Anime Boy
Pair: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Romance/Friendships/Schoolife
YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC
DONT LIKE DONT READ
Chapter 4: Why are You Shaking My Heart?
.
.
Sebelumnya saya minta maaf bagi yang sudah nunggu-nunggu Minyoon atau Namjin moment. Saya tidak akan pakai dua pair itu banyak-banyak karena saya sudah memutuskan kalau saya hanya akan fokus pada main pair Vkook saja.
.
.
.
Jungkook kira hidup merantau di Seoul dan menolak tawaran tinggal bersama kerabatnya untuk hidup sendiri di apartemen bukan ide yang buruk. Namun jika kejadiannya akan begini setiap hari, Jungkook memutuskan menarik kembali kata-katanya.
"Jungkookie boleh aku pinjam buku catatan matematikamu?"
"Jungkookie gulaku habis, aku boleh minta ya?"
"Jungkookie ayo berangkat bersama!"
Sudah sepekan penuh Taehyung bolak balik mengetuk pintu kamar Jungkook sejak tahu bahwa mereka bertetangga dengan kamar saling bersebelahan. Dan itu berarti hampir dua puluh empat jam waktu Taehyung merecoki Jungkook, selain karena setiap hari keduanya bertemu di sekolah dan klub.
Ya Tuhan, cobaanmu terlalu berat. Jungkook senang sih, tapi malas juga jika setiap hari ia harus berhadapan dengan alien bersurai oranye itu. Apalagi Taehyung terus-terusan memaksa Jungkook memanggilnya senpai di depan banyak orang. Astaga jujur itu sangat memalukan.
"Kook.."
Jungkook menenggelamkan kepala di antara lipatan tangannya di meja. Tubuhnya lemas dan terlalu malas bergerak bahkan hanya untuk menegakkan tubuhnya pura-pura mendengarkan penjelasan membosankan Nam seongsaenim di depan kelas.
Taehyung tidak membiarkannya tidur semalaman dengan terus menggedor-gedor pintu kamarnya di tengah malam tanpa alasan yang jelas.
"Ouch!" Jungkook mengerang merasakan penghapus membentur punggungnya. Ia sedikit memutar tubuhnya ke belakang, tempat sahabat karibnya duduk sambil nyengir. "Apa bantet?" desisnya kesal sepelan mungkin agar gurunya tak menyadari percakapan mereka.
"Galak sekali, dasar. Taehyung sunbae menyuruhmu datang ke klub hari ini." Jimin mendekatkan bibirnya ke telinga Jungkook.
"Bilang padanya aku sibuk." Jungkook berkata segera. Akhir-akhir ini ia memang sering membolos klub untuk menghindari recokan Taehyung dan bersembunyi di perpustakaan.
"Hm, katanya kalau kau tidak mau aku disuruh menunjukan ini." Jimin nyengir dan mengangkat ponselnya sejajar wajah Jungkook. Jungkook langsung melotot.
Layar ponsel berwarna putih itu menampakkan caption "SENPAI MENUNGGUMU ^^" yang dilampiri foto selca dimana Taehyung tengah memeluk dirinya yang tertidur bersandar pada dada Taehyung. Dan lagi latar selimut merah itu.. tunggu dulu BUKANKAH INI KAMARNYA?!
"BAJINGAN ITU! KAPAN DIA MENGAMBILNYA?!" Jungkook menggeberak meja Jimin dan berdiri geram. Hening. Jungkook melihat Jimin menyimpan ponselnya sambil menahan tawa.
"Jeon Jungkook."
Oh iya Jungkook lupa dia sedang di kela..
"BERDIRI DI LUAR SAMPAI JAM ISTIRAHAT!"
Jungkook menyandarkan tubuhnya di depan pintu kelasnya dengan malas dan mengeluarkan ponsel yang sempat ia selundupkan sebelum keluar tadi. Sial, dia ingin menghubungi Jimin untuk menanyakan perihal foto brengseknya bersama Taehyung itu. Tapi Jungkook yakin Jimin sekarang pasti tengah mematikan ponselnya sambil tersenyum puas. Dasar mau saja diperalat Taehyung, Jungkook bersumpah akan membunuhnya begitu mereka bertemu lagi.
