Harry Potter © J. K. Rowling


Raindrops and Starlight

Chapter 4


Draco menatap pekarangan belakangnya dari jendela kamar. Ia duduk di atas sofa yang biasa ditempati Hermione dengan tenang. Buku bacaannya tergeletak di atas pangkuan. Namun matanya sesekali terfokus pada seorang gadis yang bolak-balik di bawah sana.

Gadis itu hari ini memakai baju hangat berlapis-lapis dengan gradasi biru-ungu. Jeans yang dipakainya tertutupi setengah karena boots coklat yang dipakainya yang sekarang sudah kotor terkena lumpur. Hampir seluruh helai rambutnya terikat rapi ke belakang, menyisakan rambut seperti buntut kuda sebatas bahu. Tangannya diselimuti sarung tangan plastik berwarna merah norak.

Draco sempat menyeringai sedikit ketika ia melihat Hermione jatuh terpeleset dan uring-uringan sendiri.

Hermione datang lebih pagi dari biasanya. Sebelum ia terjun ke pekarangan belakang Malfoy Manor, seperti biasa ia melakukan tugas-tugasnya. Membuka gorden kamar, memberi Draco ramuan penyembuh, bertanya 'apa kabarmu hari ini?', dan—Draco tak pernah lupa—membuat secangkir teh merah bunga rosella.

Ia meninggalkan Malfoy Manor dengan wajah tak karuan kemarin sore. Sebenarnya Draco tidak begitu memperhatikan. Tetapi pekerjaannya menanam banyak cangkokan bunga dan bibitnya dari ujung ke ujung seperti sia-sia saja ketika hujan besar turun kemarin sore.

Tapi seperti yang Draco selalu ingat, Hermione tidak lagi tampak terganggu tadi pagi. Wajahnya tidak seberantakan kemarin sore. Bagaimanapun, Draco sempat heran mengapa ia mau repot-repot membereskan pekarangan belakang yang sudah porak poranda. Padahal Prilly bisa melakukan tugas itu dengan lebih cepat. Tetapi sekali lagi, Hermione Granger adalah Hermione Granger, dengan pikiran absurdnya, dan Draco setidaknya sudah mengerti kalau gadis itu mempunyai peradangan penyakit sakit kepala yang cukup parah. Ia hanya lega karena tidak harus ikut turun lagi ke pekarangan belakang rumahnya untuk hanya melihat Hermione jalan ke sana dan ke sini.

Ia ingat ia pernah mengadakan acara piknik kecil di bawah sana bersama Astoria. Wanita dengan rahang menonjol itu selalu menemukan hal-hal kecil yang membuatnya tidak pernah bosan. Musim panas tiga tahun lalu, ia masih ingat persis. Ketika Astoria datang memakai gaun pendek warna oranye dan keranjang anyaman yang penuh dengan makanan. Draco mendapati rencana kecil itu sangat konyol, tetapi Astoria selalu berhasil meyakinkannya bahwa mereka tidak perlu menemukan tempat paling sempurna di dunia untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan di mana saja. Mereka hanya butuh satu sama lain, dan waktu itu sendiri.

Mereka hanya butuh satu sama lain.

Tanpa sadar, Draco tenggelam dalam pikirannya sambil memperhatikan Hermione menepuk-nepuk tanah yang awalnya berantakan. Seorang wanita mengenakan gaun pendek berwarna ungu kemudian menghampiri dan memanggilnya dari batas pekarangan. Gadis itu menoleh ke belakang dan langsung berdiri sambil menepuk-nepuk beberapa bagian pakaiannya yang kotor karena tanah. Hermione tersenyum sopan, lalu menghampiri.

Wanita yang Draco kenal sebagai ibunya itu tampak berbicara agak panjang dan sepertinya kurang jelas karena Hermione harus melangkah mendekat dan memasang telinganya baik-baik. Draco mengerutkan kening. Hermione kelihatan begitu serius berpikir sambil sesekali mengangguk. Narcissa kemudian menunjuk ke atas, ke arah jendela kamar Draco, dan melanjutkan pembicaraannya lagi. Draco kemudian melihat Hermione menatap ke jendela kamarnya, lalu mengangguk lagi. Apa yang dilakukan Narcissa selanjutnya adalah menggenggam punggung tangan Hermione singkat, kemudian pergi, mengisyaratkan Draco bahwa pembicaraan telah selesai.

