Hari ini adalah hari yang buruk buat Jaehwan. Namun, hari ini juga hari yang bagus buatnya. Kenapa dia merasa begitu? Kalian ingin tahu?. Baiklah, mari kita lihat dari sisi buruk yang di alaminya.
Pertama, dia terlambat bangun dan terlambat datang di jam pertama mata kuliahnya dan di hukum berdiri diluar sampai mata kuliahnya selesai.
Ke dua, dia tidak sengaja menumpahkan minuman jus jeruknya di kemeja seorang namja yang berada satu tahun di bawahnya dan dia merasa seperti pernah mendengar suaranya.
Ke tiga, dia tidak sengaja menabrak mobil yang menurutnya cukup mahal tadi. Orangnya terlihat sangat tegas dan berwibawa dan menuntut ganti rugi mobilnya pada dirinya. Bukan orangnya sih yang meminta ganti rugi padanya. tapi, supir mobilnya. Sang empunya mobil hanya diam memperhatikannya.
Dan ke empat, sialnya dia tidak tahu apa yang akan dia katakan pada sang ayah tentang kejadian ini. Ayahnya pasti tahu semua yang di lakukan dan terjadi padanya karena, dia adalah anak yang penurut pada appanya.
Dan sisi baiknya adalah semua yang dia alami berakhir dengan baik. Karena pemilik kemeja itu tidak mempermasalahkan kemejanya yang kotor karena jus jeruknya dan juga karena pemilik mobil tampan dan sangat baik hati tadi membebaskannya dari ganti rugi mobilnya dan gantinya dia mendapatkan protesan oleh supirnya yang ternyata adalah seketarisnya. Oh, iya. Dia memiliki suaranya kecil hampir tidak terdengar. Itu unik menurut Jaehwan.
Namun, dengan satu syarat Jaehwan harus mau menjadi pacarnya. Oh, hal gila apa lagi ini. Dia tidak menyukai yeoja tidak juga dengan namja. Tapi... Namja itu terlihat tampan dan seperti orang kaya jadi, apa yang harus dia pikirkan lagi. Hanya dalam hitungan menit Jaehwan sudah menyetujui syarat itu tanpa memikirkan resiko yang akan di terimanya. Apakah dia matre? Tidak, dia hanya ingin bertanggungjawab atas kesalahan yang di buatnya saja pada mobil namja tampan tadi dan juga memastikan bahwa dirinya seorang gay atau bukan. Karena dia tidak yakin akan dirinya sendiri. Tidak seperti Hongbin yang mengakui dirinya gay hanya untuk namja yang bernama Han Sanghyuk.
Dan juga karena dia hanya berpikir dirinya hanya berpacaran dengan namja tampan tanpa senyuman di wajahnya.
Mungkin dia harus membuat namja tampan itu tersenyum?. Bagaimana kalau namja itu tidak akan tersenyum jika dia membuat lelucon aneh dan malah di abaikan? atau dia adalah type namja tidak menyukai lelucon?. Bagaimana kalau namja tampan itu tidak suka di sentuh?. Bagaimana kalau sebenarnya namja tampan tadi hanya memanfaatkannya saja?.
Pikirannya kembali terpecah menjadi negatif pada saat dia sudah menyetujui syarat itu karena penjelasan lanjutan tentang persyaratan itu akan mereka bahas besok di kafe 'Secret Night'
Pikirannya kembali terbagi dengan pikiran-pikiran positifnya tentang namja itu padahalkan dia harus fokus menyetir agar sampai rumah dengan selamat. Ck memang hari yang buruk dan bagus sekali untuknya. Apakah durian sedang runtuh sekarang?. Sepertinya tidak, itu hanya khayalannya saja kan?.
"Namja itu baik, mungkin sedikit lebih tua dariku dan sepertinya aku harus menganti kemeja namja seksi itu." Gumamnya.
"Ah, aku akan menanyakannya pada Junnie nama namja seksi itu." Gumamnya lagi.
