Pada dasarnya, Kyungsoo adalah gadis keras kepala yang tidak akan mengubah pendiriannya dengan cepat. Ia akan membutuhkan banyak waktu untuk berfikir dan memutuskan untuk mengubah jalan yang telah ia pilih. Namun mengapa kali ini ia begitu saja menuruti kata hatinya untuk menyetujui membantu Chanyeol padahal ego dalam dirinya menolak dengan sangat keras?

Mungkin hal pertama yang membuat ia tergerak menghentikan kepergian Chanyeol dari flatnya pagi itu, karena semua ucapan yang dilontarkan Chanyeol tentang menjadi seorang gelandangan. Walau bagaimanapun Kyungsoo hanyalah seorang manusia yang hidup dengan keadaan ekonomi menengah kebawah. Baginya, mengumpulkan uang sebanyak itu tidak seperti membalikkan telapak tangan. Atau seperti Chanyeol yang bisa mendapatkan hanya dengan membintangi satu episode dramanya.

Luhan membayarnya sebagai seorang desainer amatir dengan gaji yang bisa dikatakan lebih dari cukup dan sepadan dengan hasil karyanya. Namun, Kyungsoo selalu membagi separuh gajinya setiap bulan untuk anak-anak panti yang lebih membutuhkan dan barulah sisa gajinya ia tabung setelah kebutuhan utamanya terpenuhi. Meskipun telah banyak donatur yang menyumbangkan dana, Kyungsoo tetap memberikan sebagian uangnya ke tempat dimana ia telah dibesarkan tersebut. Hanya itu yang Kyungsoo bisa berikan untuk membalas budi yang bahkan sebenarnya tak pernah ternilai harganya.

Dan hal kedua yang membuat Kyungsoo menyetujui membantu Chanyeol, tak lain karena permintaan lelaki tersebut untuk menemui anak yang dikabarkan memiliki hubungan dengan pria tersebut. Pada awalnya Kyungsoo berfikir kalau terlibat bukan merupakan hal yang baik untuk dirinya. Seperti yang telah diketahui, Kyungsoo sangat anti dan sangat muak dengan Chanyeol. Namun ingatan tentang Woozi yang berpotensi masih memiliki orangtua menepis semua ego yang berteriak di kepala untuk tetap menolak. Dan pada akhirnya, ia bersedia membantu pria berperawakan tinggi tersebut.

Chanyeol menyebutkan bahwa ia akan menghubungi Kyungsoo dua hari setelah kedatangannya mengunjungi Kyungsoo. Namun ternyata setelah hampir satu minggu, lelaki berparas tampan tersebut tak juga menampakan diri ataupun menghubungi Kyungsoo. Hingga Kyungsoo mulai berfikir kalau Chanyeol hanya ingin bermain-main dan membuatnya kesal.

Pukul tiga sore, kala Kyungsoo masih disibukkan dengan kegiatan sehari-harinya di kantor, Luhan mengetuk pintu dari luar ruangan lalu masuk menghampiri Kyungsoo yang tampak tak terganggu sama sekali dengan suara ketukan sepatu berhak tinggi yang beradu dengan lantai. Luhan duduk di sisi meja kerja Kyungsoo dan memperhatikan bagaimana Kyungsoo menggerakkan pensilnya dengan lihai sehingga membentuk sebuah desain baru yang setengah jadi. Luhan senang mempekerjakan Kyungsoo sebagai desainer di butiknya. Selain karena gambarnya yang selalu mengagumkan untuk seorang amatir, Kyungsoo juga sangat loyal dengan pekerjaannya. Ia selalu menepati deadline yang telah dijanjikan. Luhan yakin, suatu saat Kyungsoo akan menjadi seorang desainer yang hebat seperti yang selalu gadis itu cita-citakan.

Kyungsoo menaruh pensil lalu bersedekap menatap Luhan yang lebih tinggi dari posisinya saat ini.

"Kau sangat tahu kalau aku tak bisa bekerja sambil diperhatikan seperti ini. Jadi, katakan dengan cepat atau aku takkan bisa menyelesaikan secepat yang kau minta."

