Chapter 4
Hello readers tercinta~
maaf ya update nya agak lama karna kemaren otak sempet buntu wkwk
Semoga kalian makin suka ya sama ceritanya, hihi. Makasih banget sama yg udah mau capek capek review. Saranghae3
Yuk cus baca ajaaa…..
….
Kai hanya terdiam menatap ke luar jendela, melihat lalu lalang dan kebisingan jalan dari apartment Baekhyun. Baekhyun tau jika namja itu saat ini benar-benar sedang 'tidak sehat'. Jadi, ia dengan senang hati izin libur kuliah untuk menemani Kai. Kau tau kan? Dalam keadaan seperti ini Kai bisa saja sewaktu-waktu berbuat nekat atau ceroboh. Seperti tadi, ia hampir saja memotong jari nya sendiri saat membantu Baekhyun mengupas apel. Dan sekarang, ia hanya melamun menatap jendela.
"Kai, apa kau tau? Tadi malam aku dan Chanyeol bertengkar lagi. Kau tau, ia sangat ceroboh. Bagaimana bisa ia membuatkan teh untuk umma ku tapi malah memasukkan garam, bukan gula." Baekhyun terkekeh geli mengingat kecerobohan Chanyeol tadi malam. Biasanya, jika Kai tau mereka bertengkar maka Kai akan mengejek mereka pasangan Tom & Jerry seharian. Tapi, sekarang sepertinya cerita Baekhyun tidak mempan.
"Kai? Apa kau mendengarku? Yak, Kai! Oh Jongin!" Baekhyun melemparkan bantal nya pada Kai.
"Yak hyung! Apa-apaan kau ini?" Kai merengut kesal dan balas melempar Baekhyun.
"Kau ini, apa kau mendengarkan cerita ku?" Baekhyun bertolak pinggang di depan Kai.
"Mmm, itu…"
"Kai, ku mohon. Jangan seperti ini. Lihat lah dirimu, kau menyedihkan. Wajah mu pucat, lihat lah badan mu. Kau kurus sekali." memang saat ini keadaan Kai sangat memprihatinkan. Bahkan, jejak air mata tadi malam masih tercetak jelas di pipi nya. Dengan wajah pucat dan tubuhnya yang semakin hari semakin kurus membuatnya terlihat bukan seperti Kai yang biasanya.
"Aku kehilangan orang tua ku, tidak punya teman dan sekarang aku kehilangan satu-satunya alasan ku tetap hidup hyung." Kai menyandarkan kepala nya di meja makan milik Baekhyun.
Baekhyun menatap Kai sendu. "Aku disini bodoh. Kau punya aku. Bahkan jika kau meminta ku untuk membagi Chanyeol dengan mu itu sungguh tak apa daripada aku harus melihat mu begini." Kai terkejut mendengar perkataan Baekhyun. Ia segera memeluk Baekhyun. Keduanya menangis. Menumpahkan segala emosi di dalam pelukan masing-masing. Kai merasa makin bodoh sekarang. Tentu saja perkataan nya tadi menyinggung perasaan Baekhyun. Ia masih memiliki Baekhyun dan Chanyeol. Keduanya menyayangi Kai. Ia harusnya bersyukur masih memiliki mereka selain Sehun.
"Maafkan aku hyung." Kai berusaha bicara di sela-sela isakan nya. Baekhyun masih terus menangis. Ia sedih melihat orang yang ia sayangi sedih seperti ini. Baekhyun bersumpah kalau ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Kai. Dan jika Oh Sehun bodoh itu masih saja menyakiti perasaan Kai seperti ini, ia akan membawa Kai pergi dari apartment nya. Baekhyun bersumpah.
Chanyeol baru saja pulang bekerja dan mendapati adegan dramatis yang tersuguh didepan nya saat ini. Ia berusaha menahan tawa nya ketika melihat wajah Baekhyun dan Kai memerah karena dipenuhi air mata. Chanyeol tau ini bukan saat yang tepat sebenarnya untuk tapi oh Tuhan lihatlah mereka lucu sekali. Saling berpelukan dengan wajah dan hidung yang memerah.
