bikin ulah," kata Shino dengan nada menancam yang sama. Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil tertawa grogi. Ia nggak pernah suka dengan Shino, tapi ia lebih nggak suka lagi membuatnya marah.

"Sorry, Shino. Aku nggak akan bikin ribut, deh," kata Naruto janji.

"Bagus," kata Shikamaru di belakangnya, yang ternyata menahanya dari berkelahi. Ia melepaskan seragam Naruto dan balik ke kursinya.

"Shika, kapan kau bangun?" tanya Kiba yang nggak sadar karena terbawa suasana pertengkaran Sasuke-Naruto.

"Dengan keributan begitu mana bisa tidur," kata Shikamaru bosan sambil menguap.

"Kau masih mau tidur?" tanya Haku, cowok tercantik yang kaya' cewek banget di kelas Naruto sambil geleng-geleng kepala.

"Jangan ikut campur, cewek," kata Shikamaru sambil kembali ke tidurnya.

"Aku cowok, tahu!!" protes Haku nggak terima. Ia mendengus dan duduk lagi dengan wajah cemberut sangat sebal.

Saat itu bel telah berbunyi dan seseorang masuk ke kelas dengan langkah ringan. "Yak, selamat pagi, murid-muridku yang manis! Ayo, duduk di kursi kalian masing-masing," kata Kakashi, guru matematika di SMAN Konoha, sekaligus wali kelas Naruto dan kawan-kawan.

Semua siswa diam di tempat melihat Kakashi datang. Mata mereka melotot nggak percaya dengan apa yang mereka lihat, termasuk Naruto, mulutnya ternganga saking kagetnya.

"Ng? Kenapa melihatku kaya' melihat hantu gitu? Ayo, duduk di kursi kalian," ulang Kakashi sambil memandang murid-muridnya dengan heran.

"Tunggu, hei, Kau!!" seru Naruto sambil menuding Kakashi dengan tampang aneh, super curiga. "Siapa Kau ini!? Yang pasti nggak mungkin Kakashi-sensei coz' dia nggak pernah tepat waktu, tahu!!"

"Memangnya sekali-kali tepat waktu nggak boleh?" tanya Kakashi heran dengan tingkah antik Naruto.

Naruto memicingkan mata, melihat Kakashi dengan tampang makin aneh dan curiga, tapi lalu ia duduk lagi di kursinya sambil bergumam pelan dan mendengus.

"Yak, karena Naruto sudah percaya kalau aku ini asli, kita mulai pelajaranya. O ya, aku hampir lupa. Hari ini kita kedatangan murid baru. Hei, ayo sini," panggil Kakashi ke arah pintu masuk kelas.

Pelan-pelan seseorang masuk dengan langkah ragu-ragu. Wajahnya menunduk dan kelihatan pemalu sekali. Seorang cewek berambut hitam kebiruan pendek, kira-kira sebahu, dengan bola mata berwarna sangat pucat, hampir putih, tapi sepertinya warna abu-abu muda. Kedua tanganya menggenggam ujung seragamnya dengan erat. Ia terlihat sangat tegang.

Naruto bersiul rendah saat tanpa sengaja bertemu pandang denganya. Cewek manis, pikirnya, tapi si cewek langsung mengalihkan pandangan dengan wajah memerah malu.

"Naruto, jangan godain anak baru. Dia pemalu, tahu!" ujar Kakashi dengan wajah sebal.

"Aku nggak menggodanya, kok!" protes Naruto. Dasar Kakashi-sensei, seenaknya saja menyimpulkan!

"Ayo, perkenalkan dirimu," kata Kakashi pada si anak baru.

Cewek itu diam beberapa saat sebelum bergumam pelan. Naruto jadi sebal melihatnya. "Hei, aku nggak dengar, nih!" teriaknya. Si anak baru tersentak kaget dan melihat Naruto lekat-lekat. Wajahnya merah padam seperti habis berjemur matahari 24 jam. Naruto jadi salah tingkah melihatnya.

"Naruto, jangan digoda!" kata Kakashi lagi.

"Sudah kubilang aku nggak menggodanya!!" protesnya lagi. Kakashi melemparkan pelototan tajam dari satu matanya yang terlihat dengan pandangan memperingatkan. Naruto kembali terdiam dan mendengus kesal. "Nggak adil!"

"Na-na-nama-ku...Hy-Hyuuga Hi-Hinata. Sa-salam kenal, se-semuanya!" seru Hinata dengan suara tinggi, kecil, dan gemetar sambil membungkuk rendah.