Luhan tertawa mendengar ucapan Kyungsoo yang bercampur dengan nada kesal. Tentu saja ia sangat hafal dengan kebiasaan Kyungsoo yang sama sekali tidak boleh diganggu saat menggambar. Namun kali ini ia harus mengusiknya sejenak akibat seorang laki-laki tampan yang sedang menunggu diruangan sebelah, ruangan pribadinya.

"Kau tidak perlu menyelesaikannya hari ini."

Ucapan Luhan membuat Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya heran. Ia sangat ingat bagaimana ekspresi marah Luhan tadi pagi saat menyuruh Kyungsoo menyelesaikan desain terakhirnya untuk peragaan busana nanti. Biasanya kalau mood atasannya sudah buruk sejak pagi, maka sampai jam pulangpun ia tidak akan pernah mendapatkan keramahan dari wanita bermata rusa tersebut. Namun apa yang terjadi saat ini? Luhan tersenyum dengan begitu cerah hingga menunjukkan binar di mata rusanya yang indah sambil menggumamkan kata yang berlawanan dengan kata yang Kyungsoo dengar tadi pagi. Kyungsoo tahu sesuatu telah terjadi kepada atasannya tersebut.

"Tidak! Aku akan menyelesaikan desainku hari ini juga. Aku tidak ingin mendengar kau mengomel besok pagi. Kau tak pernah tahu kalau suaramu sangat tak enak didengar ketika mengoceh seperti seorang nenek, kan? Jadi tolong jangan menggangguku hari ini."

"Oh, ayolah Kyungsoo! Tak bisakah kau menerima kebijakan dariku dengan baik?" Luhan setengah membujuk namun gadis cantik dihadapannya malah menggeleng lalu kembali mengambil pensil dan bersiap mengguratkan garis. Ketika Luhan mengambilnya, ia berteriak dengan spontan.

"Seseorang sedang menunggumu di ruang kerjaku," ucap Luhan, "kau tahu? Sebenarnya saat ini aku begitu ingin menginterogasimu dengan berbagai macam pertanyaan yang bahkan telah tersusun dengan acak dikepalaku. Namun aku ingat masih memiliki segudang waktu bersamamu. Kau harus menceritakan semuanya kepadaku tanpa ada yang terlewat satupun! Oh, keberuntungan apa yang berpihak padamu sebenarnya, Kyungsoo?" lanjutnya sembari menggeleng kepala masih tak percaya.

"Luhan, aku sungguh tidak mengerti apa yang kau maksud dengan keberuntungan. Jadi, sekarang kembalikan pensilku! Kau tahu, aku begitu ingin menikmati hari liburku nanti tanpa terus memikirkan desain yang belum selesai. Aku tidak akan bisa bersenang-senang!" Kyungsoo merengek namun perempuan di hadapannya tak ada niat sama sekali mengembalikan perkakas utamanya untuk bekerja tersebut. Benda itu masih berada di dalam genggaman erat sang pemilik butik. Saat ia hanya mendapatkan tatapan dari Luhan, Kyungsoo mendesah, kalah. "Siapa sebenarnya orang yang bisa mengubah fikiran dan moodmu dengan cepat?" ujarnya mencebik.

Luhan mengangkat bahu lalu tersenyum ketika melihat Kyungsoo beranjak untuk mengenakan mantel yang menggantung di sudut ruangan. "Jangan bersiap terlalu lama. Tamuku kali ini terlalu spesial untuk menunggu seorang gadis berdandan."

Kyungsoo membalik tubuhnya menghadap Luhan dengan kesal. "Siapa? Siapa yang mau berdandan, huh? Aku hanya akan mengenakan mantel," tuturnya sambil memasukan tangannya ke lengan mantel lalu kembali ke meja kerjanya untuk meraih benda yang tergantung di sandaran kursi, "lalu mengambil tasku. Itu saja!"

Luhan terkikik geli kala melihat wajah bulat yang merengut lucu. Kalau saja ia bertemu dengan Kyungsoo sejak kecil, mungkin ia sudah menjadikan Kyungsoo sebagai adiknya. Wajar saja, Luhan adalah anak tunggal, sehingga tak bisa merasakan bagaimana serunya bertengkar atau berdebat dengan saudara sendiri. Sampai ia bertemu dengan Kyungsoo, ia merasa kalau tingkah Kyungsoo yang dinginㅡtetapi menggemaskanㅡ selalu menggelitiknya untuk terus menggoda perempuan bermata bulat tersebut. Dan kini interaksi mereka terlihat seperti sepasang adik dan kakak yang gemar bertengkar.