Juseyo dalkomhan geuman Ice Cream Cake
Teukbyeolhajin oneure oulineun maseuro
Kwitgaye mudeun Ice Cream Man
Ni gaseum dugeungeoryeo naega dagaogichyeo
Lelaki bergigi kelinci itu mengerutkan kening melihat panggilan tak dikenal masuk ke ponselnya, namun ia tetap mengangkatnya.
"Siapa?"
"Hahaha galak sekali santai sajalah kelinci manis~" Jungkook menaikkan alisnya. Suara yang familiar.
"Siapa kau?"
"Aku kekasihmu!"
WHAT THE..
"Jungkookie!" Tubuh Jungkook hampir terjembab ke depan ketika sepasang lengan kurus melingkari pinggangnya begitu mendadak. Dan ia melihat surai oranye berjatuhan di bahunya.
"KIM TAEHYUNG SIALAN SIAPA YANG KEKASIHMU BRENG.." Jungkook mengatupkan mulut begitu Taehyung mendekatkan wajahnya sambil memicingkan mata.
"Sen.."
"..PAI!" Jungkook memotong ucapan Taehyung sekuat tenaga dengan wajah merah padam dan membebaskan diri. Astaga rasanya dia ingin mati saja.
"Bagus." Taehyung tersenyum puas mengusak rambut donsaengnya. Dan Jungkook merasa ingin membantingnya sekarang.
"Kapan kau masuk ke kamarku?!" Jungkook mengekori Taehyung berjalan di koridor.
"Oh temanmu sudah menunjukkan ya." Taehyung nyengir. "Semalam pintu kamarmu tak terkunci dengan benar jadi aku masuk saja."
"Bajingan dasar brengsek. Itu bukan berarti kau bisa masuk seenaknya."
"Kebetulan aku dapat beberapa informasi dan foto bagus saat berkunjung."
"A..Apa? Jangan bilang kau juga dapat nomor kontakku dari semalam?" Jungkook mulai ngeri sendiri.
"Iya! Dan karena semalam kau tidur begitu cantik, aku mengambil foto ini." Taehyung menyodorkan ponselnya putih berwallpaperkan foto selca dengan adegan yang sedikit ambigu: Taehyung mengecup kepala Jungkook yang tertidur di pelukannya.
"KAU.."
"Sst, masih jam pelajaran. Kau mau dihukum lagi?" Taehyung meletakkan jari di depan bibirnya.
MEMANGNYA GARA-GARA SIAPA AKU DIHUKUM SIALAN Jungkook mengumpat keras dalam benaknya dengan wajah merah padam namun akhirnya dia diam saja dan memilih mengikuti langkah Taehyung karena merasa perkataan kakak kelasnya ada benarnya. Ia tidak mau dihukum lebih parah hanya karena berteriak-teriak di koridor. Oh, dan ingatkan juga agar Jungkook mengganti kata kunci sandi kamarnya sepulang sekolah nanti.
"Sst, berhenti!" Taehyung berhenti berjalan otomatis membuat hidung Jungkook bertubrukan dengan punggungnya. Lelaki bergigi kelinci itu hampir saja meledak lagi jika Taehyung tak membekap mulutnya.
"Apa?" Jungkook menukikkan alisnya.
Bukannya menjawab, Taehyung malah menyeringai kegirangan dan mengeluarkan handycam dari sakunya dan mengarahkan ke celah pintu terdekat. Lagi-lagi, ini seperti saat pertama kali Jungkook ke klub tapi pada kasus YoongiJimin.
Penasaran, Jungkook pun ikut mengintip celah pintu dari belakang bahu Taehyung. Walau tak bisa benar-benar melihat apa yang tengah terjadi, mereka bisa mendengar jelas suara sepasang lelaki yang kelihatannya tengah berdebat.
"..tapi Baek, dengar dulu ini tidak seperti yang kau kira!" Suara pertama, suara yang terdengar berat.
"Sudah cukup, aku menunggumu selama 4 jam dan ponselmu tak bisa dihubungi. Apa kau bersama perempuan lain?" Dan suara kedua yang lebih nyaring membalas. Tunggu, sepertinya ini familiar.
"Tidak, sudah kubilang kemarin aku mengerjakan tugas di kampus dan ketiduran!"