~T.B.O.M~
Hakyeon merengut kesal pada Uisa Kim dokter keluarganya yang saat ini membantunya untuk kembali mengerakkan tangan dan kakinya
Astaga.. Dia merasa capek dan butuh istrahat sekarang. Apa sih yang membuatnya begitu? Padahalkan terapinya baru berjalan hampir 30 menit dan Hakyeon sudah mengeluh?.
Oh, ayolah Hakyeon. Kau tidak berubah tetap manja, masih seperti kau kecil dulu. Hyungmu sedang kerja apa yang kau pikirkan? Kau ingin dia membantumu lari dari terapi yang aneh menurutmu itu?. Tapi, itu wajarkan di rasakan oleh seseorang yang baru bangun dari koma-nya selama 15 tahun tertidur, semua aktifitas yang di lakukannya pasti terasa berat dan melelahkan.
Dari mencoba mengerakkan jarinya kemudian mencoba mengerakkan lengannya begitu seterusnya begitu juga dengan kakinya. Apa sih yang melelahkan dari itu?. Bosan mungkin itu yang seharusnya di rasakan Hakyeon. Tapi, dia tidak.
Suster yang berada di sampingnya diam-diam tersenyum dengan tingkah Hakyeon yang menurutnya lucu untuk ukuran seorang namja berusia 22 tahun.
Hey, benar sekali, dia sudah berusia 22 tahun tapi, tingkahnya masih kekanakan. Mungkin karena efek dia tertidur selama 15 tahun?, mungkin juga.
Sementara Hakyeon mengumpat di dalam hatinya, suster itu diam-diam tertawa dengan tingkah lucu Hakyeon di dalam hatinya yang sedang menpoutkan bibirnya kesel.
"Uisa Kim... Kapan ini selesai?." Tanya Hakyeon untuk kesekian kalinya dalam 30 menit terakhir.
"Ehm.. Sebentar lagi, Hakyeon-ah. Bersabarlah. Kau ingin cepat bisa berjalan bukan?. Jadi, kau juga berusaha." Ucap Uisa Kim
"Ne..." Jawab Hakyeon pelan kembali mempoutkan bibirnya. Tingkahnya sangatlah lucu jika ingin kalian tahu.
Aahh, mari tinggalkan dirinya sebentar di sana.
~T.B.O.M~
Di perusahaan Ch Corp. Meeting dengan para pemegang saham sedang di berjalan. Cha Inguk sebagai Ceo dari perusahaannya hanya bisa tersenyum dengan hasil kerja bagus sang seketaris yang membawakan persentasi bulanan mereka dengan baik.
Meeting atau rapat seperti ini setiap awal bulan bahkan 2 minggu sekali akan di laksanakan membahas ide-ide cermerlang para karyawannya yang menurutnya dapat meningkatkan dan menguntungkan baik bagi perusahaannya dan juga bagi perusahaan penanam saham.
Inguk, merasa hidupnya sudah cukup menyenangkan dan bahagia.
Menyenangkan dan bahagia karena dia memiliki para karyawan yang dapat memberikan ide yang bagus-bagus untuk dapat di jadikan perudingan dan seketaris yang sangat setia padanya.
Rapat berakhir dengan tepuk tangan yang meriah, mereka semua berdiri menyambut baik persentasi bulanan mereka. Inguk juga tanpa sadar ikut bertepuk tangan dan ikut berdiri. Dia terlalu asik dengan dunianya sendiri tadi. Ckck.
Senyuman dia tebarkan. Saling menjabat tangan dengan para pembisnis yang menanam saham di tempatnya juga sebaliknya. Senyumnya semakin berkembang saat melihat seorang Ceo dari JG Corp. Namja yang tidak pernah melepaskan topeng yang di pakainya namun, dia tahu di balik topeng itu hanya wajah datar yang tampan yang tersembunyi di sana. Kakinya melangkah mendekati namja yang sedang berbicara dengan seketarisnya dengan suara yang mungkin tidak bisa dia dengar. Dua hari yang lalu, dia mengikuti saran seketarisnya dan di tanggapi dengan baik oleh Jung Taekwoon selaku Ceo dari JG Corp.