"Yak, Chanyeol hyung! Kenapa kau tertawa?" Kai yang baru saja menyadari keberadaan Chanyeol disana mendelik marah pada kekasih Baekhyun itu.
Baekhyun yang ikut menyadari bahwa Chanyeol menahan tawa nya itu segera melempar bantal ke arah Chanyeol. Dan serangan yang tiba-tiba itu membuat Chanyeol tak dapat menghindari lemparan Baekhyun. Rasanya ingin sekali ia membalas kekasih nya itu, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Ia mendekati Kai dan Baekhyun lalu memeluk keduanya. Kai yang berada di tengah-tengah pelukan hyung-hyung nya itu mengulas senyum tipis, merasakan kehangatan yang tidak Sehun berikan beberapa hari ini.
….
Kai duduk terdiam di kamarnya. Tangan nya sedari tadi terus mengelus bulu halus milih Kaihun. Anjing itu seperti mengerti bahwa pemiliknya sedang bersedih. Ia terus duduk tenang di pangkuan Kai, padahal biasanya anjing itu tidak bisa diam dan selalu mengajak Kai bermain. Pagi ini, Sehun tidak ada jadwal kuliah. Jadi, Kai bermaksud mengajak hyung nya jalan-jalan sepulang Sehun mengantar koran pagi. Namun, ini sudah jam 11 siang dan Sehun belum kembali.
"Kai, hyung pulang." tak lama terdengar suara Sehun. Kai beranjak dari tempat tidur dan menghampiri hyung nya.
Kai melihat hyung nya membawa sebuah bungkusan. "Apa itu hyung?" tanya Kai. "Oh, Luhan membuatkan ku kue lagi. Kau mau?" tawar Sehun sambil menyodorkan bungkusan itu pada Sehun. Luhan? Jadi aku sedari tadi menunggu mu dengan Luhan? Kai tersenyum miris dalam diam nya. "Tidak usah terima kasih. Itu kue untuk mu, aku bisa membuat nya sendiri."
"Kai? Kau kenapa?" Sehun mengerutkan dahi nya bingung. Perkataan Kai tadi terkesan sedikit… kasar?
"Aku? Baik-baik saja. Bisakah hyung temani aku makan es krim? Sekalian berbelanja kebutuhan kita, aku belum sempat membelinya. Aku akan menunggu hyung sore nanti, lalu kita akan belanja bersama. " Kai meraih lengan hyung nya yang sedang duduk dan menyamankan posisi nya disamping Sehun.
"Maaf Kai, aku ada jadwal kuliah malam hari ini. Bisakah kau pergi dengan Baekhyun saja?" Sehun menjawab permintaan Kai dengan sedikit ragu. Entah mengapa sekarang ia menjadi sering sekali berbohong pada adiknya. Sebenarnya, ia ada janji makan malam dengan Luhan hari ini.
"Tapi bukankah harusnya hyung libur?" Kai menatap Sehun bingung.
"Itu… tiba-tiba ada tugas yang aku selesaikan Kai. Kau pergi dengan Baekhyun saja ya."
Kai merengut sebal. Akhir-akhir ini ia jadi jarang sekali menghabiskan waktu dengan Sehun. Sehun sangat sibuk. Mungkin sibuk dengan Luhan, pikir Kai. "Baiklah, aku akan pergi dengan Baekhyun hyung saja."
Sehun mengacak surai adiknya. Ia tau jika Kai pengertian. Tapi, Sehun menyesal harus membohongi Kai lagi. Tapi, jika ia jujur pasti Kai akan marah dan ngambek bicara padanya atau mungkin yang lebih parah Kai akan ngambek makan dan tak mau meminum obatnya. Maafkan hyung, Kai.
…
"Telur, detergent, sabun mandi…" Kai terus mengecek belanjaan nya. Ia tak mau ada yang terlewat dalam kantung belanjaan nya. Baekhyun yang juga mendorong troli yang sama besarnya dengan milik Kai memandang Kai malas.
"Kai, ayolah. Kenapa lama sekali? Kau sudah mengecek belanjaan mu sebanyak 10 kali." Baekhyun memutar bola matanya malas. Mereka berdua sudah selesai belanja sedari tadi, namun Kai terus bolak-balik mengecek belanjaan nya.
