"Wooohoo! Lihat, lihat! Boss-nya tidak berdaya! Hahaha!"
"Natsu, berhenti menarik-narik kerahku. Dan sudah kukatakan aku tidak bermain game Dark Avenger."
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau jadi saksi mata kalau aku sudah memasteri game ini dalam waktu tiga hari, ice prince," sahut pemuda pinkish bermuka bangga.
Gray mendengus. Kapan temannya ini akan bertobat?
Ketika kau teliti lagi, tampak juga seorang gadis yang mengikuti reaksi Gray. Disibakkannya surai pirang itu ke belakang telinganya, agar tidak mengganggu pemandangan. Ya, memandangi sosok bodoh yang cueknya kelewatan itu.
Sudah sebulan berlalu semenjak Lucy mampir ke rumah Natsu. Kau mungkin mengira bahwa ada progress yang terjadi setelah itu, kan?
Kuberi tahu jawabannya: nihil.
Ketika Natsu pulang, yang dia lakukan hanya bermain game. Sementara Lucy, dia biarkan terbengkalai di sampingnya. Mungkin bagi Natsu, dia sudah cukup baik—dia memindahkan laptopnya ke ruang keluarga dan bermain di situ.
Tapi apa sih asiknya ditemani orang cuek, yang sedang bermain game, dan memakai headphone? Apa?
Diam-diam Lucy frustasi dalam hati.
Kejadian itu berlangsung selama tiga jam sebelum akhirnya Laxus menelepon Lucy kalau dia sudah sampai di rumah.
GAMER-KUN TO FUJOSHI-CHAN
CHAPTER 4: A BIG MISUNDERSTANDING
Disclaimer: I do not own Fairy Tail. Fairy Tail © Hiro Mashima
Story © Day-chan Arusuki
AU. DLDR. Author tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfic ini.
Semenjak itu pula, Natsu dan Lucy menjadi jarang berinteraksi.
Bukan karena ada masalah atau apa, tidak. Mereka hanya tidak mempunyai event yang mempertemukan mereka berdua.
Natsu tampak tidak peduli, dan Lucy mulai lelah. Keduanya hanya saling berbicara—bertengkar, ketika di hari kegiatan klub. Pun di kelas mereka kadang hanya saling melempar tatapan mengejek. Mereka jadi seperti biasa lagi, seakan tidak ada yang terjadi di antara mereka.
Seperti sekarang ini, misalnya.
"Oi, Okafujo, apa lihat-lihat?" ucap Natsu garang.
Lamunan Lucy terkoyak. Dengan garang juga dia menyahut kesal. "Aku lihat lukisan di belakangmu, siapa juga yang melihatmu!"
"Aku yakin kau melihatku. Kenapa, kau terkesima dengan pesonaku yang baru saja mengalahkan last boss ini? Aku tersanjung," balas Natsu memasang muka ganteng.
"Apa itu? Mengetahuinya saja tidak! Jangan berasumsi yang aneh!"
"Yang jelas lebih bagus dari komik homomu, baka!"
"Katakan itu sekali lagi dan kau akan kehilangan lehermu!"
"Lebih baik dari komik homo menjijikkan dan bikin muntah! Puas?"
Hampir saja Lucy meraih leher Natsu di seberang meja jika lengannya tidak ditarik sahabatnya—Levy. Gadis bersurai biru itu mendengus kesal karena acara membacanya terganggu dengan teriakan cinta dari mereka.
"Kalian ini, jangan bermesraan di ruang klub," ucap Juvia yang juga sedikit terganggu. Goresan pensilnya melenceng gara-gara pergerakan Lucy barusan.
Lucy menoleh kesal ke arah Levy dan Juvia. "Siapa yang kau bilang bermesraan?! Bukankah sudah kujelaskan kalau aku tidak ada hubungan dengan Bakagemu ini!"
"Santai, Lucy. Aku tahu punya pacar gamer itu tidak mudah, kau sering ditinggal bermain game," sahut Gray terkekeh.
"Kau pilih mana, ice boxer? Rumah sakit atau neraka?" tanya Natsu sembari menunjukkan dua kepalan tangannya.
Percekcokan itu selalu berakhir dengan baku pukul antara Natsu dan Gray sementara Lucy berdebat dengan Juvia dan Levy. Oh, bagaimana dengan kabar Sting dan Lyon? Mereka terdiam mengamati crush masing-masing.
-xxx-
Surai biru itu berkibar tatkala angin mengajaknya menari. Matanya menyipit dan sesekali mengembun. Pipinya memerah, yang pasti bukan karena malu atau sakit. Tangannya mengusap pelan garis mata yang terlihat bengkak.
"Ohayou, Lu-chan."
Lucy yang sedang santai berjalan menuju gerbang sekolah itu terperanjat. Dia berbalik dan mendapati Levy sedikit terisak. Apa ini, pagi-pagi sudah begini? Apa yang terjadi dengannya? Segera Lucy menariknya dan mempercepat langkah menuju kelas.
"Kau kenapa, Levy -chan?" tanya Lucy khawatir.
Gadis pendek yang duduk di depannya terdiam sebentar sebelum manik hitamnya menatap lurus. "Lu-chan, bagaimana ciri-ciri seorang pria homo?"
Lucy sempat mematung. Jadi, Levy datang ke sekolah sambil menangis, hanya untuk menanyakan ini padanya? Eh? Bukankah ini sebuah lelucon yang tidak lucu?