Pasangan gay rupanya. Hanya opera sabun mainstream murahan. Jungkook mendengus.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Oh wow, ini serius rupanya atau si pihak uke bersuara nyaring itu saja yang alay?
Jungkook mendecak melihat bagaimana Taehyung masih santai-santai merekam dengan handycam. Tapi matanya membelalak begitu menangkap adegan yang terekam di layar. Baekhyun, si guru konseling tengah berciuman dengan seorang lelaki jangkung yang ia kenal sebagai Park Chanyeol, mahasiswa yang magang menjadi guru bahasa Inggris tiap hari Selasa. Menyaksikan adegan yang cukup ambigu itu secara live membuat Jungkook memanas sendiri.
"Senpai idiot, menyingkir dari pintu!" Jungkook menarik kerah belakang kemeja Taehyung menjauh tepat ketika pintu kayu itu terbuka keras dengan Baekhyun yang menghambur keluar dengan mata sembab. Ia sempat memandang tajam Taehyung yang cengar-cengir namun akhirnya lewat begitu saja dan menghilang di tikungan koridor.
"Kalian sedang apa?" Suara berat Chanyeol yang tahu-tahu sudah berdiri pucat di depan pintu membuat keduanya tersentak.
"Ah, kami disuruh seongsaenim meminjam kamus di perpustakaan! He he. Iya kan Kook?" Taehyung berkata dengan senyuman buaya hingga Jungkook memutar mata malas dibuatnya namun ia buru-buru mengangguk cepat kala Taehyung menyikutnya keras.
"Ya sudah hati-hati, aku pergi dulu." Chanyeol melenggang lemas ke arah berlawanan. Serius, dia terlihat seperti mayat hidup.
"Bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu di sekolah. Lalu rekaman yang tadi untuk apa?" Jungkook beralih pada Taehyung.
"Hah? Tentu saja untuk koleksi tambahan." Taehyung menyeringai sadis saat ia memutar ulang hasil rekamannya.
Jungkook bergidik ngeri. Dia tidak tahu harus menyebut Taehyung apa sekarang. Sadis? Gila? Maniak? Ah, mungkin ketiganya.
"Kita sudah mengelayap hampir setengah jam. Kau mau kembali ke kelas atau ikut bersamaku ke lapangan basket?" Taehyung memasukkan kembali handycam ke sakunya.
"Kembali saja. Lagipula memangnya kau bisa main basket?" Jungkook menukikkan sebelah alisnya tidak percaya.
"Kalau main basket saja tidak bisa bagaimana aku bisa menjadi kekasihmu?" Taehyung mendekatkan wajahnya. Ia menyeringai puas melihat kelincinya merah padam lagi dan membeku.
"Minggir SENPAI." Jungkook menahan dada bidang Taehyung untuk tetap menjaga jarak. Dan yang barusan tadi apa katanya? MENJADI KEKASIH? MAKSUDNYA IA DAN TAEHYUNG..
"Baiklah sampai nanti kelinci tsundere."
Wajah Jungkook kembali terbakar merasakan kecupan singkat Taehyung di dahinya.
"SENPAI ORANGE BRENGSEK BAJINGAN ASDFGHJKL;JAJFAHJHDA!"
...
"Hey, Jim?" Jungkook memutar tubuh sedikit pada sohib yang duduk di belakangnya itu. Berawal dari rasa bosan menunggu bel pulang yang tak kunjung berbunyi. Untung saja seongsaenim sedang keluar.
"Hm?" Jimin yang sibuk dengan ponsel menjawab seadanya.
"Apa Kim-brengsek-Taehyung itu benar-benar bisa main basket?"
"Wow wow ada angin apa kau tiba-tiba dengan senpai pujaanmu?!" Jimin langsung heboh dan meletakkan ponselnya.
"Sial, jangan keras-keras! Tak ada apa-apa, tadi aku sempat bertemu dengannya di koridor dan dia membual bisa bermain basket—sudah kubilang TIDAK ADA APA-APA PARK BANTET JIMIN!" Jungkook setengah berteriak panik dengan wajah memanas ketika Jimin memandangnya aneh sambil cengar-cengir. Untung saja seongsaenim absen hari ini jadi dia tidak akan didepak keluar lagi.