Ia bertanya-tanya apa yang barusan mereka bicarakan sampai harus berbisik dan menunjuk jendela kamarnya. Ia tahu subjek yang mereka bicarakan adalah dirinya. Karena yang benar saja, Hermione datang ke rumahnya bukan karena ingin kampanye pembelaan hak asasi peri rumah, 'kan?

Gadis itu mematung di tempat sambil mengait-ngaitkan jari dari kedua tangannya. Kemudian ia menatap cukup lama ke arah jendela kamar Draco lagi. Draco menatapnya balik, karena ia tahu Hermione hanya akan melihat jendela dengan kaca berwarna gelap tanpa bisa melihat isinya. Pemuda itu mencoba membaca garis mukanya. Bingung? Yang ia dapatkan dari ekspresi gadis itu tadi hanyalah bingung karena ia sudah membalikkan badannya dan menyusun beberapa bunga yang selamat di dalam keranjang anyaman.

Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan sulit bernafas. Ia menutup matanya rapat-rapat dan menghalau rasa sakitnya agar tidak berteriak. Jari-jarinya mencengkram tangan sofa, menghasilkan suara robekan kecil. Dan kemudian rasa sesak itu perlahan hilang. Draco terengah. Ia mengatur irama nafasnya lagi. Cengkramannya perlahan melunak.

Setelah ia merasa tubuhnya kembali normal, di saat itu pula Hermione memutar kenop pintu kamarnya dan melangkah masuk sambil membaca sekeranjang penuh bunga. Ia kemudian melepaskan ikatan rambutnya. Pakaiannya masih ternodai dengan tanah di sana-sini, tetapi kaki dan tangannya sepertinya sudah bersih dengan air.

Hermione melangkah ke tengah ruangan, "Apa kabarmu sekarang?" Hermione menaikkan kedua alisnya singkat, sambil mengeluarkan tongkat dari saku celana dan menggumamkan mantra penghilang noda pada pakaiannya.

Draco masih menyesuaikan nafasnya sehingga butuh waktu lama untuk ia menjawab, "Seperti biasa."

Ia melihat Hermione langsung menoleh ke arahnya dan menghentikan aktivitas membersihkan pakaiannya. Gadis itu mengerutkan alis sambil pelan-pelan mendekati Draco, "Kau yakin? Aku rasa ada yang tidak beres, Malfoy."

Draco menatapnya tajam, "Aku baik-baik saja," ujarnya dingin.

"Biar aku periksa," Hermione mendekat lalu berlutut, kemudian menempatkan telapak tangannya di dada Draco.

"Aku baik-baik saja, Granger. Singkirkan tanganmu dari situ."

"Tutup mulutmu, aku sedang berkonsentrasi," ujar Hermione sambil menutup mata. Beberapa detik kemudian ia menarik tangannya lagi sambil menghela nafas. Hermione memijit pelipisnya dan berdiri melanjutkan aktivitas membersihkan pakaiannya.

"Sudah kubilang," timpal Draco, "Lain kali biar aku sendiri yang memutuskan apa yang sedang aku rasakan, Granger. Aku masih hidup dan cukup waras untuk mengidentifikasi keadaan diri sendiri."

Hermione mendelik, "Aku hanya khawatir."

"Ya, tetap seperti itu seolah-olah aku tak bisa merasakan tubuhku sendiri," Draco membuang muka.

Hermione mendengus, lalu menggelengkan kepala sambil memasukkan tongkatnya lagi ke dalam saku celana, "Jika kau ingin berargumen, aku sedang tidak mood."

Draco tidak menghiraukannya. Pandangannya kemudian teralihkan ke meja lampu di sebelah tempat tidurnya yang di atasnya baru saja ditaruh keranjang anyaman yang Hermione bawa barusan. Dari tempatnya, Draco bisa lihat beberapa susun bunga anggrek terdapat di posisi paling atas. Draco membeku.

