Ikigai: a reason for your existence. The reason you wake up every day.

.

.

.

Chapter 03: Ikigai

Hyuuga Neji telah bersiap dengan seragam ANBU miliknya yang sudah satu tahun belakangan ini tidak ia pakai. Pemuda bersurai coklat panjang tersebut bercermin, merapikan seragamnya kemudian menguncir rambut panjangnya.

Sang Godaime Hokage memanggilnya ke kantornya untuk membicarakan perihal misi pertamanya setelah menjadi ANBU kembali. Memikirkan misinya tersebut, pemuda Hyuuga tersebut mengira misi tersebut adalah misi tingkat S yang biasa ia dapatkan ketika menjadi ANBU. Namun ia lumayan terkejut ketika mengetahui bahwa misinya adalah melatih Haruno Sakura untuk menjadi ANBU. Bersama Shikamaru—sebagai wakil kapten; Rock Lee akan membantu dirinya mengasah taijutsu Sakura; dan Genma Shiranui sebagai pengawas yang akan melaporkan perkembangan harian Haruno Sakura kepada Tsunade.

Yang membuatnya lebih terkejut adalah mereka akan berlatih di tempat latihan tua yang dulu dipakai oleh Yondaime Hokage dan Jiraiya untuk berlatih. Dan parahnya, mereka akan tinggal di sana untuk beberapa waktu hingga misinya selesai.

Neji tahu sang Hokage sangat menyayangi anak didiknya tersebut, tapi ia tidak tahu bahwa wanita tersebut sangat menyayanginya hingga mempersiapkan latihan khusus untuk gadis merah muda tersebut.

Setelah selesai merapikan seragam dan rambutnya, Neji mengambil tas pinggangnya dan pergi menuju kantor Hokage.

Neji masuk ruang Hokage tanpa suara. Tsunade sedang duduk di bingkai jendela memandang entah-apa Neji tidak terlalu peduli. Ketika ia sampai di depan meja keraj Tsunade, baru lah wanita tersebut menengok ke arahnya.

Wanita tersebut turun dari bingkai jendela dan duduk di kursinya. "Kau sudah tahu misimu?" tanya Tsunade tanpa basa-basi. Neji mengangguk sebagai jawaban. "Kau dan Rock Lee akan melatih taijutsu Sakura, aku mau dia sudah menguasai taijutsu secara keseluruhan dalam kurun waktu enam bulan. Aku akan mengunjungi kalian beberapa kali untuk melatih Sakura juga. Juga Shikamaru melatihnya untuk menghindari bayangannya. Ah, satu lagi Genma tidak hanya menjadi pengawas, aku mau dia melatih Sakura untuk mendefleksi kunai dan juga ninjutsu ruang waktunya."

"Ninjutsu ruang waktu?" ujar Neji bingung. Seingatnya hanya beberapa orang yang bisa menggunakan jutsu tersebut dan ia tidak mengingat nama Shiranui Genma dalam daftar tersebut.

Tsunade mengangguk. Ia menatap Neji tajam. Selanjutnya ia berkata dengan nada yang sangat serius—nada mutlak, yang artinya ia harus mencapai misi tersebut dengan sukses, "Buat Sakura menjadi kunoichi terkuat. Aku ingin kau membuat orang-orang yang meninggalkannya ternganga melihat kemampuannya."

Emosi terpancar di mata Hokage tersebut. Selama ini Neji tidak pernah melihat seorang Senju Tsunade yang emosional—marah-marah terhadap orang-orang tidak termasuk dalam kategori emosional milik Neji—dan hal tersebut membuatnya sedikit terkejut. Ia tidak menyangka seorang Haruno Sakura dapat membuat Tsunade seperti itu.

"Jika tidak ada yang ingin kau tanyakan, kau bisa memberitahu yang lain tentang misi ini."

Setelah mengatakan hal tersebut, Neji langsung pergi dari sana. Orang pertama yang akan ia beritahu tentu saja Shikamaru, selaku wakil kapten dan rekan timnya, setelah itu ia akan memberitahu Genma dan Lee. Ia pikir akan lebih baik untuk memberitahukan Sakura terakhir.

Memasang topeng phoenix-nya, Neji melompat dari atap kea tap dan menuju kediaman Nara.


Setelah memberitahu Shikamaru, Genma, dan Lee; Neji melompati atap menuju rumah sakit Konoha. Sekarang masih siang, jadi pasti Sakura masih bertugas karena setahunya, Sakura selesai bertugas di sore hari.

