Perpustakaan sekolah masih terlihat kosong, hanya ada penjaga perpus. Lelaki manis itu melangkah masuk kedalam perpus yang sepi dan dingin.
"Selamat pagi Kim Ssaem" sapanya dengan ramah pada penjaga perpus yang tengah merapihkan berkas-berkas di mejanya.
Guru Kim—penjaga perpus mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya. "Oh, selamat pagi Minhyun" balasnya dengan senyuman. "Ingin membaca buku?" tanyanya seperti sudah hafal dengan kebiasaan Minhyun.
Minhyun tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya. "Eung! Kalau begitu aku permisi Ssaem" pamitnya dengan sopan sambil membungkukkan sedikit badannya ke arah Guru Kim.
Guru Kim menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Minhyun pergi untuk mencari buku yang ingin ia baca.
Minhyun berjalan menuju ke rak paling ujung, tempat berkumpulnya novel-novel terjemahan klasik yang tebalnya lebih dari tiga ratus halaman serta buku-buku ensiklopedia berbahasa inggris yang sama tebalnya dengan novel terjemahan klasik itu.
Spot itu jarang dikunjungi, karena memang jarang yang menyukai novel terjemahan klasik yang bahkan hanya melihat tebalnya saja pun sudah membuat murid-murid sekolahan malas membacanya—karena mereka lebih suka novel picisan dengan tebal kurang dari seratus duapuluh lima halaman dengan cerita ringan.
Apalagi buku ensiklopedia berbahasa inggris yang tebalnya pun bisa sampai lima ratus halaman, siapa juga yang mau membaca itu, bikin pusing saja—ini pemikiran murid-murid biasanya.
Dan Minhyun lah salah satu dari siswa yang masih tertarik dengan cerita-cerita klasik serta ensiklopedia tersebut. Tentu saja, dia siswa terpintar seangkatan, jadi wajar jika dia menyukai membaca buku-buku tersebut.
Alasan mengapa Minhyun menyukai buku-buku itu, pertama karena ia menyukai alurnya menarik, berbeda dan penuh teka teki, dan kedua karena buku-buku ensiklopedia itu lebih lengkap dari versi bahasanya sendiri.
Minhyun menaiki tangga khusus disana, lalu meraih salah satu buku novel klasik yang berada di rak atas. Tebal buku itu sekitar tiga sampai empat ratus halaman. Cukup berdebu, membuatnya ia terbatuk dan bersin saat debu-debut itu tidak sengaja memasuki rongga pernafasannya.
Setwlah mendapatkannya, ia turun dari tangga otu secara perlahan agar tidak terjatuh. Dan saat kakinya menapak di lantai tubuhnya tidak sengaja menubruk seseorang dibelakangnya.
Tidak sampai jatuh, hanya sedikit oleng dan tentu saja terkejut. "Oh, maaf! Maafkan aku! Aku tak sengaja!" Ujarnya dengan panik pada seseorang dibelakangnya.
Minhyun terpaku saat melihat sosok yang ia tubruk dengan tidak sengaja itu. "Oh, ah, aku tak apa" suara dingin sosok itu menyadarkan Minhyun dalam lamunannya.
"Eo? Ah! Sekali lagi maafkan aku" ujar Minhyun sambil membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
Sosok itu tersenyum kecil melihat tingkah Minhyun yang sedikit berlebihan. Permintaan maaf Minhyun hanya dibalas dehaman saja oleh sosok itu.
"Eum.. kalau begitu, aku permisi" ujar Minhyun bersiap untuk pergi dari hadapan sosok dingin itu.
Belum sampai langkah kedua, pergerakannya terhenti saat merasakan pergelangan tangannya di cekal, membuatnya kembali membalikkan badannya untuk menghadap sosok itu.
Minhyun menatapnya dengan tatapan bertanya. "Jonghyun. Kim Jonghyun." ujarnya dengan datar sambil melepaskan cekalannya, lalu mengulurkan tangannya.
"Eo?" Minhyun terdiam sebentar. "Ah, aku Minhyun. Hwang Minhyun" balasnya dengan senyum manisnya, tangannya meraih uluran tangan Jonghyun untuk berjabat tangan.
Untuk sesaat Jonghyun terpaku melihat senyuman semanis madu milik Minhyun. "Senang berkenalan denganmu" suara lembut Minhyun mengembalikan kesadarannya.
"Ah, ya, senang berkenalan dengamu juga Minhyun-ah" ujarnya dengan senyuman kecil. Kakinya maju satu langkah mendekat, membuat keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.
Jonghyun mendekatkan kepalanya, membuat wajah mereka berhadapan. Minhyun lagi-lagi dibuat terpaku oleh aksi Jonghyun yang tiba-tiba ini.
Jatungnya berdegup dengan irama yang tak menentu. Minhyun dapat melihat manik coklat milik Jonghyun menatapnya dalam. Membuatnya merasa terdominasi.