"Kalau kau memang penasaran.." Jimin memajukan tubuhnya tersenyum simpul, membuat Jungkook menukikkan alis tajamnya.
"..bagaimana kalau pulang sekolah nanti datang ke lapangan basket?"
...
Jungkook tidak mengerti kenapa dia benar-benar menuruti perkataan Jimin. Saat ini, dia tengah mengendap-endap menuju lapangan basket di halaman sekolah. Uh ia jadi merasa seperti seorang stalker sekarang.
"Oper bolanya ke Kim Taehyung!"
Suara bola yang dipantulkan berkali-kali terdengar menggema di konblok rata lapangan, dan mata Jungkook melebar nyalang melihat sosok berambut oranye melesat cepat bak bayangan menghindari semua penjagaan pemain tim lainnya dan dengan mudah mencetak three point.
Wow, Taehyung tidak membual rupanya soal dia bisa bermain basket. Setiap gerakannya sempurna, caranya mengecoh lawan, lolos dari semua penjagaan pemain bertubuh besar, dan memasukkan bola yang berwarna mencolok seperti rambutnya itu dengan begitu mulus ke dalam ring. Belum lagi wajah animenya yang semakin tampak dari kejauhan, membuat Jungkook merasa ia tengah menonton anime hidup.
"Ehem-ehem, notice me senpai~"
Jungkook memutar bola matanya malas ketika lelaki pendek berambut merah berjalan mendekatinya sambil cengar-cengir gaje.
"Sudah kuduga kau akan datang!" Jimin merangkul bahu sahabat karibnya itu.
"Kau sendiri bagaimana? Jangan bolos latihan."
"Aku cadangan!" Jimin menekuk wajahnya dan kini gantian Jungkook yang ngakak. Sesuai dugaannya Jimin memang tidak bisa main basket tapi tetap nekat karena mau dekat-dekat Yoongi.
"Yoongi hyung dan Tae-hyung duo paling hebat di tim, aku bukan levelnya." Jungkook berhenti tertawa dan mengikuti arah pandang Jimin ke Yoongi dan Taehyung yang sedang ber-high five ria.
Terdengar suara peluit dibunyikan dan seorang yeoja berambut panjang magenta melangkah ke tengah lapangan.
"Semuanya, istirahat dulu! 15 menit lagi kita mulai." Yeoja itu berteriak dengan suaranya yang mencicit lucu seperti tikus.
Semua yang ada di lapangan bubar, dan Jungkook melihat yeoja itu menyerahkan handuk dan air minum pada Taehyung yang duduk di bawah ring. Mereka bercakap-cakap yang entah apa, tapi Jungkook bersumpah Taehyung terus-terusan nyengir idiot selama berbicara dengan yeoja itu dan entah kenapa ini membuat denyutan kesal lewat kedua alis tebal Jungkook yang menukik tak suka.
"Siapa perempuan itu?" Jungkook otomatis bertanya, keningnya ikut berkerut tanpa sadar.
"Hah? Oh itu. Dia manager tim basket, Minatozaki Sana siswi tingkat dua pertukaran pelajar dari Jepang. Yoongi hyung memberitahuku. Banyak anggota yang tertarik dengannya." Jimin manggut-manggut senang dan kerongkongan Jungkook terasa tercekat mendengar kalimat terakhir.
"Sudah dulu ya, Yoongi-hyung memanggilku!" Jimin menepuk bahu Jungkook dan ia pun berlari kecil ke lapangan meninggalkan Jungkook yang masih membeku di tempatnya berdiri.
...
Tik Tok Tik Tok
Suara detak jarum jam kecil diatas meja mendominasi heningnya ruangan minimalis itu, disertai bunyi pena menggurat di kertas dan suara kertas yang dirobek berkali-kali.
"AKU MENYERAH!" Jungkook melempar lembaran kertas yang bertumpuk di mejanya hingga berserakan di lantai.
Seongsaenim memberi tugas khusus untuknya terkait kejadian didepaknya dia dari kelas tadi pagi. Dan parahnya ini sudah hampir tengah malam tapi Jungkook bahkan belum berhasil menyelesaikan satu soal pun padahal batas waktunya besok siang.
Minatozaki Sana.