Saat ia sampai di depan rumah sakit, ia melihat sepupunya, Hyuuga Hinata, berjalan keluar dari rumah sakit. Ia memanggilnya, "Hinata!"

Hinata yang mendengar suara familiar yang memanggilnya langsung menengok ke arah datangnya suara. "Neji-niisan!" sapanya ketika mendapati pemuda tersebut. Namun keningnya mengkerut ketika ia melihat Neji berseragam ANBU lengkap dengan topengnya. Seingat gadis Hyuuga tersebut, kakak sepupunya sudah tidak pernah ditugaskan di ANBU lagi semenjak satu tahun yang lalu. Maka ketika Neji sudah berdiri di hadapannya, Hinata meyuarakan isi pikirannya tersebut, "Neji-niisan ditugaskan kembali…?"

Neji sempat bingung dengan pertanyaan Hinata, namun ia sadar bahwa adik sepupunya tersebut sedang membicarakan tentang dirinya yang ditugaskan kembali di ANBU. Dirinya bahkan lupa bahwa ia masih mengenakan seragam ANBU beserta topengnya. "Aa, ini. Iya, aku dan Shikamaru ditugaskan kembali," jawab Neji.

Hinata mengangguk. "Ada apa Neji-niisan ke sini?" tanya Hinata kemudian.

Neji baru ingat tujuannya kemari, ia berdeham. "Kau lihat Haruno?"

Hinata mengernyit sejenak. "Sakura-chan? Ah, aku belum melihatnya sejak beberapa jam yang lalu. Setahuku ia ada tiga operasi hari ini, jadi mungkin akan susah mencarinya. Ada perlu dengannya, Neji-niisan?"

Neji mengangguk. "Aa," jawabnya singkat.

Hinata memiringkan kepalanya. Membicarakan tentang Sakura, akhir-akhir ini temannya tersebut sering sekali terlihat murung. Dan suasana hatinya sedang sangat tidak bagus, ia penasaran apa yang membuat seorang Haruno Sakura seperti itu. "Ano, Neji-niisan, Sakura-chan akhir-akhir ini sering terlihat murung dan suasana hatinya sedang tidak bagus. Apa pun urusannya, kuharap Neji-niisan tidak berkata blakblakan seperti biasanya," ujar Hinata memperingatinya. Terkadang Neji memang berbicara terlalu jujur, jadi ia harus memperingati saudara sepupunya tersebut agar tidak membuat keributan di rumah sakit karena telah membuat Sakura marah.

"Aa, aku tahu, Hinata," jawab Neji. Setelah mengatakan itu, ia pamit untuk mencari Sakura dan masuk ke dalam rumah sakit.

Ketika ia bertanya kepada perawat-perawat di sana, mereka tidak mengetahui keberadaan Sakura. Gadis tersebut menghilang sejak beberapa jam yang lalu—sepertinya ia sedang melakukan operasi. Dan benar saja, ketika ia bertemu Shizune dan menanyakan keberadaan Sakura, gadis tersebut memang sedang melakukan operasi sejak tiga jam yang lalu. Shizune menyuruhnya menunggu karena Sakura akan segera selesai. Maka Neji menunggu di lobi rumah sakit.

Setengah jam kemudian, Sakura keluar dari dalam lift. Ia mengampiri Neji yang sedang duduk—topengnya sudah berada di samping kepalanya. "Neji? Kudengar kau mencariku?" Sakura muncul di hadapan Neji.

"Aa. Ada misi," ujar Neji singkat.

Sakura mengernyitkan dahi lebarnya tersebut. "Misi…?" Neji mengangguk. Sakura menunggu penjelasan dari Neji, namun pemuda tersebut tak kunjung melanjutkan kalimatnya. Sakura baru sadar bahwa Neji sedang menggunakan seragam ANBU yang berarti bahwa mereka perlu berbicara di tempat yang tidak ramai, maka Sakura mengajak pemuda tersebut ke ruangannya.

"Jadi…?" mulai Sakura ketika mereka sudah berada di ruang kerja Sakura. Ruangan tersebut tidak ada yang spesial, tipikal ruangan dokter. Dengan meja dan kursi di ujung ruangan dan sebuah kasur pasien.

Neji kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya ke sana. Ia juga menjelaskan tentang misinya yaitu melatih dirinya menjadi ANBU. Sakura sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa Shikamaru dan Genma akan ikut melatihnya.

"Ah, kita akan berlatih di tempat latihan tua yang pernah digunanakan Yondaime Hokage dan Jiraiya. Tempat kita diserang Akatsuki beberapa tahun yang lalu, kau tahu kan?"