"Sebentar hyung. Oh astaga, aku lupa beli oregano." Kai melenggang pergi meninggalkan Baekhyun di belakang nya. Mencari tempat dimana oregano diletakkan. Langkahnya terhenti dan memilih merk oregano yang biasa ia pakai untuk memasak. Ia berniat memasakkan hyung nya spaghetti mala mini. Sudah lama, ia tak memasak makanan favorit hyung nya itu. Makanya, ia berniat memasak spaghetti special malam ini untuk hyung nya.
"Kai?" Kai menoleh ketika nama nya dipanggil. Luhan tersenyum memandang calon adik iparnya itu. Ia tak menyangka bisa bertemu Kai di supermarket.
"Luhan hyung?" Kai menatap kaget Luhan. Namja manis didepannya terlihat menenteng keranjang belanjaan di tangannya. Ia belanja banyak bahan makanan.
"Kau juga sedang belanja?" tanya Luhan. Tangannya mengambil oregano di rak makanan. Sepertinya ia juga ingin membuat spaghetti. "Apa merk yang ini enak?" tanya nya pada Kai.
"Itu yang biasa aku gunakan." Kai berusaha ramah pada Luhan. Walaupun sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan Luhan. Ini benar-benar seperti merusak mood nya yang sudah down karna Sehun tak bisa menemani nya belanja. Ia melirik ke arah keranjang Luhan, ia ingin bertanya apa Luhan juga mau memasak spaghetti. "Apa hyung juga ingin memasak spaghetti?"
"Ah, iya. Sore ini aku dan Sehun ada janji dan aku ingin memasakkan spaghetti untuk makan malam kami."
BRAK. Kai menjatuhkan botol oregano dari tangan nya. "Ada apa Kai? Kenapa kau terlihat terkejut?" Luhan memungut botol oregano yang Kai jatuhkan. Ia memandang Kai yang terlihat sangat terkejut. "Ah, tidak hyung. Tangan ku licin." Kai membantu Luhan memungut botol yang ia jatuhkan. Dada nya terasa sesak sekali. Bukan, bukan karna penyakit jantung nya. Ia lelah, lelah sekali harus Sehun bohongi.
"Aku duluan hyung." Kai pamit seraya membungkuk sopan lalu berlari meninggalkan Luhan yang menatap bingung punggung Kai.
"Kai? Kau kemana saja sih? Aku daritadi bingung mencari mu bodoh." Baekhyun yang melihat Kai berlari menuju kasir segera menghampiri nya. Kening nya mengkerut bingung. Wajah Kai memerah padam, ia terlihat sedang mati-matian menahan emosi nya.
Kai menggeret tangan Baekhyun setelah ia membayar semua belanjaan nya. Baekhyun pun hanya terdiam melihat Kai seperti itu. Ia menurut saja saat Kai mengajaknya cepat-cepat pulang, melupakan janji makan es krim sore itu.
"Kai? Kau kenapa sih?" tanya Baekhyun saat keduanya sudah sampai di apartment Baekhyun.
"Aku lelah hyung. Aku lelah dibohongi." Kai meraba pelan dada nya, menekan nya, mencoba meredam rasa sakit yang teramat dalam di dada nya. "Sehun membohongi mu lagi?" tanya Baekhyun cemas.
Kai tidak menangis. Ia bahkan tersenyum saat mengatakan ia lelah dibohongi. Tapi, senyum itu bukan senyum yang biasanya Kai perlihatkan. Senyum itu seperti menyimpa berjuta rasa perih dan kecewa di dalamnya. Wajah Kai yang memerah padam terlihat menyimpan sejuta emosi yang bisa ia keluarkan kapan saja. Baekhyun memandang ngeri wajah dan tatapan Kai yang kosong.
"Aku pulang dulu hyung." Kai membawa kantung belanjaan nya dan meninggalkan apartment Baekhyun. Baekhyun masih bingung terdiam di tempatnya. Ia tidak tau apa yang membuat otak Kai salah hingga ia bersikap aneh seperti itu.