"Hay. Taekwoon-ssi." Sapa Inguk
"Oh, hay, Inguk-ssi." Sapa Taekwoon balik dan menyuruh asistennya pergi. Kini ke duanya berhadapan.
"Bagaimana menurutmu?." Tanya Inguk.
"Sangat bagus inguk-ssi. Ku harap kita bisa menjalin kerjasama yang sehat." Ucap Taekwoon sedikit tersenyum.
"Ku harap juga begitu. Kabar yang ku dengar kau sangat irit bicara tapi, lihat kau banyak bisa bicara banyak ternyata." Ucap Inguk.
"Benarkah?. Oh, maafkan aku jika aku membuatmu tidak nyaman." Ucap Taekwoon
"Ah, tidak. Tidak apa. Kau mengingatkan ku pada adikku. Dia sangat cerewet." Ucap Inguk di selingin dengan senyum di wajahnya tanda dia sedang senang.
"Inguk-ssi punya adik?." Tanya Taekwoon.
"Ne, aku punya seorang namdongsaeng, namanya Hakyeon. lain kali aku akan mengenalkannya padamu." Ucap Inguk.
'Hakyeon.' Batinnya. Sepertinya dia tertarik dengan pemilik nama itu.
"Ne. Inguk-ssi jika kita bertemu lagi." Ucap Taekwoon.
"Cha Sajangnim." Panggil seketaris Jeon
"Ada apa seketaris Jeon?." Tanya Inguk saat tadi namanya di panggil dia sedikit memiringkan badannya.
"Waktunya untuk pergi menjenguk Hakyeon-ssi, Sajangnim." Ucap seketaris Jeon.
"Ah, benar juga aku harus menjenguknya. Sepertinya obrolan kita harus selesai sampai di sini saja Taekwoon-ssi." Ucap Inguk setelah melihat jamnya.
"Ne. Tapi, boleh aku tahu?." Tanya Taekwoon.
"Ne, kau boleh bertanya." Jawab Inguk
"Kenapa dia berada di rumah sakit?." Tanya Taekwoon lagi.
"Hakyeon. Dia baru bangun dari tidurnya dua hari yang lalu." Ucap Inguk menjawab.
"Tertidur? Memang apa yang terjadi padanya?." Tanyanya lagi.
"Ceritanya panjang Taekwoon-ssi kau akan merasa kasihan pada kami. Tapi, kami tidak membutuhkan rasa kasihan yang kami butuhkan adalah kekuatan."
Ya, yang mereka butuhkan adalah kekuatan untuk menjaga dan juga kekuatan melindungi serta keberanian untuk mempercayai seseorang.
"Ne, apa yang kau katakan benar Inguk-ssi. Boleh aku ikut denganmu?." Ucap Taekwoon menanggapi dengan bagus, karena dirinya juga membutuhkan kekuatan seperti yang Inguk maksudkan.
"Tentu saja. Hakyeon pasti senang mempunyai teman baru. Tak kusangka aku akan mengenalkan adikku pada mu secepat ini. Kkkk..." Jawab Inguk sedikit terkekeh.
"Ne, Inguk-ssi." Balas Taekwoon sedikit tersenyum tipis.
~T.B.O.M~
Han Sanghyuk, namja berusia 17 tahun itu mendudukkan dirinya di salah satu bangku di dekat jendela perpustakaan di pojok belakang perustakaan, itu adalah tempat dia sering mencari jawaban tugas dan referensi untuk tugas yang di berikan gurunya. Dia namja yang pintar bahkan dia pernah mendapatkan rangking 1 di kelasnya. Namja yang rajin untuk siswa seukurannya. Dia tidak cupu bahkan dia tidak terlihat seperti seorang maniak buku. Dia hanya mengerjakan tugas sekolahnya itu saja tidak lebih. Bukankah itu kewajiban siswa untuk menjawab soal yang di berikan gurunya?. Anak yang selalu patuh pada orangtuanya, walau dia sedikit evil terhadap hyungnya tapi, dia adalah anak yang baik. Rambutnya berwarna putih sedikit bergerak ke kiri dan ke kanan setiap kali angin berhembus menerpa dirinya.