"Jangan mengikat rambutmu!" Cegah Luhan saat Kyungsoo membuka ikatan rambut lantas menyisir rambutnya menggunakan jari kemudian menarik keatas bersiap menguncir kuda rambutnya seperti biasa.

"Demi Tuhan! Kenapa banyak sekali aturan? Aku selalu mengikat rambutku setiap hari dan kau tak pernah mengatakan apapun. Dan kenapa kali ini tiba-tiba kau.. kau sungguh mengesalkan!"

Luhan menaruh pensil diatas meja kemudian beranjak untuk merapikan rambut hitam Kyungsoo yang jatuh tergerai dari tangan pemiliknya kemudian berpindah meraih kedua pipi Kyungsoo yang sebulat kue mochi. "Hanya dengarkan kata-kata unni, oke? Ayo!"

Kyungsoo sedikit malas ketika Luhan menyeret tangannya dan berjalan dengan langkah yang lumayan lebar membuatnya kesulitan menyamakan langkah. Kyungsoo dapat merasakan kalau perasaan Luhan tengah menggebu-gebu sampai-sampai tak sadar kalau genggamannya di tangan Kyungsoo begitu erat.

Ketika tiba didalam ruangan Luhan, Kyungsoo sedikit tercengang ketika melihat sosok pria tampan tengah duduk sembari menyangga sebelah kaki diatas lutut persis seperti yang pernah ia lihat di flatnya kala itu. Pria itu melambai dan tersenyum dengan sangat lebar kearah Kyungsoo yang masih memasang ekspresi datar seperti biasa. Bersamaan dengan itu, ternyata perasaan lega tengah memenuhi hati Kyungsoo saat mengetahui Chanyeol datang menemuinya. Apakah Kyungsoo telah mengharapkan Chanyeol selama satu minggu ini? Hm, mungkin saja. Berhubung Chanyeol mempunyai sangkutan dengan Woozi, adik pantinya. Atau karena alasan lain? Entahlah.

.

Lagu Uptown Funk yang dilantunkan oleh Bruno Mars mengalun didalam mobil BMW keluaran tahun 80-an untuk mengiringi perjalanan Chanyeol dan Kyungsoo. Mobil tersebut adalah mobil tua peninggalan ayah Chanyeol yang sampai saat ini selalu Chanyeol rawat dengan baik dan hanya sesekali ia gunakan mengingat kini ia tak hanya memiliki satu unit mobil. Ia juga sedikit memodifikasi pada bagian-bagian tertentu tanpa menghilangkan kesan klasik yang ada pada mobil tersebut.

Tanpa malu-malu atau merasa canggung, Chanyeol bernyanyi dengan keras dan lantang. Kepalanya mengangguk-angguk sesuai dengan irama lagu bergenre funk tersebut. Sesekali ia melirik Kyungsoo yang duduk disampingnya sambil memalingkan muka seperti merasa terganggu dengan dentuman keras yang berasal dari speaker mobil Chanyeol. Dan sesuai dugaan, saat Chanyeol dengan sengaja menaikkan volumenya, Kyungsoo langsung menoleh lalu menatapnya dengan tajam dan juga kesal. Suara musik mulai redup seiringan dengan tangan mungil Kyungsoo yang menekan tombol beberapa kali dengan agak keras.

"Kenapa?"

"Apa kupingmu sudah rusak?" Kyungsoo balik bertanya dengan nada sarkasme yang harusnya terdengar menakutkan namun malah menggelitik Chanyeol untuk menaikkan kedua sudut bibirnya keatas. Sudah pernah Chanyeol katakan, bukan? Kalau ia sangat menyukai setiap perubahan ekspresi Kyungsoo. Dan hal itu membuat Kyungsoo semakin jengkel dan segera mematikan CD playernya.

"Apa aku harus selalu menggunakan cara seperti ini agar dapat berbicara denganmu?" goda Chanyeol. "Ah, bagaimana bisa seorang Park Chanyeol sepertiku diabaikan seorang wanita seperti ini? Aku bahkan telah mengoceh banyak hal sepanjang perjalanan ini namun tak mendapatkan tanggapan sedikitpun. Harga diriku sungguh terluka." lanjutnya seraya menepuk-nepuk dadanya disertai dengan helaan kecewa yang terdengar palsu.