"Levy-chan, ini tidak lucu," ucap Lucy sedikit bingung. "Katakan yang sebenarnya."
"Aku serius!" sentak Levy yang membuat Lucy bergetar kaget.
"E-Eh?" Meskipun sedikit tidak percaya, Lucy membeberkan teorinya. "Mhmm, dia tampak cuek terhadap lawan jenis. Lebih terbuka dan suka bercanda yang berlebihan terhadap sesama jenis. Apa lagi ya …."
Levy memandang Lucy dalam sebelum dia terisak. Lucy semakin bingung dengan sikap gadis bersurai biru ini. Tapi dia tetap bersabar dengan menunggu tangisan Levy selesai, dan siap untuk bercerita.
"Pebasket dari kelas X-10, Gajeel Redfox. Aku mengenalnya karena dia pernah membantuku menyusun buku perpustakaan yang berceceran akibat ulah siswa."
Gajeel? Rasanya aku pernah mendengar nama itu, gumam Lucy dalam hati.
"X-10? Kelasnya lumayan jauh dari kelas kita. Lalu?"
"Bisa dibilang, aku tertarik dengannya. Beruntung, jendela perpustakaan mengarah langsung ke lapangan basket—jadi aku bisa melihatnya berlatih basket setiap ekstra basket diadakan."
"…."
"Tapi, semakin hari, semakin kucermati, Gajeel tampak dekat sekali dengan salah satu temannya—aku tidak tahu namanya. Tidak jarang orang itu memberikan handuk, air dingin atau membawakan tas olahraga Gajeel. Berbincang dengan jarak yang sangat dekat, dan aku bahkan pernah melihat mereka berpelukan!"
"… uh, jadi?" Lucy berusaha mati-matian untuk tidak fangirling-an di tempat. Semua kata-kata Levy membuat imajinasi gadis pirang ini melayang indah menuju nirwana. Asek.
"Gajeel pasti seorang homo, kan? Aku berusaha mengabaikan asumsiku, tapi semakin hari mereka semakin menjadi. Aku … aku tidak rela," tutur Levy mengakhiri ceritanya. Dia kembali menangis tersedu-sedu.
"MUNGKIN SAJA. JANGAN LUPA AJAK AKU KALAU ADEGAN ITU TERJADI LAGI. KOKORO INI SUDAH MEMBARA! HUAHAHAHA!"
Oke, Lucy. Kalau kau menjawab seperti itu, kau akan kehilangan satu sahabat terbaikmu. Lucy berusaha tenang, tenang dan tenang. Dia harus berpikir secara straight dan berlogika, untuk kasus ini.
"Menurutmu bagaimana, Lu-chan?" tanya Levy kembali.
"… mhmm, ku-kupikir jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Aku rasa itu normal, memang begitulah laki-laki."
"Dia homo, Lu-chan!"
"Belum tentu," sergah Lucy. "Jangan bilang kau menangis hanya gara-gara asumsimu itu? ya Tuhan Levy-chaaaaaan, kenapa kau jadi begitu bodoh?"
"…." Levy bergeming dan menatap Lucy cemberut.
"Selidiki saja kalau kau ingin tahu, dia homo apa tidak," ucap Lucy.
"Maka dari itu," Levy memegang kedua tangan Lucy erat. "Aku butuh bantuanmu, Lu-chan!"
"Eh? Aku tidak kenal dengan anak basket!"
"Jangan bohong! Aku pernah melihatmu di lapangan basket bersama mereka. Kau bahkan pernah dipeluknya, bukan? Tapi kemudian akhirnya kau diseret Natsu keluar sekolah."
Lucy seketika terkesiap. "Aaah! Si gondrong mengerikan itu?! Ah, kalau tidak salah Natsu memanggilnya Gajeel—eh, jadi itu …."
"Dia gondrong tapi baik dan lembut," sanggah Levy tidak terima. "Jadi, apakah kau mau menanyakan ini untukku?"
"Ja-Jangan gila, Levy-chan. Kau pikir aku benar-benar kenal dengan mereka? Tidak! Yang aku kenal hanya Natsu."
"Natsu pun tidak apa! Tanyakan saja ke dia. Ya, Lu-chan? Ya?"
Lucy menjerit pilu dalam hati. Menanyakan hal seperti ini pada Natsu?
Oke, jadi Lucy akan bertanya pada Natsu, 'Hei Natsu, Gajeel itu homo bukan?' dengan santainya. Kemudian Natsu menjawab, 'Oh, bukan kok.' Dan masalah selesai, Levy tidak akan menangis seperti ini lalu mencari cara untuk mendekatinya.
Andai bisa semudah itu.
Lucy berani jamin kalau Natsu akan mengolok-oloknya parah, sangat parah. Si pinky bodoh itu sudah sangat tajam dalam cercaannya, jangan sampai lebih parah lagi. Ini seperti menyiram air dingin pada bagian tubuh yang terbakar.
"…."
"Aku sangat berharap kau mau, Lu-chan! Tanyakan saja langsung nanti. Baiklah, aku akan ke kamar mandi dulu, mumpung belum ada yang datang—aku akan membasuh muka menyedihkan ini."
Levy melenggang pergi sementara Lucy depresi di tempat.
-xxx-
Di sinilah Lucy berada.
Di pinggir lapangan basket, di depan banyak siswa yang tampak kelelahan sehabis pelajaran olahraga. Para siswi sudah masuk kelas—mereka tidak mau berlama-lama di bawah panas matahari.