Jam pulang sekolah sudah dari tadi berbunyi namun, dia lebih memilih berdiam dirinya di sana mengerjakan tugasnya yang belum sepenuhnya selesai.
Kreek
Bunyi kurrsi di tarik membuatnya memalingkan matanya dari buku yang sedang di bacanya kepada seseorang yang duduk di depannya.
"Kenapa kau ada di sini hyung?." Tanya Sanghyuk.
"Aku ingin menjemput kekasihku." Jawaban yang di berikan seseorang membuat Sanghyuk tersenyum manis.
"Siapa kekasihmu Lee Hongbin-ssi?." Tanya Sanghyuk seolah bertanya pada orang yang tidak di kenalnya.
"Tentu saja itu kau, Han Sanghyuk-ah." Jawab Hongbin sok akrab dengannya.
"Kau bisa saja, Hyung." Ucap Sanghyuk sedikit tersipu malu. Rona merah bertenger di pipinya.
Sepertinya Sanghyuk melupakan tugasnya jika Hongbin sudah berada di dekatnya. Kalian tidak menyangkanya kan? Han Sanghyuk namja yang terlihat polos di luar ternyata seorang gay.
~T.B.O.M~
Di siang yang panas, banyak orang berlalu lalang bahkan ada yang berteduh di kafe-kafe terdekat hanya untuk berlindung dari matahari yang panas untuk beberapa menit bahkan berjam-jam.
Kim Wonshik, namja itu baru saja memasuki sebuah kafe yang bernamakan'Chain' untuk menemui seorang yeoja yang memintanya untuk datang ke sana.
Yeoja yang di ketahui olehnya sebagai teman sekampusnya. Dia lupa namanya yang pastinya yeoja itu cantik dan anggun serta di kagumi oleh semua namja di kampus mereka, Sungkwang.
"Kau datang oppa." Ucap yeoja itu saat Wonshik duduk di hadapannya.
"Ne, langsung saja. kau ingin mengatakan apa?." Tanya Wonshik langsung ke intinya.
"Ah, baiklah." Ucap yeoja itu kemudian berdiri.
"Oppa.. Saranghae." Ucap yeoja itu agak keras sambil menundukkan kepalanya, ke dua tangannya memegang sebuah surat yang sudah di tulis jauh-jauh hari hanya untuk hari ini.
Wonshik hanya mengerjapkan matanya, dia sebenarnya malas menanggapi pernyataan cinta seperti ini. Tak lama Wonshik berdiri tiba-tiba saja matanya menangkap siluet yang di kenalnya sebagai namja yang menumpakan jus jeruk di kemejanya tadi pagi berjalan menuju arahnya. Mungkin menemui seseorang di sana.
"Maaf, aku sudah mempunyai kekasih." Ucap Wonshik.
Menolak? Itulah yang sedang di lakukan Wonshik sekarang. Yeoja itu terlihat malu dan ingin menangis di tempatnya. Dengan keingintahuannya dia bertanya walau jawabanya akan menyakitkan hatinya.
"Siapa kekasihmu oppa?." Tanya yeoja itu.
"Kau mau tahu?." Tanya Wonshik balik.
"Ne."
"Hay, honey..." Ucap Wonshik tiba-tiba saat namja itu hampir melewatinya dan merangkulnya di pinggang.
Namja yang di panggil honey itu terkejut bukan main. Karena tiba-tiba saja dia di panggil honey dan di rangkul. Seakan mereka adalah sepasang kekasih.
Yeoja itu juga terkejut dengan apa yang di lihatnya, di pikirannya saat melihat hal itu adalah namja yang di sukainya ternyata seorang gay. Dia tidak percaya. Buktinya namja yang di panggil honey itu juga terkejut.
"Kalau kalian benar sepasang kekasih, bisakah kau mencium pasanganmu oppa? Di depan mataku sendiri." Tanya yeoja itu di matanya airmatanya mengembun akan jatuh dari tempatnya. Jika benar, dia akan merelakannya.