Kai merebahkan tubuhnya di sofa. Senyuman itu tak juga luntur dari wajah manis nya. Langit semakin gelap diluar dan Sehun sudah pergi dari 1 jam yang lalu. Kai memejamkan matanya. Mencoba meredam rasa sakit yang terlampau amat sangat dihatinya. Ia terluka lebih dalam lagi kali ini. Tangannya meraih kantung belanjaan yang ia beli. Mengeluarkan satu-persatu bahan-bahan spaghetti. Ia beranjak menuju dapur. Terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil panci dan mengisinya dengan air. Ya, ia berniat memasak spaghetti. Entah kenapa. Kai tetap ingin memasak untuk Sehun. Walaupun ia sendiri tau bahwa Sehun tak akan pulang untuk makan malam, walaupun ia tau Sehun pasti akan lebih menyukai spaghetti buatan Luhan, walaupun ia tau bahwa mungkin Sehun tak akan pernah lagi memakan masakan nya.
…
Kai melirik jam dinding di ruang makan. Sudah jam setengah 8 dan Sehun belum juga pulang. Tepat seperti dugaan nya. Kai terduduk di kursi meja makan, menatap spaghetti buatannya yang mulai dingin. Ia memasak cukup banyak, entahlah ia hanya ingin. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Air mata itu lolos lagi. Setelah ia berhasil tak menangis, sekarang ia menangis lagi. Menyedihkan sekali.
Tiba-tiba ia ingat Kris. Namja itu. Namja yang beberapa hari lalu ia temui dan menjadi sandaran tentang cerita menyedihkan nya bersama Sehun. Ia meraih ponsel nya di nakas dan memencet nomor telfon Kris. Untungnya, walaupun kemarin ia hanya bertemu sebentar dengan Kris ia sempat meminta nomor telfon namja kelewat tinggi itu.
"Yoboseyo, Kris? Bisakah kau datang ke apartment ku? Aku memasak spaghetti. Akan ku kirim alamat nya lewat sms." Kai bicara cepat, seperti tanpa ada jeda di kalimatnya. Ia hanya mendengar suara Kris yang memanggil nama nya sebelum ia menutup telefon nya. Yah, tanpa menunggu persetujuan dari Kris.
Ia hanya butuh teman. Dan sepertinya Kris cocok menjadi teman nya saat ini. Ia tak peduli jika namja itu sedang sibuk atau apalah. Yang penting, ia hanya butuh teman sekarang.
Tak lama, Kris datang. Namja itu mengetuk pintu apartment Kai cukup keras. Kai memutar bola matanya malas sebelum ia membukakan pintu untuk Kris. "Bisakah kau lebih sopan?" Kai berkacak pinggang di depan Kris. Kris hanya terkekeh sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal. "Maaf."
Kris memasuki apartment milik Kai dan mulutnya terus berdecak kagum. Jujur saja, Kris memiliki apartment yang berkali-kali lipat lebih luas dari milik Kai. Dan tentu saja apartment nya terbilang sangat mewah, tapi ia bukan orang yang rapi. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali merapikan apartment nya. Sepertinya, setelah ini ia harus menyewa maid untuk membersihkan apartment nya.
"Aku memasak spaghetti. Makan lah." Kai menghentikan decakan kagum yang keluar dari mulut Kris.
"Ah, gomawo." Kris mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Kai.
"Mungkin agak sedikit dingin, tapi semoga kau menyukai nya." Kai menuangkan spaghetti di piring milik Kris. Dan Kris terlihat sangat senang dan segera melahap spaghetti buatan Kai.
"Ini..enak sekali." Kris tak henti-hentinya mengunyah spaghetti di mulutnya. Ia terus memuji masakan Kai dengan mulutnya yang penuh dengan spaghetti. Kai terkikik geli melihatnya. Kesan cool dan dingin dari wajah milik Kris terlihat sangat berubah sekarang.
"Makan lah dulu, kau bisa tersedak jika bicara terus." Kai menghentikan ocehan Kris ketika lelaki itu terus bicara. Bahkan sekarang Kris telah menghabiskan piring ketiga nya.