Hermione mengikuti arah pandangan Draco. Kemudian ia berbicara pelan, "Hanya itu yang bisa aku selamatkan. Sisanya rusak parah. Akan kulihat apakah ada tempat yang aman di rumahmu untuk menanam mereka di dalam pot."

Draco mengerling padanya. Hermione berjalan ke arah keranjang anyaman itu, kemudian duduk di sisi tempat tidur Draco. Ia mengambil setangkai bunga anggrek, kemudian memainkannya di jari-jarinya, "Aku suka anggrek. Ia melambangkan kekuatan." Hermione mengedikkan bahunya sambil menaruh kembali setangkai anggrek tadi di tempat asalanya, "Lihat saja jumlah anggrek yang selamat dari badai kemarin."

Draco menatapnya. Astoria juga suka anggrek.

Ia tidak tahu kenapa, tapi setiap hal yang dilakukan Hermione hari ini selalu mengarahkan pikirannya pada Astoria. Ia merindukannya. Draco merindukan Astoria.

Tetapi tak lama kemudian kenyataan menyadarkannya. Ia menggelengkan kepala, kemudian meminta bantuan Hermione untuk membaringkannya di atas ranjang dan memilih piringan hitam untuk diputar.

Di rak kecil sebelah tempat tidurnya, Hermione memilih-milih satu dari banyak koleksi piringan hitam di dalamnya. Draco sempat mendengar Hermione terkejut karena di antara banyak piringan hitam itu ia menemukan lagu-lagu The Beatles, yang mana ia pilih pada akhirnya.

Siang itu dilalui mereka dengan kesibukan masing-masing. Setelah memberi Draco ramuan, Hermione duduk di sofa favoritnya sambil mencorat-coret buku catatan kecil yang sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat. Draco tidak begitu tertarik. Sebenarnya ia ingin meminta Hermione membacakannya buku yang ia sempat baca tadi pagi. Tapi Draco mengurungkan niatnya.

Yang membuatnya tidak nyaman adalah, Hermione memilih lagu kesukaan Astoria, 'I Want to Hold Your Hand'. Dan Draco sempat berpikir bahwa Merlin begitu menyusahkannya hari ini.


Hermione menatap Draco diam-diam. Catatan yang ia buat hari ini menghabiskan dua lembar kertas. Tentang keadaan Draco setibanya tadi pagi, keadaan Draco yang sempat membuatnya curiga sehabis ia berkebun, dan keadaan Draco yang dibeberkan Narcissa di pekarangan belakang.

Ia tidak akan membawa Draco lagi ke luar rumah. Apa yang dikatakan Narcissa tadi pagi membuatnya agak tertohok dan sangat merasa bersalah. Wanita itu berkata bahwa semalam Draco berteriak kesakitan hingga setengah jam, membuatnya memanggil healer dengan mendesak. Healer yang entah siapa itu berkata bahwa Draco mengalami penurunan fungsi pernafasan. Ia bertanya apa yang Draco lakukan hari itu, dan Narcissa menjawab tentang kegiatan Hermione bersama Draco berkebun di pekarangan belakang. Healer tersebut berkata ia belum mengetahui kepastian penyebabnya, tetapi kemungkinan besar karena Draco keluar rumah hari itu, dan ia akan mencari tahu lebih lanjut.

Walaupun penyebabnya belum pasti, Hermione tidak akan mengambil resiko membawa Draco ke luar ruangan lagi. Seaman apapun keadaannya, Hermione tidak tahu keadaan yang dirasakan Draco seperti apa.

Ia harus lebih berhati-hati.

Selain itu, tampaknya Draco terlihat agak terganggu hari ini. Sudah beberapa lagu yang diputar Hermione, tetapi lelaki itu belum juga tidur. Bukan karena Draco harus tidur siang, tetapi biasanya Draco memang tidur siang. Nah, Hermione berpikir berlebihan lagi. Ia takut Draco benar-benar mengalami penurunan keadaan karena aktivitas berkebun mereka kemarin.

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Hermione bangkit dari duduknya untuk membuka pintu. Sebelum ia mencapai kenopnya, pintu sudah terbuka dan muncul wajah Alan dari sana, "Hai! Aku tidak mengganggu kalian, 'kan?"