"Woaa, suaranya imuuut!!" seru Naruto sangat pe-de. Sebetulnya dia nggak bermaksud menggoda Hinata, tapi cewek itu langsung meledak malu dengan wajah merah padam. Ia menutup wajahnya dengan tangan gemetar saking malunya.

"Naruto! Detensi setelah pulang sekolah!" seru Kakashi habis kesabaranya.

"Heeeeh!? Kenapa!?" protes Naruto nggak terima.

"Sudah kubilang jangan menggodanya! Pokoknya de-ten-si!!" vonis Kakashi tegas. "Itu akibatnya kalau nggak dengar kata-kataku!"

"Grrr, dasar guru genit!!" teriak Naruto marah.

"Dasar idiot...tukang bikin ribut," kata Sasuke pelan sambil geleng-geleng kepala. Ia memperhatikan Hinata sejenak. Kaya'nya dia pernah lihat cewek itu di suatu tempat, tapi Sasuke nggak ingat di mana.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Sepulang sekolah...

"Dasar Kakashi! Seenaknya saja ngasih hukuman! Padahal aku kan, nggak salah apa-apa!" Naruto ngedumel sambil membersihkan piala di ruang penyimpanan dekat ruang guru. "Awas saja, akan kukerjai nanti!" katanya sambil memikirkan keusilan yang akan dia buat untuk memberi pelajaran gurunya itu.

Saat itu ia mendengar pintu ruang penyimpanan terbuka perlahan. Ia menoleh ke arah pintu dan mendapati Hinata di sana. Sesaat ia kaget melihat cewek pemalu itu berdiri diam di sana memperhatikan Naruto sebelum mengumpulkan keberanian untuk menyapanya. "Se-sela-selamat so-sore, U-Uzuma-Uzumaki-kun," gagapnya sangat pelan, hampir berbisik. Kalau bukan karena telinga Naruto yang terlatih untuk mendengar suara sekecil-kecilnya, dia nggak akan bisa mendengarnya.

"Sore, Hinata-chan!" seru Naruto sambil tersenyum ceria. Hinata agak kaget karena baru pertama kali ada orang yang memanggilnya seakrab itu. Bahkan di lingkungan keluarganya sendiri, ia nggak pernah dipanggil seakrab itu. Walau pun hanya sedikit, ia merasa senang. "O ya, jangan panggil aku Uzumaki, aku nggak terbiasa dengan nama itu. Bikin perasaan gak enak," katanya dengan wajah pucat, kaya' mau muntah. "Panggil aku Naruto," tambah Naruto kemudian sambil meringis.

Hinata tersenyum kecil dengan wajah memerah. Ia benar-benar senang menemukan teman yang sangat menarik. "Na-Naruto-kun," panggil Hinata dengan suara yang agak berani. Naruto melihatnya dengan pandangan penuh tanda tanya. "Ka-kalau boleh, kalau boleh bi-biar aku bantu," tawarnya dengan malu-malu. Jujur saja ia agak merasa bersalah Naruto harus menjalani detensi karena pribadinya yang sangat pemalu itu.

"Tentu. Aku benar-benar tertolong kalau kau mau membantu, Hinata-chan," kata Naruto senang. Ia memang sudah menduga kalau cewek ini sangat manis dan baik hati, tapi ia lumayan kaget juga karena dengan sifat pemalu seperti itu Hinata mampu menawarkan diri membantu seorang cowok, berduaan saja denganya.

"Ka-kalau gitu..." Hinata mendekat perlahan dan berjongkok di samping Naruto. "Se-sebelah mana yang be-belum dibersih-dibersihkan?" tanyanya.

"Ah, sudah hampir selesai, kok. Tinggal di rak bawah ini," jawab Naruto. Kemudian Hinata mengambil salah satu piala dan mulai membersihkanya dengan lap yang disediakan Naruto.

Naruto memperhatikan kerja cepat Hinata dari pojok matanya. Memang cewek pandai bebersih, tapi tangan Hinata sangat cekatan dalam membersihkan barang, seperti profesional. "Hinata-chan cekatan, ya," puji Naruto tiba-tiba, membuat Hinata kaget sekaligus merah padam karena malu.

"Ng-nggak sehebat itu, kok!" serunya merendah. Ia benar-benar nggak terbiasa dipuji seperti itu. Apalagi oleh seseorang yang baru saja dikenalnya. "I-ini cuma karena terbiasa aja," lanjutnya masih malu-malu.