"Aku tidak berada disini untuk mendengarkan obrolan yang tidak jelas. Jadi lebih baik tutup mulutmu dan berhenti mengoceh."

"Apa kau sedang kesal padaku?" tanya Chanyeol.

"Ya."

"Kenapa?"

"Mungkin karena kau adalah Park Chanyeol, maka dari itu aku kesal." Jawab Kyungsoo.

"Jadi, apa aku harus mengganti namaku menjadi Park Jinyoung sehingga kau bisa menyukaiku?"

"Itu tidak lucu."

"Lalu apa aku harus tetap menggunakan namaku sendiri dan kau bisa mulai menyukaiku?"

"Diam atau hentikan mobilnya!" ancam Kyungsoo dengan mata menajam. Namun sepertinya hal itu tak menakuti Chanyeol sama sekali. Pria itu hanya tertawa dengan sedikit dengusan. Dan selanjutnya ia memelankan laju mobilnya hingga berhenti di bahu jalan.

Chanyeol mengubah posisi duduknya menjadi menyamping sehingga menghadap Kyungsoo yang duduk di bangku penumpang. "Aku memilih opsi kedua. Jadi, apa sekarang aku bebas berbicara?"

"Kau membuang waktuku!" Balas Kyungsoo membuka sabuk pengaman yang menahan tubuhnya lalu bersiap membuka pintu namun urung ketika tangan besar Chanyeol mengunci kembali pintu dengan gerakan lebih cepat dari Kyungsoo. Perlu diketahui, kalau mobil ini tidak menggunakan pengunci otomatis, sehingga kini posisi Chanyeol condong kearah Kyungsoo dengan tangan masih bersandar pada pintu mobil tepat disebelah bahu Kyungsoo.

"Itu tidak ada dalam pilihan." Chanyeol berkata di depan wajah Kyungsoo yang kini berjarak tak lebih dari sepuluh centi dari wajahnya. Hembusan nafas Chanyeol menerpa wajah Kyungsoo sehingga menimbulkan rona merah dipipinya yang bulat. Untuk sesaat, waktu terasa seperti berhenti karena keduanya sibuk mengamati satu sama lain. Ketika Chanyeol bergerak pelan untuk memangkas jarak diantara mereka, mata bulat Kyungsoo mengerjap dengan begitu lucu. Membuat Chanyeol tak kuasa menahan senyumannya ketika melihat kepanikan yang menguasai wajah wanita cantik tersebut.

"Kau harus menggunakannya lagi." Lanjut Chanyeol seraya memasang kembali sabuk pengaman Kyungsoo yang telah terlepas. Senyuman jahil itu membuat Kyungsoo segera mendorong Chanyeol dan dengan segera memalingkan wajahnya kesamping. Apa yang sebenarnya Kyungsoo fikirkan? Kenapa ia berfikir kalau Chanyeol akan menciumnya? Kyungsoo pasti sudah gila karena berfikiran seperti itu. Dan kenapa sekarang wajahnya terasa panas. Oh sialan!

Chanyeol kembali menertawakan sikap Kyungsoo yang semakin terlihat menggemaskan. Apalagi dengan pipi merona merah seperti itu. Sebenarnya pada saat yang sama, jantung Chanyeol berdegup dengan sangat keras ketika tatapan matanya terkunci pada bibir penuh Kyungsoo yang begitu menggoda dan minta dilumat. Namun selamat bagi Kyungsoo, otak dalam diri Chanyeol masih bekerja dengan sangat baik sehingga ia tak mendengarkan setan dalam dirinya. Chanyeol tak ingin mengambil resiko dengan membuat Kyungsoo menjauh darinya. Mengingat ia masih perlu bantuan Kyungsoo untuk mendapatkan semua jawaban dari teka-teki yang kini terasa menyulitkan hidupnya.

Chanyeol kembali memacu mobil dengan kecepatan sedang. Kali ini lelaki itu tak banyak berbicara demi kenyamanan Kyungsoo yang sepertinya masih terlihat kesal. Sejak ia menggoda Kyungsoo tadi, wanita itu belum juga mengalihkan tatapannya dari jendela mobil. Seperti pemandangan diluar lebih indah dari wajah tampan Chanyeol saja. Barulah ketika Chanyeol mengambil lajur lain lalu berbelok, Kyungsoo menoleh dengan terheran.