"… ada apa, Okafujo?" tanya Natsu sedikit kaget. Dia sedang dalam kegiatan menyegarkan badan dengan cara mengucurkan air mineral ke tubuhnya. Ya—tubuh telanjang dadanya. Dia kira semua wanita sudah pergi jadi tanpa segan-segan dia melakukan kebiasaannya.
Wajah Lucy memerah hebat. Selama beberapa saat manik karamelnya mengagumi sosok sixpack di depannya—sangat mirip dengan yang dideskripsikan di manga shoujo, kau tahu. Tapi kemudian Lucy segera menampar mentalnya dan berusaha untuk berbicara.
"Aku ingin bicara sebentar. Ce-Cepat pakai kembali bajumu dan ikut denganku."
"Kalau ingin bicara, ya sudah bicara saja sekarang," ucap Natsu cuek.
"Ayolah," rengek Lucy.
"Bedanya apa sih?" desak Natsu kesal.
"…." Gemeletuk gigi Lucy terdengar. Dia sangat sebal ketika sudah menghadapi kekeras kepalaan Natsu seperti ini.
Baru saja Lucy akan membalas, pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Bagus, Lucy. Kau meminta bantuan pada orang yang tepat," ucap orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Gildarts-sensei!" seru Lucy kaget. Guru olahraga itu tersenyum.
"Oi Natsu Dragneel. Tolong ajari Lucy dribble dan lay-up. Dia sangat parah, dan minggu depan sudah ada tes."
Natsu terkesiap. "Tapi, sensei! Bukankah itu tugas anda?!"
"Aku sudah melaksanakan tugasku, dan dia masih belum mengerti. Sudah sepatutnya teman yang lebih mahir mengajarinya, bukan?" Om-om paruh baya itu nyengir sebelum berlalu.
"Chee, ternyata cuma itu maumu," gerutu Natsu pada Lucy.
Lucy tersinggung dengan nada bicara Natsu. "Bukan itu! A-Aku memang gagal dalam percobaan tes tadi sih," Lucy sedikit malu mengakuinya. "Tapi bukan itu yang aku—"
"Kau bisa minta ajar aku jika si bodoh ini tidak mau," sela Gray tersenyum.
Natsu mendelik. Ditatapnya Gray yang sedang menyeringai padanya. "Si-Siapa bilang aku tidak mau?"
"Oh? Jadi kau mau mengajarinya?"
"Eh?" Bagus, Gray. Sekarang Natsu kena batunya. Pemuda bersurai pink itu tampak ragu. Dia malas meluangkan waktunya dengan fujoshi ini. Tapi di lain sisi, dia tidak rela jika ada orang lain yang bersedia mengajari. Anggap itu egois, tapi begitulah perasaan Natsu.
"Kau bukan pebasket, mana bisa tahu teknik yang benar."
"Benar atau tidak, aku rasa yang penting adalah berusaha membantu," ejek Gray.
Setelah beberapa saat hening, Natsu melirik ke direksi lain. "… terserah kau saja."
"Apa itu? Tidak tegas sama sekali," erang Gray kecewa. "Lucy, akan kutunggu nanti sepulang sekolah di sini. Jangan lupa!"
Natsu tampak sebal, sementara Lucy sedikit frustasi karena tujuannya bicara pada Natsu bukanlah tentang hal ini. Gray melemparkan seringaian ke arah Natsu sebelum dia pergi ke kelas.
Dia tahu, sahabatnya ini butuh sedikit dorongan.
-xxx-
Angin semilir melewati pundak ringkih Lucy. Gadis berparas cantik itu duduk di bangku pinggiran lapangan basket, sambil sesekali menghela napas.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gerutu Lucy. Walaupun latihan ini ada gunanya, tapi bukan ini tujuan sebenarnya. Dia hanya ingin segera menanyakan hal memalukan itu pada Natsu, jadi pada jam pertama—jam olahraga, dia langsung ambil langkah.
Tapi hasilnya malah seperti ini.
Cahaya jingga kehitaman berpendar menyeluruh langit, menampilkan aura gelap yang sebentar lagi akan muncul. Matahari telah meninggalkan peraduannya. Suasana mulai lengang, kegiatan klub sudah banyak yang berakhir.
Pikiran Lucy mulai negatif. Bulu kuduknya mulai meremang. Air mata ketakutan mulai menggunung.
Lucy bergerak gelisah—jangan lupa, dia takut kegelapan dan hal seperti itu. Dia tidak mau pulang dalam keadaan yang seperti di film-film horor. Karena bisa saja, ketika gadis imut seperti dia sedang berjalan sendirian, psikopat dari antah berantah muncul dan siap mencabik-cabik.
"Oi."
"KYAAA! Ampuni aku, tuan psikopat!" seru Lucy spontan sembari memeluk dirinya sendiri.
Lucy masih bersikukuh untuk menutup matanya rapat-rapat sebelum dia mendengar tawa renyah yang dikenalnya. Dengan pelan manik karamel itu membuka dan alangkah kagetnya—ternyata bukan tuan psikopat yang menghampirinya.
"Natsu," ucap Lucy lega.
"Berhentilah nonton film supranatural," sahut Natsu masih dengan tawanya.
Alih-alih tersinggung, Lucy justru bergeming dan menunduk dalam. Ah, ketika kelemahannya terbuka, egonya seakan menguap entah ke mana. Yang jelas di pikirannya adalah dia selamat. Pemikiran yang aneh namun membuat Lucy tenang.