Mendengar tempat latihan mereka membuat senyum di wajah Sakura—yang sedari tadi terpatri di wajahnya mendengar kabar gembira tersebut—luntur seketika. Tempat tersebut mengingatkannya dengan tim tujuh. Kakashi-sensei juga dulu berlatih di sana ketika ia masih genin dan Naruto juga…

"—no? Haruno?" panggilan Neji membuayarkan lamunan Sakura. Ia kemudian berusaha menyunggingkan senyumnya, namun senyum tersebut tak sampai mata. Neji menyadari perubahan suasana hati Sakura. "Daijoubu ka?"

"Iie, aku tak apa." Sakura berusaha memberikan senyum meyakinkan namun gagal. Tahu bahwa usahanya tersebut gagal dan apa pun yang dilakukannya tidak akan membuat pemuda Hyuuga tersebut percaya padanya, akhirnya Sakura menghela napas dan menjelaskannya. "Hanya teringat bahwa Naruto dan Kakashi-sensei dulu juga berlatih di sana." Ia memalingkan wajahnya, tidak ingin Neji melihat tatapan terluka miliknya.

"Ah." Hanya itu yang keluar dari mulut Neji. Pemuda tersebut tidak punya kata-kata untuk menyemangati Sakura—yang ia yakin tidak dibutuhkan Sakura saat ini. Gadis tersebut hanya butuh pengertian dan dia tidak ingin membicarakan hal tersebut jadi Neji berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, terima kasih waktu itu sudah membiarkan aku dan Shikamaru sarapan di tempatmu."

Sakura kemudian menatap Neji dan tersenyum padanya. "Bukan masalah, aku hanya berbalas budi karena telah merepotkan kalian."

Neji mengangguk. "Ah, kita mulai latihan minggu depan. Siapkan dirimu, latihan ini akan sangat keras." Pemuda tersebut memberikan senyumannya pada Sakura yang dibalas dengan cengiran oleh gadis itu.

"Aku tahu, Neji, aku sudah siap kapan pun itu."

Neji hanya tersenyum mendengarnya kemudian ia pamit. Pemuda tersebut memasang kembali topengnya dan pergi dari sana. Selesai sudah tugasnya hari itu, ia bisa pulang dan berlatih bersama Hinata. Dan dia punya waktu senggang selama seminggu, mungkin ia akan membicarakan tentang jadwal-jadwal latihan Sakura nantinya.


.

.

.


Seminggu berlalu dengan cepat. Setelah Sakura menyelsaikan semua tugas-tugasnya di rumah sakit dan menyerahkan tugasnya selama beberapa waktu—Sakura sudah memberitahukan kepada bawahannya bahwa misinya adalah misi jangka panjang jadi waktu selesainya tidak menentu.

Sekarang di sini lah ia, di depan gerbang desa Konoha, bersama Shiranui Genma menunggu rekannya yang lain. Saat mereka bertemu tadi, Sakura menyapa Genma dengan semangat yang hanya dibalas dengan lambaian tangan.

Lama menunggu, keheningan di antara keduanya membuat Genma jengah. Makai a mencoba untuk membuka pembicaraan. "Aku terkejut ketika Hyuuga memberitahuku tentang misi ini," ujarnya tiba-tiba membuat atensi Sakura, yang tadinya ditujukan pada hutan, beralih padanya.

"Aku lebih terkejut lagi karena Tsunade-shishou mengabulkan permintaanku, bahkan memberikanku latihan khusus. Kadang aku merasa tidak enak pada yang lain karena shishou lebih memerhatikanku, dan aku sendiri tahu bahwa itu tidak adil.

Genma, dengan lidi yang selalu berada di mulutnya, tersenyum pada Sakura. "Itu tidak hanya terjadi padamu saja, Sakura. Shizune juga dulu seperti itu, hanya saja Tsunade-sama belum menjadi Hokage waktu itu, jadi orang-orang tidak terlalu iri padanya."

Mendengar tentang senpai -nya membuat Sakura tersenyum pada pria dengan hitaiate yang ia gunakan seperti bandana tersebut. "Aku tidak terkejut mendengarnya."

Genma mendengus. "Jelas saja, kau kan mengalami hal yang sama dengan Shizune." Pria tersebut menyandarkan dirinya di gerbang. Sudah duapuluh menit mereka di sana, namun ketiga orang yang ditunggu tidak juga muncul. Tidak mengejutkan, karena Genma dan Sakura datang satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

Sakura terkekeh mendengar penuturan Genma. "Ne, Genma-sensei —" Genma memutar matanya mendengar panggilan Sakura padanya, "—apa kau pernah menjadi ANBU?" tanya Sakura kemudian, megubah topic pembicaraan.