Adegan tadi siang di lapangan basket dimana Taehyung tertawa-tawa bersama perempuan itu tak bisa berhenti berputar di kepala Jungkook. Memangnya kenapa? Jungkook penasaran. Bukankah Taehyung itu gay? Lalu apa yang dilakukannya bersama Sana tadi? TUNGGU DULU MEMANGNYA KENAPA JUNGKOOK HARUS REPOT-REPOT MEMIKIRKAN MEREKA?! MEMANGNYA JUNGKOOK ADA PERASAAN PADA KI...ASDFGHJKLLAAHFJKGH
"KIM TAEHYUNG BRENGSEK!" Jungkook menjedotkan kepalanya yang mulai panas sendiri ke meja di hadapannya.
"Kau ini kerasukan atau apa?"
Eh?
"Uwaaah apa yang kau lakukan disini sialan?!" Jungkook berdiri dari kursi begitu merasakan surai tajam berwarna oranye menggores pipinya.
"Panggil aku senpai."Taehyung cemberut imut. Astagah kuki gakuat senpai. "Tadi aku mendengarmu berteriak, dan sepertinya kau lupa mengunci pintumu lagi."
"Lain kali ketuk pintu dulu, muncul mendadak begitu mau bikin jantungan?" Jungkook menghela nafas dan duduk lagi di kursinya.
"Eh, apa ini?" Taehyung mencondongkan tubuhnya ke meja dimana beberapa kertas masih berserakan, otomatis membuat wajahnya berada sejajar dengan Jungkook.
Astaga berada dalam jarak sedekat ini dengan Kim Taehyung, belum lagi rambut oranyenya yang setengah basah dan beraroma lemon menandakan ia baru saja selesai mandi membuat kepala Jungkook mendadak pusing dan wajahnya memanas.
"Tae, apakah kau ini gay?"
"Eh?"
Beberapa detik mereka berpandangan bodoh, dan semenit berikutnya Jungkook ingin headbang ke dinding terdekat. BODOH BODOH JEON JUNGKOOK SIALAN APA YANG KAU TANYAKAN BARUSAN?! Batin Jungkook menjerit nista sementara pipinya mulai menghangat.
"Bagaimana ya. Aku ini tidak bisa dibilang masih lurus.." Tak disangka Taehyung benar-benar menjawabnya. Jungkook menahan nafas. "..tapi sepertinya aku masih menyukai perempuan."
Dan kini Jungkook merasakan ia didepak turun ke bumi lagi setelah detik sebelumnya diangkat ke surga.
"Memangnya kenapa? Hei hei ada apa dengan wajahmu?" Taehyung menatap Jungkook dengan tampang bengong.
"Tidak ada apa-apa. Hush hush sana pergi!" Jungkook mendadak sengit, ia mendorong punggung Taehyung untuk membawanya keluar dari kamar.
"Yak, kau kenapa sih uke tsundere sialan?!" Taehyung yang tidak mau keluar mengumpat-umpat protes karena besarnya tenaga Jungkook hingga menyakiti punggungnya.
"Aku baik-baik saja senpai brengsek. Sudah, pergi sana." Jungkook mendorong Taehyung melewati ambang pintu kamarnya.
"Tapi aku mau tidur bersamamu!"
BLAM
Jungkook membanting pintu di wajah Taehyung. Setelah memastikan terkunci, ia menyandarkan tubuhnya di pintu dengan nafas terengah. Kedua pipinya sedikit merona mengingat kalimat terakhir Taehyung yang sedikit ambigu tadi, walaupun ia tahu maksud Taehyung pasti dalam artian sebenarnya bukan dalam artian *ehem* tanda petik. Kepolosanmu sudah hilang nak.
Namun entah bagaimana terjadi begitu saja, wajah Minatozaki Sana kembali mengambang di kepalanya bersamaan dengan kalimat yang Jimin ucapkan padanya tadi siang.
Banyak anggota yang tertarik dengannya.
TERKUTUKLAH KAU PARK BANTET JIMIN
Dan kali ini Jungkook benar-benar headbang ke dinding.
...
Rintikan air menetes deras di halaman sekolah Bighit High School. Kelam dan menyedihkan, persis dengan keadaan Jungkook yang kini hanya bisa berteduh di depan gedung sekolahnya dengan malas.