Natsu melepaskan helaan napas ketika melihat reaksi Lucy. Sama seperti beberapa waktu lalu—saat Lucy ketakutan gara-gara setan di game Natsu. Alur bibir pemuda cuek itu terangkat tipis tanpa sengaja.
Diam-diam, Natsu merasa senang karena dia bisa berduaan dengan Lucy, seperti ini.
Natsu kemudian menepuk rambut pirang Lucy pelan. "Sudah, sudah. Ayo segera latihan dan pulang."
"… huh? Latihan?" tanya Lucy mendongak. Ditatapnya pemuda itu bingung.
Pebasket cuek itu memasukkan tangannya dalam saku celana. Manik hitamnya bergulir gugup ke direksi lain. "Aku ketiduran di kelas. Saat aku terbangun, aku menemukan pesan di mejaku. Itu dari Gray—dia meminta agar aku menggantikannya."
"Eh? Kenapa?" tanya Lucy spontan.
"Kau tanya kenapa? Mana aku tahu. Alasannya tidak jelas sekali," komentar Natsu mengingat P.S.di catatan kecil Gray yang berbunyi: 'berjuanglah'.
Lucy terdiam selama beberapa saat—hanya memandangi pemuda di depannya ini dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Lama kelamaan Natsu terlihat gusar.
"Oi! Jangan kira aku mau melakukan ini untukmu," olok Natsu.
Lucy sedikit emosi mendengarnya. "Lalu? Atas dasar apa kau membantuku? Bukankah kau bisa mengabaikan kertas pesan itu dan pulang?"
"Tidak bisa," ucap Natsu sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Aku tahu kau takut hal-hal seperti kegelapan dan lainnya. Makanya aku datang mengecek ke sini."
Natsu yakin ada beberapa garis rona merah bersarang di wajah Lucy sebelum monster fujoshi itu kembali berwajah kesal. "Kau itu sebenarnya mau membantuku tidak? Katanya tidak mau, tapi kau datang karena peduli. Yang mana?!"
"Aku? Peduli padamu? Jangan harap!" sergah Natsu.
"Hah?" Lucy mencondongkan badannya dan menuding hidung mancung pemuda itu. "Alasanmu tadi membuktikan bahwa kau peduli padaku, tahu! Dasar tidak peka!"
Onyx tajam itu membulat sekilas. "Uh, bukankah itu sebuah rasa simpati?"
"…."
Malas berdebat, gadis bermarga Heartfilia itu melengos kesal. Diambilnya bola basket yang sedari tadi dipegang Natsu—lebih tepatnya merebut. Lucy men-dribble dengan emosi tak terbendung, sehingga pantulan yang dihasilkan sangat tinggi.
"Apa yang kau lakukan?" maki Natsu yang dengan cekatan menangkap bola. "Pantas saja kau dikatai parah oleh Gildart-sensei."
"Maaf, aku memang tidak pandai berolahraga seperti kau, Bakagemu," jawab Lucy.
Natsu tertawa heboh. "Sudah jelas lah, aku memang pandai berolahraga. Tidak seperti seseorang yang kerjanya hanya di kamar, menatap laptop dengan pandangan napsu."
"Apa kau bilang?! Bukannya ada juga seseorang yang walaupun dia bisa berolahraga tapi kerjanya hanya bermain game—tanpa memperhatikan lingkungannya? Sehingga dia tumbuh jadi orang yang cuek, dingin, kasar, tidak peka, sok ganteng, sombong, ah … semua sifatnya jelek!"
"Kau semakin mahir saja mengejekku, heh?" ujar Natsu menahan rasa sebalnya. "Kau sadar kau baru saja menyakiti hati tentor basketmu ini? Kau mau diajari tidak?! Dasar Fujoshi tidak tahu malu!"
"Sedari awal aku tidak butuh ajaranmu! Apa yang aku inginkan adalah bertanya—"
Lucy menggantung pernyataannya sejenak.
Sekelebat perasaan ragu menghantui Lucy. Kalau dia benar-benar ingin menanyakan hal ini, harusnya dia menurunkan egonya dulu. Dengan fakta bahwa dari tadi dia bertengkar melulu dengan Natsu bukanlah momen yang pas untuk menurunkan ego. Silakan anggap ini pergumulan bodoh.
Manik karamel itu bergulir pelan untuk mendapati onyx yang tengah menatapnya heran. Lucy mengerutkan keningnya, dia harus bertanya sekarang atau tidak sama sekali. Kalau tidak, sahabatnya akan menangis seperti orang gila—ya, gila karena asumsi yang didasari cinta buta.
"Bisa-bisanya kau melamun di tengah perdebatan, baka?" ucap Natsu menggaruk surai pink-nya kasar.
"Ano ne, Natsu."
Entah kenapa, suara Lucy yang tiba-tiba melembut dan terkesan teduh itu membuat Natsu gugup. Di pandangannya terlihat Lucy yang sedikit gelisah—dia memelintir ujung roknya. Mukanya sedikit memerah dan bibirnya tergigit pelan.
Manis.
Natsu segera menampar dirinya secara mental. Pikiran apa yang merasukinya tadi? Lupakan.
"Apa? Kau mau bertanya apa?" repet Natsu tidak sabar. Bukan berarti orang cuek itu tidak punya keingin tahuan, ya. Mereka punya dan ketika sudah memuncak, akan sangat terlihat di garis wajahnya.