"Kenapa tiba-tiba mengganti arah? Ini bukan jalan menuju panti." Pertanyaan Kyungsoo hanya dibalas oleh seulas senyuman lebar yang tentu saja tak bisa menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Kita mau kemana?" tanya Kyungsoo lagi. "Kau mendengarku? Katakan sesuatu atau aku akan menelepon Polisi."

"Apa yang akan kau katakan pada Polisi?"

"Aku.. diculik."

Chanyeol terbahak mendengar jawaban Kyungsoo. "Bagaimana mereka akan percaya aku menculikmu? Sedangkan yang mereka lihat nanti adalah kau duduk disana dengan aman dan nyaman bukan meringkuk di bagasi dengan tangan terikat." Ujar Chanyeol masih dibarengi dengan gelakan tawa yang membuat bibir Kyungsoo mencebik kesal. Tiba-tiba tangan Chanyeol terangkat untuk menyentuh kepala Kyungsoo lalu menepuk-nepuknya dengan sayang. Terlihat seperti sedang menenangkan seorang anak kecil. "Duduk yang tenang, cantik. Aku tidak akan menyakitimu."

Kyungsoo menepis tangan Chanyeol dari kepalanya ketika pria itu dengan sengaja mengerlingkan sebelah mata kepada dirinya. Lagi-lagi Kyungsoo merasa wajahnya kembali memanas karena ulah Chanyeol yang selalu tak terduga. Kyungsoo merasa menyesal kepada dirinya sendiri kenapa ia jadi seperti ini. Harusnya ia merasa biasa saja bukan? Toh Kyungsoo juga tak menyukai Chanyeol sejak awal.

Setelah hampir lima belas menit, Chanyeol menghentikan mobilnya di basement sebuah stadion yang hari ini terlihat lebih penuh dari biasanya. Kenapa ia mengajaknya kemari? Ingin sekali Kyungsoo bertanya seperti itu namun ia takut jika ia membuka suara maka kejadian seperti pipinya memerah akan berulang. Jadi ia lebih memilih diam dan melihat sendiri nanti.

Dari yang Kyungsoo tahu, hari ini tim bisbol Korea akan bertanding melawan Amerika. Dan kalau sudah mengingat tentang bisbol, Kyungsoo jadi teringat kepada Sehun. Pasti pria itu ada disini saat ini. Menggunakan seragam bisbol yang selalu membuat pria itu menjadi dua kali lebih tampan dari biasanya. Membayangkan itu, senyum Kyungsoo mengembang. Mungkin merasa beruntung memiliki status sebagai mantan kekasih pemain bisbol terbaik di Korea. Namun tak lama ia merasa dirinya konyol saat memikirkan mungkin saja Sehun sudah tak mengenalinya lagi saat ini.

"Aku ingin bertemu sepupuku dulu. Aku sudah berjanji akan menontonnya bermain hari ini, namun sepertinya aku tidak bisa karena harus pergi bersamamu. Jadi aku akan menemuinya sebentar saja." Papar Chanyeol seraya menggunakan peralatan menyamarnya seperti biasa. Masker, topi dan hoodie sepertinya sudah menjadi pakaian wajib yang harus ia bawa kemana-mana. Meskipun tak jarang mata media yang begitu tajam tidak pernah bisa dibohongi.

"Aku menunggu disini." Ucap Kyungsoo.

"Tidak. Kau juga ikut masuk. Siapa yang tahu kalau kau akan melarikan diri?"

"Aku ikut masuk?" tanya Kyungsoo berulang. Kalau sepupu Chanyeol adalah anggota tim bisbol Korea, berarti ia satu tim dengan Oh Sehun. Dan kalau Kyungsoo ikut bersama Chanyeol, besar kemungkinan ia akan bertemu Sehun. Tidak! Tidak bisa. Kyungsoo tidak mau. Itu tidak akan bagus untuk kesehatan jantungnya. Hari ini saja ia sudah seperti serangan jantung dua kali. "Tidak! Aku-" belum sempat Kyungsoo selesai, Chanyeol sudah turun dari mobil lalu berjalan memutari kap untuk membukakan pintu untuk Kyungsoo.