Genma menggeleng, kemudian menjawab pertanyaan Sakura, "Tidak. Tapi aku pernah menjadi pengawal peloton Yondaime Hokage, itu sebabnya aku dan kedua rekanku—Raidou dan Tatami—diajarkan Teknik Dewa Guntur Terbang oleh Yondaime dan juga ninjutsu Ruang Waktu." Pria yang lebih tua enambelas tahun darinya tersebut memberikan cengirannya pada Sakura karena bangga dengan tekniknya.

"Dan kau akan mengajarkanku teknik tersebut."

Genma mengangguk. "Dan aku akan mengajarkanmu teknik tersebut, sesuai perintah Godaime."

Tepat setelah Genma menjawab Sakura, terdengar teriakan Rock Lee dari kejauhan. Keduanya melihat ke arah datangnya suara dan mendapati Lee, Neji, dan Shikamaru sedang berjalan beriringan. Lee melambaikan tangannya pada mereka berdua yang dibalas keduanya dengan lambaian juga. Ketiga orang tersebut sangat kontras perbedaannya: Lee dengan pakaian jounin-nya dan tas ransel besar di punggungnya (Sakura geleng-geleng kepala melihat ukuran tas Lee); Shikamaru dengan seragam ANBU dan topeng rusa yang sudah ia pakai, tas ransel yang ia bawa tidak sebesar Lee; dan Neji berseragam persis sama dengan Shikamaru, hanya saja topeng miliknya adalah burung phoenix, Neji juga membawa ransel berukuran sama dengan Shikamaru.

Setelah sampai di hadapan Sakura dan Genma, Neji tanpa basa-basi langsung mendiskusikan perjalanan singkat mereka ke tempat latihan yang masih masuk dalam wilayah Konoha tersebut. Ia mendiskusikan untuk mencari tempat mereka tidur dan makan setelah sampai di sana nanti. Dan mereka akan berpencar, membagi dua kelompok: Genma dan Lee; dan Sakura, Shikamaru, dan Neji.

Sakura mengusulkan pondok yang ada di sana, namun Neji menolaknya dikarenakan pondok tersebut tidak dapat melindungi mereka dari hujan angin. Jadi mereka sepakat untuk mencari gua untuk ditempati atau tempat yang layak dihuni oleh mereka.

Di saat-saat seperti ini, Sakura berharap Yamato-taichou ada bersama mereka sehingga mereka tidak perlu repot mencari tempat. Namun gadis Haruno tersebut membuang jauh-jauh pikiran tersebut, ia tidak ingin memikirkan taichou-nya yang juga meninggalkan dirinya itu. Kunoichi muda itu menghela napasnya. Tidak mengerti mengapa ia terus teringat mereka dan membuat dirinya bersedih.

Ketika mereka sampai di tempat latihan, sesuai dengan rencana awal; Genma dan Lee berpisah dari Sakura, Shikamaru, dan Neji.

Setelah limabelas menit, Genma dan Lee kembali ke tempat awal mereka berpisah, mengatakan bahwa ada gua sekitar enampuluh meter dari tempat latihan. Namun Sakura, Shikamaru, dan Neji menemukan sebuah rumah tidak berpenghuni tidak jauh dari sana dan mereka sepakat bahwa mereka lebih memilih rumah tidak berpenghuni tersebut. Kelima shinobi tersebut bergegas menuju rumah tersebut.

Rumah itu sederhana, tampak tua dan terlihat seperti sudah bertahun-tahun tidak dihuni. Hanya ada satu kamar sedang di sana dengan dua futon berukuran sedang—yang sudah bau apak—terbentang di lantai kamar; lemari besar berwarna coklat tua (yang Sakura yakini dihuni oleh serangga—Sakura bergidik membayangkannya—yang pasti dikenali oleh rekannya, Aburame Shino); jendela sedang yang langsung memperlihatkan pemandangan tempat latihan. Ada satu kamar mandi di sana yang—Sakura sangat berterimakasih kepadakami-sama saat itu juga—memiliki pancuran dan bak berendam juga wc tradisional—Shikamaru mencoba mengalirkan air dari wc tersebut yang ternya masih berfungsi. Tidak ada ruang tamu di sana hanya ada ruang besar yang diisi meja makan besar dengan empat kursi—sementara mereka ada lima sehingga Genma mengusulkan untuk membuat meja makan tersebut menjadi kotatsu yang disetujui oleh semuanya. Dapur rumah tersebut cukup besar, peralatan memasak juga lengkap, masalahnya ada di kompor gas. Gas di dapur itu sudah habis, sementara jarak tempat latihan dan desa sekita satu jam.