Mata cokelat itu bergerak gelisah sebelum akhirnya menatap lurus onyx Natsu. Dengan segenap tenaga dan kekuatan, Lucy bertanya.
"Apakah Gajeel itu homo?" tanya Lucy—lebih tepatnya memekik, hingga suaranya sangat kecil dan tinggi.
Hening.
Sangat hening.
Karena suasana yang begitu sepi, Lucy perlahan membuka matanya. Didapatinya Natsu yang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Baru saja Lucy bersyukur karena Natsu tidak menertawakannya sebelum mengetahui reaksi Natsu. Napasnya menjadi tersengal—terlihat menahan sesuatu, sementara bibirnya berkedut tidak teratur.
"BUAHAHAHAHAHA!"
There you have it.
Dengan sabar dan tabah Lucy menunggu tawa Natsu reda sembari menahan malu. Manik karamelnya memandang objek lain yang berada di dekat pemuda itu. Dalam hatinya terus membayangkan sosok Levy yang menangis pagi tadi agar tidak kehilangan batas kesabaran.
"Kau … Uh—ahahaha! Kau ini …."
Natsu masih susah untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk membalas pertanyaan konyol bin ajaib dari Lucy. Siapa sangka dia akan bertanya begitu, pada momen yang dirasanya cukup romantis tadi? Natsu memang tidak mengharapkan suatu pernyataan cinta—atau apalah itu, tapi dia juga tidak mengharapkan pertanyaan seperti ini.
"Sudah cukup tertawanya? Tinggal jawab iya atau tidak," gerutu Lucy saat mengetahui Natsu tidak berhenti tertawa sedari tadi. Memandang wajah kokoh Natsu yang tersenyum lebar semakin membuatnya kesal.
"Tidak disangka fujoshi-mu benar-benar akut, Okafujo. Haruskah aku melaporkan ini pada Laxus agar kau direhabilitasi atau semacamnya?" komentar Natsu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh—tolonglah, Bakagemu. Jawab saja pertanyaan itu," erang Lucy frustasi.
Natsu menyeringai. "Katakan padaku. Gajeel kau pasangkan dengan siapa?"
"Tidak ada," jawab Lucy ogah-ogahan. Sebenarnya hati fujoshi-nya bisa saja meliar, tapi kali ini hanya emosi yang mendominasi.
"Lalu kenapa kau menanyakan hal bodoh ini?" tawa Natsu pecah kembali. "Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."
Lucy mendengus.
"Jangan-jangan kau juga menjodohkan murid yang lain, ya? Seperti misalnya Jellal-senpai yang rambutnya seperti Aomine Daiki dengan Sting yang mirip Kise Ryota di anime Kuroko no Basket? Atau, Gray dan Lyon yang sepertinya sering saling melempar tatapan dingin, atau mungkin aku dan Gray?!"
Cerocosan Natsu yang terdengar seperti hinaan di telinganya itu membuat Lucy sesak.
"CUKUP!" bentak Lucy yang membuat Natsu sedikit berjengit.
Lucy menatap Natsu sebentar sebelum menghela napas pasrah. "Jangan katakan ini ya. Sebenarnya ada salah satu temanku yang tertarik pada Gajeel. Tapi sewaktu dia mengamati, Gajeel tampak dekat sekali dengan rekannya—dan dia mengira bahwa Gajeel itu homo. Aku dimintai klarifikasi olehnya."
"Siapa? Levy? Juvia? Erza? Bisca?" tanya Natsu.
"Kepo. Pokoknya jangan beritahu ini pada siapapun juga."
Natsu mengedipkan matanya beberapa kali—Lucy sekilas berpikir itu manis. "Kasihan temanmu itu. Jangan tulari dia seperti itu dong."
"Aku tidak menularinya apa-apa," desah Lucy pegal.
"Pemikiran aneh seperti itu jelas-jelas karena terpengaruh padamu, baka," Natsu mengeluarkan tawanya.
"Duh, kau itu mau menjawabnya tidak?!"
"Chee, itu pertanyaan bodoh. Mana mungkin Gajeel homo. Tiap hari bawaannya majalah dewasa seperti itu," jawab Natsu enteng.
"Yakin dia bukan homo?"
"Iya, aku pernah ke rumahnya. Di kamarnya berjejer koleksi photobook dari MGL48—Magnolia 48, idol band yang katanya santer baru-baru ini."
Lucy membulatkan mulutnya unyu. "… dan kau meminjamnya satu," goda Lucy kemudian.
Natsu mendelik. "Mana mungkin! Aku bukan laki-laki mesum seperti otak besi itu!"
Kali ini, giliran Lucy yang tertawa puas. Natsu hanya memandangnya kesal tanpa menginterupsinya dengan kata-kata.
Beberapa saat setelah tawanya mereda, Lucy tersenyum tulus. Akhirnya, beban yang dipikulnya sedari tadi pagi dengan cepat terangkat—terima kasih pada Gray yang tiba-tiba menyuruh Natsu untuk mengajarinya. Walaupun perasaan pribadinya fifty-fifty sih. Senang karena Gajeel bukan homo—sehingga Levy bisa bernapas lega, dan di lain sisi sedih karena … Gajeel bukan homo.
"Terima kasih, Natsu."