Hermione tertawa pelan. Alan tersenyum padanya, lalu berjalan masuk ke tengah ruangan, "Ayo kita pergi check up ke St. Mungo sekarang." Suaranya terdengar bahagia.

Draco mengerutkan kening, "Sekarang?"

"Tunggu," Hermione duduk di sisi tempat tidur Draco, "Yang kuingat kau tidak pernah memberitahuku soal jadwal check up ini, Alan. Lagipula Draco tidak boleh lagi ke luar ruangan."

Alan berjalan ke arahnya dan duduk di sisi tempat tidur Draco dengan jarak beberapa inci dari Hermione, "Jadwal baru, Hermione. Sekarang ia harus rutin check up," ujarnya santai sambil bersiap-siap memilihkan baju ganti untuk Draco. Hermione hendak protes tetapi Alan mengisyaratkan untuk diam dan ia akan menjelaskannya nanti.

"Aku akan membuka akses perapian dan menyiapkan bubuk floo," kata Alan sambil menarik beberapa setel baju hangat dari lemari. Ia menyodorkannya kepada Hermione, "Kau pastikan Draco sudah siap dalam lima belas menit." Hermione bangkit dari duduknya dan mengambil tiga setel atasan dari tangan Alan, lalu mengangguk pelan. Kemudian Alan pergi ke luar kamar.

Ia membalikkan badan untuk menghadap Draco. Hermione menghela nafas panjang seolah-olah seperti akan menghadapi seekor Naga Hungaria. Sudah dua minggu ia bersama Draco, tapi selama ini ia tak pernah kebagian tugas mengganti baju Draco sampai lapisan yang paling bawah. Pipinya memerah. Setidaknya ia tak harus mengganti bagian bawah.

"Granger, cepatlah."

Hermione baru sadar dirinya baru saja berdiri mematung di tempat cukup lama. Ia naik ke tempat tidur Draco dan membuka selimut yang menutupi kaki lelaki itu. Hermione duduk di sebelah kaki Draco, berusaha untuk tidak menggesernya sama sekali agar tidak menimbulkan rasa sakit. Hermione berdeham. Merlin, ia grogi.

Draco hanya mengenakan selapis kaus lengan pendek dan baju hangat yang tebal. Hermione membuka kancing baju hangat berwarna hitamnya satu persatu. Kemudian membukanya perlahan-lahan. Ketika Hermione hendak meraih jahitan bagian belakang baju hangat tersebut, ia sempat kesusahan karena tangannya tidak sampai.

"Kau akan menghabiskan waktu dua jam kalau begini terus," ujar Draco sambil menegakkan badannya agar Hermione bisa lebih leluasa, "Kau duduk di kakiku."

Hermione mendongak menatap Draco. Apakah baru saja Draco bilang...

"Hah?" Hermione mengetes pendengarannya lagi.

"Tanganmu pendek. Dengan posisi begitu kau membuat tangan kiriku sakit tertekan." Draco mengedikkan kepalanya ke arah tangan kirinya, "Kau duduk di kakiku."

Pipi Hermione memerah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya duduk di atas kaki Draco. Hermione mengerutkan kening, "Kakimu nanti sakit!" Alibimu sungguh basi, Hermione.

Draco memutar kedua bola matanya, "Memangnya beratmu sebesar gajah?"

Hermione tampat berpikir sebentar, "Benar tidak akan sakit?"

"Ya. Cepat."

Hermione berjalan menumpu dengan lututnya dan perlahan-lahan duduk di atas paha Draco. Sehingga sekarang posisinya kedua kaki Draco berada di antara kaki Hermione. Gadis itu berdeham lagi. Ia meraih jahitan belakang baju hangat Draco sehingga sekarang posisinya seperti memeluk Draco dengan kedua tangannya.

Baju hangat selesai.

Tinggal satu lapis lagi dan otak Hermione berputar mencari alasan yang bagus untuk keluar dari ruangan itu secepatnya. Ia harap beberapa ekor unicorn datang meruntuhkan tembok, atau Lord Voldemort bangkit lagi dan tiba-tiba berapparate—Ah, tidak, tidak Hermione. Kau harus menyelesaikan ini dengan cepat.