"Masak pakai tungku api saja, tidak sulit membuatnya," ujar Shikamaru setelah diskusi singkat tentang permasalahan tersebut.

Setelah masalah terselesaikan, mereka memutuskan untuk memulai latihan esok hari. Hari itu mereka akan membersihkan rumah tersebut. Mereka membagi tugas, Sakura akan mencuci futon yang berbau tidak sedap itu; Lee akan membersihkan lemari yang—seperti dugaan Sakura—dipenuhi oleh serangga. Genma memilih untuk menyapu dan mengepel; Neji dan Shikamaru akan membersihkan dapur dan membuat tungku api untuk memasak.

Sakura sedang menjemur futon di halaman rumah tua tersebut—Neji dan Shikamaru membuatkan jemuran untuknya sebelum mereka pergi mencari batu dan kayu untuk membuat tungku—ketika kedua shinobi yang membuatkan jemuran untuknya kembali dengan tangan penuh dengan kayu dan batu bata.

Gadis bersurai dengan warna tak lazim itu tersenyum tatkala mendengar kedua ANBU tersebut mendiskusikan tentang latihannya. Sakura melirik sejenak rumah sederhana yang ada di belakangnya, kalau dipikir-pikir walau pun ini hanya latihan, rasanya seperti mereka memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama. Itu adalah impian Sakura dulu bersama tim tujuh—jika Sasuke pulan nanti, Sakura ingin mereka tinggal bersama, itu lah impiannya. Dulu. Sebelum timnya meninggalkannya sendirian dan memutuskan untuk menggantikannya dengan sahabat wanitanya yang berambut pirang pucat—Yamanaka Ino.

Sakura tersenyum kecut ketika ia lagi-lagi memikirkan hal tersebut. Ia mengela napas sejenak, kemudian memutuskan untuk merapikan barang-barang bawaannya. Ketika ia masuk ke dalam rumah; Genma dan Lee tidak terlihat di mana pun; Neji dan Shikamaru, sembari mengobrol, membuat tungku di ruang tengah. Meja makan yang ada di sana masih utuh, belum berubah menjadi kotatsu seperti yang mereka sepakati tadi—mungkin setelah ini Genma akan mengerjakannya, pikir Sakura.

Ia masuk ke dalam kamar dan menemukan Lee dan Genma sedang mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam tas ransel masing-masing dan menyusunnya di dalam kamar. Sakura menyapa mereka berdua yang dibalas oleh keduanya sebelum menuju ranselnya sendiri.

Ia mengeluarkan beberapa helai baju yang ia bawa dan memasukkannya ke dalam lemari besar tersebut. Mereka membagi rak lemari tersebut: Sakura menggunakan rak tengah; rak paling bawah dan paling atas sudah terisi (Sakura tidak tahu yang mana milik Genma dan yang mana milik Lee); dua rak lagi belum terisi. Sakura—dengan wajah sedikit memerah—memutuskan untuk menyimpan pakaian dalamnya di dalam ranselnya. Ia tidak banyak membawa barang hanya pakaian dan beberapa shuriken dan kunai—dan dua buah bingkai foto.

Bingkai pertama adalah fotonya bersama tim tujuh saat masih genin dulu, saat Sasuke masih bersama mereka. Foto yang kedua diambil tiga tahun lalu, ketika Sai dan Yamato bergabung dalam tim tujuh. Minus Sasuke, tim tujuh beserta Sai dan Yamato bergaya dalam foto tersebut.

Sakura mengelus foto tersebut. Tersenyum kecut, Sakura menggantung foto tersebut di dinding kamar. Alasannya membawa kedua foto tersebut adalah sebagai pengingat bahwa ia harus segera menyusul mereka agar dirinya bisa bersanding dengan mereka dan tidak ditinggalkan lagi. Setelah ia menggantung foto tersebut, Sakura memandanginya bergantian dengan tatapan sedih.

"Kalau itu membuatmu sedih, kenapa dibawa, Sakura?" suara Shikamaru terdengar dari ambang pintu.

Sakura menengok ke arah Shikamaru dan tersenyum tidak sampai mata. "Sebagai pengingat," jawab Sakura singkat.