Natsu menggulirkan onyx-nya dari wajah Lucy setelah merasakan ada yang aneh dengan jantungnya. Tiba-tiba melihat Lucy tersenyum seperti itu, mungkin membuatnya kaget dan akhirnya deg-degan. Lucy makhluk yang berbahaya, rutuk Natsu dalam hati.
"Mm," Natsu menggumam singkat sembari memainkan bola basket itu dengan telunjuknya. "… jadi kau hanya ingin bertanya itu?"
"Iya, mau tanya apa lagi?" ucap Lucy retoris. Sesaat kemudian mata karamelnya melirik sekilas ke bola basket. "… dan karena sebenarnya aku tidak meminta bantuanmu tentang basket, mungkin aku akan pulang sekarang."
"…."
"Kau pun tadi berkata bahwa kau tidak benar-benar mau melakukannya," keluh Lucy. Gadis pirang itu bersiap menunduk untuk mengambil tasnya sebelum—
"Aku berubah pikiran. Sini kulatih."
—jantungnya seakan copot mendengar jawaban dari Natsu.
-xxx-
"Peganglah bola dengan kedua tangan yang relax, tangan kanan di atas bola, sedang tangan kiri menjadi tempat terletaknya bola. Berdirilah seenaknya dengan kaki kiri agak sedikit di depan kaki kanan. Condongkan badan ke depan mulai dan pinggang. Mulai pantulkan bola dengan tangan kanan."
"Gerakkan lengan hampir sepenuhnya. Jangan memukul bola dengan telapaktangan, tetapi pantulkan dengan jari-jari dibantu dengan gerakan pergelangan tangan. Jinakkan bola dengan sedikit mengkuti bergeraknya ke atas sebentar dengan jari-jari dan pergelangan tangan, kemudian dipantulkan kembali."
"Setelah rahasia gerak, watak dan irama dari pantulan dapat dirasakan—get the feeling dengan sikap berdiri ditempat, memulailah dengan bergerak maju. Mulailah jangan melihat bola, dan percepatlah gerak. Kemudian menggiring dengan agak rendah, rendah, maju, mundur cepat, secepatnya, berliku, berkelok dengan nntangan dan lawan."
"…."
Lucy cengo pangkat lima mendengarkan penjelasan sang tentor Natsu.
"Okafujo? Mengerti tidak? Oi Lucy?" ucap Natsu heran.
"… mungkin?" jawab Lucy ragu-ragu.
Natsu menghela napas. Dia mengambil bola basket dan mulai memeragakan teknik dribble yang sedari tadi dia ajarkan—secara teori. Mata cokelat Lucy mengamati dengan saksama, bagaimana benda bundar itu dimainkan secara cekatan oleh pebasket handal ini.
Dengan kerennya Natsu menggiring bola bolak-balik lapangan. Peluh di dahinya—rasanya Lucy ingin menyekanya dengan handuk dingin dan segar. Mata onyx-nya semakin tajam menatap depan, seakan ada musuh yang menghadangnya. Penggambaran Natsu sewaktu bermain game dan bermain basket sangatlah berbeda. Tingkat kece Natsu melonjak drastis, kau tahu.
Hm? Kece? Apa yang kau pikirkan, Lucy? Inner Lucy menyadarkan sikap kekagumannya.
"Sekarang coba kau." Tanpa Lucy sadari, Natsu sudah berada di depannya dan memberikan bola.
Lucy menerima bola itu dengan ragu, dan memainkan sebisanya.
"… ck." Natsu menarik tangan Lucy yang sedang men-dribble bola. Tangan lembut nan halus itu, dengan kerasnya dia mekar-kan sekuat-kuatnya. "Tanganmu harus terbuka lebar-lebar, jangan asal begini."
"Ittai, baka!" pekik Lucy spontan. Refleks Lucy menjauhkan tangannya dari Natsu—membuat tentor dadakan itu mendecih.
Lucy mencoba untuk men-dribble bolanya kembali.
"Dribble itu bolanya tidak sampai pinggang keleus," ucap Natsu. "Kemudian tundukkan badanmu sedikit."
Lucy terus mencoba dengan sesekali beberapa saran dari Natsu masuk ke telinganya. Sekitar sepuluh menit kemudian, Natsu menyudahi latihan teknik dribble tersebut.
"… kurasa kau cepat menangkap dan mengerti. Apa yang membuatmu gagal pada jam olahraga tadi?" tanya Natsu sembari memainkan bola dengan jarinya—entahlah, kebiasaan seorang pebasket, atau Natsu hanya ingin pamer pada Lucy?
"Yaah, aku bisa mengerti dan melakukannya. Tapi jika kau mengetesku lagi besok, aku tidak akan ingat apa yang aku pelajari hari ini," jawab Lucy jujur. Dia tidak bisa menghapalkan dengan cara seperti ini. Menurutnya, teori lebih baik.
Natsu melengos. "Baka. Itu artinya kau harus berlatih lebih sering sehingga kau bisa mengingatnya!"
"Aku? Basket? Tidak, terima kasih. Aku lebih memilih untuk menonton cowok seksi yang bermain basket."
"Terima kasih atas sanjungannya," ucap Natsu tersenyum menggoda.
Lucy menaikkan sebelah alisnya. "Yang aku maksud bukan gamer tidak peka sepertimu. Kau tahu kan, Aomine Daiki? Itu pacarku yang sempurna," ujar Lucy mulai fangirling-an.