Hermione mengambil jahitan kaus Draco bagian bawah dan menariknya hingga ke atas dada, dan...

Jika memungkinkan, Hermione bisa merasakan pipinya memerah lagi. Ia sekarang mengerti efek olah raga Quidditch pada postur tubuh. Perut Ron rata, dan otot perutnya ada enam. Tapi milik Draco terlihat lebih berbentuk. Sungguh, sayang sekali tubuh seperti itu harus terbuang sia-sia karena patah tulang belakang. Dan omong-omong, ia merasa berdosa setelah pikiran tentang Ron melintas di kepalanya.

"Terpesona, Granger?" Draco menyeringai.

Hermione tersadar dari pikirannya. Ia mendengus dan meraih lengan Draco dan mengangkatnya ke atas agar kaus itu bisa lepas dari badannya. Ia meraih lengan yang satunya lagi, kemudian mengeluarkan kaus itu dari leher Draco. Hermione cepat-cepat memakaikannya kaus baru berwarna biru tua agar pikirannya tidak terganggu lagi dan cengiran bodoh itu terhapus dari wajah Draco. Beberapa menit kemudian ia berhasil membuat Draco nyaman dengan selapis kaus dan dua lapis baju hangat.

Hermione turun dari pangkuan Draco dan meraih baskom kecil dari bawah tempat tidurnya kemudian mengisinya dengan air. Ia yang sekarang duduk di sisi tempat tidur Draco mencelupkan handuk kecil ke air tersebut dan memerasnya. Hermione membasuh setiap inci wajah dan leher Draco dengan handuk tersebut pelan-pelan. Kemudian ia mengeluarkan tongkatnya dan menggumamkan mantra agar rambut Draco menjadi lebih rapi.

"Bagaimana rupaku?" Draco mengangkat kedua alisnya. Sebelah bibirnya ia angkat ke atas untuk menggoda Hermione dan membuatnya tidak nyaman.

Hermione mengedikkan bahunya sebelah, "Seperti biasa. Versi lebih rapi," ujarnya santai karena ia sudah tahu Draco sedang menggodanya.

Beberapa lama kemudian Alan datang dan Hermione sudah siap dengan Draco yang tengah duduk manis di atas kursi roda. Mereka bertiga kemudian berjalan ke ruang tengah yang berada di lantai yang sama seperti lantai kamar Draco dan menggunakan jaringan floo untuk pergi ke St. Mungo.


Hermione mendongak pada Alan yang baru saja keluar dari ruangan check up di lantai delapan St. Mungo. Pria itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena suhu di sana cukup dingin walaupun ia memakai dua lapis baju hangat. Ia duduk di sebelah Hermione, di atas tempat duduk yang berada di luar ruangan check up yang terbuat dari beludru.

"Apakah Draco baik-baik saja?" Tanya Hermione.

"Sedang diperiksa," jawab Alan sambil tersenyum dan bersandar ke tembok.

"Kenapa ia harus tiba-tiba melakukan check up?" tanya Hermione heran.

Alan menegakkan badannya menjauhi tembok, "Narcissa memberitahu aku—"

"Tentang kejadian tadi malam yang menimpa Draco?" Potong Hermione. Alan mengangguk, Hermione menghela nafas, "Ia juga memberitahu aku. Jadi ini adalah soal aku membawa Draco ke luar rumah dan healer baru kalau begitu." Hermione mengambil kesimpulan sendiri.

"Tapi aku kira ia akan baik-baik saja," Alan mengangguk.

"Jangan coba-coba menghiburku," Hermione mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Alan yang membuat pria itu tertawa. Hermione menaruh kedua telapak tangan di pipinya, "Aku penasaran siapa healer jagoan ini."

"Charles de Basco, kalau tidak salah?" Alan mengingat-ingat papan nama di atas meja kerja healer itu yang sempat ia lirik sebentar tadi.

"Charles de Bosco, maksudmu?" Hermione mengangkat kedua alisnya.

"Ah, ya!" Alan tertawa.