Shikamaru mendekatinya—Genma dan Lee sudah keluar tadi untuk membuat kotatsu. Sakura kembali memandang kedua bingkai tersebut, Shikamaru ikut memandanginya. "Kau tahu, ini seperti tarik tambang, kau bisa memilih: bertahan menahan rasa sakit dan memenangkannya; bertahan menahan rasa sakit namun akhirnya kau yang kalah; atau melepaskannya demi kebaikanmu sendiri. Tiga pilihan tersebut selalu muncul, ketiganya bukan lah pilihan yang buruk. Namun kalau itu menyakitimu terus menerus, ada kalanya lebih baik kau melepaskannya daripada kau mempertahankan namun yang kau dapat hanya luka yang sulit diobati."

Sakura memandang Shikamaru dari samping. Ia mengulum senyum. "Atau kau melepaskannya karena menyerah padahal kau masih bisa menahan rasa sakit tersebut dan berakhir menyesal."

"Itu pilihan yang buruk," ujar Shikamaru setelah melirik Sakura yang sedang memandangnya, kemudian atensinya kembali pada foto tim tujuh.

"Setuju." Sakura mengangguk singkat. "Menurutmu, mana pilihan yang terbaik untukku?" tanya Sakura kemudian.

"Bukan tempatku untuk menjawabnya. Pertanyaan itu harusnya kau tujukan pada dirimu sendiri, Sakura. Coba kau tanyakan pada hatimu dan logikamu, mana yang paling baik? Logika dan hati memang sering tidak sinkron, tapi ada kalanya keduanya punya kerjasama yang bagus dan menghasilkan pilihan paling tepat."

Atensi pewaris klan Nara itu sekarang sudah sepenuhnya tertuju pada Sakura—keduanya saling memandang. Lama. Namun akhirnya Sakura menunduk.

Gadis itu mengedikkan bahunya, masih menunduk sambil memainkan kedua kakinya. "Entahlah, aku tidak tahu," jawabnya pelan. Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Shikamaru kembali. "Maksudku, ya, aku marah pada mereka. Aku sedih. Sakit hati, hatiku hancur. Tapi apakah aku membenci mereka sampai aku ingin melepaskan mereka? Tentu saja tidak. Aku bukan Sasuke yang dengan gampangnya memutuskan hubungannya dengan kami. Aku bahkan tidak tahu alasan mereka meninggalkanku. Apakah karena aku terlalu lemah? Karena aku tidak berguna? Atau hanya karena mereka tidak ingin membawaku?" Sakura menarik napas panjang, matanya sudah berkaca-kaca.

Ia kemudian melanjutkan, "aku bahkan meminta Naruto untuk menungguku, Shika, menungguku hingga aku lebih berguna baginya sehingga kita bisa bersama membawa Sasuke pulang. Kau sendiri menyaksikan ketika aku mengatakan hal tersebut pada Naruto. Aku tahu, aku tahu sudah lima tahun terlewati dan masih belum ada perkembangan dari diriku, mungkin menurutnya aku tidak akan menjadi gadis kuat seperti yang aku janjikan sehingga ia meninggalkanku. Aku tidak tahu dan tidak mengerti. Kenapa…?"

Air mata yang tadi ia bending kini jatuh perlahan, emeraldnya berkilau karena air matanya. Napasnya tersenggal karena ia berusaha menahan isakan yang ingin keluar dari mulutnya di dalam tenggorokkannya. Shikamaru menghela napasnya, pemuda tersebut menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Menghadapi wanita yang sedang emosional bukanlah hal yang sering ditemuinya. Bingung harus bagaimana, Shikamaru akhirnya memilih untuk menepuk-nepuk pucuk kepala Sakura. Namun tak disangkanya, tanpa peringatan Sakura langsung menerjang pemuda tersebut dan memeluknya. Kaget dan bingung, bahunya sempat menegang namun akhirnya ia berusaha rileks dan membiarkan gadis di depannya menangis dalam pelukannya, membasahi seragam ANBU-nya. Sambil menunggu Sakura berhenti menangis, Shikamaru kembali menepuk-nepuk kepala gadis merah muda tersebut, berusaha menenangkannya.

Setelah sepuluh menit, tangisan Sakura akhirnya berhenti. Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya pada Shikamaru. Malu karena sekali lagi ia meyusahkan pemuda tersebut. "Maaf," gumamnya dengan suara serak sambil menunduk, enggan menatap pemuda berkuncir nanas tersebut.

Shikamaru memegang dagu Sakura, kemudian mengangkat kepalanya. Mata hitam pemuda tersebut mencari-cari mata emerald Sakura, sampai akhirnya Sakura menyerah untuk menghindar dan memilih untuk memandang langsung mata tersebut.