"Sempurna atau tidak, paling-paling kau menjadikan dia pasangan homo," ledek Natsu.
"Kalau Aomine tidak, aku lebih suka dia dengan Momoi—manajernya itu," ucap Lucy memasang muka berpikir. "Selain itu, semua pairing aku suka, dengan syarat Kuroko harus jadi uke-nya, hihihi."
"Uke?" ulang Natsu bingung.
"Uke itu yang disayang, yang dicinta, yang tidak berkutik ketika bang seme sudah mulai liar dan ganas, hmm. Paling suka Kise dan Kuroko, tapi Akashi dan Kuroko tidak buruk."
"Cukup, kau membuatku ingin muntah," erang Natsu pelan.
Lucy menoleh pada Natsu dan memperlihatkan wajah kesalnya. Sementara Natsu menjulurkan lidahnya—tanda tidak takut dengan serangan ganas atau apapun dari Lucy.
"Baiklah, sudah selesai bertengkarnya. Sekarang tinggal lay-up saja, kan?" Natsu mulai men -dribble bola basketnya kembali.
"Intinya: pegang bola, lari ke depan, lompat dan lepas tembakan ke arah tim lawan untuk mencetak angka."
Setelah Natsu menjelaskan itu, dengan cepat dia melesat untuk mempraktekkannya dan—
Sial, sepertinya Natsu benar-benar keren saat bermain basket. Aku tidak akan memungkirinya lagi.
—bola itu masuk dengan smooth-nya ke dalam ring.
Natsu menoleh dan mendapati Lucy sedang memandangnya intens. Natsu mengeluh dalam hati, lagi-lagi tatapan itu. Tatapan dan senyumnya yang seketika membuat Natsu gugup, walau dia tidak tahu kenapa.
"Oi, jangan melamunkan ke-famous-anku! Cepat praktekkan!" teriak Natsu sambil melempar bola ke arah Lucy.
Lucy yang sadar dari lamunan, segera mempraktekkannya—setelah melemparkan beberapa olokan yang tidak berguna, tentunya.
Gerakan awal Lucy sudah cukup bagus. Dimulai dari sikap badan, cara berlari dan melompat. Natsu memperhatikan itu dengan sedikit terkejut karena tembakan yang Lucy lakukan ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Natsu mendekati Lucy dan merebut bolanya. Kemudian dia melangkah mundur sampai jarak yang pas dan melakukan shooting. Tentu saja—masuk. Lucy mengambil bola itu dan menyerahkannya pada Natsu.
"Coba kau shoot sepertiku tadi," perintah Natsu.
Natsu sedikit mundur. Dia mengamati bagaimana cara Lucy melompat dan melemparkan bola basket itu ke dalam ring. Oh well—ternyata dugaannya benar. Cara melemparkan bola gadis pirang ini terlihat ngawur dan tanpa perhitungan sama sekali.
"Apa-apaan itu? Kau tidak memperhitungkan akurasi penembakkan bola?" omel Natsu mendekati Lucy setelah mengambil bolanya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," omel Lucy balik. Dasar wanita, diomeli malah mengomeli kembali.
"Akurasi, kau tahu, akurasi," ulang Natsu. "Kau harus perhitungkan seberapa tinggi lompatanmu dan seberapa jauh lemparanmu agar bisa tepat masuk dalam ring."
"Andai ini tes tulis, aku pasti bisa menjawabnya dengan lancar," gerutu Lucy. Natsu menangkap sinyal Lucy yang mengisyaratkan kalau dia benar-benar tidak paham dengan hal ini.
Natsu mendecih pelan sebelum dia merangkul Lucy dari belakang.
Seperti kuda yang tiba-tiba dipacu, jantung Lucy seakan ingin berlari kencang. Semakin kencang, saat kedua tangan Natsu merangkum tangan Lucy—yang tiba-tiba memegang bola basket. Hembusan napas yang menggelitik telinga semakin membuat Lucy ingin meledak.
"Oi Okafujo, kenapa kau malah menundukkan kepalamu? Hadap depan! Hadap depan!" ucap Natsu kesal.
"Uh." Lucy menggeram karena perasaan melankolisnya terbuyarkan oleh suara keras Natsu, tepat di telinganya.
"Perhatikan caraku melakukannya. Ini memang membutuhkan perasaan, jadi tidak ada di teori," ujar Natsu sembari mengarahkan tangannya—dan tangan Lucy ke arah ring, kemudian menembakkan bolanya.
Masuk.
"Hei! Itu tembakan yang bagus," ucap Lucy spontan. Bisa dia lihat bola basket itu masuk dengan mulusnya ke dalam ring dan memantul pelan keluar lapangan.
"Sudah jelas siapa yang mengajarimu," sahut Natsu bangga.
Masih dengan posisi Natsu memeluk Lucy dari belakang, pemuda pinky itu memegang kedua tangan Lucy. Dia memposisikannya agar Lucy dapat melihat perbandingan besar telapak tangan keduanya—dan itu membuat Lucy sedikit gugup.
"Kau lihat? Tanganmu itu kecil. Kau harus melebarkannya sedikit," komentar Natsu.
"Tangan wanita memang kecil, baka," ucap Lucy membela diri.
"Jangan jadikan itu alasan. Tanganmu memang kecil karena kau hanya menggunakannya untuk membuka halaman komik homo," ejek Natsu.
Lucy mulai emosi dan menoleh ke samping. "Bisakah kau tidak menyangkut pautkan semuanya dengan—"
"…."