Ia sudah sangat lelah dan keburu ingin pulang untuk bergelung dalam selimut hangatnya, karena semalam ia begadang mengerjakan tugas dan melakukan proses finishingnya seharian di sekolah. Tapi buruknya, Jungkook tak melihat ramalan cuaca hari ini yang membuatnya lupa bahwa kemarin adalah hari berakhirnya musim panas. Dan yeah, otomatis tentu saja Jungkook tidak membawa payung. Duh, malang sekali nasibmu, nak.
"Nih."
Bak uluran dari surga, sebuah payung berwarna hitam disodorkan mendadak pada Jungkook. Ia mendongak. Kim Taehyung.
"Pulang sana, jangan ngambek terus." Taehyung nyengir bocah seperti biasanya.
"Itu payungmu. Kau pulang bagaimana?" Jungkook sedikit gugup, menghindari kontak mata dengan Taehyung. Seharian ini pula ia tidak bertemu Taehyung, karena sepanjang hari Jungkook mendekam di perpustakaan untuk membereskan tugasnya. Sementara Taehyung entah kemana.
"Bereslah, aku bisa bareng Yoongi atau Namjoon."
"Hm, ya sudah kupakai." Jungkook mengambil payung dari tangan Taehyung dan melebarkannya.
"Ck, stylemu sekali manis sedikit kenapa. Sudah ya aku kembali ke lapangan basket!" Taehyung berbalik siap kembali ke dalam gedung.
DEG
Alis Jungkook langsung menukik tajam.
Basket lagi. Pasti ia akan bertemu dengan Minatozaki Sana.
"E-Eh.. Senpai!" Jungkook setengah berteriak, entah mengapa ia merasa ingin menahan keberadaan kakak kelasnya itu bersamanya sebentar lagi.
"Apa?" Taehyung memutar tubuhnya lagi dan berjalan mendekati Jungkook, membuat lelaki bersurai hitam itu memutar pandangannya dengan bingung dan salah tingkah.
Namun entah apa yang tengah merasuki jiwa polos nan tsunderenya, dengan gerak cepat Jungkook menarik dasi Taehyung hingga mengeleminasi jarak di antara mereka dan menempelkan bibir mungilnya begitu kilat dan lembut di pipi sehalus kulit bayi milik senpainya.
Pandangan Taehyung terlihat kosong dan wajah animenya dirambati rona tipis kemerahan ketika lelaki yang lebih muda menjauhkan tubuhnya, dengan keadaan yang tak lebih baik darinya merah padam sampai ke telinga.
"Te..Terimakasih banyak, senpai!" Jungkook membungkuk dalam dan berlari kecil di bawah lindungan payung hitam Taehyung sebelum wajahnya matang. Tanpa menyadari Taehyung tengah mengulas senyum kecil di bibir tipisnya.
...
"Aku pasti sudah gila tadi! Astaga, jangan-jangan aku memang gila?" Jungkook tak hentinya bergumam demikian sejak perjalanan pulangnya tadi hingga ia tiba di apartemennya.
Payung hitam Taehyung yang telah basah kuyub ia lipat dan letakkan di dekat jendela agar kering. Setelah melepas sepatunya dan meletakkan ranselnya di sofa terdekat, lelaki itu melepas blazer dan dasinya. Semua pakaiannya tak basah setitikpun berkat payung Taehyung.
Ia berjalan santai ke kamarnya dan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya sambil menatap keluar jendela. Kilat menyambar-nyambar dan hujan memburamkan semua objek yang ada di luar sana saking derasnya. Atau bertambah deras dibandingkan sebelumnya, mungkin?
GLAAAAAR
Petir menyambar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di kamar Jungkook.
"Ma..Mati lampu? Yang benar saja.." Gerakan tangan Jungkook terhenti dan kakinya mendadak gemetar. Pandangannya gelap gulita, tak ada cahaya setitikpun dan ia benar-benar tak bisa melihat apa-apa bahkan setelah ia menyingkap korden jendelanya. Mati lampu seluruh kota rupanya.