"Dan sepertinya, aku tertarik padamu, Minhyun-ah" Jonghyun berbisik seduktif di telinga Minhyun. Membuat darah Minhyun berdesir dan mengalir dengan cepat menuju kedua pipi chubby-nya.
Wajah Minhyun bersemu saat mendengar bisikan Jonghyun. Ia suka dengan rendah milik Jonghyun yang membuatnya terhipnotis. Namun hanya sesaat, karena ia merasakan jemari Jonghyun dengan kurang ajarnya meremas panggulnya.
Tangan Minhyun melayang di udara dan mendarat tepat di pipi sebelah kiri Jonghyun. Membuahkan suara yang cukup nyaring. Lalu ia mendorong tubuh Jonghyun yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
Mata cantik Minhyun menatap Jonghyun nyalang. Ia merasa dilecehkan diperlakukan seperti itu oleh sang pangeran es.
"Kurang ajar." desis Minhyun dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelahnya Minhyun pergi dari sana dengan langkah cepatnya. Meninggalkan Jonghyun yang tersenyum kecil memperhatikan Minhyun keluar dari perpustakaan dengan terburu-buru.
"Hwang Minhyun.. Nama yang cantik" gumamnya dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.
Ia mengusap bekas tamparan Minhyun, "Ssh~ tamparannya tidak main-main ternyata" ringisnya merasakan pedih saat tangannya meraba pipinya.
Minhyun berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Ia masuk dengan terburu-buru, lalu menumpukan kedua tangannya pada wastafel, terdiam sesaat untuk mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
Setelah nafasnya stabil, ia mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Menatap pantulan dirinya di cermin yang berada di hadapannya.
Ia dapat melihat matanya sudah siap meluncurkan anak sungai. Ia tak habis fikir, dalam tujuh belas—nyaris delapan belas tahun hidupnya, baru kali ini ia merasa dilecehkan.
Dan sialnya, ia dilecehkan oleh sosok yang justru membuatnya jatuh kedalam pesonya mematikannya.
Brengsek. Umpatnya dalam hati. Ia masih sedikit bersyukur kalau yang ia remas baru panggulnya, jika tadi ia sudah berani meremas, ah tidak, memegang bokongnya, sudah dipastikan bukan hanya tamparan yang ia dapat, melainkan tendangan di selangkangannya biar tau rasa.
Minhyun menghela nafas berat, menenangkan hatinya. Ia menyalakan keran, lalu mengambil air untuk membasuh wajahnya. Berharap dengan hal itu ia bisa melupakan hal tidak menyenangkan tadi.
Setelah dirasa cukup, ia mematikan keran, lalu kembali menegakkan tubuhnya yang tadi membungkuk sedikit. Tangannya menepuk-nepuk lembut kedua pipinya, kebiasaannya setelah membasuh muka.
Senyuman mengembang diwajahnya saat melihat pantulan dirinya yang terlihat jauh lebih baik dari yang tadi.
"Baiklah, lupakan hal tadi Minhyun-ah, mungkin Jonghyun tidak sadar melakukannya" ujarnya pada dirinya sendiri.
Ia menatap tangannya yang tadi menampar Jonghyun cukup keras. "Haaah... aku menamparnya terlalu kencang tadi" gumamnya sarat akan rasa bersalah.
"Aku akan meminta maaf nanti padanya, fighting Minhyun-ah!" serunya pada pantulannya di cermin. Membuatnya tersenyum manis.
Puas menenangkan dirinya, Minhyun melangkah keluar dari kamar mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi ia dapat melihat kalau koridor sudah mulai dipadati oleh siswa siswi lainnya. Menandakan bahwa semakin mendekati bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi.
Ia pun mengurungkan niatnya untuk langsung meminta maaf kapada Jonghyun, dan memilih untuk segera menuju kelasnya.
chapter 3 up!
dan maaf jika lebih pendek dari dua chapt sebelumnya, kantuk yg melanda ga bisa diajak kompromi :')
Aku harap kalian tidak kecewa dengan chapter ini, karena aku merasa chapter ini tidak sepenuhnya sesuai ekspetasiku huhuㅠㅠ
*) mohon maaf jika ada typo, aku sedang tidak melakukan proofread untuk saat ini hingga waktu yang takbisa dipastikan
p.s: tinggi jonghyun disini lebib tinggi sedikit dibanding minhyun ok?
jangan lupa tap ya! satu vote sama dengan satu support, thats mean kalian udah menghargai karyaku, meskipun aku sadar ceritaku tidak sebagus author lainnya yang lebih berpengalaman~ (i dont force u to comment tho, kalian ngevote doamg pun udah cukup bagiku, tapi jika kalian menambahkan komen maupun kritik, aku akan lebih senang lagi)
With love, caramelattea