Merlin, tentu saja. Hermione baru ingat. Charles de Bosco, ia sering mendengar nama itu. Healer umum ternama, sudah meluncurkan lima buku, bakat turun temurun, dan keluarga darah-murni asal Yunani. Tapi kalau tidak salah pria itu sudah berumur tujuh puluh tahun. Sudah seharusnya ia pensiun dari pekerjaan ini.

Tetapi kemudian, mengapa Narcissa harus memanggil Charles de Bosco sementara putranya sudah mempunyai dua healer pribadi?

"Kau kelihatan begitu senang, Alan. Ceirtakan padaku apa yang terjadi," ujar Hermione sambil menyikut pria di sebelahnya itu. Ia bisa memikirkan tentang Charles de Bosco belakangan.

Alan nyengir, "Aku dapat beasiswa ke Selandia Baru."

Mata Hermione membesar karena terkejut sekaligus senang, "Benarkah? Ah, aku ikut senang! Karena apa, Alan?"

Alan mengedikkan bahu, "Penelitian iseng tentang darah naga," Alan menertawakan dirinya sendiri, "Percayalah Hermione, aku tidak menyangka akhirnya akan seperti ini."

Hermione tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Ini bukan akhir. Ini baru awal." Alan mengangguk setuju.

"Omong-omong, kapan kau akan berangkat?"

"Seminggu lagi." Hermione mengangguk-angguk.

Beberapa lama kemudian pintu ruang check up terbuka dan muncul seorang wanita berambut panjang merah terang memanggil keduanya masuk. Hermione mengikuti Alan dari belakang sambil berjalan melewati gadis yang agaknya sepantaran dengannya. Ia melirik ke papan nama kecil yang tersemat di jubah putih si gadis berambut merah.

Kassandra Phoebe de Bosco.

Gadis itu tersenyum ketika Hermione tak sengaja bertatapan dengannya. Hermione balas tersenyum sambil melewati ruangan dengan sepaket sofa merah dan beberapa rak buku. Mereka masuk ke ruangan yang lainnya, dimana terdapat banyak peralatan medis dan berbagai macam botol berisi ramuan.

Pria yang Hermione yakini bernama Charles de Bosco itu sedang membereskan alat-alat yang baru selesai dipakainya di atas meja. Draco sendiri sudah kembali duduk di kursi rodanya di seberang meja healer de Bosco. Kassandra, yang sudah jelas merupakan putrinya itu, berjalan melewati Hermione dan membuka jubah pasien berwarna hijau yang sedang dikenakan Draco. Hermione sempat sekilas melihat senyuman sopan Draco ketika tidak sengaja gadis berambut merah itu menyakiti tangan bagian atas Draco.

Hermione duduk di kursi sebelah kiri Alan dan sebelah kanan kursi roda Draco. Ia memperhatikan pria tua di hadapannya yang sedang tersenyum sambil merapikan dasi. Benar dugaannya, pria ini berumur sekitar tujuh puluhan. Tetapi ia masih terlihat sehat dan kuat.

"Kau terlihat lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu, Miss Granger." Pria itu angkat bicara. Hermione hanya tersenyum karena ia tidak tahu kapan ia pernah bertemu dengan seorang Charles de Bosco.

"Keadaan Tuan Muda Malfoy yang menawan sekarang ini sudah lebih baik dari yang tadi malam." Hermione menghela nafas. Pria itu melanjutkan lagi, "Bagaimanapun, Draco masih harus menjalani check up seminggu sekali karena penyebab utamanya belum diketahui." Charles tersenyum.

Entah mengapa Hermione tidak menyukai cara tersenyum pria tua dengan rambut merah bercampur uban di hadapannya itu.

"Aku benci melihat banyaknya ramuan yang harus kau minum setiap hari, Draco. Tapi aku harus menambahnya dengan satu jenis ramuan lagi, mau tidak mau. Maafkan aku," ujarnya sambil tersenyum pada Draco.

"Tidak apa-apa, Uncle Charles." Draco tersenyum sopan.

Draco? Uncle Charles? Hermione menghalau pikirannya yang baru saja datang. Ia tidak punya hak ikut campur kekerabatan orang lain. Ia kemudian memperhatikan Charles mengambil sebotol ramuan berwarna merah dan menaruhnya di hadapan Alan, "Seminggu sekali. Kalau sudah habis, bilang saja padaku." Alan mengangguk sambil mengambil botol tersebut.