Kyungsoo berdecak kesal. Kenapa pria ini selalu mengatur Kyungsoo dengan seenak hatinya? Kenapa ia tak membiarkan Kyungsoo duduk menunggu disini sementara ia pergi menemui sepupunya? Dan seketika ia merasa menyesal telah memutuskan untuk terlibat bersama pria sialan ini.

"Lihat! Sekarang siapa yang sedang membuang waktu?" sindir Chanyeol setelah lama menunggu dan berdiri namun Kyungsoo seperti tak ada niat untuk bangun dari duduknya. "Apa aku harus menyeret tanganmu? Atau menggendongmu keluar?"

"Aku bisa berjalan sendiri!" tandas Kyungsoo keluar dari mobil dengan gerakan kasar lalu berjalan meninggalkan Chanyeol yang sedang tersenyum menang dibelakangnya.

"Oh, aku suka macan betina!" erang Chanyeol ketika melihat Kyungsoo yang sedang berjalan memunggunginya.

.

Chanyeol dan Kyungsoo berjalan beriringan di koridor stadion menuju ke ruang ganti tempat dimana para pemain timnas bisbol berada. Entah sejak kapan, namun kini tangan Chanyeol menggenggam erat pergelangan tangan Kyungsoo seolah takut gadis itu akan benar-benar melarikan diri darinya. Mereka beberapa kali berpapasan dengan para kru pertandingan yang sepertinya tak mengenali Chanyeol. Mereka yang kebanyakan laki-laki hanya tersenyum kearah Kyungsoo tanpa mempedulikan pria jangkung yang menatap sengit dari balik kacamata hitamnya.

Ketika sampai di depan ruangan yang mereka cari, Kyungsoo menghentikan langkah dan menarik tangannya dengan tiba-tiba. Tak ayal hal tersebut juga membuat Chanyeol ikut berhenti dan memandang Kyungsoo, bertanya hanya dengan menggunakan raut wajahnya yang sama sekali tak terlihat.

"Aku.. aku akan menunggu disini. Cepat selesaikan urusanmu!" ujar Kyungsoo dengan nada pelan bahkan hampir terdengar seperti bisikan. Chanyeol sempat terheran, namun sedetik kemudian ia mengangguk untuk menyetujui keinginan Kyungsoo.

"Baiklah. Tunggu disini dan jangan mencoba untuk melarikan diri! Karena aku pasti aku akan menemukanmu dimanapun kau bersembunyi." Chanyeol memperingatkan dengan mengacungkan jari telunjuknya.

Belum sempat Chanyeol melanjutkan langkah, pintu ruang ganti sudah terbuka dari dalam dan menunjukkan pria jangkung berkulit putih dengan seragam bisbol lengkap, kecuali topi yang masih berada pada genggamannya. Dengan gerakan spontan, Kyungsoo bersembunyi dibalik tubuh tinggi Chanyeol berusaha untuk menjadi sangat kecil agar Sehun tak dapat melihat keberadaannya.

"Aku baru saja ingin menemuimu," seru Chanyeol.

"Kau datang juga? Aku kira kau tidak akan datang setelah mendengar kemarin kau berada di Roma untuk pemotretan," balas Sehun.

"Aku kembali tadi pagi."

sehun mengangguk mengerti. "Dan, apa kau menemukan seorang gadis disana?" tanyanya seraya memiringkan badan untuk melihat seorang gadis mungil yang tengah bersembunyi dibalik tubuh kakak sepupunya yang tinggi.

"Ah, bukan. Dia seorang kenalanku yangㅡ Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Chanyeol saat berbalik dan melihat Kyungsoo yang sedang berdiri tepat dibelakang tubuhnya dengan wajah tertunduk. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai menutupi sisi wajahnya.

Sehun menajamkan penglihatannya merasa tidak asing dengan sosok mungil yang kini terlihat mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu. Saat ia telah mengenali sepenuhnya, ia sedikit terbelakak kaget. "Kyungsoo?"

"Hai, Sehun!" Kyungsoo tersenyum kaku sambil mengangkat tangan kanannya dengan ragu. Ada sedikit perasaan senang ketika ternyata Sehun masih mengingatnya dengan baik.