"Makanya, karena terbiasa jadi cekatan, kan!" Itu bukan pertanyaan. Weleh, dia saja sangat cekatan membuka kunci pintu karena terbiasa latihan. Karena itu dia bisa jadi pencuri, kan?

"Yah...habis kerjaan rumah harus diselesaikan tepat waktu," kata Hinata tanpa melihat Naruto, tapi Naruto tahu ada sedikit paksaan pada suaranya yang menekan rasa pahit. Naruto paling nggak tahan nggak mengetahui penderitaan orang lain karena ia paling tahu rasanya menyembunyikan kesedihan diri sendiri semasa kecil dulu.

Naruto tersenyum kecil. "Hinata-chan...anak tiri?" tanya Naruto tiba-tiba. Hinata sangat kaget dengan pertanyaan Naruto sampai menjatuhkan lap dan piala yang sedang dibersihkanya. Hinata langsung memandang Naruto dengan tatapan 'kok bisa?'. "Ah, sorry, aku nggak bermaksud ikut campur, tapi...aku nggak tahan kalau temanku sedih. Lagian aku cuma nebak, sih...," katanya pelan dengan wajah grogi sambil garu-garuk belakang kepalanya.

Hinata sedikit rileks saat mendengar alasan Naruto. Ia tersenyum. "A-aku bu-bukan anak tiri," katanya pelan. "Justru...aku penerus utama Keluarga Hyuuga," lanjutnya lagi tanpa sedikit pun nada sombong. Naruto makin suka pada cewek pemalu ini.

"Heeeh, hebat sekali, dong!" puji Naruto. "Tapi...Hinata-chan kelihatanya nggak terlalu senang, yah?" tanya Naruto hati-hati.

Hinata mengangguk pelan. "Ini...karena sepupuku," katanya pelan sekali. Naruto hampir nggak mendengarnya.

"Sepupu?" tanya Naruto nggak paham. Apa hubunganya sepupu dengan kerjaan rumah atau haknya sebagai pewaris?

"Sepupu cowokku, Hyuuga Neji. Dia lebih tua setahun dariku," katanya.

Hyuuga Neji?

"Lalu kenapa dengan si Neji ini?" tanya Naruto masih belum ngerti. Rasanya dia pernah dengar nama itu di suatu tempat.

Hinata agak merinding mendengar nama sepupunya disebut dengan cara nggak formal gitu. Dia saja memanggilnya Neji-niisama. Sangat sopan sekali untuk panggilan seorang sepupu yang kedudukanya bahkan di bawah Hinata. "Neji-niisama...kaya'nya dia membenciku," kata Hinata sedih. Ia terlihat kalah dan pesimis.

"Benci? Kenapa? Hinata-chan kan, cewek yang manis banget!" seru Naruto nggak percaya dengan tampang innocent. Yeah, sangat innocent, karena dia nggak sadar kata-katanya bikin Hinata merah padam kaya udang rebus.

"I-itu...ada hubunganya dengan ayahnya...!?" Hinata menutup mulutnya dengan wajah kaget sendiri. Ia nggak percaya dia cerita itu semua pada orang yang hampir nggak dikenalnya. Yeah, memang Naruto teman sekelasnya, tapi mereka baru bertemu hari ini dan dia sudah bicara sebanyak itu pada orang yang masih asing baginya. Sihir apa yang dipunyai Uzumaki Naruto untuk membuatnya buka mulut semudah itu? Ia sama sekali nggak merasa sedang dimintai informasi saat bercerita tadi. Kalau Uzumaki ada di pihak keluarga saingan Hyuuga, ia pasti sudah menyambar habis rahasia keluarga Hyuuga.

"Ke-kenapa, Hinata-chan?" tanya Naruto dengan wajah khawatir karena wajah Hinata seperti sangat shok. Hinata agak terkejut lalu menggelng kepalanya dengan panik.

"Ng-nggak apa-apa!" serunya dengan suara tinggi kecil. "Aku cuma ngerasa, kaya'nya nggak sopan kalau ngeluh sama Naruto-kun, jadi..." Wajah Hinata seperti orang bingung saat mencari alasan yang tepat untuk merubah topik pembicaraan. Naruto merasakan niatan itu dan mengambil inisiatif duluan.

"Oh, gitu...kalau gitu lain kali perkenalkan aku dengan Neji, ya!" pinta Naruto sambil tersenyum dan menutup pembicaraan itu. Hinata kelihatan lega dan tersenyum, tahu kalau Naruto sengaja.