Setelah beberapa candaan dan basa-basi tentang keadaan Lucius dan Narcissa, ketiganya memutuskan untuk kembali ke Malfoy Manor karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore lebih sedikit. Mereka diantar lagi oleh Kassandra sampai perapian di ujung koridor. Selama itu kursi dorong Draco diambil alih olehnya, dan Hermione tidak ada masalah dengan itu. Artinya mereka memang sudah kenal dekat.

Mereka tiba di Malfoy Manor tepat pukul setengah lima.

Hari ini Hermione merasa lelah sekali.


Masih setengah jam lagi waktu Hermione untuk pulang. Ia memutuskan untuk pergi ke pantri dan membuat teh merah bunga rosella. Alan langsung pergi ke kamar untuk membantu Draco membersihkan diri.

Terdapat meja makan kecil dengan empat kursi di sana. Hermione duduk di salah satunya sambil menunggu air mendidih. Ia lebih suka membuat teh dengan cara muggle ketimbang harus menggunakan sihir atau mesin. Sebelum Hermione sempat terlarut dalam pikirannya, sebuah suara POP! datang dari ujung ruangan. Hermione berbalik dan menemukan Prilly.

Peri rumah itu tersenyum dan membungkuk, "Miss Granger." Hermione membalas senyumannya. Prilly kemudian naik ke atas kursi di seberang Hermione sambil membawa kotak kayu kecil dengan ukiran rumit dan batu rubi di tengahnya dan menaruhnya di atas meja.

"Apa itu, Prilly?"

"Ini perhiasan sederhana milik Mistress Narcissa, Miss Granger. Prilly diperintahkan untuk membersihkannya di pantri." jawabnya dengan suara seperti kejepit sambil membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa perhiasan wanita yang menurut Hermione sama sekali tidak sederhana. Perhiasan-perhiasan tersebut terdiri dari kalung, gelang, cincin, dan anting, dengan jumlah yang tidak begitu banyak. Masing-masing dihiasi berbagai macam batu yang indah.

Menimbang-nimbang bahwa sangat berbahaya kalau perhiasan tersebut hilang, Hermione sebaiknya mengalihkan topik. Mengingat yang ada di sana hanya terdapat satu peri rumah dan dirinya sendiri.

"Prilly, kau tahu Charles de Bosco?" Hermione terkejut atas pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Ia tidak berencana untuk menanyakan tentang pria itu awalnya. Dan bukankah ia sudah berjanji untuk tidak ikut campur masalah kekerabatan orang lain?

"Prilly tahu, Miss Granger," jawabnya sambil menggosok cincin dengan batu berwarna biru terang, "Tetapi Prilly tidak boleh memberi tahu Miss Granger. Prilly sangat meminta maaf." Peri rumah itu menunduk.

Hermione terkejut, "Ya, tidak apa-apa, Prilly. Aku hanya ingin bertanya apakah Draco sudah mengenalnya lama." Hermione tersenyum.

"Kalau itu, Prilly boleh memberi tahu!" Ia mendongak sambil tersenyum bersemangat, "Ya, Miss Granger. Mister Draco sudah mengenal Mister Charles sejak lahir."

Hermione mengangguk-angguk dan menahan dirinya sendiri untuk tidak bertanya lebih banyak karena sepertinya hubungan Charles de Bosco dengan keluarga Malfoy sangat dirahasiakan. Ia memperhatikan Prilly yang sedang menggosok perhiasan terakhir, kalung sederhana dengan bandul batu ruby.

Bunyi desingan air mendidih membuat Hermione bangkit cepat-cepat dari duduknya dan meramu tehnya. Ia menaruh setoples bunga kering rosella miliknya di antara toples-toples minuman lain milik keluarga Malfoy. Beberapa menit kemudian ia kembali duduk di kursi yang tadi ia tempati dan dilihatnya Prilly masih menggosok perhiasan yang sama.

"Perhiasan spesial, Prilly?" Tanya Hermione sambil menyeruput tehnya.