"Itu benar-benar dirimu?" ulang Sehun dibalas anggukan kecil oleh si gadis bermata bulat tersebut. Sehun berjalan mendekat kepada Kyungsoo lalu tanpa permisi tangannya ia bawa menuju puncak kepala Kyungsoo dan tetap seperti itu untuk beberapa detik. Kyungsoo berusaha mengontrol detak jantungnya agar wajahnya tak menjadi semerah tomat. Namun sepertinya usahanya gagal karena kini ia merasa sangat kepanasan. "Aigo! Ternyata kau masih saja pendek seperti dulu. Bahkan sekarang semakin pendek lagi. Apa kau tidak pernah minum susu lagi?" lanjut Sehun.

"Ck, kau yang bertambah tinggi albino!" balas Kyungsoo menanggapi gurauan Sehun. Sebuah senyum hangat ia sematkan ketika melihat Sehun terbahak hingga kedua matanya menyipit dan membentuk bulan sabit. Tampan. Kenapa Oh Sehun selalu saja tampan?

Chanyeol yang melihat interaksi kedua orang yang tengah asik reuni dan melupakan kehadirannya, kini sibuk memperhatikan perbedaan raut wajah Kyungsoo yang nampak jelas berbeda ketika berbicara dengan Sehun. Melihat bagaimana Sehun bisa membuat perempuan itu tersenyum dengan mudahnya. Entah kenapa, hal tersebut ternyata membuatnya merasa sangat kesal dan sesak. Apalagi Kyungsoo kini menjawab beberapa pertanyaan yang Sehun ajukan dengan sangat lancar dan fasih. Dan tentunya terlihat sangat dengan senang hati. Berbeda ketika ia yang mengajukan pertanyaan, sudah pasti akan mendapatkan jawaban yang ketus dan tajam.

"Bagaimana kau bisa datang bersama si Dobi satu ini?" tanya Sehun.

"Aku ada urusan bersamanya." Potong Chanyeol sebelum Kyungsoo sempat membuka mulut lebih dulu. "Dan aku datang kemari untuk memberi tahu kalau aku tidak bisa menonton pertandinganmu."

"Kenapa?" erang sehun kecewa. "Lagi-lagi kau membatalkan janjimu."

"Aku akan pergi menemui anak Kang Seulgi."

"M-maksudmu anak yang dikabarkan sebagai anakmu itu?"

Chanyeol mengangguk sebagai jawaban untuk Sehun yang kini terlihat tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Jadi kau tahu dimana anak Seulgi berada, Kyung?"

"Eum, dia berada di panti tempat aku tinggal dulu. Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu." jawab Kyungsoo.

"Ah, begitukah?" Sehun menganggukan kepalanya setelah mendengar jawaban Kyungsoo. "Umm, tapi apa kalian sedang terburu-buru? Apa tidak bisa menonton pertandingannya sebentar saja? Kyung, kapan terakhir kali melihatku bermain bisbol? Itu pasti sudah lama sekali bukan?"

"Umm.. Ya, aku rasa itu sudah sangat lama." Kyungsoo membenarkan sambil tersenyum.

"Kau tidak bermaksud untuk menonton pertandingan manusia albino ini, bukan?" sergap Chanyeol curiga dengan nada bicara Kyungsoo yang terkesan seperti memberikan persetujuan kepada Sehun. Dan kekesalannya bertambah ketika mendengar Kyungsoo menjawab hanya dengan kalimat pendek yang berbunyi, 'Ayolah! Sebentar saja.' Padahal niat Chanyeol membatalkan janjinya kepada Sehun adalah karena Kyungsoo. Ia tahu kalau gadis itu tidak akan suka jika Chanyeol membuang-buang waktunya. Tapi ternyata semua diluar dugaan Chanyeol. Jimat apa sebenarnya yang digunakan Sehun sehingga bisa membuat wanita macan ini luluh? Dan sedekat apa mereka dahulu? Tiba-tiba Chanyeol menyesal mengajak Kyungsoo kemari.

Sehun merangkul leher Chanyeol dengan sekali gerakan hingga pria itu terhuyung merapat kepadanya. Tak lupa sebuah jitakan ia daratkan di kepala Chanyeol yang kini berwarna coklat terang. "Ayolah dobi! Kau sudah terlalu banyak mengingkari janjimu padaku. Kau tidak ingat berapa kali kau melewatkan pertandinganku, huh?"