Kris memang sudah kenyang, tapi ia tak bisa melewatkan rasa lezat dari spaghetti buatan Kai. Walaupun spaghetti itu sudah dingin tetap saja terasa lezat dan pas di lidah Kris. Terlebih lagi, wajah Kai yang murung saat ia baru datang tadi berangsur-angsur mulai ceria. Persis seperti Kai yang ia kenal dulu.
"Kau dulu menyebalkan hyung, sekarang tidak terlalu." Kai berusaha menggoda Kris yang baru saja selesai dengan piring keempat nya.
"Aku tidak menyebalkan eoh, kau saja yang menganggap ku begitu." Kris meneguk segelas air di tangannya. Kai mempoutkan bibirnya lucu. Kris terkekeh melihatnya. Aigoo, kenapa Kai begitu menggemaskan di saat seperti ini.
Sehun baru saja pulang. Ia menghentikan langkahnya didepan pintu ketika mendengar suara asing di dalam. Ia membuka pintu apartment yang ternyata tidak dikunci. Aih, Kai kau ceroboh sekali. Sehun mengerutkan dahi nya bingung, memandang adiknya dengan namja asing dihadapan Kai.
"Kai?" Sehun memanggil adiknya.
"Oh? Hyung? Kau sudah pulang?" Kai menoleh kaget ketika suara hyung nya memanggilnya.
"Siapa dia?" Sehun memandang tak suka pada Kris. Kris yang dipandang begitu pun segera berdiri dari duduknya. Entah kenapa, Sehun merasa tak suka mendapati adiknya sedang berduaan dengan namja lain.
"Aku Kris. Maaf sudah datang tanpa ijin mu. Kai, aku pamit dulu ne, ini sudah malam. Terima kasih atas makan malam nya." ucap Kris sopan seraya berlalu meninggalkan dua namja disana.
"Terima kasih sudah datang." untung nya Kai masih sempat mengucapkan rasa terima kasih nya pada Kris sebelum namja itu benar-benar berlalu dari pintu apartment nya.
Sehun memandang tajam mata adiknya. Namun, Kai seperti tak memiliki rasa bersalah di wajah nya. Ia hanya membalas menatap Sehun dengan ekspresi datar. "Kai, bukankah aku sudah bilang untuk tidak menerima orang asing masuk ke apartment kita? Ini sudah jam 10 malam dan kau membiarkan nya berada disini." Sehun mulai membuka mulutnya dengan tatapan tajam nya.
"Hm, maaf aku lupa." Kai menjawab enteng.
"Kau kenapa sih? Kenapa jadi begini? Kau aneh akhir-akhir ini Kai, kau berubah." Sehun mulai emosi.
Berubah? Siapa sebenarnya berubah disini hyung? Kau atau aku? Kai terdiam sesaat sebelum wajahnya menatap dalam mata Sehun dengan tatapan datarnya. "Bagaimana hyung?"
Sehun mengerutkan dahi nya bingung. "Bagaimana apanya?"
"Spaghetti nya."
"Bagaimana rasa spaghetti buatan Luhan hyung? Enak tidak?" Kai tersenyum. Namun, matanya terus memojokkan Sehun.
"A..apa maksud mu Kai? Aku tidak mengerti." Sehun masih berusaha berkilah. Ia dapat melihat jelas tatapan kecewa di mata Kai.
"Aku juga membuatkan spaghetti untuk mu hyung. Walaupun aku tau, kau akan lebih memilih memakan buatan nya."
"Kai, aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan." Sehun menelan ludah nya dengan susah payah.
"Mungkin aku memang bodoh hyung. Tapi, aku tidak buta. Aku tidak tuli. Kau mungkin tau nya aku bodoh, ya aku memang bodoh. Tapi aku melihat semuanya." Kai tak pernah melepas senyum di wajah nya, ia terus menatap hyung nya yang saat ini tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku melihat mu di kedai es krim dengan nya. Aku melihat mu menyatakan cinta untuknya. Oh, jangan lupakan tadi siang. Aku bertemu dengan nya di supermarket, ia bilang kalian ada janji makan malam. Tapi… tunggu, bukannya kau bilang kau ada jadwal kuliah hyung?" Kai menatap Sehun intens. Sehun runtuh dengan pertahanan nya. Kakinya terkulai lemas di lantai.