"Ng!" Hinata mengangguk pelan.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Sampai besok, Hinata-chan!" salam Naruto sambil tersenyum ceria.

"Sa-sampai besok, Na-Naruto-kun," balas Hinata pelan sambil tersenyum juga.

Saat Naruto hendak berbalik di depan gerbang, sebuah mobil BMW hitam meluncur ke hadapan Hinata. Naruto menghentikan langkahnya dan melihat seorang cowok berambut hitam lurus panjang dengan kulit yang pucat, serta bola mata berwarna sama dengan Hinata turun dari mobil. Ia menatap Hinata dengan ekspresi sangat dingin dan menakutkan, menurut Naruto.

"Anda terlambat, Hinata-sama," kata cowok itu dengan nada dingin tanpa emosi.

"Ma-maaf, Neji-niisama, aku mem-membantu temanku sebentar," kata Hinata tergagap dengan nada suara sedikit takut dan merasa bersalah.

"Pertemuan hampir selesai, tapi masih ada sekitar satu jam sampai benar-benar bubar," kata Neji tak begitu memperhatikan kondisi Hinata. "Tanggung jawab pewaris memang berat, ya," kata Neji dengan nada sinis. Wajah Hinata seperti terluka saat mendengar kata-kata sepupunya itu, tapi ia berusaha menahan rasa sakitnya.

Melihat itu, Naruto nggak bisa membiarkanya saja. Ia mendekat ke arah Hinata dan Neji. "Wah, Hinata-chan, jadi dia ya, si Neji itu?" tanya Naruto tiba-tiba sambil tersenyum. Wajahnya terlihat sebal dengan sikap Neji yang arogan pada Hinata, mengingatkanya pada seorang Uchiha yang menyebalkan.

"Na-Naruto-kun...?" bisik Hinata pelan, nggak terdengar oleh Naruto maupun Neji. Cewek pemalu itu menatap Naruto dengan mata melebar karena kaget.

"Siapa kau?" tanya Neji dengan mata menyipit nggak senang.

"Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto, teman sekelas Hinata-chan, Neji-senpai," kata Naruto memperkenalkan diri dengan pe-de-nya. Mata Neji menyipit bahaya saat namanya dan Hinata dipanggil sekasual itu oleh orang biasa seperti Naruto. Weleh, dia bahkan orang asing, tapi bersikap sok akrab.

Neji melihat ke arah Hinata yang kelihatan nggak nyaman dengan suasana di antara mereka. Wajah Hinata memerah ketika bertemu pandang dengan mata tajam Neji dan ia mengalihkan pandangan. Mata Neji makin menyipit, mencurigai sesuatu di balik sikap menghindar Hinata darinya. Kemudian, ia tersenyum sinis.

"Begitu rupanya," kata Neji sambil kembali menatap Naruto.

"Neji-senpai," panggil Naruto masih dengan nada pe-de, "sekolah di mana?" tanyanya.

"Itu bukan urusanmu, Uzumaki," jawab Neji sambil menyeringai sombong. Wajah itu, seringai itu membuatnya teringat pada Sasuke. Ia beneran ingin mencuci habis seringai itu dari wajah Hyuuga yang searogan dengan Uchiha.

"Oh, yeah," kata Naruto mencoba menahan amarahnya yang memuncak. "Aku cuma mau memastikan kalau kau memang seperti yang dikatakan si tanpa alis Gaara."

Lhoh? Iya juga, ya...dia si Neji yang saingan sama Rock Lee memperebutkan Gaara!! Baru ingat setelah ngomongin hal itu...dasar Naruto aneh!

Neji mendongak dengan terkejut saat nama Gaara disebut dengan cara nggak sopan begitu oleh Naruto. Ia melotot ke arah Naruto dengan pandangan mengancam dan curiga. Apa Naruto ada hubungan khusus dengan Gaara?

"Na-Naruto-kun...kenal Sabaku no Gaara?" tanya Hinata lirih dengan wajah kaget juga.

"Yeah, kami teman lama." Tentu saja Naruto bohong. Kalau nggak ada kerjaan sebagai Kyuubi, ia bahkan nggak akan kenal dengan nama itu.

"He-hebat, ya! A-aku saja hanya bisa ketemu Gaara-sama di acara re-resmi. Soalnya, Gaara-sama kan, sekarang Kaze Kage," kata Hinata kelihatan agak bersemangat.

"Yeah, dan gara-gara itu si alis tebal jadi minder," kata Naruto meringis.