'Help me.' Bisik Wonshik di teliga namja itu sebelum menciumnya tepat di bibir. Namja yang kita ketahui bernama Lee Jaehwan kembali terkejut saat merasakan benda kenyal dan lembut itu menyentuh bibirnya. Padahal saat tadi Wonshik berbisik dia ingin protes akan perbuatannya. Namun, sepertinya protesannya harus menunggu sedikit lebih lama. Ke dua namja itu merasakan sesuatu berdesir di dalam hati mereka. Mereka tidak tahu apa itu. Yang Jaehwan ketahui dia di cium oleh namja yang tadi pagi baru di ketahuinya bernama Kim Wonshik dari temannya Junnie. Dan tentu saja Wonshik tidak tahu tentang dirinya.
Selama beberapa detik ciuman itu berlangsung tidak ada yang bergerak dari posisi awal bibir itu berada. Semua orang di sana yang menyaksikan kejadian awal hingga aksi ciuman itu terjadi di buat kaget, ada juga yang pingsan dan bahkan ada yang membuka lebar-lebar mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seseorang yang tidak jauh dari sana juga terdiam di tempatnya dia tidak tahu harus mengatakan apa pada hyungnya itu nanti. Padahal dia dan kekasihnya saja belum pernah berciuman apa lagi hyungnya. Dan juga sejak kapan hyung punya pacar? Koq dia tidak tahu?. Apakah dia ketinggalan berita?. (Angkat bahu).
Yeoja yang bernama Hwang Hyunri itu berlari keluar dari kafe tersebut dengan cepat tidak ingin melihat lebih lanjut apa yang sudah terjadi di depan matanya tadi. Ck, siapa suruh bertanya. Airmata yang di tahannya bahkan sudah jatuh menuruni pipinya. Jawaban yang sangat tidak mengenakan hatinya. Dia bahkan membenarkan pikirannya tentang mereka yang merupakan sepasang kekasih. Apakah nanti dia akan membenci mereka atau melupakan Kim Wonshik?. Dia tidak tahu. Hatinya masih sakit akan kenyataan yang di lihatnya. Bahkan dia menganggap hubungan mereka itu nyata.
Hey, dia hanya tidak tahu, bahwa mereka tidak mempunyai hubungan apapun selain dua orang yang bertemu secara tidak sengaja. Di waktu yang berbeda.
Setelah melepaskan ciumannya Wonshik langsung menarik Jaehwan pergi dari sana. Jaehwan yang masih syok tidak memberikan protesannya saat tangannya di tarik keluar dari kafe 'chain' itu. Dia hanya mengikuti langkah kaki Wonshik membawa dirinya kemana. Sepertinya Lee Hongbin selaku sang dongsaeng harus menunda percakapan seriusnya dengan sang hyung tersayangnya. Mungkin nanti di rumah dia akan menanyakannya pada sang hyung dan juga sahabatnya Kim Wonshik tentang kejadian hari ini.
~T.B.O.M~
Seperti biasanya di ruangannya Hakyeon, namja itu sedang menunggu sang hyung menjenguknya siang ini. Dia sudah mengatakannya sebagai janji yang menurut Hakyeon tidak mungkin untuk di tepati karena dia tahu hyungnya sangatlah sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya bisa menunggu mungkin sampai sore sambil memandangi pemandangan di luar jendelanya. Terapinya baru selesai setengah jam yang lalu dan sekarang dia merasa bosan.
Krek
"Saeng-ie..." Panggil Inguk dengan nada senangnya membuat Hakyeon memalingkan wajahnya dan membuat sebuah senyuman merekah di wajah manisnya.
"Hyung-ie... Kau datang." Ucapnya.
Inguk berjalan mendekati sang dongsaeng sedangkan seseorang yang di ketahuinya sebagai Taekwoon oleh Inguk mengikutinya dari belakang.
"Oh, kau membawa seseorang hyung.." Ucap Hakyeon masih dengan senyumannya.
Sedangkan Taekwoon namja itu merasakan sesuatu di hatinya saat melihat senyuman Hakyeon. Jantungnya berpacu cepat dan berirama. Terdengar sangat menyenangkan menurutnya. Yah, dia akui dirinya memang seorang gay. Karena itulah dirinya tidak mengatakannya atau menyebarkannya pada semua relasi bisnisnya bahwa dirinya adalah seorang gay dan hanya keluarga barunya saja yang mengetahuinya tentang ini serta orang-orang terpercayanya.