"Aku tahu aku tahu!" Chanyeol menggeliat untuk melepaskan diri dari Sehun. "Aku akan menonton sebentar saja."

"Assa! Baiklah, kalian tunggu disini sebentar, aku harus menelepon ibuku dulu sebelum mulai pertandingan." ucap Sehun kemudian berlalu dengan langkah panjangnya. Ia melambai sebentar ketika Chanyeol berteriak menitipkan salam untuk bibi kesayangannya.

.

Pertandingan sudah berlangsung hampir setengah jam. Chanyeol dan Kyungsoo menonton dari bangku official tim yang tidak terlalu terekspos namun dapat melihat dengan jelas ke arah lapangan. Jangan lupakan, Chanyeol masihlah seorang selebriti yang kini sedang dicari-cari para pemburu berkamera.

Bukannya menikmati jalannya pertandingan, Chanyeol malah sibuk memperhatikan Kyungsoo yang kini berteriak dengan gemas kala tim korea beraksi. Pria itu hanya mengulum senyumnya ketika melihat Kyungsoo mengumpat saat tim Amerika melakukan pelanggaran. Lucu! Itu yang Chanyeol fikirkan tentang Kyungsoo saat ini. Namun Chanyeol juga kembali merasa kesal saat mendengar Kyungsoo berteriak untuk Sehun dengan begitu semangat.

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya dan membuat Kyungsoo mendongak. "Ayo pergi sekarang!"

"Tapi ini belum selesai."

"Aku tidak mengatakan akan menonton sampai selesai." balas Chanyeol sambil mengangkat bahunya acuh.

"Tapiㅡ"

"Mau aku seret atau aku gendong?"

Kyungsoo berdecak sebal. Lagi-lagi Chanyeol mengancamnya. "Kenapa kau selalu memaksa orang sesuka hatimu?"

"Kenapa kau hanya selalu marah padaku?" Chanyeol bertanya balik dan tersenyum menang saat melihat Kyungsoo menghentakkan kakinya dengan kesal lalu kembali meninggalkannya di belakang. Chanyeolpun mulai melangkah lebar untuk menyusul.

"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku!"

"Aku tidak ingin bicara denganmu." Jawab Kyungsoo tak mempedulikan Chanyeol yang mulai mengoceh disampingnya. Ketika ponselnya bergetar, ia memelankan langkahnya untuk merogoh tas selempang yang tersampir di bahu kanannya. Panggilan itu terhenti dan menampilkan 10 panggilan tak terjawab dari panti. Kyungsoo sempat terheran, jadi ia putuskan untuk menghubungi panti. Sepertinya ada hal penting kalau bibi Kim sampai mencoba menghubunginya berkali-kali.

"Iya bibi, ada apa?" tanya Kyungsoo saat sambungan telah tersambung. "A-apa maksudnya bibi? Bagaimana bisa?" Wajah Kyungsoo tiba-tiba saja memucat saat mendengar jawaban bibi Kim yang terdengar sangat panik. Tak ayal, hal tersebut membuat Chanyeol mengerutkan keningnya bingung. "Baiklah, aku segera kesana."

"Ada apa? Apa ada masalah?" Chanyeol menunduk untuk menatap Kyungsoo yang kini tengah memasukkan ponselnya kedalam tas dengan tergesa.

"Kita harus segera ke panti sekarang. Woozi.. hilang."

.

.

TBC

.


HALLO READERNIM!

Adakah yang masih menunggu cerita ini?

Aku minta maaf karena menggantungkan kalian lumayan lama. Mianhae! T.T Sekalinya up, ceritanya jadi ngawur kemana-mana -_-

Jadi sebenernya akutuh mau hiatus dulu dari dunia pershipperan. Tapi aku juga kepikiran mulu sama ini cerita yang belum selesai T.T

Jadi, kalo misalkan cerita ini masih ada peminatnya, aku bakalan berusaha lanjutin sampe selesai. Meskipun mungkin bakalan lama hehehe

Dan kalo misalkan udah gaada peminatnya, berarti cerita ini discontinue:))

Jadi, nasib cerita ini tergantung pada pembaca ya hehehe

Terimakasih untuk yang sudah meninggalkan review, dan memfavfoll. Kalian yang terbaiks 3