"Kau kenal Rock Lee juga?" tanya Neji makin curiga. Ini sangat aneh. Keluarga ternama seperti Hyuuga, Kaze kage, dan Rock memiliki koneksi dengan warga biasa? Siapa bocah pirang ini!?

"Aku dengar sempat ada pertumpahan darah antara Rock Lee dan bodyguard-mu, ya?" tanya Naruto lagi. Mata Neji menyipit saat itu. "Tadinya aku nggak begitu percaya, tapi kaya'nya itu bukan rekaan." Naruto menyeringai. "Sertelah mereka jadian, apa yang kau lakukan, Neji-senpai?"

"Itu bukan urusanmu, Uzumaki," desis Neji kelihatan sangat kesal. "Kalau bukan karena pencuri norak itu, Gaara-sama sudah jatuh ke tanganku, dan aku masih belum menyerah."

"Hoo? Tapi kurasa si alis tebal nggak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan Gaara lagi, Neji-senpai," kata Naruto dengan senyuman jahat. Neji melemparkan pelototan mematikan pada Naruto, tapi nggak digubris olehnya karena dia sudah kebal, sering dipelototi oleh Sasuke ada gunanya juga.

Hinata nggak gitu paham dengan alur percakapan dua cowok itu. Weleh, ia bahkan nggak menyangka kalau Neji tahu Gaara coz' seharusnya dua orang itu nggak pernah ketemu. Ditambah lagi insiden Rock Lee, cewek itu beneran nggak punya petunjuk buat mengikuti percakapan mereka. Satu yang ia tahu, kalau nggak segera dihentikan, bakalan terjadi pertumpahan darah di depan sekolahnya.

"Ne-Neji-niisama," panggil Hinata memotong lomba pelotot-pelototan antara Naruto dan Neji dengan cara menarik lengan kemeja Neji. Neji menoleh ke arah Hinata dengan tatapan sebal dan bosan. Hinata nggak berani menatap wajah Neji yang sedang kesal. "Ka-kalau...kalau nggak cepat-cepat ke pertemuan...ay-ayah, ayah pasti marah ka-kalau kita telat..."

Neji mendengus dan menepis tangan Hinata dari lengan bajunya. "Huh," tanggapnya pelan seraya kembali masuk ke mobil, meninggalkan Naruto yang sangat-sangat sebal dengan sikap Neji dan Hinata yang menunduk dengan wajah sedih.

"Apa-apaan cowok itu!? Dasar arogan gila!" umpat Naruto sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Neji yang sudah ada di dalam mobil.

"Ma-maaf, ya...Naruto-kun," kata Hinata pelan.

"Bukan salah Hinata-chan, dianya aja yang brengsek!" kata Naruto masih kesal. "Jangan patah semangat, ya! Kalau dia membuatmu sedih, tertekan atau nangis, bicaralah padaku. Aku pasti akan menghajarnya sampai bersujud minta ampun di kakimu, Hinata-chan!" yakin Naruto semangat. Naruto nggak main-main, lho! Biar dia tendang pantat si Neji itu!!

Hinata tertawa, mengira Naruto bercanda buat menghiburnya. "Sampai besok," sapa Hinata pelan sambil melambaikan tangan saat masuk ke mobil. Kemudian Hyuuga bersaudara meluncur pegi dengan BMW-nya.

Naruto menghela nafas. Pokoknya dia harus mengorek keterangan tentang Neji dan cerita Hinata tentang apa yang terjadi di keluarganya. Kaya'nya dia harus ikut campur sedikit coz' dia penasaran banget, dan nggak bisa membiarkan sobatnya dianiaya oleh seorang brengsek arogan seperti Neji atau Sasuke...?

Kenapa dari tadi nama Sasuke muncul terus di kepala Naruto? Ini gara-gara Neji si arogan gila itu! Sama aja kaya' Sasuke!! ...tuh, Sasuke lagi. Bulir-bulir keringat berjatuhan dari kepala Naruto.

AAAAARGH!! Persetan dengan Hyuuga dan Uchiha!!

End of Chapter 3

Bersambung...


A/N: Yaaay, satu chapter lagi selesaaai! Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya, yaaah? Luna juga gak tahu seeeh! Hehehe. Gimana menurut kalian chapter yang ini? Hinata cute banget kan? Duh...jadi pengen masangin NaruHina...tapi Luna dah mikir mo digimanain si Hinata sih...fufufu, tunggu aja berikutnya, yah! Ok, jangan lupa reviewnya! Thanks dah baca! Sampai jumpa di chapter selanjutnya!!

Dengan cinta,

Lunaryu