"ALMOST" Squel of LISTEN

Naruto belong Masashi Khisimoto

Warning!

DLDR, TYPOS, AU, EYD masih nyelempeng dst.

.

.

.

.

.

Di pagi yang begitu segar dan berbeda Naruto terbangun dari tidurnya. Merentangkan tangannya dan melihat sekitarnya, merasakan sesuatu yang berbeda bahwa hari ini dirinya bisa tidur dengan nyenyak bahkan sangat nyenyak tidak seperti bisanyanya yang selalu di liputi oleh pikirannya hanyalah menyelesaikan pekerjaannya yang kian menumpuk, Di pikir pikir ini pertama kalinya dia bisa tidur awal dan bangun pagi, sudah lama sekali dirinya tidak merasakan semangat seperti ini, tiba tiba garis melengkung menghiasi paginya yang cerah "Yosh, ayo kita jalan jalan pagi!" Naruto segera berganti pakaiannya dengan baju traning orange dan celana hitam miliknya, dilihat wajah barunya hari ini. kenapa baru? Karena Naruto memangkas rambutnya semalam hingga wajahnya lebih terlihat.

"Setelah jogging aku akan mencari SD anakku, nak tunggu ayahmu ini" Naruto berbicara pada dirinya di depan cermin sambil tersenyum senang.

.

.

.

"Boruto! Ayo sarapan setelah itu berangkat sekolah" Hinata menyiapkan roti gandum di ruang tengah yang multi guna.

"Ha'i!" Bolt menyomot roti tersebut dan memakannya dengan lahap lalu meminum susunya "Sudah selesai! Aku berangkat ya bu!"

Sebelum Bolt berangkat Hinata menghentikannya "Hei hei ada yang dilupakan nih hm?" Hinata berdiri melipat tangannya di depan pintu

"Ayolah ibu, aku sudah besar nihh" rengek Bolt

"Tidak bisa walaupun kau sudah besar kamu harus tetap memberi ibu morning kiss"

"Baiklah bu" Bolt pasrah, Bolt paling tidak bisa menolak permintaan ibunya dan akhirnya mencium pipi ibunya "daah aku berangkat"

"Ok, hati hati sayang" Hinata menatap anaknya yang sudah mulai menghilang dari pandangannya "baiklah waktunya bekerja!" dengan takkalah semangat dari anaknya Hinatapun mengunci rumah dan mulai bekerja.

.

.

.

Matahari sudah mulai meninggi dan mentarinya sudah menyorot ke permukaan bumi

Teng teng teng teng

Bunyi bel yang dibunyikan secara menual itu berbunyi menandakan bahwa kegiatan sekolah sudah selesai.

Bolt salah satu murid SD itu bergegas pulang dengan merapihkan perlengkapannya namun di tengah perjalanan dirinya di tebrak oleh anak murid lainnya hingga tersungkur di lantai "Aw!"

"Aku tidak sengaja, maaf ya anak tidak punya ayah!" ucapan Sota membuat temen temannya yang mendengar itu tertawa terbahak bahak dan terus mengatainya anak yang tidak punya ayah, Bolt kesal terus dikatai seperti itu! Dirinya punya ayah! ya dia punya ayah namun sedang bekerja di luar sana kata ibunya. Mengingat itu membuat bocah 5 tahun itu kesal terus di katai

Bruk!

Bolt mendorong Sota hingga dia juta terjatuh ke tanah cukup keras. "Apa yang kau lakukan anak tidak punya ayah!" teriak Sota yang menahan tangis karena tangannya berdarah

"Jangan mengataiku terus! Aku punya ayah! ayahku sedang bekerja jauh!" teriak Bolt dan mulai memukul Sota yang kaget.

Perkelahian itu membuat anak anak yang lain ketakutan dan memeluk orang tua mereka masing masing

"BORUTO!"

Terteguh sesaat setelah mendengar teriakan Ibunya yang meneriaki namanya begitu keras dan Sota yang di pukuli menangis seseguk

"Astaga anakku! Hei bocah apa yang kau lakukan hah? Apakah orangtuamu tidak mengajarkan sopan satun hah!" ibunya Sota memarahi Bolt

"Maafkan anak saya bu" Hinata berojigi 90 derajat kepada ibunya Sota

"Heh, ternyata kamu—" ibu Sota tersenyum sinis "Pantas saja anaknnya bandel, orang tuanya saja kelakuannya seperti itu" sindir ibunya Sota

"Sekali lagi saya mohon maaf bu, saya akan menghukumnya nanti dan saya tidak pernah mengajarkan anak saya hal yang tidak benar" Hinata berusaha mengabaikan sindiran ibunya Sota "Boruto, kamu harus minta maaf pada Sota" perintah Hinata

"Tidak! Dia yang duluan memulai. Seharusnya dia yang meminta maaf!"

"Boruto!" tegur Hinata

Bolt berlari menerobos kerumunan orang orang dan Hinata pun mengejarnya,

"Boruto! Berhenti!" panggil Hinata sambil mengejar anaknya yang terus berlari.