Ups, hidung mereka bersentuhan.
Manik hitam Natsu membulat, pun Lucy juga begitu. Mereka bisa merasakan degup jantung masing-masing maupun milik lainnya—secara mereka sedang berpelukan. Napas mereka kian memburu. Anehnya, tangan mereka masih terangkat—seakan terabaikan oleh system kesadaran masing-masing.
Angin menyapa kedua insan yang masih mempertahankan posisi tersebut. Bedanya, kedua pasang mata itu tidak lagi membulat, melainkan melembut. Entahlah, seperti terbawa suasana. Dahi mereka pelan-pelan bertautan, dan secara refleks Natsu meremas tangan Lucy lembut tapi pasti.
Jarak mereka semakin menipis. Mereka sudah dipastikan akan berciuman jika—
"Natsu! Di sini kau rupanya! Eh …."
—tidak diganggu oleh karakter baru berikut ini.
Tertangkap basah melakukan hal yang iya-iya, Natsu dan Lucy segera melepaskan diri masing-masing. Lucy menunduk dan memegangi dadanya sementara Natsu dengan kikuk mengambil bola basket yang sempat terbengkalai di pinggir lapangan.
Gadis yang menginterupsi kegiatan mesra itu mendekati Natsu. "Aku mencarimu ke mana-mana. Kukira kau ketiduran di kelas seperti biasa."
"Aku memang ketiduran di sana, tadi. Tapi sudah bangun," jawab Natsu sekenanya. Napasnya masih memburu dan dia tidak berani memandang Lucy untuk beberapa saat. "Omong-omong, ada apa?"
Gadis pendek itu mengeluarkan smartphone dari saku roknya. "Well, maaf tadi aku mengganggu. Tapi kau harus login sekarang. Clan kita diserang!"
Manik hitam Natsu seketika membulat. "Apa?! Yang benar saja!'
"…."
Lucy terdiam dan mengamati Natsu bersama gadis itu duduk di bangku pada sisi-sisi lapangan basket—sementara dia sendiri masih di tengah lapangan.
"Archer … siapkan archer … Pekka, Healer …."
"Asal kau tahu, ini clan yang baru saja kita kalahkan kemarin. Chee."
"Sialan."
"…."
Dengan cepat Lucy mengambil tasnya yang berada di seberang tempat Natsu dan gadis itu duduk. Manik karamel itu memandang ragu, namun sejurus kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan sekolah tanpa pamit.
Surai pirang itu berkibar selaras dengan angin yang menyapunya. Kakinya menghentak sedikit kasar, tanda tidak begitu senang dengan perlakuan ini. Gadis itulah yang pertama kali sadar bahwa Lucy akan meninggalkan lapangan basket.
"Oh, kau!" panggilnya yang membuat Lucy berhenti sejenak dan menoleh. "Natsu, gadis itu sepertinya marah. Bujuklah—"
"Oi! Fokus pada smartphone-mu! Jangan hiraukan yang lain! Kita terdesak ini, sial!"
"… tapi bukankah—"
"Lisanna!"
Satu bentakan dari Natsu yang membuat gadis itu tidak berkutik dan mematuhi perintahnya.
Sembari berjalan pulang, Lucy menggigit bibir bawahnya keras. Ingin rasanya dia duduk di celah antara Natsu dan gadis perak itu, tapi itu tidak akan mungkin terjadi. Gadis pirang itu memegangi dadanya, seperti ada sebilah pedang yang menancap tepat di sisi kiri.
Tidak berdarah tapi kok sakit?
***TO BE CONTINUED***
[NEXT CHAPTER: A QUESTION]
[A/N]
HALOOOOOWWW EVERYBODEH.
Semoga masih ingat saya.
Sekalian nanya nih ah, anime atau J-Drama yang mirip-mirip Ao Haru Ride gitu apa ya? ("3 saya kok ketagihan genre seperti itu (semenjak galau menyerang, sodara-sodara :"3)
Padahal rencananya mau nambahin unsur game LINE Get Rich, tapi ujung-ujungnya malah Dark Avenger dan COC. Tenang, akan ada chapter yang akan membahas game—di chapter ini unsur humu lebih dominan kan? GIMANA, PARA FUJOSEEHHH? SUKA DENGAN HINTS KUROBAS? KISEKURO FTW, AOMINE AKU PADAMOH.
Ohya, yang punya line boleh add saya: galuhdayinta. Kalo udah add chat yaa, biar saya tambahin sebagai teman hwhwhwhw (sejatinya dia butuh sasaran untuk menebar clover /hus)
Terima kasih untuk para reviewers:
CelestyaRegalyana, Pororo-chan, psan mania, Ren-chan Hanami, SyifaCute, R2A, aichan14, stillewolfie, Teostra Dual Teska, Draco-AcalyphaSM, Saruwatari Chiharu, Annataillie, Beikkuma-99, Minako-chan Namikaze, Guest, dan Waifu Natsu.
aichan14: Wah ada reader yang notice nih, kenapa Natsu jadi maniak game. :)) ah, aku kurang menutupinya /hus
Annataillie: Apa yang akan terjadi? Kita lihat saja di chapter ini XD. Sayang sekali ya, ternyata tidak terjadi apa-apa. Kaget ya? Gebukin aja authornya kalo kesel :)) /heh
Guest: Iya ini lanjut.
Sampai jumpa!
Hargai kerja keras Author dengan review :)
