Disclaimer: Saint Seiya bukanlah milik saya… nuff said, right? Fiksi fans ini hanya dibuat demi kesenangan dan kepuasan si penulis belaka, tanpa ada maksud untuk meraup keuntungan berupa uang dan sebangsanya. Just for the sake of free entertainment, really.
Dua Belas Detik
Oleh masamune11
Bab IV
Kereta Perang
*~12-11-10~*
Dia masih ingat masa-masa ketika dia membuka mata, mengharapkan kehangatan dari seorang ibu dan ketegasan dari seorang ayah, di setiap malam berbintang yang bersih dari awan. Meskipun itu merupakan sebuah kenyataan yang sudah lewat dan lama terbenam dalam dirinya, dia masih tidak bisa menyangka dan memroses bagaimana satu malam dapat mengubah segalanya—tentang sudut pandangnya akan hidup, tentang dunia yang begitu luas, dan juga tentang nyawa-nyawa yang terlihat lebih mirip sampah daripada barang berharga.
Malam itu, tidak ada yang memeluknya; tidak ada yang menyuruhnya untuk tidur lebih awal, tidak ada yang memberikannya sup hangat, tidak ada orang yang berkunjung. Memangnya orang mana yang cukup waras untuk melewati desa yang sudah hancur dan tinggal puing akibat penyerangan bandit gunung? Nyawa apa yang tersisa dari tembok-tembok yang hancur dan tiang-tiang runtuh? Tidak ada.
Yang ada hanya seorang bocah, duduk di balik bayangan salah satu puing yang dulunya adalah rumahnya, menengadahkan tangan seakan meminta sesuatu. Namun, jika orang spesial melihat tangan tersebut lebih baik, yang ada di sana mungkin tidak sekedar tangan yang meminta, namun juga cahaya kebiruan yang kasat mata bagi yang biasa. Cahaya tersebut terbang pelan, mengelilingi tangan si bocah… yang kini hidup dari mencuri dan merampok karavan dan kelompok yang melewati tempat tersebut.
Andaikan ayah dan ibunya masih ada, mungkin ia tidak akan mengubah namanya menjadi Manigoldo. Apa yang lebih jelek dari sebuah nama yang artinya ekuivalen dengan 'pembuat onar'?
*~9~*
Dan dengan nama itu jugalah, ia memperkenalkan dirinya pada orang yang hendak—ia pikir—akan membunuhnya di tempat. Namun tidak; orang yang ada dan membuatnya tidak bisa bergerak itu justru mengundangnya untuk pergi bersama, ke tempat di mana banyak orang berusaha untuk melindungi orang yang dicintai, juga untuk menegakkan keadilan di muka bumi.
Ketika apa yang ia bisa lihat di sekelilingnya hanyalah roh-roh orang mati yang tidak bisa pergi ke dunia bawah, ketika dunia di sekitarnya seakan hanya dipenuhi biru, ketika apa yang ia inginkan hanyalah bertahan sejauh apapun hingga Thanatos mengklaimnya, orang ini dengan mudah mengundangnya ke tempat itu.
Tentu saja, Manigoldo menolak.
Tapi kakinya tetap mengikuti sosok tersebut.
*~8-7~*
Tidak, bukannya dia in-denial. Hanya saja, orang-orang yang menganggap latihan di sini sebagai hal yang sulit membuatnya ingin mempermalukan orang tersebut di muka publik. Jika memang kesulitan menjadi seorang saint, mungkin mereka tidak lebih sama daripada nyawa-nyawa yang bergelimpangan di tangannya dulu, seakan menunggu waktu mereka untuk hilang dari dunia karena terlalu lama mengembara di dunia hidup—tanpa tubuh.
Dan itu yang ia lakukan di satu siang ini, sebenarnya; mempermalukan orang.
Gurunya—yang sekaligus Paus Sanctuary—jelas tidak senang dengan caranya 'berlatih', memutuskan untuk memanggilnya, menyatakan bahwa kelakuannya itu tidak bisa berlanjut begitu saja. Manigoldo tidak pernah menaruh perhatian, toh apa yang ia lakukan tidak pernah mencelakai siapapun; tidak ada yang pernah menatap Thanatos dan kroni-kroninya karena dirinya berlaku salah. Kelakuannya terus berjalan, sampai akhirnya ia dipanggil oleh gurunya sendiri, dalam sebuah latihan spesial.
Tentu saja Manigoldo menurut. Apapun untuk orang yang telah menyelamatkannya, selama itu tidak membatasi kebebasannya sendiri dalam bertingkah.
Masalahnya, ia tidak mengantisipasi gurunya melemparkan jiwanya sendiri langsung ke dunia kematian.
*~6-5-4~*
Tidak ada yang bisa dibanggakan dari kematian; itulah yang diajarkan gurunya kepadanya, dalam perjalanan pertamanya ke dunia bawah.
Di dalam dunia yang tidak mengenal sinar matahari, Manigoldo hanya menemukan sebuah penyiksaan. Orang-orang digiring ke lubang hitam di bawah, tidak ditakdirkan kembali untuk merasakan cinta dan damai—
—memangnya orang normal macam mana yang ingin melihat itu?
...