Sepertinya dia bisa menyimpulkan bahwa dirinya menyukai Hakyeon. Secepat itukah?. Bagaimana kalau Hakyeon normal?. Tidak gay sepertinya?. Entahlah, dia akan mencari tahu tentang itu nanti.
"Oh, perkenalkan dia Jung Taekwoon, salah satu dari relasi bisnis hyung-ie." Ucap Inguk
"Hay, aku Cha Hakyeon senang bertemu denganmu. Aku harap kita bisa menjadi teman dan maaf kita tidak bisa berjabat tangan." Ucap Hakyeon merasa sedikit tidak enak di akhir kata.
'Hanya teman? Aku akan membuatnya lebih dari itu.' Batin Taekwoon.
"Tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu juga Hakyeon-ssi." Ucap Taekwoon. Memaklumi.
"Kau type orang yang tidak banyak bicara ya?." Tebak Hakyeon.
"Eh?."
Tebakan Hakyeon membuat ke duanya kaget. Bagaimana dia tahu kalau Taekwoon tidak banyak bicara padahalkan mereka baru ketemu. Apakah Hakyeon bisa membaca pikiran?. Ah, mungkin saja ini adalah ikatan takdir. Batin Inguk berpikir positif. Lain Inguk lain juga Taekwoon. Taekwoon merasa mungkin sudah di takdirkan bertemu. Dia hanya tidak menyangka Hakyeon -namja yang baru di temuinya- bisa menebaknya dalam sekali lihat.
"Ah, maaf membuat kalian kaget." Ucap Hakyeon menunduk.
"Tidak apa-apa, kami hanya kaget saja atas tebakkanmu itu saeng-ie." Ucap Inguk.
"Ne, kau benar. Aku tidak banyak bicara." Ucap Taekwoon.
"Ahh..."
"kenapa kau memakai topeng Taekwoon-ssi?." Tanya Hakyeon lagi.
"Aah... Ini..."
"Kau ingin melihat wajahku?."
"Ne, karena menurutku kau akan terlihat tampan tanpa topengmu itu Taekwoon-ssi." Ucap Hakyeon.
Karena pertanyaan Hakyeon membuat Inguk juga jadi penasaran. Benarkah yang di pikirkannya bahwa Taekwoon mempunyai wajah tampan di balik topeng itu.
"Baiklah. Hanya untukmu." Ucap Taekwoon. Dia mulai melepaskan topengnya dengan perlahan. Topeng tanpa tali dan hanya bertenger di wajahnya dengan rapi seakan dia sedang memakai kacamata saja.
Hanya keheningan yang menemani mereka saat topeng itu sudah lepas sepenuhnya. Hakyeon mengedipkan matanya beberapa kali seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Jadi yang di katakannya memang benar. Taekwoon memiliki wajah yang tampan. Membuat ke dua orang itu tidak bergerak seakan takjub dengan wajah tampannya. Inguk bahkan merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Prediksinya juga ternyata benar tentang wajah tampan Taekwoon.
"Bagaimana menurutmu, Hakyeon-ssi?." Ucap Taekwoon dengan seringaian tipis di wajahnya.
~T.B.O.M~
Di sebuah taman yang di penuhi anak-anak yang sedang bermain. Sebuah mobil berwarna merah terang berhenti di samping sebuah toko yang menghadap langsung ke taman tersebut. Dua orang di dalamnya merasa canggung satu sama lain di karenakan insiden yang tidak menyenangkan menurut Jaehwan. Yups, Jaehwan berada di dalam mobil Wonshik. Dia masih mendiamkan dirinya karena insiden itu bahkan Wonshik sang pelaku juga masih diam di dalam pemikirannya sendiri.
Keheningan masih berlanjut di dalam mobil tersebut. Sepertinya tidak ada yang ingin memulai pembicaraan karena ke duanya masih sama-sama diam. Jaehwan, adalah orang pertama yang merasa tidak nyaman dengan keheningan sebenarnya dirinya ingin berbicara namun, dia hanya takut salah mengucapkan satu katapun.