Shikamaru melepaskan dagu Sakura, kemudian ia menghapus jejak-jejak air mata yang masih terlihat di kedua pipi Sakura. Pemuda itu kemudian tersenyum kecil padanya. "Syukurlah kau sudah tenang. Aku belum pernah menghadapi wanita menangis sebelumnya, kecuali Mirai yang belum bisa dimasukkan ke dalam kategori wanita."

Kata-kata Shikamaru membuat Sakura memberikan cengirannya pada pemuda Nara itu. "Tapi kau terlihat seperti orang yang berpengalaman," jawab Sakura masih dengan suara serak.

Shikamaru mendengus kemudian mengedikkan bahunya. "Insting pria, mungkin?"

Sakura memutar kedua matanya yang sedikit bengkak tersebut. "Aku terkejut seorang Nara mempunya insting pria."

"Hey, jangan remehkan aku. Selain pria, aku juga punya insting seorang ayah dan insting itu akan semakin tajam ketika aku berhadapan dengan Mirai."

"Ya, ya, ya, terserah kau lah, Nara," jawab Sakura geli.

Sakura sangat berterimakasih pada pemuda tersebut, ia tidak membahas dirinya yang menangis lebih jauh lagi. Bahkan ia berusaha untuk bergurau. Dan ia lebih berterimakasih lagi karena Shikamaru tidak mengejeknya. Gadis itu kemudian tersenyum padanya. "Shikamaru, arigatou, ne?"

Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum mengedikkan bahunya tidak peduli. "Aa. Bukan masalah," jawabnya sambil mengibaskan sebelah tangannya.

"Sepertinya aku berhutang budi padamu lagi," ujar Sakura masih dengan senyuman yang terpatri di wajahnya. "Bagaimana kalau kubayar dengan masakan yang enak nanti malam? Dan sebagai permintaan maaf karena telah membasahi bajumu, aku akan mencucikannya, bagaimana?"

"Terserah padamu, Haruno, aku tidak meminta apa pun," jawab Shikamaru dengan nada malasnya seperti biasa.

"Aku akan mengartikannya sebagai 'ya' kalau begitu," ujar Sakura.

Shikamaru menghela napasnya, namun ia bersyukur akhirnya temannya itu sudah kembali seperti semula. "Yare, yare, lebih baik kau membersihkan dirimu dulu."

Sakura hanya mengangguk setuju sebelum kemudian membuka lemari dan mengambil sehelai baju rumah, gadis itu juga membawa ranselnya bersamanya. Shikamaru mengangkat alisnya ketika Sakura membawa ranselnya, namun ia tidak menanyakannya pada Sakura. Lagipula dia ingin menyusun barang-barangnya.

Sakura sudah berada di ambang pintu ketika Shikamaru tiba-tiba memanggilnya, "Sakura." Gadis itu membalikkan badannya.

"Ya?"

"Kuharap kau tetap bertahan sampai akhir, aku yakin jika kau bisa menahannya dengan sekuat tenagamu kau pasti akan menang."

Kedua orang berbeda jenis kelamin itu saling memandang. Kemudian Sakura memberikannya senyuman tulusnya. "Aku tahu," jawabnya singkat kemudian ia keluar dari kamar dan pergi membersihkan dirinya.


Sore hari, setelah mengangkat kedua futon yang sudah kering dan membentangkannya kembali di dalam kamar. Sakura bergegas memasak makan malam untuk mereka, dibantu oleh Genma. Persediaan makanan yang mereka bawa telah disusun di dalam lemari di dapur.

Sakura memutuskan untuk memasak sup miso soba sebagai menu makan malam. Sementara Genma memasak nasi, Sakura menunggui sup miso buatannya sampai matang dan terasa lezat.

Meja makan tadi siang sudah berubah menjadi kotatsu—hasil kerja Genma, walau ia hanya memotong kaki meja saja. Keempat kursi tadi ditaruh di pojokan dapur sehingga tidak memenuhi ruang tengah.

Ketiga orang lainnya sudah duduk tenang di hadapan kotatsu, menunggu makan malam dihidangkan. Ketiganya terlihat terlibat dalam percakapan yang cukup serius, mungkin mendiskusikan hari besok.

Setelah makan malam dihidangkan, kelima shinobi itu makan dengan lahap. Kelelahan setelah beraktifitas seharian penuh (membersihkan rumah tua itu). Setelah selesai makan dan Lee—yang bertugas malam itu—mencuci piring bekas mereka makan, keempat orang lain tidak kunjung beranjak dari tempat mereka.

Sakura merentangkan tangannya berkali-kali. "Ah, lelah sekali setelah membersihkan rumah," ujar Sakura yang disetujui oleh tiga orang lainnya. "Aku penasaran siapa orang yang dulu tinggal di sini," lanjutnya.