Ah, tapi semua orang yang bertemu dengannya—semua manusia yang sekiranya hidup di muka bumi ini—pasti akan mengalami hal yang sama. Jika demikian jadinya, apa tujuannya untuk hidup, sekarang? Toh, apapun yang ia lakukan, pasti akan berakhir dengan sebuah ketidakbaikan—sebuah penderitaan.
Mungkin orang yang dinyatakan dekat dengan dewa itu benar sejak awal.
Seakan membaca pikirannya, gurunya hanya berlutut di hadapan Manigoldo, tengah mengejar napasnya yang memburu. Dalam sebuah bisikan tegas dan penuh kearifan, layaknya guru pada murid, Cancer Sage hanya menyatakan sesuatu yang begitu polos dan sederhana:
"Meski nyawa kita semua dibatasi, itu bukanlah alasan untuk mundur dari dunia. Apalah arti nyawa ini jika kita tidak mencoba untuk terus bersinar, hingga titik darah penghabisan."
...
Ah, ya. Itu bukan alasan.
*~3-2~*
Sekarang, ia malah disuruh untuk menjaga seorang saint perunggu, yang entah bagaimana caranya bisa menjadi kunci kemenangan mereka dalam perang suci kali ini. Satu hal yang jelas, bocah ini benar-benar membuatnya ingin tertawa—sekaligus menjitaknya di kepala—karena perilakunya yang, entah bagaimana, membuatnya heran. Oh, dan heran di sini, maksudnya 'heran' mengapa ia tidak membunuh yang bersangkutan di tempat, terutama saat mereka sampai di kota yang menjadi daerah markas Hades saat ini.
Jelas karena suruhan langsung dari guru sendiri; suruhan yang krusial. Bagaimana bisa ia tidak menaatinya?
...
Yang artinya, ia tidak memperbolehkan apa yang tengah ia lindungi mati di tangan orang lain. Tapi apa pedulinya, memangnya? Ketika sosok berbau kematian—banci pula—di hadapannya ini terus memaksakan kehendaknya.
Daripada melindungi orang yang harus ia lindungi karena sebuah perintah, lebih baik ia menghapus keberadaan dari sosok tersebut; sosok yang mengaku bawahan dari sang kematian itu sendiri.
...
Oh, dan lihat bagaimana sosok yang begitu kerdil tersebut membawanya—langsung pada hadapan atasannya sendiri. Satu hal saja yang menjadi masalah: sosok yang ada di hadapannya itu dengan mudah menahan serangannya sendiri, sembari menyengir kalem.
Seakan bertatapan dengan kematian itu sendiri.
*~1~*
Dia bodoh; tentu saja yang ada di hadapannya itu adalah kematian!
Thanatos, layaknya dewa, hanya memandangnya sebelah mata. Bahkan hanya dengan kekuatannya yang mungkin tidak sampai sepersepuluh, dirinya dibuat terjungkal, kehilangan napas, dan selalu ditekan sampai nyaris mati. Dan di setiap situasi yang mengerikan dan nyaris mencabut nyawanya itu, sosok yang menjadi gurunya selalu muncul, terus mendorongnya agar ia tetap hidup dan bertarung, setidaknya hingga objektif mereka tumbang.
Jujur saja, jika bukan karena teriakan dan tekad gurunya, ia tidak akan melakukan gerakan nekat seperti melompat ke arah si dewa kematian, mendorong tubuhnya ke robekan antar-dimensi.
Jika tindakan itu disebut heroik, Manigoldo menyebut tindakan itu sebagai tindakan bodoh. Tapi hei, jika ini adalah salah satu cara agar membuat nyawanya makin bersinar sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam dunia penuh rasa sakit itu, ia kira ini sepadan.
*~0~*
Dan demi Athena, meski ia harus merasakan setiap sel-nya ditarik secara bersamaan dari tubuhnya, ia harus mengatakan, sekali lagi, bahwa semua rasa sakit tersebut sepadan dengan hasilnya. Yang tersisa... tinggal meneruskan apa yang sudah dimulai oleh gurunya; mengoper baton pada mereka yang memang sudah seharusnya melanjutkan 'lomba besar' ini.
Kebetulan saja Aries Shion melewati kuilnya. Kebetulan saja helm paus—helm gurunya yang mungkin sudah masuk ke dunia sana, sementara dirinya masih sempat bermain-main di dunia nyata dengan bantuan zirah emas cancer—itu diserahkan kepadanya. Kebetulan saja dia masih bisa tersenyum dengan santai di hadapan orang itu, padahal ia tahu bahwa yang menunggunya nanti hanyalah siksaan.
Kereta perang memang tidak akan selalu bergerak. Bagi Manigoldo, kereta perangnya sudah berhenti di akhir perjalanan. Meski kereta perangnya tidak membawakan mereka pada jalan kemenangan, setidaknya ia memberikan sebuah jalan; membuka peluang, memperbesar kemungkinan, dan—
"Selanjutnya, kuserahkan pada kalian."
—kereta perang itu berhenti, menunggu waktunya untuk berjalan lagi, mungkin di lain hari. Sampai hari itu kembali, sinar dari nyawanya akan mati, namun momen bersinarnya akan terus ada, tercatat dalam sejarah.
*~[Selanjutnya: Sang Setan]~*