"Maaf dan terimakasih atas bantuannya." Ucap Wonshik tiba-tiba.
Bantuan? Hey, dirinya bahkan belum mengatakan apa-apa tadi. Jaehwan yang mendengarnya mempoutkan bibirnya lucu.
"Lain kali sebelum kau melakukan sesuatu minta ijin dulu, kenapa?." Ucap Jaehwan protes.
"Dan kau tidak mengenalku sama sekali bahkan aku tidak mengenalmu." Ucap Jaehwan.
Ups. Sepertinya Jaehwan lupa dia sudah mengetahui nama Wonshik dari temannya itu.
"Maaf." Ucap Wonshik lagi.
Situasi yang tidak enak Jaehwan rasakan, dirinya merasa tidak enak setiap kali orang lain mengulang kata maaf padanya. Okay, itu memang salahnya Wonshik main menciumnya di depan umum. Tapi, dia bisa apa? Langsung memaafkannya?. Bisa saja Jaehwan memaafkannya tapi... Kenapa dirinya yang mengalami banyak kejadian hari ini?. Ini hari buruk atau hari baik?. Entahlah. Jaehwan tidak bisa mendescripsikannya lagi.
"Haaah... Baiklah, aku maafkan mu. Jangan mengulanginya lagi. Okay?." Ucap Jaehwan menghela napasnya. Sepertinya ini adalah pilihan yang tepat menurut Jaehwan. Memaafkannya.
"Gomawoyo, hyung." Ucap Wonshik.
"Ne, Cheonma."
Sepertinya mereka melupakan sesuatu dan mungkin mereka akan menyadarinya besok bahwa kejadian hari berakibat fatal untuk hari besok. Bagaimana cara mereka mengatasinya?.
~T.B.O.M~
Hari sudah menjadi gelap dan langit masih menyembunyikan bintangnya dari sang bulan. Hakyeon masih memandangi langit malam sejak sang kakak pulang sejam yang lalu untuk beristrahat di kamarnya dan juga Taekwoon, namja itu juga pamit pulang beberapa jam sebelum hyung-nya pulang. Kini tinggal dirinya sendiri di ruangan itu dan hanya di temani sinar bulan. Dia tidak bisa tidur semenjak kedatangan Taekwoon hari ini di ruangannya. Sinar bulan tersebut juga membuatnya berpikir di antara ke tiga bahan pemikirannya semenjak dia bangun dari tidurnya.
Siapakah Taekwoon ini?. Apakah dia langit?, bintang atau bulan?.
Dia tidak tahu dan dia hanya menebak kalau Taekwoon adalah bulan. Bulan yang merasa kesepian. Yah, Sinar mata kesepian di dalam mata Taekwoon saat Hakyeon melihat wajah tampannya, itu saja sudah cukup untuk membuat Hakyeon berpikir seperti itu. Dia berharap kalau mereka berdua bisa menjadi teman dan dia berharap Taekwoon bisa di ajak bermain di taman kesukaannya suatu hari. Yah, suatu hari.
Apa yang terjadi di dalam hidupnya setelah Hakyeon bertemu dengan Taekwoon?. Akankah hidupnya akan tetap berjalan seperti biasanya?. Hidup tanpa tahu masalah apapun di sekitarnya atau mengalami banyak kejadian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya?.
Hakyeon masih berpikiran seperti anak kecil anya?.
~T.B.C.~
Okay, key mau hiatus sekarang juga. mian ngak bisa menepati janji. Tapi, sebulan sekali key updating 1 atau 2 chapter. Itu kalau key ngak lupa yah... Kkk... Mianhaeyo ne?.
Untuk bagian peringkat Sanghyuk di sini key ambil dari dunia nyata. Kamshahamnida.
Gomawoyo sudah mereview di chapter 3 (bow) key doain untuk kalian semua yang ngereview agar sukses dengan apapun yang kalian lakukan sekarang!. Amin.
Kkkkk... Byeeeee... Saranghae... (Love Sigh)
~Key~