Dengan tubuh gemetar, Jungkook meraba-raba dalam kegelapan. Dan ia menemukan ponselnya di atas ranjang. Ia naik ke atas ranjang dan menyalakan ponselnya. Cahaya redup menyinari tepat ke wajahnya yang terlihat panik dan ketakutan.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya yang hanya terlapisi kemeja tipis tak terkancing. Perlahan ia naik ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya sampai ke dagu. Kedua bola matanya bergetar ketakutan, dan nafasnya mulai sesak. Dengan jantung berdetak tak karuan dan nafas tersendat-sendat jemarinya bergerak panik di layar ponsel. Menekan nomor Jimin, sahabat karibnya di panggilan cepat pertama.
Tuut
Tuut
"Aish, yang benar saja! Tak menyambung?" Suara Jungkook mulai terdengar gemetar.
Dan matanya bergulir ke bawah, menemukan nomor asing bernamakan Otaku Pervert. Tanpa ragu, ia menekan nomor itu dan langsung menyambung.
Tut
"Yoboseyo? Jungkook?" Suara berat di seberang panggilan terdengar. Benar, ini suara Kim Taehyung.
"Se..Senpai..tolong.." Jungkook nyaris tak bisa berbicara.
"Jungkook? Ada apa? Kau dimana sekarang?"
"A..Apartemen..aku.." Dan tepat setelah mengucapkannya, layar benda kotak berwarna putih itu padam. Ruangan yang tanpa cahaya kembali gelap gulita.
"L-Low battery? A..astaga di saat genting begini, bisa-bisanya.." Jungkook tertawa gugup dengan suara tercekat.
Tubuhnya makin tenggelam ke dalam selimut. Keringat dingin semakin membanjiri dahinya, meleleh ke leher dan collarbonenya. Jemari panjangnya yang gemetar meremas selimut dengan erat.
Sial. Jungkook baru ingat kalau ini pernah menjadikan perdebatan dengan orangtuanya beberapa bulan yang lalu perihal ia tinggal sendirian di apartemen Seoul bukan dengan sanak saudaranya. Jungkook kira phobia semacam ini dapat hilang dengan mudah. Phobia yang dideritanya selama sepuluh tahun terakhir. Phobia yang membuat semua teman di sekolahnya menjauhinya dan mengejeknya penakut. Achluophobia.
Jungkook merasa kegelapan yang mencekam ini meremas paru-parunya yang hampir meledak kehabisan oksigen. Air matanya menggenang dan tubuhnya gemetaran di balik selimut. Ia takut. Sangat ketakutan saat ini.
Jantungnya berdebar keras mendengar keributan di luar kamar tidurnya. Ia ingin bangun untuk memastikan itu bukan pencuri atau seseorang yang mencurigakan, tapi seolah diikat dan direkat dengan lem, tubuhnya tak mau beranjak sejengkalpun dari tempat tidur.
Dan saat itu juga, seseorang mendobrak keras pintu kamarnya.
"JUNGKOOK! JEON JUNGKOOK?!" Sosok berambut oranye Kim Taehyung berdiri di ambang pintu dengan cahaya redup memancar dari ponsel di tangannya.
"Ta..Taehyung-senpai?" Jungkook nyaris tak bisa berbicara. "Kau basah.. kehujanan?" ia merasakan kemeja Taehyung yang basah kuyub menyentuh lengannya ketika Taehyung berjalan mendekatinya.
"Ah maaf, sebaiknya kulepas semua." Taehyung meletakkan ponselnya di nakas dan melucuti semua pakaian basah kuyup yang melekat di tubuhnya kecuali menyisakan bokser pendek berwarna hitam dan kembali naik ke atas ranjang dengan ponsel menyala di tangannya.
"S..Senpai.." Jungkook refleks memeluk tubuh bagian atas Taehyung yang telanjang begitu lelaki berambut oranye itu mendekatinya.
Taehyung gelagapan dan wajahnya merona sendiri. Apalagi dengan pakaian Jungkook yang sama kacaunya memeluk dirinya yang half naked, membuat orang yang tak paham situasi pasti melihat keadaan ini pasti sangat ambigu. Astaga apa-apaan jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dasar iblis! Taehyung menggeleng dan akhirnya ia ikut berbaring di samping Jungkook dan menyelimuti tubuh mereka. Lengannya yang bebas ikut memeluk pinggang Jungkook yang ternyata ramping itu untuk ukuran seorang lelaki.