"Kurasa rumah ini dulu ditempati Yondaime-sama dan Jiraiya-sama," jawab Genma. "Tempat ini dulu tempat di mana Jiraiya-sama melatih Yondaime. Setelah keduanya wafat pasti sudah tidak ada lagi yang mengurusi rumah ini."

Sakura mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Genma. "Hmm, begitu…" sambil memegang dagunya. "Entah kenapa aku ingin menamakan rumah ini. Seperti rumah ANBU, mungkin? Atau rumah Sakura?" celetuknya kemudian sambil terkekeh dengan pikirannya sendiri.

"Itu merepotkan, Sakura. Ini hanya rumah biasa, bukan panti asuhan," jawab Shikamaru malas.

Sakura memutar kedua matanya. "Tidak ada salahnya memberikan nama pada rumah, Shikamaru, apalagi kita akan tinggal lama di sini," jawab Sakura.

Shikamaru mengangkat kedua tangannya. "Apa pun katamu, Haruno,"

Neji menyela kedua orang tersebut. "Aku, Lee, dan Shikamaru berdiskusi sejak tadi tentang latihanmu," mulainya, kemudian melanjutkan, "akhirnya kami memutuskan untuk lebih fokus pada taijutsu-mu karena Tsunade-sama hanya memberi waktu enam bulan agar kau menguasai taijutsu secara menyuluruh. Selain itu, aku dan Shikamaru akan mengajarimu beberapa hal tentang ANBU."

Sakura mengangguk mengerti dan bertanya, "jadi besok aku akan mulai latihan bersama siapa?" ia meluruskan kakinya yang mulai pegal karena ia duduk bersimpuh sejak mulai makan tadi.

"Besok pagi kau akan mulai latihan dengan Lee, kemudian melanjutkan bersamaku, setelah itu kami berdua," Neji menunjuk dirinya dan Shikamaru, "akan menjelaskan satu persatu hal-hal mengenai ANBU yang kau tidak tahu."

Sakura hanya mengangguk dan obrolan tersebut tidak berlanjut hingga Lee kembali dan mereka semua bergegas untuk tidur. Namun ketika mereka masuk ke kamar, ada masalah baru lagi: futon hanya dua sementara mereka ada lima, salah satunya harus mengalah dan tidur di lantai.

Sakura menghela napas. "Tidak perlu ada yang tidur di lantai, gabung saja kedua futon itu. Tidur berdempet tak ada masalah, kan?"

"Tapi Sakura-san, apa kau tidak apa-apa seperti itu?" tanya Lee khawatir.

Sakura tersenyum pada pemuda beralis tebal itu. "Aku sudah biasa tidur berdempet saat melaksanakan misi, Lee-san, jadi sekarang pun tidak ada masalah."

Jadi mereka memutuskan untuk mengikuti saran Sakura. Setelah futon disatukan, mereka mengambil posisi tidur: Sakura ditengah, dihimpit oleh Shikamaru dan Neji; Lee di samping Neji; dan Genma di samping Shikamaru.

Setelah beberapa menit, terdengar dengkuran pelan Lee dan Genma. Namun kedua pemuda yang menghimpit Sakura terlihat belum tidur, Sakura mencoba memanggil keduanya. "Neji? Shikamaru?"

"Hm?" jawab keduanya bersamaan membuat Sakura terkikik pelan.

"Oyasumi," bisik Sakura.

"Aa, oyasuminasai, Haruno," jawab Neji.

"Oyasumi," gumam Shikamaru malas.

Setelah beberapa menit, ketiganya jatuh tertidur karena kelelahan. Malam itu Sakura tidak bermimpi buruk seperti yang ia alami beberapa minggu belakangan ini.

.

.

.

A/N: ShikaSaku terlalu sayang jika dilewatkan. Salah satu crack pair favorit saya, simply because percakapan mereka pasti dipenuhi filosofi, atau sebagaimana percakapan dua orang jenius. Dan menurut saya itu hot, super hot. Dan ini chapter favorit saya, seneng banget nulis ini. Gak bisa berhenti senyum pas nulis bagian Shikamaru dan Sakura, hihi.

Ah, Tim Tujuh mungkin belum akan muncul lagi selama beberapa chapter ke depan, entahlah, mood saya emang lagi nulis ShikaSakuNeji *ketawa cekikikan*. Ah! Dan si tampan Genma Shiranui bakalan nempel sama mereka sampe training-nya Saku selesai! Cmiw~