"Ini perhiasan kesayangan Mistress Narcissa, jadi Prilly harus menggosoknya lebih lama," jawabnya sambil terus menggosok dengan hati-hati.

Hermione ingin bertanya lagi mengapa perhiasan sederhana itu adalah kesukaan Narcissa, tetapi ia menyadari dirinya terlalu cerewet. Selain itu, wajah Alan tiba-tiba muncul dari balik batas ruangan tidak berpintu itu dan Prilly sudah selesai membersihkan perhiasannya.

"Teh, Alan?" Hermione mengangkat cangkirnya.

Alan menggeleng, "Tidak, terima kasih, Hermione. Omong-omong, kau sebaiknya pulang sekarang. Sebentar lagi hujan deras dan langit sudah gelap."

"Bagaimana dengan Draco? Aku belum memberinya ram—"

"Biarkan aku melakukannya," potong Alan meyakinkan.

"Oh, oke." Hermione mengangguk.

Alan melangkah mendekat, "Kau mau aku antar sampai depan?"

Hermione tersenyum, "Tidak usah. Kau sebaiknya memberi Draco ramuan sekarang karena sudah hampir jam lima. Aku akan membereskan 'tea party'ku dulu, lalu pulang."

"Tea party bersama peri rumah?" Alan tersenyum, "Kau yakin tidak mau kuantar?"

"Seratus persen," jawab Hermione sambil mengangguk.

Kemudian Alan mengacungkan jempolnya dan pergi hilang dari pandangan. Gadis itu menyeruput tehnya hingga habis dan menatap Prilly dan tersenyum, "Senang berbincang denganmu, Prilly."

Prilly mengambil kotak kayu yang sudah tertutupnya, lalu membungkuk, "Sebuah kehormatan bagi Prilly berbincang dengan penyihir wanita paling cerdas di masanya, Miss Hermione Granger."

Hermione tertawa.


"Lucius!"

"Apa?"

"Kau tidak boleh memanggilnya dengan panggilan seperti itu!" Desis Narcissa marah pada suaminya.

Hermione menghentikan langkahnya. Ia mengintip ruang santai yang pintunya terbuka itu. Di dalamnya terdapat Lucius sedang duduk di sofa dan Narcissa yang berdiri menghadap perapian. Hermione ingin terus berjalan mengambil jubahnya yang digantung di dekat pintu dan pulang langsung ke rumah, tetapi sebuah kalimat mencegahnya pergi.

"Aku tidak ingin seorang darah lumpur mengasuh putra kita, Narcissa. Aku sudah mengatakannya dari dulu."

Narcissa berbalik, "Hanya dia yang menjawab permintaan kita."

"Tapi itu tidak berarti kita harus menerimanya di rumah ini!"

"Aku tidak mengerti, Lucius!" Narcissa memijat pelipisnya, "Kau yang menyuruhku mencari healer profesional pribadi! Tak ada yang membalas permintaanku kecuali Granger! Tak ada lagi! Bahkan Charles sekalipun."

"Tetapi ia datang tadi malam." Lucius menatap istrinya dingin.

"Dan aku sungguh bertanya-tanya mengapa," ujar Narcissa tajam.

Lucius membuang muka, "Kita akan menggantinya dengan Charles."

"Kau tidak bisa menggantinya begitu saja, Lucius!" Narcissa memainkan jari jemarinya, "Lagipula Charles sudah terlalu tua untuk mengurus Draco."

Lucius menggeleng, "Kalau begitu kita panggil putrinya yang paling muda." Narcissa menghela nafas panjang. Lucius melanjutkan, "Aku tidak percaya dengan gadis itu, 'Cissa."

Narcissa menyipitkan matanya dan menggeleng, "Aku tidak melihat ada yang salah dengannya."

"Ia tidak akan bisa memulihkan Draco!" Lucius bangkit dari duduknya. Suaranya bergetar karena marah, "Kita lihat nanti! Bagaimanapun caranya, aku akan menggantinya dengan putri Charles, dan kau sebaiknya mengerti!"

Kemudian yang ada setelah itu hanyalah suara percikan api dari perapian.

Hermione membeku di tempat.


Raindrops and Starlight, Chapter 4.