Bolt langsung berhenti dan menangis sesegukan, Hinata berhenti dan mensejajarkan tingginya pada Bolt "Dia duluan yang mendorongku dan mengataiku anak yang tidak punya ayah, aku punya ayah! ayahku sedang bekerja jauh dan akan kembali bersamaku yakan bu? Ayah akan kembali bersama kita hiks—" Bolt mengeluarkan isi hatinya sambil menahan tangisannya yang terus sesegukan, Hinata mengelus rambut pirang anaknya yang bergitu mirip dengan ayahnya

"Maafkan ibu nak, Ayahmu tidak akan kembali— dan tidak akan pernah kembali untuk bersama kita, Dia sama sekali tidak menginginkan kita— maafkan ibu nak, ibu memang orang tua yang buruk untukmu maafkan ibu" air mata itu terjatuh dari mata Amathyst Hinata,dipeluk anaknya yang masih menangis sesegukan Hinata mengeratkan pelukannya pada anaknya. Boltnya masih kecil kenapa harus di uji seperti ini? Hinata baru mengetahui kehidupan sekolah anaknya yang tidak pernah dia ceritakan kepadanya, hati Hinata sangat sakit mengetahui beban yang dibawa anaknya.

"I-ibu jangan menangis lagi" Bolt melepas pelukan ibunya dan mengapus air mata ibunya yang terus mengalir "Kalau ibu sedih Bolt sangat sedih dan ingin menangis juga hiks—ibu adalah orang tua boruto yang paling hebat di dunia ini hiks ibu jangan menangis—" ucap Bolt sambil menahan sesegukannya,mendengar ucapan itu dari anakknya membuat Hinata tersenyum dan bersyukur karena dia memiliki anak yang begitu hebat seperti Boruto

"Ibu sangat menyanyangimu, melebihi apapun" Hinata kembali memeluk anaknnya dan di bals oleh Bolt

"Boruto juga menyanyangi ibu melebihi yang di pelanet ini" balas Bolt dengan sesegukan

.

.

.

Seorang lelaki berambut cerah masih setia menunggu di bawah pohon itu terus melihat kearah gerbang SD, terlebih matanya lebih tajam mencari objek yang di carinya saat anak anak sekolah dasar itu keluar dari kelasnya, ternyata tidak susah untuk mencarinya karena anaknya memiliki rambut yang begitu cerah, seakan bangga dengan gen yang telah di turunkan kepada anaknnya itu, namun tiba tiba anaknya di didorong dan terjatuh

"Hei, apa yang dia lakukan pada anakku!" sewot Naruto yang ingin menyusul mereka yang sedang berkelahi, namun langkahnya langsung terhenti saat sosok yang begitu dirindukannya terlihat di hadapannya – Hinata. "Hinata—" lirih Naruto.

"Sekali lagi saya mohon maaf bu, saya akan menghukumnya nanti dan saya tidak pernah mengajarkan anak saya hal yang tidak benar— Boruto, kamu harus minta maaf pada Sota" perintah Hinata pada anaknnya

"Tidak! Dia yang duluan memulai. Seharusnya dia yang meminta maaf!"

"Boruto!" tegur Hinata

dilihat anaknya berlari kencang kearah timur dan di kejar oleh Hinata yang memanggil nama anaknnya, langsung saja dirinya ikut mengejar, setelah mereka berhenti Naruto bersembunyi di balik pohon.

"Maafkan ibu nak, Ayahmu tidak akan kembali— dan tidak akan pernah kembali untuk bersama kita, Dia sama sekali tidak menginginkan kita— maafkan ibu nak, ibu memang orang tua yang buruk untukmu maafkan ibu"

Deg!

Jantung dan nafasnya seakan berhenti saat itu juga mendengar ucapan yang keluar dari mulut Hinata. ucapan itu bagaikan menampar keras Naruto selama ini. Betapa bodohnya dirinya di masa lalu yang begitu berengsek bahkan apapun yang melebihi berengsek yang memang di sadari oleh Naruto. Tanpa sadar Naruto meremas jantungnya yang begitu ngilu bagaikan tersayat sayat. Andai waktu bisa di ulang andai … andai… andai.

Semangat yang menyelimutinya beberapa jam tadi sudah hilang entah kemana bagaikan menguap dan hilang di udara, kembali aura keputusasaan dan penyesalan yang menyelimuti lelaki yang sudah berkepala tiga itu. Dengan langkah terseok seok Naruto meninggalkan mereka, pergi entah kemana kaki ini melangkah sambil membawa penyesalan yang telah dilakukannya di masa lalu. Hinata sudah membencinya dan Anaknya sudah pasti tidak ingin melihat ayahnya yang begitu berengsek ini, mengusir mereka dari masa lalunya dan tiba tiba muncul. Sudah di pastikan anaknya tidak akan menganggapnya ayahnya bahkan membencinya ….

"ARGGGGG!" teriak Naruto sambil menjambak rambutnya "Berengsek kau Naruto! brengsek! Sial! Sial!" Naruto terjatuh di bawah tanah sambil menangis pilu "Berengsek kau Naruto BERENGSEK!" teriak Naruto di tengah hutan yang membuat burung burung yang ada di atas pohon berterbangan.

Naruto kembali berjalan bak zombie yang tidak tau arah, pikirannya sudah kosong, cahaya matanya sudah mati, sudah tidak ada alasan lagi dirinya hidup di dunia ini, dibenci oleh anaknya dan di benci oleh orang yang sangat di cintainya lengkap sudah hidupnya benar benar telah musnah. semoga ada jurang atau harimau yang akan membunuhnya sehingga Naruto tidak perlu merasakan sakit yang teramat dalam ini.

.

.

.

.

.

.

Tbc


sign, 22416

Namaki Shidota