Jungkook merapatkan wajahnya ke ceruk leher jenjang Taehyung dan mengeratkan pelukannya. Kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kulit telanjang Taehyung terasa nyaman. Hangat sekaligus dingin di kulitnya yang sedikit licin karena kehujanan tadi. Aroma lembut dari shampoo lemon membuatnya mengantuk. Dadanya yang terekspos karena seragam yang tak terkancing, menempel rapat dengan dada telanjang Taehyung membuat Jungkook dapat merasakan jantung Taehyung berdebar keras sama seperti miliknya sendiri.
Bukan debaran yang ia rasakan ketika panik atau ketakutan seperti tadi. Debaran ini.. terasa seperti sesuatu yang baru. Sangat manis, hangat, dan menyenangkan sama seperti ketika ia meminum coklat panas.
...
Jungkook celingak-celinguk di dekat lapangan basket. Hari ini tidak hujan. Ia memegang payung hitam milik Taehyung di tangannya, bermaksud mengembalikannya. Hari ini ia juga tidak menemui Taehyung sama sekali. Atau lebih tepatnya Jungkook malu menemui Taehyung.
Setelah kejadian kemarin, siapa yang tidak malu? Apalagi saat di pagi hari Jungkook menemukan ia berada dia atas ranjang dengan posisi yang sedikit *uhuk*ambigu memeluk Taehyung yang tanpa busana. Dan pakaian berserakan di lantai. Oke oke Jungkook ingat semua yang terjadi semalam ketika phobianya kambuh, tapi tetap saja kan kesan ambigu tak bisa hilang kalau keadaan mereka begitu?
"Cari Taehyung?" Jungkook tersentak ketika seorang perempuan bertanya tiba-tiba. Ketika berbalik, barulah ia menyadari bahwa itu Minatozaki Sana. Hm, melihatnya dari dekat begini ia benar-benar terlihat sangat imut seperti boneka.
"Taehyung oppa, Jeon Jungkook mencarimu!" Gadis berambut magenta itu memanggil lantang ke arah lapangan.
"Eh Jungkook?" Taehyung sedikit berlari menghampiri mereka berdua. Tubuhnya penuh keringat. Dan Jungkook langsung menelan ludah ketika mereka sempat bertatapan.
"Ada apa Kook?"
"Se..Senpai, aku.." Belum selesai berbicara, Jungkook terkejut ketika tiba-tiba Taehyung kehilangan keseimbangan dan menumpukan kepala pada bahunya.
"Se..Senpai? Kenapa?" Jungkook panik. Ia mencoba menjauhkan Taehyung darinya, namun tersentak saat jarinya tak sengaja bersentuhan dengan kening Taehyung yang terasa panas membakarnya. Nafasnya terengah, matanya terpejam, dan tubuhnya yang mandi keringat terasa panas.
"Ta..Taehyung demam?!"
TBC
Achluophobia: fobia kegelapan
Tsundere: tipe yang malu-malu dan sok jaim tapi mau
A.N:
Konnichiwa readersdeul mohon maaf untuk keterlambatan updatenya juga ceritanya yang mulai gaje T_T saya setres dengan sekolah dan kerjaan yang numpuk. Dan rada baper juga sama Vmin yang bertebaran, emak yang digosipin ikut WGM juga Jungkook yang akhirnya metamorfosis jadi kelinci dewasa tahun ini.
Terimakasih buat semua yang sudah review, follow dan fav doakan saja ya saya bisa lanjut ke chapter selanjutnya karena ada karma semua fic chaptered saya akan gantung gaje di chapt 4 entah kenapa.
Thanks to:
Cherly894; Feve12; Yoitedumb; BLUEFIRE080; bydnunas; kookievita99 ; ainiajikook; LuLuHD; siscaMinstalove; Vookie; Kayshone; taehyungkece; YulJeon; Ntaekookie; Kira ; Anunya Bangtan; kookies; syahnadira; Tiffjy; Jung Hyejinnie; KPOPfics; bluewild951230; safirakookie; JirinHope; 25; 94shidae; Kucing Gendut; TyaWuryWK; nadhoot; hobehobe; Shun Akira; dieit; Kyuusaaa; nuruladi07; block014; Nyanmu; ; ulyaenivk3001
Terimakasih semuanya, telah menyempatkan membaca fic abal ini ya :'3
Sampai jumpa di chapter depan
Annyeong~