"Jadi, siapa sebenarnya yang berubah?" semua perkataan Kai begitu menyayat hati Sehun. Semua ucapan yang keluar dari mulut adiknya benar-benar terasa menusuk hati.
"Maafkan aku." Sehun berucap lirih sambil menatap mata adiknya. Ia bisa melihat dengan jelas semburat kekecewaan dan emosi disana. Kai beranjak dari duduknya, meraih botol dengan butiran obat di dalam nya. Kai melempar nya ke tempat sampah, seakan-akan ia tak akan membutuhkan obat itu lagi. Sehun membulatkan matanya, ia beranjak mengambil botol obat yang Kai buang barusan.
"Kai? Apa maksud mu membuang obat ini?"
Kai menghentikan langkah nya. " Untuk apa aku bertahan hidup, jika satu-satunya keluarga yang aku punya perlahan meninggalkan ku?"
"Kai, demi Tuhan aku tak bermaksud meninggalkan mu. Aku minta maaf, sungguh. Maafkan aku." Sehun menjambak rambutnya frustasi.
"Memang nya apa peduli mu?" Kai berjalan mendekat ke arah Sehun. Matanya yang mulai memerah karna menahan tangis menatap tajam mata Sehun.
"Tentu saja aku peduli pada mu Kai. Kau adik ku, satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini!" Sehun berusaha menahan emosi nya walaupun sedikit bentakan lolos dari mulutnya.
"Benarkah? Apa peduli mu jika aku mati? Apa peduli mu jika aku sedih? Apa peduli mu jika aku mencintai mu hyung?!" Kai tak tahan lagi. Ia sengaja menekankan kata 'mencintai mu' dalam kalimat nya. Segala emosi yang selama ini ia tahan ia tumpahkan begitu saja.
Sehun terperanjat. Telinga dan otak nya berusaha mencerna apa yang baru saja adiknya katakana. "A..apa maksud mu Kai?"
"Aku mencintai mu Oh Sehun! Aku mencintai mu. Lebih dari perasaan adik pada kakak nya, aku menginginkan mu! Aku tak mau kau bersama Luhan!" Kai terus berteriak. Ia tak peduli jika tetangga-tetangga nya mendengar teriakan nya. Air mata telah jatuh menetes dari manik hitam nya.
Sehun terdiam. Tidak bisa! Tidak! Ini gila! Pikir Sehun. Perkataan Kai barusan benar-benar menusuk. Seperti ribuan pedang menusuk jantung nya. Ia memandang Kai. Namja manis itu menangis dengan nafas yang terengah-engah. Sementara Sehun hanya bisa menjambak kasar rambutnya sendiri. Ini gila! Ia menyayangi Kai. Ia tak mungkin sanggup melihat adiknya sedih. Tapi, mereka berdua kakak adik. Cinta ini tidak mungkin ada. Tidak mungkin.
…
Yuhuuu~ Akhirnya chapt 4 selesai juga, maaf ya kalo agak lama. Tapi, ini ceritanya panjang kok.
Pokoknya makasih banget sama yg udah mau review, pokoknya makin banyakin review ya. Plis banget jangan jd silent readers T.T
Oh iya, karna bentar lagi udah lebaran wolfy mau minta maaf lahir batin nih ama readers semua kalo wolfy punya salah. Maaf banget kalo ceritanya kurang bagus dan kurang memuaskan. Tapi, bakal diusahain buat kalian suka ama ceritanya. Maaf juga kalo update nya kadang kelamaan. Hihi.
Annyeong~
BIG THANKS TO:
sayakanoicinoe, novisaputri09, Thiiya, rahmahalrianti, oracle88,
chotaein816, Kamong Jjong, Ren Choi, .7, Jongin48,
Oh SeHan, Kkeynonymous, mole13, putrifibrianti96, urikaihun,
Hunnieakai, , Guest, jonginisa, Guest, Guest,
Mizukami-Sakura-chan, nadiaa, snnxxz, Oh Se Han, Kaikai, safira
